Selasa, 28 Juni 2016

ZUHUD DAN UZLAH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Banyak pendakwah yang masih baru, salah mengartikan tentang zuhud. Yang dimaksud zuhud oleh mereka, adalah meninggalkan kehidupan bermasyarakat lalu mengasingkan diri dan tidak ada tuntunannya dalam beragama, demikian ucapnya disalah satu masjid di Bogor pada kultum di bulan Ramadhon. Ucapan ini salah kaprah, perlu penjelasan agar mereka tidak berburuk sangka kepada para Zahid (orang yang zuhud). Dalam terminologi tasawuf menyendiri disebut sebagai khalwat dan menyendiri ditengah keramaian disebut khalwat dar ajuman sedangkan hidup menyendiri disebut uzlah. Jadi yang mereka maksud adalah uzlah bukan zuhud. Uzlah tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam dan diperbolehkan bila diperlukan. Orang yang memilih uzlah karena beranggapan bahwa dirinya tidak memberikan manfaat melainkan mudharat bagi masyarakat disekitarnya. Mudahnya begini, orang yang bicaranya selalu meyakiti orang lain akan lebih baik baginya bila diam, sedangkan untuk para ulama, bicaranya akan lebih baik daripada diamnya. Tidurnya orang yang jahil merupakan ibadah, tetapi terjaganya para mursyid lebih baik daripada tidurnya. Oleh sebab itu orang yang mempunyai kesadaran akan kelemahan dirinya akan melakukan perbaikan, salah satu jalannya dengan uzlah. Rasulullah,saw., pun pernah beruzlah di gua hira selama beberapa waktu, yang akhirnya menerima wahyu yang pertama. Semoga Allah menambahkan ilmu yang benar dan bermanfaat kepada mereka.

Sedangkan zuhud, mempunyai pengertian yang berbeda dari pada uzlah. Zuhud mempunyai tahap awal dan akhir. Tahap awal adalah berupaya untuk memperoleh keadaan ruhani yang lebih tinggi dengan cara melatih diri agar hatinya tidak terikat oleh dunia (mujahadah), atau boleh dikatakan sebagai memusuhi dunia. Dimulai dari upaya, lama kelamaan akan menjadi teguh, dan bila sudah teguh dalam istilah tasawuf disebut sebagai 'maqom zuhud'. Bukankah rukun Islam mengajarkan orang muslim untuk zuhud? Seperti meninggalkan dunia untuk mengerjakan shalat lima waktu, meninggalkan yang halal pada siang hari, berbagi harta dan mensucikan diri dengan pergi haji hanya untuk Allah SWT. Lawan daripada zuhud adalah mencintai dunia (hubbud dunya). Banyak ayat al Qur'an dan hadis yang melarang mencintai dunia, karena mempunyai konsekwensi yang sangat buruk. Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa kebalikan dari sesuatu yang dilarang oleh agama mempunyai manfaat yang baik bagi orang lain dan dirinya sendiri. Pada umumnya, robohnya bangunan keimanan dikarenakan orang mencintai dunia (hubbud dunya) yang menjadikan dirinya kikir (bakhil), sedangkan orang yang zuhud akan menghiasi imannya dengan bangunan keyaqinan yang indah. Orang yang zuhud bisa saja mempunyai harta yang banyak, namun hati mereka tetap terpusat kepada Allah SWT dan tidak terganggu atau terpengaruh oleh rayuan dan pesonanya, oleh karenanya ia menjadi dermawan. Sedangkan tahap akhir dari pada zuhud sebagaimana yang Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah katakan bahwa : ‘Gugurnya keberupayaan memusuhi dunia, melainkan hatinya sudah hampa dari dunia.’

Dizaman Rasulullah,saw., ada kelompok sahabat yang melakukan zuhud, mereka selalu berada di serambi rumah beliau,saw. Dan disebut sebagai ahli shuffah. Karena kezuhudan mereka, tempat ini sekarang disebut sebagai raudhah. Orang yang ke Madinah akan berebut untuk mendapatkan tempat di raudhah, karena mereka menyadari ketinggian fadhilah atau keutamaannya bila melakukan peribadatan disana. Abu Bakar as Siddiq,ra., menyerahkan seluruh harta bendanya untuk Islam, sedangkan Umar bin Khatab.ra., setengahnya. Yang pertama dalam tahap akhir zuhud sedangkan yang kedua masih dalam keadaan bermujahadah.

Darimana zuhud lahir? Setiap perkawinan niscaya akan melahirkan sesuatu, sebagai contoh : perkawinan Pena dan Lembaran Yang Terjaga melahirkan seluruh ciptaan, perkawinan langit dan bumi melahirkan kehidupan, perkawinan ruh dan badan melahirkan hati dan jiwa dan perkawinan manusia akan melahirkan manusia. Perkawinan antara Nuurullah dengan hati maka akan melahirkan zuhud. Bila sudah zahud, Nuuurullah akan memancar ke seluruh jiwa dan raga, sehingga matanya dapat melihat dan mengambil pelajaran, telinganya bisa mendengar dan menghayati dengan baik, mulutnya sibuk berdzikir dan seluuh jiwa dan raganya akan beribadah dengan kualitas yang yang berbeda dari sebelumnya (ubudiyah). Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyebutnya sebagai diperolehnya kejelasan-kejelasan.

Penjelasan dari Qurasy Shihab,qs., yang memberikan analogi Nuurulah sebagai frekeunsi radio sungguh sangat tepat. Beliau ditanya, mengapa orang yang rajin beribadah tetapi tidak banyak berpengaruh terhadap perilaku buruknya? Dijawab: 'Orang yang ingin mendengarkan siaran radio harus mengetahui frekuensi yang tepat, tanpanya mustahil memperoleh kontak, meskipun radio itu didekatkan ke pusat siaran sekalipun. Demikian juga, meskipun Allah berada lebih dekat dari pada urat leher manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak dapat merasakan kehadiran-Nya, karena masalahnya seperti radio tadi yang tidak tepat frekuensinya.'

Tidak ada yang bisa sampai kepada matahari kecuali hanya cahaya matahari saja. Karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang ataupun malam dengannya. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahayanya, mataharipun tak dapat dilihat. Namun cahaya matahari, bukanlah matahari. Cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari itu sendiri. Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nuurullah dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah atau Nuurullah, harus berpegangan pada ujung dari Nuur itu yang berada dalam dada Rasulullah. Caranya dengan dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah serta memperbanyak sholawat atas Nabi,saw. Ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa amal seseorang tidak akan sampai kepada Allah SWT dan akan mengambang diantara langit dan bumi, tanpa bershalawat kepada Rasulullah,saw.

Sebuah riwayat mengatakan bahwa ada seorang ahli shuffah meninggal dunia. Di sampingnya ditemukan dua keping dinar. Melihat itu Rasulullah,saw., bersabda : ‘Ini dua barang dari neraka.’ Riwayat ini perlu mendapatkan penjelasan, agar tidak berburuk sangka kepada orang-orang yang dilapangkan harta bendanya. Banyak sahabat Rasulullah,saw., meninggal dunia dan meninggalkan harta yang tidak sedikit, tetapi beliau,saw., tidak bersabda seperti itu. Sebab, mereka tidak menyembunyikan sesuatu yang berlawanan dengan penampilan lahirnya. Sementara orang itu menampakan kemisikinan padahal memiliki dua dinar. Banyak ulama di zaman kini yang mengaku miskin, padahal hartanya banyak, saldo tabungannya melimpah dan hidupnya mewah. Ketika apa yang disembunyikan tampak maka Rasulullah,saw., bersabda seperti diatas. Oleh karenanya ada pepatah mengatakan bahwa lebih baik berpura-pura kaya daripada menampakkan kemiskinan yang bertujuan agar tidak ada kesan meminta-minta, daripada orang yang kaya berpura-pura miskin, yang menandakan ia bakhil (kikir) dan takut bilamana ada orang yang meminta bantuan kepadanya. Allah SWT banyak memuji orang yang miskin tetapi menyembunyikan kemiskinannya dan berhenti dari meminta kepada makhluk, karena hal ini perlambang kefakiran, dan kefakiran adalah tasawuf. Sedangkan bagi orang yang bakhil, Allah SWT berfirman : 'Sekali-kali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS. 3 : 181).

Banyak hadis berkenaan dengan masalah kekikiran ini, diantaranya Rasulullah,saw., bersabda : 'Orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari surga dan jauh dari manusia,' dan 'Lalu penyakit apalagi yang lebih parah dari pada sifat bakhil.' dan 'Hati-hatilah kalian terhadap perbuatan kikir, karena sifat kikir telah menyesatkan orang-orang yang sebelum kalian. Mereka menghalalkan barang yang telah diharamkan, mengalirkan darah dan memutuskan hubungan silaturahmi karena terdorong oleh sifat-sifat kikir mereka.' dan 'Bukanlah termasuk orang yang beriman apabila seseorang di antara kalian tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.' dan 'Seorang yang kaya kemudian melihat saudaranya dalam keadaan sengsara dan membutuhkan pertolongan, tetapi ia bersikap acuh tidak mau mengulurkan tangannya memberi pertolongan atau santunan, maka ia termasuk orang yang paling jauh dari rasa keimanan.'

Nah, kezuhudan berkaitan erat dengan menghilangkan kekikiran dan meningkatkan kejujuran, orang yang zuhud akan menjadi dermawan dan sifat kejujurannya akan tumbuh sperti pohon yang kokoh, disebabkan hatinya hampa terhadap dunia dan menjadikan dirinya tidak akan melakukan siasat buruk yang merugikan pihak lain. Oleh sebab itu, sangat bermanfaat bilamana sang Zahid adalah pedagang. Karena bagi pedagang yang jujur, Rasulullah,saw., bersabda : ‘Pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, para syuhada dan orang saleh.’ Karena, pedagang yang jujur akan menyampaikan amanat dan nasihat, lahir dan batin mereka bersih, berjihad melawan dirinya terhadap rayuan akan berolehnya keuntungan yang besar, dan selalu mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.

Demkkian para sahabat, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.