Selasa, 28 Februari 2017

SYAUQ (RINDU)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian tentang syauq telah berlangsung sejak bulan January 2017, satu bulan lamanya guru kami Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menjelaskan makna terdalam dari syauq ini berdasarkan kitab al Luma karya Syaikh abu Nasr Al Sarraj,qs., dan pengalaman ruhani pribadinya.

Meskipun rindu ini adalah maqom syarif atau kedudukan yang mulia yang hanya dikenakan oleh ahli-ahli ruhani yang tangguh dan dipilih oleh Tuhan, tidak ada salahnya jika dibawah ini diuraikan sekelumit tentang pengetahuannya. Karena tidaklah mungkin menjelaskan keadaan rindu tanpa menjelaskan pengetahuannya terlebih dahulu. Para ahli tarekat percaya bahwa rindu adalah sebuah tangga yang mungkin bisa didaki dan ditapaki dengan sebuah upaya yang sungguh-sungguh (riyadah) dan terus menerus memerangi hawa nafsu (mujahadah).

Kata syauq dan syauk dalam Bahasa Arab hanya berbeda satu huruf, yang pertama berarti rindu dan yang kedua duri. Hal ini mencerminkan bahwa derita karena rindu seperti hati yang tertusuk-tusuk duri. Derita rindu hanya dirasakan oleh pecinta yang terpisah dari yang dicinta. Dari penderitaan ini lahirlah gerak tarian dan syair-syair yang mempesona. Salah satu pecinta yang menggemparkan dunia kesufian adalah Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,qs., yang secara menakjubkan menjalin sulaman kata-kata yang rumit menjadi rangkaian sajak yang bermutu tinggi, laksana mutiara yang baru lepas dari rumahnya, seperti juga ketika ia berputar-putar dalam tarian darwisnya. Sejarah kesufian mencatat bahwa penganut doktrin cinta yang pertama kali adalah seorang sufi wanita yang bernama Rabiyah al Adawiyah,qs., yang sezaman dengan Hasan al Basri,ra, yang menganut doktrin kezuhudan. Dari ketiga karya Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,qs., yaitu Fihi ma fihi, Matsnawi dan Diwani Syamsi Tabrizi semuanya bercorakkan cinta dan kerinduan yang tiada duanya. Sebagai tanda penghurmatan, Syaikh kami (semoga Allah merahmatinya) telah beberapa kali ziarah ke Konya, Turkiye tempat beliau dimakamkan dan mengikuti perayaan haul disana. Dalam perjalanan spiritual ini disampaikan sejarah kehidupannya yang begitu memikat kepada murid-murid yang menyertainya.

Salah satu syair Hadrat Maulana,qs., yang apik dan dikenal dibelahan dunia barat sekalipun, mengisahkan kerinduan seruling bambu yang terpisah dari rumpun bambu, yang tangisnya di ilustrasikan sebagai alunan suara seruling, sebagai gambaran kerinduannya kepada Tuhan. Seperti ruh yang terpenjara oleh pesona alam dunia yang ingin kembali kepada pencipta-Nya. Menjadi perbincangan yang hangat bagi kelompok pencinta seni dan kesucian yang tiada henti-hentinya.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa : 'Tanda kerinduan adalah mencintai kematian.' Wejangan ini begitu tinggi kandungan maknanya, karena hanya dengan kematian perjumpaan dengan yang dicinta bakal terwujud. Baginda Rasulullah,saw., pernah bersabda : ‘Mutu qobla anta mutu,’ yang artinya matilah engkau sebelum engkau mati, atau mati secara maknawi sebagai manusia yang telah terbebaskan dari hawa nafsu atau keinginan diri. Orang yang ghaybah (terpisah) dari hawa nafsunya maka ia akan hudhur (hadir) bersama Tuhannya, orang yang hudhur akan terbebas dari belenggu penderitaan karena sirna kerinduannya.

Cinta dan kerinduan letaknya di hati atau latifatil qolbi, oleh karenanya bagi murid yang telah diijazah dzikir lataif oleh Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), dianjurkan untuk selalu menghadirkan kedua rasa ini manakala memulai pelaksanaan dzikir. Meskipun terdengar absurb, dan dirasakan begitu sulit melakukannya, namun disuatu saat, jika sang murid beruntung memasuki alam muroqobah akan mengetahui manfaat dari pekerjaan tersebut.

Rindu murid kepada guru mursyidnya, karena pesonanya yang begitu hebat bersarang didalam hati. Tidak ada sesuatu pun yang mempesona kecuali gurunya. Perasaan ini mendominasi ruang hati yang membuat sang murid selalu dalam keadaan rindu dan ingin berjumpa dengan mursyidnya. Ikatan batin yang begitu kuat ini, menjadi modal utama bagi sang murid untuk menapaki jalan kesucian. Tanpa disadari, dalam keadaan yang demikian jalur cahaya ke ratai emas silsilah tarekatnya selalu terbuka, sehingga amal-amal yang dilakukannya dapat dengan cepat sampai ketujuan. Dengan berkah gurunya, lama kelamaan perasaan rindu kepada mursyidnya akan ditransformasikan menjadi rindu kepada baginda Rasulullah,saw., dan seterusnya sampai kepada Allah SWT dengan rasa dan kadar rindu yang berbeda.

Betapa indah jenis kerinduan seperti ini, yang merobek-robek hati dan memaksa air mata bercucuran, khususnya manakala api rindu berkobar didadalam dada dan membakar segalanya kecuali yang dirindukan. Airmata kerinduan yang menetes mempunyai kualitas yang berbeda dengan airmata biasa. Suatu ketika Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berada di Kalimantan Timur tepatnya di Penajam, sedang diatas perahu bersama dua orang muridnya, saat itu mendung begitu gelap dan hujan, ajaib hujan hanya berputar-putar disekeliling, tanpa menyentuh sedikitpun orang-orang yang berada diperahu. Ditanya penyebabnya, Syaikhuna (semoga Allah meramatinya) menjawab : 'Itu bisa terjadi karena bias kecintaan dan kerinduan murid kepada gurunya, yang menjadikan alam merunduk karenanya.' Di zaman kini, kejadian yang seperti ini, yang dapat mengguncangkan alam semesta, yang membuat iri makhluk-makhluk ghaib lainnya, sudah langka! Wajar bila seorang Ibu yang sudah sepuh berkata bahwa kita hidup di zaman edan dan zaman yang hanya berisikan kekosongan.

Semoga Allah menyayangi kita semua.

Jumat, 24 Februari 2017

BASTH (KELAPANGAN) DAN QABTH (KESEMPITAN)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Keadaan ruhani yang disebut dengan uns (kedekatan) dan haybat (keseganan) berkaitan erat dengan keadaan kelapangan hati (basth) dan perasaan kesempitan hati (qabth).

Murid yang menapaki tangga awal cinta belum tentu bisa membedakan perubahan pada nafs dan hati. Mereka masih bergelut dalam tahap pengenalan tehadap tabiat nafs-nya, dan mencoba dengan sekuat tenaganya untuk memeranginya, akibatnya yang dirasakan adalah perasaan gembira dan sedih yang datangnya secara tiba-tiba tanpa diharapkan. Pelaksanaan dzikir yang tekun disertai dengan metode yang benar senantiasa akan menghadirkan kedua keadaan itu, seiring dengan teguhnya keimanannya. Teguhnya keimanan akan mendatangkan harapan (roja) dan takut (khauf). Jika daya rojanya lebih dominan ia akan merasakan kegembiraan dan jika daya khaufnya yang lebih bekuasa ia akan merasakan kesedihan. Sementara bagi murid yang menapaki pertengahan tangga cinta, mereka dapat merasakan keadaan basth dan qabth yang berkaitan dengan perubahan pada nafs dan hati, sebagai ganti dari harapan (roja) dan ketakutan (khauf) pada pencinta tahap awal.

Untuk menyederhanakan pengenalan terhadap perubahan pada hati dan nafs yang berkenaan dengan qabth dan basth, diawali dengan salah satu ujaran dari yang mulia Syaikh Abu Yazid al Busthami,qs., yang mempunyai makna yang tinggi, yaitu : ‘Penyempitan kalbu terletak dalam kelapangan atau keleluasaan nafsu, dan kelapangan kalbu terletak dalam penyempitan nafsu.’ Beliau adalah seorang sufi agung yang namanya diabadikan dari perkumpulan para sufi yaitu Taifuriyah yang sekarang menjadi tarekat Naqsyabandiyah. Hampir semua ujarannya yang bisa dijumpai dalam kitab-kitab, bermutu tinggi. Namun, jIka ujaran-ujarannya diartikan oleh orang yang tidak mempunyai otoritas dalam bidang ini atau secara jahiran saja maka akan menuduhnya sebagai orang yang zindik, oleh karenanya para syaikh sufi sangat berhati-hati dalam menjelaskan kepada muridnya makna-makna yang tersembunyi namun mempunyai kandungan yang murni dan tinggi. Wajar saja, karena doktrin beliau dalam meneguhkan kesucian adalah kemabukan lawan dari pada ketidakmabukan.

Hubungan kalbu dengan nafs seperti wajah yang bermuka dua, jika wajah nafs terang maka wajah kalbu gelap, dan sebaliknya jika wajah nafs gelap maka wajah kalbu terang. Nah, dorongan kejahatan terletak pada an-nafs, sedangkan dorongan kebaikan terletak pada ar-ruh, jika keduanya ditempatkan dalam satu kamar hati atau kamar kalbu, maka keadaan kamar kalbu itu bisa berubah-ubah sesuai dengan ‘pengaruh’ pemenang pertempuran antara ar-ruh dan an-nafs tadi. Jika seseorang mengikuti keinginan an-nafs maka akan mempengaruhi ruang kalbu menjadi gelap, dan sebaliknya jika seseorang mengikuti ajakan ar-ruh atau kebaikan maka kamar kalbu terpengaruh menjadi terang. Jika gelap disebut sebagai hijab, maka hati akan merasakan ‘kesempitan’ dan jika terang disebut sebagai penyingkapan atau kasyf maka hati akan merasakan kelapangan. Akan tetapi gelap atau terangnya kamar kalbu, atau sempit dan lapangnya tergantung kepada kebijaksanaan Tuhan, tanpa manusia bisa mengupayakannya. Manusia tidak mempunyai hak sama sekali terhadap hal itu, meskipun ia melakukan latihan spiritual yang ketat. Oleh karenanya riyadhah dan mujahadah bukan penyebab langsung akan diperolehnya ‘kelapangan’ dan ‘kesempitan’ dalam istilah tasawufnya disebut sebagai ‘qabth dan basth’, namun tanpanya jangan pernah bermimpi untuk memperolehnya.

Pendeknya qabth dan basth adalah akibat dari pengaruh ruhani semata, yang datangnya dari Tuhan, dan memenuhi hati dengan kegembiraan serta menundukkan jiwa rendah, atau menundukkan hati dan menundukkan jiwa rendah dengan kegembiraan. Oleh sebab itu dalam qabth ada kesedihan dan dalam basth ada kegembiraan. Nafs yang sempit tercegah dari kemudharatan dan sebaliknya hati yang lapang tercegah dari kerusakan.

Guru kami tercinta, Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pernah mengatakan bahwa : ‘Kegembiraan yang hakiki dirasakan manakala hanya dalam persatuan dengan objek pengetahuan dan kesedihan hanya dalam keterpisahan dengan objek keinginan.’ Wejangan ini sangat dalam maknanya, karena pengetahuan dan keinginan adalah dua hal yang sangat berbeda. Yang pertama letaknya bersama akal dan yang terakhir berada pada jiwa berupa angan-angan. Pengetahuan dalam hal ini diperoleh dari mengamalkan pengetahuan yang sudah diketahuinya dengan cara yang benar, sebagaimana sabda baginda Rasulullah,saw., : “Man ‘amila bima ‘alima, warotsallahu ‘ilma ma’lam ya’lam yang artinya barang siapa mengamalkan ilmu yang sudah diketahuinya, maka Allah akan mewariskan ilmu yang belum diketahuinya.” Allah akan mewariskan ilmu pengetahuan tentang diri-Nya, sebagai dasar dari semua barokah di dunia dan di akhirat nantinya. Hanya dengan ilmu pengetahuan ini saja Allah bisa dikenal dan bukan dengan keinginan. Persatuan dengan objek pengetahuan ini merupakan kegembiraan yang tiada taranya atau suka cita yang amat sangat (uns). Orang yang dimuliakan Tuhan dengan ilmu pengetahuan tentang Tuhan sungguh sangat beruntung, karena hal ini merupakan anugerah Tuhan. Dan tidaklah mungkin orang yang dimuliakan dengan anugerah Tuhan akan terhina karena tindakannya sendiri. Tuhan memuliakan nabi Adam,as, dengan pengetahuan dan tidak menghinakannya karena dosanya

Ada dua orang yang bernama Yahya didalam sejarah keagamaan, yang sama-sama mempunyai riwayat yang hebat, yang pertama adalah nabiyullah Yahya,as., yang selalu menangis sejak dilahirkan, karena beliau,as., berada dalam kesempitan (qabdh), yang biasa berkata kepada nabiyullah Isa,as., : ‘Wahai Isa, apakah kau tidak takut terputus dari Tuhan?’ dan nabiyullah Isa,as., dalam keadaan basth mengatakan : ‘Wahai Yahya, apakah kau tidak punya harapan akan kasih sayang Tuhan?.' Yang kedua adalah Syaikh Yahya bin mu’adz,qs., yang menempuh jalan harap sehingga dia mengikat erat semua pengikutnya dengan doktrin harap. Beliau,qs., berkata : ‘Dunia ini adalah sebuah tempat dukacita dan akhirat tempat ketakutan yang mencekam, dan manusia tidak pernah terlepas dari keduanya hinga dia masuk surga atau neraka. Berbahagialah jiwa yang yang terlepas dari duka cita dan ketakutan yang mencekam, dan yang telah membebaskan pikiran-pikirannya dari kedua alam, dan yang telah sampai kepada Tuhan.’ Dari ujaran ini dapat disampaikan bahwa akhir daripada qabth adalah basth dan akhir daripada basth adalah fana, oleh karenanya dalam fana tidak adalagi qabth dan basth atau tidak adalagi dukacita dan ketakutan yang mencekam.

Hijab sebagai penyebab 'kesempitan' antara hati dengan nafs begitu banyak dan halus laksana awan yang berlapis-lapis. Untuk mengenal dan menundukkannya, hati harus berpaling dari segala sesuatu dan berlindung hanya kepada Allah SWT, dengan penuh kesungguhan dan penyesalan. Terjadinya hijab adalah perilaku yang buruk dan kedurhakaan kepada Tuhan, sedangkan pengangkat hijab hanyalah Allah SWT semata. Mustahil hijab terangkat tanpa ketaatan atau kesungguhan dalam melakukan riyadhah dan mujahadah.

Demikian para sahabat semoga ada manfaatnya.

Sabtu, 18 Februari 2017

UNS DAN HAYBAT

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian pada hari Jum’at malam dan Sabtu sore, dari tanggal 17 sampai 24 Pebruari 2017 membahas tentang uns (kedekatan)dari kitab al Luma karya Syaikh Abu Nashr as Sarroj,qs. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menjelaskan tahapan ini dengan sederhana dan mudah dimengerti serta memberikan tambahan tentang haybat (keseganan). Karena uns dan haybat silih berganti dirasakan oleh para pejalan. Namun beliau berpesan bahwa uns dan haybat bukanlah ilmu anjuran melainkan menjadi target untuk diperoleh dengan cara-cara atau upaya yang telah diajarkan.

Seorang syaikh atau guru mursyid sangat berperan dalam membentuk kepribadian muridnya. Bilamana seorang murid tenggelam didalam muroqobah, setelah sekian lama tekun didalam dzikir-dzikirnya. Maka ia akan berperilaku sesuai dengan rasa-rasa yang ia peroleh. Muroqobah yang ke empat, yang berkenaan dengan Asma ul Husna atau nama-nama Indah Allah SWT niscaya Allah akan menampakkan Keindahan-Nya (Jamal) atau Keperkasaan-Nya (Jalal) pada pelakunya. Jika keindahan-Nya lebih berkuasa atau menguasai hati, maka pelakunya akan merasakan daya harap (roja) dan daya selanjutnya adalah kedekatan (uns), sedangkan bilamana keperkasaan-Nya yang lebih mendominasi, maka akan merasakan daya takut (khauf) yang kelanjutannya akan menimbulkan keseganan (haybat). Didalam uns ada kegembiraan atau sukacita dan didalam haybat ada kesedihan.

Mudahnya begini, murid-murid yang sering mengikuti pertemuan bersama Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) akan terbagi dua, bagi yang melihat kelembutan dan keindahannya, ia akan dekat dan lama kelamaan menjadi akrab, dari keakrabannya akan menimbulkan rasa sukacita (uns), sementara murid yang melihat kegagahan dan ketegasannya akan merasakan keseganan yang didalamnya akan menimbulkan kesedihan (haybat). Kedua daya uns dan haybat ini, sangat bermanfaat bagi perkembangan ruhani. Perbedaannya terletak pada pengaruhnya, daya uns digunakan terhadap hati (qolbi) dalam meningkatkan pengenalan terhadap sifat dan perbuatan gurunya (makrifat), sedangkan daya haybat digunakan terhadap 'pelenyapan' tabiat jiwa rendah dan keinginan-keinginannya (nafs). Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa Tuhan melenyapkan nafs orang-orang yang mencintai-Nya dengan menampakkan keagungan-Nya (Jalal-Nya) dan menganugerahi hati mereka kehidupan 'abadi' dengan menampakkan keindahan-Nya (Jamal-Nya).

Murid-murid yang tidak bisa menikmati kedekatan (uns) atau keseganan (haybat) kepada gurunya, berupa rasa suka cita atau kesedihan, sama artinya ia tidak mengenal kewajiban-kewajibannya sebagai murid, ia tidak serius melakukan riyadhah dan mujahadah, ia menyia-nyiakan pekerjaan tarekat yang sangat tinggi mutunya dalam beribadah, rasa suka citanya hanya manakala ia menyebarkan berita bohong atau dalam masa kini disebut hoax. Karena tidak menyukai pemimpin yang bukan pilihannya dan mendengar gosip-gosip yang terus menerus menggerus pertahanannya, maka banyak murid terlibat erat dengan hal yang haram ini. Rubat yang biasa membicarakan dan mendengarkan perbincangan dan gagasan yang indah tentang tasawuf, bahkan sampai malaikat pun turut mendengarnya, berganti dengan pendapat kosong dan sangkaan yang tidak berdasar. Murid yang mempunyai informasi kosong, bergegas menyampaikan kepada yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya). Tidak menyadari yang disampaikan kepada Syaikhuna adalah sampah! Guru dianggap tempat menampung sampah-sampah. Murid yang seperti ini telah menempatkan dirinya lebih mengetahui daripada gurunya dan bertindak bodoh. Sang guru hanya mendengar dan tersenyum, namun merasa sangat sedih melihat muridnya menjadi demikian, meskipun tidak diperlihatkannya. Yang ditunggu-tunggu oleh sang guru adalah pertanyaan tentang kesulitan dalam memerangi perangainya yang buruk atau kegaiban pengalaman ruhaninya. Ironis, sang guru membimbing murid-muridnya agar waspada terhadap yang halal, agar keadaan ruhaninya membaik, sang murid malah menikmati sesuatu yang haram. Itulah jenis kedekatan yang lain, dekat dengan syaithon bukan dengan Tuhan yang justru akan menjauhkan dari kejernihan jiwanya. Mereka bangga telah melakukan demo dan lupa bahwa dengan berdemo ia telah membuat para wanita, ibu-ibu dan anak-anak serta pihak lain merasa tidak aman dan tidak nyaman. Berdemo belum tentu meningkatkan keadaan ruhani dan berpahala sedangkan membuat orang lain merasa tidak nyaman dan aman adalah dosa dan menggelapkan hati. Mereka lupa bahwa senjata yang paling tajam di dunia ini adalah doa bukan demo, sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah,saw. Bagi orang-orang yang bertasawuf, demo memang diwajibkan, tetapi bukan ditujukan kepada orang lain melainkan kepada dirinya sendiri yang selalu mengecoh untuk merusak kedekatan dengan Tuhan. itulah yang selalu diajarkan oleh sang mursyid, dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah.

Fakta, saat ini bahwa banyak negara di timur tengah yang mayoritas beragama Islam saling berperang, hanya Negara Palestina yang berbenturan dengan Israel, selainya berperang dengan sesamanya yang beragama Islam, yang diawali dari berita-berita hoax yang menyebar dengan cepat melalui media dan mobile. Tentunya kita tidak menghendaki hal ini terjadi kepada negara kita yang cinta damai ini, oleh karenanya diam jauh lebih baik daripada berbicara. Hoax bisa memecah belah persatuan bangsa, kita bisa bayangkan sebesar apa dosa pembuat dan penyebar hoax ini. Gibah yang latar belangkang riwayatnya benar dilarang oleh agama atau di haramkan apalagi fitnah atau hoax.

Sesungguhnya kedekatan dengan Tuhan tidak mungkin bisa dipahami, meskipun didalam Al Qur'an ada beberapa ayat tentang 'kedekatan' Tuhan kepada manusia, karena tidaklah mungkin ada keserupaan antara Tuhan dengan manusia. Jika kedekatan adalah mungkin, itu hanya mungkin dengan dzikir dan muroqobah kepada-Nya, yang merupakan sesuatu yang berbeda dengan Diri-Nya sendiri. Jika manusia puas dengan dzikir dan muroqobahnya maka ia puas dengan dirinya sendiri, dan puas dengan selain-Nya adalah kepalsuan bukan kedekatan.

Demikian semoga bermanfaat dan semoga Allah mengkaruniai ilmu yang bermanfaat kepada kita semua.

Jumat, 14 Oktober 2016

FAQIR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Enam belas tahun yang lalu, Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) beserta beberapa muridnya berziarah ke Lubuk Linggau, mengunjungi muridnya yang baru membuka kholaqoh dzikir disana. Setibanya, sebagian murid menjerit dan menangis melihat keadaan kehidupannya, mereka tinggal di tengah hutan dengan rumah yang sangat sederhana, tanpa daun pintu dan jendela, hanya ditutup dengan kain. Kami heran, bagaimana bisa mereka menjalani kehidupan yang demikian tanpa memperlihatkannya dan tanpa meminta. Keadaan ini sangat kontras dengan keadaan murid-murid yang datang kesana, baginya kemiskinan merupakan momok yang sangat menakutkan sedangkan bagi murid-murid yang berada disana telah mengalaminya tanpa berkeluh kesah dan wajah-wajahnya memperlihatkan kegembiraan. Apakah murid-murid di Lubuk Linggau telah masuk kedalam maqom faqir atau karena terbiasa dengan kehidupan yang demikian, kami tidak mengetahui namun mengharapkannya, agar kami dapat belajar darinya.

Dua kitab tasawuf kuno yaitu Al Luma karya Syaikh Abu Nassir As Sirrad,qs., dan Qutub Qulub karya Syaikh Abu Thalib al Makky,qs., merupakan kitab rujukan bagi kitab-kitab tasawuf terkemudian. Al Luma menjadi referensi bagi Imam Qusyairi,qs., dalam menyusun kitab Risalatul Qusyairah dan Qutul Qulub menjadi dasar penyusunan beberapa kitab karya Imam Al Ghazali,qs. Pengajian bulan September 2016 membahas tentang faqir dari kitab Al Luma yang disampaikan oleh Ustadz Yordanis Salam. Guru kami tercinta Syakh Waasi’ Ahmad Sayechudin (semoga Allah merahmatinya) menyederhanakan pembahasan tersebut dengan mengatakan bahwa : ‘Faqir adalah tidak punya apa-apa,’ dan ‘merasa dicukup-cukupkan.’ Maksudnya adalah, orang yang tidak punya apa-apa adalah miskin, yang membutuhkan harta benda dunia, sehingga selalu berada dalam lautan kesulitan, namun membatasi diri dari meminta-minta. Tentunya yang dibutuhkan untuk menopang kehidupannya adalah sandang, pangan dan tempat tinggal. Kondisi yang demikian ini berlangsung terus menerus dan dalam waktu yang lama. Namun demikian ia tetap berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mendapatkannya. Akan tetapi, acap kali apa yang diperolehnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Orang yang beriman diperintahkan untuk bersedekah kepadanya. Dibutuhkan mata batin untuk dapat melihat orang yang faqir. Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman: ‘Bersedekahlah bagi orang-orang fakir yang terikat pada jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha di bumi (mencari penghidupan). Orang yang tidak tahu, mengira mereka itu orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Engkau dapat mengetahui dengan tanda-tanda mereka; tidak meminta kepada manusia berulang-ulang. Dan apa-apa yang kamu nafkahkan dari harta maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.’ (QS 002 : 273)

Dan jika yang diharapkan tak kunjung tiba setelah melakukan upayanya yang maksimal, maka ia akan melepaskan upayanya dan hanya berpaling hanya kepada Allah SWT semata. Nah, jika sang faqir menanggung semua kesulitannya demi Allah SWT, itu adalah sebuah kemuliaan. Sedangkan jika mengandalkan upayanya agar terbebas dari kesulitan, maka ini disebut sebuah kehinaan, karena ia menuhankan dirinya sendiri. Kefakiran mempunyai bentuk dan makna, bentuknya adalah kemiskinan dan maknanya adalah merasa membutuhkan Allah SWT. Oleh karenanya meskipun seseorang yang kaya harta benda dunia namun keadaannya selalu membutuhkan Allah SWT saja, maka ia dapat disebut sebagai faqir secara hakikat. Sedangkan jika yang dibutuhkan pujian dari makhluk maka ini merupakan kehinaan baginya. Rasulullah SAW bersabda :“Yang disebut miskin bukanlah orang yang pekerjaannya mengemis keliling kampung, sehingga tertolak dari satu dua suap nasi atau satu dua biji kurma. Namun miskin menurut definisi Islam harus ditolong dan diperhatikan, yaitu orang yang tiada usaha/tidak punya penghasilan tetap untuk mencukupi nafkahnya, dan tidak mengundang perhatian umum untuk disantuni/ disedekahi dan tidak pula keliling mengemis ke pintu setiap orang”.

Dalam dunia kesufian, faqir merupakan sebuah maqom yang tinggi, bahkan di abad kesembilan, kefaqiran menjadi kebanggaan orang-orang yang bertasawuf. Para dawisy memakai pakaian yang bertambal sebagai lambang kafakiran, mereka tidak mencari nafkah melainkan mengabdikan dirinya dengan melakukan peribadatan yang keras. Masyarkat Islam terdahulu sangat memuliakan mereka lantaran bekas-bekas peribatannya Nampak pada wajahnya yang bercahaya dan bukan karena kemiskinannya. Tidak mungkin menjelaskan kefaqiran tanpa menjelaskan tentang sabar terlebih dahulu, karena mustahil seseorang dapat mencapai maqom faqir tanpa melalui maqom sabar. Syaikh Abul Al Hasan Nuri,qs., menggambarkan ciri seorang yang fakir adalah bilamana dia tidak memperoleh apa pun, dia diam, dan bilamana dia memperolah sesuatu, dia memandang orang lain lebih berhak memperolehnya dari pada dirinya, sehingga karenanya dia mudah memberikannya.

Menurut Syaikh Abu Nassir As Sirrad,qs., tingkatan tertinggi maqom faqir adalah bilamana ia tidak meminta apa pun kepada seseorang, baik secara lahir maupun batin dan tidak menunggu apapun dari seseorang. Jika diberi sesuatu ia tidak mengambilnya. Tingkatan kedua sama dengan tingkatan tertinggi namun jika diberi ia akan menerimanya. Sedangkan yang terendah adalah ia merasa senang mengungkapkan keadaannya kepada sebagian sahabatnya, tanpa berharap mendapatkan bantuan darinya. Lalu sebagai kaffarah ia bersedekah.
Imam Junayd,qs., berkata bahwa tanda-tanda orang fakir yang jujur adalah tidak meminta dan tidak memperlihatkan tanda kefakirannya dan jika ditawari ia terdiam.

Sedangkan Syikah Sahl bin Abdullah,qs. Berkata bahwa seorang fakir yang jujur adalah ia tidak meminta dan tidak menolak bila diberi serta tidak pula menyimpan apa yang diterimanya.

Tidak ada satupun orang yang bertasawuf tanpa melalui tahapan kefakiran, oleh karenanya begitu pentingnya kefakiran ini, ada beberapa syaikh yang berani berpendapat bahwa kefakiran mengungguli kesucian.

Demikian para sahabat semoga bermanfaat.


Jumat, 19 Agustus 2016

WARA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian Jum’at malam dan Sabtu sore membahas tentang wara dari kitab Al luma karya Syaikh Abu Nashr as Sarraj,qs. Yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengawalinya dengan memuji Allah SWT dan bershalawat atas manusia teragung sepanjang masa sayidina Muhammad Rasulullah,saw., lalu mengucap syukur atas terbentuknya qolaqoh dzikir dan di akhiri dengan mengajak murid-muridnya untuk memulai wara agar di kemudian hari Allah SWT berkenan menjadikannya sebuah keteguhan atau maqom.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Mari kita periksa sudah sampai dimana tingkat wara kita?’ Wejangan ini merupakan sindirian yang tajam, tetapi banyak murid yang tidak menyadarinya, malah wajahnya berbinar-binar tatkala mendengar itu, seolah-olah ia sudah berada pada tingkatan ini. Salah satu syarat wara adalah mengetahui dan memahami ilmu fiqih secara baik, sehingga dapat menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kedudukan hukum agama. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Kuasailah ilmu syariat terlebih dahulu baru kemudian bertasawuf.’ Wara termasuk maqom yang tinggi didalam bertasawuf, sebagaimana nama tasawuf itu sendiri yang dimulai dengan huruf 't' yang maksudnya adalah taubat sebagai syarat wajib untuk mengawali alam kesucian, lalu huruf 's' yang maksudnya syukur yaitu tidak menggunakan seluruh failitas dari Allah SWT untuk berbuat maksiat, lalu 'w' yaitu wara yang akan dirinci di bab ini dan kemudian huruf ‘f’ yang berarti fana atau musnah dari sifat kedirian atau sifat ego. Ujung daripada pencapaian bertasawuf adalah fana, namun ada beberapa syaikh yang menyebut ‘ridho’. Sehingga dapat diketahui jarak yang jauh antara wara dengan ridho. Tidaklah mungkin menjelaskan wara dicampur dengan ridho. Insya Allah bila cukup umur di bab berikutnya akan diterangkan mengenai fana dan ridho.

Semua tingkatan dalam bertasawuf berkaitan dengan mujahadah, oleh karenanya wara adalah salah satu bentuk mujahadah atau salah satu bentuk perjuangan melawan diri sendiri dari meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang tidak berarti, dan apa pun yang berlebihan, baik secara lahir maupun batin. secara lahir wara adalah meninggalkan segala penglihatan yang tidak mengingatkannya kepada Allah, menutup telinga dari segala bentuk penjelasan yang tidak membicarakan Allah, dan ia juga menjauhkan tangan dari segala hal yang tidak memiliki arti di hadapan Allah. Sedangkan secara batiniyah wara dapat dikatakan menjauhkan diri dari segala pikiran yang tidak dapat membuat mencapai Allah, termasuk didalamnya meninggalkan cakap-cakap hati selain Allah. Nah, setelah mengetahui wara secara ilmu pengetahuan, sekarang pada gilirannya memeriksa tingkat wara kita, sebagaimana yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pertanyakan di awal bab ini. Jangankan meninggalkan yang meragukan (syubhat) yang dilarang agama saja masih kita langgar. Contohnya, kita masih suka berbohong guna pencitraan agar dianggap orang alim, untuk mempertahankan sanjungan dari makhluk. Kita masih senang menggunjing, kita masih tidak memperdulikan saudara-saudara yang dalam keadaan perang, tidak menolong saudara-saudara kita yang terusir dari tanah airnya. Kita tidak membantu sahabat yang sedang susah, tetangga yang mengeluh dan anak-anak yatim yang perlu biaya sekolah dan makan ataupun orang tua jompo yang perlu perawatan. Kita masih senang membakar uang, menonton acara tv berlebihan, pergi plesiran, makan banyak, tidur lama, menumpuk uang dan harta benda serta benda-benda kesenangan dan masih banyak lagi. Melepas topeng kepura-puraan adalah sebagian dari wara namun sulit dilakukan, agar Allah SWT tidak melucutinya dihadapan semua makhluk, agar menyadari betapa rendahnya kita, betapa tinggi kedudukan para syaikh sufi dan betapa Maha Tingginya Allah SWT.

Merupakan sesuatu yang janggal bila seseorang mengaku mencapai maqom wara tetapi masih berharap dan meminta sesuatu kebutuhan dunia kepada makhluk bukan kepada Allah, baik secara secara terang-terangan atau pun dengan cara isyarat-isyarat. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.’
Khawatir terjerumus kedalam hal-hal yang haram biasanya para akhli tasawuf mengurangi atau membatasi makan, minum, tidur, dan berkata-kata dan mengutamakan ibadah yang bersifat ruhani, seperti berdzikir khafi, menghindari pikiran, perasaan, dan prasangka negatif. Dua di antara tiga pembatasan itu, yakni makan dan tidur, merupakan satu paket. Sebab, orang yang banyak makan biasanya banyak tidur pula. Karena itu dalam laku wara biasanya kedua hal tersebut dihindari. Yang sangat diajurkan dalam wara adalah perilaku sedikit bicara. Sebab, orang yang banyak bicara akan semakin banyak pula salah dan khilafnya. Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq,ra., memberi keteladanan dengan mengulum batu setelah mendengar sabda Rasulullah SAW, "Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, falyaqul khairan au liyashmut (Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, bicaralah yang baik-baik saja, atau lebih baik diam).”

Kisah, seorang ulama sedang berjalan melintasi sebuah jalan di Basrah dan dilihatnya beberapa orang syaikh sedang duduk, sementara beberapa pemuda bermain di dekatnya. Bertanyalah ulama itu: ‘Apakah kalian tidak malu bermain di depan para syaikh?’ Salah satu pemuda itu menjawab : ‘Wara para syaikh ini demikian kecil hingga kami memandang kecil mereka.’ Bagaimana mungkin para pemuda ini dapat melihat yang demikian? Karena pemilik wara akan terlihat pada perilaku kesehariannya. Semakin hebat kualitas waranya, maka semakin tinggi pula kualitas ketaatan beribadahnya dan berlaku sebaliknya. Orang yang wara tentu akan meninggalkan keraguan bukan menciptakan keraguan yang disebabkan oleh bicara dan perilakunya berbeda, karena keadaan batinnya berlawanan dengan perilaku lahirnya. Sebagaimana sabda Rasulullah,saw., : ‘Bersikaplah wara, dan kamu akan menjadi orang yang paling taat beribadah di antara umat manusia.’

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Bahwa wara adalah bersikap waspada atau bersikap hati-hati terhadap kehidupan ini.’ Kemudian beliau juga berkata bahwa hasil daripada puasa adalah sikap wara. Puasa adalah keberpantangan dari yang halal pada siang hari, sedangkan wara meninggalkan yang meragukan, yang tidak berarti dan yang berlebihan pada setiap waktu, baik secara lahir ataupun batin. Jika demikian dapat dikatakan bahwa wara adalah bentuk dari pada keadaan khalwat yang terus menerus. Syaikh Hasan al Basri,qs., berkata bahwa : ‘Bobot sebutir wara yang cacat adalah lebih baik ketimbang bobot seribu hari berpuasa dan shalat.’

Semoga Allah menolong kita untuk dapat belajar menjalankan wara dengan benar dan istiqomah, agar tidak menjadi pengetahuan saja. Karena pengetahuan bisa lupa, sedangkan perbuatan wara seperti menanam sebuah bibit yang akan tumbuh menjadi pohon zuhud dan buah ketaatan. Jika bibit tidak ditanam akan percuma seperti pengetahuan yang tidak diamalkan. Oleh karenanya Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengutip sebuah hadis yang mengatakan bahwa : ‘Barang siapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, maka Allah akan mewariskan ilmu yang belum diketahuinya.’

Demikian para sahabat semoga ada manfaatnya.

Selasa, 26 Juli 2016

DZIKIR JAHR - DZIKIR YANG BERSUARA

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Seorang murid yang baru beberapa kali menghadiri kholaqoh dzikir mendapat ijazah dari guru kami tercinta syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berupa dzikir jahr (dzikir yang bersuara) dan dzikir lathaif (dzikir yang tidak bersuara). Sang murid hanya bisa terbengong-bengong, karena baru pertama kali mendengar nama-nama itu dan baru mendapatkan pekerjaan yang terasa asing baginya, meskipun ia pemeluk Islam sejak kecil. Yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menangkap keadaan ini dan berkata : ‘Insya Allah setelah upacara dzikir jahr selesai, akan dijelaskan makna dan tatacaranya.’ Mendengar ini sang murid merasa lega.

Dzikir jahr atau dzikir yang bersuara yang disertai dengan gerakan kepala, dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama, banyak hadis yang menerangkan keutamaan dari pada dzikir ini. Jika dikerjakan secara bersama-sama, Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai ‘raudhah min riyadhil Jannah atau taman dari pada taman surga’. Disebut demikian karena orang-orang yang berada didalamnya diampuni seluruh dosa-dosanya, sebagai gambaran seperti penduduk surga. Dzikir Jahr yang demikian adalah salah satu metodologi dari sebuah tarekat untuk mengingat Allah, sebelum memasuki dzikir lathaif, dengan cara mengulang-ulang menyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah, yang bertujuan agar hatinya tercerahkan dan bersih dari noda-noda yang melekat. Pada saat menyebut ‘Laa ilaaha’ (tiada yang lain yang aku sembah), yang mempunyai makna me-nafy-kan atau meniadakan segala sesuatu selain Allah, kepala digerakkan kearah bahu kanan, lalu disaat menyebut ‘Illallaah’ (kecuali Allah), yang maksudnya meng-isbat-kan atau mengkukuhkan hanya Allah saja kedalam latifatul qalbi, kepala diarahkan sambil dipalukan ke dada (shadr) tepatnya dua jari dibawah susu sebelah kiri, disinilah tempatnya hati yang batin atau latifatul qalbi.

Al Qur'an memberitahukan bahwa setelah ruh bersatu dengan jasad, terdapat subtansi yang halus atau lembut yang disebut hati. Hati adalah sebuah kelembutan yang mencakup seluruh lapisan batin manusia. Ada yang lebih kasar darinya dan ada yang lebih lembut. Seperti sebuah rumah, ada bagian luar yang disebut pagar, halaman, lalu bagian dalam rumah ada kamar, lemari dan peralatan lainnya. Setiap bagian mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Sesuatu yang lebih berharga akan ditempatkan dan disembunyikan didalam kamar yang khusus. Demikian pula dengan hati manusia, kesadaran atau pengetahuan yang lebih tinggi, ditempatkan didalam hati yang lebih kokoh, lebih khusus, lebih terjaga, lebih tersembunyi dan lebih tertutup. Istilah hati bagi orang awam mewakili penyebutan semua lapisan itu, sebagaimana rumah. Terdapat hadis qudsi yang mengatakan : 'Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) itu ada istana, disitu ada dada, didalam dada ada al-qalb, didalam qalb ada fu’ad, didalam fu’ad ada syaqaf, didalam syaqaf ada lubb, dan didalam lubb ada sir, sedangkan didalam sir ada AKU.’

Jika terdapat ‘Cahaya’ dilapisan terdalam pada diri manusia, seharusnya manusia bergerak diatas bumi ini sesuai dengan yang di kehendaki-Nya, namun faktanya tidak demikian, justru manusia bergerak kearah sebaliknya. Allah SWT mengendaki yang demikian untuk menguji manusia, sebagai pembeda daripada makhluk-makhluk lain, apakah ia berkemampuan dengan potensi-potensi yang ada dalam dirinya menjadi khalifah dimuka bumi ini. Allah SWT berfirman : ‘Dan Allah berbuat demikian untuk menguji apa yang ada dalam dadamu (shadr) dan untuk membersihkan apa yang dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS 003: 154).’ Allah SWT memperlihatkan, tanpa pertolongan-Nya tak ada satupun manusia yang mampu lepas dari jerat ini, semuanya akan binasa mengikuti keinginan jiwanya. Kesadaran inilah yang dikehendaki-Nya, maka dengan sifat Maha Kasih dan Maha Penyayang-Nya serta adanya taufik dan hidayah-Nya, Dia akan memilih manusia yang dikehendaki-Nya, untuk mampu berperang melawan dirinya sendiri sampai mati egonya dan hidup disisi-Nya. Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai ‘mutu qobla anta mutu, matilah engkau sebelum engkau mati.’ Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ‘Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.’ (QS 002 : 154). Inilah gambaran orang yang mati secara maknawi tetapi hidup bersama Tuhan-Nya (baqa). Ia terbunuh oleh cahaya cinta-Nya, oleh api perlawanan terhadap hawa nafsunya, oleh pedang tauhid, oleh cahaya mengikuti kebenaran dan api rindu.

Lapisan yang lebih kasar dari hati adalah shadr atau dada, tetapi bukan dada dalam bentuk lahiriyah melainkan yang batiniyah seperti halaman atau pekarangan pada rumah. Sebagaimana fungsi pekarangan, menampung banyak sampah dari tumbuh-tumbuhan, debu, kotoran hewan dan hewan yang tidak diundang ataupun orang lain serta syaithon. Apa yang masuk kedalamnya jarang terasa, seperti yang masuk kedalam shadr berupa sifat dengki, syahwat dan angan-angan. Secara umum fungsi shadr dapat dikatakan berkumpulnya sesuatu yang baik dan yang buruk atau tempak masuknya cahaya Islam dan berkuasanya nafsul ammarah atau yang selalu mengajak kepada kejahatan. Oleh sebab itu, kesempitan dan kelapangan dikaitkan dengan dada (shadr) bukan pada hati (qalb), sebagaimana Allah SWT berfirman ‘Maka bisa jadi engkau meninggalkan sebagian dari yang diwahyukan kepadamu dan dadamu (shadr) merasa sempit karenanya. (QS 011: 12).’ Dan : ‘Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu (shadr) karenanya. (QS 007 : 2).’ Dan : ‘Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu (shadr). (QS 094 : 1).’

Jika didalam shadr terdapat banyak angan-angan dan tamu yang tidak diundang, maka pengetahuan yang diperoleh melalui panca indra, yaitu mata dan tekinga akan mudah lupa, karena cahaya hati tidak akan sampai kepada jawarih atau panca indra manusia dengan sempurna, sebagaimana cahaya matahari yang terhalang oleh awan. Sehingga jawarih bergerak tidak sebagaimana yang diharapkan oleh hati atau syariat agama. Jawarih akan mengikuti keinginan jiwa yang cenderung kepada dunia. Oleh karenanya, benda-benda asing yang berada di shadr harus selalu dibersihkan, atau halaman rumah harus disapu pada pagi dan sore hari. Pembersihnya berupa suara kalimat Laa Ilaaha Illallaah. Itulah mengapa guru kami tercinta Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mengharuskan murid-muridnya untuk mengerjakan dzikir jahr ini dengan serius dan istiqomah pada waktu pagi dan petang, dengan mengikuti tatacara yang benar. Mengapa harus bersuara bukankah Allah itu Maha Mendengar? Ya benar, tetapi hati kita yang menjadi tuli, seperti cermin yang buram karena terlalu banyak kotoran di lapisan luarnya atau di pekarangannya atau di shadr-nya. Sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu atau disapu dengan suara kalimat Laa Ilaaha Illallaah, agar cermin hati dapat memantulkan cahaya ilahi kedada (shadr) dan kemudian ke jawarih. Baru kemudian bila shadr-nya sudah bercahaya, maka cermin hati atau latifatul qolbi diisi atau dipahat dengan dzikir lathaif, dzikir yang sangat halus dan lembut tanpa suara dengan mengingat sambil menyebut Ismudzat, Allah … Allah … Allah, menyebutnya menggunakan lisan hati atau lisan batin bukan lisan lahir.

Demikian para sahabat, semoga bermanfaat.

Rabu, 20 Juli 2016

JILBAB

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Di kereta api seorang wanita berjilbab ditangkap oleh yang berwajib, pasalnya ia kepergok mencopet. Sang korban terheran-heran, bagaimana bisa wanita yang berjilbab mencuri? Jika sang pencopet memakai topeng hitam dan membawa senjata, maka orang akan menghindarinya, karena ciri-cirinya dikenali sebagai penjahat. Tetapi tidak demikian dengan wanita yang berjilbab, ia mengelabui penumpang dengan perilaku yang sopan agar tidak dicurigai atas apa yang akan diperbuatnya, agar dirinya dianggap sebagai penganut agama yang taat. Dengannya akan lebih memudahkan melakukan niat jahatnya. Jilbab yang seharusnya digunakan sebagai penutup aurat guna memperoleh ridho-Nya, malah digunakan sebagai penutup kejahatan yang memicu kemurkaan-Nya. Kejahatan yang berkedok agama sedang marak di negeri kita ini.

Bayangkan, bagaimana jika dilakukan oleh seorang yang dianggap sebagai kyai, ustadz atau ustadzjah, padahal hanya sedikit menghafal ayat Al Qur'an dan hadis dari buku dan tidak pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren ataupun di perguruan tinggi. Jilbabnya berupa pengetahuan tentang syariat agama, mencopetnya dengan cara menjual kata-kata indah, target korbannya adalah para jamaah. Modusnya dengan cara, membesar-besarkan fadhilah tentang amal dan menyampaikan ancaman tentang tempat kembali orang-orang yang kikir, yakni neraka jahanam. Cara ini cukup jitu, banyak jamaah yang secara sukarela atau terpaksa mengeluarkan harta bendanya. Kejahatan jenis ini banyak muncul di tv, sebagai media yang tepat sebagai sarana pencitraannya. Ibu-ibu sangat menggemari acara-acara ini, berdalih mendengarkan atau hadir dalam pengajian, sebagai alasan kepada suami guna lari dari memenuhi kewajiban utamanya. Hukum Negara tidak menyentuh masalah ini, karena niat tidak terlihat, tetapi hukum agama jelas melarangnya. Baru-baru ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa agar tidak memanggil pendakwah yang memasang tarif tinggi. Ironisnya masyarakat kadung menyebut para pendakwah yang memasang tarif sebagai ulama. Rasulullah,saw., pernah bersabda : 'Ulama itu adalah orang-orang yang dipercaya oleh para Rasul, selama tidak mukhallathah (dikendalikan) oleh penguasa yang dzalim, dan selama tidak menjadikan dunia sebagai tumpuan hidupnya. Apabila mereka dikendalikan oleh para penguasa yang dzalim, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat terhadap Allah dan Rasulnya. Karena itu, jauhilah mereka itu.' Imam Al-Ghazali telah membagi ulama menjadi dua kelompok, yaitu ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia adalah orang yang mencari kedudukan, kehormatan dan kesenangan duniawi dengan menggunakan ilmunya, sedangkan ulama akhirat bersikap sebaliknya. Iblis laknatullah pernah berkata kepada Rasulullah,saw., bahwa selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.

Lebih jauh lagi dengan cara yang teramat halus, dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai seorang pembimbing ruhani, padahal ia tidak pernah di khirkhoh dari sebuah tarekat yang mutabaroh. Jilbabnya berupa ilmu keruhanian, ilmu tentang seluk beluk hati, mencopetnya dengan cara menyampaikan pengetahuan tentang keutamaan memusuhi dunia (zuhud) dan merasa cukup (qona’ah). Dengan cara yang apik, menceritakan kedekatan Tuhan dengan para syaikh sufi yang melakukannya, menekankan tentang keajaiban-keajaibannya dan berperilaku seolah-olah dirinya dalam keadaan yang sudah demikian. Padahal batinnya berlawanan dengan bicaranya, disuruhnya jiwa orang untuk memusuhi dunia (zuhud) dan merasa cukup (qona'ah), namun justru ia mengharapkan kenikmatan dunia dan serakah. Imam Junayd,qs., meraknya para sufi telah memperingatkan hal yang demikian sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Seorang ulama mengatakan : ‘Jika ulama menjadi kaya setelah miskin, saya ingin tahu ayat mana yang ia jual. Dan jika ulama menjadi miskin setelah kaya, memang harus demikian adanya, karena rasa takutnya yang demikian besar kepada Allah SWT, lalu dengan ilmunya ia dermakan harta bendanya kepada yang membutuhkannya.’ Guru kami tercinta Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pernah bercerita bahwa beliau pernah menerima hadiah berupa sebidang tanah dari kakek guru Syaikh Nuurunnaum Suryadipraja (semoga Allah mensucikan ruhnya), meskipun beliau hidup dalam keadaan yang sangat sederhana. Begitu pula yang dilakukan oleh guru kami, amal lahirnya saja tidak diketahui oleh muridnya, apalagi amal batinnya. Inilah sebuah bentuk bimbingan yang bukan saja pengetahuan dan pekerjaan tentang tasawuf saja, melainkan berupa tindakan yang indah agar menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya di masa mendatang, sebagi wujud dari keadaan zuhud dan qona'ahnya.

Lalu bagaimana jika pencopetnya tidak berwujud, ia berada di dalam diri sendiri yang merampok amal-amal yang tersimpan. Jilbabnya berupa dorongan agar menceritakan amal baiknya kepada orang lain (su’ma) atau berbangga atas perbuatan baiknya (ujub). Semuanya menjadi sia-sia, amalnya akan habis atau hangus sebagaimana kayu bakar habis dimakan api.

Kejahatan bertingkat-tingkat, dari yang mudah dikenali sampai dengan yang samar. Seperti jenis, bentuk dan corak jilbab yang beraneka ragam. Tujuan memakai jilbab agar tdak dilihat oleh orang lain atau bukan muhrimnya, tetapi malah ingin dilihat oleh orang lain dengan model dan bentuk jilbabnya yang aneh-aneh. Persis seperti keadaan hati orang yang selalu ingin memberitahukan perbuatan baiknya (amal) kepada orang lain, bukan menyembunyikannya. Amal yang tersembunyi mempunyai keutamaan yang tinggi, bahkan lebih baik dari pada manafaat angin, air, api, besi dan gunung-gunung bagi kehidupan manusia. Misteri amal yang bersih sesungguhnya berasal dari pertolongan Allah SWT, jika manusia membuang amalnya dengan cara memberitakan kepada orang lain, sungguh sangat disayangkan.

Sebuah dialog antara malaikat dengan Allah SWT, sebagaimana diriwayatkan oleh Baginda Nabi,saw., dalam hadis qudsi : 'Ketika Tuhan menciptakan bumi, dia mulai bergetar. Maka Dia menciptakan gunung-gunung dan berkata kepada mereka, "kuasai dia" maka bumi menjadi tenang.' Para malaikat heran melihat kekuatan gunung-gunung. Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada gunung-gunung itu?" ia berkata, "Ya, besi." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada besi?" Dia berkata, "Ya, api." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada api?" Dia berkata. "Ya, air." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada air?" Dia berkata. "Ya, angin." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakaih di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada angin?" Dia menjawab, "Ya. putra Adam. Dia memberi sedekah dengan tangan kanannya tanpa diketahui oleh tangan kirinya."

Bahwa yang mendorong pada perbuatan amal adalah ruhani dan Ilahiah, yang sepenuhnya kosong dari sifat-sifat lahiriah, dan hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa pertolongan-Nya. Yang membuatnya begitu sulit adalah karena manusia merupakan gabungan dari sifat-sifat ruhani dan jasmani yang tercampur dengan sempurna. Jiwa manusia selalu mengajak kepada kejahatan sedangkan ruh manusia mengajak kepada kebaikan. Jika keadaan ruhani seseorang bercahaya murni tanpa adanya pengaruh dari sifat lahirnya. Dia akan memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk berbuat baik. Dia akan lebih unggul daripada kebanyakan malaikat, sebab sifat bawaan malaikat adalah bebas dari pengaruh sifat-sifat jasmani. Tetapi di dunia ini, indra-indra dan sifat-sifat jasmani berhadapan dengan yang ruhani, dan jiwa menguasai jasmani sangat kuat. Maka kekuasaan dari ruh, yang dianggap sebagai tangan kanan manusia tidak dapat mengatasi kekuasaan komposisi jasmaninya, yang mempunyai arah tangan kiri. Oleh karenanya jika tangan kanan manusia berbuat kebaikan tanpa diketahui oleh tangan kirinya, adalah merupakan karunia-Nya yang besar. Amal tersebut harus ditutup rapat-rapat agar tidak diketahui oleh orang lain dan dirinya, agar tidak hilang percuma, seperti wanita yang menutup auratnya dengan jilbab.

Sayidah Fatimah,ra., mengatakan bahwa : 'Wanita yang baik adalah yang tidak dilihat oleh pria dan tidak melihat pria.' Untuk menangkap kejahatan yang samar harus menggunakan ilmu yang tinggi dan atas bantuan dari Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, yaitu kebaikan, dari yang mudah dilakukan sampai dengan yang halus. Besar kecilnya amal seseorang tergantung kepada niatnya, tergantung kepada kebersihan dan kemurniannya. Semua ini terjadi sesuai dengan keadaan hati. Oleh karena begitu penting kesehatan hati ini, maka menjadi tujuan utama bagi para pembimbing ruhani untuk membersihkan keadaan murid-muridnya dari noda-noda dunia.