Rabu, 29 Januari 2020

ALAM MALAKUT

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Dunia kesufian banyak melahirkan istilah-istilah baru yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang menyelam didalamnya. Meskipun sumbernya satu tetapi istilah-istilah dimunculkan oleh para syaikh sufi untuk memudahkan pemahaman kepada murid-muridnya. Dasarnya adalah Al Qur’an, Al Hadist dan kasyab. Seperti para pengikut tarekat Qodiriyah yang nama ini berasal dari tuan guru yang sangat dihormatinya yaitu Sayyid Abdul Qadir al Jilani,qs, (1077–1166 M), mereka mempunyai kitab rujukan yang berasal dari wejangan-wejangannya, termasuk tafsir al Qur’an yang bercorak tasawuf dan diberi nama tafsir al Jilani. Kemudian di abad empat belas keturunan beliau yang bernama Syeikh, Abdul Karim ibn. Ibrahim Al jaili,qs, menulis kitab yang fenomenal berjudul Insan Kamil sebagai tafsir surat al Iklash. Kitab ini tidak mudah dipahami, paling tidak harus disyarahkan oleh para mursyid. Kitab ini menjelaskan pengenalan Allah secara menurun (tanazul) dimulai dari Ahadiyah sampai Insan Kamil. Oleh karenanya, manusia berupaya mengenal-Nya melalui proses sebaliknya atau menaik (tarroqi). Di usia muda, beliau pernah mengaji kepada Syaikh. Bahauddin Syah Naqsyabandi,qs. Meskipun beliau penganut tarekat Qodiriyah, namun istilah-istilah dalam bukunya itu lebih condong kepada istilah yang digunakan oleh Imam Ibn. Arabi,qs. (1165-1240 M).

Begitu pula di pengajian kami, meskipun yang diajarkan adalah manhaj dari tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, tetapi kitab-kitab yang dibahas oleh guru kami tercinta Syaikh. Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) bukan saja kitab rujukan tarekat ini, melainkan kitab-kitab dari tarekat lain, seperti kitab al Hikam karya Syeikh Ibnu Athoilah,qs, dari tarekat Sadziliyah, kemudian kitab Al Luma, Qutul Qulub, Kasyful Mahjub, kitab-kitab karya Imam Rifai,qs, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu banyak istilah-itilah yang berbeda-beda tetapi mempunyai makna yang sama.

Dalam tausyiahnya, guru kami sering menyebut alam malakut terkadang disebut sebagai alam kesucian atau alam yang bisa dihuni oleh manusia dengan tingkat kesucian setara dengan malaikat. Hal ini harus dipahami sebagai istilah-istilah untuk lebih memudahkan pemahaman, inilah pembicaraan orang dewasa dalam beragama, kita harus arif dalam mencari keterangan akan hal ini, agar tidak salah memahaminya, karena alam malakut adalah salah satu pemberhentian yang mesti disinggahi atau dilalui oleh para pejalan atau murid guna wushul kepada Allah SWT.

Imam Ibnu Arabi,qs., mengatakan bahwa alam semesta ini terjadi dari berbagai unsur, maka disebut sebagai alam besar atau macro cosmos, keseluruhan alam semesta ini ada pada diri manusia, namun dalam ukuran kecil atau disebut sebagai alam kecil atau micro cosmos, Oleh sebab itu istilah alam malakut jangan diartikan seperti sebuah alam yang dihuni oleh banyak makhluk, melainkan manusia yang ruhaninya dihuni oleh sifat-sifat mahmudah atau maqomat ruhiyah. Salah satu ciri seseorang yang berada pada tahapan alam malakut adalah selalu menghidupkan malam dengan beribadah. Di dalam hatinya terisi akhlak mulia atau hakikat Muhammadiyah ada sifat-sifat Allah yang terpuji yang telah Allah anugerahkan menjadi sifatnya. Artinya sifatnya yang membangunkan dan menghidupkan malam, hakekatnya adalah Allah. Syaikh. Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa dengan beribadah atau menghidupkan malam akan selaras dengan alam semesta, maksudnya adalah akan mendapat energi yang meleburkan dan menguasai empat pilar unsur tubuh manusia, yaitu unsur air, tanah, udara dan unsur api. Denganya tubuh ini terhindar dari pengaruh lemas, malas, kurang bertenaga dalam urusan kebaikan, karena tubuh itu adalah nafsu, yang terdampak dari banyak makan, tidur, bergaul yang mengakibatkan keseimbangan fisik terganggu. Maka menghidupkan malam adalah sentral untuk menyeimbangkan atau melaraskan ke empat unsur dalam tubuh ini. Pada saat itulah hatinya melihat alam malakut, karena terdapat sifat-sifat mulia di dalam batin. Semua orang mempunyai sifat mulia yang disebut fitrah itulah alam malakut, namun tertutup oleh kesombongan, pikiran yang salah, dan diperbudak oleh kesenangan atau nafsunya. Hawa nafsu menutupi alam malakut, melawannya adalah suatu kewajiban, dengan dawamudz dzikri wadawamun ubudiyah.

Semoga bemanfaat wallahualam bisawab.

Selasa, 28 Januari 2020

CARA MENGENAL ALLAH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Dalam pengajian Syaikh. Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mendadak terdiam, kemudian beliau berkata : ‘Tidak ada bahasa apapun untuk disampaikan.’ Maksudnya, ilham yang beliau terima atau syuhudnya tidak dapat dikiaskan kedalam kata-kata yang bisa diterima oleh akal. Karena beliau menerima atau menyaksikan dengan ruhaninya atas sesuatu yang ghaib, sedangkan sesuatu yang ghaib itu tidak bisa dipahami dan dilihat oleh akal inderawi.

Seseorang mengkhayal membuat mobil, kerangkanya terbuat dari air dan mesinnya dari angin. Meskipun ini khayal, tetap harus menggunakan benda yang dikenali didalam dunia ini, dan tidak mungkin yang tidak dikenalinya. Bagaimana kalau ‘sesuatu’ itu tidak ada dalam khayal atau pikiran yang mampu mendekati maknanya? Didalam pembukaan surat al Baqoroh dikatakan bahwa salah satu makna takwa itu percaya kepada yang ghaib. Apa itu ghaib? Para ulama mengelompokkan ghaib menjadi dua macam, yaitu Ghaib Mutlak dan ghaib majazi atau bukan hakiki. Ghaib Mutlak atau Hakiki itu Allah sedangkan selain-Nya adalah ghaib majazi. Allah itu wujud (ada) sedangkan yang lainnya ternasuk manusia itu tidak ada.(adam). Bagaimana mungkin yang tidak ada mengenal yang Ada? Oleh karenanya, yang dimaksud dengan mengenal Allah bukan mengenal bilangannya, bukan mengenal sosoknya, melainkan meng-esa-kan-Nya dengan cara yang shahih.

Sebelum mengenal-Nya, seseorang hanya melakukan praktek ibadah secara jahir saja. Mengenal Allah dapat diawali dengan menggunakan akal, karena akal adalah suatu alat untuk menandakan atau mengikat kepada benda yang menjadi objek pikirannya. Al Qur’an pun demikian, ketika menerangkan hakikat atau sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata inderawi, menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh akal, artinya yang telah diikat dengan nama-nama dan istilah yang logis. Ada penerangan tentang Allah, maka akal menerima bahwa Allah yang menciptakan, mengatur, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan masih banyak yang bisa diterima dan dipahami menurut akal, bahkan menjadi azas akal, azas pikiran, sehingga apa yang dilakukan berdasarkan azas pikiran ketuhanan ini. Selanjutnya mengenal Allah ‘memandang’ bahwa segala sesuatu tidak ada dan yang ada hanyalah Allah, disebut sebagai tauhid atau hakikat dari pada pengesaan Allah, maka sudah bukan lagi akal tetapi sudah bersifat hakiki, akal akan berhenti berpikir manakala jiwa telah mengesakan Allah menunggalkan Allah itulah mengenal-Nya. Lalu bagaimana cara mengesakan-Nya? Imam Junaidi al Bagdadi,qs, Imam Ibnu Arabi,qs, Imam Jilly,qs, dan Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Alah merahmatinya) telah membuat manhaj untuk mengenali-Nya, yang disesuaikan dengan keadaan pengikutnya agar mudah dipahami dan dikerjakannya.

Allah berifirman kepada Rasulullah,saw, : ‘Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafuni,’ yang artinya Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku.

Akal mampu memahami ketika seseorang bercermin, maka akan terlihat dirinya didalam cermin, tetapi bukan dirinya dan bukan selain dirinya, artinya bahwa semua perbuatan yang didalam cermin mengikuti kehendak yang diluar cermin, dalam hal ini yang didalam cermin kita sebut ‘jelmaan’. Kalimat ini, boleh diganti bahwa manusia dari Allah, tetapi bukan Allah dan bukan selain Allah. Begitulah Allah menciptakan makhluk seolah-olah sebagai sesuatu yang berada didalam cermin, sebagai shuroh_nya, sebagai majlah-Nya. Karena ada ego atau nafsu maka manusia mengaku bahwa semua upayanya adalah perbuatan dirinya. Manusia terhijab dengan pengakuan ini, semakin lama semakin tebl dan menjadi lupa bahwa segala sesuatu yang diperbuatnya bertujuan agar digunakan untuk mengenal-Nya. Manusia yang sempurna atau insan kamil, bukan lagi merasakan bahwa manusia itu berbuat sesuai dengan khendak-Nya, melainkan hilangnya dualitas, yaitu Allah saja.

Dalam hal ini Allah tidak memilih malaikat sebagai jelmaan untuk menjadi objek dalam mengenal-Nya dan bukan ciptaan yang lain, kecuali hanya manusia. Manusia tidak dibebankan untuk menilai perbuatan orang lain, kecuali kepada dirinya sendiri. Sedangkan kaitannya dengan orang lain adalah untuk berkhidmat kepada-Nya. Manusia bermuamalah, beribadah semuanya untuk Alah untuk menyembah dan melaksanakan perintah-Nya, jika untuk selain-Nya itu salah menyusun ideologi bertauhid, salah arah, kenapa melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan, mengerjakan sesuatu yang sebenarnya ada pelaku-Nya, yakni Allah. Kita hanya diperintahkan untuk mengenal Allah, untuk menyaksikan semua dari Allah, maka manusia akan mengabdi kepada Allah, kepada semua yang Allah perintah melalui ciptaan-Nya. Maka setiap individu adalah objek untuk mengenal dirinya sendiri, namun tidak akan mampu mengenal dirinya, jika Allah tidak membagi alat untuk mengenalnya, dalam hadis dikatakan ‘Man arofa nafsahu.’ Alat untuk mengenal-Nya adalah ada di ruh yang ditiupkan oleh-Nya saat manusia berusia empat bulan pada rahim ibunya. Di dalam ruh Ini ada sifat-sifat mahmudah atau sifat terpuji atau akhlak karimah atau maqomat ruhiyah. Agama yang kita laksanakan bertujuan untuk menghasilkan sifat-sifat ini dengan istilah lain membentuk kepribadian, membentuk keruhanian, membentuk manusia yang baik, manusia yang sempurna. Karena jasad manusia sudah sempurna, tapi ruhnya belum sempurna. Oleh sebab itu, jika shalat atau ibadah dan berbuat kebaikan jangan berpikir pahala, lakukan karena Allah. Nanti Allah akan tukar dengan sifat-siaft-Nya sifat Jamal-Nya, sifat terpuji, akhlak mulia.

Teruslah shalat meskipun belum khusyuk, tetapi selalu memohon pertolongan-Nya, kita mulai dari pikiran yang diarahkan kepada-Nya sebatas yang dipahami, nanti Allah akan tukar dengan khusyu dengan sifat malu, dengan khauf, dan lain sebagainya, apabila Allah sudah beri sifat ini, maka sifat-sifat inilah yang memancarkan cahaya makrifat atau syuhud atau dzauq. Jadi yang disebut dzauq atau syuhud atau cahaya, terbit dari sifat-sifat yang diperolehnya yang menjadi karakater hatinya, maqomnya, maka setelah itu semua, apa yang menjadi suratan takdir adalah jelmaan-Nya, shurah, perkenalan atau pertunjukan Allah kepadanya.

Maka mengenal Allah itu dari Allah dengan Allah untuk Allah, 'Huwa yakrifu nafsahu binafsihi linafsihi', Dia mengenal diri-Nya dengan diri-Nya untuk diri-Nya. Oleh sebab itulah mengapa guru kami tercinta Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) memberikan penjelasasn tentang muroqobah Ahadiyah yang merupakan muroqobah pertama dari tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, bahwa tidaklah sah muroqbah Ahadiyah manakala masih menyadari dirinya ada.

Semoga bermanfaat, wallahualam bisawwab.

Jumat, 24 Januari 2020

LALAI

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Ada sebuah ayat Al Qur’an yang mengatakan bahwa perintah mendirikan shalat itu untuk mengingat-Nya, dan hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang. Faktanya banyak orang yang telah melakukan shalat dan dzikir lebih dari lima belas tahun, tetapi hatinya tidak tenang, maksiat tetap dilakukan. Apa yang salah? Bisa jadi sholat dan dzikirnya dalam keadaan lalai dari mengingat-Nya dan bukan untuk-Nya, melainkan untuk dirinya.

Lalai dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya merupakan kelalain orang awam, ibadah dilakukan karena ingin mendapatkan pahala pun masih dinilai lalai, apalagi jika tujuannya ingin dilihat orang, ingin mendapat status sosial sebagai orang yang dimuliakan. Meskipun seseorang sudah berilmu agama dan beramal sholeh pun masih ada kelalaian, yaitu kelalaian yang halus dan tidak disadarinya, yaitu lalai daripada mengesakan Allah, atau lalai dari tauhid, lalai dari meyakini bahwa apa yang terjadi atas kehendak Allah. Banyak orang yang hidup dalam lingkungan tasawuf pun pemahaman lalainya hanya dalam konteks syariah saja, bukan dalam konteks adab atau hakikat jiwa atau ruhani. Orang yang dewasa batinnya, malah selalu bertanya dalam hatinya apa yang Allah akan perbuat selanjutnya, keyakinanya selalu memberitahu bahwa kehendak dan perbuatan-Nya didalam ilmu-Nya. Sehingga yang dirasakan tidak lain hanya untuk menyaksikan kehendak Allah, menyaksikan ilmu-Nya pada dirinya atau diluar dirinya.

Kita terjebak pada kebiasaan dalam melakukan peribadatan dan tidak berdasarkan ilmu dan ma'rifat, itulah mengapa Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa : ‘Mengajilah kepada banyak guru syariat.’ Karena kualitas ibadah itu berpangkal kepada ilmu, barulah peribadatannya akan membangun ruhani, akan membuahkan rasa (dzauq). Maka dari itu tahapannya adalah syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Kita tidak menguasai syariat atau fiqih tetapi sudah bertarekat dan malas membaca atau mengaji syariat, oleh sebab itu jangan pernah berharap akan memperoleh hakikat, jangan merasa sudah bertarekat lalu tabu membaca buku tentang syariah atau fiqih. Salah satu kitab yang fenomenal pun menggabungkan keduanya, yaitu karya Imam Al Ghazali,qs, yang berjudul Al Ihya ullumiddin yang didalamnya terdapat apa-apa yang dibutuhkan oleh ruhani.

Dalam kehidupan ini, apa yang dilihat oleh mata akan disimpan didalam otak, bila diperlukan maka akan muncul dalam ingatan terhadap apa-apa yang pernah dilihat dan diperbuat. Apakah yang dimaksud dengan dzikir itu mengingat apa yang pernah kita lihat? Jawaban ya, tetapi bukan yang pernah dilihat oleh mata, karena tidak mungkin Allah bisa dilihat oleh padangan mata, melainkan oleh mata batin atau syuhud. Oleh karenanya yang mengingat atau berdzikir itu adalah ruhani, bukan ucapan mulut dan pikiran atau bukan jasmani atau tubuh. Inilah yang dimaksud dengan membangun ruhani, agar mempunyai penglihatan batin yang tajam, atau basyirah. Oleh sebab itu dzikir jangan disamakan dan dianggap sebagai latihan vocal, hanya mementingkan cara dan iramanya saja. Kebanyakan, mengucap kalimat Laa ilahaa illallaah yang berguna untuk mengesakan-Nya malah lupa kepada-Nya, yang paling jauh adalah berusaha mengalahkan pikiran yang lain dengan pikiran tentang Allah. Meskipun berpahala tetapi masih jauh dari yang dimaksud dzikir, karena tidak akan merubah jiwa. Untuk membuang jauh-jauh pikiran yang ngelantur, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyarankan murid-muridnya agar merasakan seolah-olah sedang membersihkan hati, atau seolah-olah sedang merasakan rindu kepada yang dicinta. Karena tidaklah mungkin menjadi maestro pelukis tanpa latihan melukis, atau ahli panah tanpa latihan memanah, semua perlu riyadhah dan mujahadah atau dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah. Berbeda dengan para mursyid, selalu hudhur meskipun sedang dalam pembicaraan kepada orang lain.

Banyak menyebut kalimat laa ilahaa illallaah, bertujuan untuk menghilangkan kemajemukan dan menunggalkan Allah saja didalam hati, disebut sebagai penafian dari yang lain dan mengistbatkan Allah saja. Yang artinya masih sibuk dengan meniadakan yang lain, oleb sebab itu dzikir yang dilakukan oleh para muqorrobin adalah, Allah … Allah ... Allah atau disebut ismu Dzat. Dzikir 'Allah' itu mujarob, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyampaikan wejangan mengapa ketika dzikir 'Allah' itu harus membayangkan huruf Allah kedalam pikiran, kemudian dimasukkan atau dipahat kedalam hati, agar seolah-olah dihati terukir kata Allah guna membuang segala sesuatu selain-Nya. Rasulullah,saw, pernah berkata ketika seorang hamba melakukan dosa maka akan ada satu titik hitam di hatinya, lalu berapa banyak titik hitam didalam hati kita? Maka lafal Allah itu menghapusnya. Oleh sebab itu, ketika berdzikir jangan ada tujuan lain, jangan merasa sedang mempersembahkan amal, atau bahkan merasa bahwa amalnya banyak, ini bukan berdzikir malah ujub dan akan menghapus fadhilah dzikir. Merasa seperti itu membuat dzikir tidak menghapus, maka harus murni untuk Allah saja. Berpikir menghapus atau membersihkan pun Jangan, lalu kemudian merasa senang, lega setelah dzikir, itu nafsu sedang menipu.

Nafsu akan menikmati ketika dibawa maksiat, sebaliknya ruhani tidak. Sedangkan rasa ruhani ketika dzikir, akan merasakan tiada, itu yang membuat merasa aman karena bukan dia yang berdzikir kecuali kehendak-Nya, rasa tidak khawatir, was-was hilang karena dia tidak ada, tidak dapat berbuat apa-apa, hanya Allah yang Maha Agung itulah rasa tenteram (tathmainnul qulub), seperti istri disamping seorang suami yang gagah dan kaya raya, artinya kalau ada musibah apapun ada suami yang menanganinya. Dzikir juga bukan untuk menangis, apalagi jika sang Ustadz pandai membuat tangis, ini bukan tidak berguna tetapi emosional, tidak sedikitpun menyentuh ruhani meskipun berpahala. Tapi bagi tasawuf jangan berhenti di situ, itu belum melangkah dalam kesucian.

Ada satu rasa yang tak dapat dilukiskan, ketika dzikir 'Allah' meskipun belum menjadi maqomnya, belum menjadi karakter jiwanya, katakan masih mencoba untuk menghancurkan hijab. ketika hijab itu robek, maka yang mengingat itu bukan dari pikiran, tetapi dari dalam ruhani lalu keluar kepikiran, dia merasa tidak ada, bahkan tidak 'merasa' lagi. Bisa diilustrasikan seperti orang yang dibuang ke jurang dan tidak dapat berpegangan apapun ada 'ingat' yang deras dari dalam lalu keluar.

Dzikir bukan membesarkan ingat oleh ucapan, kalau pemula memang harus begitu guna mencerahkan. Terlalu banyak hambatan yang bersifat subjektif yang terkadang kita sendiri tidak merasa dan sulit untuk dilepaskan, oleh karenanya istilah tasawuf hilangkan rasa (penafian), inipun hanya sebuah 'bahasa', karena jika berdzikir lalu merasa menghilangkan rasa, maka rasa menghilangkan ini lebih tebal daripada rasa yang sedang diupayakan untuk dihilangkan, atau malah mempertebal hijab. Oleh sebab itu wejangan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) saat akan dimulainya dzikir jahr berjamaah mengatakan : 'Lupakan yang lain dan ingat Allah saja, atau rasakan seolah-olah sedang membersihkan hati,' perlu dimaknai secara bijaksana, karena dalam kholaqoh dzikir dihadiri oleh jamaah yang beraneka ragam keadaan spiritual dan keinginannya, yang seharusnya hanya ingin 'Allah' saja.

Demikian semoga bermanfaat, wallahualam bisawab.

Kamis, 23 Januari 2020

RABITHOH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim


Rabithoh, ditelinga sebagaian saudara-saudara kita istilah ini terdengar panas, mereka menyebutnya sebagai bid’ah. Bisa jadi mereka memperoleh pemahaman yang salah dari orang yang salah. Karena dizaman kini banyak yang mengaku sebagai guru tasawuf, padahal tidak mempunyai makrifat lalu mendidik murid-murid agar makrifat, bagaimana bisa? Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata : ‘Orang yang mengaku-ngaku sebagai guru tarekat tanpa khirkoh (restu) dari gurunya, akan memutuskan cahaya ketuhanan yang memancar dari para ahli silsilah yang berujung kepada Rasulullah,saw, dan akan dihukum setara dengan seribu orang munafik.’ Di dunia tasawuf, banyak istilah-istilah untuk menjelaskan pengalaman ruhani mereka, juga banyak metode guna mendapatkan pertolongan Allah, agar menjadi jiwa yang berakhlak mulia, mempunyai maqomat ruhiyah, dalam istilah tasawuf disebut sebagai madad.

Syaikh Wassi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : ‘Hidupnya tasawuf ada didalam suhbah, sedangkan buku-buku yang ditulis oleh para Aulia Allah hanyalah salah satu kajian saja.’ Maksudnya, pendekatan tasawuf itu adalah guru bukan buku, akan tetapi jangan pernah berhenti membaca buku-buku tasawuf khususnya yang menjadi rujukan tarekatnya. Karena buku-buku itu kebanyakan karya para Aulia Allah. Dan karya Aulia Allah itu adalah pengalaman dan pengamalan pribadinya yang didalamnya terdapat hikmah dan ibrah ruhiyah guna wushul kepada Allah SWT. Seorang syaikh berkata bahwa : ‘Ilmu adalah seperti binatang buruan yang larinya cepat, maka jaringnya adalah buku.’ Dalam tasawuf, membimbing murid bukan dengan ilmu saja, bukan dengan pemikiran-pemikiran yang unik, atau dengan menjelaskan secara ilmiah, sistematis dan teratur, melainkan bimbingan jiwa guru kepada jiwa-jiwa muridnya, seolah-olah ruhani gurunya itulah yang memberkati ruhani murid-muridnya.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mempunyai manhaj yang baku, seperti dzikir, muroqobah, khalwat dan mujahadah. Tujuannya Untuk menyiapkan jiwa murid, membersihkan nafsu, membersihkan sifat-sifat buruk, agar melimpah ke dalam dirinya sifat-sifat mulia atau singkatnya adalah sifat-sifat makrifat agar selalu hudhur. Orang yang hatinya hudhur, adalah yang memiliki maqomat-maqomat ruhiyah, seperti sabar, syukur, mahabbah, yakin, zuhud, wara, dan lain sebagainya. Sifat-sifat ma’rifat ini menjadi satu kesatuan disebut syuhud. Sifat-sifat mulia ini dilimpahkan dari hati gurunya ke hati sang murid. Rasulullah,saw, pernah berkata : ‘Apa yang ada didalam dadaku aku limpahkan kepada Abu bakar as Siddiq,ra.’

Kita sering mendengar dan membaca istilah takhali, tahali dan tajalli. Bahkan didalam doa-doa dzikir lathaif terdapat kata tajalli. Yang dimaksud dengan takhali adalah membuang sifat buruk dengan mujahadah atau dawamun ubudiyah agar cawan ruhani terwujud. Sedangkan tahali adalah mengisi cawan ruhani dengan sifat-sifat mahmudah dengan cara suhbah kepada guru, dengan mencintai dan berkhidmat kepadanya serta selalu memohon kepada Allah agar menurunkan madadnya yang sudah diturunkan kepada guru agar diturunkan kepadanya. Dalam suhbah selain mendapatkan ilmu juga ruhaninya. Tahali itu datangnya dari hati yang punya sifat akhlak, maqomat, makrifat. Maka wajib hukumnya membina hubungan yang kuat kepada guru, itulah yang dimaksud dengan rabithoh. Sehingga kemanapun ia menghadap akan teringat gurunya atau orang yang dicintainya. Seperti seorang ayah yang menyayangi anaknya, dimanapun ia berada akan terbayang atau teringat anaknya, inilah robithoh. Ini adalah salah satu sifat ruhani, apakah bisa mata disuruh berhenti melihat atau telinga berhenti mendengar? Tentu tidak bisa. Itulah mengapa robithoh secara sepontan ada bagi orang-orang yang mempunyai sifat mahabbah.

Robithoh bukan khurofat, robithoh adalah Mahabbah, robithoh adalah keikhlasan untuk mendapatkan tahaliyat. Ada atau tidak ada istilah robithoh dalam tarekat, hakikatnya akan selalu ada.

Demikian semoga bermanfaat, wallahualam bisawab.

Rabu, 22 Januari 2020

MEMERANGI NAFSU

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Memerangi nafsu banyak cara, namun akan jitu manakala diperangi menggunakan metode yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kecerdasan spiritual, karena telah terbukti memenangkannya. Dikatakan bahwa ikuti keburukan dengan kebaikan, maka keburukan akan terhapus. Maksudnya jika telah memberi sesuatu dengan sombong, ikuti dengan memberi lebih banyak lagi agar sombong sirna meskipun masih ingin dipuji, oleh karenanya ikuti dengan memberi lagi karena Allah. Buruk adalah sifat nafsu sedangkan baik adalah sifat ruhani. Imam Al Ghazali,qs, pernah bercerita, bahwa seorang sufi pernah berkata : ’Berbuat ikhlas selama empat puluh hari maka akan memancar hikmah dari mulutnya,’ maka dilakukannya hal ini dengan baik, lalu disaat ingin berdawah, seolah-olah menjadi bisu karena tidak ada pemahan yang bisa disampaikan. Kemudian beliau bermimpi dan menemukan letak kesalahannya, yakni selama empat puluh hari itu yang dituju adalah ‘hikmah’ bukan ‘pemilik hikmah’. Lalu beliau sadar dan mencari guru tasawuf dan berkhalwat untuk meluruskan hatinya kepada Allah. Inilah perbedaan antara syariat dan tarekat, yang pertama mempelajari apa yang diperintah dan dilarang oleh Allah karena mengharapkan pahala dan menghindari siksa, sedangkan didalam tarekat meluruskan pandangan hatinya dengan dan karena Allah SWT tanpa memperdulikan pahala dan siksa.

Suatu hari, didalam khalwat Syaikh. Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menyuruh murid-muridnya mengamalkan dzikir ataqoh, yaitu berdzikir dengan menjaharkan kalimat ‘Laa ilahaa Illallaah’ 70.000 kali banyaknya. Setelah tiga hari, semua murid ditanya apakah telah menyelesaikannya dijawab ‘ya’, hanya seorang murid yang mengatakan ‘belum’, lalu syaikhuna memberikan hadiah berupa minyak wangi kepadanya. Dalam hal ini, murid-murid yang lain melakukannya dengan nafsu, yang bertujuan ingin cepat selesai, sedangkan seorang murid melakukannya dengan meluruskan pandangan hatinya ‘hanya Allah saja’, dan tidak peduli terhadap bilangan.

Rasulullah,saw, selalu membaca doa sebelum salam dalam setiap shalatnya : ‘Allahumma a’inni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik, artinya Ya Allah, Tolong aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik untuk-Mu.’ Syaikh, Waasi’ Achmad Syaechuddin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Perangilah nafsumu dengan dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah.’ Hadis yang mulia diatas dan perkataan Syaikhuna berbeda, namun mempunyai makna yang sama. Dzikir mendahului syukur dan ibadah. Mengapa dibedakan antara dzikir dengan ibadah, bukankah dzikir adalah salah satu bentuk dari peribadatan?

Kita pahami bahwa melawan nafsu adalah dengan cara menumbuhkan sifat-sifat ruhani. Berarti ada dua entitas yang menjadi pokok pembahasan, yakni sifat nafsu dan sifat ruhani. Dikisahkan ketika Allah menciptakan ruh dan kemudian bertanya : ‘Bukankah Aku ini tuhanmu? Ruh itu menjawab : ‘Betul Engkau Tuhan kami dan kami bersaksi.’ Berbeda ketika Allah bertanya kepada nafsu : ‘Siapa Aku dan siapa engkau?’ Dengan angkuhnya nafsu itu menjawab : ‘Ana ana anta anta, saya ya saya kamu ya kamu.’ Kemudian nafsu disiksa dibakar selama ratusan tahun, ketika ditanya masih menjawab dengan jawaban yang sama. Selanjutnya nafsu tidak diberi makan dan minum dalam waktu yang lama, barulah ia menyatakan : ‘Anta Rabbi ana 'abdi, Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu.’ Oleh karenanya Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Melemahkan keinginan nafsu adalah dengan cara mengurangi kesenangan atau kebiasaannya, sedangkan menghidupan ruhani dengan banyak berdzikir,’ yakni Melemahkan nafsu dengan cara melemahkan tubuh dengan sedikit makan, mengurangi tidur atau menghidupan malam (ihya ullail), menghindari bergaul dengan orang dan mengurangi berbicara.

Mengurangi makan kita kenal sebagai puasa, oleh karenanya umat Islam diwajibkan puasa satu bulan lamanya dalam satu tahun untuk melatih melawan nafsu guna menghadapinya sebelas bulan kedepan. Tidak heran jika Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Puasa itu nisfu thariq, atau setengah jalan.’ Maksudnya adalah senjata yang terampuh untuk menghadang laju pertumbuhan dan penguasaan nafsu. Bahkan para sufi melakukan puasa tarbiyah pada setiap kehidupannya, yaitu berhenti makan yang bernyawa dan dalam porsi yang sangat sedikit, dalam adat jawa disebut sebagai ‘mutih’.

Mendawamkan dzikir sulit dilakukan, berbeda bila dzikir dilakukan hanya menggunakan mulut dan akal, ini adalah dzikir bersama dirinya, akalnya mencoba mengesakan, siapapun bisa melakukannya. Dzikir yang dimaksud oleh Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) adalah dzikir yang dilakukan oleh ruhani, atau sudah menjadi karakter ruhaninya, dalam istilah tasawuf disebut sebagai maqom yang tamkin. Sehingga yang berdzikir dan yang didzikiri adalah satu. Ditahun 1999 Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa : 'Kalau saya boleh menyebut maqom kepada Rasulullah,saw, maka maqom beliau adalah dzikir.' Sehingga tidak akan pernah lupa kepada Allah seditikpun, sedangkan maqom kita adalah maqom lupa, sehingga banyak lupa dan sedikit sekali ingat. Hanya dengan dzikir yang dilakukan oleh ruhani inilah yang mampu memerangi nafsu dan akan menentramkan hati. Oleh sebab itu jangan pernah bertanya mengapa saya sudah dzikir ratusan ribu, tetapi hati tidak tenang? Hidupnya dzikir sebagai sifat ruhani diperoleh dari suhbah kepada Guru, sehingga sifat-sfat ruhani yang ditajallikan oleh-Nya kepada Guru berpindah kepada sang murid. Suhbah tidak harus berkumpul secara jasmani saja, melainkan diazaskan oleh rasa cinta (hub), sehingga rabithoh pun akan mengalirkan sifat-sifat mulia ini. Janganlah bersuhbah dan berqudwah kecuali kepada orang yang kamu mendapatkan daripada perkataannya, harum semerbak Ma'rifat, dan buah-buah cinta. Karena tidaklah seorang Arif itu berbicara mengenai politik dan bisnis atau berbicara yang bukan hakiki, melainkan hanya yang dicintainya saja yaitu Allah, kata-katanya bersumber dari kedalaman hati yang paling dalam, yang menumbuhkan hati pendengarnya bunga-bunga hikmah dan buah-buah ibroh pelajaran.

Sesungguhnya yang melakukan ibadah itu adalah ruhani, karena ada tubuh dan berbagai keinginannya, maka dengan terpaksa tubuh ikut dan merasa berat. Itulah mengapa tubuh harus dilemahkan, agar tubuh beribadah atas kendali ruhani. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ibadah haji adalah ibadah phisik, banyak keluh kesah, padahal dibalik ini pelemahan tubuh akan terbit cahaya ruhani yang menguatkan ibadah.’ Ciri-ciri orang yang mempunyai ruhani yang bersih, apapun yang keluar dari lisannya manakala tertimpa musibah adalah hikmah, bukan makian atau sumpah serapah, karena tidak ada lagi khazanah buruk didalam dirinya.

Itulah makna perkataan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) : 'Dawamudz dzikri wadawamun ubudiyah.'

Semoga bermanfaat, wallahualam bisawab

Minggu, 19 Januari 2020

MENGENAL NAFSU

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim


Bab ini diawali dengan sebuah cerita. Seorang ayah mempunyai anak perempuan yang masih kecil, diajarinya jalan yang benar agar tidak membahayakan dirinya, maka sang ayah harus ‘turun’ bertingkah layaknya seperti anak kecil, sang anak berkata ‘Papah, aku bisa jalan.’ Lalu sang ayah mengajarinya berlari kecil dan dibuatnya agar sang anak sampai lebih dulu, sang anak berkata : ‘Horeee, aku menang.’ Sang anak merasa lebih hebat dari ayahnya! Begitulah analogi pendidikan ruhani dari seorang guru kepada murid-muridnya, setiap tarbiyah yang dilakukannya disesuaikan dengan keadaan murid. Sehingga terkadang nafsu sang murid membisikkan bahwa dirinya lebih baik dari gurunya. Sifat nafsu yang ada pada murid tidak salah! Karena Allah SWT yang menciptakannya, memang seperti itu adanya sebagai ujian baginya, untuk dikenali dan ditundukkannya lalu dikendarai untuk menuju Allah SWT, hal ini merupakan anugerah terbesar bagi manusia, karena tidak ada pada makhluk lain yang diciptakan-Nya. Tetapi yang perlu kita sadari bersama, bahwa tidak seorang pun yang mampu menundukkannya kecuali Allah SWT. Dia mewajibkan kita meminta tolong kepada-Nya, seperti yang selalu dibaca oleh setiap orang Islam yang terdapat pada suratul Fatihah,'Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan [al-Fatihah: 5]. Jika di umpamakan bahwa bisikan nafsu itu adalah kegelapan (dzulumat) maka sifat-sifat Allah adalah cahaya (nuur). Cahaya ini adalah sifat ruhani yang akan menerangi jalan manusia menuju-Nya. Sebuah ruangan yang gelap gulita jika ada sekilas cahaya, maka kegelapan akan lenyap. Oleh sebab itu, menjadi tugas pembimbing ruhani untuk mendidik muridnya melalui manhaj atau metodologi yang baku dan telah teruji sebelumnya, agar cawan ruhani sang murid terwujud, dengannya keniscayaan Allah mentajallikan sifat-sifat-Nya terbuka lebar. Akan tetapi ketaatan sang murid bukan penyebab langsung diperolehnya tajalli dimaksud, melainkan atas kehendak-Nya.

Perbincangan didalam tasawuf tidak akan pernah terlepas dari masalah nafs dan Allah, Sayyid Abdul Qodir al Jailani,qs pernah berkata kepada murid-muridnya : ‘Kalian berada di antara dua pilihan, yaitu Allah atau nafsumu.’ Begitu pula Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) selalu menyebut kata mujahadah disetiap pengajian, yang maksudnya adalah melawan atau memerangi nafsu. Nafsu memang hanya satu kata tetapi mempunyai banyak makna, insyaAllah kita akan membahasnya dari sudut pandang tasawuf saja. Imam Al-Ghazali,qs., mengatakan bahwa nafsu sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia.

Pemahaman tentang nafsu membutuhkan talenta spiritual, sebagaimana perkataan Imam Junaid,qs bahwa syarat utama bertasawuf adalah talenta, bila tidak akan sia-sia. Meskipun seseorang telah mengaji selama bertahun-tahun, ia akan tetap hidup dengan kendali nafsunya bukan ruhani. Jika nafsu saja tidak dapat dikenali bagaimana mampu melawanya? lalu bagaimana bisa mengenal Tuhannya? Sebuah hadist mengatakan : ‘Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu,’ yang artinya barang siapa mengenal dirinya (nafsunya), dia akan mengenal Tuhannya.

Didalam al Qur’an dan al Hadist dikatakan bahwa nafsu dan syaithon adalah sebagai musuh. Kata musuh dalam agama diartikan sebagai menang dan kalah bukan baik dan buruk. Karena jika musuh diartikan sebagai baik dan buruk, maka istri dan anak pun termasuk didalamnya, karena Al Qur’an menyebut sebagian keduanya adalah musuh. Oleh sebab itu, melawan nafsu adalah memenangkan bisikan atau keinginannya dengan meletakkan akal atau nilai nilai akhlak di depan emosi. Sebagai contoh, jika seorang suami ingin memberikan uang kepada ibunya dan sang istri menolak. Maka penolakan istri adalah musuh yang harus dikalahkan dengan memberikan pemahaman agama, bahwa ibu atau saudara perempuannya yang tidak bersuami dan tidak bisa mencari nafkah merupakan tanggung jawabnya. Jika syaithon membisikan kepada suami untuk tidak melaksanakan kewajiban agama, bisikan ini pun adalah musuh dan wajib dilawan untuk dimenangkannya. Disetiap peristiwa, musuh manusia adalah bisikan atau keinginan nafsu dan syaithon, dan wajib dikalahkan dengan kepentingan Allah. Memeranginya merupakan jihad akbar dan barang siapa mati dalam keadaan berperang disebut sebagai syuhada.

Nafs itu adalah diri, tetapi yang lebih dekat maknanya sebagai 'jiwa', adalah suatu realitas yang lembut (lathîfah) yang ditempatkan di dalam kerangka badaniah dan bahwa darinya muncul ciri-ciri watak dan sifat-sifat tercela. Dengan cara yang sama, ruh merupakan realitas yang lembut yang ditempatkan di dalam hati, dan darinya muncul ciri watak dan sifat-sifat yang terpuji. Sebagaimana mata merupakan lokus penglihatan, telinga lokus pendengaran, hidung lokus penciuman, dan mulut lokus pencicipan, keseluruhannya disebut jism atau tubuh, demikian pula jiwa itu merupakan lokus sifat-sifat yang tercela pada tubuh. Kumpulan dari keinginan dari setiap anggota tubuh disebut sebagai syahwat. Syahwat bertujuan untuk kesenangan dan kebahagiaan diri. Sebagai contoh, meskipun seorang kakek sudah berumur 80 tahun, tetap saja merasa senang manakala melihat wanita cantik, mobil dan rumah mewah. Hal ini tidaklah salah karena Allah SWT yang mencipta dan menghendaki demikian adanya. Nafsu tidak mengenal tua, tetapi tubuh yang mengalaminya. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Syahwat adalah keinginan yang menggebu-gebu untuk segera dikerjakan.’ Nah, yang harus dilawan adalah keinginannya (Al Khawatir) atau syahwatnya bukan anggota tubuhnya. Akan tetapi keinginan dari nafsu oleh syaikh sufi sering disebut nafsu saja. Di Indonesia kita mengenalnya sebagai hawa nafsu, kata hawa diambil dari kisah Nabi Adam,as dan Hawa yang mempunyai keinginan untuk mendekati pohon terlarang. Keinginan Hawa ini disebut sebagai nafsu, oleh sebab itu keinginan diri atau keinginan nafsu disebut sebagai hawa nafsu.

Sebagaimana ucapan Imam Al Ghazali,qs bahwa nafsu itu mempunyai dua keinginan, yakni syahwat dan marah. Syahwat adalah keinginan dari pemuasaan anggota tubuh, seperti makan, minum, tidur, malas, melihat yang indah-indah, hubungan biologis, dan lain sebagainya, sedangkan nafsu marah adalah sombong, dengki, iri, benci, adu domba, gibah, senang kalau orang menderita, merasa pintar, mengaku tau agama, ingin dihormati, dan lain sebagainya. Berkaca dari riwayat nabiyullah Adam,as dan Iblis, yang sama-sama berbuat salah karena nafsu. Nabi Adam,as tergelincir karena nafsu syahwatnya ingin memakan buah yang terlarang, sedangkan Iblis karena nafsu marahnya, yaitu menolak patuh karena dengki dan berkata 'Ana khairun minhum, aku lebih baik darinya.' Malaikat pun bertanya kepada Allah tentang penciptaan Adam,as, tetapi setelah diberi tahu hakikat-Nya langsung patuh. Hukuman bagi pelaku pengikut nafsu berbeda-beda, yang disebabkan oleh syahwat, di turunkan dari surga ke bumi untuk dimuliakan atau untuk lebih mengenal Allah, untuk diberi ampunan-Nya. Sedangkan pelaku nafsu marah langsung dilaknat (laknatullah) dan ini sebuah keniscayaan dan jahanam tempat kembalinya, naudzubillah mindzalik. Berapa banyak kita telah melakukan dengki, iri, sombong? Mengapa dalam tubuh kita ini muncul syahwat dan marah?

Yang paling menarik dari pengajian tasawuf adalah penjelasann tentang anasir dan hubungannya dengan diri. Guru kami Syaikh Waasi’ Achmad Syaehuddin (semoga Allah merahmatinya) mengatakan bahwa ‘Tubuh manusia ini dicipta dari unsur alam semesta, yaitu tanah, air, udara dan api.’ Atau bisa disebut terbuat dari saripati alam semesta, sehingga manusia disebut sebagai ringkasan alam semesta (micro kosmos), artinya sebanding dengan semua alam ini, namun dalam ukuran kecil. Dalam hal ini, jiwa itu diselimuti empat sifat yang berbeda. Yang pertama adalah makna dari sifat-sifat Kebesaran (rubúbiyyah), seperti sombong, tak terkalahkan, cinta akan puji-pujian, agung, dan merdeka. Ia juga diselimuti ciri-ciri watak dari syaithon, seperti menipu, kejam, iri, dan curiga. Dan ia juga diselimuti perangai hewan, yaitu suka akan makanan, minuman, dan perkawinan. Dan dengan semua ini, ia juga dianggap bertanggung jawab atas sifat-sifat hamba, seperti takut dan rendah hati. Hamba itu bukanlah hamba sejati sebelum dia disucikan dari ketiga makna pertama. Ketika dia menyadari sifat-sifatnya sebagai hamba, maka dia terbebas dari sifat-sifat kebesaran yang menyelimutinya. Oleh sebab itu, kita mesti menghormati manusia, karena satu manusia itu kekuatannya sama dengan alam semesta. Terdapat dalam hadist bahwa manusia akan dibangkitkan di Yaumil Akhir berdasarkan rupa binatang sesuai dengan sifat yang dominan ketika ia hidup. Semua sifat-sifat yang tumbuh dari Jasmani ini, adalah untuk mempertahankan kehidupan, adakah binatang yang lapar lalu diam saja? Tentu dia akan mencari, kalau tidak dapat akan mencuri, kenapa? karena untuk mempertahankan eksistensinya dan ingin mendapatkan Kesenangan. Juga, akan menolak sesuatu yang menyakitinya, sifat kebinatangan ini adalah sifat manusia. Manusia dihina pasti akan marah, meskipun ia salah, jadi jangan dianggap salah jika ada yang membela diri. Hal ini adalah anugerah Allah SWT dan itulah salah satu cara-Nya memelihara manusia. Tetapi dalam hubungannya dengan syariah Agama, nafsu itu adalah musuh, karena keinginan nafsu itu akan melampaui batas! Oleh sebab itu, harus diperangi sesuai aturan agama (mujahadah).

Pembangunan agama kepada diri manusia, bertujuan agar terjadi keseimbangan antara lahir dan batin antara sifat jasad dan sifat Ruhani. Karena selain jasad atau tubuh atau diri, Allah SWT juga meniupkan ruh-Nya kedalam jasad ini. Apa yang dimaksud dengan melawan nafsu? artinya tumbuhkan di dalam diri ini sifat-sifat ‘Ruhani’. Jika jasad punya sifat seperti yang sudah disampaikan diatas, maka ruhani juga mempunyai potensi sifat-sifat seperti sabar, ridha, syukur, tawakkal, siddiq, amanah, marifah, wara, yaqin, sifat-sifat ruhani itulah sifat agama. Didalam hadis dikatan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara, yang terkahir adalah ‘agamanya’, maksudnya adalah akhlak agamanya, yaitu sifa-sifat ruhani yang ada pada dirinya. Jika seseorang mempunyai istri yang akhlaknya baik, maka itulah surga dunia, dan sebaliknya jika akhlaknya buruk maka itulah neraka dunia. Sekarang kita bisa memahami wejangan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) tentang mujahadah, yaitu memerangi nafsu dengan ruhani, atau menangani musibah dengan sifat-sifat ruhani. Dikatakan musibah manakala keinginan dari salah satu anggota tubuh tidak diperoleh, menanganinya harus dengan ruhani. Jika tidak, maka sifat binatang buas yang ada pada diri akan muncul kepermukaan, pukul saja, hina saja, gigit saja, curi saja kalau sudah demikian nasihat pun tidak didengar. Kebuasan sifat nafsu ini bukan seperti sifat anjing saja, melainkan sebanyak binatang buas di bumi dan di lautan. Jika bukan dengan Ruhaninya tidak akan tunduk manusia itu.

Manusia bisa saja memimpin menggunakan hartanya, jika hartanya habis maka dia akan ditinggal pengikutnya, demikian pula jika menggunakan jabatan dan jika jabatan dicopot maka akan dijauhi. Nah, jika orang memimpin menggunakan ruhaninya, atau sifat-sifat Tuhan yang di jelmakan kepadanya, maka siapa yang tidak tunduk kepada Tuhan? Oleh karenya ulama itu dihurmati meskipun miskin, meskipun sudah wafat karena ia hidup dengan ruhani, hidup dengan sifat-sifat Tuhan.

Maksud hidup dengan ruhaninya adalah hidup dengan sifat-sifat mulia itu. Inilah yang dikatakan bahwa hidupnya dengan Allah, karena sifaf-sifat Allah ada pada dirinya. Seperti kita mencintai seorang kekasih, meskipun ia jauh keberadaannya tetapi terasa dekat, terasa ada ketersambungan dan terasa bersamanya, karena sifat-sifatnya ada pada diri kita. Jika dalam kehidupannya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan atau musibah maka dihadapinya dengan sifat ruhani untuk mengalahkan sifat nafsu, jika terjadi begini harus ridho, atau jika begitu harus sabar, tawakal, zuhud, dan seterusnya, ini yang dinamakan melawan nafsu. Allah SWT bersabda bahwa sholat itu berat bagi jasad, kecuali yang hatinya tunduk, maksudnya sholatlah dengan sifat ruhani. Makanya Nabi saw berkata mudahkan agama jangan susahkan, maksudnya miliki keruhanian nanti jadi mudah agama itu.

Syaikh. Achmad Syaechudin (semoga ALlah merahmatinya) berkata kepada murid-muridnya : 'Perangilah nafsumu dengan mendawamkan dzikir dan mendawamkan ubudiyah.' Apa yang diamksud dengan perkatan ini? InsyaAllah akan disampaikan pada bab berikutnya.

Semoga bermanfaat wallahualam bisawab