Kamis, 05 Maret 2020

UZLAH

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Uzlah adalah salah satu istilah dalam tasawuf, banyak sekali istilah-istilah yang bermunculan didalam di dunia tasawuf, karena mereka menjalani dan mengalami keadaan spiritual dengan jalan penyaksian atau syuhud. Sehingga sesuatu yang dirasakan di alam ruhani tidak ada kata-kata yang dapat mewakilinya untuk disampaikan, oleh sebab itu para syaikh sufi membuat terminologi agar dengan mudah dipahami oleh murid-muridnya.

Para syaikh sufi sepakat bahwa untuk merusak konsentrasi nafsu dan menghapus dampak nafsu yang berada didalam hati adalah dengan cara riyadhah, yaitu memotong perilaku yang menjadi kebiasaan dalam menjalani kehidupan setiap hari dengan jalan sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara dan sedikit bergaul dengan orang. Nafsu itu ciptaan Allah, adalah sifat yang tumbuh dari tubuh ini, jadi semua orang punya nafsu, meskipun sudah hafal al Qur’an, hafal hadist dan sudah menjadi ustadz. Allah menciptakan nafsu itu agar manusia dapat menikmati hidup, merasakan kesenangan. Selama tubuh ini ada, maka nafsu itu akan tetap ada. Manusia sejak kecil hingga dewasa walaupun sudah menjadi kyai pun selama belum mempunyai sifat ruhani, maka semua amal ibadahnya dilakukan oleh sifat nafsu. Artinya apa yang dilakukan itu keluar dari pikiran, sehingga ibadahnya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah, ilmu dan amalnya menjadi hijab baginya.

Kebanyakan orang gemar membaca kitab karya para Aulia Allah dari sisi mistisnya saja, atau cerita yang aneh-aneh. Tidak menelaah atau memahami manhaj yang telah dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan tidak sedikit yang menghafal wirid dan cara pengobatan dari kitab primbon atau mujarobat tetapi mengaku ahli ruhani, lalu mengajarkannya kepada orang lain dengan dibumbui sedikit terminologi tasawuf. Ironis, denganya banyak orang percaya dan mengikutinya serta menyebut sang pengajar sebagai guru atau syaikh. Inilah inti persoalannya, orang yang tidak mempunyai ruhani mengajar ruhani, atau orang yang tidak mempunyai ma’rifat berbicara hakikat, sehingga pengikutnya tidak menerima waris ruhani dari gurunya, melainkan nafsu yang memimpin amal dan ibadahnya.

Dalam kasus sosial, bila orang melanggar hukum akan dijauhkan dari masyarakat atau mendekam dalam penjara. Hukum fiqih pun mengatur jika seseorang sudah keterlaluan atau melampaui batas maka akan dibuang ke tengah-tengah hutan, agar tidak membahayakan orang lain. Saat ini pun orang yang terjangkit virus flu corona akan dikarantina, artinya bahwa dari semua sektor kehidupan menjauhkan dari orang lain itu merupakan solusi. Atau contoh lain, misalnya pelukis, pemikir, penulis, seniman, arsitek, mereka banyak menghabiskan waktu untuk menjauhkan diri dari orang lain dan hidup hanya dengan pikirannya saja, guna membangun ide berpikir, untuk memperoleh inspirasi atau untuk mendapatkan solusi. Para penempuh jalan spiritual juga demikian, selalu merasa sendiri dengan pikiran namun berikut hatinya dan tidak harus meninggalkan tempat ramai, inilah yang disebut sebagai uzlah, namun jika dilakukan dengan menyendiri atau menjauh dari keramaian orang banyak disebut sebagai khalwat.

Jika nafsu sudah menjadi pemimpin dan berlangsung lama, maka hati akan terbungkus oleh noda hitam yang tebal, sehingga gelap dan membuat samar-samar ruhaninya dalam ‘melihat’ Tuhan. Ketika guru spiritual atau syaikh sufi menyuruh uzlah kepada muridnya, berarti sedang memberikan terapi atau solusi spiritual guna menghapus noda yang tebal tersebut. Tasawuf, tarekat, memang selalu menggunakan perkara yang makbul, yang tidak melanggar nilai-nilai sosial, nilai-nilai agama, nilai-nilai akal. Imam Ibnu Athoilah,qs, berkata bahwa tidak ada sesuatu yang berguna untuk hati seperti uzlah, karena uzlah membawa hati kepada luasnya pikiran, memikirkan yang paling hakiki yaitu Allah, selain Allah tidak hakiki, berpikir selain Allah adalah khayal atau ilusi. Jika melihat perilaku orang lain dengan pandangan bahwa itu adalah kehendak Allah, maka itu adalah hakiki, tetapi jika memandangnya dilakukan oleh orang itu saja, maka sesungguhnya khayal. Orang jika dihina oleh orang lain, spontan marah dan meledak-ledak, matanya memerah, mulutnya mengeluarkan surara yang keji, sulit memaafkan, maka dia sedang mengeluarkan marah kepada khayal kepada ilusi kepada bukan yang hakiki, karena hakikatnya Allah yang menghendaki. Mengapa orang rajin shalat rajin dzikir tetapi ghibah, adu domba, benci dan hubud dunya jalan terus? Artinya bahwa ibadahnya tidak membentuk ‘manusia’ di hati, tidak mepunyai akhlak dihatinya, sholat dan dzikir yang telah dilakukannya selama ini dengan nafsu.

Uzlah itu ada dua, dengan pikiran dan dengan hati, uzlah yang dianjurkan syaikh sufi adalah uzlah hati, apa manfaatnya uzlah, bukan untuk dirinya, bukan pula untuk orang yang menjadi teman dan sahabat atau muridnya saja, melainkan untuk semua orang. Perumpamaan uzlah bagi oran awam adalah sama dengan orang yang sedang dalam karantina di rumah sakit yang sedang dalam proses penyembuhan, kalau sudah sembuh maka akan bermanfaat untuk dirinya, temannya dan semua orang. Begitu pula hati, dengan jalan uzlah maka akan terhapus bekas noda nafsunya yang tebal, sambil juga mengekang bisikan nafsu yang baru. Oleh karenanya para syaikh sufi percaya bahwa Allah akan menjadikan sebuah energi bagi orang yang sedang melakukan riyadhah dan mujahadah, atau kepada orang yang berkesinambungan mewiridkan sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara dan menjauhi bergaul dengan orang banyak. Maka ibadah yang dia lakukan itu, pahalanya akan Allah berikan kepada jiwanya, berupa cahaya atau sifat-sifat ruhani atau maqom ruhiyah. Orang yang tidak mujahadah dan riyadhah tidak dapat merasa bahwa nafsu adalah musuhnya, maka semua ibadahnya dilakukan dengan nafsu. Oleh karenanya didalam tasawuf, guru selalu mengatakan kalau dihina orang, diam saja, kalau beroleh musibah bersabar, kalau sholat harus khusyu, sehingga bagi ahli uzlah perihal diam, sabar, dan khusyu akan secara otomatis keluar dari ruhaninya, karena sudah merupakan sifat baginya.

Demikian semoga bermanfaat wallahualam bisawab.

Sabtu, 22 Februari 2020

ILMU

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Seorang murid tarekat berkata : ‘Tidak penting ilmu bagiku, yang utama adalah taklid kepada guru dan melaksanakan pekerjaan tarekat, yaitu dzikir dan mujahadah.’ Pernyataan murid ini salah, dia kira hanya dengan taklid kepada guru bisa mencapai tujuan, padahal Allah hanya bisa dikenali dengan ilmu bukan kebodohan (jahl). Manusia merasa gagah hidup di dunia ini, sesungguhnya akal yang mengatakan itu, jika akalnya hilang tak ubahnya seperti binatang berkaki dua. Maka akal adalah alat untuk membedakan sesuatu itu baik atau buruk dan bermanfaat atau memberikan mudharat, oleh sebab itu akal wajib selalu diberi asupan ilmu, untuk memperoleh cahaya agar jelas melihat sesuatu.

Ulama terdahulu mengatakan ‘sedikit ilmu asal bermanfaat’, maksudnya bukan merasa cukup meskipun sedikit ilmu melainkan jangan menunggu ilmu yang diperoleh bertumpuk, tetapi segera amalkan meskipun sedikit. Jika ilmunya sedikit maka amalnya juga sedikit, karena amal membutuhkan ilmu sebagai pemimpinnya, bila tidak akan sia-sia amalnya meskipun sebanyak buih dilautan. Dilingkungan kita, ada keluarga, tetangga, dan teman, kita membutuhkan ilmu untuk beramal, karena menurut syariah perlakuan kepada mereka berbeda-beda. Amal bisa diartikan sebagai aktifitas yang menggunakan naluri dan pikiran baik, dan nilai-nilai kebaikan itu mesti berdasarkan akal, dan akal memerlukan ilmu. Nah, ini yang dimaksud dengan berakal, bukan hanya untuk mengetahui baik dan buruk saja, melainkan mengetahui dampak buruk atau akibat dari sesuatu perbuatan. Sampai ditahap inilah batas akal, untuk pergi lebih jauh dari itu akal tidak sanggup, harus menggunakan batin, atau menggunakan hati yang bersih, ma'rifat, firasat, bahasa hadisnya ‘ittaqu firasatal mu’mina, yangzhuru bi nurillah’ berhati-hatilah dengan firasat orang mukmin karena dia memandang dengan cahaya Allah. Jika akal dipaksakan melebihi ini, maka masuknya ke dalam khayal, karena wilayah yang tidak dapat dijangkau oleh akal itu adalah hakikat, makin hakikat maka semakin tidak dapat dijangkau oleh akal. Oleh karenanya, menurut ahli hakikat apa yang dicapai oleh akal adalah khayal, tetapi menurut ahli aqli adalah hakikat.

Saking pentingnya ilmu didalam tasawuf maka dua buah kitab yang masyhur karya Imam Hujwiri,qs, dan Sayid Abdul Qodir al-Jilani,qs, diawali dengan bab ilmu. Ilmu itu hanya bisa dipahami oleh orang yang mempunyai akal, oleh karenanya pintu ma’rifat adalah akal dan baru kemudian ruhani, seluruh kitab-kitab tasawuf atau pemilik maqomat menyatakan demikian. Hanya orang gila yang tidak memerlukan ilmu karena akalnya hilang. Sesungguhnya didalam kholaqoh tarekat pun terdiri dari majlis ilmu dan majlis dzikir, sehingga bisa dikatakan bahwa pengajaran (ta’lim) dan pendidikan (tarbiyah) adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, seperti melihat dan mata, tidaklah mungkin orang melihat tanpa mata, tetapi kalau mata tidak melihat, apa manfaatnya? Sebelum ritual dzikir dimulai biasanya guru kami Syaikh Waasi’ Achmad Syaehudin (semoga Allah merahmatinya) memberikan tauziah berkenaan dengan ilmu yang berhubungan dengan tasawuf, meskipun ada tarekat yang melakukan sebaliknya, dimulai dzikir dahulu lalu tauziah. Ta'lim seluruhnya adalah untuk akal sedangkan tarbiyah untuk ruhani, sehingga dikatakan bahwasanya ilmu itu tidak menjadikan taqwa, karena ilmu itu mengetahui sesuatu berdasarkan hakikat, sedangkan hakikat sesuatu ada pada hati. Ilmu akan melahirkan hakikat manakala diamalkan, hakikat adalah nur. Bisa jadi orang hafal al Qur’an tetapi belum memperoleh maknanya karena belum mengamalkannya, jangankan perintah yang lain, sholat saja berat untuk diamalkan, kecuali bagi orang yang ruhaninya lebih dominan daripada nafsunya. Imam Bukhari,ra, misalnya ketika ditanya oleh Imam Muslim,ra, bagaimana engkau menulis hadits itu? Dijawab : ‘Aku hafalkan, Aku amalkan dan baru Aku tuliskan, dan Aku tidak menulis sebelum Aku amalkan.’

Hakikat ilmu di dunia tasawuf disebut sebagai maqomat, sedangkan hakikat ilmu lahir dari pengamalan ilmu, oleh sebab itu jangan mentang-mentang sudah bertarekat dan berdzikir serta mujahadah, beranggapan bahwa ilmu itu tidak berguna. Syaikh Ibnu Athoilah,qs, mengatakan bahwa barang siapa belajar ilmu dan memahaminya, seperti mencium baunya ma'rifat, wanginya hakikat. Nah, kalau mencium wanginya saja tidak, bagaimana mendapatkannya? Ilmu adalah salah satu sifat Allah SWT, bahkan orang yang punya ilmu saja tanpa memenuhi hak-haknya, itu pun di akhirat tidak disiksa, oleh sebab itu syaikh sufi selalu mengajarkan muridnya untuk menguasai ilmu terlebih dahulu, baik dengan cara membaca atau ta’lim. Didalam salah satu karya Imam Ibnu Arabi,qs, menjelaskan bahwa nanti di yaumil akhir para ahli ilmu merasa takut akan ditanyakan tentang kewajiban mempunyai ilmu, disaat itu para ulama tertunduk dan wajahnya memerah serta malu dihadapan Allah, lalu Allah SWT berkata : ‘Aku letakkan ilmu-Ku kepadamu bukan untuk Aku siksa, hari ini Aku berikan ampunkan bagi semua pemilik ilmu.’ Itu baru dapat ilmu, bagaimana kalau dapat Allah? Yang artinya bahwa jangan berhenti membaca, menulis dan mengkaji ilmu saja melainkan pengamalannya lebih diutamakan. Sebagaimana riwayat Imam al Ghazali,ra, setelah menemukan guru tasawuf dan melakukan khalwat, beliau berkata : ‘Dulu aku membuang-buang masa.’ Kita bisa bayangkan meskipun beliau sudah menjadi mujtahid mutlak namun pada saat belum bertasawuf beliau mengatakan bahwa telah membuang-buang masa.

Demikian semoga bermanfaat wallahualam bisawab.

Jumat, 21 Februari 2020

TAREKAT -THORIQOH

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tarekat adalah sebuah madrasah yang unik, yang didalamnya terdapat guru dan murid yang mempunyai tekad yang kuat untuk mengenal Allah.

Secara phisisk terlihat sama antara madrasah tarekat dengan sekolah pada umumnya, ada guru dan murid. Bedanya, murid disekolah pada umumnya akan diajar oleh gurunya, sedangkan pada tarekat, murid akan dididik (tarbiyah) dengan cara qudwah. Gurunya memiliki akhlak yang baik, maka murid berkehendak meneladaninya dengan cara mencontoh bukan membaca buku. Karena pembentukan akhlak itu harus melalui pendidikan (tarbiyah) dan bukan pengajaran (ta’lim) saja. Apabila seseorang telah mengikat persahabatan untuk meneladani (qudwah) maka hal ini dapat disebut sebagai proses tarekat, dan sebaliknya orang yang bertarekat namun tidak meneladani (qudwah) gurunya, maka dia belum bertarekat. Karena tarekat itu sebetulnya adalah jalan untuk menumbuhkan sifat Ketuhanan atau sifat-sifat ruhani. Ada juga yang mengatakan bahwa tarekat itu jalan untuk mempertemukan syariat dengan hakikat, sebagai contoh bahwa seseorang sudah memberi tapi belum mempunyai sifat dermawan, maka memberinya merupakan keterpaksaan. Nah, agar memberi itu berbuah menjadi amal maka harus ikhlas. Memberi adalah ajaran syariat sedangkan dermawan adalah sifat ruhani, yang diwariskan melalui keteladanan (qudwah), maka apabila seseorang berkeinginan melaksanakan perintah-perintah syariat secara sempurna, dalam hal ini memberi, maka harus memiliki hakikat memberi itu, karena memberi itu tumbuh dari sifat dermawan. Mencari sifat dermawan itu sama artinya dengan mencari hakikat, cara yang termudah untuk mendapatkannya adalah bersama dengan orang yang dermawan, dan orang yang dermawan itu bersedia mendidiknya (tarbiyah), inilah yang disebut dengan tarekat atau thoriqoh. Syekh Yusuf Makassar,qs, dalam kitab sirr al Asror (judul kitab ini sama dengan judul kitab karya Hadrat Syaikh Abdul Qodir al-Jilani,qs) berkata bahwa tarekat itu mencontoh akhlaknya Nabi,saw dan pintunya adalah mahabbah. Karena bisa saja orang mengikuti lahiriyah Nabi,saw, saja seperti rukuknya, sujudnya, jalannya, pakaiannya, tetapi jiwanya macam Abu Jahal.

Guru di madrasah tarekat disebut sebagai Syaikh, adalah yang mempunyai ‘hal’ atau keadaan jiwa yang dapat membangkitkan, membangun keinginan rohani murid untuk dekat kepada Allah. Syaikh itu bukan hanya mendidik murid untuk melawan hawa nafsu saja, melainkan juga membawa murid kepada Allah. Keperluan murid kepada Syaikh adalah untuk mewarisi akhlak. Syaikh merupakan anugerah dari Allah SWT, dan hadiah dari Allah untuk murid, jika sang murid benar di dalam irodahnya. Murid adalah seorang yang memurnikan keinginannya kepada Allah bukan kepada yang lain, maka jika seseorang menginginkan Allah, maka Allah akan temukan kepada seorang Syaikh. Oleh karenanya, seorang Syaikh itu tidak mudah memberi baiat. Karena kebanyakan orang hanya ikut-ikutan saja ingin bertarekat, melihat informasi di media sosial ada guru dengan jubah dan sorban tebal dan muridnya banyak, maka ingin ikutan, itu pikiran dan tindakan yang salah. Karena madrasah tarekat itu hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, artinya bahwa Allah yang akan memberikan petunjuk-Nya. Itu sebab setiap orang yang bertarekat mesti memeriksa dirinya sendiri, sesungguhnya apa yang dinginkannya, kalau niatnya tidak lurus maka akan jumpa guru yang tidak lurus pula, meskipun nama tarekat sama, wiridnya dan dzikirnya sama, tetapi tawajuhnya yang tidak sama. Itu sebab hakikat tarekat adalah shidqut tawajjuh artinya tujuan yang betul-betul menginginkan Allah. Dan murid itu adalah orang yang memurnikan kehendaknya atau irodahnya hanya kepada Allah (tajjarud).

Hampir di semua kitab tasawuf yang menjelaskan maqomat ruhiyah terdapat penjelasan maqom sabar, para syaikh sufi menjelaskan dari sudut pandang yang bebeda-beda tetapi mempunyai kesamaan makna. Demikian pula pada pengajian kami, Syaikh Wassi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mensyarahkan bab sabar yang terdapat pada kitab Al Luma karya Syaikh Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi,qs. Lalu apakah dengan mengikuti pengajian ini murid-murid menjadi sabar?

Sabar seperti cahaya, jika jendela dan pintu rumah hati tidak terbuka maka cahaya sabar tidak akan pernah masuk, meskipun dibacakan dan dijelaskan tentang sabar kepadanya ratusan kali banyaknya. Yang pertama adalah tarbiyah wajib dilakukan oleh guru yang mempunyai sifat sabar, bagaimana mau mewarisi sifat sabar kepada muridnya jika dia tidak punya? Oleh sebab itu manhaj tarekat bukan ta’lim saja melainkan tarbiyah, jika ta’lim saja hanya akan sampai kepada akalnya. Sabar adalah sifat ruhani, salah satu sifat Allah SWT yang ditajallikan pertama kali kepada Rasulullah,saw, kemudian diwariskan kepada para sahabat dan ulama sesudahnya. Jasad bisa saja mati, tetapi cahaya sabar ini akan terus berpindah dari pemilik yang satu kepada penerusnya, pewarisnya. Sabar adalah salah satu dari sekian banyak akhlak mulia atau maqom ruhiyah, atau anwar, atau Nur Muhammad atau Hakikat Muhamamadiyah, Oleh sebab itu ada hadis yang mengatakan bahwa ulama itu perwaris para nabi. Prakteknya adalah dengan cara tarbiyah artinya guru yang mepunyai sifat ruhani atau maqom ruhiyah, akan memperlakukan muridnya dengan sabar, maka sang murid akan terwarisi sifat sabar itu, manakala sang murid membuka jendela dan pintu mahabbah kepada gurunya dengan cara suhbah. Seperti orang tua yang menegur anaknya dengan cara membentak menggunakan kata ‘sabar!’, bagaimana dengan cara ini sifat sabar bisa ditiru oleh anaknya? Bukannya sabar yang berpindah melainkan amarahnya. Aqidah akhlak adalah tarbiyah, karena tarbiyah adalah proses pewarisan, pesenergian, pemindahan, pembentukan, ini yang hamper punah pada saat ini.

Banyak orang yang mengambil gelar kesarjanaan agama pada Universitas yang berada di luar negeri, manhajnya adalah ta’lim bukan tarbiyah, maka para sarjananya banyak yang saling memberikan kritikan khusnya kepada tasawuf atau tarekat. Bahkan di pondok pesantren pun manhajnya hanya ta’lim bukan tarbiyah. Sehingga menilai sesuatu bukan dengan ruhaninya melainkan dengan nafsunya. Berbeda dengan madrasah tarekat, ada murid yang kesehariannya khidmat kepada gurunya, melayani dengan membawakan kitabnya, menyiapkan minum, obat-obatan, membukakan pintu, maka jika sang guru adalah pemilik cahaya, pemilik maqomat ruhiyah atau Nur Muhammad, akan pindah kepada sang murid, inilah yang dinamakan waris-mewariskan, artinya sang murid tidak di ta’lim melainkan tarbiyah. Oleh sebab itu tidak di bolehkan bagi seseorang yang tidak merasakan pengalaman tarbiyah dari guru mursyidnya menjadi guru tarekat. Bagaimana bisa orang yang tidak ingin menjadi murid ingin mempunyai murid. Dijaman sekarang banyak orang mengajar hanya untuk mendapatkan uang bukan ingin memindahkan waris. Hasilnya adalah meskipun sholat tapi ghibah jalan terus, berjuang atas nama Islam tetapi menghancurkan hati manusia. Dinegara Arab sudah terjadi perang saudara, kita pun hakikatnya demikian pula, karena semua mengaku pergi ke Allah padahal sedang pergi ke dirinya dan paling jauh pergi ke jamaahnya.

Demikian semoga bermanfaat wallahualam bisawab.

Rabu, 29 Januari 2020

ALAM MALAKUT

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Dunia kesufian banyak melahirkan istilah-istilah baru yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang menyelam didalamnya. Meskipun sumbernya satu tetapi istilah-istilah dimunculkan oleh para syaikh sufi untuk memudahkan pemahaman kepada murid-muridnya. Dasarnya adalah Al Qur’an, Al Hadist dan kasyab. Seperti para pengikut tarekat Qodiriyah yang nama ini berasal dari tuan guru yang sangat dihormatinya yaitu Sayyid Abdul Qadir al Jilani,qs, (1077–1166 M), mereka mempunyai kitab rujukan yang berasal dari wejangan-wejangannya, termasuk tafsir al Qur’an yang bercorak tasawuf dan diberi nama tafsir al Jilani. Kemudian di abad empat belas keturunan beliau yang bernama Syeikh, Abdul Karim ibn. Ibrahim Al jaili,qs, menulis kitab yang fenomenal berjudul Insan Kamil sebagai tafsir surat al Iklash. Kitab ini tidak mudah dipahami, paling tidak harus disyarahkan oleh para mursyid. Kitab ini menjelaskan pengenalan Allah secara menurun (tanazul) dimulai dari Ahadiyah sampai Insan Kamil. Oleh karenanya, manusia berupaya mengenal-Nya melalui proses sebaliknya atau menaik (tarroqi). Di usia muda, beliau pernah mengaji kepada Syaikh. Bahauddin Syah Naqsyabandi,qs. Meskipun beliau penganut tarekat Qodiriyah, namun istilah-istilah dalam bukunya itu lebih condong kepada istilah yang digunakan oleh Imam Ibn. Arabi,qs. (1165-1240 M).

Begitu pula di pengajian kami, meskipun yang diajarkan adalah manhaj dari tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, tetapi kitab-kitab yang dibahas oleh guru kami tercinta Syaikh. Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) bukan saja kitab rujukan tarekat ini, melainkan kitab-kitab dari tarekat lain, seperti kitab al Hikam karya Syeikh Ibnu Athoilah,qs, dari tarekat Sadziliyah, kemudian kitab Al Luma, Qutul Qulub, Kasyful Mahjub, kitab-kitab karya Imam Rifai,qs, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu banyak istilah-itilah yang berbeda-beda tetapi mempunyai makna yang sama.

Dalam tausyiahnya, guru kami sering menyebut alam malakut terkadang disebut sebagai alam kesucian atau alam yang bisa dihuni oleh manusia dengan tingkat kesucian setara dengan malaikat. Hal ini harus dipahami sebagai istilah-istilah untuk lebih memudahkan pemahaman, inilah pembicaraan orang dewasa dalam beragama, kita harus arif dalam mencari keterangan akan hal ini, agar tidak salah memahaminya, karena alam malakut adalah salah satu pemberhentian yang mesti disinggahi atau dilalui oleh para pejalan atau murid guna wushul kepada Allah SWT.

Imam Ibnu Arabi,qs., mengatakan bahwa alam semesta ini terjadi dari berbagai unsur, maka disebut sebagai alam besar atau macro cosmos, keseluruhan alam semesta ini ada pada diri manusia, namun dalam ukuran kecil atau disebut sebagai alam kecil atau micro cosmos, Oleh sebab itu istilah alam malakut jangan diartikan seperti sebuah alam yang dihuni oleh banyak makhluk, melainkan manusia yang ruhaninya dihuni oleh sifat-sifat mahmudah atau maqomat ruhiyah. Salah satu ciri seseorang yang berada pada tahapan alam malakut adalah selalu menghidupkan malam dengan beribadah. Di dalam hatinya terisi akhlak mulia atau hakikat Muhammadiyah ada sifat-sifat Allah yang terpuji yang telah Allah anugerahkan menjadi sifatnya. Artinya sifatnya yang membangunkan dan menghidupkan malam, hakekatnya adalah Allah. Syaikh. Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa dengan beribadah atau menghidupkan malam akan selaras dengan alam semesta, maksudnya adalah akan mendapat energi yang meleburkan dan menguasai empat pilar unsur tubuh manusia, yaitu unsur air, tanah, udara dan unsur api. Denganya tubuh ini terhindar dari pengaruh lemas, malas, kurang bertenaga dalam urusan kebaikan, karena tubuh itu adalah nafsu, yang terdampak dari banyak makan, tidur, bergaul yang mengakibatkan keseimbangan fisik terganggu. Maka menghidupkan malam adalah sentral untuk menyeimbangkan atau melaraskan ke empat unsur dalam tubuh ini. Pada saat itulah hatinya melihat alam malakut, karena terdapat sifat-sifat mulia di dalam batin. Semua orang mempunyai sifat mulia yang disebut fitrah itulah alam malakut, namun tertutup oleh kesombongan, pikiran yang salah, dan diperbudak oleh kesenangan atau nafsunya. Hawa nafsu menutupi alam malakut, melawannya adalah suatu kewajiban, dengan dawamudz dzikri wadawamun ubudiyah.

Semoga bemanfaat wallahualam bisawab.

Selasa, 28 Januari 2020

CARA MENGENAL ALLAH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Dalam pengajian Syaikh. Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mendadak terdiam, kemudian beliau berkata : ‘Tidak ada bahasa apapun untuk disampaikan.’ Maksudnya, ilham yang beliau terima atau syuhudnya tidak dapat dikiaskan kedalam kata-kata yang bisa diterima oleh akal. Karena beliau menerima atau menyaksikan dengan ruhaninya atas sesuatu yang ghaib, sedangkan sesuatu yang ghaib itu tidak bisa dipahami dan dilihat oleh akal inderawi.

Seseorang mengkhayal membuat mobil, kerangkanya terbuat dari air dan mesinnya dari angin. Meskipun ini khayal, tetap harus menggunakan benda yang dikenali didalam dunia ini, dan tidak mungkin yang tidak dikenalinya. Bagaimana kalau ‘sesuatu’ itu tidak ada dalam khayal atau pikiran yang mampu mendekati maknanya? Didalam pembukaan surat al Baqoroh dikatakan bahwa salah satu makna takwa itu percaya kepada yang ghaib. Apa itu ghaib? Para ulama mengelompokkan ghaib menjadi dua macam, yaitu Ghaib Mutlak dan ghaib majazi atau bukan hakiki. Ghaib Mutlak atau Hakiki itu Allah sedangkan selain-Nya adalah ghaib majazi. Allah itu wujud (ada) sedangkan yang lainnya ternasuk manusia itu tidak ada.(adam). Bagaimana mungkin yang tidak ada mengenal yang Ada? Oleh karenanya, yang dimaksud dengan mengenal Allah bukan mengenal bilangannya, bukan mengenal sosoknya, melainkan meng-esa-kan-Nya dengan cara yang shahih.

Sebelum mengenal-Nya, seseorang hanya melakukan praktek ibadah secara jahir saja. Mengenal Allah dapat diawali dengan menggunakan akal, karena akal adalah suatu alat untuk menandakan atau mengikat kepada benda yang menjadi objek pikirannya. Al Qur’an pun demikian, ketika menerangkan hakikat atau sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata inderawi, menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh akal, artinya yang telah diikat dengan nama-nama dan istilah yang logis. Ada penerangan tentang Allah, maka akal menerima bahwa Allah yang menciptakan, mengatur, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan masih banyak yang bisa diterima dan dipahami menurut akal, bahkan menjadi azas akal, azas pikiran, sehingga apa yang dilakukan berdasarkan azas pikiran ketuhanan ini. Selanjutnya mengenal Allah ‘memandang’ bahwa segala sesuatu tidak ada dan yang ada hanyalah Allah, disebut sebagai tauhid atau hakikat dari pada pengesaan Allah, maka sudah bukan lagi akal tetapi sudah bersifat hakiki, akal akan berhenti berpikir manakala jiwa telah mengesakan Allah menunggalkan Allah itulah mengenal-Nya. Lalu bagaimana cara mengesakan-Nya? Imam Junaidi al Bagdadi,qs, Imam Ibnu Arabi,qs, Imam Jilly,qs, dan Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Alah merahmatinya) telah membuat manhaj untuk mengenali-Nya, yang disesuaikan dengan keadaan pengikutnya agar mudah dipahami dan dikerjakannya.

Allah berifirman kepada Rasulullah,saw, : ‘Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafuni,’ yang artinya Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku.

Akal mampu memahami ketika seseorang bercermin, maka akan terlihat dirinya didalam cermin, tetapi bukan dirinya dan bukan selain dirinya, artinya bahwa semua perbuatan yang didalam cermin mengikuti kehendak yang diluar cermin, dalam hal ini yang didalam cermin kita sebut ‘jelmaan’. Kalimat ini, boleh diganti bahwa manusia dari Allah, tetapi bukan Allah dan bukan selain Allah. Begitulah Allah menciptakan makhluk seolah-olah sebagai sesuatu yang berada didalam cermin, sebagai shuroh_nya, sebagai majlah-Nya. Karena ada ego atau nafsu maka manusia mengaku bahwa semua upayanya adalah perbuatan dirinya. Manusia terhijab dengan pengakuan ini, semakin lama semakin tebl dan menjadi lupa bahwa segala sesuatu yang diperbuatnya bertujuan agar digunakan untuk mengenal-Nya. Manusia yang sempurna atau insan kamil, bukan lagi merasakan bahwa manusia itu berbuat sesuai dengan khendak-Nya, melainkan hilangnya dualitas, yaitu Allah saja.

Dalam hal ini Allah tidak memilih malaikat sebagai jelmaan untuk menjadi objek dalam mengenal-Nya dan bukan ciptaan yang lain, kecuali hanya manusia. Manusia tidak dibebankan untuk menilai perbuatan orang lain, kecuali kepada dirinya sendiri. Sedangkan kaitannya dengan orang lain adalah untuk berkhidmat kepada-Nya. Manusia bermuamalah, beribadah semuanya untuk Alah untuk menyembah dan melaksanakan perintah-Nya, jika untuk selain-Nya itu salah menyusun ideologi bertauhid, salah arah, kenapa melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan, mengerjakan sesuatu yang sebenarnya ada pelaku-Nya, yakni Allah. Kita hanya diperintahkan untuk mengenal Allah, untuk menyaksikan semua dari Allah, maka manusia akan mengabdi kepada Allah, kepada semua yang Allah perintah melalui ciptaan-Nya. Maka setiap individu adalah objek untuk mengenal dirinya sendiri, namun tidak akan mampu mengenal dirinya, jika Allah tidak membagi alat untuk mengenalnya, dalam hadis dikatakan ‘Man arofa nafsahu.’ Alat untuk mengenal-Nya adalah ada di ruh yang ditiupkan oleh-Nya saat manusia berusia empat bulan pada rahim ibunya. Di dalam ruh Ini ada sifat-sifat mahmudah atau sifat terpuji atau akhlak karimah atau maqomat ruhiyah. Agama yang kita laksanakan bertujuan untuk menghasilkan sifat-sifat ini dengan istilah lain membentuk kepribadian, membentuk keruhanian, membentuk manusia yang baik, manusia yang sempurna. Karena jasad manusia sudah sempurna, tapi ruhnya belum sempurna. Oleh sebab itu, jika shalat atau ibadah dan berbuat kebaikan jangan berpikir pahala, lakukan karena Allah. Nanti Allah akan tukar dengan sifat-siaft-Nya sifat Jamal-Nya, sifat terpuji, akhlak mulia.

Teruslah shalat meskipun belum khusyuk, tetapi selalu memohon pertolongan-Nya, kita mulai dari pikiran yang diarahkan kepada-Nya sebatas yang dipahami, nanti Allah akan tukar dengan khusyu dengan sifat malu, dengan khauf, dan lain sebagainya, apabila Allah sudah beri sifat ini, maka sifat-sifat inilah yang memancarkan cahaya makrifat atau syuhud atau dzauq. Jadi yang disebut dzauq atau syuhud atau cahaya, terbit dari sifat-sifat yang diperolehnya yang menjadi karakater hatinya, maqomnya, maka setelah itu semua, apa yang menjadi suratan takdir adalah jelmaan-Nya, shurah, perkenalan atau pertunjukan Allah kepadanya.

Maka mengenal Allah itu dari Allah dengan Allah untuk Allah, 'Huwa yakrifu nafsahu binafsihi linafsihi', Dia mengenal diri-Nya dengan diri-Nya untuk diri-Nya. Oleh sebab itulah mengapa guru kami tercinta Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) memberikan penjelasasn tentang muroqobah Ahadiyah yang merupakan muroqobah pertama dari tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, bahwa tidaklah sah muroqbah Ahadiyah manakala masih menyadari dirinya ada.

Semoga bermanfaat, wallahualam bisawwab.

Jumat, 24 Januari 2020

LALAI

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Ada sebuah ayat Al Qur’an yang mengatakan bahwa perintah mendirikan shalat itu untuk mengingat-Nya, dan hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang. Faktanya banyak orang yang telah melakukan shalat dan dzikir lebih dari lima belas tahun, tetapi hatinya tidak tenang, maksiat tetap dilakukan. Apa yang salah? Bisa jadi sholat dan dzikirnya dalam keadaan lalai dari mengingat-Nya dan bukan untuk-Nya, melainkan untuk dirinya.

Lalai dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya merupakan kelalain orang awam, ibadah dilakukan karena ingin mendapatkan pahala pun masih dinilai lalai, apalagi jika tujuannya ingin dilihat orang, ingin mendapat status sosial sebagai orang yang dimuliakan. Meskipun seseorang sudah berilmu agama dan beramal sholeh pun masih ada kelalaian, yaitu kelalaian yang halus dan tidak disadarinya, yaitu lalai daripada mengesakan Allah, atau lalai dari tauhid, lalai dari meyakini bahwa apa yang terjadi atas kehendak Allah. Banyak orang yang hidup dalam lingkungan tasawuf pun pemahaman lalainya hanya dalam konteks syariah saja, bukan dalam konteks adab atau hakikat jiwa atau ruhani. Orang yang dewasa batinnya, malah selalu bertanya dalam hatinya apa yang Allah akan perbuat selanjutnya, keyakinanya selalu memberitahu bahwa kehendak dan perbuatan-Nya didalam ilmu-Nya. Sehingga yang dirasakan tidak lain hanya untuk menyaksikan kehendak Allah, menyaksikan ilmu-Nya pada dirinya atau diluar dirinya.

Kita terjebak pada kebiasaan dalam melakukan peribadatan dan tidak berdasarkan ilmu dan ma'rifat, itulah mengapa Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa : ‘Mengajilah kepada banyak guru syariat.’ Karena kualitas ibadah itu berpangkal kepada ilmu, barulah peribadatannya akan membangun ruhani, akan membuahkan rasa (dzauq). Maka dari itu tahapannya adalah syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Kita tidak menguasai syariat atau fiqih tetapi sudah bertarekat dan malas membaca atau mengaji syariat, oleh sebab itu jangan pernah berharap akan memperoleh hakikat, jangan merasa sudah bertarekat lalu tabu membaca buku tentang syariah atau fiqih. Salah satu kitab yang fenomenal pun menggabungkan keduanya, yaitu karya Imam Al Ghazali,qs, yang berjudul Al Ihya ullumiddin yang didalamnya terdapat apa-apa yang dibutuhkan oleh ruhani.

Dalam kehidupan ini, apa yang dilihat oleh mata akan disimpan didalam otak, bila diperlukan maka akan muncul dalam ingatan terhadap apa-apa yang pernah dilihat dan diperbuat. Apakah yang dimaksud dengan dzikir itu mengingat apa yang pernah kita lihat? Jawaban ya, tetapi bukan yang pernah dilihat oleh mata, karena tidak mungkin Allah bisa dilihat oleh padangan mata, melainkan oleh mata batin atau syuhud. Oleh karenanya yang mengingat atau berdzikir itu adalah ruhani, bukan ucapan mulut dan pikiran atau bukan jasmani atau tubuh. Inilah yang dimaksud dengan membangun ruhani, agar mempunyai penglihatan batin yang tajam, atau basyirah. Oleh sebab itu dzikir jangan disamakan dan dianggap sebagai latihan vocal, hanya mementingkan cara dan iramanya saja. Kebanyakan, mengucap kalimat Laa ilahaa illallaah yang berguna untuk mengesakan-Nya malah lupa kepada-Nya, yang paling jauh adalah berusaha mengalahkan pikiran yang lain dengan pikiran tentang Allah. Meskipun berpahala tetapi masih jauh dari yang dimaksud dzikir, karena tidak akan merubah jiwa. Untuk membuang jauh-jauh pikiran yang ngelantur, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyarankan murid-muridnya agar merasakan seolah-olah sedang membersihkan hati, atau seolah-olah sedang merasakan rindu kepada yang dicinta. Karena tidaklah mungkin menjadi maestro pelukis tanpa latihan melukis, atau ahli panah tanpa latihan memanah, semua perlu riyadhah dan mujahadah atau dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah. Berbeda dengan para mursyid, selalu hudhur meskipun sedang dalam pembicaraan kepada orang lain.

Banyak menyebut kalimat laa ilahaa illallaah, bertujuan untuk menghilangkan kemajemukan dan menunggalkan Allah saja didalam hati, disebut sebagai penafian dari yang lain dan mengistbatkan Allah saja. Yang artinya masih sibuk dengan meniadakan yang lain, oleb sebab itu dzikir yang dilakukan oleh para muqorrobin adalah, Allah … Allah ... Allah atau disebut ismu Dzat. Dzikir 'Allah' itu mujarob, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyampaikan wejangan mengapa ketika dzikir 'Allah' itu harus membayangkan huruf Allah kedalam pikiran, kemudian dimasukkan atau dipahat kedalam hati, agar seolah-olah dihati terukir kata Allah guna membuang segala sesuatu selain-Nya. Rasulullah,saw, pernah berkata ketika seorang hamba melakukan dosa maka akan ada satu titik hitam di hatinya, lalu berapa banyak titik hitam didalam hati kita? Maka lafal Allah itu menghapusnya. Oleh sebab itu, ketika berdzikir jangan ada tujuan lain, jangan merasa sedang mempersembahkan amal, atau bahkan merasa bahwa amalnya banyak, ini bukan berdzikir malah ujub dan akan menghapus fadhilah dzikir. Merasa seperti itu membuat dzikir tidak menghapus, maka harus murni untuk Allah saja. Berpikir menghapus atau membersihkan pun Jangan, lalu kemudian merasa senang, lega setelah dzikir, itu nafsu sedang menipu.

Nafsu akan menikmati ketika dibawa maksiat, sebaliknya ruhani tidak. Sedangkan rasa ruhani ketika dzikir, akan merasakan tiada, itu yang membuat merasa aman karena bukan dia yang berdzikir kecuali kehendak-Nya, rasa tidak khawatir, was-was hilang karena dia tidak ada, tidak dapat berbuat apa-apa, hanya Allah yang Maha Agung itulah rasa tenteram (tathmainnul qulub), seperti istri disamping seorang suami yang gagah dan kaya raya, artinya kalau ada musibah apapun ada suami yang menanganinya. Dzikir juga bukan untuk menangis, apalagi jika sang Ustadz pandai membuat tangis, ini bukan tidak berguna tetapi emosional, tidak sedikitpun menyentuh ruhani meskipun berpahala. Tapi bagi tasawuf jangan berhenti di situ, itu belum melangkah dalam kesucian.

Ada satu rasa yang tak dapat dilukiskan, ketika dzikir 'Allah' meskipun belum menjadi maqomnya, belum menjadi karakter jiwanya, katakan masih mencoba untuk menghancurkan hijab. ketika hijab itu robek, maka yang mengingat itu bukan dari pikiran, tetapi dari dalam ruhani lalu keluar kepikiran, dia merasa tidak ada, bahkan tidak 'merasa' lagi. Bisa diilustrasikan seperti orang yang dibuang ke jurang dan tidak dapat berpegangan apapun ada 'ingat' yang deras dari dalam lalu keluar.

Dzikir bukan membesarkan ingat oleh ucapan, kalau pemula memang harus begitu guna mencerahkan. Terlalu banyak hambatan yang bersifat subjektif yang terkadang kita sendiri tidak merasa dan sulit untuk dilepaskan, oleh karenanya istilah tasawuf hilangkan rasa (penafian), inipun hanya sebuah 'bahasa', karena jika berdzikir lalu merasa menghilangkan rasa, maka rasa menghilangkan ini lebih tebal daripada rasa yang sedang diupayakan untuk dihilangkan, atau malah mempertebal hijab. Oleh sebab itu wejangan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) saat akan dimulainya dzikir jahr berjamaah mengatakan : 'Lupakan yang lain dan ingat Allah saja, atau rasakan seolah-olah sedang membersihkan hati,' perlu dimaknai secara bijaksana, karena dalam kholaqoh dzikir dihadiri oleh jamaah yang beraneka ragam keadaan spiritual dan keinginannya, yang seharusnya hanya ingin 'Allah' saja.

Demikian semoga bermanfaat, wallahualam bisawab.

Kamis, 23 Januari 2020

RABITHOH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim


Rabithoh, ditelinga sebagaian saudara-saudara kita istilah ini terdengar panas, mereka menyebutnya sebagai bid’ah. Bisa jadi mereka memperoleh pemahaman yang salah dari orang yang salah. Karena dizaman kini banyak yang mengaku sebagai guru tasawuf, padahal tidak mempunyai makrifat lalu mendidik murid-murid agar makrifat, bagaimana bisa? Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata : ‘Orang yang mengaku-ngaku sebagai guru tarekat tanpa khirkoh (restu) dari gurunya, akan memutuskan cahaya ketuhanan yang memancar dari para ahli silsilah yang berujung kepada Rasulullah,saw, dan akan dihukum setara dengan seribu orang munafik.’ Di dunia tasawuf, banyak istilah-istilah untuk menjelaskan pengalaman ruhani mereka, juga banyak metode guna mendapatkan pertolongan Allah, agar menjadi jiwa yang berakhlak mulia, mempunyai maqomat ruhiyah, dalam istilah tasawuf disebut sebagai madad.

Syaikh Wassi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : ‘Hidupnya tasawuf ada didalam suhbah, sedangkan buku-buku yang ditulis oleh para Aulia Allah hanyalah salah satu kajian saja.’ Maksudnya, pendekatan tasawuf itu adalah guru bukan buku, akan tetapi jangan pernah berhenti membaca buku-buku tasawuf khususnya yang menjadi rujukan tarekatnya. Karena buku-buku itu kebanyakan karya para Aulia Allah. Dan karya Aulia Allah itu adalah pengalaman dan pengamalan pribadinya yang didalamnya terdapat hikmah dan ibrah ruhiyah guna wushul kepada Allah SWT. Seorang syaikh berkata bahwa : ‘Ilmu adalah seperti binatang buruan yang larinya cepat, maka jaringnya adalah buku.’ Dalam tasawuf, membimbing murid bukan dengan ilmu saja, bukan dengan pemikiran-pemikiran yang unik, atau dengan menjelaskan secara ilmiah, sistematis dan teratur, melainkan bimbingan jiwa guru kepada jiwa-jiwa muridnya, seolah-olah ruhani gurunya itulah yang memberkati ruhani murid-muridnya.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mempunyai manhaj yang baku, seperti dzikir, muroqobah, khalwat dan mujahadah. Tujuannya Untuk menyiapkan jiwa murid, membersihkan nafsu, membersihkan sifat-sifat buruk, agar melimpah ke dalam dirinya sifat-sifat mulia atau singkatnya adalah sifat-sifat makrifat agar selalu hudhur. Orang yang hatinya hudhur, adalah yang memiliki maqomat-maqomat ruhiyah, seperti sabar, syukur, mahabbah, yakin, zuhud, wara, dan lain sebagainya. Sifat-sifat ma’rifat ini menjadi satu kesatuan disebut syuhud. Sifat-sifat mulia ini dilimpahkan dari hati gurunya ke hati sang murid. Rasulullah,saw, pernah berkata : ‘Apa yang ada didalam dadaku aku limpahkan kepada Abu bakar as Siddiq,ra.’

Kita sering mendengar dan membaca istilah takhali, tahali dan tajalli. Bahkan didalam doa-doa dzikir lathaif terdapat kata tajalli. Yang dimaksud dengan takhali adalah membuang sifat buruk dengan mujahadah atau dawamun ubudiyah agar cawan ruhani terwujud. Sedangkan tahali adalah mengisi cawan ruhani dengan sifat-sifat mahmudah dengan cara suhbah kepada guru, dengan mencintai dan berkhidmat kepadanya serta selalu memohon kepada Allah agar menurunkan madadnya yang sudah diturunkan kepada guru agar diturunkan kepadanya. Dalam suhbah selain mendapatkan ilmu juga ruhaninya. Tahali itu datangnya dari hati yang punya sifat akhlak, maqomat, makrifat. Maka wajib hukumnya membina hubungan yang kuat kepada guru, itulah yang dimaksud dengan rabithoh. Sehingga kemanapun ia menghadap akan teringat gurunya atau orang yang dicintainya. Seperti seorang ayah yang menyayangi anaknya, dimanapun ia berada akan terbayang atau teringat anaknya, inilah robithoh. Ini adalah salah satu sifat ruhani, apakah bisa mata disuruh berhenti melihat atau telinga berhenti mendengar? Tentu tidak bisa. Itulah mengapa robithoh secara sepontan ada bagi orang-orang yang mempunyai sifat mahabbah.

Robithoh bukan khurofat, robithoh adalah Mahabbah, robithoh adalah keikhlasan untuk mendapatkan tahaliyat. Ada atau tidak ada istilah robithoh dalam tarekat, hakikatnya akan selalu ada.

Demikian semoga bermanfaat, wallahualam bisawab.