Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Seorang murid tarekat berkata : ‘Tidak penting ilmu bagiku, yang utama adalah taklid kepada guru dan melaksanakan pekerjaan tarekat, yaitu dzikir dan mujahadah.’ Pernyataan murid ini salah, dia kira hanya dengan taklid kepada guru bisa mencapai tujuan, padahal Allah hanya bisa dikenali dengan ilmu bukan kebodohan (jahl). Manusia merasa gagah hidup di dunia ini, sesungguhnya akal yang mengatakan itu, jika akalnya hilang tak ubahnya seperti binatang berkaki dua. Maka akal adalah alat untuk membedakan sesuatu itu baik atau buruk dan bermanfaat atau memberikan mudharat, oleh sebab itu akal wajib selalu diberi asupan ilmu, untuk memperoleh cahaya agar jelas melihat sesuatu.
Ulama terdahulu mengatakan ‘sedikit ilmu asal bermanfaat’, maksudnya bukan merasa cukup meskipun sedikit ilmu melainkan jangan menunggu ilmu yang diperoleh bertumpuk, tetapi segera amalkan meskipun sedikit. Jika ilmunya sedikit maka amalnya juga sedikit, karena amal membutuhkan ilmu sebagai pemimpinnya, bila tidak akan sia-sia amalnya meskipun sebanyak buih dilautan. Dilingkungan kita, ada keluarga, tetangga, dan teman, kita membutuhkan ilmu untuk beramal, karena menurut syariah perlakuan kepada mereka berbeda-beda. Amal bisa diartikan sebagai aktifitas yang menggunakan naluri dan pikiran baik, dan nilai-nilai kebaikan itu mesti berdasarkan akal, dan akal memerlukan ilmu. Nah, ini yang dimaksud dengan berakal, bukan hanya untuk mengetahui baik dan buruk saja, melainkan mengetahui dampak buruk atau akibat dari sesuatu perbuatan. Sampai ditahap inilah batas akal, untuk pergi lebih jauh dari itu akal tidak sanggup, harus menggunakan batin, atau menggunakan hati yang bersih, ma'rifat, firasat, bahasa hadisnya ‘ittaqu firasatal mu’mina, yangzhuru bi nurillah’ berhati-hatilah dengan firasat orang mukmin karena dia memandang dengan cahaya Allah. Jika akal dipaksakan melebihi ini, maka masuknya ke dalam khayal, karena wilayah yang tidak dapat dijangkau oleh akal itu adalah hakikat, makin hakikat maka semakin tidak dapat dijangkau oleh akal. Oleh karenanya, menurut ahli hakikat apa yang dicapai oleh akal adalah khayal, tetapi menurut ahli aqli adalah hakikat.
Saking pentingnya ilmu didalam tasawuf maka dua buah kitab yang masyhur karya Imam Hujwiri,qs, dan Sayid Abdul Qodir al-Jilani,qs, diawali dengan bab ilmu. Ilmu itu hanya bisa dipahami oleh orang yang mempunyai akal, oleh karenanya pintu ma’rifat adalah akal dan baru kemudian ruhani, seluruh kitab-kitab tasawuf atau pemilik maqomat menyatakan demikian. Hanya orang gila yang tidak memerlukan ilmu karena akalnya hilang. Sesungguhnya didalam kholaqoh tarekat pun terdiri dari majlis ilmu dan majlis dzikir, sehingga bisa dikatakan bahwa pengajaran (ta’lim) dan pendidikan (tarbiyah) adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, seperti melihat dan mata, tidaklah mungkin orang melihat tanpa mata, tetapi kalau mata tidak melihat, apa manfaatnya? Sebelum ritual dzikir dimulai biasanya guru kami Syaikh Waasi’ Achmad Syaehudin (semoga Allah merahmatinya) memberikan tauziah berkenaan dengan ilmu yang berhubungan dengan tasawuf, meskipun ada tarekat yang melakukan sebaliknya, dimulai dzikir dahulu lalu tauziah. Ta'lim seluruhnya adalah untuk akal sedangkan tarbiyah untuk ruhani, sehingga dikatakan bahwasanya ilmu itu tidak menjadikan taqwa, karena ilmu itu mengetahui sesuatu berdasarkan hakikat, sedangkan hakikat sesuatu ada pada hati. Ilmu akan melahirkan hakikat manakala diamalkan, hakikat adalah nur. Bisa jadi orang hafal al Qur’an tetapi belum memperoleh maknanya karena belum mengamalkannya, jangankan perintah yang lain, sholat saja berat untuk diamalkan, kecuali bagi orang yang ruhaninya lebih dominan daripada nafsunya. Imam Bukhari,ra, misalnya ketika ditanya oleh Imam Muslim,ra, bagaimana engkau menulis hadits itu? Dijawab : ‘Aku hafalkan, Aku amalkan dan baru Aku tuliskan, dan Aku tidak menulis sebelum Aku amalkan.’
Hakikat ilmu di dunia tasawuf disebut sebagai maqomat, sedangkan hakikat ilmu lahir dari pengamalan ilmu, oleh sebab itu jangan mentang-mentang sudah bertarekat dan berdzikir serta mujahadah, beranggapan bahwa ilmu itu tidak berguna. Syaikh Ibnu Athoilah,qs, mengatakan bahwa barang siapa belajar ilmu dan memahaminya, seperti mencium baunya ma'rifat, wanginya hakikat. Nah, kalau mencium wanginya saja tidak, bagaimana mendapatkannya? Ilmu adalah salah satu sifat Allah SWT, bahkan orang yang punya ilmu saja tanpa memenuhi hak-haknya, itu pun di akhirat tidak disiksa, oleh sebab itu syaikh sufi selalu mengajarkan muridnya untuk menguasai ilmu terlebih dahulu, baik dengan cara membaca atau ta’lim. Didalam salah satu karya Imam Ibnu Arabi,qs, menjelaskan bahwa nanti di yaumil akhir para ahli ilmu merasa takut akan ditanyakan tentang kewajiban mempunyai ilmu, disaat itu para ulama tertunduk dan wajahnya memerah serta malu dihadapan Allah, lalu Allah SWT berkata : ‘Aku letakkan ilmu-Ku kepadamu bukan untuk Aku siksa, hari ini Aku berikan ampunkan bagi semua pemilik ilmu.’ Itu baru dapat ilmu, bagaimana kalau dapat Allah? Yang artinya bahwa jangan berhenti membaca, menulis dan mengkaji ilmu saja melainkan pengamalannya lebih diutamakan. Sebagaimana riwayat Imam al Ghazali,ra, setelah menemukan guru tasawuf dan melakukan khalwat, beliau berkata : ‘Dulu aku membuang-buang masa.’ Kita bisa bayangkan meskipun beliau sudah menjadi mujtahid mutlak namun pada saat belum bertasawuf beliau mengatakan bahwa telah membuang-buang masa.
Demikian semoga bermanfaat wallahualam bisawab.
Sabtu, 22 Februari 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.