Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Berbuat baik itu tidak mudah, seorang dokter menjadi jelek dalam pandangan orang sakit yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit, karena memberikan obat pahit kepadanya. Begitu pula seseorang akan marah, bila ibu jarinya dipotong, tanpa mengetahui bahwa tindakan itu untuk menyelamatkan seluruh tangannya agar tidak membusuk lantaran titanus yang dideritanya. Dalam kehidupan bertarekat juga demikian, oleh sebab tidak mengetahui manfaat yang akan diperolehnya, banyak murid yang malas mengerjakan pekerjaan tarekat dari gurunya. Ini adalah sifat dasar nafs, yakni menolak sesuatu yang dirasa membebaninya, padahal pekerjaan utama bagi para pejalan adalah memeranginya, bertempur melawan dirinya sendiri, melemahkan egonya. Tanpa sebuah kesadaran bahwa pekerjaan tarekat itu akan membawanya kepada penyembuhan terhadap penyakit-penyakit hati yang dideritanya, yang mengakibatkan ia tidak mengenal dirinya sendiri apalagi Tuhannya, maka pengakuannya bahwa ia adalah termasuk orang-orang yang bertarekat adalah sia-sia dan cita-citanya hanyalah sebuah angan-angan belaka.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat keberangkatan ketanah suci berkata kepada seorang muridnya : ‘Kalau saja tidak bertentangan dengan adab seorang syaikh, aku sudah minta doa darimu.’ Mendengar itu sang murid bergembira dan meneteskan airmata. Bergembira karena ia menyadari bahwa dirinya termasuk murid yang jelek, dan gurunya memberikan perhatian kepadanya. Meneteskan airmata karena ia sadar bahwa teguran dari guru adalah tanda kasih sayangnya, dan marah gurunya adalah barokahnya. Karena seorang murid berkewajiban mendoakan gurunya, tanpa diminta meskipun hanya sebentar. Perkataan gurunya menjadi tanda bahwa ia tidak amanah dalam pekerjaannya. Syaikh Yahya bin Mu’adz,qs., berkata : ‘Ia adalah seorang teman yang jelek yang engkau perlu meminta maaf karena suatu kesalahan yang engkau telah perbuat kepadanya.' Karenanya, belum bisa disebut sebagai sahabat bila celaan tidak terasa manis dan pujian terasa pahit.
Seorang salik sambil menangis berkeluh kesah kepada gurunya, bahwa ia telah tersinggung oleh kelakuan murid yang lain. Sang guru terheran-heran, pasalnya ia mengadu sesuatu yang seharusnya ia syukuri. Tanpa disadari, sang murid telah membuat pertahanan yang merendahkan dirinya sendiri, yang justru memperlihatkan bahwa ia tidak amanah dalam menjalankan pekerjaan tarekat yang ia peroleh. Buktinya ia menanyakan kepada gurunya, mengapa ia diberi obat pahit, dan mengapa ibu jarinya dipotong. Orang yang tidak menyadari dirinya sakit, tidak bisa melihat sedikit kebenaran yang terkuak, tidak mengerti hakikat bertarekat. Apakah bertarekat itu sekedar membahas pengetahuan tentang tasawuf?, atau membicarakan keindahan perilaku para syaikh sufi saja? Tidak! tetapi pengamalan ilmu lebih diutamakan, terus menerus berjuang memerangi hawa nafsu atau kesenangan jiwa (mujahadah) dikedepankan, sehingga wejangan dari sang mursyid tidak menjadi retorika saja. Para pendzikir sejatinya lebih suka celaan dari pada pujian, dicela itu tanda kasih sayang Tuhan, sedangkan pujian itu tanda murka Tuhan, apalagi ini hanya sebuah koreksi dari saudara yang menyayanginya. Sungguh amat disayangkan, airmata yang teramat mahal harganya itu hanya dipersembahkan untuk memuaskan jiwa rendah. Kejadian ini membuat sang guru bersedih, dan berkata kepada salah seorang muridnya : ‘Saya prihatin, semakin banyak orang yang mengaji tetapi semakin sedikit yang bertasawuf.’ Ujaran ini mempunyai makna tersembunyi yang membutuhkan penjelasan. Dalam mencari kedekatan kepada Tuhan, adalah menjadi tabiat murid yang jera oleh popularitas daripada oleh sesuatu yang lain. Akibatnya murid yang takut akan bahaya ini selalu berupaya menghindarinya, takut kalau-kalau dia terdindingi dari Tuhan oleh sanjungan sesama murid yang lain. Tetapi sungguh ironis, pada masa kini orang-orang yang mengaku bertasawuf malah sebaliknya, yang dicari adalah pujian dan kepopularitasan. Seharusnya murid mempersiapkan diri untuk menanggung kemalangan, dan menyangkal kesenangan-kesenangan serta ikatan-ikatan pergaulannya, dengan harapan agar keagungan Tuhan diungkapkan kepadanya, maka semakin dia terpisah dari khalayak ramai, dia semakin bersatu dengan Tuhan. Tuhan memuji orang-orang yang tegar dan bersuka cita saat celaan tiba : ‘Dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.’ (QS 005 : 54)
Ibnu Khafif,qs., adalah sufi besar dari Persia, lahir pada tahun 270 H/882 M. Ia berasal dari keluarga kerjaaan, namun hidup asketisisme (zuhud). Setiap malam, ia berbuka puasa hanya dengan tujuh butir kismis. Suatu ketika ia tidak dapat menemukan kinikmatan dalam ibadah. Lalu ia menanyai pembatunya, ‘Apa yang telah engkau laukakan terhadapku?’ Dijawab oleh pembantunya : ‘Kemarin malam, Aku telah memberimu delapan butir kismis, karena engkau terlihat sangat lemah dan itu membuatku sedih.’ Mendengar itu, ia segera memecat pembantunya dan berkata : ‘Kalau begitu, engkau bukanlah sahabatku, seorang sahabat akan memberikan enam butir kismis bukan delapan.’ Pada kesempatan lain, ia bertemu dengan seorang pemuda akhli meditasi (muroqobah), ‘Wahai pemuda nasihatilah aku.’ Dijawab oleh pemuda itu : ‘Kami tidak punya lidah nasihat.’ Lalu ia tetap berdekat dengan pemuda itu selama tiga hari tanpa makan dan tanpa tidur, dalam hatinya berkata : ‘Apa yang mesti kukatakan agar pemuda ini mau menasihatiku?’ Si pemuda mengangkat kepalanya dan berkata : ‘Bersahabatlah dengan seseorang yang bila engkau memandangnya, Allah diingat, dan yang keterpesonaan padanya menggugah hatimu, seseorang yang menasihatimu dengan lidah amal, bukan dengan lidah kata-kata.’
Kisah lain, suatu hari, Hasan Al Basri,ra., tampak sedang merenung ditepi sungai Tigris, muridnya yang bernama Habib Al Ajami,ra., tiba di tempat itu. ‘Guru, mengapa anda berdiri disini?’ Tanya Habib,ra. ‘Aku ingin pergi kesuatu tempat, namun perahunya terlambat datang.’ Jawabnya. ‘Guru, apa yang terjadi padamu, semua yang kutahu, kupelajari darimu. Hilangkan kedengkian dalam hatimu. Tutuplah hatimu dari keduniawian. Ketahuilah bahwa penderitaan adalah hadiah yang amat berharga, dan semua urusan adalah dari Tuhan. Kemudian taruhlah kaki diatas air dan berjalanlah.’ Selesai berkata demikian, Habib,ra., melangkah diatas air dan meninggalkan tempat itu. Melihatnya, Hasan,ra., jatuh pingsan. Ketika ia siuman, orang-orang bertanya kepadanya, ‘Wahai Imam kaum muslim, apa yang terjadi padamu?’ dijawab : ‘Muridku, Habib, baru saja menegurku, kemudian ia melangkah diatas air dan pergi meninggalkan tempat ini, sementara aku tetap tak berdaya. Jika kelak, di Yaumil Qiyamah aku diperintahkan untuk menyeberangi jembatan itu (Sirath yang beliau maksud), dan aku tetap tak berdaya seperti ini, apa yang dapat aku lakukan?’ Kisah ini sungguh bagus, meskipun teguran datangnya dari murid, beliau tidak menanggapi secara berlebihan, apalagi tersinggung, malah digunakannya sebagai sarana untuk ‘wajd’ atau memperoleh ekstasi ruhani. Oleh karenannya, ia fana.
Dalam suatu pertemuan, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Tak satupun diantara kalian dapat mendekatiku apalagi melebihiku, bila tiba waktunya akan saya beritahukan.’ Perkataan ini, bila diucapkan oleh awam terdengar angkuh, tapi dimulut seorang mursyid menjadi beda maknanya. Teguran keras ini meluncur begitu saja, beberapa murid sesak dadanya dan sebagian lagi malah bergembira. Kelompok yang pertama memandang indah pada dirinya sedangkan kelompok kedua memandang rendah dirinya sendiri, orang yang memandang indah pada dirinya adalah orang yang tinggi hati, sedangkan orang yang memandang rendah dirinya sendiri adalah orang yang tawadhu. Orang yang tinggi hati, derajatnya akan tergelincir pada setiap harinya, sedangkan orang yang tawadhu, derajatnya akan ditinggikan pada setiap detiknya. Seorang murid berkata kepada murid-murid yang lain : “Untuk apa pernyataan itu dibahas, bukankah syaikhuna juga pernah mengalami hal yang sama, tatkala beliau sedang duduk bersama sahabat yang lain, tiba-tiba gurunya berkata : ‘Kalian murid-murid yang bodoh.’” Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) dilain kesempatan berkata : ‘Sebaik-baik alasan yang diberikan oleh seseorang, adalah pertahanan nafs-nya, yang mencermikan betapa besar egonya, sehingga tidak mampu melihat hikmah yang begitu jelas.’ Saling bertukar informasi sesama murid adalah perbuatan yang umum dilakukan didalam kehidupan bertasawuf. Meskipun informasi itu benar dan dapat mengusir buruk-buruk sangka yang tidak diperlukan dalam kehdiupan ini, namun karena derajat murid masih ditunggangi oleh egonya, maka segala sesuatu yang keluar dari mulutnya menjadi hambar. Oleh karenanya, bila mampu, lebih baik diam dan mencermati perilaku sang guru serta meneladaninya, daripada membuat pertahanan yang membuat hati semakin gelap dan jauh dari keridhoan-Nya.
Kisah diatas persis seperti ketika Allah SWT memerintahkan Adam,as., untuk tidak mendekati buah kuldi, lalu ditaatinya, dan memerintahkan Iblis yang terkutuk untuk sujud dihadapan Adam,as., akan tetapi ditolaknya. Sehingga tampak jelas bahwa kepatuhan adalah sifat kenabian dan pemberontakan adalah sifat iblis. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyebut alasan sebagai pertahanan nafs, yang pada akhirnya akan membuat perbandingan, sebagaimana tindakan iblis yang pertama : ‘Aku diciptakan dari api sementara Adam dari tanah. Jelas api mengungguli tanah, karena api mewakili cahaya dan tanah mewakili kegelapan.’ Padahal pertahanan Iblis ini salah kaprah, karena keunggulan berasal dari pengendalian diri dan kebajikan dan tidak bisa dibadingkan dengan apapun juga. Sehingga karena Adam,as., dianugerahi kedua hal itu, maka meskipun ia diciptakan dari tanah, namun wajahnya bercahaya, tidak demikian dengan iblis, meskipun ia diciptakan dari api, namun wajahnya hangus terbakar.
Sejatinya murid bergembira tatkala gurunya berkata seperti itu, karena menunjukkan bahwa semua muridnya masih ‘bodoh’, yang berarti bahwa sang murid masih membutuhkan bimbingan yang terus menerus dari gurunya, dan sang guru masih ridho mengasuhnya, seperti bayi yang masih terus mencari puting susu ibundanya, daripada bernasib seperti Iblis yang akhirnya dilaknat oleh-Nya dan diusir dari tempat ketinggian serta jahanam tempat kembalinya. Para murid dapat bercermin pada riwayat ini, dirubat milik Syaikh Nuurunnaum Suryadipraja (semoga Allah mensucikan ruhnya), Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) dihadapan beberapa muridnya mengatakan bahwa dirinya ‘bodoh’, mendengar itu Syaikh Nuurunnaum Suryadipraja menyahut : “Ya, karena gurunya juga ‘bodoh’.” Riwayat ini shahih dan sungguh indah, betapa ketinggian ruhani antara murid dan guru begitu tinggi, sehingga dengan ketawadhuannya membuat alam semesta ini merunduk. Tidak ada pertahanan dalam dirinya, egonya telah sirna, yang muncul hanya keindahan dan kejelasan-kejelasan.
Seperti makna murid dalam dunia kesufian yang berarti ‘yang berkehendak’, dan makna murad yang bermakna ‘yang dikehendaki’, yakni sang mursyid. Oleh karenanya, selama kesadaran dalam diri sang murid terus hidup bahwa dirinya menghendaki sang mursyid, maka apapun yang dilakukan oleh yang dikehendakinya, meskipun secara jahiran tampak kacau akan terlihat indah baginya. Sebaliknya bilamana seorang murid sudah berpaling dalam kehendaknya maka keindahan apapun yang dilakukan oleh sang mursyid akan tampak buruk baginya.
Syaikh Jalaluddin Rumi,ra., dalam kitab masnawinya berkisah bahwa suatu ketika tiang yang biasa disandari oleh Rasulullah,saw., mengeluh, karena sudah ada tempat sandaran baru, yakni dinding diatas mimbar yang menjadi sandarannya. Rasulullah,saw., bertanya kepada tiang itu : ‘Inginkah engkau menjadi pohon kurma, sehingga orang dari barat dan timur mendatangimu untuk memperoleh buah? Atau, inginkah engkau menjadi pohon cemara yang hampir abadi, tegar dan selalu segar?’ Tiang itu menjawab : ‘Yang kuinginkan adalah keabadian hidup.’ Mendengar itu Rasulullah,saw., bergegas menguburkan tiang itu, sebagaimana lazimnya jasad manusia dikuburkan. Kisah ini amat elok, sarat dengan pelajaran tasawuf, dalam hal ini Rasulullah,saw., bertindah sebagai sang guru yang menawarkan dua pilihan, yakni pohon kurma yang mewakili pemberian manfaat kepada makhluk lain, berupa buah atau pohon cemara yang mewakili kemewahan hidup. Akan tetapi, sang murid sungguh siap keadaan ruhaninya, ia tidak memilih satu diantara dua pilihan melainkan menginginkan kehidupan bagi qolbunya, karena ia menyadari betapa sulitnya mengalahkan gerak-gerik egonya. Oleh karenanya, sang guru bersegera menguburkan egonya, dan hanya oleh orang-orang yang telah terkubur egonya, ego murid-murid dapat dikuburkan.
Sungguh bahagia pemilik ‘kesadaran’ seperti tiang tadi, jauh melampaui kesadaran dari murid-murid yang sibuk membahas anjuran dan ajaran sang mursyid. Yang bergulat antara ingin menjadi pohon kurma atau pohon cemara.
Semoga Allah SWT mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita semua, amiin.
Selasa, 30 Maret 2010
Rabu, 03 Maret 2010
KEPERWIRAAN (FUTUWWAH)
Bismillahir Rahmaanir Rahiim
Seorang salik dalam keadaan bersedih yang amat sangat berusaha menyembunyikan kesedihannya, khawatir bila diketahui akan menggangu keceriaan yang sedang berlangsung diantara sahabatnya. Ditutupinya kesedihan itu dengan prilaku sebaliknya, sehingga tak satupun sahabatnya mengetahui keadaan sesungguhnya. Kesedihannya dikarenakan Ibunda tercintanya sedang sakit, yang berkata kepadanya : ‘Kecantikan telah hilang, yang tua minta dihormati dan yang muda minta disayang. Semua untuk dirinya bukan untuk orang lain, apalagi untuk Allah SWT. Aku telah ridho meninggalkan dunia yang seperti ini.’ Tak lama kemudian ia berjumpa dengan sahabat-sahabatnya, kebetulan sedang membicarakan tentang hal kesedihan, sang salik itu berkata : ‘Betapapun pengetahuan kesedihan ini dibicarakan, namun kalian tidak akan bisa merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh orang-orang yang sedang bersedih, karena kalian sedang tidak dalam keadaan bersedih. Ketahuilah kesedihan itu sungguh pedih, seolah-olah berjuta-juta jarum bersarang didalam dada, sehingga daya harap (roja) begitu tinggi, ia maujud didalam kontemplasinya.’
Kecantikan telah lenyap! Begitulah kata seorang ibu yang sedang sakit, tak heran jika alam menjadi beringas, gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran hutan dan badai terjadi dimana-mana, karena jijik dihuni oleh manusia yang menjadi durjana. Sifat kesatria tinggal cerita-cerita saja, dan hanya bisa ditemui didalam kitab-kitab para syaikh sufi, serta hanya bisa didengarkan dari para pendakwah saja, tanpa ada lagi tauladan, laksana mencari sebutir berlian disamudera nan luas. Sifat kesatria atau keperwiraan atau dalam istilah tasawuf disebut futuwwah, menjadi pembicaraan hangat para sufi terdahulu, pada saat itu, semua berlomba menghias alam semesta ini dengan futuwwah yang begitu indah dan menggetarkan hati. Imam Qusyairi,ra., didalam kitabnya yang masyhur Risalatul Qusyairiyah menggolongkan futuwwah kedalam maqom, sedangkan Syaikh Abu Abdirrahman al Sulami,qs., mengatakan bahwa futuwwah adalah tidak merusak kebaikan yang telah dibangun sebelumnya, bersikap lembut kepada orang bodoh dengan kemurahan hatinya, mendidik orang bakhil dengan kedermawanannya. Dizaman kini, orang menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, bahkan para ulama juga terhinggap penyakit yang demikian, persis seperti seorang wanita yang mengurai benangnya yang sudah dipintal dengan kuat sehingga tercerai berai kembali. bersikap kasar kepada orang bodoh, dengan menceramahinya secara panjang lebar, padahal contoh perilaku yang baik lebih berguna baginya, dan tidak satupun yang mendidik orang bakhil dengan hartanya, melainkan menghakiminya sebagai akhli bakhil.
Meskipun futuwwah tinggal cerita-cerita saja, dan orang-orang masa kini mengklaim sebagai pemiliknya tanpa menunjukkan bukti-bukti tindakan yang shahih, ada baiknya bila kita simak beberapa kisah apik yang terjadi dimasa silam sebagai pengetahuan. Sebuah riwayat mengatakan bahwa disaat akhli futuwwah sedang mengunjungi seorang laki-laki yang terkenal karena futuwwahnya. Laki-laki itu menyuruh pelayannya membawa tilam makanan, namun setelah ditunggu beberapa lama, pelayan itu tidak datang. Para tamu saling berpandangan seraya berkata, ‘Ini tidak benar dalam aturan futuwwah.’ Akhirnya, tidak lama kemudian pelayan itu pun muncul, laki-laki itu bertanya : ‘Mengapa begitu lama?’ Dijawab : ‘Ada seekor semut pada tilam itu. Tidaklah patut menurut futuwwah, membentangkan tilam untuk para tamu yang akhli futuwwah manakala ada semut diatasnya, sebaliknya, tidaklah benar pula mencampakkan semut dari kain tilam itu. Jadi saya menunggu sampai semut itu merayap meninggalkan tilam.’ Seorang tamu itu berkata : ‘Jika pelayannya saja mempunyai futuwwah yang begitu tinggi, bagaimana tuannya?’
Kisah, suatu ketika ada jemaah haji yang kehilangan uang, didekatnya ada seseorang, lalu ia memegang tangannya seraya berkata : ‘ Apakah engkau yang mencuri kantong uangku?’ orang itu bertanya : ‘Apa isi kantongmu?’ jemaah haji itu menjawab : ‘Uang sebanyak seribu dinar.’ Laki-laki itu lalu membawa kerumahnya dan memberinya uang seribu dinar. Jemaah haji itu akhirnya kembali ke penginapannya dan menemukan kantong uangnya yang dikiranya hilang. Lalu ia pun pergi menemui laki-laki tadi bermaksud mengembalikan uang yang telah diterimanya dan mengajukan permohonan maaf atas tuduhannya. Laki-laki itu berkata : ‘Aku tidak pernah menerima kembali barang yang telah aku berikan.’ Jemaah haji itu bertanya kepada laki-laki itu : ‘Siapakah nama tuan pemilik futuwwah yang demikian tingginya?’ dijawab : ‘Ja’far ash-Shaddiq.’
Imam Ja’far ash-Shaddiq,ra., adalah cicit Rasulullah,saw., dan juga berdarah Abu Bakar ash Shaddiq,ra., lahir pada tahun 83 H. Semasa kecil diasuh oleh ayahnya yang bernama Imam Muhammad Baqir,ra., dan juga kakeknya, Imam Ali Zainal Abidin,ra. Beliau hidup pada masa Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Pada masa itu muncul doktrin-doktrin baru, yakni, muktazilah atau penganut faham qadariyah yang percaya bahwa manusia bebas menentukan pilihannya sendiri tanpa Tuhan mencampurinya, lalu doktrin jabariyah yang percaya bahwa manusia itu tidak mempunyai pilihan sama sekali, doktrin zandaqah, dan lain-lain. Oleh karenanya, sungguh sangat hebat tekanan kehidupannya, karena disamping harus berhadapan dengan penguasa bani Umayah, kemudian bani Abbasiyah, juga berhadapan dengan pengikut doktrin-doktrin yang baru tadi. Imam Jafar ash Shaddiq,ra., syahid diracun oleh Manshur penguasa dari bani Abbasiyah. Makamnya berada di komplek pemakaman Baqi di Madinah berdampingan dengan pusara ayahnya, Imam Muhammad Baqir,ra., dan pusara kakeknya, Imam Ali Zainal Abidin,ra. Kakek, ayah dan beliau sendiri adalah para akhli silsilah Qodiriyah, dan beliau juga akhli silsilah Naqsyabandiyah.
Suatu ketika beliau bertanya kepada Syaikh Syaqiq al-Balkhy,qs., : ‘Apa pendapatmu tentang futuwwah?’ Dijawab : ‘Jika kita diberi sesuatu, kita bersyukur dan jika tidak diberi, kita bersabar.’ Imam Ja’far,ra., berkata : ‘Anjing-anjing di Madinah juga bersikap seperti itu. Seharusnya jika kita diberi sesuatu kita berikan kepada orang lain, dan jika tidak diberi, kita bersyukur.’
Seorang salik berkata kepada salik yang lain : ‘Si fulan begini dan begitu kemana sifat kesatrianya?’ Dijawab : ‘Engkau menanyakan sesuatu yang sudah lama lenyap dari muka bumi ini, yakni futuwwah, tanyakan kepadaku tentang keserakahan, karena aku rajanya.’
Sebuah hadist mengatakan bahwa : ‘Allah Itu Indah dan mencitai keindahan.’ Karenanya, orang-orang yang percaya bahwa kecantikan itu bisa mewujud kembali, berusaha dengan sekuat tenaganya untuk meraihnya kembali, dengan teguh melaksanakan dawamudz dzikri wadawamun ubudiyah.
Seorang salik dalam keadaan bersedih yang amat sangat berusaha menyembunyikan kesedihannya, khawatir bila diketahui akan menggangu keceriaan yang sedang berlangsung diantara sahabatnya. Ditutupinya kesedihan itu dengan prilaku sebaliknya, sehingga tak satupun sahabatnya mengetahui keadaan sesungguhnya. Kesedihannya dikarenakan Ibunda tercintanya sedang sakit, yang berkata kepadanya : ‘Kecantikan telah hilang, yang tua minta dihormati dan yang muda minta disayang. Semua untuk dirinya bukan untuk orang lain, apalagi untuk Allah SWT. Aku telah ridho meninggalkan dunia yang seperti ini.’ Tak lama kemudian ia berjumpa dengan sahabat-sahabatnya, kebetulan sedang membicarakan tentang hal kesedihan, sang salik itu berkata : ‘Betapapun pengetahuan kesedihan ini dibicarakan, namun kalian tidak akan bisa merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh orang-orang yang sedang bersedih, karena kalian sedang tidak dalam keadaan bersedih. Ketahuilah kesedihan itu sungguh pedih, seolah-olah berjuta-juta jarum bersarang didalam dada, sehingga daya harap (roja) begitu tinggi, ia maujud didalam kontemplasinya.’
Kecantikan telah lenyap! Begitulah kata seorang ibu yang sedang sakit, tak heran jika alam menjadi beringas, gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran hutan dan badai terjadi dimana-mana, karena jijik dihuni oleh manusia yang menjadi durjana. Sifat kesatria tinggal cerita-cerita saja, dan hanya bisa ditemui didalam kitab-kitab para syaikh sufi, serta hanya bisa didengarkan dari para pendakwah saja, tanpa ada lagi tauladan, laksana mencari sebutir berlian disamudera nan luas. Sifat kesatria atau keperwiraan atau dalam istilah tasawuf disebut futuwwah, menjadi pembicaraan hangat para sufi terdahulu, pada saat itu, semua berlomba menghias alam semesta ini dengan futuwwah yang begitu indah dan menggetarkan hati. Imam Qusyairi,ra., didalam kitabnya yang masyhur Risalatul Qusyairiyah menggolongkan futuwwah kedalam maqom, sedangkan Syaikh Abu Abdirrahman al Sulami,qs., mengatakan bahwa futuwwah adalah tidak merusak kebaikan yang telah dibangun sebelumnya, bersikap lembut kepada orang bodoh dengan kemurahan hatinya, mendidik orang bakhil dengan kedermawanannya. Dizaman kini, orang menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, bahkan para ulama juga terhinggap penyakit yang demikian, persis seperti seorang wanita yang mengurai benangnya yang sudah dipintal dengan kuat sehingga tercerai berai kembali. bersikap kasar kepada orang bodoh, dengan menceramahinya secara panjang lebar, padahal contoh perilaku yang baik lebih berguna baginya, dan tidak satupun yang mendidik orang bakhil dengan hartanya, melainkan menghakiminya sebagai akhli bakhil.
Meskipun futuwwah tinggal cerita-cerita saja, dan orang-orang masa kini mengklaim sebagai pemiliknya tanpa menunjukkan bukti-bukti tindakan yang shahih, ada baiknya bila kita simak beberapa kisah apik yang terjadi dimasa silam sebagai pengetahuan. Sebuah riwayat mengatakan bahwa disaat akhli futuwwah sedang mengunjungi seorang laki-laki yang terkenal karena futuwwahnya. Laki-laki itu menyuruh pelayannya membawa tilam makanan, namun setelah ditunggu beberapa lama, pelayan itu tidak datang. Para tamu saling berpandangan seraya berkata, ‘Ini tidak benar dalam aturan futuwwah.’ Akhirnya, tidak lama kemudian pelayan itu pun muncul, laki-laki itu bertanya : ‘Mengapa begitu lama?’ Dijawab : ‘Ada seekor semut pada tilam itu. Tidaklah patut menurut futuwwah, membentangkan tilam untuk para tamu yang akhli futuwwah manakala ada semut diatasnya, sebaliknya, tidaklah benar pula mencampakkan semut dari kain tilam itu. Jadi saya menunggu sampai semut itu merayap meninggalkan tilam.’ Seorang tamu itu berkata : ‘Jika pelayannya saja mempunyai futuwwah yang begitu tinggi, bagaimana tuannya?’
Kisah, suatu ketika ada jemaah haji yang kehilangan uang, didekatnya ada seseorang, lalu ia memegang tangannya seraya berkata : ‘ Apakah engkau yang mencuri kantong uangku?’ orang itu bertanya : ‘Apa isi kantongmu?’ jemaah haji itu menjawab : ‘Uang sebanyak seribu dinar.’ Laki-laki itu lalu membawa kerumahnya dan memberinya uang seribu dinar. Jemaah haji itu akhirnya kembali ke penginapannya dan menemukan kantong uangnya yang dikiranya hilang. Lalu ia pun pergi menemui laki-laki tadi bermaksud mengembalikan uang yang telah diterimanya dan mengajukan permohonan maaf atas tuduhannya. Laki-laki itu berkata : ‘Aku tidak pernah menerima kembali barang yang telah aku berikan.’ Jemaah haji itu bertanya kepada laki-laki itu : ‘Siapakah nama tuan pemilik futuwwah yang demikian tingginya?’ dijawab : ‘Ja’far ash-Shaddiq.’
Imam Ja’far ash-Shaddiq,ra., adalah cicit Rasulullah,saw., dan juga berdarah Abu Bakar ash Shaddiq,ra., lahir pada tahun 83 H. Semasa kecil diasuh oleh ayahnya yang bernama Imam Muhammad Baqir,ra., dan juga kakeknya, Imam Ali Zainal Abidin,ra. Beliau hidup pada masa Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Pada masa itu muncul doktrin-doktrin baru, yakni, muktazilah atau penganut faham qadariyah yang percaya bahwa manusia bebas menentukan pilihannya sendiri tanpa Tuhan mencampurinya, lalu doktrin jabariyah yang percaya bahwa manusia itu tidak mempunyai pilihan sama sekali, doktrin zandaqah, dan lain-lain. Oleh karenanya, sungguh sangat hebat tekanan kehidupannya, karena disamping harus berhadapan dengan penguasa bani Umayah, kemudian bani Abbasiyah, juga berhadapan dengan pengikut doktrin-doktrin yang baru tadi. Imam Jafar ash Shaddiq,ra., syahid diracun oleh Manshur penguasa dari bani Abbasiyah. Makamnya berada di komplek pemakaman Baqi di Madinah berdampingan dengan pusara ayahnya, Imam Muhammad Baqir,ra., dan pusara kakeknya, Imam Ali Zainal Abidin,ra. Kakek, ayah dan beliau sendiri adalah para akhli silsilah Qodiriyah, dan beliau juga akhli silsilah Naqsyabandiyah.
Suatu ketika beliau bertanya kepada Syaikh Syaqiq al-Balkhy,qs., : ‘Apa pendapatmu tentang futuwwah?’ Dijawab : ‘Jika kita diberi sesuatu, kita bersyukur dan jika tidak diberi, kita bersabar.’ Imam Ja’far,ra., berkata : ‘Anjing-anjing di Madinah juga bersikap seperti itu. Seharusnya jika kita diberi sesuatu kita berikan kepada orang lain, dan jika tidak diberi, kita bersyukur.’
Seorang salik berkata kepada salik yang lain : ‘Si fulan begini dan begitu kemana sifat kesatrianya?’ Dijawab : ‘Engkau menanyakan sesuatu yang sudah lama lenyap dari muka bumi ini, yakni futuwwah, tanyakan kepadaku tentang keserakahan, karena aku rajanya.’
Sebuah hadist mengatakan bahwa : ‘Allah Itu Indah dan mencitai keindahan.’ Karenanya, orang-orang yang percaya bahwa kecantikan itu bisa mewujud kembali, berusaha dengan sekuat tenaganya untuk meraihnya kembali, dengan teguh melaksanakan dawamudz dzikri wadawamun ubudiyah.
Rabu, 17 Februari 2010
MISKIN - SAKIT ATAU KAYA - SEHAT
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Sahabat Abu Dzar Al Ghifari,ra., mengatakan : ‘Aku lebih mencintai kefakiran daripada kekayaan dan sakit daripada sehat.’
Suatu ketika Imam Abu Abdullah Al Husayn,ra., ditanya tentang ucapan Abu Dzar,ra., diatas dan beliau menjawab : ‘Semoga rahmat Tuhan atas Abu Dzar! Namun, kukatakan bahwa barangsiapa memperhatikan dengan saksama pilihan yang dibuat oleh Tuhan baginya, tidaklah menginginkan apa-apa, kecuali apa yang Tuhan telah pilihkan baginya.’ Terlihat secara sepintas bahwa ada perbedaan dari pernyataan kedua manusia agung ini (semoga Allah meridhoi mereka berdua), akan tetapi bila dicermati jawaban Imam Husayn,ra., malah mendukung pernyataan Abu Dzar Al Gifari,ra. Meskipun orang awam akan melihat bahwa Abu Dzar,ra., masih membuat pilihan, sehingga jauh dari keridhaan. Faktanya tidaklah demikian, karena selama hidupnya Abu Dzar,ra., selalu dalam keadaan miskin dan sakit namun menghadapinya dengan suka cita, ini adalah hakikat ridha. Oleh karenanya, cucu Rasulullah,saw., memujinya dan mendoakan dengan mengatakan 'Semoga rahmat Tuhan atas Abu Dzar.' Tanda keridhaan atas ketetapan Tuhan terhadapnya, bisa dilihat dari perilaku selama hidupnya. Beliau adalah termasuk orang yang ke lima memeluk Islam. Dialah orang Islam pertama yang meneriakkan dua kalimat syahadat di Masjidil Haram secara terang-terangan didepan orang Qurays, sehingga ia babak belur di pukuli oleh mereka. Perjuangannya menjadi semakin berat dimasa kekhalifahan Usman bin Affan,ra. Beliau mengingatkan seluruh penguasa agar hidup sederhana, termasuk Muawiyah bin abu Sufyan yang saat itu menjabat gubernur Syria, dan kedua sahabatnya Abu Musa al-Asy’ari,ra., dan Abu Hurairah,ra. Meskipun mendapat perlawanan yang sengit ia tetap pada pendiriannya itu, yang pada akhirnya, karena dianggap sebagai penghalang dan tidak disukai oleh para penguasa padasaat itu, ia memohon kerelaan Usman bin Affan,ra., untuk melepaskan kepergiannya dan tinggal bersama istri dan seorang anaknya di padang pasir liar yang bernama Rabadzah, sampai beliau wafat disana. Orang yang pertama kali menemukan jasad beliau yang sedang ditangisi oleh anak dan istrinya, karena tidak ada kain kafan untuk membungkusnya adalah Ibnu Mas’ud,ra., yang kebetulan lewat disitu. Ibnu Mas’ud,ra., adalah termasuk orang yang masuk islam pada masa awal, kalau tidak salah yang ke enam setelah Abu Dzar,ra. Dahulu pada saat perang tabuk, Ibnu Mas’ud,ra., menyaksikan Rasulullah,saw., bersama-sama dengan Abu Bakar as Siddiq,ra., dan Umar bin Khatab,ra., menguburkan jasad Abdullah Dzulbijadain,ra., dan beliau mendengar Rasulullah,saw., bersabda : ‘Ya Allah, aku telah ridha kepadanya, maka ridhailah pula ia oleh-MU.’ Mendengar itu Ibnu Mas’ud,ra., menangis sambil memekik ‘Alangkah baiknya seandainya akulah yang jadi pemilik liang kubur itu!’. Dan kesedihan ini berulang lagi, kali ini beliau berhadapan dengan jasad pemilik maqom ridha, sahabat yang ia cintai. Apa yang dilakukan Abu Dzar al Gifari,ra., selama hidupnya tidak lain hanyalah mengiginkan kebahagiaan sahabat-sahabatnya, agar tidak tertipu oleh jabatan dan kekayaan dunia ini. Lidahnya lebih tajam dari pedang dzulfaqor milik Sayyidina Ali,ra., guna berbagi kepada sahabat-sahabatnya, tentang keutamaan kefakiran dan sakit, karena hakikat kemuliaan seseorang terletak pada kedua kondisi ini. Miskin, sakit atau penderitaan apapun adalah kemuliaan, dan kaya, sehat atau kesenangan adalah kehinaan. Kemuliaan adalah yang membuat seseorang ‘hadir bersama Tuhan (hudhurul Haqq)’, dan kehinaan adalah yang membuat seseorang jauh dari Tuhan. Duka cita miskin, sakit dan penderitaan lainnya adalah tanda ‘kehadiran’, sementara nikmat kekayaan, kesehatan dan bentuk kesenangan lainnya adalah tanda ‘ketidak hadiran’. Karena itu, seseorang harus terus menanggung kesulitan yang melibatkan kontemplasi (muroqobah) dan keakraban (aqrobiyah). Seburuk-buruk manusia adalah dia yang dianggap taat kepada Tuhan, namun sebenarnya tidak, dan manusia yang paling mulia adalah dia yang tidak dianggap taat kepada Tuhan, namun sesungguhnya taat. Yang pertama menyerupai pengacara yang bodoh, yang berpura-pura dapat membela orang, padahal hanya membuat mereka semakin buruk, dan bilamana ia bermasalah, ia memerlukan pengacara lain untuk membelanya, dan yang kedua seperti orang yang tidak dikenal sebagai pengacara dan tidak memperhatikan orang lain, namun menggunakan keakhliannya agar dirinya tetap selamat. Oleh karenanya Imam Sybli,ra., berkata : ‘Kemiskinan adalah lautan kesulitan, dan semua kesulitan demi Dia adalah kemuliaan.’
Sahabat Abu Dzar Al Ghifari,ra., mengatakan : ‘Aku lebih mencintai kefakiran daripada kekayaan dan sakit daripada sehat.’
Suatu ketika Imam Abu Abdullah Al Husayn,ra., ditanya tentang ucapan Abu Dzar,ra., diatas dan beliau menjawab : ‘Semoga rahmat Tuhan atas Abu Dzar! Namun, kukatakan bahwa barangsiapa memperhatikan dengan saksama pilihan yang dibuat oleh Tuhan baginya, tidaklah menginginkan apa-apa, kecuali apa yang Tuhan telah pilihkan baginya.’ Terlihat secara sepintas bahwa ada perbedaan dari pernyataan kedua manusia agung ini (semoga Allah meridhoi mereka berdua), akan tetapi bila dicermati jawaban Imam Husayn,ra., malah mendukung pernyataan Abu Dzar Al Gifari,ra. Meskipun orang awam akan melihat bahwa Abu Dzar,ra., masih membuat pilihan, sehingga jauh dari keridhaan. Faktanya tidaklah demikian, karena selama hidupnya Abu Dzar,ra., selalu dalam keadaan miskin dan sakit namun menghadapinya dengan suka cita, ini adalah hakikat ridha. Oleh karenanya, cucu Rasulullah,saw., memujinya dan mendoakan dengan mengatakan 'Semoga rahmat Tuhan atas Abu Dzar.' Tanda keridhaan atas ketetapan Tuhan terhadapnya, bisa dilihat dari perilaku selama hidupnya. Beliau adalah termasuk orang yang ke lima memeluk Islam. Dialah orang Islam pertama yang meneriakkan dua kalimat syahadat di Masjidil Haram secara terang-terangan didepan orang Qurays, sehingga ia babak belur di pukuli oleh mereka. Perjuangannya menjadi semakin berat dimasa kekhalifahan Usman bin Affan,ra. Beliau mengingatkan seluruh penguasa agar hidup sederhana, termasuk Muawiyah bin abu Sufyan yang saat itu menjabat gubernur Syria, dan kedua sahabatnya Abu Musa al-Asy’ari,ra., dan Abu Hurairah,ra. Meskipun mendapat perlawanan yang sengit ia tetap pada pendiriannya itu, yang pada akhirnya, karena dianggap sebagai penghalang dan tidak disukai oleh para penguasa padasaat itu, ia memohon kerelaan Usman bin Affan,ra., untuk melepaskan kepergiannya dan tinggal bersama istri dan seorang anaknya di padang pasir liar yang bernama Rabadzah, sampai beliau wafat disana. Orang yang pertama kali menemukan jasad beliau yang sedang ditangisi oleh anak dan istrinya, karena tidak ada kain kafan untuk membungkusnya adalah Ibnu Mas’ud,ra., yang kebetulan lewat disitu. Ibnu Mas’ud,ra., adalah termasuk orang yang masuk islam pada masa awal, kalau tidak salah yang ke enam setelah Abu Dzar,ra. Dahulu pada saat perang tabuk, Ibnu Mas’ud,ra., menyaksikan Rasulullah,saw., bersama-sama dengan Abu Bakar as Siddiq,ra., dan Umar bin Khatab,ra., menguburkan jasad Abdullah Dzulbijadain,ra., dan beliau mendengar Rasulullah,saw., bersabda : ‘Ya Allah, aku telah ridha kepadanya, maka ridhailah pula ia oleh-MU.’ Mendengar itu Ibnu Mas’ud,ra., menangis sambil memekik ‘Alangkah baiknya seandainya akulah yang jadi pemilik liang kubur itu!’. Dan kesedihan ini berulang lagi, kali ini beliau berhadapan dengan jasad pemilik maqom ridha, sahabat yang ia cintai. Apa yang dilakukan Abu Dzar al Gifari,ra., selama hidupnya tidak lain hanyalah mengiginkan kebahagiaan sahabat-sahabatnya, agar tidak tertipu oleh jabatan dan kekayaan dunia ini. Lidahnya lebih tajam dari pedang dzulfaqor milik Sayyidina Ali,ra., guna berbagi kepada sahabat-sahabatnya, tentang keutamaan kefakiran dan sakit, karena hakikat kemuliaan seseorang terletak pada kedua kondisi ini. Miskin, sakit atau penderitaan apapun adalah kemuliaan, dan kaya, sehat atau kesenangan adalah kehinaan. Kemuliaan adalah yang membuat seseorang ‘hadir bersama Tuhan (hudhurul Haqq)’, dan kehinaan adalah yang membuat seseorang jauh dari Tuhan. Duka cita miskin, sakit dan penderitaan lainnya adalah tanda ‘kehadiran’, sementara nikmat kekayaan, kesehatan dan bentuk kesenangan lainnya adalah tanda ‘ketidak hadiran’. Karena itu, seseorang harus terus menanggung kesulitan yang melibatkan kontemplasi (muroqobah) dan keakraban (aqrobiyah). Seburuk-buruk manusia adalah dia yang dianggap taat kepada Tuhan, namun sebenarnya tidak, dan manusia yang paling mulia adalah dia yang tidak dianggap taat kepada Tuhan, namun sesungguhnya taat. Yang pertama menyerupai pengacara yang bodoh, yang berpura-pura dapat membela orang, padahal hanya membuat mereka semakin buruk, dan bilamana ia bermasalah, ia memerlukan pengacara lain untuk membelanya, dan yang kedua seperti orang yang tidak dikenal sebagai pengacara dan tidak memperhatikan orang lain, namun menggunakan keakhliannya agar dirinya tetap selamat. Oleh karenanya Imam Sybli,ra., berkata : ‘Kemiskinan adalah lautan kesulitan, dan semua kesulitan demi Dia adalah kemuliaan.’
RIDHA
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Allah SWT berfirman : ‘Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.’ (QS 098 : 8)
Pengajian pada hari Jum’at malam, tangal 12 Pebruari 2010 membahas tentang ridha, yang disampaikan oleh Ustadz. Udin Saepudin Muhidin dari kitab Kasyful Mahjub yang sangat mashyur, karya Abul Hasan Ali bin Utsman bin Ali Al Ghaznawi Al Jullabi Al Hujwiri (w. 456 H) atau yang dikenal dengan nama Imam Hujwiri,qs., lahir di Ghazna, Afghanistan, yang hidup sezaman dengan Imam Qusyairy,qs., (w. 465 H) penulis karya Risalatul Qusyairiyah yang fenomenal itu. Beliau hidup mengembara dari Syria hingga Turkistan dan dari Hindustan hingga Laut Kaspia. Tempat-tempat penting yang telah dikunjunginya adalah Azerbaijan, makam Syaikh Abu Yazid Al Busthami ( w. 261 H) di Damaskus, makam Syaikh Abu Sa’id bin abul Khair di Mihna, Merv, Turkmenistan, lalu ke Samarkand dan Irak, terakhir hijrah ke Lahore, Pakistan sampai wafatnya dan di makamkan disana. Salah satu gurunya dibidang tasawuf adalah Syaikh Abul Qosim Gurgani,ra., mungkin yang dimaksud adalah Syaikh Abul Hasan al-Kharqani,ra., (w. 425 H), Kharqan adalah sebuah desa dekat Bistam di Iran. Beliau juga hidup sezaman dengan Syaikh Abu Ali Al Farmadi,qs., (w. 447 H), akhli silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang saat itu bernama tarekat Taifuriyah, yang diambil dari nama mursyidnya terdahulu, yakni Syaikh Abu Yazid Al Bisthami.ra. Farmad adalah sebuah desa dekat Tus di Iran tidak jauh dari Kharqan. Imam Hujwiri,qs., bersama-sama dengan Syaikh Abu Ali Al Farmadi.qs., menjadi murid dari Syaikh Abul Qosim Gurgani,ra., atau Syaikh Abul Hasan Al Kharqani.ra. Oleh karenanya, Imam Hujwiri,qs., berziarah ke makam Syaikh Abu Yazid Al Bistami,ra., di Syria, sebagai guru dari Syaikh Abul Hasan Al Kharqani,ra. Jika demikian adanya, maka Imam Hujwiri,qs., adalah penganut atau Syaikh dari tarekat Taifuiryah atau sekarang bernama tarekat Naqsyabandiyah. Dalam kitabnya Imam Hujwiri,qs., berkata : ‘Insya Allah, Syaikh Abul Hasan Al Kharqani akan mempunyai seorang pengganti yang piawai, yang wewenangnya diakui seluruh Sufi, yakni Abu Ali Al Fadhl bin Muhammad Al Farmadi, yang tidak pernah lalai memenuhi tugas kewajibannya terhadap gurunya, dan telah meninggalkan semua benda duniawi, dan melalui berkah dari penyangkalan itu dia telah dibuat oleh Tuhan sebagai corong ruhani.’ Baik Imam Hujwiri maupun Syaikh Abu Ali Al Farmadi adalah murid-murid terbaik dari tarekat Taifuriyah, akan tetapi penerus rantai emas silsilahnya jatuh ketangan Syaikh Abu Ali Al Farmadi.qs. yang diteruskan kepada Syaikh Yusuf Hamadani (w. 535 H), lalu diteruskan kepada Syaikh Abdul Khaliq Al Gujdawani (w. 575 H) dan seterusnya yang hingga kini sampai kepada guru kita tercinta Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), semoga silsilah dari tarekat yang mulia ini bersambung terus sampai akhir zaman nantinya, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Kitab Kasyful Mahjub ini tidak kalah sulitnya untuk diterjemah kedalam bahasa Indonesia selain kitab Qutul Qulub karya Syaikh abu Thalib al Makki,qs.’ Ustadz. Udin Saepudin Muhidin menyampaikan tentang ridha yang berkenaan dengan doktrin dari Syaikh Abu Abdallah Harits bin Asad Al Muhasibi (w. 243 H) atau yang dikenal dengan Al Muhasibi.qs. Kekhasan doktrin ini adalah tidak mengganggap ridha sebagai maqom melainkan memasukkannya kedalam ‘hal’ atau jamaknya ‘ahwal’.
Ridha adalah puncak gunung spiritual bagi para pejalan (muthasowif), orang-orang yang telah berhasil mencapainya tidak lagi disebut pejalan (muthasowif) melainkan Sufi. Karena telah gugur keinginan-keinginan dirinya (fana). Tanda ridha adalah tidak mempunyai pilihan sebelum diputuskannya ketetapan (Allah), lalu tidak merasakan kepahitan melainkan ketenangan dan keserasian hati setelah diputuskannya ketetapan, dan tetap merasakan gairah cinta ditengah-tengah cobaan. Karenanya ridha menjadi dambaan para pejalan, sebagaimana doa para murid pada setiap kesempatan : ‘Ilahi anta maksudi, waridhaka matlubi, a’tinii mahabbataka wa ma’rifatakaa yaa Arhamaar Rahimiin, Yaa Allah Engkaulah yang aku maksud, ridha-Mu aku harapkan dan karuniakan cinta kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu wahai Engkau Yang Maha Belas Kasih.’ Habib Al ‘Ajami,ra., ditanya : ‘Apa yang diridhai Tuhan?’ Beliau menjawab : ‘Hati yang tidak ternodai oleh kemunafikan.’ Sedangkan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ridha itu menerima apa yang ditentukan oleh Allah SWT.’ Ujaran ini indah sekali, meskipun berbeda bentuk penyampaiannya tetapi mempunyai makna yang sama, yakni, hakikat ridha ada dalam keselarasan, karena keselarasan adalah lawan dari kemunafikan. Sedangkan cinta, bersih dari kemunafikan, oleh sebab itu cinta senantiasa hidup dalam keadaan ridha. Sehingga ridha adalah watak sahabat-sahabat Tuhan, sementara kemunafikan adalah watak seteru-seteru-Nya.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat mengusap kepala dengan air wudlu selalu mengucap “Yaa Allah aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.’ Ini adalah puncak tawakal, barang siapa mempunyai keteguhan dihati, menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan pada setiap waktu, tidak bersandar kepada harta, tidak pula pada perantara, dan tidak pula kepada makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah SWT saja, hingga saat tidak diberi, tetap bisa merasakan kenikmatan sebagaimana kenikmatan saat diberi, maka ia telah berada pada maqom tawakal. Puncak tawakal adalah awal daripada ridha, yakni menunggu sebab dari Pemberi Sebab, tanpa melihat kepada sebab, serta tanpa kegelisahan, kesusahan, kesedihan, dan kedukaan. Sedangkan bukti apakah seseorang telah memasuki maqom ridha, hatinya selaras setelah kedatangan ketetapan Tuhan. Oleh sebab itu ridha itu muncul setelah kedatangan takdir, karena, jika ridha mendahului, itu hanya niat untuk ridha, yang tidak bisa disamakan dengan ridha yang aktual. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Wahai Tuhan, aku memohon keridhaan-Mu setelah maujudnya ketetapan-Mu.’ Nabi,saw., yang keadaan ruhaninya paling sempurna diantara semua makhluk masih berdoa seperti itu. Seolah-olah ada keinginan didalamnya, padahal orang-orang yang berada pada maqom ridha keinginannya sirna, karena Allah membuat selaras keinginannya dengan kehendak-Nya. Sikap memanusiakan dirinya sungguh hebat, ketawadhuannya tidak ada duanya diatas bumi ini, yakni, agar Allah SWT membuatnya ridha bila ketetapan-Nya tiba, padahal yang mulia Rasulullah,saw., adalah pemilik ridha yang tertinggi. Berarti didalamnya ada pembelajaran untuk umat islam, bahwa merendah bagai bumi adalah perbuatan yang sangat mulia, dan ridha bisa disebut maqom atau ‘hal’.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ridha tidak ada didalam kata-kata.’ Kata-kata hanyalah digunakan untuk sekedar mentransformasi secara maksimal ilmu pengetahuan tentang ridha dan bukan ridha itu sendiri. Ridha adalah tujuan akhir bagi para pejalan (mutashowif), yang upayanya atau keberjuangannya melawan dirinya sendiri (mujahadah) telah berakhir dan berpindah menjadi keberserahan. Ayat Al Qur’an diatas : ‘Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya,’ menunjukkan ridha Tuhan kepada manusia dan ridha manusia terhadap Tuhan. Bentuk ridha Tuhan berupa pahala bagi perbuatan-perbuatan baik manusia, sebagai manifestasi kasih-sayang-Nya. Sedangkan ridha manusia terkandung didalam pelaksanaan perintah Tuhan dan menyerah kepada segala keputusan-Nya. Dengan demikian keridhaan Tuhan mendahului keridhaan manusia. Nah, seseorang yang berpaling kepada pemberian bukan kepada Sang Pemberi, menerima pemberian itu dengan segenap jiwanya, yang mengakibatkan kesedihan dan kesulitan lenyap dari dalam hatinya. Sedangkan seseorang yang berpaling dari pemberian kepada Sang Pemberi, kehilangan pemberian itu dan menempuh jalan keridhaan dengan usahanya sendiri. Usaha adalah kepedihan dan menyusahkan, sedangkan ‘hal’ hanya terwujud bilamana disingkapkan oleh Tuhan. Oleh karenanya, keridhaan bila dicari dengan usaha, merupakan belenggu dan tirai. Sebagaimana kebahagiaan, adalah bilamana mengantarkan kepada Sang Pemberi kebahagiaan bukan menikmati pemberian-Nya, jika tidak demikian, merupakan penderitaan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat menghadapi penyakit yang menurut orang kebanyakan merupakan penyakit yang sangat berhaya, terlihat bergembira dengan penderitaan yang Tuhan turunkan, gembira karena dalam penderitaan beliau melihat Sang Pencipta Penderitaan dan bisa menanggung penderitannya dengan merenungkan Dia yang menurunkan penderitaan, beliau tidak menganggapnya sebagai kepedihan, yang demikian adalah rasa nikmatnya dalam merenungi kekasihnya. Akhirnya, mereka yang puas dengan sesuatu yang dipilihkan oleh Tuhan, adalah kekasih-kekasih-Nya, yang hati mereka berada dalam hadirnya Kesucian dan dalam taman Kedekatan, yang tidak berpikir tentang benda-benda ciptaan dan telah bebas dari ikatan-ikatan ‘maqom’ dan ‘hal’ dan telah mengabdikan diri mereka kepada cinta Ilhai. Keridhaan mereka tidak melibatkan kesia-siaan karena keridhaan dengan Tuhan adalah suatu kerajaan yang nyata. Ciri khas ridha adalah mengusir semua duka cita dan menyembuhkan kelalaian serta membersihkan hati dari pikiran-pikiran yang berhubungan dengan selain Tuhan dan membebaskannya dari belenggu kemalangan.
Dikatakan, semua umat manusia, baik mereka mau ataupun tidak, mesti merujukkan persahabatan dengan Tuhan. Bilamana seseorang ridha dengan-Nya dalam malapetaka, hanya akan melihat Pencipa malapetaka dan malapetaka itu sendiri tidak tampak. Dan jika tidak, malapetaka muncul dan hatinya dipenuhi oleh duka cita. Allah yang telah menentukan keridhaan dan ketidak ridhaan, tidak mengubah takdir-Nya, karena itu, keridhaan terhadap keputusan-keputusan-Nya adalah sebagian dari kebahagiaan. Kapan saja seseorang selaras dengan Tuhan, hatinya akan bergembira, dan kapan saja orang berpaling dari-Nya, maka orang itu menderita dengan datangnya ketetapan-Nya.
Allah SWT berfirman : ‘Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.’ (QS 098 : 8)
Pengajian pada hari Jum’at malam, tangal 12 Pebruari 2010 membahas tentang ridha, yang disampaikan oleh Ustadz. Udin Saepudin Muhidin dari kitab Kasyful Mahjub yang sangat mashyur, karya Abul Hasan Ali bin Utsman bin Ali Al Ghaznawi Al Jullabi Al Hujwiri (w. 456 H) atau yang dikenal dengan nama Imam Hujwiri,qs., lahir di Ghazna, Afghanistan, yang hidup sezaman dengan Imam Qusyairy,qs., (w. 465 H) penulis karya Risalatul Qusyairiyah yang fenomenal itu. Beliau hidup mengembara dari Syria hingga Turkistan dan dari Hindustan hingga Laut Kaspia. Tempat-tempat penting yang telah dikunjunginya adalah Azerbaijan, makam Syaikh Abu Yazid Al Busthami ( w. 261 H) di Damaskus, makam Syaikh Abu Sa’id bin abul Khair di Mihna, Merv, Turkmenistan, lalu ke Samarkand dan Irak, terakhir hijrah ke Lahore, Pakistan sampai wafatnya dan di makamkan disana. Salah satu gurunya dibidang tasawuf adalah Syaikh Abul Qosim Gurgani,ra., mungkin yang dimaksud adalah Syaikh Abul Hasan al-Kharqani,ra., (w. 425 H), Kharqan adalah sebuah desa dekat Bistam di Iran. Beliau juga hidup sezaman dengan Syaikh Abu Ali Al Farmadi,qs., (w. 447 H), akhli silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang saat itu bernama tarekat Taifuriyah, yang diambil dari nama mursyidnya terdahulu, yakni Syaikh Abu Yazid Al Bisthami.ra. Farmad adalah sebuah desa dekat Tus di Iran tidak jauh dari Kharqan. Imam Hujwiri,qs., bersama-sama dengan Syaikh Abu Ali Al Farmadi.qs., menjadi murid dari Syaikh Abul Qosim Gurgani,ra., atau Syaikh Abul Hasan Al Kharqani.ra. Oleh karenanya, Imam Hujwiri,qs., berziarah ke makam Syaikh Abu Yazid Al Bistami,ra., di Syria, sebagai guru dari Syaikh Abul Hasan Al Kharqani,ra. Jika demikian adanya, maka Imam Hujwiri,qs., adalah penganut atau Syaikh dari tarekat Taifuiryah atau sekarang bernama tarekat Naqsyabandiyah. Dalam kitabnya Imam Hujwiri,qs., berkata : ‘Insya Allah, Syaikh Abul Hasan Al Kharqani akan mempunyai seorang pengganti yang piawai, yang wewenangnya diakui seluruh Sufi, yakni Abu Ali Al Fadhl bin Muhammad Al Farmadi, yang tidak pernah lalai memenuhi tugas kewajibannya terhadap gurunya, dan telah meninggalkan semua benda duniawi, dan melalui berkah dari penyangkalan itu dia telah dibuat oleh Tuhan sebagai corong ruhani.’ Baik Imam Hujwiri maupun Syaikh Abu Ali Al Farmadi adalah murid-murid terbaik dari tarekat Taifuriyah, akan tetapi penerus rantai emas silsilahnya jatuh ketangan Syaikh Abu Ali Al Farmadi.qs. yang diteruskan kepada Syaikh Yusuf Hamadani (w. 535 H), lalu diteruskan kepada Syaikh Abdul Khaliq Al Gujdawani (w. 575 H) dan seterusnya yang hingga kini sampai kepada guru kita tercinta Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), semoga silsilah dari tarekat yang mulia ini bersambung terus sampai akhir zaman nantinya, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Kitab Kasyful Mahjub ini tidak kalah sulitnya untuk diterjemah kedalam bahasa Indonesia selain kitab Qutul Qulub karya Syaikh abu Thalib al Makki,qs.’ Ustadz. Udin Saepudin Muhidin menyampaikan tentang ridha yang berkenaan dengan doktrin dari Syaikh Abu Abdallah Harits bin Asad Al Muhasibi (w. 243 H) atau yang dikenal dengan Al Muhasibi.qs. Kekhasan doktrin ini adalah tidak mengganggap ridha sebagai maqom melainkan memasukkannya kedalam ‘hal’ atau jamaknya ‘ahwal’.
Ridha adalah puncak gunung spiritual bagi para pejalan (muthasowif), orang-orang yang telah berhasil mencapainya tidak lagi disebut pejalan (muthasowif) melainkan Sufi. Karena telah gugur keinginan-keinginan dirinya (fana). Tanda ridha adalah tidak mempunyai pilihan sebelum diputuskannya ketetapan (Allah), lalu tidak merasakan kepahitan melainkan ketenangan dan keserasian hati setelah diputuskannya ketetapan, dan tetap merasakan gairah cinta ditengah-tengah cobaan. Karenanya ridha menjadi dambaan para pejalan, sebagaimana doa para murid pada setiap kesempatan : ‘Ilahi anta maksudi, waridhaka matlubi, a’tinii mahabbataka wa ma’rifatakaa yaa Arhamaar Rahimiin, Yaa Allah Engkaulah yang aku maksud, ridha-Mu aku harapkan dan karuniakan cinta kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu wahai Engkau Yang Maha Belas Kasih.’ Habib Al ‘Ajami,ra., ditanya : ‘Apa yang diridhai Tuhan?’ Beliau menjawab : ‘Hati yang tidak ternodai oleh kemunafikan.’ Sedangkan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ridha itu menerima apa yang ditentukan oleh Allah SWT.’ Ujaran ini indah sekali, meskipun berbeda bentuk penyampaiannya tetapi mempunyai makna yang sama, yakni, hakikat ridha ada dalam keselarasan, karena keselarasan adalah lawan dari kemunafikan. Sedangkan cinta, bersih dari kemunafikan, oleh sebab itu cinta senantiasa hidup dalam keadaan ridha. Sehingga ridha adalah watak sahabat-sahabat Tuhan, sementara kemunafikan adalah watak seteru-seteru-Nya.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat mengusap kepala dengan air wudlu selalu mengucap “Yaa Allah aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.’ Ini adalah puncak tawakal, barang siapa mempunyai keteguhan dihati, menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan pada setiap waktu, tidak bersandar kepada harta, tidak pula pada perantara, dan tidak pula kepada makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah SWT saja, hingga saat tidak diberi, tetap bisa merasakan kenikmatan sebagaimana kenikmatan saat diberi, maka ia telah berada pada maqom tawakal. Puncak tawakal adalah awal daripada ridha, yakni menunggu sebab dari Pemberi Sebab, tanpa melihat kepada sebab, serta tanpa kegelisahan, kesusahan, kesedihan, dan kedukaan. Sedangkan bukti apakah seseorang telah memasuki maqom ridha, hatinya selaras setelah kedatangan ketetapan Tuhan. Oleh sebab itu ridha itu muncul setelah kedatangan takdir, karena, jika ridha mendahului, itu hanya niat untuk ridha, yang tidak bisa disamakan dengan ridha yang aktual. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Wahai Tuhan, aku memohon keridhaan-Mu setelah maujudnya ketetapan-Mu.’ Nabi,saw., yang keadaan ruhaninya paling sempurna diantara semua makhluk masih berdoa seperti itu. Seolah-olah ada keinginan didalamnya, padahal orang-orang yang berada pada maqom ridha keinginannya sirna, karena Allah membuat selaras keinginannya dengan kehendak-Nya. Sikap memanusiakan dirinya sungguh hebat, ketawadhuannya tidak ada duanya diatas bumi ini, yakni, agar Allah SWT membuatnya ridha bila ketetapan-Nya tiba, padahal yang mulia Rasulullah,saw., adalah pemilik ridha yang tertinggi. Berarti didalamnya ada pembelajaran untuk umat islam, bahwa merendah bagai bumi adalah perbuatan yang sangat mulia, dan ridha bisa disebut maqom atau ‘hal’.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ridha tidak ada didalam kata-kata.’ Kata-kata hanyalah digunakan untuk sekedar mentransformasi secara maksimal ilmu pengetahuan tentang ridha dan bukan ridha itu sendiri. Ridha adalah tujuan akhir bagi para pejalan (mutashowif), yang upayanya atau keberjuangannya melawan dirinya sendiri (mujahadah) telah berakhir dan berpindah menjadi keberserahan. Ayat Al Qur’an diatas : ‘Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya,’ menunjukkan ridha Tuhan kepada manusia dan ridha manusia terhadap Tuhan. Bentuk ridha Tuhan berupa pahala bagi perbuatan-perbuatan baik manusia, sebagai manifestasi kasih-sayang-Nya. Sedangkan ridha manusia terkandung didalam pelaksanaan perintah Tuhan dan menyerah kepada segala keputusan-Nya. Dengan demikian keridhaan Tuhan mendahului keridhaan manusia. Nah, seseorang yang berpaling kepada pemberian bukan kepada Sang Pemberi, menerima pemberian itu dengan segenap jiwanya, yang mengakibatkan kesedihan dan kesulitan lenyap dari dalam hatinya. Sedangkan seseorang yang berpaling dari pemberian kepada Sang Pemberi, kehilangan pemberian itu dan menempuh jalan keridhaan dengan usahanya sendiri. Usaha adalah kepedihan dan menyusahkan, sedangkan ‘hal’ hanya terwujud bilamana disingkapkan oleh Tuhan. Oleh karenanya, keridhaan bila dicari dengan usaha, merupakan belenggu dan tirai. Sebagaimana kebahagiaan, adalah bilamana mengantarkan kepada Sang Pemberi kebahagiaan bukan menikmati pemberian-Nya, jika tidak demikian, merupakan penderitaan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat menghadapi penyakit yang menurut orang kebanyakan merupakan penyakit yang sangat berhaya, terlihat bergembira dengan penderitaan yang Tuhan turunkan, gembira karena dalam penderitaan beliau melihat Sang Pencipta Penderitaan dan bisa menanggung penderitannya dengan merenungkan Dia yang menurunkan penderitaan, beliau tidak menganggapnya sebagai kepedihan, yang demikian adalah rasa nikmatnya dalam merenungi kekasihnya. Akhirnya, mereka yang puas dengan sesuatu yang dipilihkan oleh Tuhan, adalah kekasih-kekasih-Nya, yang hati mereka berada dalam hadirnya Kesucian dan dalam taman Kedekatan, yang tidak berpikir tentang benda-benda ciptaan dan telah bebas dari ikatan-ikatan ‘maqom’ dan ‘hal’ dan telah mengabdikan diri mereka kepada cinta Ilhai. Keridhaan mereka tidak melibatkan kesia-siaan karena keridhaan dengan Tuhan adalah suatu kerajaan yang nyata. Ciri khas ridha adalah mengusir semua duka cita dan menyembuhkan kelalaian serta membersihkan hati dari pikiran-pikiran yang berhubungan dengan selain Tuhan dan membebaskannya dari belenggu kemalangan.
Dikatakan, semua umat manusia, baik mereka mau ataupun tidak, mesti merujukkan persahabatan dengan Tuhan. Bilamana seseorang ridha dengan-Nya dalam malapetaka, hanya akan melihat Pencipa malapetaka dan malapetaka itu sendiri tidak tampak. Dan jika tidak, malapetaka muncul dan hatinya dipenuhi oleh duka cita. Allah yang telah menentukan keridhaan dan ketidak ridhaan, tidak mengubah takdir-Nya, karena itu, keridhaan terhadap keputusan-keputusan-Nya adalah sebagian dari kebahagiaan. Kapan saja seseorang selaras dengan Tuhan, hatinya akan bergembira, dan kapan saja orang berpaling dari-Nya, maka orang itu menderita dengan datangnya ketetapan-Nya.
Selasa, 19 Januari 2010
HARAP (ROJA) - TAKUT (KHAUF)
Bismillahir Rahmaanir Rahiim
Allah SWT berfirman : ‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.’ (QS 033 : 21)
Masih tentang harap (roja), namun dari perspektif yang berbeda, khususnya harapan akan rahmat Allah. Dalam hal ini yang dimaksud dengan harap (roja) adalah keadaan hati yang sepenuhnya terpaut kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi dimasa yang akan datang, sebagaimana takut (khauf) juga demikian. Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘“Harap (roja) yang sangat kuat terletak pada janji Allah SWT, seperti yang tertuang pada hadist qudsi, bahwa Rasulullah,saw., bersabda, bahwa Allah SWT berfirman : ‘Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.’” Orang awam mungkin saja sering mendengar hadist ini, namun tidak memasuki sebuah rasa yang hakiki dan terbukanya rahasia-rahasia yang berada didalamnya. Oleh karenanya mereka menyikapinya dengan biasa-biasa saja. Berbeda dengan para mutashowif atau para penempuh jalan kesucian (kesufian) yang telah tenggelam didalam muroqobah (meditasi) Ismul Azhom, khususnya yang berkenaan dengan sifat Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim dan Al-Ghofur. Sebagaimana kayu yang terbakar oleh api, maka sifat-sifat kayu akan hilang dan menjelma menjadi api, demikian pula para akhli muroqobah (meditasi), manakala sifat-sifat dirinya lenyap dan terkuasai oleh Sifat-Sifat-NYa, akan menjadikan cara pandang, rasa dan daya pikirnya terhadap rahmat Allah menjadi berbeda. Disinilah para pejalan telah terbusanai maqom harap (roja) yang kuat.
Pemilik maqom raja tertinggi ada pada diri Abu Bakar as-Siddiq,ra., sehingga harapannya terhadap janji Allah mendekati tashdiq (pembenaran). Ketika perang badar berlangsung Rasulullah,saw., berdoa : ‘Ya Allah, jika sekelompok manusia ( dari umat Islam) ini Engkau hancurkan, maka setelah itu Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.’ Mendengar itu, Abu Bakar,ra., berkata : ‘Wahai Rasulullah tinggalkanlah permohonanmu itu, sebab, demi Allah, Dia pasti mengabulkan apa yang dijanjikan kepada-Mu.’ Janji yang dimaksud adalah sesuai dengan wahyu yang turun beberapa waktu sebelum perang badar terjadi : ‘Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.’ (QS 008 : 12) Pada kisah ini, ada permohonan dan keyakinan terhadap pengabulan akan janji Allah. Rasulullah,saw., lebih mengetahui Allah daripada Abu Bakar,ra., sementara Abu Bakar,ra., lebih kuat imannya daripada para sahabat yang lain. Sah hukumnya dan tidak merusak adab bagi seorang sahabat menyampaikan pendapatnya kepada sahabat yang lain. Hal ini menunjukkan hubungan kedekatan yang istimewa antara Rasulullah,saw., dengan sahabat gua-nya ini. Meskipun Rasulullah,saw., jauh lebih sempurna daripada Abu Bakar,ra., dalam segala kondisi spiritual, sehingga beliau tahu dari Allah apa yang tidak diketahui Abu Bakar,ra., dan juga sahabat yang lain. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Pemilik maqom raja, tidak diperkenankan menyampaikan hal-hal yang dikhususkan bagi dirinya kepada orang lain.’ Dikhawatirkan dengan menyampaikan keajaiban-keajaiban ‘Kemurahan Tuhan’ akan membuat murid-murid menjadi malas dan bersandar kepada Kemurahan-Nya tanpa melakukan tindak riyadhah dan mujahadah yang gigih.
Untuk membangkitkan semangat juang para pejalan yang telah menyentuh maqom harap (roja), Syah Syuja Kirmani,ra., berkata kepada Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., murid kesayangan dari Syaikh Yahya bin Mu’adz,ra., : ‘Engkau telah dibesarkan dalam doktrin harap ‘raja’, yang menjadi sikap gurumu. Tak seorang pun yang telah menghirup doktrin ini dapat menempuh jalan penyucian karena suatu kepercayaan mekanis kepada harap (raja) menghasilkan kemalasan.’ Ketika di Nisyapur Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., mengakui ujaran ini dan berkata dalam pandangan yang berbeda : ‘Sudah sepantasnya orang yang telah Tuhan muliakan dengan makrifat, tidak menghinakan dirinya dengan kedurhakaan kepada Tuhan.’ Kedurhakaan adalah tindak manusia sedangkan makrifat merupakan anugerah Tuhan. Mustahil bahwa orang yang dimuliakan dengan anugerah Tuhan akan terhina karena tindakannya sendiri. Sebagaimana Tuhan memuliakan Adam,as., dengan pengetahuan dan Dia tidak menghinakannya lantaran dosa yang diperbuatnya. Karenanya, pengetahuan yang dibukakan kepada para Aulia Allah terhadap hal-hal yang demikian, jika disampaikan kepada murid-murid bisa jadi disalah artikan, sehingga mereka terjerumus kedalam jurang kemalasan dan bersandar kepada Kemurahan Tuhan dari sifat Kasih Sayang-Nya kepada manusia yang tidak terbatas.
Terdapat dua orang yang bernama Yahya dalam sejarah Islam, yang menempuh jalan takut (khauf) dan harap (roja) begitu tinggi, yang pertama adalah nabiyullah Yahya bin Zakaria,as., yang menempuh jalan takut (khauf) sehingga semua pengikutnya dikuasai oleh rasa takut dan putus harap akan keselamatan mereka, sedangkan yang kedua adalah Syaikh Yahya bin Mu’adz,ra., sezaman dengan Imam Junayd al Bagdadi,ra., yang menempuh jalan harap (roja) sehingga dia mengikat erat tangan-tangan semua murid-muridnya pada harap (roja). Seseorang berkata kepada Syaikh Mu’adz,ra., : ‘Wahai Syaikh, maqom-mu adalah maqom harap, tetapi amalanmu adalah amalan orang-orang yang takut.’ Dijawab : ‘Ketahuilah, anakku, bahwa meninggalkan ibadah kepada Tuhan, adalah tersesat.’ Jawaban ini menunjukkan upaya yang sungguh dalam melakukan riyadhah dan mujahdah atau dalam melaksanakan dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah, tanpa menganggap sepele amalan-amalan yang sekecil apapun, meskipun hanya memberikan sebuah kurma. Takut (khauf) dan harap (roja) adalah dua sokoguru iman. Mustahil bagi seseorang akan tersesat lantaran mengamalkan salah satu diantara keduanya. Orang-orang yang takut (khauf) itu melakukan ibadah karena takut berpisah dari Tuhan, dan orang-orang yang berharap (roja) itu melakukannya karena berharap dapat bersatu dengan Tuhan. Kelompok dzahiran menyangkal adanya ‘kebersatuan dengan Tuhan’, padahal yang dimaksud persatuan dengan Tuhan adalah perpisahan dari segala yang lain, dan perpisahan dari segala yang lain adalah persatuan dengan-Nya. Seseorang yang pikirannya bersatu dengan Tuhan, dia terpisah dari segala yang lain, dan sebaliknya, karena itu, persatuan pikiran dengan Tuhan merupakan perpisahan dari memikirkan benda-benda ciptaan, dan berpaling dari fenomena adalah berpaling kepada Tuhan. Tanpa dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah yang keras takut (khauf) dan harap (roja) tak bisa benar-benar dirasakan.
Beberapa Syaikh sufi mengatakan bahwa memasuki pintu maqom harap (roja), setelah berada pada maqom takut (khauf), sehingga ketakutannya akan sirna manakala harapannya terhadap janji Allah meliputi hatinya. Rahmat Allah sangat diharapkan oleh manusia yang beriman dan berilmu tinggi, karena bila Allah menggunakan Keadilan-Nya, maka tak satupun manusia akan selamat, oleh sebab timbangan (mizan) akan terlalu berat kekiri lantaran dosa-dosa yang di perbuatnya dibanding dengan rasa syukur terhadap nikmat-nikmat yang dihamparkan oleh-Nya. Karena manusia yang bersyukur atas rahmat Allah sangat sedikit, melihatnya harus menggunakan kacamata ilmu. Seperti seseorang yang ingin menghadiri acara pesta pernikahan, setelah selesai menghias diri dan bersiap-siap berangkat, tiba-tiba hujan lebat turun. Dalam keadaan ini kebanyakan orang akan menggerutu lantaran hujan ini, padahal hujan adalah Rahmat Allah, yang menghidupi bumi dan makhluk yang berada didalam maupun diatasnya. Oleh karenanya harapan akan dipenuhinya janji yang berupa rahmat ini menjadi begitu penting dan sangat kuat. Sehingga Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Kita harus mewaspadai rahmat Allah SWT, mensyukuri, mencermatinya dengan banyak melakukan peribadatan. Rahmat ada didalam sifat ar-Rahman-Nya, Allah SWT masih menggenggam 99 rahmat untuk diberikan kepada orang mukmin saja di akhirat nantinya, sedangkan 1 rahmat telah dan akan terus dihamparkan di dunia dan seisinya yang dinikmati oleh seluruh makhluk, termasuk manusia yang disebutkan paling sempurna dan paling murni.’ Rahmat diturunkan dari sifat Ar-Rahmaan, satu rahmat saja untuk dunia ini, menjadikan segala sesuatu terhampar ada. Lalu manusia diberikan kebebasan untuk memilih, untuk kebaikan atau kejahatan. Orang kaya bisa menjadi sombong karena harta banyak, berarti hati manuisa tidak mampu menahan satu rahmat saja yg diturunkan keatas bumi ini, lalu siapa yang mampu menahannya? Ialah para akhli dzikir yang hatinya lembut dan tenang, dan pastinya dipakainya untuk kebaikan-kebaikan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Allah memiliki sifat Yang Maha Pengampun, yaitu menyembunyikan dosa-dosa manusia diatas bumi ini, dan dengan tidak membalasnya di akhirat nantinya. Sifat ini dibagi menjadi tiga tahapan yang seluruhnya mengandung harap (roja). Allah Maha menutupi aib manusia diatas bumi ini disebut AL Ghafir (Yang Mengampuni), termasuk menutupi bagian tubuh yang mata akan jijik melihatnya, seperti usus, limpa, otak dengan keindahan bagian luar tubuh. Kemudian Dia juga menutupi pikiran-pikiran buruk, maksud buruk, penipuan dan pengkhianatan manusia, bila tidak demikian maka tak satupun makhluk di bumi ini yang mau bergaul satu dengan yang lainnya, karena bentuk aib-nya begitu memalukan, oleh karena itu Dia menyembunyikannya. Mengapa? Karena Rahmaan dan Rahiim-Nya, meskipun, kebanyakan manusia setelah ditutupi aibnya merasa bagai orang bersih dan bertingkah bagai akhli surga. Lalu Al Ghofur (Yang Maha Mengampuni), yang menunjukkan banyak pengampunan terhadap banyak pelanggaran dan menyelimutinya segala dosa-dosa dan kesalahan manusia, malaikat pun tidak mengetahuinya, tentu bagi orang Islam saja. Lalu ada satu lagi Al Ghofar (Yang Penuh Pengampunan), menunjukkan keberulangan pengampunan terhadap kesalahan manusia dan Allah menutupi segala dosa-dosa. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Setelah shalat Jum’at sangat baik mewiridkan ‘Ya Allah … ya Ghofur .. ya Ghofur’ seratus kali banyaknya, Allah akan mempertebal harapan (raja) didalam hati seseorang akan janji Allah SWT berupa ‘Rahmat-Ku mendahului Murka-Ku’.
Rasulullah,saw., bersabda : 'Kalaulah ditimbang rasa takut dan harap orang beriman, niscaya keduanya pasti berimbang.' Namun, ada suatu keadaan dimana harapan seseorang lebih besar ketimbang rasa takutnya kepada Allah SWT, dan harapan semua orang Islam mestilah demikian, yakni ketika dalam keadaan sakaratul maut. Rasulullah,saw., bersabda : 'Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.' Yang dimaksud adalah menyadari bahwa rahmat Allah lebih didahulukan-Nya daripada murka-Nya, dan meyakini betapa luasnya Kasih Sayang serta pertolongan-Nya. Dengan demikian, harapan kepada rahmat dan kasih sayang Allah akan lebih besar ketimbang rasa takutnya terhadap Keperkasaan-Nya, sehingga ia akan mendekat kepada Allah dan dengan penuh harap memohon belas kasihan-Nya dengan hati yang tawadhu serta menyesali segala kesalahan dan dosa, agar pengharapannya itu dikabulkan oleh Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah SWT berkenan mengantar para pejalan masuk kedalam masuk harap ini, sehingga dapat merasakannya, bila tidak hanya menjadi sebuah cerita saja.’
Allah SWT berfirman : ‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.’ (QS 033 : 21)
Masih tentang harap (roja), namun dari perspektif yang berbeda, khususnya harapan akan rahmat Allah. Dalam hal ini yang dimaksud dengan harap (roja) adalah keadaan hati yang sepenuhnya terpaut kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi dimasa yang akan datang, sebagaimana takut (khauf) juga demikian. Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘“Harap (roja) yang sangat kuat terletak pada janji Allah SWT, seperti yang tertuang pada hadist qudsi, bahwa Rasulullah,saw., bersabda, bahwa Allah SWT berfirman : ‘Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.’” Orang awam mungkin saja sering mendengar hadist ini, namun tidak memasuki sebuah rasa yang hakiki dan terbukanya rahasia-rahasia yang berada didalamnya. Oleh karenanya mereka menyikapinya dengan biasa-biasa saja. Berbeda dengan para mutashowif atau para penempuh jalan kesucian (kesufian) yang telah tenggelam didalam muroqobah (meditasi) Ismul Azhom, khususnya yang berkenaan dengan sifat Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim dan Al-Ghofur. Sebagaimana kayu yang terbakar oleh api, maka sifat-sifat kayu akan hilang dan menjelma menjadi api, demikian pula para akhli muroqobah (meditasi), manakala sifat-sifat dirinya lenyap dan terkuasai oleh Sifat-Sifat-NYa, akan menjadikan cara pandang, rasa dan daya pikirnya terhadap rahmat Allah menjadi berbeda. Disinilah para pejalan telah terbusanai maqom harap (roja) yang kuat.
Pemilik maqom raja tertinggi ada pada diri Abu Bakar as-Siddiq,ra., sehingga harapannya terhadap janji Allah mendekati tashdiq (pembenaran). Ketika perang badar berlangsung Rasulullah,saw., berdoa : ‘Ya Allah, jika sekelompok manusia ( dari umat Islam) ini Engkau hancurkan, maka setelah itu Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.’ Mendengar itu, Abu Bakar,ra., berkata : ‘Wahai Rasulullah tinggalkanlah permohonanmu itu, sebab, demi Allah, Dia pasti mengabulkan apa yang dijanjikan kepada-Mu.’ Janji yang dimaksud adalah sesuai dengan wahyu yang turun beberapa waktu sebelum perang badar terjadi : ‘Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.’ (QS 008 : 12) Pada kisah ini, ada permohonan dan keyakinan terhadap pengabulan akan janji Allah. Rasulullah,saw., lebih mengetahui Allah daripada Abu Bakar,ra., sementara Abu Bakar,ra., lebih kuat imannya daripada para sahabat yang lain. Sah hukumnya dan tidak merusak adab bagi seorang sahabat menyampaikan pendapatnya kepada sahabat yang lain. Hal ini menunjukkan hubungan kedekatan yang istimewa antara Rasulullah,saw., dengan sahabat gua-nya ini. Meskipun Rasulullah,saw., jauh lebih sempurna daripada Abu Bakar,ra., dalam segala kondisi spiritual, sehingga beliau tahu dari Allah apa yang tidak diketahui Abu Bakar,ra., dan juga sahabat yang lain. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Pemilik maqom raja, tidak diperkenankan menyampaikan hal-hal yang dikhususkan bagi dirinya kepada orang lain.’ Dikhawatirkan dengan menyampaikan keajaiban-keajaiban ‘Kemurahan Tuhan’ akan membuat murid-murid menjadi malas dan bersandar kepada Kemurahan-Nya tanpa melakukan tindak riyadhah dan mujahadah yang gigih.
Untuk membangkitkan semangat juang para pejalan yang telah menyentuh maqom harap (roja), Syah Syuja Kirmani,ra., berkata kepada Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., murid kesayangan dari Syaikh Yahya bin Mu’adz,ra., : ‘Engkau telah dibesarkan dalam doktrin harap ‘raja’, yang menjadi sikap gurumu. Tak seorang pun yang telah menghirup doktrin ini dapat menempuh jalan penyucian karena suatu kepercayaan mekanis kepada harap (raja) menghasilkan kemalasan.’ Ketika di Nisyapur Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., mengakui ujaran ini dan berkata dalam pandangan yang berbeda : ‘Sudah sepantasnya orang yang telah Tuhan muliakan dengan makrifat, tidak menghinakan dirinya dengan kedurhakaan kepada Tuhan.’ Kedurhakaan adalah tindak manusia sedangkan makrifat merupakan anugerah Tuhan. Mustahil bahwa orang yang dimuliakan dengan anugerah Tuhan akan terhina karena tindakannya sendiri. Sebagaimana Tuhan memuliakan Adam,as., dengan pengetahuan dan Dia tidak menghinakannya lantaran dosa yang diperbuatnya. Karenanya, pengetahuan yang dibukakan kepada para Aulia Allah terhadap hal-hal yang demikian, jika disampaikan kepada murid-murid bisa jadi disalah artikan, sehingga mereka terjerumus kedalam jurang kemalasan dan bersandar kepada Kemurahan Tuhan dari sifat Kasih Sayang-Nya kepada manusia yang tidak terbatas.
Terdapat dua orang yang bernama Yahya dalam sejarah Islam, yang menempuh jalan takut (khauf) dan harap (roja) begitu tinggi, yang pertama adalah nabiyullah Yahya bin Zakaria,as., yang menempuh jalan takut (khauf) sehingga semua pengikutnya dikuasai oleh rasa takut dan putus harap akan keselamatan mereka, sedangkan yang kedua adalah Syaikh Yahya bin Mu’adz,ra., sezaman dengan Imam Junayd al Bagdadi,ra., yang menempuh jalan harap (roja) sehingga dia mengikat erat tangan-tangan semua murid-muridnya pada harap (roja). Seseorang berkata kepada Syaikh Mu’adz,ra., : ‘Wahai Syaikh, maqom-mu adalah maqom harap, tetapi amalanmu adalah amalan orang-orang yang takut.’ Dijawab : ‘Ketahuilah, anakku, bahwa meninggalkan ibadah kepada Tuhan, adalah tersesat.’ Jawaban ini menunjukkan upaya yang sungguh dalam melakukan riyadhah dan mujahdah atau dalam melaksanakan dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah, tanpa menganggap sepele amalan-amalan yang sekecil apapun, meskipun hanya memberikan sebuah kurma. Takut (khauf) dan harap (roja) adalah dua sokoguru iman. Mustahil bagi seseorang akan tersesat lantaran mengamalkan salah satu diantara keduanya. Orang-orang yang takut (khauf) itu melakukan ibadah karena takut berpisah dari Tuhan, dan orang-orang yang berharap (roja) itu melakukannya karena berharap dapat bersatu dengan Tuhan. Kelompok dzahiran menyangkal adanya ‘kebersatuan dengan Tuhan’, padahal yang dimaksud persatuan dengan Tuhan adalah perpisahan dari segala yang lain, dan perpisahan dari segala yang lain adalah persatuan dengan-Nya. Seseorang yang pikirannya bersatu dengan Tuhan, dia terpisah dari segala yang lain, dan sebaliknya, karena itu, persatuan pikiran dengan Tuhan merupakan perpisahan dari memikirkan benda-benda ciptaan, dan berpaling dari fenomena adalah berpaling kepada Tuhan. Tanpa dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah yang keras takut (khauf) dan harap (roja) tak bisa benar-benar dirasakan.
Beberapa Syaikh sufi mengatakan bahwa memasuki pintu maqom harap (roja), setelah berada pada maqom takut (khauf), sehingga ketakutannya akan sirna manakala harapannya terhadap janji Allah meliputi hatinya. Rahmat Allah sangat diharapkan oleh manusia yang beriman dan berilmu tinggi, karena bila Allah menggunakan Keadilan-Nya, maka tak satupun manusia akan selamat, oleh sebab timbangan (mizan) akan terlalu berat kekiri lantaran dosa-dosa yang di perbuatnya dibanding dengan rasa syukur terhadap nikmat-nikmat yang dihamparkan oleh-Nya. Karena manusia yang bersyukur atas rahmat Allah sangat sedikit, melihatnya harus menggunakan kacamata ilmu. Seperti seseorang yang ingin menghadiri acara pesta pernikahan, setelah selesai menghias diri dan bersiap-siap berangkat, tiba-tiba hujan lebat turun. Dalam keadaan ini kebanyakan orang akan menggerutu lantaran hujan ini, padahal hujan adalah Rahmat Allah, yang menghidupi bumi dan makhluk yang berada didalam maupun diatasnya. Oleh karenanya harapan akan dipenuhinya janji yang berupa rahmat ini menjadi begitu penting dan sangat kuat. Sehingga Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Kita harus mewaspadai rahmat Allah SWT, mensyukuri, mencermatinya dengan banyak melakukan peribadatan. Rahmat ada didalam sifat ar-Rahman-Nya, Allah SWT masih menggenggam 99 rahmat untuk diberikan kepada orang mukmin saja di akhirat nantinya, sedangkan 1 rahmat telah dan akan terus dihamparkan di dunia dan seisinya yang dinikmati oleh seluruh makhluk, termasuk manusia yang disebutkan paling sempurna dan paling murni.’ Rahmat diturunkan dari sifat Ar-Rahmaan, satu rahmat saja untuk dunia ini, menjadikan segala sesuatu terhampar ada. Lalu manusia diberikan kebebasan untuk memilih, untuk kebaikan atau kejahatan. Orang kaya bisa menjadi sombong karena harta banyak, berarti hati manuisa tidak mampu menahan satu rahmat saja yg diturunkan keatas bumi ini, lalu siapa yang mampu menahannya? Ialah para akhli dzikir yang hatinya lembut dan tenang, dan pastinya dipakainya untuk kebaikan-kebaikan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Allah memiliki sifat Yang Maha Pengampun, yaitu menyembunyikan dosa-dosa manusia diatas bumi ini, dan dengan tidak membalasnya di akhirat nantinya. Sifat ini dibagi menjadi tiga tahapan yang seluruhnya mengandung harap (roja). Allah Maha menutupi aib manusia diatas bumi ini disebut AL Ghafir (Yang Mengampuni), termasuk menutupi bagian tubuh yang mata akan jijik melihatnya, seperti usus, limpa, otak dengan keindahan bagian luar tubuh. Kemudian Dia juga menutupi pikiran-pikiran buruk, maksud buruk, penipuan dan pengkhianatan manusia, bila tidak demikian maka tak satupun makhluk di bumi ini yang mau bergaul satu dengan yang lainnya, karena bentuk aib-nya begitu memalukan, oleh karena itu Dia menyembunyikannya. Mengapa? Karena Rahmaan dan Rahiim-Nya, meskipun, kebanyakan manusia setelah ditutupi aibnya merasa bagai orang bersih dan bertingkah bagai akhli surga. Lalu Al Ghofur (Yang Maha Mengampuni), yang menunjukkan banyak pengampunan terhadap banyak pelanggaran dan menyelimutinya segala dosa-dosa dan kesalahan manusia, malaikat pun tidak mengetahuinya, tentu bagi orang Islam saja. Lalu ada satu lagi Al Ghofar (Yang Penuh Pengampunan), menunjukkan keberulangan pengampunan terhadap kesalahan manusia dan Allah menutupi segala dosa-dosa. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Setelah shalat Jum’at sangat baik mewiridkan ‘Ya Allah … ya Ghofur .. ya Ghofur’ seratus kali banyaknya, Allah akan mempertebal harapan (raja) didalam hati seseorang akan janji Allah SWT berupa ‘Rahmat-Ku mendahului Murka-Ku’.
Rasulullah,saw., bersabda : 'Kalaulah ditimbang rasa takut dan harap orang beriman, niscaya keduanya pasti berimbang.' Namun, ada suatu keadaan dimana harapan seseorang lebih besar ketimbang rasa takutnya kepada Allah SWT, dan harapan semua orang Islam mestilah demikian, yakni ketika dalam keadaan sakaratul maut. Rasulullah,saw., bersabda : 'Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.' Yang dimaksud adalah menyadari bahwa rahmat Allah lebih didahulukan-Nya daripada murka-Nya, dan meyakini betapa luasnya Kasih Sayang serta pertolongan-Nya. Dengan demikian, harapan kepada rahmat dan kasih sayang Allah akan lebih besar ketimbang rasa takutnya terhadap Keperkasaan-Nya, sehingga ia akan mendekat kepada Allah dan dengan penuh harap memohon belas kasihan-Nya dengan hati yang tawadhu serta menyesali segala kesalahan dan dosa, agar pengharapannya itu dikabulkan oleh Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah SWT berkenan mengantar para pejalan masuk kedalam masuk harap ini, sehingga dapat merasakannya, bila tidak hanya menjadi sebuah cerita saja.’
Kamis, 14 Januari 2010
HARAP (RAJA)
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Allah SWT berfirman : ‘Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya’. (QS 018 : 110) Dan ‘ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.’ (QS 033 : 21)
Perjumpaan dengan Tuhan membutuhkan dua sayap, yaitu sayap harap (raja) dan sayap takut (khauf), kedua-duanya harus seimbang, bila tidak, arah terbangnya tidak beraturan dan sulit mencapai sasarannya. Para syaikh sufi sepakat, bahwa maqom raja mempunyai kedudukan yang mulia. Karena, sifat Kemurahan Tuhan telah meliputi hatinya dan menutup pandangan dari yang lain. Tidak mungkin maqom harap ini berada pada seseorang tanpa melalui perjuangan yang keras. Karena, selama disebut maqom pastilah menimbulkan kewajiban-kewajiban tertentu pada pemiliknya dan tidak diperbolehkan menyia-nyiakannya. Sebagaimana petani yang bermula membajak tanah, menyiapkan bibit unggul, memberikan pupuk dan, menjaga kadar air, lalu menanaminya, dan pada setiap harinya membersihkan dari tanaman liar, memberi pupuk dan menjaga dari serangan hama. Sang petani tidak boleh lengah dari kewajibannya pada setiap hari, barulah muncul harapan yang besar akan memperoleh hasil yang baik. Hati menjadi hidup oleh harapan-harapan yang melenyapkan kekhawatiran lantaran jerih payahnya itu. Sebagaimana tuntutan ayat diatas bahwa harapan perjumpaan dengan Tuhan wajib didahului oleh mengerjakan amal sholeh dan memurnikan tauhid (QS 018 : 110), dan salah satu bentuk amal sholeh yang terbaik serta terhindar dari sesuatu yang haram adalah dzikrullah (QS 033 : 21). Oleh karenanya harapan tanpa sebuah usaha yang keras akan sia-sia, dan harapan tanpa usaha adalah angan-angan. Harapan adalah sifat terpuji (mahmudah) dan angan-angan adalah sifat tercela (majmumah).
Untuk membuktikan seorang raja itu pengampun, mesti ada tindak kesalahan terlebih dahulu, lalu keputusan sang raja menjadi ukurannya, barulah diketahui bahwa rajanya memang mempunyai sifat pengampun. Sehingga tingkat pemaafan dari tindak kesalahan menjadi ukuran, semakin sifat raja itu pengampun semakin tinggi harapan rakyat memperoleh pengampunan dari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Karenanya, Allah SWT, Yang Maha Pengampun, menjadikan manusia melakukan dosa guna memanifestasikan sifat-Nya. Bisa jadi, dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia itu, diampuni-Nya dengan cara yang misterius. Diketahui ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa bersegeralah berbuat kebaikan, karena kebaikan akan mengganti keburukan-keburukan yang telah dilakukan. Namun pada kisah ini berbeda, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ats-Tsaqoty menuturkan : “Suatu hari aku melihat iringan keranda yang dipikul oleh tiga laki-laki dan seorang wanita, tanpa ada orang lain yang mengantarkannya. Aku maju menggantikan si wanita dan menuju ke kuburan. Setelah selesai proses penguburan, aku bertanya kepada wanita itu : ‘Apa hubunganmu dengan orang yang meninggal ini?’ Dijawab : ‘Ia anakku.’ Aku bertanya : ‘Apakah anda mempunyai tetangga?’ Ia menjawab : ‘Ya, tetapi mereka semua memandang hina kepada anakku yang meninggal.’ Aku bertanya : ‘Mengapa?’ Ia menjawab : ‘Karena ia seorang banci.’ Aku merasa kasihan kepada wanita itu, lalu kuberi sedikit uang, gandum dan pakaian. Malam itu aku bermimpi melihat seorang pemuda datang kepadaku. Wajahnya berseri bagaikan bulan purnama, berpakaian serba putih dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Ketika aku bertanya siapa dirinya, ia menjelaskan, ‘Aku adalah si orang banci yang anda kuburkan tadi siang. Tuhanku telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku disebabkan hinaan orang-orang kepadaku.’”
Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata pada pengajian hari Jum’at tanggal 8 Januari 2010, bahwa : ‘Harap (raja) itu ada tiga macam, yakni, raja fiddunya, raja fil akhirah dan raja fillah.’ Yang pertama adalah, harapan akan upayanya mencari penghidupan didunia ini terkabulkan, kedua, adalah harapan akan surgawi atas jerih payahnya melakukan tindak peribadatan di dunia ini, dan ketiga adalah harapan ‘kebersatuan’ dengan Allah SWT.
Seseorang mesti mengukur dirinya sendiri tatkala pada tahapan raja fiddunya, apakah harapan vertikalnya (kepada Allah SWT) lebih besar dari harapan horizontalnya (harapan urusan-urusan dunya) atau sebaliknya harapan kepada horizontalnya melebihi harapan vertikalnya. Oleh karenannya raja fiddunya ini tidak termasuk kedalam maqom raja, karena justru harapan yang demikian akan memperkokoh hijab-hijab menuju Allah SWT. Syaikh sufi dari tarekat Naqsyabandiyah mengatakan bahwa ; ‘Terlalu memikirkan urusan-urusan dunya akan menutup pintu kedekatan kepada Allah SWT.’ Sedangkan raja fil akhirah, adalah harapan yang timbul dari melakukan tindak peribadatan. Meskipun kelompok ini masih masuk kedalam melakukan perdagangan dengan Allah SWT, namun sudah tergolong baik. Para mutashowwif tidak lagi berada pada raja fiddunya dan faja fil akhirah, melainkan berupaya menggapai maqom raja fillah. Agar berada pada kedekatan hati atas kemurahan Tuhan.
Seseorang bertanya : ‘Adakah tanda adanya harapan pada seorang hamba?’ Syah al-Kirmany,ra., mengatakan bahwa : ‘Tanda adanya harapan adalah taat yang baik.’ Sedangkan Syaikh Ahmad bin Ashim al-Anthaky,qs. menjawab bahwa : ‘Tandanya dalah manakala ia menerima nikmat anugerah (ihsan), ia terilhami untuk bersyukur, penuh harap akan penuhnya rahmat Allah SWT di dunya ini dan penuhnya pengampunan-Nya di akhirat.’
Allah SWT berfirman : ‘Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya’. (QS 018 : 110) Dan ‘ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.’ (QS 033 : 21)
Perjumpaan dengan Tuhan membutuhkan dua sayap, yaitu sayap harap (raja) dan sayap takut (khauf), kedua-duanya harus seimbang, bila tidak, arah terbangnya tidak beraturan dan sulit mencapai sasarannya. Para syaikh sufi sepakat, bahwa maqom raja mempunyai kedudukan yang mulia. Karena, sifat Kemurahan Tuhan telah meliputi hatinya dan menutup pandangan dari yang lain. Tidak mungkin maqom harap ini berada pada seseorang tanpa melalui perjuangan yang keras. Karena, selama disebut maqom pastilah menimbulkan kewajiban-kewajiban tertentu pada pemiliknya dan tidak diperbolehkan menyia-nyiakannya. Sebagaimana petani yang bermula membajak tanah, menyiapkan bibit unggul, memberikan pupuk dan, menjaga kadar air, lalu menanaminya, dan pada setiap harinya membersihkan dari tanaman liar, memberi pupuk dan menjaga dari serangan hama. Sang petani tidak boleh lengah dari kewajibannya pada setiap hari, barulah muncul harapan yang besar akan memperoleh hasil yang baik. Hati menjadi hidup oleh harapan-harapan yang melenyapkan kekhawatiran lantaran jerih payahnya itu. Sebagaimana tuntutan ayat diatas bahwa harapan perjumpaan dengan Tuhan wajib didahului oleh mengerjakan amal sholeh dan memurnikan tauhid (QS 018 : 110), dan salah satu bentuk amal sholeh yang terbaik serta terhindar dari sesuatu yang haram adalah dzikrullah (QS 033 : 21). Oleh karenanya harapan tanpa sebuah usaha yang keras akan sia-sia, dan harapan tanpa usaha adalah angan-angan. Harapan adalah sifat terpuji (mahmudah) dan angan-angan adalah sifat tercela (majmumah).
Untuk membuktikan seorang raja itu pengampun, mesti ada tindak kesalahan terlebih dahulu, lalu keputusan sang raja menjadi ukurannya, barulah diketahui bahwa rajanya memang mempunyai sifat pengampun. Sehingga tingkat pemaafan dari tindak kesalahan menjadi ukuran, semakin sifat raja itu pengampun semakin tinggi harapan rakyat memperoleh pengampunan dari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Karenanya, Allah SWT, Yang Maha Pengampun, menjadikan manusia melakukan dosa guna memanifestasikan sifat-Nya. Bisa jadi, dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia itu, diampuni-Nya dengan cara yang misterius. Diketahui ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa bersegeralah berbuat kebaikan, karena kebaikan akan mengganti keburukan-keburukan yang telah dilakukan. Namun pada kisah ini berbeda, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ats-Tsaqoty menuturkan : “Suatu hari aku melihat iringan keranda yang dipikul oleh tiga laki-laki dan seorang wanita, tanpa ada orang lain yang mengantarkannya. Aku maju menggantikan si wanita dan menuju ke kuburan. Setelah selesai proses penguburan, aku bertanya kepada wanita itu : ‘Apa hubunganmu dengan orang yang meninggal ini?’ Dijawab : ‘Ia anakku.’ Aku bertanya : ‘Apakah anda mempunyai tetangga?’ Ia menjawab : ‘Ya, tetapi mereka semua memandang hina kepada anakku yang meninggal.’ Aku bertanya : ‘Mengapa?’ Ia menjawab : ‘Karena ia seorang banci.’ Aku merasa kasihan kepada wanita itu, lalu kuberi sedikit uang, gandum dan pakaian. Malam itu aku bermimpi melihat seorang pemuda datang kepadaku. Wajahnya berseri bagaikan bulan purnama, berpakaian serba putih dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Ketika aku bertanya siapa dirinya, ia menjelaskan, ‘Aku adalah si orang banci yang anda kuburkan tadi siang. Tuhanku telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku disebabkan hinaan orang-orang kepadaku.’”
Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata pada pengajian hari Jum’at tanggal 8 Januari 2010, bahwa : ‘Harap (raja) itu ada tiga macam, yakni, raja fiddunya, raja fil akhirah dan raja fillah.’ Yang pertama adalah, harapan akan upayanya mencari penghidupan didunia ini terkabulkan, kedua, adalah harapan akan surgawi atas jerih payahnya melakukan tindak peribadatan di dunia ini, dan ketiga adalah harapan ‘kebersatuan’ dengan Allah SWT.
Seseorang mesti mengukur dirinya sendiri tatkala pada tahapan raja fiddunya, apakah harapan vertikalnya (kepada Allah SWT) lebih besar dari harapan horizontalnya (harapan urusan-urusan dunya) atau sebaliknya harapan kepada horizontalnya melebihi harapan vertikalnya. Oleh karenannya raja fiddunya ini tidak termasuk kedalam maqom raja, karena justru harapan yang demikian akan memperkokoh hijab-hijab menuju Allah SWT. Syaikh sufi dari tarekat Naqsyabandiyah mengatakan bahwa ; ‘Terlalu memikirkan urusan-urusan dunya akan menutup pintu kedekatan kepada Allah SWT.’ Sedangkan raja fil akhirah, adalah harapan yang timbul dari melakukan tindak peribadatan. Meskipun kelompok ini masih masuk kedalam melakukan perdagangan dengan Allah SWT, namun sudah tergolong baik. Para mutashowwif tidak lagi berada pada raja fiddunya dan faja fil akhirah, melainkan berupaya menggapai maqom raja fillah. Agar berada pada kedekatan hati atas kemurahan Tuhan.
Seseorang bertanya : ‘Adakah tanda adanya harapan pada seorang hamba?’ Syah al-Kirmany,ra., mengatakan bahwa : ‘Tanda adanya harapan adalah taat yang baik.’ Sedangkan Syaikh Ahmad bin Ashim al-Anthaky,qs. menjawab bahwa : ‘Tandanya dalah manakala ia menerima nikmat anugerah (ihsan), ia terilhami untuk bersyukur, penuh harap akan penuhnya rahmat Allah SWT di dunya ini dan penuhnya pengampunan-Nya di akhirat.’
Rabu, 13 Januari 2010
TAREKAT DAN MAJLIS DZIKIR
Bismillahir Rahmaanir Rahiim.
Allah SWT berfirman : ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.’ (QS 005 : 35).
Akhir-akhir ini banyak bermunculan majlis dzikir, tujuannya mestinya sama, yakni ingin memperoleh pengampunan dan pensucian dari Allah SWT. Meskipun, pada awalnya ada beberapa majlis yang dikenal sebagai tempat pengobatan dari berbagai penyakit dan atau tempat menimba kesaktian. Setelah diketahui banyak masyarakat yang haus akan praktik dzikir, dan pada setiap kesempatan acara dzikir berjamaah selalu penuh, maka majlis-majlis tadi berbondong-bondong merubah namanya menjadi majlis dzikir. Tidak mengapa, karena untuk menarik orang agar mau berdzikir harus diiming-imingi dengan hal-hal yang disukainya, asalkan tujuannya tidak untuk yang lain kecuali bersama-sama mengagungkan dan meng-esa-kan Allah se-esa-esa-Nya.
Pada kelompok majlis dzikir tarekat, ritual utamanya melakukan praktek dzikir berjamaah dengan cara-cara yang menakjubkan, sekaligus didalamnya ada majlis ilmu. Berbeda dengan kelompok majlis-majlis dzikir yang banyak bermunculan akhir-akhir ini, yang mempunyai niat untuk mencari nafkah, kekayaan, popularitas, dan penggalangan masa untuk tujuan politik. Kaifiat atau cara-cara dzikir, wirid, muroqobah, munqobah, yang dipraktekkan oleh kelompok majlis dzikir tarekat diseluruh dunia akan tetap sama, sejak dari para masyaikh terdahulu yang sanadnya sampai kepada Rasulullah,saw., hingga saat ini dan insya Allah sampai akhir zaman nantinya, sedangkan pada majlis dzikir yang bukan tarekat cara-caranya sesuai dengan kehendak pemimpinnya. Nama tarekat selalu menggunakan nama pembimbing spiritualnya terdahulu, yang telah mencapai tingkat kewalian yang tinggi dan tertinggi (Qutub), seperti Qodiriyah diambil dari nama Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir al Jailani,qs., lalu ada Naqsyabandiyah yang diambil dari nama Syaikh Muhammad Bahaudin Syah Naqsyabandi,qs., lalu ada Chistiyah yang diambil dari nama Syaikh Muinuddin Cisty,qs., lalu ada Tijaniyah yang diambil dari nama Syaikh Ahmad Tijani,qs., lalu ada Sadziliyah diambil dari nama Imam Sadzili,ra. Tujuannya adalah untuk mendapatkan limpahan barokah dari kedekatan para masyaikh terdahulu kepada Tuhannya, agar dengan melestarikan dan tetap istiqomah mempraktekkan ajarannya, Tuhan berkenan meridhoi para pelakunya. Orang-orang yang telah sampai kepada Tuhan, mereka sebut sufi, sedangkan yang dalam perjalanan menuju Tuhan, mereka sebut mutashowwif dan ada yang berpura-pura berada pada jalan ini, yang secara lahiriyah menyerupai para sufi sekedar untuk mencari uang, kekayaan, kekuasaan, serta keuntungan-keuntungan duniawi, tapi sedikitpun tidak mempunyai pengetahuan tentang ilmu kesufian, mereka sebut mutashwif. Kelompok mutashwif ini, tumbuh subur dinegeri tercinta kita, jumlahnya banyak, bagai jamur yang tumbuh dimusim hujan. Pertanda bahwa, kita berada pada zaman kelemahan atau kemunduran dari kesucian. Akibatnya, ketamakan mendorong penguasa untuk bertindak sewenang-wenang, dan nafsu birahi mendorong ulama berbuat zina dan kemesuman. Dan sifat-sifat bermegah-megah mendorong ulama menjadi munafik, serta kebanggaan diri mendorongnya untuk menari dan menyanyi. Dilain pihak, para pejalan yang bersungguh-sungguh (mutashowwif) yang jumlahnya sedikit, percaya bahwa, dengan memasang kecintaan, mengingat dan menyebut-nyebut nama gurunya terdahulu, yang dijadikan nama tarekatnya, akan menjadikan wasilah atau tali agama guna menghubungkan secara cepat dari yang fenomena menuju kepada realitas, lantaran kedekatan mereka dengan Allah SWT. Sedangkan bagi majlis dzikir tidak demikian, mereka biasa menggunakan nama-nama yang disukainya yang sesuai dengan warna jiwanya. Syaikh agung Hadrat Abu Yazid al Bisthami,ra., berkata : ‘Barang siapa yang bertasawuf tanpa seorang Syaikh, maka syaikhnya adalah syaithon.’
Allah SWT berfirman : 'Maka bertanyalah kepada akhli dzikir jika kamu tidak mengetahui.' (QS 016 : 43) Pada ayat ini secara tersirat mengindikasikan bahwa praktik-praktik dzikir wajib hukumnya mendapatkan pengetahuan yang meliputi fadhilah atau manfaat serta cara-cara pelaksanaannya dari akhlinya, dengan cara bai'at sebagai sunah nabawiyah. Sehingga, niscaya ilmu dzikir ini turun temurun dari para masyaikh terdahulu. Pada majlis dzikir tidak akan dapat menyebutkan guru-gurunya terdahulu dan mungkin tidak ada gurunya, berbeda dengan kelompok tarekat, yang mempunyai sejarah lengkap tentang guru-gurunya terdahulu, termasuk petuah-petuah dan cara-cara atau kaifiat ritualnya. Sebagai contoh, silsilah pada tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Bogor Baru - Indonesia, yang bermula dari Rasulullah,saw., Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra, Sayidina Al-Imam Abu Abdullah Al-Husein ra, Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin ra, Sayidina Al-Imam Muhammad Baqir ra, Sayidina Al-Imam Ja’far As Shodiq ra, Syaikh Al-Imam Musa Al Kazhim, Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali Bin Musa Al Rido, Syaikh Ma’ruf Al-Karkhi, Syaikh Abul Hasan Sarri As-Saqoti, Syaikh Al-Imam Abul Qosim Al Junaidi Al-Bagdadi, Syaikh Abu Bakar As-Syibli, Syaikh Abul Fadli Abdul Wahid At-Tamimi, Syaikh Abul Faraj Altartusi, Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hakkari, Syaikh Abu Sa’id Mubarok Al Makhzumi, Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Bagdadi,qs., Syaikh Abdul Aziz Subhana Ghousus Saqolain, Syaikh Muhammad Al Hattak, Syaikh Syamsudin, Syaikh Syarofudin, Syaikh Nurudin, Syaikh Waliyudin, Syaikh Husamudin, Syaikh Yahya, Syaikh Abu Bakar, Syaikh Abdurohim, Syaikh Usman, Syaikh Abdul Fatah, Syaikh Muhammad Murod, Syaikh Syamsudin, Syaikh Ahmad Khotib Al-Syambasi, Syaikh Abdul Karim Tanara Al Bantani, Syaikh Abdullah Mubarok Cibuntu (Syaikh. Abdul Khoir), Syaikh Nurun Naum Suryadipraja bin H.Agus tajudin, hingga telah sampai kepada guru kami tercinta Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin bin H.Aminudin.
Tujuan tarekat yang disebutkan diatas adalah membentuk para pengikutnya mempunyai akhlak yang baik, yang tindakan-tindakannya terpuji tanpa upacara atau motif, tidak memiliki pretensi, sehinga bentuknya selaras dengan ruhnya. Karena akhlak adalah buah dari menanam pohon kecintaan dan kepatuhan dalam melaksanakan pekerjaan tarekat yang diterima dari gurunya atau mursyidnya. Dan bukan seperti orang-orang yang mengaku bermoral namun yang hanya melakukan tindakan-tindakan seremonial yang tidak mempunyai reealitas dan maujud dari motif-motif tertentu, sehingga bentuknya berlainan dengan ruhnya.
Salah satu tanda keadaan spiritual seseorang sudah mulai membaik, adalah merasa asing berada di dunia ini. Karena hatinya bercahaya, lantaran jiwanya selaras dengan anasir (unsur) alam semesta ini, yakni bumi, air, api dan udara. Ruh-nya rindu akan kampung halamannya dan ingin selalu berdekat dengan Pencipta-Nya. Keadaan ini niscaya karena pekerjaan dzikir-dzikirnya yang dikerjakannya secara istiqomah dan dengan cara (kaifiat) yang benar. Ada dzikir dhorob atau dzikir nafi isbat, yaitu dzikir yang bersuara dengan satu, dua, tiga atau empat ketukan, yang bertujuan untuk mencerahkan hati. Lalu ada dzikir lathif, yaitu dzikir yang tidak bersuara dengan tujuh tingkatan, yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran, memberhangus sifat-sifat yang buruk (majmumah) dan menggantikannya dengan sifat-sifat yang baik (mahmudah). Kemudian ada dzikir lam nafi isbat, atau bisa disebut sebagai dzikir penutup setelah dzikir lathif selesai dikerjakan, yang berfungsi untuk memberhangus kemunafikan dan membangkitkan kecintaan kepada Allah SWT. Kemudian ada dzikir nafas (hifzul anfas) dengan tehnik yang bermacam-macam, dan masih banyak lagi. Nah orang asing, adalah orang yang cara padang, rasa dan daya pikirnya serta ucapannya berbeda dengan manusia biasa, karena hatinya telah terpenuhi oleh cahaya Tuhan, sehingga ruhnya selalu berada dilangit meskipun jasadnya dibumi bersama-sama keluarganya, murid-muridnya dan masyarakat lainnya.
Allah SWT berfirman : ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.’ (QS 005 : 35).
Akhir-akhir ini banyak bermunculan majlis dzikir, tujuannya mestinya sama, yakni ingin memperoleh pengampunan dan pensucian dari Allah SWT. Meskipun, pada awalnya ada beberapa majlis yang dikenal sebagai tempat pengobatan dari berbagai penyakit dan atau tempat menimba kesaktian. Setelah diketahui banyak masyarakat yang haus akan praktik dzikir, dan pada setiap kesempatan acara dzikir berjamaah selalu penuh, maka majlis-majlis tadi berbondong-bondong merubah namanya menjadi majlis dzikir. Tidak mengapa, karena untuk menarik orang agar mau berdzikir harus diiming-imingi dengan hal-hal yang disukainya, asalkan tujuannya tidak untuk yang lain kecuali bersama-sama mengagungkan dan meng-esa-kan Allah se-esa-esa-Nya.
Pada kelompok majlis dzikir tarekat, ritual utamanya melakukan praktek dzikir berjamaah dengan cara-cara yang menakjubkan, sekaligus didalamnya ada majlis ilmu. Berbeda dengan kelompok majlis-majlis dzikir yang banyak bermunculan akhir-akhir ini, yang mempunyai niat untuk mencari nafkah, kekayaan, popularitas, dan penggalangan masa untuk tujuan politik. Kaifiat atau cara-cara dzikir, wirid, muroqobah, munqobah, yang dipraktekkan oleh kelompok majlis dzikir tarekat diseluruh dunia akan tetap sama, sejak dari para masyaikh terdahulu yang sanadnya sampai kepada Rasulullah,saw., hingga saat ini dan insya Allah sampai akhir zaman nantinya, sedangkan pada majlis dzikir yang bukan tarekat cara-caranya sesuai dengan kehendak pemimpinnya. Nama tarekat selalu menggunakan nama pembimbing spiritualnya terdahulu, yang telah mencapai tingkat kewalian yang tinggi dan tertinggi (Qutub), seperti Qodiriyah diambil dari nama Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir al Jailani,qs., lalu ada Naqsyabandiyah yang diambil dari nama Syaikh Muhammad Bahaudin Syah Naqsyabandi,qs., lalu ada Chistiyah yang diambil dari nama Syaikh Muinuddin Cisty,qs., lalu ada Tijaniyah yang diambil dari nama Syaikh Ahmad Tijani,qs., lalu ada Sadziliyah diambil dari nama Imam Sadzili,ra. Tujuannya adalah untuk mendapatkan limpahan barokah dari kedekatan para masyaikh terdahulu kepada Tuhannya, agar dengan melestarikan dan tetap istiqomah mempraktekkan ajarannya, Tuhan berkenan meridhoi para pelakunya. Orang-orang yang telah sampai kepada Tuhan, mereka sebut sufi, sedangkan yang dalam perjalanan menuju Tuhan, mereka sebut mutashowwif dan ada yang berpura-pura berada pada jalan ini, yang secara lahiriyah menyerupai para sufi sekedar untuk mencari uang, kekayaan, kekuasaan, serta keuntungan-keuntungan duniawi, tapi sedikitpun tidak mempunyai pengetahuan tentang ilmu kesufian, mereka sebut mutashwif. Kelompok mutashwif ini, tumbuh subur dinegeri tercinta kita, jumlahnya banyak, bagai jamur yang tumbuh dimusim hujan. Pertanda bahwa, kita berada pada zaman kelemahan atau kemunduran dari kesucian. Akibatnya, ketamakan mendorong penguasa untuk bertindak sewenang-wenang, dan nafsu birahi mendorong ulama berbuat zina dan kemesuman. Dan sifat-sifat bermegah-megah mendorong ulama menjadi munafik, serta kebanggaan diri mendorongnya untuk menari dan menyanyi. Dilain pihak, para pejalan yang bersungguh-sungguh (mutashowwif) yang jumlahnya sedikit, percaya bahwa, dengan memasang kecintaan, mengingat dan menyebut-nyebut nama gurunya terdahulu, yang dijadikan nama tarekatnya, akan menjadikan wasilah atau tali agama guna menghubungkan secara cepat dari yang fenomena menuju kepada realitas, lantaran kedekatan mereka dengan Allah SWT. Sedangkan bagi majlis dzikir tidak demikian, mereka biasa menggunakan nama-nama yang disukainya yang sesuai dengan warna jiwanya. Syaikh agung Hadrat Abu Yazid al Bisthami,ra., berkata : ‘Barang siapa yang bertasawuf tanpa seorang Syaikh, maka syaikhnya adalah syaithon.’
Allah SWT berfirman : 'Maka bertanyalah kepada akhli dzikir jika kamu tidak mengetahui.' (QS 016 : 43) Pada ayat ini secara tersirat mengindikasikan bahwa praktik-praktik dzikir wajib hukumnya mendapatkan pengetahuan yang meliputi fadhilah atau manfaat serta cara-cara pelaksanaannya dari akhlinya, dengan cara bai'at sebagai sunah nabawiyah. Sehingga, niscaya ilmu dzikir ini turun temurun dari para masyaikh terdahulu. Pada majlis dzikir tidak akan dapat menyebutkan guru-gurunya terdahulu dan mungkin tidak ada gurunya, berbeda dengan kelompok tarekat, yang mempunyai sejarah lengkap tentang guru-gurunya terdahulu, termasuk petuah-petuah dan cara-cara atau kaifiat ritualnya. Sebagai contoh, silsilah pada tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Bogor Baru - Indonesia, yang bermula dari Rasulullah,saw., Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra, Sayidina Al-Imam Abu Abdullah Al-Husein ra, Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin ra, Sayidina Al-Imam Muhammad Baqir ra, Sayidina Al-Imam Ja’far As Shodiq ra, Syaikh Al-Imam Musa Al Kazhim, Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali Bin Musa Al Rido, Syaikh Ma’ruf Al-Karkhi, Syaikh Abul Hasan Sarri As-Saqoti, Syaikh Al-Imam Abul Qosim Al Junaidi Al-Bagdadi, Syaikh Abu Bakar As-Syibli, Syaikh Abul Fadli Abdul Wahid At-Tamimi, Syaikh Abul Faraj Altartusi, Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hakkari, Syaikh Abu Sa’id Mubarok Al Makhzumi, Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Bagdadi,qs., Syaikh Abdul Aziz Subhana Ghousus Saqolain, Syaikh Muhammad Al Hattak, Syaikh Syamsudin, Syaikh Syarofudin, Syaikh Nurudin, Syaikh Waliyudin, Syaikh Husamudin, Syaikh Yahya, Syaikh Abu Bakar, Syaikh Abdurohim, Syaikh Usman, Syaikh Abdul Fatah, Syaikh Muhammad Murod, Syaikh Syamsudin, Syaikh Ahmad Khotib Al-Syambasi, Syaikh Abdul Karim Tanara Al Bantani, Syaikh Abdullah Mubarok Cibuntu (Syaikh. Abdul Khoir), Syaikh Nurun Naum Suryadipraja bin H.Agus tajudin, hingga telah sampai kepada guru kami tercinta Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin bin H.Aminudin.
Tujuan tarekat yang disebutkan diatas adalah membentuk para pengikutnya mempunyai akhlak yang baik, yang tindakan-tindakannya terpuji tanpa upacara atau motif, tidak memiliki pretensi, sehinga bentuknya selaras dengan ruhnya. Karena akhlak adalah buah dari menanam pohon kecintaan dan kepatuhan dalam melaksanakan pekerjaan tarekat yang diterima dari gurunya atau mursyidnya. Dan bukan seperti orang-orang yang mengaku bermoral namun yang hanya melakukan tindakan-tindakan seremonial yang tidak mempunyai reealitas dan maujud dari motif-motif tertentu, sehingga bentuknya berlainan dengan ruhnya.
Salah satu tanda keadaan spiritual seseorang sudah mulai membaik, adalah merasa asing berada di dunia ini. Karena hatinya bercahaya, lantaran jiwanya selaras dengan anasir (unsur) alam semesta ini, yakni bumi, air, api dan udara. Ruh-nya rindu akan kampung halamannya dan ingin selalu berdekat dengan Pencipta-Nya. Keadaan ini niscaya karena pekerjaan dzikir-dzikirnya yang dikerjakannya secara istiqomah dan dengan cara (kaifiat) yang benar. Ada dzikir dhorob atau dzikir nafi isbat, yaitu dzikir yang bersuara dengan satu, dua, tiga atau empat ketukan, yang bertujuan untuk mencerahkan hati. Lalu ada dzikir lathif, yaitu dzikir yang tidak bersuara dengan tujuh tingkatan, yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran, memberhangus sifat-sifat yang buruk (majmumah) dan menggantikannya dengan sifat-sifat yang baik (mahmudah). Kemudian ada dzikir lam nafi isbat, atau bisa disebut sebagai dzikir penutup setelah dzikir lathif selesai dikerjakan, yang berfungsi untuk memberhangus kemunafikan dan membangkitkan kecintaan kepada Allah SWT. Kemudian ada dzikir nafas (hifzul anfas) dengan tehnik yang bermacam-macam, dan masih banyak lagi. Nah orang asing, adalah orang yang cara padang, rasa dan daya pikirnya serta ucapannya berbeda dengan manusia biasa, karena hatinya telah terpenuhi oleh cahaya Tuhan, sehingga ruhnya selalu berada dilangit meskipun jasadnya dibumi bersama-sama keluarganya, murid-muridnya dan masyarakat lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
