Senin, 13 Juni 2016

RENDAH HATI DAN TINGGI HATI

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Tawadhu atau merasa rendah hati adalah keberhasilan seseorang dalam melakukan riyadhah dan mujahadah dengan disiplin yang sangat tinggi. Keberhasilannya merupakan perbuatan Allah (af'al) yang merubah hati seseorang dari tinggi hati menjadi rendah hati, sedangkan upayanya adalah tindakan manusia. Riyadhah dan mujahadah bukan penyebab langsung dari diperoleh karunia yang hebat ini, tetapi tanpanya jangan pernah mengharapkannya. Sifat tinggi hati adalah biasa bagi para murid namun menjadi luar biasa bagi para ulama. Biasanya sifat tinggi hati ini akan ditampakkan secara lahiriyah, namun berhati-hatilah jika ia mampu bersembunyi didalam hati. kitab-kitab yang membahas tentang rendah hati sangat mudah ditemukan, tetapi sulit menemukan yang menjelaskan tentang tinggi hati.

Sifat tinggi hati ini akan lebih merusak dan lebih buruk dampaknya jika terjadi pada orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang agama.Tandanya, mereka akan mudah marah pada diri sendiri karena merasa dilecehkan, khususnya jika teman-teman yang lain tidak menghargainya, apalagi masyarakat mengacuhkannya. Yang menonjol adalah akan cepat merasa iri dan mengejar kemuliaan. Mestinya orang seperti ini tidak membolehkan rasa tinggi hati bercokol didalam hati, tetapi malah ditempatkan diatas kepalanya dan bukan ditelapak kakinya. Orang yang rendah hati adalah hamba sedangkan yang tinggi hati adalah tuan, tujuan ibadah adalah agar menjadi hamba-Nya bukan tuan.

Kita harus waspada manakala lahiriyah menampakkan kerendahan hati tetapi hati justru mengharapkan kemuliaan. Meskipun orang lain tidak mengetahui tetapi Allah SWT mengetahui-Nya. Kita ingin mendekat kepada-Nya tetapi kita melakukan kebohongan terhadap-Nya. Kita ingin memperoleh pengampunan-Nya tetapi perbuatan kita malah menyulut kemurkaan-Nya. Kita bertekad ingin memusuhi dunia (zuhud) sementara perasaan mulia tetap dipelihara dan berada dalam satu tempat. Jika sifat tinggi hati masih bercokol didalam hati maka, kita tidak mungkin bisa mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri, kita juga tidak mungkin dapat menahan emosi, kita tidak mungkin akan selalu dalam kondisi jujur, kita tidak mungkin dapat menyingkirkan perasaan sifat dengki dan fanatik, kita juga tidak mungkin dapat memberikan nasihat yang tulus dan mustahil kita bisa menghargai orang lain.

Meskipun sangat sulit untuk memperoleh sikap dan perasaan rendah hati atau tawadhu tetapi bukan hal yang mustahil, oleh karenanya barang siapa bersungguh-sungguh berusaha untuk menyingkirkan perasaan mulia dari dirinya, niscaya Allah akan memberikan pertolongan. Jika Allah berkenan mengganti perasaan tinggi hati menjadi rendah hati, maka perjalanannya menuju keridhoan Allah akan menjadi lebih mudah baginya. Perjalanannya menuju kekuatan iman, jalan istiqamah, dan jalan orang-orang saleh menjadi lebih mudah. Ia akan mendapatkan kemudahan dalam bersikap jujur di setiap amalnya. Jiwanya akan merasa tenang dalam sikap rendah hati dan kesederhanaan. Jalannya menuju keadilan menjadi menyenangkan baginya.

Semoga Allah SWT menolong kita semua.

HAK DAN KEWAJIBAN

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Yang mulia baginda Rasulullah,saw., pernah berkata kepada istrinya : ‘Wahai Aisyah, izinkanlah aku untuk beribadah kepada Tuhanku.’ Lalu Aisyah,ra., mengizinkannya dengan rasa senang. Hadis ini memperlihatkan bahwa beliau,saw., selalu menjunjung tinggi hak seseorang dan tidak ingin mengabaikannya, karena malam itu adalah malam giliran Aisyah,ra., yang merupakan hak baginya dan menjadi kewajiban baginda Rasulullah,saw., walaupun yang akan dilakukannya merupakan ibadah kepada Allah. Karena meninggalkan kewajiban kepada makhluk dan mengutamakan ibadah sunah akan menjadikan ibadah sunah itu menjadi sia-sia.

Kisah yang lain bahwa Rasulullah,saw., pernah menggunting jubahnya, lantaran ada seekor kucing sedang tidur diatasnya. Beliau,saw., tidak mau mengganggu dan membangunkannya, karena ia pun mempunyai hak untuk tidur. Beliau,saw., selalu mengedepankan hak makhluk dan tidak menuntut haknya, inilah tanda cahaya akhlak yang begitu tinggi. Guru kita tercinta Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) sering mengingatkan murid-muridnya untuk merendahkan atau melirihkan suara sewaktu melakukan dzikir Jahr secara berjamaah, karena tidak ingin para tetangga merasa terganggu meskipun mereka tidak seiman. Walaupun banyak hadis yang memperlihatkan bahwa fadhilah berdzikir jahr secara berjamaah sangat besar, bahkan Nabi,saw., menyebutnya sebagai 'taman daripada taman surgawi.' dan 'terdapat ribuan malaikat mentautkan sayapnya dari orang-orang yang berdzikir ini sampai ke arsy'. Sesungguhnya dzikir jahr bila dilakukan dengan suara lirih dan syahdu pun tidak akan mengurangi fadhilahnya dan insya Allah akan tetap sama, bahkan lebih bersih hasilnya, karena tidak mengganggu tetangga yang sedang istirahat atau tidur.

Tujuan berdzikir salah satunya adalah untuk melemahkan hawa nafsu atau keinginan-keinginan diri dan bukan mengikutinya, oleh karenanya salah besar bila kita tidak meperdulikan likungan disekitar kita. Patuh dan hurmat terhadap anjuran guru adalah pilihan yang bijaksana. Sesungguhnya hakikat dzikir jahr adalah mendatangkan rasa yang keras bukan suara yang keras untuk me'nafy'kan atau meniadakan segala sesuatu dan meng'isbat'kan atau mengkukuhkan hanya Allah saja kedalam latifatul qolbi.

Buah dari pada berdzikir adalah ilmu dan kejelasan-kejelasan, sehingga akan mengerti kedudukan ibadah wajib dibanding dengan ibadah sunah. Jangan karena ibadah yang kedudukannya sunah lalu melupakan ibadah yang kedudukannya wajib. Ibadah wajib laksana pondasi sedangkan ibadah sunah bangunan diatasnya, bisa jadi bangunan bisa porak peranda lantaran tersapu angin topan, namun pondasinya tetap kokoh. Bisa jadi ibadah sunah kita bisa sia-sia karena mengabaikan kewajiban kita menjaga dan menghormati hak-hak para tetangga.

Mari kita perhatikan sebuah hadis yang sangat popular dikalangan orang-orang yang bertasawuf, yang didahului oleh pemenuhan perintah yang wajib baru kemudian memperbanyak ibadah sunah, yang disampaikan oleh sahabat Abu Hurairah,ra., bahwa Rasulullah,saw., bersabda : "Allah berfirman 'Barang siapa memusuhi wali Ku, maka Aku telah menyatakan perang kepadanya. Tidak ada orang yang dapat mendekatkan hamba Ku kepada Ku dengan sesuatu yang Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba Ku masih mendekati Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi alat pendengarannya yang dengannya dia mendengar. Aku menjadi alat penglihatannya yang dengannya ia melihat. Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memukul dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku sungguh Aku akan kabulkan, dan jika ia memohon akan perlindungan-Ku, Aku akan melindunginya.'"

Beliau,saw., juga pernah melarang orang yang berpuasa terus menerus dan bangun malam tanpa tidur, karena tubuh dan keluarga mempunyai hak.

Demikian semoga Allah mengkarunia ilmu yang bermanfaat.

Minggu, 12 Juni 2016

PINTAR DAN BODOH

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Seseorang yang telah melakukan dawamudz dzikri selama lebih dari sepuluh tahun belum tentu terbebas dari penyakit-penyakit hatinya. Bisa jadi karena diperolehnya ilmu agama selama itu, malah membuatnya semakin 'bodoh’ dalam melihat aib dirinya sendiri dan ‘pintar’ melihat aib orang lain. Jika dilihatnya orang lain khususnya orang-orang yang dikenalnya melakukan aib menurut kadarnya, maka ia menjadi 'cerdas' dalam menganalisanya dan hati menolak untuk memakluminya, apalagi menutupi aibnya. Syahwatnya mendorong untuk menceritakannya kepada orang lain, maka sempurnalah kejahatannya. Tetapi bila dirinya yang melakukan aib, maka ia menjadi 'bodoh' dalam menganalisanya dan mencoba untuk memaklumi dan menutupi rapat-rapat. Persis seperti perkataan orang tua 'Kuman diseberang lautan tampak sedangkan gajah di pelupuk mata tidak tampak.' Semakin banyak seseorang mengetahui aib orang lain, maka semakin samar melihat aibnya sendiri dan berlaku sebaliknya jika aibnya sendiri tampak baginya, maka aib orang lain akan pudar.

Oleh karenannya, sikap yang bijaksana bila melihat aib sesorang adalah menganggap perbuatan itu dilakukannya oleh diri sendiri dan memberikan maaf serta memakluminya, tetapi jangan pernah memaafkan dan memaklumi aib sendiri. Tidak mungkin memberisihkan aib dengan lemah lembut, karena ia akan kembali lagi, tetapi bersihkan dengan sikap tegas dengan keras agar ia jera.

Jiwa manusia dicipta mempunyai potensi-potensi yang demikian, ditambah rasa amarah, hasrat, takut, syahwat, alpa, ragu dan syirik oleh sebab itu memeranginya (mujahadah) menjadi wajib hukumnya bagi orang-orang yang mengaku bertasawuf, untuk bisa memeranginya harus mengenal gerak gerik nafs, untuk bisa mengenal gerak geriknya, harus secara istiqomah selalu menilai diri sendiri bukan diri orang lain. karena mujahadah adalah kendaraan yang tepat untuk cepat sampai kepada terminal hati yang siap atau terbuka menerima limpahan musyahadah. Jika musyahadah diraih, maka segala sesuatu yang samar akan menjadi jelas. Kecerdasan spiritualnya digunakan untuk melihat aib dirinya sendiri bukan orang lain, lalu mengobatinya dengan pertaubatan yang teguh dan memohon kepada Allah SWT untuk menutupnya. Inilah tanda-tanda keberhasilan seseorang dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Semoga Allah SWT memberi ampunan kepada kita semua.

COBAAN ATAU MUSIBAH

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Hampir semua orang bila menerima musibah menyebutnya sebagai cobaan, akan tetapi tidak demikian bila berupa tindak peribadatan yang berupa sholat malam, shodaqoh, puasa dan lain-lain. Mereka lupa bahwa peribadatan yang dilakukannya masih berupa harta sementara yang tersimpan didalam qolbi dan belum merupakan amal yang aman, karena selalu diintai oleh perampok (syaithon). Bukti bahwa syaithon selalu siap mencuri amal-amal ini adalah adanya dorongan untuk menceritakan amal kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain begitu kuat, karena adanya harapan akan pujian agar dianggap dirinya sebagai orang yang ahli ibadah. Dorongan ini berlangsung terus menerus sampai seseorang bertekuk lutut, itulah ciri-ciri perbuatan laknatullah, syaithoon. Jika seseorang bisa lepas dari tipu daya ini, maka dorongan lain akan muncul sangat besar, yaitu berupa kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Sehingga tindak peribadatan yang pernah dilakukannya akan berubah menjadi dosa bukannya kebaikan.

Orang yang selalu memeriksa dirinya sendiri (muhasabah) akan jelas melihat hal ini dan menjaga lisannya untuk tidak banyak berbicara. Karena setiap kata yang keluar dari mulut kebanyakan menjadi dosa bukan amal, disebabkan kendaraan suara atau kata-kata adalah hawa nafsu atau keinginan-keinginan akan pujian. Mengikutinya merupakan biang keladi robohnya bangunan keimanan. Bahkan yang mulia baginda Rasulullah,saw., melarang kita untuk banyak bicara dan bersabda bahwa letak keselamatan adalah ‘diam’.

Kata-kata itu tajam bagaikan pedang, bisa melukai dan membuat gembira pendengarnya, tetapi kebanyakan melukai dirinya sendiri. Oleh sebab itu, jangan gunakan pedang jika tidak terpaksa, simpan rapat-rapat didadalam gudang. Karena musuh bukan berada di luar melaikan berada di dalam diri sendiri. Takutlah akan bahaya lisan melebihi rasa takut terhadap pedang yang siap memancung leher. Orang yang bermujahadah lalu terbunuh oleh pedang orang akan mendapatkan pahala surga, sementara kejahatan lisan akan menyeret ke jahanam, kecuali jika Allah memberi ampunan. Semakin tajam pedang lisan, maka korban pertamanya adalah pemilikinya sendiri.

Semoga Allah SWT menolong kita semua, amiin yang Allah ya Robbal alamiiin.

Selasa, 07 Juni 2016

MENYEKUTUKAN ALLAH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Perbuatan yang membuat seluruh amal menjadi sia-sia adalah menyekutukan Allah. Seluruh jenis dosa bisa memperoleh ampunan dari-Nya kecuali yang satu ini. Betapa menakutkan! Karena untuk melihat dan mengetahui perbuatan ini dibutuhkan ilmu yang tinggi, ilmu yang saat ini hanya dimiliki oleh para syaikh sufi.

Menyekutukan Allah bertingkat-tingkat jenisnya, ada yang jelas dan ada yang samar, ada yang bersifat lahir atau batin. Termasuk dalam perbuatan ini adalah menampilkan perilaku yang baik dihadapan orang lain (riya) agar mendapatkan pujian. Berdusta dalam ucapan atas sesuatu yang tidak ia perbuat, sesuatu yang bukan keadaan spiritualnya atau yang belum pernah ia alami. Mengucapkan kata-kata indah agar diagungkan oleh orang lain. Menceritakan kebaikannya kepada orang lain (sum’a). Lalu bangga terhadap amal-amal yang telah ia lakukan (ujub). Jika demikian adanya, adakah diantara kita yang telah terbebas dari tindakan ini? jawabnya 'tidak'. Oleh sebab itu, guru tercinta kita Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allh merahmatinya) menganjurkan agar selalu berkumpul dengan para ulama atau kepada orang-orang yang mempunyai ilmu yang cukup. Karena bagi seorang murid, guru bisa berfungsi untuk melihat perbuatan-perbuatan yang samar menjadi jelas, sehingga terlihat kesalahan dan kelemahan-kelemahan yang telah dilakukan.

Betapa sulit meng-esa-kan Allah se-esa-esa-Nya, walaupun sudah di-upayakan dengan banyak berdzikir dengan menyebut kalimat thoyibah, yaitu ‘Laa Ilahaa Illallaah’, tetapi tetap saja kemurnian tauhid sangat sulit diperoleh. Karena harus ada 'penghapusan' segala sesuatu selain Allah dari dalam hati, sedangkan perbuatan berupa 'penghapusan' adalah milik Allah bukan makhluk. Oleh karenanya, mohon ampunan dan pertolongan dari Allah SWT wajib dilakukan pada setiap keadaan.

Para sahabat yang tercinta, pernahkan kita melakukan muhasabah atau memeriksa diri sendiri terhadap hal diatas? Adakah penyesalan? Adakah upaya untuk memperbaikinya? Jika ditemukan jawabannya ‘ya’ maka bersyukurlah, karena itu merupakah karunia dari Allah yang sangat besar.

Jika demikian menjadi jelas, makna yang tersirat atas apa yang disabdakan oleh baginda Rasulullah,saw., bahwa tak seorangpun yang akan diselamatkan oleh amal-amalnya. Akan tetapi sebagai bakti kita, sebagai penghurmatan kita atas diciptakannya kita oleh Allah SWT, sebagai manusia yang didalamnya terdapat berjuta-juta keindahan dan kebaikan, serta potensi untuk mengenal dan mencitai-Nya, maka menjadi wajib hukumnya untuk melakukan riyadhah dan mujahadah terus menerus agar beroleh muysahadah, agar beroleh kejelasan-kejelasan, agar janji Allah SWT dalam hadis qudsi bahwasannya ‘Rahmat-Ku mendahului murka-Ku’ benar-benar tertanam didalam dada dan kita menjadi selalu berprasangka baik terhadap-Nya, karena Dia juga berfirman bahwa : ‘Aku bagaimana prasangka hamba-Ku.’

Demikian para sahabat, semoga Allah SWT menolong kita semua, amiiin.

Minggu, 15 November 2015

AR RAHMAAN

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allah SWT berfirman : ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.’

Pengajian tentang Ar Rahman tidak akan pernah habis, seorang murid mengaji secara pribadi kepada Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pada hari minggu pagi tanggal 15 Nopember 2015 berkenaan dengan kaitan antara sifat Ar Rahmaan dengan persahabatan dan sifat Ar Rahmaan yang maujud didalam sembilan puluh sembilan asmaulhusna. Sesungguhnya murid yang sudah memasuki muroqobah ke empat akan merasakan kejelasan tentang sifat Ar Rahmaan sesuai kadar kesuciannya. Akan tetapi dihadapan guru pengetahuannya hangus terbakar habis tanpa sisa, sehingga guru dapat melukis dengan sempurna tanpa campur tangan pelukis lain. Penjelasan atau wejangan dari yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) tidak semuanya dapat ditangkap dan dicerna, karena alam tempat berpijaknya berbeda. Sebagaimana malaikat dan manusia hidup pada alam yang berbeda pula, meskipun sama-sama makhluk ciptaan, yang satu hidup di alam malakut sedangkan yang kedua hidup di alam nasut. Manusia yang kesuciannya dan kepatuhannya setara dengan malaikat, maka meskipun jasadnya hidup di alam nasut, namun ruhnya berada di alam malakut. Oleh karena adanya perbedaan ini, maka makna-makna terdalam dari wejangan ini hilang ditelan alam semesta, kembali kepada Yang empunya Sifat Ar Rahmaan. Meskipun hanya setetes air pengetahuan yang bisa diminum, namun dengannya telah menghilangkan dahaga akan rahasia-rahasia ilmu pengetahuan tentang Ar Rahmaan.

Sewaktu sang murid mengiringi yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berziarah ke Bukhara beberapa tahun yang lalu, dan setibanya di makam Hadrat Abdul Kholiq Al Gusjdawani,qs., terdengar dari pemimpin rombongan penzirah sedang mendawamkan surat Ar Rahmaan yang fadhilahnya dihadiahkan kepada ahli kubur. Hal ini berbeda dengan kebiasaan masyarakat di Indonesia yang pada umumnya mendawamkan surat Yasin. Sejak kejadian ini, banyak pertanyaan muncul kepada yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkenaan dengan sifat Ar Rahmaan ini. Syaikhuna menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang berbeda-beda pada setiap kesempatan, seiring dengan kenaikan derajat kesuciannya. Seyogyanya, hikmah atau rahasia atau makna terdalam dari sebuah asmaulhusna wajib ditanyakan kepada ahlinya. Sebagaimana Al Qur’an memerintahkan yang demikian itu, untuk bertanya kepada ahli dzikir. Berarti ada perbedaan antara yang mengetahui dan memahami secara teori dengan yang mengetahui dan memahami secara pengamalan.

Didalam Al Qur’an surat Ar Rahmaan (QS 055 : 1-2) menyatakan bahwa Ar Rahmaan yang mengajarkan Al Qur’an. Al Qur’an meliputi seluruh aspek kehidupan dari dunia hingga akhirat, terdiri dari 30 juz. Dari 30 juz ini inti maknanya terkumpul pada suratul Fatihah, dan inti makna suratul Fatihah terkumpul pada Basmallah, didalam Basmallah terdapat asma Ar Rahmaan setelah Ismudzat. Sehingga Ar Rahmaan adalah pemilik nikmat yang agung dan langgeng dari dunia hingga akhirat, inilah yang dimaksud dengan 'Yang Maha Pengasih' dari makna Ar Rahmaan. Sementara nikmat yang agung dan langgeng adalah bagi siapa saja yang menggunakan ilmu dan akalnya untuk mengamalkan iman dan islam. Oleh karena itu, Basmallah merupakan inti dari Al-Quran, sebab hanya dengan Basmallah dapat menjelaskan secara universal kehidupan di dunia hingga akhirat. Dengan Basmallah dapat dimengerti dan dirasakan bahwa Rahmat Allah itu mendahului murka-Nya, dengan Basmallah dapat dirasakan akan Kasih dan Sayang-Nya tidak terbatas. Ada sebuah riwayat, Rasulullah,saw., sedang melewati sebuah suku dan bertanya, 'Suku apakah ini?' Mereka menjawab, 'Kami orang-orang Muslim.' Seorang wanita sedang menunggui tungku. Dia bersama putranya. Ketika nyala api dari tungku bergerak meninggi, dia menarik mundur putranya. Lalu dia mendatangi Nabi,saw., dan bertanya : 'Apakah engkau Rasulullah?' 'Ya' Jawab nabi,saw. Si Ibu berkata : 'Aku menanyakan padamu demi ayah dan ibuku. Tidakkah Tuhan yang Maha Pengasih diantara yang pengasih?' Nabi,saw., menjawab 'Sesungguhnya, begitulah Dia.' Si Ibu berkata : 'Tidakkah Tuhan lebih pengasih kepada para hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya?' Nabi,saw., menjawab : 'Sesungguhnya begitulah Dia.' Si Ibu berkata : 'Seorang ibu tidak akan melemparkan anaknya kedalam api.' Rasulullah,saw., memandang kebawah dan sedih. Lalu dia mengangkat kepalanya kepada wanita itu dan berkata : 'Di antara hamba-hamba-Nya, Tuhan hanya akan menyiksa orang yang menyeleweng dan menentang, orang yang memberontak melawan Tuhan dan menolak untuk mengatakan, Laa Ilaaha Illallaah.'

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa semua nama-nama yang indah atau sembilan puluh sembilan asmaulhusna terkumpul kepada asma Ar Rahmaan, meskipun banyak kitab tasawuf karya para syaikh sufi mengatakan terkumpul pada Ismudzat, Allah. Dasar penciptaan adalah disebabkan oleh sifat Maha Pengasih, meskipun ada asma Yang Maha Membalas, Yang Maha Menyiksa dan Maha Menghinakan, namun dibalik ini semua adalah bertujuan untuk kebaikan, sebagai manifestasi dari asma Ar Rahmaan. Ayat yang menyatakan bahwa ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik),'(QS 017 : 10). Menempatkan asma Ar Rahmaan nyaris sejajar dengan Ismudzat, Allah. Oleh karenanya, asma Ar Rahmaan ini menyimpan rahasia-rahasia cahaya kasih sayang dan menjadi sangat penting dalam kehidupan seorang murid untuk memperoleh limpahan cahaya Kasih dan Sayang-Nya. Tanpanya jangan berharap adanya persahabatan yang hakiki. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Amalkan wirid Ya Rahmaan 100X pada waktu fajar. Insya Allah akan diperoleh kejelasan dan rasa yang benar tentang sifat Ar Rahmaan ini.’ Beliau juga mengatakan bahwa hakikat penciptaan didasari oleh Sifat Ar Rahmaan ini. Yang pertama dicipta adalah Nuur Muhammad atau Akal Universal atau dalam hadis yang lain dikatakan ‘Pena’, yang menulis untuk kali pertama kalimat Basmallah. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa seluruh makhluk akan menerima Rahmatnya, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, baik yang beriman maupun yang tidak. Makhluk yang berakal diberikan pilihan untuk mematuhi-Nya atau menentang-Nya. Oleh karenanya wirid Ar Rahmaan ini wajib dilakukan pada waktu fajar atau awal hari atau akan terbitnya matahari yang menerangi alam semesta ini, sebagaimana Ar Rahmaan yang yang mencakup segala sesuatu (QS 007:156), yang menerangi segala sesuatu dengan Kasih-Nya, dengan nikmat yang agung dan langgeng dari dunia hingga akhirat. Lalu nikmat apa yang agung dan langgeng dari dunia hingga akhirat? Jawabnya persahabatan karena Allah SWT! karena berkat persahabatan ini akan menyelamatkan manusia bukan saja di dunia ini, melainkan juga di akhirat. Sebagaimana sebuah hadis Qudsi yang mengatakan bahwa Allah SWT berfirman : 'Akulah Tuhan dan Aku adalah Yang Maha Pengasih (Ar Rahmaan). Aku ciptakan rahim dan Aku berikan padanya sebuah nama yang berasal dari nama-Ku sendiri. Maka jika seseorang memotong rahim (tali persaudaraan), Aku akan memotongnya, tetapi jika seseorang menyatukan rahim, Aku akan menyatukan dirinya dengan-Ku. Dan Rasulullah,saw., bersabda : ‘Di sekitar arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada, tetapi para nabi dan syuhada iri pada mereka.’ Ketika ditanya oleh para sahabat, Rasulullah SAW menjawab : ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah.’

Sabtu, 14 November 2015

PERSAHABATAN

Bismillahhirrahmannirahim

Rasulullah,saw., bersabda : ‘Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.’

Pengajian tanggal 6 dan 13 Nopember 2015 membahas tentang persahabatan dari kitab Kasyful mahjub karya Imam Hujwiri,qs. Pengajian kali ini lebih indah dari pengajian sebelumnya.Persahabatan adalah berwujudan dari sebuah adab. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengkaitkan antara persahabatan dengan sifat rahman atau sifat kasih dalam diri seseorang. Tidaklah mungkin persahabatan itu ada tanpa adanya sifat kasih diantara kedua belah pihak. Persahabatan adalah pertautan hati antara yang satu dengan yang lain, tidaklah mungkin persahabatan terjadi hanya satu pihak saja, Al Qur’an menyatakan demikian sebagaimana cinta dan ridha.

Persahabatan itu dibentuk bukan terbentuk dengan sendirinya, iman dan keyaqinan serta kasih sayang terpendam didalam jiwa yang ditemani oleh ego, dan ego ini selalu bertempur melawan kebaikan sampai akhir hayat. Selama ego ini dibiarkan keluar sebagai pemenang, maka tidak akan ada persahabatan. Diperlukan bimbingan untuk memerangi ego ini. Banyak orang yang terpeleset karena yakin bahwa untuk memeranginya tidak diperlukan seorang guru, tetapi dengan memurnikan dirinya sendiri dengan jalannya sendiri. Hal ini mustahil, tidak mungkin bisa menjadi dokter hanya dengan membaca buku. Perlu bimbingan dan latihan yang sungguh-sungguh untuk mencabut gigi sekalipun.

Tidak banyak orang yang memperoleh hidayah bahwa dalam dirinya ada sifat-sifat buruk yang selalu mengajak kepada kejahatan, dan tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasinya. Tidak mungkin penyakit dalam tubuh bisa hilang hanya dengan membaca. Karena alasan inilah diperlukan seorang pembimbing atau seorang dokter. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Sifat-sifat buruk pada seseorang dapat menular selayaknya penyakit, oleh karenanya bergaulah kepada orang-orang yang benar.’ Oleh sebab itu, beruntung benar orang-orang yang hidup bersama dengan para waliyullah, para pembimbing ruhani, mereka menyerap sifat-sifat yang ada pada dirinya. Mereka mengetahui dan memahami sifat-sifat manusia dan menunjukkan bagaimana cara menyucikan diri ini. Siapa pun yang duduk bersama mereka, maka akan menyerap karakter yang baik, menyerap kekuatan spiritual. Tanpa kekuatan ini, seseorang tidak mungkin dapat membedakan apakah inspirasi dalam hati yang datang dengan tiba-tiba itu baik atau buruk. Para pembimbing ruhani mempunyai wilayah untuk dapat mentransfer cahaya spiritual kedalam hati seseorang, guna membedakan apa yang memasuki hatinya. Nah, jika seseorang terus menerus menerima limpahan cahaya ini dari seorang guru, maka sifat-sifat buruknya akan tergantikan dengan sifat-sifat yang baik, maka akan tumbuhlah bibit-bibit kasih sayang dalam dirinya.

Syaikh abu Yazid al Bisthamy,qs., berkata : 'Bersahabatlah kalian dengan Allah SWT. Bila kalian tidak mampu, maka bersahabatlah dengan orang yang bersahabat dengan Allah SWT, karena bersahabat dengannya bisa menghubungkan kalian kepada Allah SWT, melalui berkat persahabatannya dengan Allah SWT.'

Orang yang datang kepada Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) banyak yang memohon untuk dapat dibimbing. Syarat utama untuk menjadi seorang murid yang baik adalah harus percaya, patuh dan hurmat. Maka secara cepat kepercayaan itu akan berkembang menjadi suatu keyakinan. Jika sudah demikian maka, persahabatan yang hakiki akan terbentuk dengan sendirinya. Kepentingan dirinya mulai pudar dan yang selalu diperhatikan adalah kepentingan sahabatnya, kecintaan kepada dirinya mulai sirna dan yang dicintainya hanyalah gurunya, inilah yang dimaksud dengan fana’u syaikh, inilah sebuah persahabatan yang hakiki. Sayyidina Umar bin Khatab,ra., pernah berkata : 'Wahai Rasulullah! Demi Allah! Engkau lebih aku cintai daripada Hartaku, keluargaku dan orang tuaku, kecuali dari diriku sendiri.' Rasulullah Muhammad,saw., menjawab: 'Tidak! Wahai Umar, bahkan aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.' Sayyidna Umar,ra., berkata: 'Jika begitu, Demi Allah! Engkau akan lebih aku cintai daripada diriku sendiri wahai Rasulullah!' 'Sejak sekarang,imanmu telah sempurna wahai umar!' Tegas Rasulullah Muhammad,SAW.