Selasa, 26 Juli 2016

DZIKIR JAHR - DZIKIR YANG BERSUARA

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Seorang murid yang baru beberapa kali menghadiri kholaqoh dzikir mendapat ijazah dari guru kami tercinta syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berupa dzikir jahr (dzikir yang bersuara) dan dzikir lathaif (dzikir yang tidak bersuara). Sang murid hanya bisa terbengong-bengong, karena baru pertama kali mendengar nama-nama itu dan baru mendapatkan pekerjaan yang terasa asing baginya, meskipun ia pemeluk Islam sejak kecil. Yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menangkap keadaan ini dan berkata : ‘Insya Allah setelah upacara dzikir jahr selesai, akan dijelaskan makna dan tatacaranya.’ Mendengar ini sang murid merasa lega.

Dzikir jahr atau dzikir yang bersuara yang disertai dengan gerakan kepala, dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama, banyak hadis yang menerangkan keutamaan dari pada dzikir ini. Jika dikerjakan secara bersama-sama, Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai ‘raudhah min riyadhil Jannah atau taman dari pada taman surga’. Disebut demikian karena orang-orang yang berada didalamnya diampuni seluruh dosa-dosanya, sebagai gambaran seperti penduduk surga. Dzikir Jahr yang demikian adalah salah satu metodologi dari sebuah tarekat untuk mengingat Allah, sebelum memasuki dzikir lathaif, dengan cara mengulang-ulang menyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah, yang bertujuan agar hatinya tercerahkan dan bersih dari noda-noda yang melekat. Pada saat menyebut ‘Laa ilaaha’ (tiada yang lain yang aku sembah), yang mempunyai makna me-nafy-kan atau meniadakan segala sesuatu selain Allah, kepala digerakkan kearah bahu kanan, lalu disaat menyebut ‘Illallaah’ (kecuali Allah), yang maksudnya meng-isbat-kan atau mengkukuhkan hanya Allah saja kedalam latifatul qalbi, kepala diarahkan sambil dipalukan ke dada (shadr) tepatnya dua jari dibawah susu sebelah kiri, disinilah tempatnya hati yang batin atau latifatul qalbi.

Al Qur'an memberitahukan bahwa setelah ruh bersatu dengan jasad, terdapat subtansi yang halus atau lembut yang disebut hati. Hati adalah sebuah kelembutan yang mencakup seluruh lapisan batin manusia. Ada yang lebih kasar darinya dan ada yang lebih lembut. Seperti sebuah rumah, ada bagian luar yang disebut pagar, halaman, lalu bagian dalam rumah ada kamar, lemari dan peralatan lainnya. Setiap bagian mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Sesuatu yang lebih berharga akan ditempatkan dan disembunyikan didalam kamar yang khusus. Demikian pula dengan hati manusia, kesadaran atau pengetahuan yang lebih tinggi, ditempatkan didalam hati yang lebih kokoh, lebih khusus, lebih terjaga, lebih tersembunyi dan lebih tertutup. Istilah hati bagi orang awam mewakili penyebutan semua lapisan itu, sebagaimana rumah. Terdapat hadis qudsi yang mengatakan : 'Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) itu ada istana, disitu ada dada, didalam dada ada al-qalb, didalam qalb ada fu’ad, didalam fu’ad ada syaqaf, didalam syaqaf ada lubb, dan didalam lubb ada sir, sedangkan didalam sir ada AKU.’

Jika terdapat ‘Cahaya’ dilapisan terdalam pada diri manusia, seharusnya manusia bergerak diatas bumi ini sesuai dengan yang di kehendaki-Nya, namun faktanya tidak demikian, justru manusia bergerak kearah sebaliknya. Allah SWT mengendaki yang demikian untuk menguji manusia, sebagai pembeda daripada makhluk-makhluk lain, apakah ia berkemampuan dengan potensi-potensi yang ada dalam dirinya menjadi khalifah dimuka bumi ini. Allah SWT berfirman : ‘Dan Allah berbuat demikian untuk menguji apa yang ada dalam dadamu (shadr) dan untuk membersihkan apa yang dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS 003: 154).’ Allah SWT memperlihatkan, tanpa pertolongan-Nya tak ada satupun manusia yang mampu lepas dari jerat ini, semuanya akan binasa mengikuti keinginan jiwanya. Kesadaran inilah yang dikehendaki-Nya, maka dengan sifat Maha Kasih dan Maha Penyayang-Nya serta adanya taufik dan hidayah-Nya, Dia akan memilih manusia yang dikehendaki-Nya, untuk mampu berperang melawan dirinya sendiri sampai mati egonya dan hidup disisi-Nya. Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai ‘mutu qobla anta mutu, matilah engkau sebelum engkau mati.’ Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ‘Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.’ (QS 002 : 154). Inilah gambaran orang yang mati secara maknawi tetapi hidup bersama Tuhan-Nya (baqa). Ia terbunuh oleh cahaya cinta-Nya, oleh api perlawanan terhadap hawa nafsunya, oleh pedang tauhid, oleh cahaya mengikuti kebenaran dan api rindu.

Lapisan yang lebih kasar dari hati adalah shadr atau dada, tetapi bukan dada dalam bentuk lahiriyah melainkan yang batiniyah seperti halaman atau pekarangan pada rumah. Sebagaimana fungsi pekarangan, menampung banyak sampah dari tumbuh-tumbuhan, debu, kotoran hewan dan hewan yang tidak diundang ataupun orang lain serta syaithon. Apa yang masuk kedalamnya jarang terasa, seperti yang masuk kedalam shadr berupa sifat dengki, syahwat dan angan-angan. Secara umum fungsi shadr dapat dikatakan berkumpulnya sesuatu yang baik dan yang buruk atau tempak masuknya cahaya Islam dan berkuasanya nafsul ammarah atau yang selalu mengajak kepada kejahatan. Oleh sebab itu, kesempitan dan kelapangan dikaitkan dengan dada (shadr) bukan pada hati (qalb), sebagaimana Allah SWT berfirman ‘Maka bisa jadi engkau meninggalkan sebagian dari yang diwahyukan kepadamu dan dadamu (shadr) merasa sempit karenanya. (QS 011: 12).’ Dan : ‘Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu (shadr) karenanya. (QS 007 : 2).’ Dan : ‘Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu (shadr). (QS 094 : 1).’

Jika didalam shadr terdapat banyak angan-angan dan tamu yang tidak diundang, maka pengetahuan yang diperoleh melalui panca indra, yaitu mata dan tekinga akan mudah lupa, karena cahaya hati tidak akan sampai kepada jawarih atau panca indra manusia dengan sempurna, sebagaimana cahaya matahari yang terhalang oleh awan. Sehingga jawarih bergerak tidak sebagaimana yang diharapkan oleh hati atau syariat agama. Jawarih akan mengikuti keinginan jiwa yang cenderung kepada dunia. Oleh karenanya, benda-benda asing yang berada di shadr harus selalu dibersihkan, atau halaman rumah harus disapu pada pagi dan sore hari. Pembersihnya berupa suara kalimat Laa Ilaaha Illallaah. Itulah mengapa guru kami tercinta Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mengharuskan murid-muridnya untuk mengerjakan dzikir jahr ini dengan serius dan istiqomah pada waktu pagi dan petang, dengan mengikuti tatacara yang benar. Mengapa harus bersuara bukankah Allah itu Maha Mendengar? Ya benar, tetapi hati kita yang menjadi tuli, seperti cermin yang buram karena terlalu banyak kotoran di lapisan luarnya atau di pekarangannya atau di shadr-nya. Sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu atau disapu dengan suara kalimat Laa Ilaaha Illallaah, agar cermin hati dapat memantulkan cahaya ilahi kedada (shadr) dan kemudian ke jawarih. Baru kemudian bila shadr-nya sudah bercahaya, maka cermin hati atau latifatul qolbi diisi atau dipahat dengan dzikir lathaif, dzikir yang sangat halus dan lembut tanpa suara dengan mengingat sambil menyebut Ismudzat, Allah … Allah … Allah, menyebutnya menggunakan lisan hati atau lisan batin bukan lisan lahir.

Demikian para sahabat, semoga bermanfaat.

Rabu, 20 Juli 2016

JILBAB

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Di kereta api seorang wanita berjilbab ditangkap oleh yang berwajib, pasalnya ia kepergok mencopet. Sang korban terheran-heran, bagaimana bisa wanita yang berjilbab mencuri? Jika sang pencopet memakai topeng hitam dan membawa senjata, maka orang akan menghindarinya, karena ciri-cirinya dikenali sebagai penjahat. Tetapi tidak demikian dengan wanita yang berjilbab, ia mengelabui penumpang dengan perilaku yang sopan agar tidak dicurigai atas apa yang akan diperbuatnya, agar dirinya dianggap sebagai penganut agama yang taat. Dengannya akan lebih memudahkan melakukan niat jahatnya. Jilbab yang seharusnya digunakan sebagai penutup aurat guna memperoleh ridho-Nya, malah digunakan sebagai penutup kejahatan yang memicu kemurkaan-Nya. Kejahatan yang berkedok agama sedang marak di negeri kita ini.

Bayangkan, bagaimana jika dilakukan oleh seorang yang dianggap sebagai kyai, ustadz atau ustadzjah, padahal hanya sedikit menghafal ayat Al Qur'an dan hadis dari buku dan tidak pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren ataupun di perguruan tinggi. Jilbabnya berupa pengetahuan tentang syariat agama, mencopetnya dengan cara menjual kata-kata indah, target korbannya adalah para jamaah. Modusnya dengan cara, membesar-besarkan fadhilah tentang amal dan menyampaikan ancaman tentang tempat kembali orang-orang yang kikir, yakni neraka jahanam. Cara ini cukup jitu, banyak jamaah yang secara sukarela atau terpaksa mengeluarkan harta bendanya. Kejahatan jenis ini banyak muncul di tv, sebagai media yang tepat sebagai sarana pencitraannya. Ibu-ibu sangat menggemari acara-acara ini, berdalih mendengarkan atau hadir dalam pengajian, sebagai alasan kepada suami guna lari dari memenuhi kewajiban utamanya. Hukum Negara tidak menyentuh masalah ini, karena niat tidak terlihat, tetapi hukum agama jelas melarangnya. Baru-baru ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa agar tidak memanggil pendakwah yang memasang tarif tinggi. Ironisnya masyarakat kadung menyebut para pendakwah yang memasang tarif sebagai ulama. Rasulullah,saw., pernah bersabda : 'Ulama itu adalah orang-orang yang dipercaya oleh para Rasul, selama tidak mukhallathah (dikendalikan) oleh penguasa yang dzalim, dan selama tidak menjadikan dunia sebagai tumpuan hidupnya. Apabila mereka dikendalikan oleh para penguasa yang dzalim, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat terhadap Allah dan Rasulnya. Karena itu, jauhilah mereka itu.' Imam Al-Ghazali telah membagi ulama menjadi dua kelompok, yaitu ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia adalah orang yang mencari kedudukan, kehormatan dan kesenangan duniawi dengan menggunakan ilmunya, sedangkan ulama akhirat bersikap sebaliknya. Iblis laknatullah pernah berkata kepada Rasulullah,saw., bahwa selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.

Lebih jauh lagi dengan cara yang teramat halus, dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai seorang pembimbing ruhani, padahal ia tidak pernah di khirkhoh dari sebuah tarekat yang mutabaroh. Jilbabnya berupa ilmu keruhanian, ilmu tentang seluk beluk hati, mencopetnya dengan cara menyampaikan pengetahuan tentang keutamaan memusuhi dunia (zuhud) dan merasa cukup (qona’ah). Dengan cara yang apik, menceritakan kedekatan Tuhan dengan para syaikh sufi yang melakukannya, menekankan tentang keajaiban-keajaibannya dan berperilaku seolah-olah dirinya dalam keadaan yang sudah demikian. Padahal batinnya berlawanan dengan bicaranya, disuruhnya jiwa orang untuk memusuhi dunia (zuhud) dan merasa cukup (qona'ah), namun justru ia mengharapkan kenikmatan dunia dan serakah. Imam Junayd,qs., meraknya para sufi telah memperingatkan hal yang demikian sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Seorang ulama mengatakan : ‘Jika ulama menjadi kaya setelah miskin, saya ingin tahu ayat mana yang ia jual. Dan jika ulama menjadi miskin setelah kaya, memang harus demikian adanya, karena rasa takutnya yang demikian besar kepada Allah SWT, lalu dengan ilmunya ia dermakan harta bendanya kepada yang membutuhkannya.’ Guru kami tercinta Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pernah bercerita bahwa beliau pernah menerima hadiah berupa sebidang tanah dari kakek guru Syaikh Nuurunnaum Suryadipraja (semoga Allah mensucikan ruhnya), meskipun beliau hidup dalam keadaan yang sangat sederhana. Begitu pula yang dilakukan oleh guru kami, amal lahirnya saja tidak diketahui oleh muridnya, apalagi amal batinnya. Inilah sebuah bentuk bimbingan yang bukan saja pengetahuan dan pekerjaan tentang tasawuf saja, melainkan berupa tindakan yang indah agar menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya di masa mendatang, sebagi wujud dari keadaan zuhud dan qona'ahnya.

Lalu bagaimana jika pencopetnya tidak berwujud, ia berada di dalam diri sendiri yang merampok amal-amal yang tersimpan. Jilbabnya berupa dorongan agar menceritakan amal baiknya kepada orang lain (su’ma) atau berbangga atas perbuatan baiknya (ujub). Semuanya menjadi sia-sia, amalnya akan habis atau hangus sebagaimana kayu bakar habis dimakan api.

Kejahatan bertingkat-tingkat, dari yang mudah dikenali sampai dengan yang samar. Seperti jenis, bentuk dan corak jilbab yang beraneka ragam. Tujuan memakai jilbab agar tdak dilihat oleh orang lain atau bukan muhrimnya, tetapi malah ingin dilihat oleh orang lain dengan model dan bentuk jilbabnya yang aneh-aneh. Persis seperti keadaan hati orang yang selalu ingin memberitahukan perbuatan baiknya (amal) kepada orang lain, bukan menyembunyikannya. Amal yang tersembunyi mempunyai keutamaan yang tinggi, bahkan lebih baik dari pada manafaat angin, air, api, besi dan gunung-gunung bagi kehidupan manusia. Misteri amal yang bersih sesungguhnya berasal dari pertolongan Allah SWT, jika manusia membuang amalnya dengan cara memberitakan kepada orang lain, sungguh sangat disayangkan.

Sebuah dialog antara malaikat dengan Allah SWT, sebagaimana diriwayatkan oleh Baginda Nabi,saw., dalam hadis qudsi : 'Ketika Tuhan menciptakan bumi, dia mulai bergetar. Maka Dia menciptakan gunung-gunung dan berkata kepada mereka, "kuasai dia" maka bumi menjadi tenang.' Para malaikat heran melihat kekuatan gunung-gunung. Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada gunung-gunung itu?" ia berkata, "Ya, besi." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada besi?" Dia berkata, "Ya, api." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada api?" Dia berkata. "Ya, air." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada air?" Dia berkata. "Ya, angin." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakaih di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada angin?" Dia menjawab, "Ya. putra Adam. Dia memberi sedekah dengan tangan kanannya tanpa diketahui oleh tangan kirinya."

Bahwa yang mendorong pada perbuatan amal adalah ruhani dan Ilahiah, yang sepenuhnya kosong dari sifat-sifat lahiriah, dan hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa pertolongan-Nya. Yang membuatnya begitu sulit adalah karena manusia merupakan gabungan dari sifat-sifat ruhani dan jasmani yang tercampur dengan sempurna. Jiwa manusia selalu mengajak kepada kejahatan sedangkan ruh manusia mengajak kepada kebaikan. Jika keadaan ruhani seseorang bercahaya murni tanpa adanya pengaruh dari sifat lahirnya. Dia akan memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk berbuat baik. Dia akan lebih unggul daripada kebanyakan malaikat, sebab sifat bawaan malaikat adalah bebas dari pengaruh sifat-sifat jasmani. Tetapi di dunia ini, indra-indra dan sifat-sifat jasmani berhadapan dengan yang ruhani, dan jiwa menguasai jasmani sangat kuat. Maka kekuasaan dari ruh, yang dianggap sebagai tangan kanan manusia tidak dapat mengatasi kekuasaan komposisi jasmaninya, yang mempunyai arah tangan kiri. Oleh karenanya jika tangan kanan manusia berbuat kebaikan tanpa diketahui oleh tangan kirinya, adalah merupakan karunia-Nya yang besar. Amal tersebut harus ditutup rapat-rapat agar tidak diketahui oleh orang lain dan dirinya, agar tidak hilang percuma, seperti wanita yang menutup auratnya dengan jilbab.

Sayidah Fatimah,ra., mengatakan bahwa : 'Wanita yang baik adalah yang tidak dilihat oleh pria dan tidak melihat pria.' Untuk menangkap kejahatan yang samar harus menggunakan ilmu yang tinggi dan atas bantuan dari Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, yaitu kebaikan, dari yang mudah dilakukan sampai dengan yang halus. Besar kecilnya amal seseorang tergantung kepada niatnya, tergantung kepada kebersihan dan kemurniannya. Semua ini terjadi sesuai dengan keadaan hati. Oleh karena begitu penting kesehatan hati ini, maka menjadi tujuan utama bagi para pembimbing ruhani untuk membersihkan keadaan murid-muridnya dari noda-noda dunia.

Sabtu, 16 Juli 2016

TABIAT ALAMIAH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Seorang murid sedang berkendara tiba-tiba dimaki oleh seseorang : ‘Monyet kamu.’ Sang murid marah dan spontan menjawab : ‘Anjing kamu.’ Tanpa disadari mereka sedang menyebutkan sifat binatang yang ada pada dirinya sendiri. Berbeda dengan yang dialami oleh guru kami tercinta Syaikh. Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), beliau pernah dimaki dengan sebutan nama binatang, beliau hanya tersenyum dan tidak tampak perubahan pada wajahnya, karena cacian dan pujian sudah sama saja baginya. Beliau membalasnya dengan melontarkan pujian kepada sang pemaki. Ditanya alasannya oleh seorang murid, beliau menjawab : ‘Saya memujinya, karena ia telah mengungkapkan sifat alamiah yang tersembunyi didalam diri saya yang telah lama saya cari.’ Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk bercerita tentang caci maki dengan menyebut nama binatang, melainkan menjelaskan sifat-sifat jiwa alamiah atau tabiat alamiah yang ada pada diri manusia.

Tuhan ingin diketahui, oleh karenanya Dia menciptakan makhluk. Dari segi bentuk dan bobot, manusia itu sangat kecil dibanding dengan seluruh ciptaan-Nya, tetapi Tuhan tidak ingin ciptaan-Nya terwujud sia-sia tanpa dapat diketahui oleh manusia, agar manusia dapat mengetahui tentang kekayaan pengetahuan-Nya dan menjadikannya saksi bagi seluruh makna ciptaan. Tetapi sekali lagi bahwa ciptaan itu sangat luas, bumi saja sangat lebar. Tidak mungkin manusia dapat berkelana ke seluruh ciptaan, mengingat masa hidup mereka yang pendek dan ketidakmampuan mereka menangani urusan-urusan ciptaan. Oleh karenanya potensi untuk mengenal Sang Pencipta dan seluruh ciptaan ditanamkan didalam akal, lalu Dia minta kesaksian atasnya ; ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Ya, kami bersaksi .’ (QS. 7: 172). Sehingga tampak secara jelas hubungan seluruh ciptaan dengan manusia, yang secara timbal balik akan saling mempengaruhi. Jika kondisi manusia dalam keadaan seimbang, maka alam semesta akan seimbang pula dan sebaliknya jika manusia penuh dengan amarah, rakus, tamak dan mendominasi maka alam pun akan mengikutinya. Sehingga jangan heran jika akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam yang dasyat, karena mengikuti keadaan kebanyakan jiwa manusia.

Manusia diciptakan pada tingkatan antara yang rendah dan tinggi, yang rendah seperti sifat tanaman dan hewan sedangkan yang tinggi seperti sifat malaikat. Dalam kaitan dengan kebutuhan makan dan minum agar tumbuh adalah tanaman. Dalam kaitan dengan gerakan mengikuti naluri dan syahwatnya adalah hewan. Dan dalam kaitan sifat kepatuhan dan kesucian adalah malaikat. Namun ciri khas manusia yang utama adalah adanya akal.

Beberapa hewan mencari keuntungan melalui kekejaman dan dominasi, seperti para hewan pemangsa. Sebagian mencari melalui bujukan, seperti anjing dan kucing. Sebagian mencari melalui kecerdasan, seperti laba-laba. Dan semua sifat-sifat ini ada pada manusia. Para raja dan sultan mendapatkan keuntungan melalui dominasi, para pengemis melalui permintaan dan kerendahan hati, para pedagang melalui kecerdasan dan persahabatan. Pendeknya, tidak ada hewan, mineral, tanaman, pilar, lingkaran langit, planet, konstelasi, atau benda apa pun yang memiliki suatu watak tanpa watak itu terdapat dalam diri manusia.

Mereka yang menggunakan seluruh indranya untuk meraih pengetahuan tentang Tuhan dan tauhid serta amal baik, serupa dengan para malaikat dan patut digabungkan dengan mereka di alam malakut. Sedangkan mereka yang mengalihkan aspirasi mereka untuk mengikuti kenikmatan-kenikmatan badaniah dan makan serupa dengan hewan dan tumbuhan. Persis seperti yang kita lakukan, pemarah seperti binatang buas, rakus seperti babi, tamak seperti monyet, banyak bicara seperti anjing, pendendam seperti burung gagak atau ular kobra, lambat seperti kura-kura, sombong seperti burung merak, atau pandai berkelit seperti kancil. Perumpamaan sifat manusia seperti binatang terdapat dalam Al Qur’an : ‘Tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. (QS 7 : 176) Sedangkan yang menyerupai sifat malaikat adalah : ‘Maha sempurna Allah, Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.’(QS 12: 31)

Orang-orang yang ingin memasuki alam malaikat atau alam malakut atau alam kusucian tidak ada jalan lain kecuali harus berperang melawan diri mereka sendiri, perang suci melawan jiwanya atau menentang kencenderungan tabiat alamiahnya, suatu peperangan yang tidak mengenal jalan damai. Perang yang Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai tidak ada peperangan yang lebih besar dari pada perang melwan dirinya sendiri atau disebut sebagai perang akbar. Sebab mereka mendapati jiwanya sebagai musuh agama. Bagaimana mungkin orang yang mempunyai tekad memasuki alam kesucian berdamai dengan musuh agamanya?

HUDHUR DAN GHAYBAT

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian tentang hudhur dan ghaybat berlangsung lama, bersumber dari kitab Kasyful Mahjub karya Imam Hujwiri,qs. Terdengar rumit namun sesungguhnya sederhana. Seperti sholat, menjelaskan tata caranya mudah, tetapi melukiskan rasanya sangat sulit, atau menerangkan cara menyetir mobil amat mudah, tapi menjelaskan rasa pada saat menyetir sangat susah. Demikian pula tentang hudhur dan ghaybat, menjelaskan pengetahuannya tidak sulit, tetapi menyampaikan rasanya tidak mudah. Orang yang dapat menjelaskan rasa ketika sholat atau rasa ketika berkendara mobil, berarti ia pernah mendirikan sholat dan menyetir mobil. Jika belum pernah, maka yang dijelaskan hanyalah pengetahuannya bukan rasa yang aktual. Perbedaan antara pengetahuan dan rasa sangat besar, seperti langit dan bumi atau seperti badan dan ruh. Sesungguhnya berbicara sesuatu yang belum dialami dilarang oleh agama, sebagaimana yang termaktub didalam Al Qur’an : ‘Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.’ (Ash-Shaff : 2-3).

Arti hudhur dalam Bahasa Indonesia adalah hadir, yang dimaksud dengan hadir adalah ada atau datang, sedangkan hadirin adalah semua orang yang datang. Lawan dari pada hadir adalah absen atau tidak datang atau ghaybat. Sehingga bisa dikatakan bahwa Jika seseorang hadir disekolah maka ia absen di rumah, dan sebaliknya jika ia absen di sekolah maka ia hadir di rumah. Dalam hal ini, kehadiran pasti dikaitkan dengan keberadaan jasad. Sedangkan didalam dunia tasawuf istilah hudhur diartikan sebagai kehadiran hati bersama Tuhan dan sebaliknya bila tidakkehadiran hati disebut sebagai Ghaybat. Sehingga yang dimaksud hudhur adalah kehadiran secara spiritual atau merasa yaqin keberadaannya didalam hati, tanpa berpikiran lagi tentang ada atau tidak adanya jasad.

Suatu hari murid-murid diperintah oleh Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) untuk mendirikan sholat di Mesjid Nuur al Baru. Pada saat pelaksanaan sholat, beliau pergi meninggalkan Mesjid. Setelah selesai, seorang murid ‘merasa yaqin’ bahwa syaikh berada bersamanya selama sholat, karenanya ia memperbaiki sikap sholatnya tidak seperti biasanya. Meskipun faktanya, syaikh tidak berada disitu. JIka seseorang dapat ‘merasa yaqin’ seolah-olah syaikh bersamanya selama waktu sholat dan mempunyai kedudukan yang sama tatkala syaikh tidak ada, atau apa yang bisa terlihat olehnya mempunyai kekuatan yang sama dengan apa yang tersembunyi darinya, maka hal ini disebut sebagai ‘kehadiran hati’ (hudhur) bersama syaikhnya atau ‘tidakkehadiran’ (ghaybat) bersama yang lain. Sehingga bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan kehadiran (hudhur) dan tidakkehadiran (ghaybat) mempunyai makna yang sama walaupun tampaknya bertentangan satu sama lain.

Tugas seorang syaikh adalah membimbing murid-muridnya untuk mencapai hudhur, dimulai dengan latihan spiritual yang disebut dengan dzikir lalu meningkat kepada muroqobah. Pendeknya pekerjaan dzikir dan muroqobah adalah medan laga latihan spiritual yang diawali dengan berupaya seolah-olah merasakan ‘rasa’ rindu dan cinta serta kehadiran Tuhan pada akhirnya. Diharapkan dari seolah-olah merasakan laama-kelamaan perasaan yaqin atas kehadiran hati bersama Tuhan itu melekat. Oleh karenanya tidak mungkin kehadiran hati (hudhur) bersama Tuhan dapat diraih manakala hati seseorang masih kotor, dilain pihak keadaan hati yang bersih adalah sebuah karunia-Nya, karena upaya membersihkan hati dengan dzikir-dzikir adalah perbuatan manusia, sedangkan penghapusan terhadap noda hati atau kekotoran hati adalah perbuatan Tuhan.

Pengetahuan tentang hudhur dengan perasaan yang aktual tentang hudhur merupakan dua hal yang berbeda. Penguasaan pengetahuan atau pemahaman tentang hudhur tidak akan berdampak kepada keadaan hati atau tidak mempengaruhi padangannya terhadap tauhid, karena bisa saja orang non muslim dapat mempelajarinya, tetapi tidak demikian terhadap keadaan hudhur yang sebenarnya, terdapat tanda-tanda bagi seseorang yang mengalaminya, khususnya meningkatnya perasaan yaqin dan lenyapnya keburukan-keburukan serta adanya perubahan yang mendasar dalam perilakunya. Keyaqinannya memuncak bahwa dirinya sendiri merupakan sebesar-besar tabir untuk dapat hadir bersama Tuhan, mata hati menjadi tertutup terhadap diri sendiri dan terhadap semua selain Tuhan, sehingga sifat-sifat kemanusiaannya ditelan oleh nyala api kedekatan dengan Tuhan. Maka selama tidak hadir dari diri sendiri, maka akan hadir bersama Tuhan, tetapi bilamana hadir bersama sifat-sifat diri sendiri, akan menjadi tidak hadir dari kedekatan dengan Tuhan. Inilah mengapa yang mulia Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) selalu menanyakan ‘perasaan’ hudhur tatkala murid-muridnya mengaku telah mengalaminya.

Kisah, seseorang mendatangi Imam Junayd,qs., dan mengatakan: ‘Hadirlah bersamaku sesaat agar aku bisa berbicara denganmu.’ Dijawab: ‘Wahai anak muda, engkau menginginkan sesuatu dariku yang sekian lama kucari. Bertahun-tahun aku mengharapkan bisa hadir bersama diriku sendiri sesaat saja, tapi aku tak bisa, lalu bagaimanakah aku bisa hadir bersamamu sekarang juga?’ Inilah jawaban dari seorang yang dalam keadaan hudhurul haq secara terus menerus.

Dzikir dengan objek yang dizikiri adalah sesuatu hal yang berbeda, atau nama dengan pemilik nama adalah dua hal yang lain. Jika seseorang menyebut nama, boleh jadi objek yang disebutnya tidak berada di dekatnya. Terdapat ayat Al Qur’an yang mengatakan : ‘Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, maka Aku akan ingat pula kepadamu.’ (QS. 2 : 152). Ayat yang mulia ini tidak mengatakan ‘menyebut’ tetapi ‘mengingat’. Yang terjadi pada kebanyakan murid saat berdizkir adalah menyebut-nyebut nama-Nya saja tetapi lalai dalam mengingat-Nya. Yang diutamakan oleh murid adalah mengingat perbuatan dzikirnya bukan yang dizikiri, oleh karenanya ia sibuk menyelaraskan nada suara dan gerakannya saja. Hal ini lebih mendekati pada ketakpedulian karena mengira bahwa dirinya hadir bersama Tuhan. Karena itu, mengira bahwa hadir bersama Tuhan ketika tidak hadir, lebih buruk daripada tidak hadir tetapi tidak mengira hadir, karena kebanggaan adalah keruntuhan bagi orang-orang yang mendambakkan Kebenaran. Makin bangga, makin jauh dari kenyataan, dan sebaliknya, aspirasi yang suci sungguh jauh dari kualitas-kualitas ini. Penyakit yang seperti ini menjangkiti tidak saja kepada murid baru saja melainkan pada tingkatan yang lain. Prinsip dasar mengingat Allah (dzikir) bilamana sang pendzikir tidak hadir dari dirinya sendiri (ghaybat) tetapi hadir bersama Tuhan (hudhur), dan bilamana orang tidak hadir dari Tuhan dan hadir bersama dirinya sendiri, keadaan itu bukanlah mengingat Allah (dzikir), melainkan ketidakhadiran dan ketidakhadiran adalah akibat dari kelalaian (ghaflat).

Seseorang yang mengalami hudhurul Haq atau kehadiran hati bersama Allah mempunyai tanda-tanda, yang perasaan yaqinnya sebagaimana sang murid tadi, ketika merasa yaqin bahwa syaikh bersamanya pada waktu sholat. Dan perubahan sikapnya nyata, menjadi baik, akhlaknya indah. Sikap baiknya bukan merupakan sebuah upaya lagi sebagaimana waktu sholat tadi, melainkan menjadi pakaiannya, karena sirnanya keburukan. Hatinya penuh dengan sifat pengasih, rasa dengki dan irinya menjauh dan tertutup rapat.

Hudhrul Haq adalah salah satu bentuk musyahadat, yang berarti atas sekehendak Allah SWT dan manusia tidak terlibat sama sekali, meskipun ia melakukan keberupayaan. Jika musyahadat teraih tatkala melakukan dzikrullah atau muroqobah, maka itulah yang disebut dengan beribadah sambil menikmati sajian ruhani. Inilah yang membedakan orang-orang yang gemar bermujahadah dengan yang tidak. Dan menyadari pentingnya mendahulukan orang lain daripada dirinya, pentingnya melayani bukan dilayani, pentingnya memberi bukan menerima, pentingnya merendah bukan sombong, pentingnya berkata jujur bukan bohong. Menyadari dan merasakan bahwa dirinya hina. Orang yang merasa hina akan takjub kepada Yang Maha Mulia dan dekat dengan Tuhan, sebaliknya orang yang merasa mulia akan selalu memandang rendah orang lain dan jauh dari Tuhan, meskipun ia mengaku dekat dengan Tuhan tetapi cepat atau lambat orang akan mengetahuinya, karena semua kedudukan ada tanda-tanda, seperti hujan maka bumi menjadi basah. Semuanya terletak kepada kesadaran dan kesadaran adalah tasawuf begitulah guru kami tercinta Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengatakan.

Demikian para sahabat semoga ada manfaatnya.

Selasa, 12 Juli 2016

JIWA DAN RAGA

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Sayyidina Ali bin Abu Thalib,ra., berkata : ‘Aku dan jiwaku adalah seperti seorang gembala dan domba-dombanya. Setiap kali aku mengumpulkan mereka dari satu sisi, mereka berlarian ke arah lain.’

Istilah jiwa dan raga sangat popular di Indonesia, sungguh sangat tepat! Memang jiwa tidak bisa dipisahkan dengan raga, ia bersahabat, apapun kebutuhan jiwa maka raga akan mendukungnya, tubuh sebagai alat jiwa untuk mewujudkan keinginannya. Ada istilah latin yang mengatakan ‘Mens sana in corpore sano’, yang artinya adalah ‘Jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat.’ Maksudnya didalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, begitu pula sebaliknya. Rasulullah,saw., tidak mengkaitkan antara tubuh yang sehat dengan sebuah jiwa, melainkan mengkaitkan antara keadaan hati yang baik dengan tubuh, sebagaimana sabdanya : ‘Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.’ Jika bangunan tubuh manusia adalah sebuah singasana atau istana, maka hati adalah rajanya dan jiwa adalah permaisurinya. Jika raja baik, bijaksana dan adil maka seluruh tubuh akan baik pula dan sebaliknya. Namun faktanya tidak demikian, karena setiap perintah raja akan di tentang oleh sang permaisuri.

Istilah ‘Mens sana in corpore sano’ sangat dipercaya, sehingga manusia berlomba-lomba menyehatkan raganya agar jiwanya turut sehat. Padahal jika raga mengikuti kemauan jiwa maka akan semakin gelap hatinya dan sebaliknya jika raga menolak mengikuti kemauan jiwa maka hatinya akan bercahaya. Nah, jika dikaitkan dengan hadis yang mulia Nabi,saw., maka menolak kemauan jiwa merupakan kunci baiknya seluruh tubuh manusia. Adalah sholat, sebagai bukti meluangkan waktu sesaat untuk menolak keinginan jiwa yang selalu mengajak kepada kesenangan-kesenangan, dapat menghindarkan dari perbuatan yang keji dan durhaka. Jika meluangkan waktu yang sesaat hanya untuk Allah SWT ini diperpanjang menjadi lebih lama, seperti puasa, tentu dampak positifnya akan lebih baik. Oleh karenanya seorang muslim yang telah selesai berpuasa satu bulan penuh akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, atau kembali kepada fitrahnya, atau akan merasa sebagaimana ia dicipta di Alam Amr yang selalu menghadap kepada Keagungan Allah, yang kadarnya sesuai dengan kualitas puasanya. Lalu bagaimana bila berdzikir atau menyebut-nyebut dan mengingat Allah pada setiap waktu, yang dalam Al Qur’an dikatakan lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain. Sehingga sangat jelas bahwa rukun Islam adalah sarana untuk membuat tubuh menjadi baik dan begitu juga hatinya. Sarana bagi sesuatu yang bersifat halus atau lathaif yang berada didalam raga untuk menaik dan kembali kepada fitrahnya.

Kebanyakan para penempuh di jalan kesucian tidak terlalu perduli terhadap kejadian jiwa manusia, melainkan dipusatkan kepada cara-cara pengenalan terhadap tabiat alamiahnya dan cara memeranginya. Didalam Al Qur’an disebutkan secara rinci tentang kejadian ruh dan raga manusia, tetapi tidak demikian dengan kejadian jiwa. Padahal pengetahuan tentang Tuhan berkaitan dengan pengetahuan tentang jiwa, maka mustahil manusia dapat mengetahui pengetahuan tentang sifat jiwa secara paripurna, jika ia mengabaikan tentang kejadiannya. Sayidina Ali,ra., yang disebut oleh Rasulullah,saw., sebagai pintunya ilmu merasa kesulitan mengenal sifat-sifat jiwanya sendiri dengan berkata : ‘Aku dan jiwaku adalah seperti seorang gembala dan domba-dombanya. Setiap kali aku mengumpulkan mereka dari satu sisi, mereka berlarian ke arah lain,’ lalu bagaimana dengan manusia sesudahnya? Dan bagaimana dengan orang yang mengklaim dirinya telah mengenal Tuhannya?

Terdapat hadis Nabi,saw., yang mengatakan bahwa, ‘Yang pertama kali dicipta adalah pena.’ Pada hadis yang lain, beliau,saw., bersabda,‘Yang pertama kali dicipta adalah akal.’ Dan ada pula hadis yang mengatakan bahwa, ‘Yang pertama dicipta adalah Nuur Nabimu.’ Oleh karenanya merupakan sebuah keniscayaan bahwa akal, pena dan nuur (cahaya) mempunyai makna yang sama.

Sarana agar pena dapat menulis adalah Sang Penulis, lembaran dan cahaya. Saat menulis, pena selalu mempunyai dua wajah, yang satu menghadap kepada Sang Penulis dan yang lainnya menghadap kepada lembaran. Dengan kata lain, yang satu berpaling kepada Allah SWT dan yang lain berpaling dari Allah SWT. Atau dapat dikatakan yang satu merenungkan keagungan Kekuasaan Allah SWT Yang Tidak Berawal dan yang lain menatap Keindahan dari Kebijaksanaan-Nya Yang Tak Berakhir. Kedua wajah itu atau ‘pena’ bisa disebut sebagai ‘Akal,’ karena ia mempunyai kemampuan yang begitu tinggi untuk merenungkan keagungan dan kekuasaan-Nya dan merenungkan keindahan dan kebijaksanaan ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman kepada akal : 'Berpalinglah ke sini, maka ia berpaling kepada-Nya. Lalu berpalinglah ke sana, maka ia berpaling dari-Nya.’ Oleh karenanya pena atau akal yang dicipta pertama kali di alam perintah (alm amr) oleh Allah SWT dapat disebut sebagai ‘Akal Universal’ atau ‘Nuur Muhammad’, sedangkan lembaran tempat pena menulis atau Lembaran Yang Terjaga (Lawh Mahfuz) dapat disebut sebagai ‘Jiwa Universal’. Sehingga ke tiga hadis diatas mempunyai makna yang sama, meskipun berbeda cara penyampaiannya.

Pendeknya, aktivitas antara Akal Universasl atau Nuur Muhamad dengan Jiwa Universal atau Lawh Mahfuz di alam amr, menjadikan ciptaan menuju eksitensi memasuki dunia perwujudan (alm khalq). Maka seluruh ciptaan atau makhluk berasal dari Akal Universal dan Jiwa Univesal. Sementara Jiwa Universal berasal dari Akal Universal, dan Akal Universal atau Nuur Muhammad berasal dari Allah di Alam Perintah. Sebab Allah SWT menciptakan Nuur Muhammad tanpa penyebab perantara, dan ini dikiaskan melalui kata ‘Perintah.’ Dengan cara yang sama Allah SWT menciptakan semua makhluk dengan sarana Nuur Muhammad, dan semua ini dinamakan ‘Ciptaan.’ Sebagaimana firman-Nya : ‘Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.’ (QS 7: 54).

Kehendak-Nya telah memilih ruh untuk mewakili-Nya di dunia Ciptaan. Jika ruh yang dicipta didalam alam perintah ditiupkan kedalam raga manusia yang dicipta di alam penciptaan, maka ruh akan terjebak. Karena secara tiba-tiba ruh tidak mempunyai wewenang untuk mengendalikan raga secara langsung. Ruh, melalui akal hanya berfungsi sebagai penasihat jiwa, meskipun ia mempunyai potensi untuk membuka perbendaharaan misteri-misteri Illahi. Pertemuan antara ruh dan raga, akan melahirkan sesuatu yang halus didalam diri manusia, yang disebut sebagai hati (qalb) dan jiwa (nafs), maka jika ada ke empat unsur ini, sempurnalah ia disebut sebagai manusia, yang terdiri dari raga (jasad), jiwa (nafs), hati (qalb) dan ruh.

Jiwa adalah alat kekerasan Tuhan, darinya timbul segala kejahatan dan kerusakan. Jiwa tidak menyatakan kebenaran dan hati tidak berdusta. Jiwa mempunyai sifat seperti binatang yang bernama bunglon, dimanapun ia berada, ia mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan warnanya. Dalam setiap kedipan mata, ia bisa melakukan tipuan yang berlainan. Panca indera merupakan kendali jiwa. Dengan berbagai cara, ia bisa melakukan tipu muslihat dengan cara yang amat halus, ataupun dengan cara terang-terangan tergantung kepada siapa ia berhadapan, sungguh luar biasa!

Seorang bayi yang dilahirkan, akan memancarkan aroma wangi yang mengingatkan seseorang akan masa kecilnya. Pertanda kesucian masih melekat didalam dirinya. Ia menangis keras saat mencium bau dunia ini dan syaithon memukul pinggangnya, babak baru kehidupan sebagaimana yang Digariskan akan dimulai. Sebelum empat puluh hari, ia masih suci, air seninya pun tidak dianggap najis oleh agama dan tidak membatalkan wudhu seseorang. Ruh atau akalnya masih tidur, yang dominan adalah jiwa hewaniyahnya atau naluri, sehingga yang dibutuhkan hanyalah minum air susu ibundanya, menangis jika haus dan tidur.

Jika ruh di ibaratkan seorang suami dan istrinya adalah jiwa, maka anaknya adalah raga atau panca indera, seperti Adam yang mempunyai istri Hawa dan anak-anaknya yang bernama Habil dan Qobil yang mewakili kebaikan dan keburukan. Adam mewakili ruh dan Hawa mewakili jiwa. Hawa terhasut oleh ajakan Iblis lalu mempengaruhi suaminya, yang pada akhirnya keduanya terjerumus. Oleh karenanya, setiap ‘keinginan diri’ disebut menggunakan istri nabiyullah Adam,as., yaitu Hawa Nafsu. Ruh mempunyai penasihat yang bernama akal dan jiwa mempunyai perdana menteri yang bernama syahwat. Setiap saat jiwa selalu dipengaruhi oleh tentara akal dan pasukan syahwat agar berbuat sebagaimana keinginannya. Akal selalu mengajak kepada ingatan akan Tuhan, sedangkan syahwat selalu mengajak kepada kesenangan terhadap ciptaan Tuhan atau dunia. Jiwa selalu dalam keadaan yang demikian, yang terombang ambing oleh dua kekuatan yang berbeda, oleh karenanya ia disebut sebagai jiwa. Akal akan terus tumbuh sedikit demi sedikit seiring dengan tumbuhnya raga, melalui pengaruh hubungan yang terus berubah antara kedua orang tuanya. Sampai dengan akalnya dianggap dewasa dan dapat membedakan yang baik dan buruk, barulah hukum syariat agama berlaku atasnya. Itulah mengapa Rasulullah,saw., bersabda : ‘Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yg menjadikannya sebagai seorang yahudi, nasrani dan majusi (penyembah api). Apabila kedua orang tuanya muslim, maka anaknya pun akan menjadi muslim. Setiap bayi yg dilahirkan dipukul oleh syetan pada kedua pinggangnya, kecuali Maryam dan anaknya.’

Dimulailah proses yang ajaib dari seorang manusia, apakah ia senang hidup didalam dunia kegelapan atau berusaha berjuang untuk kembali sebagai ia dicipta di alam perintah, suci dan mengenal Tuhan. Inti daripada jiwa adalah hawa nafsu, dalam hadis disebutkan : ‘Segala sesuatu memiliki jiwa, dan jiwa dari jiwa adalah hawa nafsu.’ Apabila jiwa disapih dari hawa nafsu dengan cara dipisahkan darinya, ia akan berhenti mengatur, apalagi merongrong untuk melakukan keburukan dan jika bergerak menjauh dari syahwat dan mendekati tahap perdamaian dengan Akal, maka hati mengalami suatu perubahan yang sesuai dengan itu, dan berlaku pula sebaliknya. Disinilah dimulainya Perang Suci melawan diri sendiri, disinilah menjadi wajib hukumnya mempunyai seorang Pembimbing Ruhani untuk menuntun jalan pulang sebelum kematian tiba. Melalui perjuangan yang sungguh-sungguh dan berperang melawan jiwa, seseorang akan mengalami pengalaman-pengalaman mistis yang terus berubah sebagai bentuk Anugerah dari Allah yang disebut sebagai Maqom atau Kedudukan. Ia akan menaik dari alam Nasut ke alam Malakut, atau Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyebutnya ‘Ia akan terbang sebagaimana laron menuju cahaya yang kemudian mati terbakar.’ Maksudnya akan terbakar kediriannya atau nafsnya, menjadi fana terhadap dirinya sendiri.

Demikian para sahabat, semoga Allah SWT menolong kita.

Selasa, 28 Juni 2016

JAUH DAN DEKAT

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Yang mulia Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Berdekatlah kepada seorang ulama, yang manakala engkau melihatnya maka Allah SWT di ingat.’ Wejangan ini mengingatkan kepada sebuah hadis yang mengatakan suatu ketika Hanzhalah,ra., sedang bersama Rasulullah,saw., dan berkata : ‘Ketika berada bersamamu, kemudian engkau mengingatkan tentang surga dan neraka, kami sekan-akan melihat keduanya dengan jelas. Namun, ketika kami beranjak dari hadapanmu, kami kembali sibuk dengan kehidupan dan istri kami, serta banyak lalai.’ Mendengar itu Rasulullah,saw., bersabda : ‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Wahai Hanzhalah, seandainya kalian selalu berada dalam keadaan seperti ketika bersamaku dan senantiasa mengingat Allah (dzikrullah), niscaya malaikat akan menyalami kalian di jalan-jalan dan di pembaringan kalian, Namun, sesaat, sesaat.’

Apa yang dirasakan oleh sahabat Hanzhalah,ra., dirasakan pula oleh murid-murid tarekat yang berdekat dengan mursyidnya, meskipun dengan kadar yang berbeda. Karena ulama adalah warosyatul anbiya atau pewaris para nabi, dan seorang mursyid ditengah-tengah muridnya bagaikan Rasulullah,saw., di tengah sahabat-sahabatnya. Ulama adalah orang yang menjatuhkan rasa hurmat dan patuh serta mengambil ilmu dari ulama terdahulu dan seterusnya bertingkat-tingkat (nuurun ala nuur) yang pada akhirnya sampai kepada Abu Bakar as Siddiq,ra., atau Sayyidina Ali bin Abu Thalib,ra., yang kedua orang agung ini meneguk air ilmunya langsung dari cawan kenabian, yaitu Rasulullah,saw. Atau dalam istilah tasawuf disebut sebagai golden chain atau ratai emas atau ahli silsilah, yang sekarang dikenal dengan sebutan mursyid atau pembimbing ruhani.

Yang dimaksud degan ‘berdekat’ adalah yang terhubung secara ruhani, meskipun phisiknya jauh, dalam dunia kesufian disebut sebagai robithoh. Abu Lahab dan Abu Jahl secara phisik berdekat dengan Rasulullah,saw., namun tidak terhubung secara ruhaniyah, maka mereka tidak dapat mengambil manfaat keimanan dan malah memusuhinya. Kisah, Abu Lahab menggenggam kerikil di telapak tangannya, dan bertanya kepada Rasullulah,saw., : ' Wahai Muhammad katakan, benda apa yang ada dalam genggamanku?.' Rasulullah,saw., diam lalu secara ajaib batu kerikil itu mengeluarkan suara yang didengar oleh Abu Lahab bahwa tidak ada tuhan yang aku sembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Mendengar itu Abu Lahab tidak juga menyatakan ke imanannya, melainkan pergi sambil berkata bahwa Rasulullah,saw., adalah penyihir. Oleh sebab itu, melatih diri untuk selalu robithoh kepada guru, merupakan perbuatan riyadhah yang sangat bermafaat bagi kemajuan ruhani. Di karenakan secara spiritual akan tersambung kepada Rasulullah,saw., melalui mata ratai ahli silsilah tadi. Seorang ulama mengatakan bahwa dzikrullah yang disertai dengan robithoh bagi seorang murid kepada gurunya lebih baik 10.000X dari pada dzikrullah tanpa robithoh.

Cinta itu bersambut, tidak bisa dikatakan cinta manakala seseorang mengaku mencintai orang lain, tetapi orang lain itu tidak mencintainya. Demikian pula bila seorang murid mencintai gurunya tentu sang guru juga mencintainya. Cinta mempunyai tanda, salah satunya adalah dengan banyak mengingat dan menyebut-nyebut namanya yang disertai dengan taat atau disiplin dalam mengerjakan seluruh pekerjaan tarekat yang di ijazahkan kepadanya, terlepas sang murid berada dekat atau jauh secara phisik dari gurunya. Bila sudah demikian, robithoh yang dilakukan akan memperoleh saluran cahaya keruhanian yang besar, yang akan tersambung kepada Rasulullah,saw., melalui jalur para ahli silsilah secepat kedipan mata. Mustahil cinta dari seorang guru kepada muridnya diukur dari banyaknya pemberian materi, karena, siapapun bisa saja memberi materi, bahkan orang yang bukan murid atau bukan seiman sekalipun. Bisa jadi murid yang berada jauh ditengah hutan dan belum pernah memberikan materi, lebih dicintai oleh gurunya ketimbang yang lain.

Selepas melakukan khalwat selama 10 hari, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata kepada murid-muridnya : ‘Saya melihat kalian telah gigih melakukan peribadatan selama khalwat, khususnya dalam berdzikir kecuali robithoh.’ Ucapan ini sungguh menusuk dan menyayat hati, semua murid lengah, dikarenakan pelaksanaan khalwat di rubat dan posisi murid-murid bersebelahan dengan sang mursyid, menjadikan hal yang fundamental didalam beribadah yang berupa robithoh terlupakan. Hal ini merupakan bukti bahwa masih banyak murid-murid lebih mengutamakan bentuk ibadah yang berupa cabang dari pada yang pokok.

Demikian semoga ada manfaatnya.


ZUHUD DAN UZLAH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Banyak pendakwah yang masih baru, salah mengartikan tentang zuhud. Yang dimaksud zuhud oleh mereka, adalah meninggalkan kehidupan bermasyarakat lalu mengasingkan diri dan tidak ada tuntunannya dalam beragama, demikian ucapnya disalah satu masjid di Bogor pada kultum di bulan Ramadhon. Ucapan ini salah kaprah, perlu penjelasan agar mereka tidak berburuk sangka kepada para Zahid (orang yang zuhud). Dalam terminologi tasawuf menyendiri disebut sebagai khalwat dan menyendiri ditengah keramaian disebut khalwat dar ajuman sedangkan hidup menyendiri disebut uzlah. Jadi yang mereka maksud adalah uzlah bukan zuhud. Uzlah tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam dan diperbolehkan bila diperlukan. Orang yang memilih uzlah karena beranggapan bahwa dirinya tidak memberikan manfaat melainkan mudharat bagi masyarakat disekitarnya. Mudahnya begini, orang yang bicaranya selalu meyakiti orang lain akan lebih baik baginya bila diam, sedangkan untuk para ulama, bicaranya akan lebih baik daripada diamnya. Tidurnya orang yang jahil merupakan ibadah, tetapi terjaganya para mursyid lebih baik daripada tidurnya. Oleh sebab itu orang yang mempunyai kesadaran akan kelemahan dirinya akan melakukan perbaikan, salah satu jalannya dengan uzlah. Rasulullah,saw., pun pernah beruzlah di gua hira selama beberapa waktu, yang akhirnya menerima wahyu yang pertama. Semoga Allah menambahkan ilmu yang benar dan bermanfaat kepada mereka.

Sedangkan zuhud, mempunyai pengertian yang berbeda dari pada uzlah. Zuhud mempunyai tahap awal dan akhir. Tahap awal adalah berupaya untuk memperoleh keadaan ruhani yang lebih tinggi dengan cara melatih diri agar hatinya tidak terikat oleh dunia (mujahadah), atau boleh dikatakan sebagai memusuhi dunia. Dimulai dari upaya, lama kelamaan akan menjadi teguh, dan bila sudah teguh dalam istilah tasawuf disebut sebagai 'maqom zuhud'. Bukankah rukun Islam mengajarkan orang muslim untuk zuhud? Seperti meninggalkan dunia untuk mengerjakan shalat lima waktu, meninggalkan yang halal pada siang hari, berbagi harta dan mensucikan diri dengan pergi haji hanya untuk Allah SWT. Lawan daripada zuhud adalah mencintai dunia (hubbud dunya). Banyak ayat al Qur'an dan hadis yang melarang mencintai dunia, karena mempunyai konsekwensi yang sangat buruk. Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa kebalikan dari sesuatu yang dilarang oleh agama mempunyai manfaat yang baik bagi orang lain dan dirinya sendiri. Pada umumnya, robohnya bangunan keimanan dikarenakan orang mencintai dunia (hubbud dunya) yang menjadikan dirinya kikir (bakhil), sedangkan orang yang zuhud akan menghiasi imannya dengan bangunan keyaqinan yang indah. Orang yang zuhud bisa saja mempunyai harta yang banyak, namun hati mereka tetap terpusat kepada Allah SWT dan tidak terganggu atau terpengaruh oleh rayuan dan pesonanya, oleh karenanya ia menjadi dermawan. Sedangkan tahap akhir dari pada zuhud sebagaimana yang Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah katakan bahwa : ‘Gugurnya keberupayaan memusuhi dunia, melainkan hatinya sudah hampa dari dunia.’

Dizaman Rasulullah,saw., ada kelompok sahabat yang melakukan zuhud, mereka selalu berada di serambi rumah beliau,saw. Dan disebut sebagai ahli shuffah. Karena kezuhudan mereka, tempat ini sekarang disebut sebagai raudhah. Orang yang ke Madinah akan berebut untuk mendapatkan tempat di raudhah, karena mereka menyadari ketinggian fadhilah atau keutamaannya bila melakukan peribadatan disana. Abu Bakar as Siddiq,ra., menyerahkan seluruh harta bendanya untuk Islam, sedangkan Umar bin Khatab.ra., setengahnya. Yang pertama dalam tahap akhir zuhud sedangkan yang kedua masih dalam keadaan bermujahadah.

Darimana zuhud lahir? Setiap perkawinan niscaya akan melahirkan sesuatu, sebagai contoh : perkawinan Pena dan Lembaran Yang Terjaga melahirkan seluruh ciptaan, perkawinan langit dan bumi melahirkan kehidupan, perkawinan ruh dan badan melahirkan hati dan jiwa dan perkawinan manusia akan melahirkan manusia. Perkawinan antara Nuurullah dengan hati maka akan melahirkan zuhud. Bila sudah zahud, Nuuurullah akan memancar ke seluruh jiwa dan raga, sehingga matanya dapat melihat dan mengambil pelajaran, telinganya bisa mendengar dan menghayati dengan baik, mulutnya sibuk berdzikir dan seluuh jiwa dan raganya akan beribadah dengan kualitas yang yang berbeda dari sebelumnya (ubudiyah). Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyebutnya sebagai diperolehnya kejelasan-kejelasan.

Penjelasan dari Qurasy Shihab,qs., yang memberikan analogi Nuurulah sebagai frekeunsi radio sungguh sangat tepat. Beliau ditanya, mengapa orang yang rajin beribadah tetapi tidak banyak berpengaruh terhadap perilaku buruknya? Dijawab: 'Orang yang ingin mendengarkan siaran radio harus mengetahui frekuensi yang tepat, tanpanya mustahil memperoleh kontak, meskipun radio itu didekatkan ke pusat siaran sekalipun. Demikian juga, meskipun Allah berada lebih dekat dari pada urat leher manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak dapat merasakan kehadiran-Nya, karena masalahnya seperti radio tadi yang tidak tepat frekuensinya.'

Tidak ada yang bisa sampai kepada matahari kecuali hanya cahaya matahari saja. Karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang ataupun malam dengannya. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahayanya, mataharipun tak dapat dilihat. Namun cahaya matahari, bukanlah matahari. Cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari itu sendiri. Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nuurullah dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah atau Nuurullah, harus berpegangan pada ujung dari Nuur itu yang berada dalam dada Rasulullah. Caranya dengan dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah serta memperbanyak sholawat atas Nabi,saw. Ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa amal seseorang tidak akan sampai kepada Allah SWT dan akan mengambang diantara langit dan bumi, tanpa bershalawat kepada Rasulullah,saw.

Sebuah riwayat mengatakan bahwa ada seorang ahli shuffah meninggal dunia. Di sampingnya ditemukan dua keping dinar. Melihat itu Rasulullah,saw., bersabda : ‘Ini dua barang dari neraka.’ Riwayat ini perlu mendapatkan penjelasan, agar tidak berburuk sangka kepada orang-orang yang dilapangkan harta bendanya. Banyak sahabat Rasulullah,saw., meninggal dunia dan meninggalkan harta yang tidak sedikit, tetapi beliau,saw., tidak bersabda seperti itu. Sebab, mereka tidak menyembunyikan sesuatu yang berlawanan dengan penampilan lahirnya. Sementara orang itu menampakan kemisikinan padahal memiliki dua dinar. Banyak ulama di zaman kini yang mengaku miskin, padahal hartanya banyak, saldo tabungannya melimpah dan hidupnya mewah. Ketika apa yang disembunyikan tampak maka Rasulullah,saw., bersabda seperti diatas. Oleh karenanya ada pepatah mengatakan bahwa lebih baik berpura-pura kaya daripada menampakkan kemiskinan yang bertujuan agar tidak ada kesan meminta-minta, daripada orang yang kaya berpura-pura miskin, yang menandakan ia bakhil (kikir) dan takut bilamana ada orang yang meminta bantuan kepadanya. Allah SWT banyak memuji orang yang miskin tetapi menyembunyikan kemiskinannya dan berhenti dari meminta kepada makhluk, karena hal ini perlambang kefakiran, dan kefakiran adalah tasawuf. Sedangkan bagi orang yang bakhil, Allah SWT berfirman : 'Sekali-kali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS. 3 : 181).

Banyak hadis berkenaan dengan masalah kekikiran ini, diantaranya Rasulullah,saw., bersabda : 'Orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari surga dan jauh dari manusia,' dan 'Lalu penyakit apalagi yang lebih parah dari pada sifat bakhil.' dan 'Hati-hatilah kalian terhadap perbuatan kikir, karena sifat kikir telah menyesatkan orang-orang yang sebelum kalian. Mereka menghalalkan barang yang telah diharamkan, mengalirkan darah dan memutuskan hubungan silaturahmi karena terdorong oleh sifat-sifat kikir mereka.' dan 'Bukanlah termasuk orang yang beriman apabila seseorang di antara kalian tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.' dan 'Seorang yang kaya kemudian melihat saudaranya dalam keadaan sengsara dan membutuhkan pertolongan, tetapi ia bersikap acuh tidak mau mengulurkan tangannya memberi pertolongan atau santunan, maka ia termasuk orang yang paling jauh dari rasa keimanan.'

Nah, kezuhudan berkaitan erat dengan menghilangkan kekikiran dan meningkatkan kejujuran, orang yang zuhud akan menjadi dermawan dan sifat kejujurannya akan tumbuh sperti pohon yang kokoh, disebabkan hatinya hampa terhadap dunia dan menjadikan dirinya tidak akan melakukan siasat buruk yang merugikan pihak lain. Oleh sebab itu, sangat bermanfaat bilamana sang Zahid adalah pedagang. Karena bagi pedagang yang jujur, Rasulullah,saw., bersabda : ‘Pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, para syuhada dan orang saleh.’ Karena, pedagang yang jujur akan menyampaikan amanat dan nasihat, lahir dan batin mereka bersih, berjihad melawan dirinya terhadap rayuan akan berolehnya keuntungan yang besar, dan selalu mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.

Demkkian para sahabat, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.