Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Pengajian pada hari Jum’at tanggal 18 Syawal 1434 H berkenaan dengan sebuah mahzab yang menghindari sanjungan dan mencari celaan untuk kesejahteraan ruhaninya, karena mereka sadar dan jera bahwa pujian dari manusia akan menjadikan jiwanya terbelenggu oleh rasa kebanggaan. Bila kebanggaan diri telah mengakar kuat, maka hal ini merupakan noda atau tirai yang sangat sulit untuk disingkirkan. Sebagai contoh, Banyak orang yang kembali dari melakukan ibadah haji dan biasa dipanggil dengan sebutan ‘Pak Haji’, manakala sebutan itu tidak diucap oleh orang yang memanggilnya, maka jiwanya meronta dan memperlihatkan tanda tidak senang. Juga seorang pemimpin yang biasa dihormati dan dilayani oleh bawahannya, setelah masa pensiun tiba, kebanggaan akan penghormatan dan pelayanan yang kadung menempel kuat didalam jiwanya sulit sekali untuk dihilangkan (post power sindrome). Demikian juga berlaku kepada para ulama jahiran, yang kuat melakukan peribadatan lahiriyah, jika seseorang bersikap biasa-biasa saja terhadapnya dan tidak menghormatinya selayaknya orang lain menyanjungnya, maka ia bermuka masam.
Hanya sedikit orang yang menyadari akan bahaya ‘kebanggaan’ didalam perjalanan menuju Allah, yang disebabkan akan pujian dan penghormatan dari orang lain. Seseorang bila disanjung bisa saja muncul kebanggaan atau bagi yang ruhaniyahnya sudah baik akan biasa-biasa saja, tetapi tetap saja ia dihormati dan disanjung oleh orang-orang, Syaikh Abu Shalih Hamdun bin Ahmad bin Umara Al Qashar,qs., atau lebih akrab disebut sebagai Syaikh Hamdun bin Qashar,qs., beserta pengikutnya menggagas sebuah doktrin yang diberi nama ‘Celaan’ atau ‘Malamat’ dan pengikutnya disebut 'Malamatiyah'. Sebuah prinsip untuk merubah persepsi orang-orang yang dahulu hormat dan menyanjungnya menjadi mencelanya. Dipersiapkan jiwanya sedemikian rupa guna meninggalkan kesejahteraan dan menanggung kemalangan serta menyangkal kesenangan-kesenangan dan ikatan-ikatan pergaulannya dengan orang lain, dengan harapan agar keagungan Tuhan diungkapkan kepadanya, maka semakin ia terpisah dari khalayak ramai, ia semakin bersatu dengan Tuhan. Karena itu, kelompok ini tidak mempedulikan kesejahteraan, kesentausaan yang menjadi idaman penghuni dunia ini.
Sebuah riwayat mengatakan Syaikh Hamdun bin Qashar,qs., bertemu dengan seorang penyamun yang tersohor karena kemurahan hatinya, beliau bertanya kepadanya : ‘Wahai Nuh, apakah kemurahan hati itu?’ Dijawab : ‘Kupakai jubah bertambal dan bersikap yang sesuai dengan pakaian itu, supaya aku bisa menjadi seorang sufi dan menyingkiri dosa karena rasa maluku dihadapan Tuhan, tetapi engkau menanggalkan jubah bertambal supaya engkau tidak tertipu oleh manusia, dan agar manusia tidak tertipu olehmu, karena itu, kemurahan hatiku ialah melaksanakan secara resmi hukum keagamaan, sementara kemurahan hatimu ialah pelaksanaan secara ruhaniyah Kebenaran.’ Pembicaraan ini sungguh tinggi kandungan maknanya dan perlu penjelasan lebih lanjut. Yang pertama yag dilakukan oleh Nuh adalah secara istqomah melaksanakan kewajiban agama dan senantiasa tidak meninggalkan amal ibadah, dan tidak mempedulikan celaan orang terhadap dirinya sebagai tindakan memperhatikan urusannya sendiri. Sedangkan yang kedua, penghormatan kepada Syaikh Hamdun,qs., begitu tinggi yang dilakukan oleh orang banyak, sehingga hatinya cenderung kepada penghormatan yang diperolehnya, dia ingin membuat dirinya bebas dari mereka dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, maka dia dengan sengaja melakukan tindakan tertentu, tetapi tidak melanggar hukum agama, agar orang-orang menjadi mencelanya dan menjauhinya, sehingga ia memperoleh ketenangan dalam perjalanan menuju Tuhannya.
Ada sebuah riwayat lain, bahwa ketika Syaikh Abu Yazid,qs., memasukai Rayy dalam perjalanannya dari Hijaz, masyarakat kota itu berbondong-bondong menemuinya untuk menunjukkan rasa hormat kepadanya. Perhatian mereka mengacaukan hatinya dan memalingkan pikiran-pikirannya dari Tuhan. Ketika dia sampai di pasar, dia mengeluarkan sepotong roti dari lengan bajunya dan mulai memakannya. Orang-orang yang tadi menyangjungnya menjadi pergi dan mencelanya, karena pada saat itu bulan Ramadhan. Syaikh berkata kepada seorang muridnya, ‘Engkau mengerti, begitu aku laksanakan satu hukum, mereka semua menolakku.’ Menjadi tidak wajib hukumnya berpuasa bagi orang yang safar atau sakit.
Orang yang diridhoi Tuhan, akan menjadi sasaran celaan orang, namun Tuhan melindungi hati mereka dari termakan oleh celaan itu. Tuhan menjaga pecinta-pecinta-Nya dari memandang kepada yang lain, supaya orang-orang tidak melihat keindahan keadaannya dan juga menjaga dari memandang keindahan dirinya sendiri, supaya tidak jatuh dalam kebanggaan diri dan kesombongan.
Jika mahzab ini melakukan tindakan ‘celaan’ agar orang lain tidak lagi memperhatikannya, maka yang mulia Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) juga mempunyai sebuah prinsip yang mirip dengan ‘celaan’ ini, yakni mencela dirinya sendiri atau menolak segala pengakuan bahwa dirinya adalah orang hebat yang dilakukan oleh bisikan jiwanya lantaran telah melakukan riyadhah dan mujahadah yang keras, tanpa harus meninggalkan pergaulan dengan orang banyak, dikenal dengan istilah ‘Khalwat Dar Anjuman, atau merasa sendiri ditengah keramaian.’
Ucapan dan perilaku seseorang dapat menunjukan pada tingkatan mana ia berada, apakah ia duduk tenang manakala celaan datang kepadanya, atau sebaliknya ia marah dan kesal dan bergembira manakala pujian dan perhormatan datang kepadanya, terutama dari orang-orang yang mempunyai kedudukan di dunia ini.
Minggu, 25 Agustus 2013
Jumat, 09 Agustus 2013
DAWAMUDZ DZIKRI WA DAWAMUN UBUDIYAH
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Allah SWT berfirman : 'Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.' (QS 015 : 99)
Ini adalah sebuah doktrin para pengikut yang mulia Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), yang begitu piawai dalam menyampaikan setiap cabang dan tahapan didalam ilmu tasawuf. Dawamudz dzikri mudah dipahami dan kebanyakan para murid larut dalam mendawamkannya, paling tidak dilakukan sebanyak 15.000 kali dalam satu hari satu malam dengan menyebut kalimat Laa Ilahaa Illallaah atau Allah ... Allah ... Allah atau Huwa Allah, dengan menggunakan kaifiat atau cara-cara yang lazim didalam tarekatnya, dengan bersuara dan gerak ataupun tidak bersuara dan tidak bergerak, dan juga menggunakan teknik-teknik pernafasan. Termasuk didalamnya wirid-wirid khusus dan shalawat nabi,saw. Oleh karenanya dawamudz dzikri dapat dikatakan sebagai upaya untuk selalu ingat kepada Allah dalam setiap waktu dan keadaan sebagai tindak peribadatan yang berkualitas. Sebagaimana banyak hadist yang menyatakan keunggulan berdzikir. Dalam hal ini ‘perasaan’ akan kemapuan dalam melakukannya masih mendominasi ruang hatinya. Di dalam ilmu kesufian keadaan yang demikian disebut sebagai maqom ‘ibadat’. Persembahannya selalu diikuti oleh ‘rasa harap’ akan diperolehnya imbalan dari Allah. Sedangkan dawamun ubudiyah tidaklah semudah dawamudz dzikri, seorang murid pernah memohon penjelasan tentang hal tersebut kepada yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), lalu beliau berkata : ‘Dawamun ubudiyah adalah melakukan peribadatan yang berkualitas untuk memasuki hakikat atau musyahadah.’ Seolah-olah jawaban ini mempunyai arti yang sama antara mendawamkan dzikir dan mendawamkan ubudiyah yaitu melakukan tindak ‘peribadatan’ yang berkualitas. Padahal jika diteliti terdapat perbedaan yang sangat besar, memberi dengan berharap imbalan merupakan maqom ibadat, tentu berbeda derajatnya dengan memberi sebagai rasa syukur (maqom syukur), dan lebih berbeda lagi jika semua peribadannya tidak diakui sebagai kemampuannya, karena adanya kesadaran dan perasaan bahwa kemampuannya atas karunia dan kehendak Allah SWT (maqom ubudiyah). Oleh sebab itu ibadat merupakan upaya dan munculnya harapan akan imbalan sebuah ‘pengampunan’, merasa seolah-olah Allah SWT berada pada ‘tempat’ yang jauh (transenden), sedangkan ubudiyah adalah meninggalkan upayanya sendiri dan merasakan seolah-olah Allah itu dekat (imanen) bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri. Ibadat adalah bagi orang yang memiliki ‘ilmul yaqin’ sedangkan ubudiyah untuk orang yang memiliki ‘ainul yaqin’.
Sebagaimana sebuah ayat Al Qur'an diatas (QS 015:99) dapat ditakwilkan sebagai perintah untuk melakukan peribadatan sampai diperolehnya keyakinan, sedangkan keyakinan itu bertahap dimulai dari ilmul yaqin, lalu ainul yaqin dan kemudian haqqul yaqin. Oleh karenanya sebagian ulama ada yang menafsirkan ayat tersebut sebagai perintah beribadah sampai datang ajal, adalah mempunyai makna yang sama, karena jika seseorang telah meninggalkan dunia fana ini, maka keyakinannya akan bergeser menaik menjadi ainul dan haqqul yaqin, karena hal-hal yang ghaib di alam dunia ini menjadi nyata. Tingkat keyakinan yang hanya bisa diperoleh dalam keadaan mati, niscaya dapat diperoleh oleh orang-orang yang masih hidup dan mempunyai tingkat spiritual yang tinggi.
Imam Qusyairi,qs., mengatakan bahwa ubudiyah adalah mengosongkan diri dari keyakinan akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri dan mengakui kekayaan serta anugerah yang diberikan oleh Allah SWT.
Syaikh Ismail bin Nujayd,qs., mengatakan : ‘Tidak satu pun langkah dapat murni dijalan ubudiyah sampai seseorang melihat bahwa amal-amal baiknya adalah riya dan keadaan-keadaan ruhaninya (hal) adalah kepura-puraan.’
Imam Junayd,qs., berkata : ‘Ubudiyah adalah meninggalkan semua aktivitas dan kesibukan dengan cara menyibukkan diri pada hal-hal yang merupakan dasar kebebasan.’
Dikatakan orang yang bebas adalah yang telah keluar dari penjara dunia ini, dunia adalah sahabat jiwa, oleh sebab itu barang siapa telah mampu menundukkan jiwanya, maka dapat dikatakan sebagai orang yang keluar dari belenggu penjara dunia dan masuk dalam maqom kebebasan. Nah kebebasan akan sempurna manakala ubudiyah telah teraih.
Mudahnya begini, ibadat adalah upaya manusia dalam mengaktualisasikan ilmu syariat dengan cara yang benar, sedangkan ubudiyah adalah meninggalkan ikhtiarnya sendiri. Oleh karenanya dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah adalah mendawamkan dzikir pada setiap kesempatan (ibadat) dan mengukuhkuan sebuah rasa bahwa kemampuan dzikirnya bukan atas upayanya sendiri melainkan atas karunia dan kehendak Allah SWT.
Semoga Allah berkenan mengkaruniai keteguhan kepada kita semua didalam pelaksanaannya amiiin ... amiiin ... amiiin.
Allah SWT berfirman : 'Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.' (QS 015 : 99)
Ini adalah sebuah doktrin para pengikut yang mulia Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), yang begitu piawai dalam menyampaikan setiap cabang dan tahapan didalam ilmu tasawuf. Dawamudz dzikri mudah dipahami dan kebanyakan para murid larut dalam mendawamkannya, paling tidak dilakukan sebanyak 15.000 kali dalam satu hari satu malam dengan menyebut kalimat Laa Ilahaa Illallaah atau Allah ... Allah ... Allah atau Huwa Allah, dengan menggunakan kaifiat atau cara-cara yang lazim didalam tarekatnya, dengan bersuara dan gerak ataupun tidak bersuara dan tidak bergerak, dan juga menggunakan teknik-teknik pernafasan. Termasuk didalamnya wirid-wirid khusus dan shalawat nabi,saw. Oleh karenanya dawamudz dzikri dapat dikatakan sebagai upaya untuk selalu ingat kepada Allah dalam setiap waktu dan keadaan sebagai tindak peribadatan yang berkualitas. Sebagaimana banyak hadist yang menyatakan keunggulan berdzikir. Dalam hal ini ‘perasaan’ akan kemapuan dalam melakukannya masih mendominasi ruang hatinya. Di dalam ilmu kesufian keadaan yang demikian disebut sebagai maqom ‘ibadat’. Persembahannya selalu diikuti oleh ‘rasa harap’ akan diperolehnya imbalan dari Allah. Sedangkan dawamun ubudiyah tidaklah semudah dawamudz dzikri, seorang murid pernah memohon penjelasan tentang hal tersebut kepada yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), lalu beliau berkata : ‘Dawamun ubudiyah adalah melakukan peribadatan yang berkualitas untuk memasuki hakikat atau musyahadah.’ Seolah-olah jawaban ini mempunyai arti yang sama antara mendawamkan dzikir dan mendawamkan ubudiyah yaitu melakukan tindak ‘peribadatan’ yang berkualitas. Padahal jika diteliti terdapat perbedaan yang sangat besar, memberi dengan berharap imbalan merupakan maqom ibadat, tentu berbeda derajatnya dengan memberi sebagai rasa syukur (maqom syukur), dan lebih berbeda lagi jika semua peribadannya tidak diakui sebagai kemampuannya, karena adanya kesadaran dan perasaan bahwa kemampuannya atas karunia dan kehendak Allah SWT (maqom ubudiyah). Oleh sebab itu ibadat merupakan upaya dan munculnya harapan akan imbalan sebuah ‘pengampunan’, merasa seolah-olah Allah SWT berada pada ‘tempat’ yang jauh (transenden), sedangkan ubudiyah adalah meninggalkan upayanya sendiri dan merasakan seolah-olah Allah itu dekat (imanen) bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri. Ibadat adalah bagi orang yang memiliki ‘ilmul yaqin’ sedangkan ubudiyah untuk orang yang memiliki ‘ainul yaqin’.
Sebagaimana sebuah ayat Al Qur'an diatas (QS 015:99) dapat ditakwilkan sebagai perintah untuk melakukan peribadatan sampai diperolehnya keyakinan, sedangkan keyakinan itu bertahap dimulai dari ilmul yaqin, lalu ainul yaqin dan kemudian haqqul yaqin. Oleh karenanya sebagian ulama ada yang menafsirkan ayat tersebut sebagai perintah beribadah sampai datang ajal, adalah mempunyai makna yang sama, karena jika seseorang telah meninggalkan dunia fana ini, maka keyakinannya akan bergeser menaik menjadi ainul dan haqqul yaqin, karena hal-hal yang ghaib di alam dunia ini menjadi nyata. Tingkat keyakinan yang hanya bisa diperoleh dalam keadaan mati, niscaya dapat diperoleh oleh orang-orang yang masih hidup dan mempunyai tingkat spiritual yang tinggi.
Imam Qusyairi,qs., mengatakan bahwa ubudiyah adalah mengosongkan diri dari keyakinan akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri dan mengakui kekayaan serta anugerah yang diberikan oleh Allah SWT.
Syaikh Ismail bin Nujayd,qs., mengatakan : ‘Tidak satu pun langkah dapat murni dijalan ubudiyah sampai seseorang melihat bahwa amal-amal baiknya adalah riya dan keadaan-keadaan ruhaninya (hal) adalah kepura-puraan.’
Imam Junayd,qs., berkata : ‘Ubudiyah adalah meninggalkan semua aktivitas dan kesibukan dengan cara menyibukkan diri pada hal-hal yang merupakan dasar kebebasan.’
Dikatakan orang yang bebas adalah yang telah keluar dari penjara dunia ini, dunia adalah sahabat jiwa, oleh sebab itu barang siapa telah mampu menundukkan jiwanya, maka dapat dikatakan sebagai orang yang keluar dari belenggu penjara dunia dan masuk dalam maqom kebebasan. Nah kebebasan akan sempurna manakala ubudiyah telah teraih.
Mudahnya begini, ibadat adalah upaya manusia dalam mengaktualisasikan ilmu syariat dengan cara yang benar, sedangkan ubudiyah adalah meninggalkan ikhtiarnya sendiri. Oleh karenanya dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah adalah mendawamkan dzikir pada setiap kesempatan (ibadat) dan mengukuhkuan sebuah rasa bahwa kemampuan dzikirnya bukan atas upayanya sendiri melainkan atas karunia dan kehendak Allah SWT.
Semoga Allah berkenan mengkaruniai keteguhan kepada kita semua didalam pelaksanaannya amiiin ... amiiin ... amiiin.
Sabtu, 27 Juli 2013
ANAK BUKAN MURID
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Seorang ulama mengatakan bahwa derajat para nabi berbeda-beda, semakin tinggi kedudukannya maka setiap kesalahan yang dibuatnya akan segera ditegur, sebagaimana Rasulullah,saw., yang segera ditegur oleh Allah SWT lantaran bermuka masam dan mengacuhkan seorang buta yang menghendaki wejangan dari mulut suci itu, tetapi beliau,saw., malah tidak berpaling dari pembesar Quraisy. Dengan adanya teguran ini, beliau,saw., berterima kasih kepada orang buta itu, bukannya memakinya.
Seorang syaikh yang dekat dengan Allah SWT ditegur dengan cara lain manakala melakukan kesalahan, Syaikh Abu Thurab an-Nakhsyaby,qs., bercerita : "Jiwaku tidak pernah cenderung kepada hawa nafsu kecuali sekali saja. Aku ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada dalam perjalanan. Lalu aku pun memasuki sebuah kampung. Seseorang bangkit dan memegang tanganku sambil berkata : 'Orang ini adalah salah seorang dari perampok itu.' Lalu orang-orang disitu memukuliku tujuh puluh kali. Seorang laki-laki diantara mereka mengenaliku dan menyela : 'Ini adalah Abu Thurab an-Nakhsyaby!' Mendengar itu, mereka cepat-cepat minta maaf kepadaku, dan laki-laki itu lalu membawaku kerumahnya karena rasa hormat dan kasihan kepadaku, dan ia menjamu aku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada diri sendiri : 'Makanlah setelah tujuh puluh kali pukulan!'".
Demikian juga bila yang mulia Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) sudah jatuh hati kepada salah seorang muridnya, maka murid kesayangan itu akan diperlakukan seperti anaknya. Bila sang anak melakukan kesalahan maka akan segera ditegur, yang bertujuan agar kemajuan spiritualnya tidak terhambat. Sesekali beliau menguji dengan 'meminta' sedikit sesuatu yang dicintai muridnya itu, untuk mengetahui apakah zuhud sudah kukuh didalam hatinya. Perbuatan yang tersembunyi maknanya itu, kadangkala disalah artikan, seolah-olah sang syaikh membutuhkan bantuan dari muridnya. Terapi spiritual selanjutnya akan diberikan kepada sang anak, agar ia dapat menyadari bahwa tugas seorang guru bukan 'meminta' dari muridnya, melainkan 'memberi' cahaya ditengah kegelapan perjalanan murid-muridnya.
Sesungguhnya wajar bila sang anak atau sang murid tidak mengerti makna hakiki dibalik perbuatan gurunya, jika kebodohannya atau ketidak tahuannya itu segera ditindak lanjuti dengan bertobat, maka sempurnalah manifestasi sifat gurunya sebagai pembimbingnya, yang akan mengeluarkannya dari kebodohan menuju kecerdasan spiritual, karena orang yang mengetahui makna-makna yang hadir didalam hatinya adalah orang pilihan Tuhan. Nabiyullah Musa,as., pun pernah mengalami hal yang demikian atas perbuatan yang dilakukan oleh Nabiyullah Khidir,as., yang tidak dapat dipahaminya hingga tiga kali, yang pada akhirnya berpisah karenanya.
Keimanan yang baik itu manakala dapat memberi sesuatu yang dicintainya dengan ringan. Jika memberi mobil kepada seseorang sama rasanya dengan memberi sendok makan, maka keimanannya dalam keadaan baik dan sebaliknya bila memberi sendok makan serasa memberi mobil maka kegelapan hatinya semakin pekat.
Seorang ulama mengatakan bahwa derajat para nabi berbeda-beda, semakin tinggi kedudukannya maka setiap kesalahan yang dibuatnya akan segera ditegur, sebagaimana Rasulullah,saw., yang segera ditegur oleh Allah SWT lantaran bermuka masam dan mengacuhkan seorang buta yang menghendaki wejangan dari mulut suci itu, tetapi beliau,saw., malah tidak berpaling dari pembesar Quraisy. Dengan adanya teguran ini, beliau,saw., berterima kasih kepada orang buta itu, bukannya memakinya.
Seorang syaikh yang dekat dengan Allah SWT ditegur dengan cara lain manakala melakukan kesalahan, Syaikh Abu Thurab an-Nakhsyaby,qs., bercerita : "Jiwaku tidak pernah cenderung kepada hawa nafsu kecuali sekali saja. Aku ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada dalam perjalanan. Lalu aku pun memasuki sebuah kampung. Seseorang bangkit dan memegang tanganku sambil berkata : 'Orang ini adalah salah seorang dari perampok itu.' Lalu orang-orang disitu memukuliku tujuh puluh kali. Seorang laki-laki diantara mereka mengenaliku dan menyela : 'Ini adalah Abu Thurab an-Nakhsyaby!' Mendengar itu, mereka cepat-cepat minta maaf kepadaku, dan laki-laki itu lalu membawaku kerumahnya karena rasa hormat dan kasihan kepadaku, dan ia menjamu aku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada diri sendiri : 'Makanlah setelah tujuh puluh kali pukulan!'".
Demikian juga bila yang mulia Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) sudah jatuh hati kepada salah seorang muridnya, maka murid kesayangan itu akan diperlakukan seperti anaknya. Bila sang anak melakukan kesalahan maka akan segera ditegur, yang bertujuan agar kemajuan spiritualnya tidak terhambat. Sesekali beliau menguji dengan 'meminta' sedikit sesuatu yang dicintai muridnya itu, untuk mengetahui apakah zuhud sudah kukuh didalam hatinya. Perbuatan yang tersembunyi maknanya itu, kadangkala disalah artikan, seolah-olah sang syaikh membutuhkan bantuan dari muridnya. Terapi spiritual selanjutnya akan diberikan kepada sang anak, agar ia dapat menyadari bahwa tugas seorang guru bukan 'meminta' dari muridnya, melainkan 'memberi' cahaya ditengah kegelapan perjalanan murid-muridnya.
Sesungguhnya wajar bila sang anak atau sang murid tidak mengerti makna hakiki dibalik perbuatan gurunya, jika kebodohannya atau ketidak tahuannya itu segera ditindak lanjuti dengan bertobat, maka sempurnalah manifestasi sifat gurunya sebagai pembimbingnya, yang akan mengeluarkannya dari kebodohan menuju kecerdasan spiritual, karena orang yang mengetahui makna-makna yang hadir didalam hatinya adalah orang pilihan Tuhan. Nabiyullah Musa,as., pun pernah mengalami hal yang demikian atas perbuatan yang dilakukan oleh Nabiyullah Khidir,as., yang tidak dapat dipahaminya hingga tiga kali, yang pada akhirnya berpisah karenanya.
Keimanan yang baik itu manakala dapat memberi sesuatu yang dicintainya dengan ringan. Jika memberi mobil kepada seseorang sama rasanya dengan memberi sendok makan, maka keimanannya dalam keadaan baik dan sebaliknya bila memberi sendok makan serasa memberi mobil maka kegelapan hatinya semakin pekat.
MAKNA BUKAN BENTUK
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Jika hakikat segala sesuatu tersingkap, maka Yang Mulia Rasulullah,saw., yang diberkati ketajaman mata hati, yang disinari dan menyinari, tidak akan pernah melantunkan doa ini : 'Ya Allah, tunjukkan pada kami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya yang tersembunyi.'
Seorang salik bertanya kepada murid yang lain berkenaan dengan wejangan yang mulia Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), yang mengatakan bahwa : ‘Setinggi-tinggi pencapaian seorang salik maka serendah-rendahnya pencapaian seorang Syaikh, atau setinggi-tinggi maqom seorang salik sama dengan munafiknya seorang Syaikh.’ Dijawab oleh murid itu : ‘Jika tidak hati-hati mencermati wejangan itu, maka akan timbul buruk sangka bahwa Syaikh masih ada kesombongan didalam hatinya. Sesungguhnya tidak demikian, dalam pertemuan itu Syaikhuna (semoga Allah mrahmatinya) mencium bau seseorang salik yang berbangga atas riyadhah dan mujahadahnya yang hebat, sehingga ia merasa pantas mendapatkan pujian dan tempat yang tinggi disisi gurunya. Untuk memadamkan api ujub yang sedang menyala, maka Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyiramnya dengan air perkataan seperti itu. Agar dengan segera api ujub sang salik padam, sehingga sang salik dapat melanjutkan perjalanannya dengan baik dan sayap ma'rifatnya semakin kuat untuk terbang. Tidak ada seorang syaikh pun yang tidak menghendaki muridnya akan menetas dari sangkar telur dan menjadi induk yang lebih baik darinya, karena hal tersebut merupakan kebahagiaan bagi seorang syaikh yang silsilahnya dapat berlanjut.
Makna selalu sembunyi dalam bentuk, sebagaimana Lailatul Qodar yang bersembunyi di bulan Ramadhon. Bentuk adalam penampakan luar. Makna adalah hakikat yang tidak terlihat, realitas yang tersembunyi. Oleh karenanya yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : 'Jangan berburuk sangka.'
Seseorang datang menjumpai seorang syaikh, dan ketika melihat sang syaikh menangis, ia bertanya : 'Mengapa Anda menangis?' Sang syaikh menjawab : 'Aku lapar.' Ia mencela : 'Seorang seperti Anda, menangis karena lapar?' Sang syaikh balas mencela : 'Diamlah! Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan-Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis.' Terlihat dengan jelas dalam riwayat ini bahwa derajat menangis karena lapar berbeda dengan menangis karena Allah SWT, oleh karena setiap makna yang sangat tersembunyi atas tindakan seorang syaikh, sebagaimana rambut diatas batu hitam pada malam hari, maka sejatinya kita memohon pertolongan kepada Allah SWT kiranya berkenan menguatkan kita untuk tidak berburuk sangka.
Jika hakikat segala sesuatu tersingkap, maka Yang Mulia Rasulullah,saw., yang diberkati ketajaman mata hati, yang disinari dan menyinari, tidak akan pernah melantunkan doa ini : 'Ya Allah, tunjukkan pada kami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya yang tersembunyi.'
Seorang salik bertanya kepada murid yang lain berkenaan dengan wejangan yang mulia Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), yang mengatakan bahwa : ‘Setinggi-tinggi pencapaian seorang salik maka serendah-rendahnya pencapaian seorang Syaikh, atau setinggi-tinggi maqom seorang salik sama dengan munafiknya seorang Syaikh.’ Dijawab oleh murid itu : ‘Jika tidak hati-hati mencermati wejangan itu, maka akan timbul buruk sangka bahwa Syaikh masih ada kesombongan didalam hatinya. Sesungguhnya tidak demikian, dalam pertemuan itu Syaikhuna (semoga Allah mrahmatinya) mencium bau seseorang salik yang berbangga atas riyadhah dan mujahadahnya yang hebat, sehingga ia merasa pantas mendapatkan pujian dan tempat yang tinggi disisi gurunya. Untuk memadamkan api ujub yang sedang menyala, maka Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyiramnya dengan air perkataan seperti itu. Agar dengan segera api ujub sang salik padam, sehingga sang salik dapat melanjutkan perjalanannya dengan baik dan sayap ma'rifatnya semakin kuat untuk terbang. Tidak ada seorang syaikh pun yang tidak menghendaki muridnya akan menetas dari sangkar telur dan menjadi induk yang lebih baik darinya, karena hal tersebut merupakan kebahagiaan bagi seorang syaikh yang silsilahnya dapat berlanjut.
Makna selalu sembunyi dalam bentuk, sebagaimana Lailatul Qodar yang bersembunyi di bulan Ramadhon. Bentuk adalam penampakan luar. Makna adalah hakikat yang tidak terlihat, realitas yang tersembunyi. Oleh karenanya yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : 'Jangan berburuk sangka.'
Seseorang datang menjumpai seorang syaikh, dan ketika melihat sang syaikh menangis, ia bertanya : 'Mengapa Anda menangis?' Sang syaikh menjawab : 'Aku lapar.' Ia mencela : 'Seorang seperti Anda, menangis karena lapar?' Sang syaikh balas mencela : 'Diamlah! Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan-Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis.' Terlihat dengan jelas dalam riwayat ini bahwa derajat menangis karena lapar berbeda dengan menangis karena Allah SWT, oleh karena setiap makna yang sangat tersembunyi atas tindakan seorang syaikh, sebagaimana rambut diatas batu hitam pada malam hari, maka sejatinya kita memohon pertolongan kepada Allah SWT kiranya berkenan menguatkan kita untuk tidak berburuk sangka.
SYUKUR
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Allah SWT berfirman : ‘Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’ (QS 14 : 7)
Riwayat, seorang salik tatkala menerima karunia dari Allah SWT seberapapun besarnya ia melakukan syukur dengan melakukan tindak peribadatan yang tangguh, ketangguhan ibadahnya itu melebihi para salik yang lain, karena syukurnya yang demikian baik menurut kadar seorang salik, Allah SWT menambah-nambah nikmat atas apa-apa yang diinginkannya, sampai ia mempunyai keturunan dan harta benda yang banyak. Hatinya menjadi lapang dan ringan melakukan peribadatan dengan hartanya. Rasa hurmat dan kepatuhan kepada syaikhnya terjalin dengan hebat. Sahabat-sahabatnya yang dalam tekanan kehidupan dibantunya. Manakala penghasilannya mulai berkurang, ia mengeluh, tanpa disadarinya keluhannya itu sebagai tanda kufur nikmat, padahal harta bendanya masih sangat banyak. Semakin ia mengeluh semakin Allah SWT menyempitkan dadanya dan menghinggapkan perasaan susah dan kekhawatiran, sehingga hilanglah perbuatan-perbuatan yang terpuji tadi, hilanglah kecantikan yang menjadikan makhluk lain iri, hatinya menjadi berat untuk melakukan peribadatan dengan hartanya, bayang-bayang kemiskinan menghantuinya dan berbohong mulai lancar dilakukan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering bercerita : 'Manusia sering lupa, yang tadinya tidak punya apa-apa, lalu Allah SWT memberinya 100 ekor ternak dan pada suatu ketika dirampas-Nya kembali sebanyak 40 ekor, maka manusia menjadi takut akan kemiskinan dan menjadi kikir, padahal tadinya tanpa harta benda yang banyak, ia biasa-biasa saja, sekarang dengan 60 ternak ia malah lupa diri.'
Pada saat berbuka puasa, ada kelompok orang yang tertawa terbahak-bahak, mendengar itu Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Orang-orang yang tertawa seperti itu dalam waktu tidak lama akan mengalami kegundahan dan rasa was-was yang berkepanjangan.’ Dilain kesempatakan beliau berkata bahwa : ‘Tertawa terbahak-bahak akan menggelapkan hati.’ Hal ini merupakan sebuah keniscayaan yang terlihat oleh para syaikh, sebagaimana orang awan melihat bahwa orang yang minum racun akan mati. Karena sebab-sebab suatu takdir diciptakan oleh Allah SWT yang merupakan sesuatu yang berlaku umum. Jika setitik noda menempel kedalam hati sebagai akibat dari tertawa yang melampaui batas, maka akibat dari itu akan segera dirasakan. Orang tua mengatakan jangan tertawa terbahak-bahak karena engkau akan segera menderita kesedihan dan menangis. Mengapa demikian? Sebagai hukuman bagi pemilik hati karena tidak amanah dalam menjaganya. Satu-satunya yang ditilik oleh Allah SWT adalah hati, jika ia bersih akan merefleksikan sifat-sifat Ketuhanan, jika ia ternodai maka syaithon akan mudah menyusup dan membisikan hal-hal yang bertentangan dengan syariat agama. Jika demikian maka hati adalah satu-satunya tempat tambang ma’rifat. Jika ma’rifat merupakan sesuatu yang dicintai dan keharusan bagi manusia, agar Allah SWT dapat dikenal, maka seseorang akan menjaga sedemikian rupa agar tidak terkotori, sebagaimana jika ia mencintai sebuah permata yang baru dibelinya, maka ia akan menjaganya dengan cara apapun untuk tidak terkena noda sedikitpun. Akan tetapi kebanyakan orang tidak peduli terhadap hal ini.
Tertawa adalah sebagai akibat dari rasa gembira yang tidak tertampung lagi oleh pertahanan hati, semakin hebat kegembiraannya maka semakin besar tertawanya. Nah kegembiraan yang dinikmati oleh manusia oleh sebab apapun, wajib hukumnya untuk dizakatkan atau mengeluarkan shodaqoh atau dalam bentuk peribadatan sebagai rasa syukur. Agar noda-noda yang menempel kedalam hati segera terbersihkan, agar kegundahan dan was-was tidak berdatang. Oleh sebab itulah kegembiraan tatkala hubungan antara suami dan istri wajib segera ditindaklanjuti dengan mandi besar atau mandi junub lalu mendirikan sholat sunah dan berdzikir sebagai rasa syukur. Bila mandi junub tidak dilakukan, kita semua tahu konsekwensinya sebagaimana yang tertuang didalam syariat, dan bila seseorang wafat dalam keadaan junub maka jahanam tempatnya, naudzubillah mindzalik. Jadi wajar bila seorang sufi mengatakan bahwa segala sesuatu ada zakatnya. Seseorang bisa melihat bahwa dalam kenikmatan satu hari dan agar manusia tidak tenggelam dalam lautan kesulitan, diwajibkan untuk melakukan shalat 5 waktu, menyisihkan waktunya untuk mengingat Sang Penciptanya atau meninggalkan dunia, atau zuhud sesaat. Lalu kenikmatan dalam satu tahun, diwajibkan manusia untuk berpuasa dalam satu bulan lamanya.
Seorang murid berkata kepada Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) : ‘Aku bersyukur karena karir dan bisnisku menjadi sangat baik.’ Karena kegembiraan ini, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) memerintahkannya untuk mengeluarkan harta bendanya untuk dishodaqohkan kepada pihak yang berhak menerimanya sesuai syariat agama. Jadi syukur dapat dikatakan sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas kegemberiaan yang dirasakannya, lalu ia berbagi kegembiraan itu kepada orang lain. Ada syukur yang berbeda, seorang murid menyampaikan keadaannya kepada Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) bahwa jika ia telah menyelesaikan peribadatan dimalam hari lalu dilanjutkan dengan shalat Subuh dan berdzikir hingga waktu syuruq lalu ia bersyukur kepada Allah SWT atas rasa gembiranya lantaran peribadatan itu bukannya keluh kesah karena lelah. Yang pertama bersyukur karena merasakan kegembiraan masalah dunia, dan yang kedua bersyukur karena telah di anugerahi makna-makna yang datang di hatinya. Manusia yang bersyukur lantaran sebab nikmat yang diterimanya akan berhenti bersyukur jika ia merasa tidak ada lagi nikmat baru yang diterimanya. Sedangkan orang yang bersyukur karena makna-makna yang hadir, ia tidak pernah berhenti bersyukur, karena makna-makna selalu hadir kedalam hati sang pendzikir. Tanda orang yang demikian adalah, lisannya selalu mengucapan Alhamdulillah pada setiap perbuatannya dan hatinya bermusyahadah. Imam Sybly,qs., berkata : 'Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.'
Nabiyullah Idris,as., memperoleh kabar gembira pengampunan, lalu beliau memohon diberi panjang umur. Ketika ditanya alasanya, dijawab : ‘Agar aku dapat bersyukur kepada-Nya, karena sebelum ini aku telah berjuang hanya untuk memperoleh ampunan.’ Kemudian salah satu malaikat mengembangkan sayapnya dan membawanya kelangit.
Imam Junayd,qs., berkata : ‘Syukur adalah jika orang tindak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya.’
Imam Syibli,qs., berkata : ‘Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.’
Rasulullah,saw., beribadah malam sampai kakinya bengkat, ditanya alasannya, beliau,saw., menjawab : ‘Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?.’
Nabiyullah Daud,as., bertanya : 'Illahi, bagaimana aka dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan bersyukur itu sendiri adalah nikmat dari-Mu?' Allah mewahyukan kepadanya : 'Sekarang, engkau benar-benar telah bersyukur kepada-Ku.'
Allah SWT berfirman : ‘Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’ (QS 14 : 7)
Riwayat, seorang salik tatkala menerima karunia dari Allah SWT seberapapun besarnya ia melakukan syukur dengan melakukan tindak peribadatan yang tangguh, ketangguhan ibadahnya itu melebihi para salik yang lain, karena syukurnya yang demikian baik menurut kadar seorang salik, Allah SWT menambah-nambah nikmat atas apa-apa yang diinginkannya, sampai ia mempunyai keturunan dan harta benda yang banyak. Hatinya menjadi lapang dan ringan melakukan peribadatan dengan hartanya. Rasa hurmat dan kepatuhan kepada syaikhnya terjalin dengan hebat. Sahabat-sahabatnya yang dalam tekanan kehidupan dibantunya. Manakala penghasilannya mulai berkurang, ia mengeluh, tanpa disadarinya keluhannya itu sebagai tanda kufur nikmat, padahal harta bendanya masih sangat banyak. Semakin ia mengeluh semakin Allah SWT menyempitkan dadanya dan menghinggapkan perasaan susah dan kekhawatiran, sehingga hilanglah perbuatan-perbuatan yang terpuji tadi, hilanglah kecantikan yang menjadikan makhluk lain iri, hatinya menjadi berat untuk melakukan peribadatan dengan hartanya, bayang-bayang kemiskinan menghantuinya dan berbohong mulai lancar dilakukan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering bercerita : 'Manusia sering lupa, yang tadinya tidak punya apa-apa, lalu Allah SWT memberinya 100 ekor ternak dan pada suatu ketika dirampas-Nya kembali sebanyak 40 ekor, maka manusia menjadi takut akan kemiskinan dan menjadi kikir, padahal tadinya tanpa harta benda yang banyak, ia biasa-biasa saja, sekarang dengan 60 ternak ia malah lupa diri.'
Pada saat berbuka puasa, ada kelompok orang yang tertawa terbahak-bahak, mendengar itu Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Orang-orang yang tertawa seperti itu dalam waktu tidak lama akan mengalami kegundahan dan rasa was-was yang berkepanjangan.’ Dilain kesempatakan beliau berkata bahwa : ‘Tertawa terbahak-bahak akan menggelapkan hati.’ Hal ini merupakan sebuah keniscayaan yang terlihat oleh para syaikh, sebagaimana orang awan melihat bahwa orang yang minum racun akan mati. Karena sebab-sebab suatu takdir diciptakan oleh Allah SWT yang merupakan sesuatu yang berlaku umum. Jika setitik noda menempel kedalam hati sebagai akibat dari tertawa yang melampaui batas, maka akibat dari itu akan segera dirasakan. Orang tua mengatakan jangan tertawa terbahak-bahak karena engkau akan segera menderita kesedihan dan menangis. Mengapa demikian? Sebagai hukuman bagi pemilik hati karena tidak amanah dalam menjaganya. Satu-satunya yang ditilik oleh Allah SWT adalah hati, jika ia bersih akan merefleksikan sifat-sifat Ketuhanan, jika ia ternodai maka syaithon akan mudah menyusup dan membisikan hal-hal yang bertentangan dengan syariat agama. Jika demikian maka hati adalah satu-satunya tempat tambang ma’rifat. Jika ma’rifat merupakan sesuatu yang dicintai dan keharusan bagi manusia, agar Allah SWT dapat dikenal, maka seseorang akan menjaga sedemikian rupa agar tidak terkotori, sebagaimana jika ia mencintai sebuah permata yang baru dibelinya, maka ia akan menjaganya dengan cara apapun untuk tidak terkena noda sedikitpun. Akan tetapi kebanyakan orang tidak peduli terhadap hal ini.
Tertawa adalah sebagai akibat dari rasa gembira yang tidak tertampung lagi oleh pertahanan hati, semakin hebat kegembiraannya maka semakin besar tertawanya. Nah kegembiraan yang dinikmati oleh manusia oleh sebab apapun, wajib hukumnya untuk dizakatkan atau mengeluarkan shodaqoh atau dalam bentuk peribadatan sebagai rasa syukur. Agar noda-noda yang menempel kedalam hati segera terbersihkan, agar kegundahan dan was-was tidak berdatang. Oleh sebab itulah kegembiraan tatkala hubungan antara suami dan istri wajib segera ditindaklanjuti dengan mandi besar atau mandi junub lalu mendirikan sholat sunah dan berdzikir sebagai rasa syukur. Bila mandi junub tidak dilakukan, kita semua tahu konsekwensinya sebagaimana yang tertuang didalam syariat, dan bila seseorang wafat dalam keadaan junub maka jahanam tempatnya, naudzubillah mindzalik. Jadi wajar bila seorang sufi mengatakan bahwa segala sesuatu ada zakatnya. Seseorang bisa melihat bahwa dalam kenikmatan satu hari dan agar manusia tidak tenggelam dalam lautan kesulitan, diwajibkan untuk melakukan shalat 5 waktu, menyisihkan waktunya untuk mengingat Sang Penciptanya atau meninggalkan dunia, atau zuhud sesaat. Lalu kenikmatan dalam satu tahun, diwajibkan manusia untuk berpuasa dalam satu bulan lamanya.
Seorang murid berkata kepada Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) : ‘Aku bersyukur karena karir dan bisnisku menjadi sangat baik.’ Karena kegembiraan ini, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) memerintahkannya untuk mengeluarkan harta bendanya untuk dishodaqohkan kepada pihak yang berhak menerimanya sesuai syariat agama. Jadi syukur dapat dikatakan sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas kegemberiaan yang dirasakannya, lalu ia berbagi kegembiraan itu kepada orang lain. Ada syukur yang berbeda, seorang murid menyampaikan keadaannya kepada Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) bahwa jika ia telah menyelesaikan peribadatan dimalam hari lalu dilanjutkan dengan shalat Subuh dan berdzikir hingga waktu syuruq lalu ia bersyukur kepada Allah SWT atas rasa gembiranya lantaran peribadatan itu bukannya keluh kesah karena lelah. Yang pertama bersyukur karena merasakan kegembiraan masalah dunia, dan yang kedua bersyukur karena telah di anugerahi makna-makna yang datang di hatinya. Manusia yang bersyukur lantaran sebab nikmat yang diterimanya akan berhenti bersyukur jika ia merasa tidak ada lagi nikmat baru yang diterimanya. Sedangkan orang yang bersyukur karena makna-makna yang hadir, ia tidak pernah berhenti bersyukur, karena makna-makna selalu hadir kedalam hati sang pendzikir. Tanda orang yang demikian adalah, lisannya selalu mengucapan Alhamdulillah pada setiap perbuatannya dan hatinya bermusyahadah. Imam Sybly,qs., berkata : 'Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.'
Nabiyullah Idris,as., memperoleh kabar gembira pengampunan, lalu beliau memohon diberi panjang umur. Ketika ditanya alasanya, dijawab : ‘Agar aku dapat bersyukur kepada-Nya, karena sebelum ini aku telah berjuang hanya untuk memperoleh ampunan.’ Kemudian salah satu malaikat mengembangkan sayapnya dan membawanya kelangit.
Imam Junayd,qs., berkata : ‘Syukur adalah jika orang tindak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya.’
Imam Syibli,qs., berkata : ‘Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.’
Rasulullah,saw., beribadah malam sampai kakinya bengkat, ditanya alasannya, beliau,saw., menjawab : ‘Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?.’
Nabiyullah Daud,as., bertanya : 'Illahi, bagaimana aka dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan bersyukur itu sendiri adalah nikmat dari-Mu?' Allah mewahyukan kepadanya : 'Sekarang, engkau benar-benar telah bersyukur kepada-Ku.'
Sabtu, 18 Mei 2013
SAFAR
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Safar merupakan salah satu metodologi para syaikh sufi dalam mendidik jiwanya. Tujuannya adalah melemahkan keinginan-keinginan dan jauh dari sanak famili agar bergantung dan merasa butuh hanya kepada Allah saja. Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merhmatinya) berkata : ‘Tatkala seseorang badannya lemah karena melakukan tindak peribadatan yang ketat, dibarengi dengan tiadanya harapan mendapatkan pertolongan dari orang lain, maka hatinya akan tergembirakan, terbuka dan siap menerima limpahan ilmu dan kejelasan-kejelasan.’ Didalam kitab-kitab tashawuf banyak dijumpai riwayat para sufi tentang safar, ada yang merintangi padang pasir, ada yang mengunjungi makam-makam para syaikh terdahulu, ada yang berdakwah ketempat penduduk terpencil yang miskin dan ziarah ketempat para syaikh yang lain serta masih banyak lagi.
Safar menurut terminologi tashawuf bukan saja perjalanan dari suatu tempat ketempat lainnya melainkan perjalanan kedalam diri dari sifat-sifat buruk (majmumah) kedalam sifat-sifat yang baik (mahmudah), sebagaimana satu dari delapan prinsip tarekat Kwajagan (sekarang bernama Naqsyabandiyah) yang disebut sebagai Safar Darwaton. Seorang syaikh saat ditanya oleh muridnya tentang apakah ia sering melakukan safar, dijawab bahwa jika safar dibumi ‘tidak’, tetapi jika safar ke langit ‘ya’.
Safar berkaitan erat dengan mujahadah, belum dapat dikatakan safar meskipun melakukan perjalanan jauh ketempat suci atau ketempat lain, tetapi seluruh fasilitasnya lebih baik daripada yang ada dirumah ia tinggal. Prinsip dalam khalwat harus melekat pada saat safar, yakni, selalu dalam keadaan berwudlu, berdzikir terus menerus, dalam keadaan lapar, sedikit tidur. Jika hal-hal ini tidak ada dalam safar maka batalah safarnya dan tidak diperkenankan mengambil kemudahan yang diberikan Allah SWT dalam peribadatan, misalnya shalat yang boleh di ja’ma, boleh tidak berpuasa dan lain sebaginya. Oleh sebab keadaan yang lemah dan jauh dari sanak famili serta teman-temannya, maka terhadap orang yang safar doanya menjadi mustajab, karena persis ia dalam keadaan seperti orang yang khalwat dan faqir atau sebagaimana anak yatim piatu.
Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata di majlis dzikir yang dipimpinnya : ‘Insya Allah, sebentar lagi saya dan para sahabat akan berangkat umroh untuk menyucikan diri.’ Selepas pengajian seorang murid bertanya kepada murid yang lain ‘Apakah menyucikan diri harus pergi umroh?’ dijawab ‘Ya dan tidak, karena seluruh ajaran tarekat berkenaan dengan penyucian diri, dalam ibadah umroh mengenakan pakaian ihrom atau kain kafan tanpa jahitan, bermakna terlepasnya dari ikatan dunia, yang berarti merasa mati sebelum mati atau dalam hadistnya disebut sebagai mutu qobla anta mutu. Setiap pengorbanan dari dalam diri, atau setiap 'kematian' akan menuntun pada kehidupan baru pada tingkatan yang lebih tinggi. Seluruh kehidupan pejalan itu tidak lebih dari suatu sekuen 'kematian' dan kelahiran kembali yang terus naik, suatu gerakan mendaki ke atas secara terus menerus dan selama sifat-sifat manusia yang yang lebih rendah digantikan oleh sifat-sifat Ilahiah yang lebih tinggi. Inilah gagasan para ulama dibalik peribahasa yang mengatakan 'Sifatilah dirimu dengan sifat-sifat Tuhan'. Nah, barang siapa mampu melakukannya dengan penuh kehatian, maka ia masuk dalam tindak mujahadah, masuk kedalam tindak penyucian diri, sebaliknya bagi yang tidak menyadarinya atau yang lalai, maka ia hanya berlilitkan kain kafan saja tanpa tindak mujahadah tanpa adanya penyucian diri, inilah orang-orang yang masuk dalam golongan wisata ruhani bukan safar, akan tetapi pengurbanan harta dan waktunya insya Allah tetap mendapatkan pahala.’
Safar merupakan salah satu metodologi para syaikh sufi dalam mendidik jiwanya. Tujuannya adalah melemahkan keinginan-keinginan dan jauh dari sanak famili agar bergantung dan merasa butuh hanya kepada Allah saja. Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merhmatinya) berkata : ‘Tatkala seseorang badannya lemah karena melakukan tindak peribadatan yang ketat, dibarengi dengan tiadanya harapan mendapatkan pertolongan dari orang lain, maka hatinya akan tergembirakan, terbuka dan siap menerima limpahan ilmu dan kejelasan-kejelasan.’ Didalam kitab-kitab tashawuf banyak dijumpai riwayat para sufi tentang safar, ada yang merintangi padang pasir, ada yang mengunjungi makam-makam para syaikh terdahulu, ada yang berdakwah ketempat penduduk terpencil yang miskin dan ziarah ketempat para syaikh yang lain serta masih banyak lagi.
Safar menurut terminologi tashawuf bukan saja perjalanan dari suatu tempat ketempat lainnya melainkan perjalanan kedalam diri dari sifat-sifat buruk (majmumah) kedalam sifat-sifat yang baik (mahmudah), sebagaimana satu dari delapan prinsip tarekat Kwajagan (sekarang bernama Naqsyabandiyah) yang disebut sebagai Safar Darwaton. Seorang syaikh saat ditanya oleh muridnya tentang apakah ia sering melakukan safar, dijawab bahwa jika safar dibumi ‘tidak’, tetapi jika safar ke langit ‘ya’.
Safar berkaitan erat dengan mujahadah, belum dapat dikatakan safar meskipun melakukan perjalanan jauh ketempat suci atau ketempat lain, tetapi seluruh fasilitasnya lebih baik daripada yang ada dirumah ia tinggal. Prinsip dalam khalwat harus melekat pada saat safar, yakni, selalu dalam keadaan berwudlu, berdzikir terus menerus, dalam keadaan lapar, sedikit tidur. Jika hal-hal ini tidak ada dalam safar maka batalah safarnya dan tidak diperkenankan mengambil kemudahan yang diberikan Allah SWT dalam peribadatan, misalnya shalat yang boleh di ja’ma, boleh tidak berpuasa dan lain sebaginya. Oleh sebab keadaan yang lemah dan jauh dari sanak famili serta teman-temannya, maka terhadap orang yang safar doanya menjadi mustajab, karena persis ia dalam keadaan seperti orang yang khalwat dan faqir atau sebagaimana anak yatim piatu.
Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata di majlis dzikir yang dipimpinnya : ‘Insya Allah, sebentar lagi saya dan para sahabat akan berangkat umroh untuk menyucikan diri.’ Selepas pengajian seorang murid bertanya kepada murid yang lain ‘Apakah menyucikan diri harus pergi umroh?’ dijawab ‘Ya dan tidak, karena seluruh ajaran tarekat berkenaan dengan penyucian diri, dalam ibadah umroh mengenakan pakaian ihrom atau kain kafan tanpa jahitan, bermakna terlepasnya dari ikatan dunia, yang berarti merasa mati sebelum mati atau dalam hadistnya disebut sebagai mutu qobla anta mutu. Setiap pengorbanan dari dalam diri, atau setiap 'kematian' akan menuntun pada kehidupan baru pada tingkatan yang lebih tinggi. Seluruh kehidupan pejalan itu tidak lebih dari suatu sekuen 'kematian' dan kelahiran kembali yang terus naik, suatu gerakan mendaki ke atas secara terus menerus dan selama sifat-sifat manusia yang yang lebih rendah digantikan oleh sifat-sifat Ilahiah yang lebih tinggi. Inilah gagasan para ulama dibalik peribahasa yang mengatakan 'Sifatilah dirimu dengan sifat-sifat Tuhan'. Nah, barang siapa mampu melakukannya dengan penuh kehatian, maka ia masuk dalam tindak mujahadah, masuk kedalam tindak penyucian diri, sebaliknya bagi yang tidak menyadarinya atau yang lalai, maka ia hanya berlilitkan kain kafan saja tanpa tindak mujahadah tanpa adanya penyucian diri, inilah orang-orang yang masuk dalam golongan wisata ruhani bukan safar, akan tetapi pengurbanan harta dan waktunya insya Allah tetap mendapatkan pahala.’
TASHAWUF
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Tashawuf adalah keberpantangan, tashawuf adalah kesadaran, tashawuf adalah penolakan-penolakan, tashawuf adalah peperangan, tashawuf adalah akhlak.’
Pengajian kali ini membicarakan tentang tashawuf, diambil dari kitab yang masyhur Kasyful Mahjub karya Imam al-Hujwiri,qs. Pengajian tashawuf ini telah sering kali disampaikan oleh yang mulia Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) dengan sudut pandang yang berbeda-beda tetapi mempunyai satu makna, yakni tentang penyucian diri. Meskipun secara eksplisit tidak ada kata tashawuf didalam Al Qur’an, akan tetapi banyak riwayat menegaskan tentang makna atau hakikat tashawuf, seperti dalam riwayat Nabiyullah Adam,as., dengan Iblis laknatullah, Nabiyullah Musa,as., dengan Nabiyullah Khidir,as., kemudian riwayat Nabiyullah yusuf,as., dengan Zulaikha, riwayat Nabiyullah Nuh,as., dengan putranya, Nabiyullah Ibrahim,as., dengan istri dan anaknya serta perlawanan dengan raja namrud, dan Nabiyullah Isa,as., yang hidup tanpa mempunyai kekayaan sedikitpun, dan tentunya kisah kehidupan Rasulullah,saw., juga sahabat-sahabat yang hidup di Raudhah. Riwayat-riwayat ini banyak dikutip oleh para sufi dalam menjelaskan tahapan-tahapan didalam penyucian diri (tashawuf). Jika dijabarkan dalam tulisan ini berkenaan dengan riwayat-riwayat diatas tidaklah cukup ditulis dalam satu bulan lamanya. Pada intinya, karena sombong, iblis dilaknat oleh Allah SWT, begitu pula Nabiyullah Musa yang mengaku dirinya sebagai yang terpandai, dan akhirnya diperintah untuk mencari seseorang yang telah dianugerahi ilmu khusus dari Allah SWT, orang tersebut adalah Nabiyullah Khidir,as. Singkatnya nabiyullah Musa,as., tidak mampu patuh terhadap perintah nabiyullah Khidir,as., dan terjadilah perpisahan. Lalu Nabiyullah Yusuf dengan Zulaikha sebagai riwayat yang terindah dalam Al Qur’an, menceritakan tentang evolusi jiwa dari Nafsul Immarah hingga Nafsul Muthmainah dengan perjuangan menafikan diri yang hebat. Sedangkan nabiyullah Nuh,as., dengan putranya yang merasa bisa berenang dan dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa bantuan ayahnya, yang pada akhirnya tenggelam. Jika berenang diumpamakan sebagai ilmu, maka anak tersebut merasa berilmu dan mengacuhkan nasihat orang tuanya. Nabiyullah Ibrahim,as., yang patuh terhadap perintah Tuhannya dan tidak membutuhkan apapun dari makhluk ciptaan. Yang meninggalkan anak dan istrinya di tengah padang pasir, yang akhirnya ditemukan sumur zam-zam, dan juga menolak tawaran malaikat tatkala dirinya didalam api, karena hanya butuh Tuhan saja. Dan Nabiyullah Isa,as., dengan hanya bergantung kepada Tuhannya saja, atapnya adalah langit dan lantainya adalah bumi, yang mencapakkan sebuah sisir sebagai harta dunia yang terakhir dimilikinya. Sedangkan Rasulullah,saw., dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari mengingat dan bersama dengan Tuhannya. Dan begitu juga para sahabat seperti Abu Bakar as-Siddiq,ra., yang memberikan seluruh hartanya untuk Islam. Riwayat-riwayat ini dicontoh dan dijadikan gagasan-gagasan dalam menjelaskan tahapan didalam tashawuf.
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti, siapa yang kali pertama menggunakan istilah Tashawuf sebagai ganti daripada penyucian diri, akan tetapi bila dilihat dari suku katanya yang terdiri dari Ta, Sha, Wa dan Fa dapat diartikan sebagai Taubat, Shafa, Wara dan Fana, sebagaimana tahapan dalam tasawuf itu sendiri, yang dimulai dengan pertaubatan dan penyucian diri (shafa) seperti didalam ayat Al Qur’an yang mengatakan :'Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.' (QS 001 : 222)Kemudian berpantang dari hal-hal yang subhat atau meragukan (wara) serta akhir dari perjalanan berupa fana dari sifat diri sendiri dan hidup dalam sifat-sifat Tuhan. Karena manusia dibentuk dari tanah lempung dan tanah lempung mengandung ketidak sucian lawan daripada kesucian itu sendiri, oleh karenanya harus dilenyapkan dan digantikan dengan sifat-sifat Tuhan. Pelenyapan sifat-sifat diri adalah perbuatan Tuhan dan bukan manusia, manusia mempunyai hak dalam upaya-upayanya saja, oleh sebab itu mustahil keberhasilannya tanpa petunjuk dan pertolongan Tuhan (hidayah dan taufik). Tuhan menghendaki demikian, agar dengannya manusia merasa butuh hanya kepada-Nya dan termanifestasikan sifat-sfiat-Nya. Bentuk daripada tashawuf adalah tafa’ul yang berarti ‘bersusah payah’. Oleh karenanya jalan yang terbaik adalah dengan bersungguh-sungguh menjalankan peribadatan dan sekuat tenaga memerangi kesenangan-kesenangan jiwa dalam bahasa tasawufnya disebut ‘riyadhah dan mujahadah’, yang dimulai dengan melemahkan badan dengan banyak berpuasa, bangun malam dan sedikit bicara. Mengapa harus diperangi? Sebab kerajaan manusia awam dikuasai oleh jiwanya, dan jiwa ini selalu mengajak kepada kejahatan (nafsul immarah). Dalam hal ini seluruh panca indera patuh terhadap perintah jiwanya. Dengan khalwat, safar dan melakukan peribadatan lainnya dengan gigih merupakan pelemahan terhadap jawarih yang pada gilirannya mengendurkan cengkeraman jiwa, melemahkan terhadap keinginan pemenuhan kesenangan (syahwat). Seperti dalam peperangan, untuk menaklukkan penguasa, harus dilemahkan atau diperangi tentara-tentaranya terlebih dahulu. Mudahnya dapat dikatakan bahwa tashawuf adalah perpindahan dari kehidupan yang biasa dijalani masuk kedalam kehidupan kesucian. Kebiasaan orang banyak adalah menghuni kelalaian, cenderung kepada ajakan hawa nafsu, terus menerus mengikuti angan-angan kosong. Perpindahan kehidupan ini sangatlah sulit dilakukan, dan mustahil dapat dilakukan tanpa bimbingan ruhani. Oleh sebab itulah Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa: ‘Tasawuf adalah peperangan yang tiada akhir melawan diri sendiri.’ Rasulullah,saw., mengatakannya sebagai jihad akbar.
Tidak saja wahyu yang tertulis didalam Al Qur’an dan Hadist Qudsi, dan tidak saja dari ucapan-ucapan yang mulia Rasulullah,saw., dipatuhi, melainkan perilakunya pun diikuti. Karena gerak gerik kehidupannya ditiru oleh pengikutnya, maka para syaikh sufi selalu berhati-hati dalam bertindak dan berusaha menyesuaikan dengan apa yang telah dibicarakannya serta menjaga adanya perbedaan. Agar murid-muridnya terhindar dari buruk sangka terhadapnya, karena perilakunya yang tidak terpahami. Dari hal yang sangat pribadi, bersahabat, bertetangga, berperang, berdakwah, safar, mencari nafkah kehidupan, sampai kepada tata cara peribadatannya tatkala berjamaah atau disaat sendiri. Sebagai contoh istri Rasulullah,saw., pernah menanyakan mengapa beribadah sampai kakinya bengkak dan dijawab ‘Aku ingin menjadi hamba yang bersyukur.’ Syukur dalam tashawuf adalah salah satu tahapan (maqom) yang harus dicapai dengan sebuah upaya (riyadhah dan mujahadah). Karena kedudukan beribadah sebagai tanda syukur sangat berbeda dengan beribadah hanya sebagai pemenuhan kewajiban, apalagi ada unsur keterpaksaan dan keluh kesah dalam pelaksanaannya.
Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Tashawuf adalah keberpantangan, tashawuf adalah kesadaran, tashawuf adalah penolakan-penolakan, tashawuf adalah peperangan, tashawuf adalah akhlak.’
Pengajian kali ini membicarakan tentang tashawuf, diambil dari kitab yang masyhur Kasyful Mahjub karya Imam al-Hujwiri,qs. Pengajian tashawuf ini telah sering kali disampaikan oleh yang mulia Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) dengan sudut pandang yang berbeda-beda tetapi mempunyai satu makna, yakni tentang penyucian diri. Meskipun secara eksplisit tidak ada kata tashawuf didalam Al Qur’an, akan tetapi banyak riwayat menegaskan tentang makna atau hakikat tashawuf, seperti dalam riwayat Nabiyullah Adam,as., dengan Iblis laknatullah, Nabiyullah Musa,as., dengan Nabiyullah Khidir,as., kemudian riwayat Nabiyullah yusuf,as., dengan Zulaikha, riwayat Nabiyullah Nuh,as., dengan putranya, Nabiyullah Ibrahim,as., dengan istri dan anaknya serta perlawanan dengan raja namrud, dan Nabiyullah Isa,as., yang hidup tanpa mempunyai kekayaan sedikitpun, dan tentunya kisah kehidupan Rasulullah,saw., juga sahabat-sahabat yang hidup di Raudhah. Riwayat-riwayat ini banyak dikutip oleh para sufi dalam menjelaskan tahapan-tahapan didalam penyucian diri (tashawuf). Jika dijabarkan dalam tulisan ini berkenaan dengan riwayat-riwayat diatas tidaklah cukup ditulis dalam satu bulan lamanya. Pada intinya, karena sombong, iblis dilaknat oleh Allah SWT, begitu pula Nabiyullah Musa yang mengaku dirinya sebagai yang terpandai, dan akhirnya diperintah untuk mencari seseorang yang telah dianugerahi ilmu khusus dari Allah SWT, orang tersebut adalah Nabiyullah Khidir,as. Singkatnya nabiyullah Musa,as., tidak mampu patuh terhadap perintah nabiyullah Khidir,as., dan terjadilah perpisahan. Lalu Nabiyullah Yusuf dengan Zulaikha sebagai riwayat yang terindah dalam Al Qur’an, menceritakan tentang evolusi jiwa dari Nafsul Immarah hingga Nafsul Muthmainah dengan perjuangan menafikan diri yang hebat. Sedangkan nabiyullah Nuh,as., dengan putranya yang merasa bisa berenang dan dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa bantuan ayahnya, yang pada akhirnya tenggelam. Jika berenang diumpamakan sebagai ilmu, maka anak tersebut merasa berilmu dan mengacuhkan nasihat orang tuanya. Nabiyullah Ibrahim,as., yang patuh terhadap perintah Tuhannya dan tidak membutuhkan apapun dari makhluk ciptaan. Yang meninggalkan anak dan istrinya di tengah padang pasir, yang akhirnya ditemukan sumur zam-zam, dan juga menolak tawaran malaikat tatkala dirinya didalam api, karena hanya butuh Tuhan saja. Dan Nabiyullah Isa,as., dengan hanya bergantung kepada Tuhannya saja, atapnya adalah langit dan lantainya adalah bumi, yang mencapakkan sebuah sisir sebagai harta dunia yang terakhir dimilikinya. Sedangkan Rasulullah,saw., dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari mengingat dan bersama dengan Tuhannya. Dan begitu juga para sahabat seperti Abu Bakar as-Siddiq,ra., yang memberikan seluruh hartanya untuk Islam. Riwayat-riwayat ini dicontoh dan dijadikan gagasan-gagasan dalam menjelaskan tahapan didalam tashawuf.
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti, siapa yang kali pertama menggunakan istilah Tashawuf sebagai ganti daripada penyucian diri, akan tetapi bila dilihat dari suku katanya yang terdiri dari Ta, Sha, Wa dan Fa dapat diartikan sebagai Taubat, Shafa, Wara dan Fana, sebagaimana tahapan dalam tasawuf itu sendiri, yang dimulai dengan pertaubatan dan penyucian diri (shafa) seperti didalam ayat Al Qur’an yang mengatakan :'Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.' (QS 001 : 222)Kemudian berpantang dari hal-hal yang subhat atau meragukan (wara) serta akhir dari perjalanan berupa fana dari sifat diri sendiri dan hidup dalam sifat-sifat Tuhan. Karena manusia dibentuk dari tanah lempung dan tanah lempung mengandung ketidak sucian lawan daripada kesucian itu sendiri, oleh karenanya harus dilenyapkan dan digantikan dengan sifat-sifat Tuhan. Pelenyapan sifat-sifat diri adalah perbuatan Tuhan dan bukan manusia, manusia mempunyai hak dalam upaya-upayanya saja, oleh sebab itu mustahil keberhasilannya tanpa petunjuk dan pertolongan Tuhan (hidayah dan taufik). Tuhan menghendaki demikian, agar dengannya manusia merasa butuh hanya kepada-Nya dan termanifestasikan sifat-sfiat-Nya. Bentuk daripada tashawuf adalah tafa’ul yang berarti ‘bersusah payah’. Oleh karenanya jalan yang terbaik adalah dengan bersungguh-sungguh menjalankan peribadatan dan sekuat tenaga memerangi kesenangan-kesenangan jiwa dalam bahasa tasawufnya disebut ‘riyadhah dan mujahadah’, yang dimulai dengan melemahkan badan dengan banyak berpuasa, bangun malam dan sedikit bicara. Mengapa harus diperangi? Sebab kerajaan manusia awam dikuasai oleh jiwanya, dan jiwa ini selalu mengajak kepada kejahatan (nafsul immarah). Dalam hal ini seluruh panca indera patuh terhadap perintah jiwanya. Dengan khalwat, safar dan melakukan peribadatan lainnya dengan gigih merupakan pelemahan terhadap jawarih yang pada gilirannya mengendurkan cengkeraman jiwa, melemahkan terhadap keinginan pemenuhan kesenangan (syahwat). Seperti dalam peperangan, untuk menaklukkan penguasa, harus dilemahkan atau diperangi tentara-tentaranya terlebih dahulu. Mudahnya dapat dikatakan bahwa tashawuf adalah perpindahan dari kehidupan yang biasa dijalani masuk kedalam kehidupan kesucian. Kebiasaan orang banyak adalah menghuni kelalaian, cenderung kepada ajakan hawa nafsu, terus menerus mengikuti angan-angan kosong. Perpindahan kehidupan ini sangatlah sulit dilakukan, dan mustahil dapat dilakukan tanpa bimbingan ruhani. Oleh sebab itulah Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa: ‘Tasawuf adalah peperangan yang tiada akhir melawan diri sendiri.’ Rasulullah,saw., mengatakannya sebagai jihad akbar.
Tidak saja wahyu yang tertulis didalam Al Qur’an dan Hadist Qudsi, dan tidak saja dari ucapan-ucapan yang mulia Rasulullah,saw., dipatuhi, melainkan perilakunya pun diikuti. Karena gerak gerik kehidupannya ditiru oleh pengikutnya, maka para syaikh sufi selalu berhati-hati dalam bertindak dan berusaha menyesuaikan dengan apa yang telah dibicarakannya serta menjaga adanya perbedaan. Agar murid-muridnya terhindar dari buruk sangka terhadapnya, karena perilakunya yang tidak terpahami. Dari hal yang sangat pribadi, bersahabat, bertetangga, berperang, berdakwah, safar, mencari nafkah kehidupan, sampai kepada tata cara peribadatannya tatkala berjamaah atau disaat sendiri. Sebagai contoh istri Rasulullah,saw., pernah menanyakan mengapa beribadah sampai kakinya bengkak dan dijawab ‘Aku ingin menjadi hamba yang bersyukur.’ Syukur dalam tashawuf adalah salah satu tahapan (maqom) yang harus dicapai dengan sebuah upaya (riyadhah dan mujahadah). Karena kedudukan beribadah sebagai tanda syukur sangat berbeda dengan beribadah hanya sebagai pemenuhan kewajiban, apalagi ada unsur keterpaksaan dan keluh kesah dalam pelaksanaannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
