Senin, 29 November 2010

RAJA RIMBA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian pada Jum’at malam tanggal 19 Nopember 2010 tampak sepi, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) bersama dengan keluarga tercintanya dan beberapa sahabat sedang menunaikan ibadah haji. Saat pegajian dimulai, hanya dihadiri oleh 8 orang murid saja. Memang demikian, setiap Hadrat Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) melakukan safar, pengajian tampak sepi. Ini pertanda bahwa banyak murid hanya mau beribadah manakala syaikh yang memimpin pengajian, tatkala terlihat oleh Syaikh saja. Bila demikian, akankah pekerjaan-pekerjaan tarekat yang mereka peroleh dari kasih sayang seorang syaikh, dikerjakan dengan baik dan istiqomah bila dirumah atau bila tidak terlihat oleh Syaikh? Berbeda dengan murid yang memiliki kesadaran, dalam keadaan apapun dan dimanapun ia berada, dengan atau tanpa syaikh, mereka tetap menghadiri kholaqoh dzikir dan mengerjakan pekerjaan tarekat, karena ia merasa bahwa syaikh selalu bersamanya dimanapun ia berada. Oleh karenanya, untuk memacu agar para murid selalu menghadiri kholaqoh dzikir Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : ‘Aku ada meskipun tiada.’ Bagi kebanyakan murid wejangan ini hanya menjadi slogan saja, mereka terjebak didalam bentuk dan bukan makna, sedangkan bagi murid tertentu tidaklah demikian, mereka hidup dalam robithoh, suka ataupun duka, sedih ataupun gembira, sakit atau sehat, Syaikhuna selalu bersamanya. Inilah pintu-pintu muroqobah, jendela-jendela ikhsan dan permadani musyahadah.

Pengajian tasawuf sarat dengan makna-makna dan bukan bentuk, orang yang hanya memperhatikan bentuk akan jauh dari kesadaran, hal ini berlaku sejak dahulu kala. Hadrat maulana Jalaluddin Rumi,ra., menyampaikan wejangan dalam bentuk syair-syair kepada murid-muridnya. Begitu pula Hadrat Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menyampaikannya dalam kalimat-kalimat yang mempunyai akar dan cabang pensucian diri yang tak terhingga. Agar para murid dapat mengasah kecerdasan spiritualnya, yang ia peroleh dari keteguhannya menjalankan dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah. Tanpa melakukan praktik-praktik yang benar, mustahil seseorang dapat memahami syair-syair atau kalimat-kalimat yang keluar dari mulut yang diberkahi itu. Sampai sekarang pun banyak para ulama mencoba memaknai syair-syairnya yang tidak kurang dari 24.666 untai bait yang tersusun rapi didalam kitab Mastnawi. Bisa dibayangkan bila seorang salik hidup dimasa itu, semua makna-makna yang tersembunyi didalam syair yang magis, wajib untuk diketahui oleh semua murid, disamping diharuskan menghafalnya. Bagaimana Hadrat Maulana memperlakukan murid-muridnya itu, mirip dengan Syaikhuna memperlakukan sahabat-sahabatnya. Intinya, adalah berburu binatang-binatang ego yang ada pada diri murid-muridnya, agar sang murid dapat terbang menggapai kesucian diri dan selalu merasa dekat Sang Penciptanya. Selama keakuan masih bercokol didalam dada, maka seseorang akan tenggelam didalam bentuk dan jauh dari makna. Al hasil, adabnya buruk bagi makhluk lain, namun menganggapnya indah. Nah, bila sudah demikian, ia tertipu.

Bagaimana Hadrat Maulana,ra., bersikap terhadap murid-murid yang masih jauh dari kesadaran dan yang telah memperolehnya, tersirat didalam bentuk prosa ini : Seekor singa, serigala dan rubah begabung dan memutuskan untuk berburu bersama dan saling berbagi. Sesungguhnya, singa tidak membutuhkan bantuan mereka, tetapi karena ia adalah Raja Rimba maka ia pun menyetujui ‘keinginan’ binatang lainnya. Tidak lama kemudian, mereka berhasil memburu seekor sapi, domba dan kelinci. Tiba saatnya untuk membagi hasil buruan, serigala dan rubah mulai memikirkan cara pembagian. Sang singa berpura-pura tidak tahu, padahal ia bisa membaca pikiran mereka, dan ingin menguji niat mereka. Maka singa mempersilakan serigala untuk bersikap adil dan membagikan hasil buruan. Dengan sangat berhati-hati, serigala menanggapinya, dan berkata : ‘Tuanku, badanmu besar, begitu pula badan sapi jantan yang kita buru ini, maka engkaulah yang berhak atas sapi itu. Badanku tidak sebesar engkau, maka daging domba sudah cukup untukku. Rubah yang berbadan lebih kecil dari kita, seharusnya sudah puas dengan kelinci.


Para sahabat! tampak pembagian yang dilakukan oleh serigala cukup adil, namun dihadapan Raja Rimba, atau dihadapan seorang Syaikh tidaklah demikian, oleh karenanya kita simak lebih lanjut.

Singa menjawab : ‘Apa yang kau katakan, wahai serigala? Ini milikmu dan itu milikku, dari mana munculnya ‘aku’ dan ‘kamu’? lalu, diterjangnya serigala itu, dicakar, dirobek perutnya sampai mati.


Dalam pengajian tarekat, tindakan serigala jauh dari adab yang baik. Ini milikku, ini milikmu, rasa kepemilikan muncul dari ego atau keangkuhan. Karena kasih sayang seorang syaikh kepada muridnya, segera keangkuhan muridnya itu dicakar dan dirobek, agar mati egonya. Fana’u Syaikh tidak akan diperoleh, manakala seorang murid masih membedakan ‘aku’ dari ‘kamu’. Yang patut disadari bahwa pertimbangan Syaikhuna (semoga allah merahmatinya) menerima murid bukan lantaran kepandaiannya, bukan karena jabatan dan kecerdasannya, melainkan semata-mata karena kasih sayangnya.

Setelah membunuh serigala, singa bertanya kepada rubah : ‘Bagaimana pendapatmu? Bagaimana membagi hasil buruan ini?’ Rubah menjawab : ‘Tidak ada pendapat lain, kecuali satu, tidak bisa ada dua pendapat, Yang Mulia.’ Apa yang kau maksudkan, katakana! ‘Yang Mulia, sapi jantan yang gemuk itu untuk makan pagi baginda, kemudian, daging domba untuk makan siang baginda, dan menjelang malam jika baginda masih lapar, nikmatilah daging kelinci itu,’ Jawab si rubah. ‘Pendapatmu sungguh luar biasa, dari mana kau belajar cara membagi yang demikian adil itu?’ Rubah menjawab : ‘Saya belajar dari nasib serigala.’ ‘Engkau seorang murid yang baik, engkau mencintaiku, ambilah seluruh hasil buruan ini. Aku tidak membutuhkan apa-apa. Semuanya untukmu. Kamu pintar dan mampu belajar dari pengalaman orang lain.’ Rubah menjawab : ‘Kepintaran dan kemampuan saya untuk belajar tidak akan punya arti apa-apa, jika engkau memanggil saya sebelum serigala. Jawaban saya mungkin sama dengan serigala. Tetapi baginda memanggil saya setelah serigala. Apa yang terjadi ini, semata-mata belas kasih Yang Mulia.’


Melihat nasib serigala, rubah tidak lari. Dia berdiri tegar sambil menunggu giliran. Ketegaran dan keberanian ini adalah ciri khas seorang murid yang baik. ‘Tidak lari’ dan belajar dari kesalahan orang lain dan dari diri sendiri, seharusnya menjadi agenda utama seorang murid. Oleh karenanya, dalam memutuskan segala hal, biarlah seorang Syaikh yang menjatuhkan pilihannya, atau membagikan hasil buruan, tanpa para murid mengajukan pilihan atau saran-saran. Semoga makna dibalik bentuk tulisan ini dapat dipahami oleh kita semua. Semoga Allah SWT meneguhkan dan menyelamatkan kita semua dari jalan yang mendaki, licin dan berduri ini. Amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.

Rabu, 17 November 2010

QURBAN

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Allah SWT berfirman : ‘Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (QS 108 : 2)

Bab ini ditulis bertepatan dengan hari raya qurban 1431 H, bagi orang yang bertasawuf, qurban tidak saja bermakna memotong seekor kambing yang terbaik, melainkan lebih jauh dari itu, yakni mengurbankan kecintaan kepada selain Allah SWT, khususnya kecintaan terhadap sesuatu yang mendominasi ruang hati ini, agar tauhid menjadi bersih, agar Allah mengkaruniai makna dari ‘Ahadiyah’ secara hakiki. Sebagaimana kisah Nabiyullah Ibrahim,as., yang begitu lama mendambakkan seorang putra dan dengan khusyu melantunkan doa-doa. Setelah dikaruniai seorang putra yang bernama Ismail, membuat hatinya berpaling, yang tadinya hanya terisi Allah SWT mulai berbagi, oleh karenanya Allah memerintahkan menyembelih putra tersayang ini, agar hatinya kembali murni, hanya mencintai Allah SWT saja. Nah, orang-orang yang mengikuti hakikat kisah ini, dengan jalan memerangi hawa nafsunya (mujahadah) pada setiap kesempatan, dalam istilah tasawuf disebut mutashowif. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika hari ini dapat juga dikatakan sebagai hari raya-nya para muthasowif.

Seorang salik bertanya kepada salik yang lain : ‘Kita sudah cukup lama mengikuti pengajian disini, apakah engkau merasakan sesuatu?’ ‘Ya’ jawab salik yang lain, ‘Aku merasa semakin tidak ada kemajuan dalam jerih payahku ini, jika dipuji aku merasa senang dan jika dikritik merasa tersinggung, dahulu pun sebelum mengaji aku merasakan hal yang sama.’ Dialog ini sungguh apik, seorang salik yang gigih dalam menjalankan pekerjaan tarekat lebih dari sepuluh tahun lamanya berkata seperti itu. Sepintas tampak sama keadaan sang salik sebelum dan sesudah mengikuti pengajian, padahal tidaklah demikian. ‘Kesadaran’ yang diperoleh bahwa dirinya merasa senang jika dipuji dan sebaliknya merasa tersinggung jika dikritik adalah karunia dari Allah yang sungguh besar. Tentunya diperoleh setelah berjuang dalam jangka waktu yang lama melawan keinginan diri dengan sekuat tenaga dan menjalankan dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah, melalui kaifiat-kaifiat yang benar sesuai dengan bimbingan syaiknya, lalu jujur terhadap dirinya sendiri adalah pintu gerbang ma’rifat. Melihat dirinya semakin tidak berarti, adalah kemajuan yang luar biasa dalam menempuh jalan keruhanian, sebaliknya merasa dirinya hebat dan menunjukkan kepada orang lain dengan prilaku yang menjijikkan, bahwa ‘Aku’ adalah orang yang paling berbakat, ‘Aku’ adalah orang yang duduk disebelah kanan Syaikh, ‘Aku’ adalah yang memberikan tausyiah, ‘Aku’ yang memimpin pembacaan Asma ul Husna, ‘Aku’ yang duduk dekat pintu rubat Syaikh, ‘Aku’ yang memimpin doa, 'Aku' yang bertopi biru .. dan Aku .. Aku dan Aku, adalah sungguh memilukan hati. Semakin banyak ‘Aku’ maka semakin buruk pula tingkat keruhaniannya. ‘Aku’ adalah tebu dan fananya ‘Aku’ adalah gula, untuk membuat teh menjadi manis tidak perlu tebu melainkan gula. Seorang salik yang gagal dalam bertasawuf adalah tebu, sedangkan ia yang telah berhasil mengalahkan keakuan adalah gula. Mencuri hati seorang Syaikh dengan melanggar perintahnya untuk kepetingan dirinya adalah pencuri sejati, sedangkan taat kepada perintah Syaikh untuk menghalangi sahabat yang lain berdekat dengan Syaikhnya, adalah perampok. Tidak disadari, orang-orang yang demikian, meskipun secara lahiriyah berdekat dengan Syaikh, tetapi malah mengalami kemunduran yang luar biasa, karena egonya berkibar terus menerus. Sebagaimana ‘Yudas’ yang selalu mengikuti Nabiyullah Isa,as., namun ditakdirkan berkhianat, naudzubillah min dzalik. Karena sungguh jelas bahwa Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) selalu membimbing murid-muridnya untuk selalu berperang melawan hawa nafsunya, mengalahkan egonya, artinya harus mengurbankan kepentingan dirinya demi kepentingan orang lain, guna kepentingan sahabatnya bukan dirinya! Inilah salah satu makna qurban bila diaplikasikan kepada kehidupan bertasawuf.

Kisah diatas juga pernah terjadi dalam lingkungan tarekat maulawiyah, sebagaimana yang dikisahkan oleh Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,r.a, yang dikisahkan secara elok dalam kitab mastnawi yang masyhur itu. Kisah itu bercerita tentang seekor keledai yang dikandangkan bersama seekor onta, keledai itu berkata : ‘Kepalaku selalu menunduk kebawah, kendati demikian, aku masih selalu jatuh. Sementara kepalamu tegak, dan pandanganmu lurus serta melihat keatas, tetapi engkau tidak pernah jatuh, apa sebabnya? Sang onta menjawab : ‘Dengan kepalaku tegak dan lurus aku bisa melihat jauh. Kalau ada lubang, aku bisa menghindarinya.’ Mendengar itu si keledai menangis, ‘Bimbinglah aku, tunjukkan kepadaku jalan yang lurus, sehingga aku tidak jatuh lagi.’ Sang onta menjawab : ‘Dengan mengakui kelemahan diri, kamu sudah terselamatkan. Berbahagialah sekarang, karena kamu sudah terbebaskan dari sesuatu yang jahat.’

Terbebaskan dari sesuatu yang jahat, apa gerangan yang jahat itu? Yakni keakuan atau ego! Tujuan utama bertasawuf adalah mengalahkan keakuan atau ego, hal ini tidak boleh terlupakan oleh para salik, bukan malah membangunnya. Sebagaimana sebuah hadis yang mengatakan bahwa : 'Man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya (nafs-nya atau ego-nya), maka ia mengenal Tuhannya.' Bagi orang yang belum pernah mengalami manfaat berdekat dengan seorang syaikh, kisah diatas terdengar absurb, sedangkan bagi orang yang tercerahkan akan mempercayainya. Dalam kisah itu, baik keledai maupun onta tidak memiliki ‘free will’ atau kehendak bebas. Allah yang berkehendak mengandangkan secara bersama-sama antara onta dengan keledai, meskipun ada sekian banyak onta dan keledai ditempat lain. Keledai yang beruntung itu memperoleh ‘Kesadaran’ lantaran ia berdekat dengan onta, oleh sebab itu sungguh merupakan kerugian yang besar bilamana ada keledai atau makhluk yang lain yang berdekat dengan onta, namun tidak memperoleh kesadaran. Mursyid kita tercinta, Hadrat Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) telah menyampaikan begitu banyak wejangan kepada sekian banyak muridnya, lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak semua murid mampu memahaminya? Lalu sudah sekian banyak murid yang hidup bersama-sama dengan Syaikh, lalu mengapa mereka tidak memperoleh kesadaran? Seorang mursyid bagaikan onta dan murid bagai keledai yang kelelahan memikul beban berat keinginan dan keterikatan tanpa ia menyadarinya.

Oleh karena itu bila Allah SWT menakdirkan seorang salik dapat berdekat dengan syaikh, maka gunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya guna memerangi egonya, menekan kepentingan dirinya, sebab disaat itu ada 'nuurun ala nuur' yang membias kedalam dada sang salik dan membantunya untuk berperang.

Kesadaran itu bagaikan mutiara, yang berada jauh didalam lautan yang dalam dan tertutup rapat oleh tiram. Tidaklah mungkin orang yang hanya bersantai di pantai akan memperolehnya, melainkan mesti berjuang dengan gigih dan bermodalkan ilmu. Seorang syaikh sufi mengatakan bahwa 'mereka yang mencari akan menemukan'. Oleh karenanya, tanpa seorang pemandu mustahil mutiara itu dapat ditemukan. Tentunya seorang pemandu yang pernah menemukan mutiara dimaksud, bukan pemandu yang hanya pandai membaca buku. Seorang pejalan (mutashowif) mesti mengambil pelajaran dari sebuah tiram, meskipun ia hidup dilautan, tidaklah perlu serakah mengambil begitu banyak air, melainkan dengan mengambil setetes air dan memanfaatkannya dengan benar, maka berubahlah pasir didalam perut menjadi mutiara. Tidak perlu merampok waktu yang mulia Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), tidak perlu mengajak beliau kesana kemari, tidak perlu menelpon berlama-lama, akan tetapi dengan patuh dan hurmat karena cinta, yakni dengan gigih menyelam pada setiap malam kedalam lima atau tujuh lathifah yang berada disekitar dada dan kepala, lalu menaklukan berbagai keinginan (keserakahan) dan keterikatan (kebanggaan), insya Allah seorang murid akan menemukan mutiara yang tidak ternilai harganya itu, yakni keasadaran. Tidaklah heran jika pada suatu ketika Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya)berkata bahwa : 'Tasawuf adalah kesadaran.' Mari para sahabat qurbakanlah keserakahan dan kebanggaan kita demi sebuah kesadaran.

Demikian semoga Allah mengasihi kita semua, Amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.

Selasa, 09 November 2010

GUNUNG

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Sewaktu bumi dihamparkan oleh malaikat atas perintah Allah, sang Malaikat berkata bahwa bumi bergetar, lalu Allah memerintahkan untuk menancapkan gunung, barulah bumi menjadi tenang. Gunung mempunyai posisi yang unik dalam penciptaan, demikian pula yang terdapat pada kisah Nabiyullah Musa,as., yang harus memilih gunung yang pantas sebagai tempat berpijak guna ‘berbicara’ dengan Allah, lalu gunung Sinai (thursin) menjadi pilihannya, gunung yang tampak paling rendah diantara gunung-gunung yang lain. Oleh sebab kisah ini, gunung Sinai dijadikan symbol sebagai kerendahan hati (tawadhu), dan semenjak saat itu lah Nabiyullah Musa,as., mendapatkan gelar Kallamullah (orang yang berbicara dengan Tuhan). Gunung Sinai atau kerendahan hati (tawadhu), menjadi tempat yang istimewa didalam Al Qur’an Nuur Kariim, terdapat sebuah ayat dimana Allah SWT bersumpah atas nama gunung Sinai ini.

Dalam dunia ke-sufi-an, gunung mempunyai makna yang khusus, Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga allah merahmatinya) sering mengatakan bahwa : ‘Gunung adalah sebagai lambang kewalian.’ oleh sebab itu, bukan tanpa arti orang-orang terdahulu memberikan gelar kepada raja yang dicintainya dengan sebutan Pakubumi, Mangkualam, atau Pakubuwono, yakni orang-orang yang ditunjuk oleh Allah sebagai gunung untuk menjaga alam sekitarnya atau wilayahnya agar tidak bergejolak, baik secara lahir maupun batin. Memang pantas para raja-raja terdahulu mendapatkan gelar yang demikian, karena disamping ia seorang raja, ia pun seorang yang alim, yang dalam kehidupannya terhampar kemewahan dan kemudahan, namun ia menolaknya dan hidup sederhana. Ia memerintah dengan adil menurut hukum syariat agama, oleh karenanya alam disekitarnya mendukung dan dengan sukarela memberikan apa yang ada padanya, tanah subur, sungai mengalir dengan air yang jernih dan ikan-ikan pun hidup beranak pinak dengan suka cita, udara pun bersih tanpa ada kandungan zat yang berbahaya. Mengapa bisa demikian? Karena Allah membuat rakyat pada waktu itu patuh dan hormat kepada rajanya, tidak ada protes, tidak ada demontrasi, tidak seperti negara demokrasi saat ini, yang dibangga-banggakan namun tanpa makna keadilan. Tidak ada seorang pun yang protes mengapa harus shalat lima waktu, berpuasa, membayar zakat, bershodaqoh dan memberi makan kaum miskin, ini sebuah contoh bahwa kebahagiaan itu mesti diawali dengan sebuah perintah yang harus ditaati tanpa protes sedikitpun meskipun pahit, laksana obat yang menyembuhkan. Para raja terdahulu pada umumnya mempunyai sahabat dan penasihat dalam kehidupan pribadi dan dalam memerintah, yakni seorang syaikh sufi, seorang mursyid. Dan ia pun mengamalkan segala perintah sang syaikh dengan melakukan riyadah dan mujahadah tingkat tinggi, sehingga ia pun memperoleh kewalian, dalam istilah tasawuf disebut kewalian kecil (wilayat sugro) atau kewalian besar (wilayat qubro) serta kewalian malaikat (wilayat malaikah). Sejarah telah mengatakan demikian, dimulai dari dinasti Umayyah, Abbasiyah, Saljuk, Mamluk, sampai Ottoman, dan juga Syaikh Salahudin Al Ayyubi sang penakluk perang salib, semuanya raja-raja atau sultan ini mempunyai penasihat seorang syaikh sufi, lalu mengapa para penguasa saat ini malu mengambil contoh sejarah ini, apakah lantaran mereka telah bertitel kesarjanaan, S3, Doktor atau yang lain? Ketahuilah gelar-gelar itu dibuat oleh manusia dan mereka yang membuat persyaratannya, tetapi gelar kewalian, hanya Allah semata yang menghibahkan. Lalu, atau memang Allah yang menghendaki demikian, bahwa para penguasa sekarang ini dijauhkan dari para syaikh sufi, dan didekatkan kepada kemewahan dan kebanggaan, agar gunung-gunung mengeluarkan isi perutnya?

Para murid tarekat yang sungguh-sungguh didalam riyadhah dan mujahadahnya biasa mendapatkan mimpi berada didalam istana, atau rumah yang letaknya diatas bukit atau gunung, hatinya merasa tenteram dan terlindungi, dirumah itu ia bersuci (berwudlu) dan mendirikan shalat, ada yang bersusah payah dan ada yang mudah, ini sebuah tanda bahwa sang murid akan terbebaskan dari ikatan-ikatan duniawi dan meningkat keadaan spiritualnya. Itulah bukti kasih saying dan keridhaan seorang Syaikh kepada muridnya yang Allah pun ridha kepadanya.

Orang yang waras akan merasa tenang saat memandang gunung, lalu ia memuji Tuhan, sebagaimana ia merasa tenang saat memandang keindahan keadaan spiritual (robithoh) seorang syaikh sufi, segala sesuatu menjadi hilang yang diingat hanya Allah semata.
Apapun perilaku gunung, diamnya, gerak dan letusannya pastilah memberikan manfaat kepada alam sekitarnya, meskipun orang awam akan menyebut 'bencana' bila gunung meletus. Bencana apa? Bukankah alam sekitarnya akan menjadi subur dikemudian hari? Bebatuan, pasir dan mineral lainnya juga bermanfaat bagi makhluk? Jadi jelas! orang yang jauh dari keridhaan Tuhan akan memandangnya sebagai bencana dan sebaliknya orang yang mendapatkan keridhaan Tuhan akan tertancap sebuah keyaqinan bahwa Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, semua yang diperbuatnya akan bermanfaat bagi ciptaannya. Akan tetapi hukum syariat mengatakan bahwa berbagi harta, tenaga dan pikiran bagi makhluk yang terkena dampak letusan adalah wajib hukumnya, inipun terhampar manfaat yang begitu tinggi bagi orang-orang yang hidup pada masa letusan dan dapat memahaminya.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua, amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.

Jumat, 29 Oktober 2010

DUNIA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian pada Jum’at malam tanggal 29 Oktober 2010 berkenaan dengan Zuhud, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Zuhud adalah hampa-nya hati dari dunia.’ Terkadang beliau mengatakan bahwa : ‘Zuhud adalah memusuhi dunia,’ Wejangan ini sungguh apik dan butuh penjelasan, karena tasawuf adalah ilmu tahapan. Yang pertama adalah akhir dari perjalanan zuhud sedangkan yang kedua adalah awal zuhud. Orang yang memusuhi dunia adalah orang yang sedang berperang (muthasowif) sedangkan orang yang hatinya hampa dari dunia adalah orang yang telah sampai (Sufi). Awal zuhud adalah perjuangan memusuhi kesenangan dan meninggalkan keinginan, sedangkan pada akhirnya berserah setelah jalan panjang perjuangan. Orang awam sering berpendapat bahwa dunia adalah harta benda, pendapat ini tidak salah namun tidak tepat, karena dunia adalah segala macam kehidupan yang dapat melalaikan seseorang dari Tuhan, merusak tauhid, yang didalamnya ada sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan dan diraba, hakikatnya semual hal yang menyenangkan jiwa. Orang dari suku jawa sering mengatakan,berhati-hatilah terhadap harta, wanita dan tahta, tidak perlu dikejar-kejar, karena setiap manusia mesti mendapatkan bagiannya masing-masing dan tidak akan tertukar. Harta dan wanita dapat dilihat dan dirasa dan sungguh sangat jelas merupakan makanan favorit jiwa, sedangkan kedudukan atau jabatan atau tahta merupakan ujung daripada kebanggaan jiwa, karena ‘tahta’ bisa memicu dan membangunkan jiwa binatang buas pada diri seseorang, serta mengundang syaithon untuk memicunya, alhasil dengan banyak berangan-angan tentang tahta membuat manusia menjadi kalap dan mengejarnya tanpa menghiraukan norma-norma. Jika sudah demikian, syaithon menjadi pembimbingnya dengan cara terang-terangan dan juga tersembunyi (halus). Orang yang mabuk jabatan bagaikan serigala yang berbulu domba, ia berpura-pura menyelamatkan perusahaan atau negara padahal ia merampok. Jabatan atau tahta yang dimaksud disini bukan saja yang berkenaan dengan kedudukan pada swasta atau pemerintahan melainkan juga keagamaan. Didalam Al Qur’an terdapat banyak dijumpai kata dunia yang selalu dipadukan dengan akhirat, sedangkan bumi dengan langit, oleh karenanya dunia itu mencangkup bumi dan langit beserta isinya. Ada ayat Al Qur'an mengatakan bahwa dunia itu melalaikan, dunia itu hanyalah permainan belaka, dan ada juga dikatakan bahwa manusia harus mengambil bagiannya di dunia itu, maksudnya adalah sesuai peran kehidupannya. Jadi dunia ini melibatkan jawarih manusia dan juga jiwa. Nah membenci dunia letaknya ada pada jiwa, oleh karena itu orang yang kaya raya, mempunyai istri-istri yang cantik dan anak yang banyak boleh jadi ia seorang yang zuhud (zahid), dan sebaliknya orang yang tidak mempunyai harta benda malah sangat mencintai dunia (hubbud dunya). Oleh sebab itu ukuran zuhud bukan pada harta, wanita dan kedudukan, bukan pada dunia, melainkan pada keadaan jiwa ini, apakah ia selalu dalam keadaan meninggalkan kesenangan dan keinginan. Oleh karenanya didalam dunia kesufian zuhud pada awalnya adalah sebuah upaya memusuhi dunia dan pada akhirnya hampa-nya hati terhadap dunia, jadi jelas sekali tahapannya, bahwa memusuhi dunia adalah tindakan manusia sedangkan penghapusan dunia dari hati atau menjadi hampa adalah tindakan Tuhan, sehingga pada awalnya zuhud termasuk dalam kategori maqom dan pada akhirnya zuhud adalah ‘hal’, yakni sesuatu yang pada awalnya diupayakan dengan jalan riyadhah dan mujahadah atau dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah, dan pada akhirnya merupakan keberserahan, sehingga Allah mengkaruniai musyahadah.

Hubungan antara dunia dengan jiwa begitu mesra, Syaikh Maulana Jalaluddin Rumi,ra., menuturkan kisah yang sangat apik dalam bentuk prosa, dalam kisah ini wanita melambangkan dunia, pohon pir melambangkan jiwa dan suami melambangkan ruh. Seorang wanita dalam perjalanan dengan suaminya bertemu dengan kekasih lamanya yang sedang duduk dibawah pohon pir, timbulah keinginannya untuk bercumbu dengannya. Wanita itu dapat berpikir dengan cepat dan berkata kepada sumainya : ‘Sayang, aku ingin memanjat pohon pir untuk mengambil buahnya.” Suaminya mengangguk tanda setuju, lalu ia memanjat dan sesampainya diatas ia berteriak kepada suaminya, ‘Sayang, apa yang sedang engkau lakukan?’ ‘Saya sedang tidak melakukan apa-apa.’ Jawab sang suami. ‘Jangan membohongi aku, engkau sedang bercumbuan dengan seorang wanita’ Teriak istrinya. Bercumbuan? Tidak! Tidak ada wanita dibawah sini. ‘Ya sudah aku akan turun dan membuktikannya sendiri.’ Setelah turun ia meminta suaminya memanjat pohon pir untuk mengambil buah yang tidak jadi diambilnya. Begitu sang suami berada diatas pohon, wanita itu mulai bercumbuan dengan pacarnya. Sang suami berang ‘Apa yang sedang engkau lakukan, mengapa engkau bercumbuan?’ ‘Bercumbuan? Tidak! Saya tidak bercumbuan, sepertinya berada diatas pohon itu menjadikan kita melihat yang bukan-bukan. Tadi, akupun demikian, melihat engkau sedang bercumbuan dengan seseorang, padahal engkau tidak melakukan apa-apa.’ Iya , .. ya Jawab sang suami.

Kisah diatas begitu hebat, dunia (wanita) dan pohon (jiwa) bersekongkol mengelabui sang suami (Ruh). Dwmikianlah yang terjadi pada setiap waktu didalam diri manusia, suami (ruh) selalu mengajak kepada kebaikan namun sang istri (jiwa) selalu membelotnya dan mengajak kepada kejahatan, dan Tuhan memang sengaja menciptakan sarananya, yakni dunia. Oleh sebab itu tanpa pertolongan Tuhan, manusia tidak akan mampu berjalan sesuai tuntunan agama, karena dunia dicipta memang demikian adanya yang selalu berselingkuh dengan jiwa.

Mencintai dunia mempunyai tingkatan-tingkatan, dari yang mudah dikenali sampai yang sangat sulit dikenali. Namun sungguh jelas, hampir semua orang mencintai dunia, terbiasa menikmati kesenangan dan terjebak kepada keinginan-keinginan, dari kalangan awam sampai dengan orang yang mengurus agama. Jadi bohong belaka orang yang mengaku zuhud, tetapi masih banyak keinginan dan menikmati kesenangan serta khawatir akan masa mendatang. Seorang salik mengiringi Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pergi haji dengan cara ifrad bukan tamattu, sang murid bertanya : ‘Mengapa kita harus ber-ifrad Syaikh bukan tamattu?’ Beliau menjawab : ‘Karena arti daripada tamattu adalah bersenang-senang. Pergi haji bukan untuk bersenang-senang melainkan meninggalkannya dan berlapar-lapar agar beroleh musyahadah.’ Nah, jika bukan seorang syaikh, sulit bagi seseorang bisa berhaji meskipun ia pergi haji, bila dihadapannya selalu ada fasilitas yang mewah dan makanan yang enak-enak. Orang yang hatinya telah hampa dari dunia (para syaikh sufi) tidak akan terpikat oleh hal-hal demikian, sedangkan orang yang sedang berjuang memusuhi dunia (mutashowif), kebanyakan bertekut lutut karenanya. Sebagai suri tauladan daripada zuhud adalah baginda Rasulullah,saw., meskipun hak ghonimahnya (rampasan perang) begitu besar, beliau,saw., tidak pernah menikmatinya dan selalu membagikan kepada umatnya yang membutuhkan, dan bahkan beliau,saw., selama hidupnya tidur diatas pelepah kurma dan makan seadanya saja, bukankah ini zuhud, yakni hampa-nya hati dari dunia?


Dunia memang sengaja diciptakan oleh-Nya untuk menjadi hijab, bila seseorang memusuhi dunia (zuhud), meninggalkan kesenangan dan menekan keinginan maka dunia terangkat dari hadapannya, yang ‘dilihat’ olehnya hanyalah Allah semata. Nah, orang yang demikian hatinya menjadi hampa terhadap dunia. Zuhudnya orang awam selalu dikaitkan dengan harta benda dan hal ini sangat mudah dikenali, sedangkan zuhudnya orang yang mengurus agama sulit dikenali, sebagai contoh bahwa ia selalu membicarakan agama dihadapan orang lain, akan tetapi didalam bicaranya itu selalu terkandung sesuatu harapan akan sanjungan-sanjungan, sehingga terjadilah proses pembentukan opini atau istilah sekarang disebut 'pencitraan' bahwa ia adalah orang yang zuhud, orang yang alim, orang yang mempunyai keadaan spiritual yang tinggi. Jadi ada harapan-harapan akan sanjungan, ada keinginan, bicaranya bukan untuk Allah tetapi untuk dirinya, inipun masuk dalam kategori mencintai dunia (hubbud dunya), namun sangatlah halus. Oleh sebab itu banyak para syaikh sufi, melawan atau berpuasa berbicara, serta 'bermusuhan' dengan murid-muridnya, dalam dunia kesufian disebut ‘samad’. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering memberikan isyarat-isyarat bahwa beliau akan melakukan samad ini dan berkata kepada seorang muridnya : ‘Bila waktu samad tiba, engkau kuizinkan boleh tinggal bersamaku.’ Sungguh merupakan kebahagiaan bila seorang murid dapat melayani syaikhnya yang sedang samad.

Kisah, Syaikh Sufyan ats Tsauri,ra., datang menjenguk Rabi’ah al Adawiyah,ra., : ‘Wahai Sufyan katakan sesuatu padaku.’ Jika saja engkau mau berdoa untuk kesembuhanmu, niscaya Allah mengabulkan, dan sakitmu pun akan hilang. Tidakkah engkau mengetahui siapa yang berkehendak atas penderitaanku ini? Bukankah Allah? Ya jawab Sufyan. Nah engkau mengetahuinya, namun mengapa engkau memintaku untuk memohon kepada-Nya apa yang bertentangan dengan kehendak-Nya? Tidaklah benar menentang kehendak Sahabat. Lalu apa yang engkau inginkan, wahai Rabi’ah? Tanya Sufyan. Sufyan, engkau adalah seorang yang terpelajar. Mengapa engkau berbicara seperti itu? Apa yang kau inginkan? Demi kemuliaan Allah, selama dua belas tahun aku mengidamkan kurma. Engkau pun tahu bahwa di Basrah, kurma berlimpah dan mudah didapat. Namun hingga saat ini aku belum memakan satu butir pun, karena aku adalah hamba-Nya, dan apa urusan hamba dengan keinginan? Jika aku ingin, namun Tuanku tidak ingin, ini adalah ketidaksetiaan. Untuk menjadi hamba Allah yang sejati, engkau seharusnya hanya menginginkan apa yang diinginkan-Nya. Jika Allah sendiri yang memberi, itu lain persoalan. Sufyan pun terdiam sejenak, kemudian ia berkata ‘Karena tak seorang pun dapat menilai keadaanmu, katakanlah sesuatu mengenai keadaanku.’ ‘Engkau adalah adalah orang yang baik, namun kenyataanya engkau mencintai dunia! Buktinya engkau cinta meriwayatkan hadis-hadis.’ Ya Allah pekik Sufyan, ridhalah kepadaku! Tidaklah engkau malu, tukas Rabi’ah, ‘memohon keridhaan yang engkau sendiri tidak ridha kepada-Nya?

Seorang ulama terkemuka di Basrah mengunjungi Rabi’ah,ra., ia duduk disisi bantal, ulama itu mulai mencaci maki dunia. ‘Anda sangat mencintai dunia!’ komentar Rabi’ah. ‘Jika ada tidak mencintai dunia, maka anda tidak akan begitu banyak menyebut-nyebutnya. Pembelilah yang selalu merendahkan nilai barang. Jika anda sudah putus hubungan dengan dunia, maka anda tidak akan menyebut-nyebutnya, pepatah mengatakan bahwa siapa yang mencintai sesuatu, ia akan sering menyebut-nyebutnya.’ Nah sekarang kita bisa melihat acara keagamaan yang sering muncul di tv, ada yang selalu menyebut-nyebut shodaqoh, harta benda, dan malah kalau sudah bicara agama seperti mabuk yang tidak dapat menyetop bicaranya.

Kisah diatas sungguh amat elok, dihadapan Rabi’ah,ra., ulama-ulama yang agung pun terlihat sisa kecintaannya terhadap dunia, meskipun para santrinya mengatakan bahwa mereka adalah zahid pada masanya, lalu bagaimana dengan kita para sahabat?

Semoga Allah mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita, amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.

Rabu, 29 September 2010

WAKTU (WAQT)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Rasulullah,saw., bersabda : ‘Aku punya waktu (waqt) dengan Allah, dimana para malaikat atau para nabi tidak ada yang menandingiku.’

Istilah waqt (waktu) bagi orang-orang yang berjalan dalam kesucian (muthashowif) sangat masyhur, berbeda maknanya dengan isilah waktu pada umumnya. Sabda Rasulullah,saw., : 'Aku punya waktu (waqt)dengan Allah,' dijadikan rujukan oleh para syaikh sufi bahwa lamanya kebersamaan dengan Allah disebut waktu (waqt). Namun jika dilihat secara umum, waktu merupakan ukuran sesuatu yang tidak memiliki wujud nyata, melainkan hanya asumsi. Untuk menentukan waktu, tancapkan sebatang kayu diatas tanah secara tegak lurus, dan bayangannya diberi tanda. Jika bayangannya bergerak dan menghilang diwaktu gelap, lalu muncul kembali diwaktu terang dan jatuh persis ditempat yang sama, berarti telah berputar satu kali, maka putaran satu kali itu disebut satu hari. Terlihat seolah-olah waktu itu berputar, padahal tidak demikian, yang berputar adalah zaman sebagaimana sabda Rasulullah,saw., : ‘Zaman berputar sebagaimana keadaannya pada saat Allah menciptakannya.’ Dan : ‘Allah meciptakannya dalam bentuk lingkaran, dan waktu-waktu didalamnya ditentukan kadarnya.’

Bayangan kayu tadi berasal dari cahaya matahari, oleh karenanya alat bantu yang digunakan untuk menentukan waktu adalah matahari dan bumi. Matahari terbit dipagi hari, seolah-olah ia muncul dari balik tabir bumi. Tempat terbit matahari itu dinamakan masyriq (timur) dan terbitnya orbit tersebut dinamakan syuruq. Lalu bila diikuti gerakan matahari hingga ke pertengahannya, maka pertengahan tersebut dinamakan istiwa. Kemudian, matahari itu mulai turun dari istiwa-nya mengambil arah kanan, bukan arah kanan dari matahari. Awal gerakan menjauh dari istiwa, dinamakan zawal (tergelincir).

Kemudian, jika matahari itu terus bergerak hingga hilang. Proses hilangnya itu dinamakan ghurub (terbenam). Tempat dimana ia hilang dari pandangan dinamakan maghrib (barat) dan angkasa menjadi gelap. Lama terangnya angkasa dari tempat terbit matahari (masyriq) ketempat terbenamnya (maghrib) disebut siang (nahar). Sedangkan masa kegelapan sejak matahari terbenam hingga terbitnya kembali, dinamakan malam. Dengan demikian, hari merupakan gabungan malam dan siang. Jarak pergeseran antara tempat-tempat terbit matahari setiap hari itu disebut ekliptika. Begitulah seterusnya sehingga bisa ditentukan dengan asumsi-asumsi tadi yang disebut dengan hari, bulan dan tahun. Dengan demikian, jelas bahwa malam, siang, hari, bulan dan tahun inilah yang disebut waktu. Lalu dengan kemajuan teknologi waktu dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang dinamakan jam, menit, detik dan seterusnya. Semua itu tidak memiliki wujud dalam entitasnya dan bersifat relative. Yang berwujud hanyalah entitas matahari dan bumi, bukan entitas waktu dan zaman. Sehingga terlihat dengan jelas bahwa zaman adalah perkara abstrak yang padanya waktu-waktu itu diasumsikan, Allah SWT berfirman : 'Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.' (QS 017 : 12)

Dalam dunia kesufian yang dimaksud dengan waktu adalah saat dimana seseorang merasa bersama dengan Tuhannya, persis sebagaimana yang dikatakan Sayyidina Ali,ra., bahwa : ‘Waktu adalah pedang.’ Karena fungsi pedang adalah untuk memotong, dan waqt memotong akar masa lalu dan masa mendatang serta menghapus dari hati perhatian tentang hari kemarin dan hari esok. Karena jika seseorang memikirkan masa lampau atau hari esok, ia akan ditabiri dari Tuhan, dan tabir adalah suatu penyimpangan yang besar. Seorang murid bercerita kepada gurunya, Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) bahwa ia mengalami keadaan dimana ia merasa berbahagia sepanjang hari, tanpa terpikirkan olehnya yang lain kecuali Allah SWT. Syaikh menjawab : ‘Alhamdulillah Semoga Allah selalu menghujani rahmat kepadamu dan sahabat beserta keluarga dengan Rahmaan dan Rahiim-Nya, semoga juga menaikkan darojat kita semua.’ Bisa dikatakan sang murid dalam keadaan mendapatkan atau dalam istilah tasawufnya disebut 'wajd' dan merasa berada dalam persatuan dengan Tuhan, manakala keadaan itu berakhir, ia tidak akan mampu meraihnya kembali, lalu ia bersedih karenanya. Oleh sebab persatuan dan keterpisahan dimaujudkan oleh Tuhan tanpa kehendak atau upayanya sendiri. Sebagaimana Yaqub,as., ia sedih lantaran keterpisahan dan menjadikannya buta, lalu persatuan membuat ia bahagia dan dapat melihat kembali. Dalam hal ini Yaqub,as., adalah pemilik waktu (waqt). Salah satu tanda kebersatuan adalah hilangnya kehendak, dan bilamana ia berkehendak kembali maka itu tanda ia dalam keadaan keterpisahan. Waqt adalah masa kebersatuan dengan-Nya, oleh karenanya waqt adalah sesuatu yang berada diluar lingkup usaha manusia. Meskipun demikian, Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mendidik murid-muridnya yang terpilih, agar bila malam tiba, mewarnai jiwanya dengan menghadirkan rasa-rasa bahwa seolah-olah ia sedang merindukan dan mencintai-Nya (syauq wa mahabbah), merasa hening hanya ada dirinya dan Tuhan saja (da'im), merasa diawasi oleh-Nya dari semua arah (aqrobiyah), merasa senang dengan semua tindakan-Nya terhadap dirinya dan merasa bersama-sama serta diliput oleh-Nya (mai'yah). Nah tindakan menghadirkan rasa itu dinamakan ‘muroqobah’, dan bila sang murid mujur, ia akan merasakan kehadiran (hudhur) dan kebersamaaan (ma'i) dengan Tuhan, lamanya perolehan rasa-rasa inilah yang dinamakan waqt.

Hal terkadang turun menghias waqt, ini kondisi yang hebat yang dialami oleh seorang pejalan, dimana hal memperindah waqt, sebagaimana bintang menghias langit atau seperti ruh meliput badan, keduanya datang dari Allah SWT kepada orang yang dipilihnya. Bila mengalami keadaan yang demikian, rasa sedih dan gembira akan tersingkirkan dari dalam hati, baginya yang terlihat hanyalah Allah semata, sebagaimana Ibrahim,as., yang mengatakan : ‘Aku tidak suka pada mereka yang terbenam.’ Apa-apa yang dilihatnya hanyalah Wajah Allah semata, ciptaan hanyalah menjadi alat bantu dalam mewujudkan hal-nya. Jadi jelas sekali bahwa waqt adalah derajat dari para murid (yang menginginkan), sedangkan hal adalah sifat dari objek yang diinginkan (murad). Yang pertama menandakan seseorang bersama dengan dirinya sendiri dalam kesenangan waqt, sedangkan yang kedua dengan Tuhan dalam kelezatan hal.

Sabtu, 31 Juli 2010

KEBIJAKSANAAN

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian Jum’at malam menyinggung tentang kebijaksanaan Lukmanul Hakim,as., yang begitu hebatnya, khususnya tentang khauf (takut) dan raja (harap). Karena hal ini telah dibicarakan pada bagian terdahulu, maka kita simak saja sebuah kisah yang lain, yang tidak kalah bagusnya, yang dikutip dari kitab mastnawi karya Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,qs.: Gurunya sejak lama sudah mengetahui bahwa kesadaran muridnya yang satu ini jauh lebih unggul daripada kesadaran dirinya. Seringkali, sang guru pun menyuruhnya untuk berbicara didepan murid-murid yang lain disaat pengajian tiba, dan juga mengambil alih peran sebagai Syaikh atau sebagai Guru, manakala Sang Guru berada jauh diluar kota, dengan berkata : ‘Luqman, tempat ini sepantasnya engkau duduki, biarkan aku melayanimu.’

Tidak terpikirkan oleh Luqman,as., apalagi mengharapkan untuk menjadi seorang syaikh, apalagi guru, karena ia menyadari bahwa untuk memimpin dirinya sendiri tidaklah mudah, apalagi memimpin orang lain. Oleh karenanya, ia tetap memasang kewaspadaan yang tinggi dan tidak terkecoh, serta tidak tergoda oleh tawaran sang mursyid dan tetap melayaninya. Pada suatu hari, Sang Guru mendapatkan kiriman buah melon. Lalu dipotongnya sendiri buah itu, dan setiap potongan diberikannya kepada Luqman. Luqman pun memakannya, sambil memuji rasa buah itu, ‘Sungguh manis, seperti madu,’ sampai dia menghabiskan tujuh belas potong. Tinggalah sepotong lagi, maka timbul keinginan dalam diri Sang Guru untuk mencicipinya. Ketika dimasukkan kedalam mulutnya, dia baru tahu betapa asamnya buah itu. ‘luqman, buah se-asam ini engkau puji, dan engkau katakan bahwa manisnya seperti madu? Begitulah Sang Mursyid menegur muridnya. Luqman,as., menundukkan kepalanya dan berkata : ‘Maafkan aku guru, aku tidak ingin guru memakan melon yang asam itu, maka aku bermaksud menghabiskannya sendiri. Karena dalam kehidupan ini, sudah cukup banyak manisan yang kuperoleh dari tanganmu. Baru pertama kali ini, engkau memberikan buah yang asam, apakah aku harus menolaknya? Lagipula, buah yang asam itu sudah tersentuh oleh tanganmu yang manis, yang engkau potong dengan pisau kasih sayangmu. Tidak guru! Aku tidak akan pernah menolak pemberianmu.’

Inilah cinta, buah asam terasa manis karena cinta. Jarum usang berubah menjadi emas karena cinta. Jiwa yang kotor menjadi bersih juga karena cinta. Orang yang cacat kesadarannya tidak akan pernah merasakan manisnya cinta. Tidak pernah bisa membedakan apa yang disukai dan dibenci oleh yang dicinta. Mereka yang buta dari cinta, secara lahiriyah terlihat selalu bersama dengan yang dicinta, namun untuk melayani dirinya bukan melayani yang dicinta. Cinta hanyalah bagi orang-orang yang telah berhasil membunuh dirinya, yang hidup dalam diri yang dicinta. Untuk mengenal cinta dibutuhkan kesadaran yang tinggi. Dibutuhkan rahmat dari Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Jumat, 30 Juli 2010

YAQIN

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allah SWT berfirman : 'Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.' (QS 015 : 99)

Keyakinan merupakan buah dari menanam bibit kepatuhan. Selagi berupa bibit dan tanpa adanya pengetahuan (‘ilm) tentang pohon dan buahnya, seseorang belum yaqin apakah bibit yang akan ditanam akan tumbuh seperti pohon yang dimaksud dan menghasilkan buah yang diinginkan. Sebagaimana ayat diatas, adalah sebuah perintah untuk menyembah Tuhan sampai datang sebuah keyaqinan, bahwa yang disembah adalah Tuhan yang dimaksud. Jadi hubungan antara tindakan kepatuhan dan keyaqinan, seperti hubungan badan dengan ruh, menjadi hidup dan tidak bisa dipisahkan. Oleh karenanya, pertolongan (tawfiq)dan petunjuk Tuhan (hidayah) menjadi faktor utama bagi seseorang untuk menuju kepatuhan, sedangkan perolehan keyaqinan adalah murni tindakan Tuhan. Jadi, mustahil mengenal Tuhan tanpa melalui tindak kepatuhan atas segala yang diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang-Nya.

Dari keterangan diatas, dapat diketahui bahwa yang bisa membebaskan seseorang dari keraguan dan kegelisahan, adalah keyaqinan. Tanpa keyaqinan, bibit tidak akan ditanam. Pengetahuan (‘ilm) adalah keyaqinan kepada realitas objek yang diketahui. Oleh karenanya, bilamana pengetahuan diperoleh, yang tersembunyi menjadi seperti yang terlihat sesungguhnya. Maka, seseorang akan melihat pohon dan buahnya dikemudian hari, sebagaimana ia mengetahuinya melalui pengetahuan (‘ilm) saat sekarang. Jika tidak, maka, pengetahuannya tentang objek yang dimaksud keliru.

Sekarang dilihat dari perspektif yang berbeda, agar kita semua dapat memahami yang dimaksud dengan keyakinan di dunia kesufian. Jika ayat diatas merupakan perintah untuk menyembah Tuhan agar diperoleh keyaqinan, maka keyaqinan mempunyai tingkatan dan tahapan. Karena menyembah Tuhan diwajibkan bagi orang Islam selama ia hidup dan tidak gila, maka begitu pula keyaqinan yang akan ia peroleh berjenjang-jenjang pula.
Semua orang sepakat untuk tidak meragukan keberadaan matahari, karena tiga alasan, pertama, beroleh petunjuk oleh sebab kecemerlangan cahayanya dan dapat merasakan kehangatannya, dalam istilah tasawuf disebut dengan ‘ilm al-yaqin, sehingga ia diketahui, dibuktikan dan tampak jelas. Kedua, melihat wujud matahari, dan inilah yang disebut dengan ‘ayn al-yaqin. Ketiga, memancarkan cahaya mata dalam cahaya matahari, dan inilah yang disebut haqq al-yaqin, dengan demikian, penglihatan menjadi mata dan mata menjadi penglihatan. Jadi, dapat dianalogikan bahwa keyakinan ibarat pohon, akarnya adalah ‘ilm al-yaqin dan cabang-cabang dalam keyakinan adalah ‘ayn al-yaqin dan haqq al-yaqin. Nah, tanpa akar tidak mungkin ada cabang, demikian pula tanpa ‘ilm al-yaqin tidak akan ada ‘ayn al-yaqin dan haqq al-yaqin. Akar pada umumnya tersembunyi didalam tanah, sebagaimana cahaya hakikat yang tersembunyi dari sifat-sifat kemanusiaan. Begitu akar atau cahaya hakikat terungkapkan, melalui peniadaan sifat-sifat kemanusiaan, dengan melakukan tindak riyadhah dan mujahadah yang gigih, maka akan diperoleh ‘wajd’ dan dirinya diliputi oleh rasa kegembiraan, itulah yang disebut ‘ilm al-yaqin. Bukti keterungkapannya berupa ‘wajd’ atau keterpesonaan atau ekstase, dan bukan dengan bimbingan akal dan pengetahuan dari membaca dan mendengar saja. Begitu pula ‘ayn al-yaqin niscaya bisa diperoleh melalui perenungan (kontemplasi), sedangkan haqq al-yaqin melalui meditasi (muroqobah). Bimbingan akal dan pengetahuan dari membaca dan mendengar tidak akan pernah menimbulkan ‘rasa’. Sebagaimana orang yang percaya adanya matahari namun tidak pernah merasakan cahaya kehangatan dan kecemerlangannya, sehingga tidak menjadi petunjuk (huda) baginya.

Imam Hujwiri,ra., berkata bahwa yang dimaksud oleh kaum sufi dengan ‘ilm al-yaqin adalah pengetahuan tentang praktik keagamaan di dunia ini yang sesuai dengan perintah-perintah Tuhan. Dan yang mereka maksud dengan ‘ayn al-yaqin adalah pengetahuan tentang keadaan menjelang mati dan saat meninggalkan dunia ini. Sedang yang mereka maksud dengan haqq al-yaqin adalah pengetahuan intuitif tentang penglihatan (akan Allah) yang akan ditampakkan di surga, dan tentang sifat alamiahnya. Nah, ketiganya merupakan ‘pengetahuan’ yang dapat dirasakan oleh seseorang pada saat ini atas sesuatu yang bagi orang lain masih merupakan cita-citanya.

Oleh karenanya keimanan bisa saja melekat pada semua orang mukmin, akan tetapi keyaqinan hanya milik orang mukmin tertentu saja. Karena, ‘ilm al-yaqin adalah ilmu tentang ‘hal’, bukan apa yang bisa diketahui melalui bukti yang kuat saja. Kegelapan keraguan tidak bisa sekaligus dihilangkan, kecuali dengan terbitnya matahari hakikat. Allah SWT berfirman : 'Jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin ('ilm al-yaqin), niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. (QS 102 : 5-7)