Sabtu, 06 Maret 2021

MENGAPA AKU SELALU BERCERITA TENTANG AKU

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Imam Junaid,ra, meraknya para sufi berkata bahwa awal dosa adalah merasa ada. Ciri orang yang merasa ada adalah setiap pembicaraan dan perilakunya ditujukan untuk menunjukkan bahwa dirinya hebat. Ini sebagai bukti bahwa meskipun mulutnya sering menyebut nama Tuhan dan membicarakan nama dan sifat-Nya namun hatinya mendustakannya. Harus disadari bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia, maka hawa nafsunya minta atau menuntut bagiannya. Dan ironisnya bahwa hawa nafsu itu tidak bisa dihilangkan, itu subtansi dan karunia dari Allah SWT. Oleh sebab itu jika hawa nafsu dianalogikan sebagai kuda, maka dibutuhkan penunggannya agar kuda mempunyai tujuan yang benar dan tidak asal berlari, nah penunggang itu adalah cahaya pada ruhani manusia, cahaya ini diperoleh dari pemberian Allah SWT tanpa sebab dan sekehendak-Nya. Dalam dunia tasawuf cahaya ini disebut sebagai maqomat ruhiyah atau akhlak karimah, dan dipercaya bahwa dengan jalan riyadah dan mujahadah maka maqomat ruhiyah ini kemungkinan bisa diperoleh, Imam Ghazali,ra, menyebutnya dengan melakukan proses takhali, tahali dan kemudian tajjali.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa dalam hidup ini tidak ada pilihan kecuali piliha-Nya, oleh karenanya jangan ikut campur dalam mengatur kehidupan ini. Wejangan ini keluar dari keadaan yang tinggi, karena sudah menisbatkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, persis seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnu Arabi,qs, bahwa manusia ini adalah jelmaan sifat dan perbuatan-Nya. Sebagaimana projector, gambar yang ada di layar telah ditentukan pada potongan-potongan negative film yang ada pada projector itu dengan terpaksa atau sukarela.

Orang yang telah menyaksikan sifat Tuhannya, tidak punya berita tentang dirinya, ia tidak peduli apakah seseorang sepakat dengan pendapatnya atau tidak sepakat, tidaklah akan bersarang dan menggores hatinya. Meskipun banyak orang bisa mengerti dan memahami pengertian diatas, akan tetapi jika memahaminya terhadap teks saja meskipun betul, itu tidak hakiki, itu palsu. Artinya, meskipun akal (maklumat) sebagai jalan pertama dan utama untuk menjadikan karakter dalam ruhani (maqomat), namun pemahaman akal masih didominasi oleh ke akuan (ananiyah), yang tentunya setiap perbuatannya akan dinisbatkan kepada kepentingan dirinya atau hawa nafsunya, oleh karenanya orang mesti membangun jembatan agar maklumat bisa mulus menuju atau menjadi maqomat, jembatan itu adalah tasawuf. Mari kita pahami hadis tentang ihsan: ‘Anta’budallah ka annaka taraah, fa’illam takun taraah, fa’innahu yaraak. Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Seolah-olah melihat Allah adalah musyahadah atau syuhud sedangkan seolah-olah Allah melihatmu adalah muroqobah. Nah musyahadah atau syuhud dan muroqobah hanya dapat diperoleh melalui tarbiyah ruhiyah atau taskinatun nafs dengan jalan suhbah sebagai qudwah, karena jalan satu-satunya untuk memperoleh ‘waris ruhani’ adalah dengan jalan suhbah, sebagaimana sahabat-sahabat yang bersuhbah kepada baginda Rasulullah,saw. sehingga lahirlah cinta atas dasar waris ruhani ini, yang mengakibatkan selalu dirliputi rasa rindu (syauq). Oleh karenanya ada hadis yang mengatakan bahwa: ‘Al-ulama waratsatul anbiya’ yang berarti ulama adalah pewaris para-Nabi.’ Begitu syariat turun maka bergembiralah mereka, karena mendapatkan bentuk atau cara mengungkapkan kerinduan kepada kekasihnya, dalam bentuk shalat, puasa, zakat dan pergi haji serta amal baik lainnya yang kesemuanya dilakukannya dari, dengan dan untuk Allah.

Mu'min yang sempurna itu disibukki oleh memuji sifat-sifat Allah, sifat-sifat Indah (Jamalullah), sifat-sifat Keperkasaannya (Jalalullah) dan sifat-sifat Kesempurnaannya (Kamalullah) dan selalu menisbatkan sifat-sifat itu kepada-Nya dan tidak tersisa sedikitpun untuk yang lainnya. Mengapa? Karena dia melihat dirinya tiada, setiap mulai bicara ada pun bukan merasa ada, melainkan Allah yang Ada. Nah karena semua sifat baik berada di tangan Allah, maka sifat buruk itu adalah tiada, bagaimana mungkin yang tiada dinisbatkan kepada yang Ada? Oleh sebab Itu buruk dinisbatkan kepada yang tiada, yaitu manusia, maka ketika orang memuji baginda Nabi,saw, wajah yang mulia merona merah, bahkan wajahnya ditutupi karena malu, karena orang yang memujinya menyangka itu sifatnya, padahal semua sifat baik itu milik Allah. Akan tetapi kepada sayyidina Abu Bakar,ra, malah disuruh memujinya, lantaran ketinggian keadaan ruhaninya yang mengetahui bahwa yang dipuji bukan baginda Rasulullah,saw, melainkan Allah SWT. Riwayat ini memperlihatkan perbedaan dengan kebanyakan orang, yang mana bila dipuji lantas merasa senang, maka dikipasnya pujian itu agar membesar. Nah mu’min sempurna itu jiwanya disibukkan oleh melihat keindahan Allah, meskipun iblis yang dilihatnya akan terlihat keindahan Allah. Oleh sebab itu ketika mereka melihat orang sholeh, dia melihat dengan mata cinta, karena dia melihat Allah telah mentajjalikan sifat-Nya kepadanya. Kisah, seorang guru dan muridnya, ketika gurunya berubah kafir, muridnya mendatanginya tanpa memandang hina, tetapi memandang dengan mata cinta. Saat berjumpa, gurunya sudah merasa malu dan menyuruhnya pergi, maka si murid mengatakan: ‘Engkau adalah syaikhu, engkau guruku, wahai guruku aku tidak pernah merasakan apa murninya cintaku kepadamu seperti hari ini, engkau dulu yang mengajarkan aku, bahwa hati manusia ditangan Allah bukan ditangan manusia, sekarang aku menyaksikan kebenaran kata-kata itu, bolehkah aku katakan kepadamu wahai guruku, kembalilah kepada jalan Allah’. Perkataan itu tanpa adanya bobot rasa menggurui melainkan meluncur dengan kendaraan cinta, mendengar itu gurunya pun menangis dan seketika kembali ke jalan Allah. Inilah contoh kisah orang yang disibukkan oleh Allah, yang lahir dari menyaksikan sifat Indah dan menisbatkan sifat Indah itu kepada Allah, maka timbul fana daripada melihat dirinya hebat, baik, pandai, bersyukur, ridho dan lain sebagainya. Ketika orang mengatakan saya sudah berhaji kemudian saya banyak melakukan kebaikan, itu menisbatkan perbuatan-perbuatan baik kepada dirinya, padahal hakekatnya adalah fi’il Allah, yang baik-baik itu kepunyaan Allah, ketika Allah tidak memberi baik kepada kita, maka apa yang kita bisa lakukan? Syariat membagi sesuatu itu baik dan buruk, padahal sebelum ada syariat tidak ada baik dan buruk, oleh karena itu sifat baik yang semula ada (fitrah) adalah untuk memelihara dirinya, akan tetapi agama mengatakan untuk berbuat kepada Allah, agama itu adalah untuk hikmat kepada Allah, itu yang disebut ibadah, kepada istri kepada suami, kepada anak, kepada guru, kepada murid, maknanya ibadah kepada Allah, Itulah hikmat.

Mukmin yang sempurna tidak menisbatkan perbuatan baik dan keadaan yang mulia dalam dirinya, bahkan tidak menoleh sama sekali, ia sibuk memuji Allah daripada melihat sifat-sifat baik kepada dirinya. Bahkan lebih jauh dari itu, ia pun disibukkan oleh hak-hak Allah daripada untuk haknya atau bagian nafsunya. Terdapat dalam hadits, seorang hamba di akhirat nanti ditanya kenapa engkau tidak bersyukur di dunia kepada manusia? Dijawab karena aku hanya ingin bersyukur kepada Engkau dan Engkau tidak boleh disamakan dengan yang lain, Dijawab tandanya bahwa engkau bersyukur kepada Allah adalah engkau bersyukur kepada makhluk-Nya, itu sebab imam Ibnu Arabi,ra, berkata orang yang mengenal Allah hanyalah orang yang berakhlak kepada semua makhluk Allah, tidak peduli siapa orang itu, karena dia sibuk pada hak Allah, jika ada orang datang minta tolong maka segera akan dipenuhi sebagai pemenuhan hak Allah. Bukanlah seorang pencinta yang mengharap ganti dari kekasihnya, sedangkan kita shalat, puasa, selalu memikirkan balasan dari Allah yang berupa ini dan itu. Bukanlah pencinta yang hakiki orang yang mengharapkan dari kekasihnya ganti dari amal yang dilakukannya berupa surga atau takut neraka atas dosa yang diperbuatnya. Orang-orang sufi melakukan peribadatan bukan karena wajib, melainkan karena mahabbah, makanya kata mereka thoriquna mahabbatullah amal, jalan kami cinta bukan amal, bukan berarti orang tidak beramal, artinya mereka melakukan ibadah itu bukan atas dasar wajib, melainkan atas dasar cinta. Nabi,saw berkata di akhir zaman nanti ada orang yang diikat untuk dibawa ke surga, karena ibadahnya merupakan pelaksanaan kewajiban dan selalu mengharapkan surga, kalau tidak diwajibkan maka tidak beribadah, artinya kalau tidak ada surga maka dia tidak beribadah. Sayyidina Ali,ra, sejak dulu sudah berkata, aku akan tetap beribadah meskipun Allah tidak memberi surga, itulah bunyi dari rohani yang hakiki, maka seorang pencinta yang hakiki adalah bukan orang yang mengharapkan ganti dari kekasihnya atau meminta balasan dunia, barang benda dunia dan akhirat, ini muhibb yang hakiki. Itu sebab Imam Ibnu Arabi,qs, mengatakan wujudmu anugerah Allah, yang dimaksud bahwa ciptaan ini dilahirkan, diciptakan dari cinta dan Allah tidak pernah mengambil atau meminta upah dari apa yang Dia buat, sampai mati pun manusia dilumuri nikmat dan pemberian Allah itu tidak pernah berhenti, oleh sebab itu para Aulia tidak berani minta kepada Allah. Apa kata hadrat Maulana Rumi,qs Allah tahu isi hatimu sebelum kau mengucapkan doa pada Allah, tapi Allah ilhamkan doa kepadamu agar kau merasa lezat bermunajat kepada-Nya. Itu sebabnya cinta hakiki adalah si pencinta telah mendapatkan atau mengambil sifat kekasihnya, si pencinta telah mendapatkan sifat kekasihnya, ketika seseorang sudah mendapatkan semua sifat Allah Itulah cinta yang Hakiki, karena dia telah memiliki sifat yang dicintainya, itu sebab Syeikh Mansyur Al Hallaj,ra, mengatakan ‘aku mencintaiku, karena tidak ada kecuali aku.’

Wallahualam bisawab, semoga ada manfaatnya.

Jumat, 05 Maret 2021

HAKIKAT TAWADHU

Bismillahir Rohmanir Rohim

Pada umumnya masyarakat di Indonesia memahami arti tawadhu adalah rendah hati, jadi siapapun yang merasa rendah hati sudah memiliki tawadhu. Didalam ilmu kesufian tidaklah demikian, karena orang yang menetapkan kepada dirinya sifat tawadhu, maka ia adalah orang yang sebenar-benar sombong. Tawadhu adalah orang yang kedudukannya berada di atas kemudian dia merendah kepada orang yang di bawahnya, bukan orang yang kedudukannya di bawah merendah kepada yang diatasnya. Pejabat merendah kepada rakyat, bukan rakyat merendah kepada pejabat, tuan guru merendah kepada murid, bukan murid kepada tuan guru, dan orang alim kepada orang bodoh dan bukan sebaliknya itulah tawadhu. Contohnya, seorang guru masuk ke majlis, lalu berpura-pura batuk agar orang mengetahui kedatangannya, maka rusaklah majlis itu, karena meskipun ia seorang guru namun tidak menghargai majlis ilmu, karena apapun alasannya majlis ilmu lebih mulia daripadanya. Di zaman Imam Malik,ra, disaat majlis ilmu berlangsung, tiba-tiba ada khalifah mengunjunginya, lalu orang-orang di majlis berdiri, maka Imam Malik,ra, pergi meninggalkan majlis itu. Suatu hari ia ditanya alasanya dan berkata: ‘Karena ilmu dihinakan dan dunia ditinggikan.’ Juga di zaman Umar bin Abdul Aziz,ra, ketika beliau masuk kedalam majlis ilmu yang tengah berlangsung lalu orang-orang berdiri menyabutnya, beliau marah dan berkata: ‘Kalian tengah mengaji dengan tuan guru, saya pun datang untuk mengambil ilmu dan ilmu jauh lebih mulia dibanding saya, maka tidak sepantasnya kalian mengabaikan ilmu dan menghurmati saya.’ Maka dengan demikian jika seseorang merasa dirinya hina dan tidak melihat dirinya punya kedudukan dan mempunyai nilai maka takabur pun lenyap, jika takabur lenyap maka yang tinggal adalah sifat tawadhu. Tetapi seseorang jika merasa mulia, bernilai, apalagi merasa telah menyembunyikan kedudukannya agar terlihat tawadhu, maka ini adalah takabur.

Memang orang yang tawadhu tidak berarti duduk paling belakang dalam majlis, tetapi jika seseorang yang tinggi dan luhur yang sepatutnya duduk di depan, kemudian datang ke majlis dan majlis sudah mulai, maka dia merasa tidak adab jika melangkahi orang-orang untuk dapat tempat didepan, maka ia duduk dibarisan itu berakhir, meskipun itu dekat tempat sampah. Tawadhu itu muncul ketika merasakan Keagungan Allah dan merasa dirinya hina. Orang punya sifat sabar karena Allah telah memberi sifat sabar kepadanya, maka dia mampu menyabari Allah, juga berlaku pada sifat-sifat yang lain, misalnya sifat siddiq maka seseorang mampu jujur kepada Allah, sifat ridho maka dia ridho kepada Allah, sifat tawakal maka dia bertawakal kepada Allah, nah sifat-sifat inilah yang melihat Kebesaran Allah, sifat-sifat inilah yang menyaksikan bahwa dia tiada, jika seseorang telah memiliki sifat-sifat ini, maka hati menjadi khusyuk dan tawadhu. Jadi bisa dikatakan bahwa sifat tawadhu itu tumbuh dari sifat kehambaan, sifat kehambaan itu tumbuh karena menyaksikan Keagungan Allah, menyaksikan Keagungan Allah itu tumbuh jika memiliki akhlak mulia. Jadi bukan merasa tawadhu, karena itulah takabur hakiki, Syekh Ibnu Athaillah,qs, mengatakan : ‘Orang yang tawadhu itu bukan ia yang ketika merendah menganggap dirinya lebih tinggi dari yang dilakukannya. Namun, orang yang tawadhu itu ia yang ketika merendah menganggap dirinya lebih rendah dari yang dilakukannya.’ Yang mulia baginda Nabi,saw, tidak pernah ada yang mendahului mengucapkan salam kepadanya, meskipun ada sahabat yang berupaya ingin mendahuluinya, namun tidak pernah berhasil, suatu ketika seorang sahabat bersembunyi di belakang Nabi,saw, agar dapat mendahului memberikan salam, namun sebelum sahabat itu mengucap salam beliau mendahuluinya, artinya tidak ada sifat tawadhu yang lebih tinggi daripada baginda Rasulullah,saw, karena beliau dapat melihat belakang sama baiknya dengan melihat ke depan, melihat jahir sama jelasnya dengan melihat batin. Meskipun syariat mengatakan bahwa yang berjalan memberikan salam kepada yang duduk, yang dibawah mengucapkan salam kepada yang diatas, yang datang mengucapkan salam kepada yang diam, akan tetapi akhlak melampaui batas-batas itu, pemilik akhlak yang tinggi selalu memberi salam tanpa melihat batas-batas itu, karena tidak melihat agama ini secara tekstual, melainkan melihatnya secara kontekstual. Jadi sifat tawadhu itu lahir dari sifat hamba, orang baru merasa hamba ketika dia melihat Keagungan Allah, dan orang baru merasa dan menyaksikan Keagungan Allah apabila dia memiliki sifat-sifat mulia atau akhlak al-karimah, sifat itu yang membuat penglihatan bahwa dirinya hina. Jadi ketika Allah memberikan sifat-sifat mulia itu atau dalam isitlah kesufian disebut maqomat ruhiyah, seseorang bukan merasa semakin tinggi, akan tetapi malah sebaliknya semakin menyaksikan hakikat dirinya tiada, itulah kemudian Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengatakan barang siapa yang mengenal dirinya maka dia mengenal Allah.

Syekh sufi menyebut ciri-ciri orang yang tawadhu, apabila dicaci atau direndahkan tidak marah, karena merasa seseorang mencaci sesuatu yang benar, karena segala kebaikan ditangan Allah (biyadihil khair), dia melihat bahwa dia tidak ada, maka dikatakan buruk, dikatakan bodoh, malah dalam hatinya berkata kamu telah mengatakan sesuatu yang haq, aku tak ada, aku bodoh, karena yang Alim hanyalah Allah dan yang baik hanyalah Allah, bahkan ketika di tuduh melakukan dosa besar pun memang inilah sifat dasar manusia. Ciri yang lain adalah dia tidak sama sekali berusaha untuk mempunyai kedudukan, nilai, harga diri didepan orang, dan dia tidak merasa bahwa dia punya tempat di hati orang. Bahkan seorang Aulia ketika ada orang memuliakan akan mengatakan karena dia cinta kepadaku, kalau seseorang benci maka yang baik pun akan dikatakan buruk, Allah menutupi aibku dengan cintanya, jika Allah buka aib ku maka dia akan benci yang luar biasa kepadaku, itu sebab Aulia tidak bergantung kepada orang yang suka ataupun orang yang benci, semuanya Allah yang membuatnya, dia berada di lautan tapi tidak goncang oleh ombak, itulah orang yang bersama Kebesaran Allah dan Keagungan Allah.

Tawadhu yang hakiki bukan sifat yang ditumbuhkan oleh pikiran, itu adalah ketundukan jiwa karena telah mempunyai sifat-sifat mulia, maqamat ruhiyah atau Allah tajallikan sifat-sifat itu dan orang yang tidak punya sifat tawadhu, tidak dapat mengetahui orang yang tawadhu. Jika Allah memberi sifat taubat maka didalamnya ada tawadhu juga jika memberi sifat zuhud sekaligus dengan tawadhu. Orang bertobat melihat dirinya merasa tak betul, tak ada, kurang, hina, setelah itu berdirilah di atas sifat tobat itu sifat-sifat lain, maka taubat itu seperti pondasi bumi, maka orang yang tidak mempunyai tobat maka tidak akan pernah memperoleh sifat-sifat mulia, akhlak-akhlak mulia, maqom ruhiyah, seperti orang tidak mempunyai tanah tetapi ingin membangun rumah, seperti itu, maka bertambahnya sifat yang diperoleh maka akan bertambah pula tawadhu, maka baru kemudian dia menyaksikan dirinya tidak ada, inilah hakiki.

Wallahualam bisawab semoga ada manfaatnya.

Selasa, 29 Desember 2020

MAKNA MAULID - AKHLAK DAN ADAB

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

eSHa 29/12/2020

Yang mulia baginda Nabi Muhammad,saw, bersabda : ‘innama bu'istu liutammima makarimal akhlak.’

Adanya hadis diatas menjadikan manusia berlomba untuk memperbaiki akhlak, khususnya para orang tua dalam menididik anak-anaknya. Merasa dengan demikian sudah turut membantu Rasulullah,saw, dalam membangun akhlak manusia. Bahkan di tahun 1970an pada setiap Sekolah Dasar ada kurikulum tentang agama dan budi pekerti (akhlak), tetapi di era tahun 2000an sudah tidak ada. Apakah cukup pendidikan dari orang tua dalam mendidik anak-anaknya dalam membangun akhlak yang baik?

Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya : ‘Wama khalaqtul jinna wal Insa illa liya'budun.’ Tetapi kebanyakan manusia jika ditanya apa yang diinginkan di dalam hidup ini jawabannya adalah kebahagiaan. Disebabkan definisi kebahagiaan berbeda-beda sesuai dengan warna jiwa seseorang, maka kebanyakan mencarinya di tempat yang salah dan tidak mendapatkannya, meskipun sudah berkecukupan harta benda dan tahtanya. Seorang Syeikh mengatakan bahwa : ‘Sesungguhnya kebahagiaan itu ada didalam akhlakul karimah atau akhlak yang terpuji.’ Dan dikatakan bahwa : ‘Ibadah adalah kehambaan dan kehambaan itu tidak tercapai melainkan apabila memiliki akhlak yang mulia.’ Apakah yang dimaksud dengan akhlak adalah menundukkan diri tatkala bertemu dengan orang yang lebih tua, atau memberi tempat duduk bagi wanita, atau duduk bersila dan menundukkan kepada dihadapan guru?.

Para syekh sufi berdiri pada prinsip bahwa yang dimaksud dengan hadist : ‘innama bu’istu liutammima makarimal akhlak, adalah bahwa Nabi,saw dijadikan rasul dengan membawa Al Qur’an dan sunahnya semata-mata sebagai konsep untuk melahirkan akhlak.’ Jadi sama artinya bahwa sebetulnya agama ini diturunkan untuk membangun akhlak, bahkan dikatakan tanpa ada agama manusia tidak akan bisa berakhlak, akhlak yang dimaksud adalah akhlak kasbiyah, akhlak yang dicapai melalui pelaksanaan agama atau bisa disebut sebagai adab, oleh karenanya bila tidak ada agama maka tidak akan ada adab. Perangkat utama yang dibutuhkan manusia untuk melaksanakan akhlak adalah akal, karena fungsi akal adalah ‘mengikat’, itu sebab orang yang tidak berakal tidak ada taklif atau kewajiban agama, dan yang lain adalah ilmu, dengan adanya ilmu maka dapat mengamalkan ‘agama’ itu sendiri.

Dalam hadis itu baginda Nabi,saw mengatakan ‘liutammima’ yang sering diartikan sebagai sempurna, sedangkan para syeikh sufi memberikan makna untuk mempersiapkan atau untuk mewujudkan atau untuk membangun akhlakul karimah, atau dengan kata lain untuk menanam biji akhlak dan menyiraminya dengan pelaksanaan agama sehingga tumbuh cabang dan buah akhlak-akhlak yang mulia. Akhlak yang dimaksud adalah yang tumbuh dari melaksanakan agama, oleh karena itu perlu dipahami bahwasannya akhlak itu ada dua, akhlak jibiliyah (bawaan) dan akhlak kasbiyah (adab). Akhlak jibiliyah adalah akhlak bawaan atau fitrah atau dalam bahasa kimia disebut inheren, akhlak yang sudah ditanamkan kedalam tubuh ini, seperti rasa jahe di dalam batang jahe. Akhlak ini tidak bisa dirubah, tidak bisa dihilangkan, semua manusia mepunyainya, sebagaimana Allah SWT firmankan : ‘wanafsi wama syawwaha, fa alhamaha fujuraha wa taqwaha,’ maknanya bahwa tubuh ini sudah dipersiapkan dan sudah mengandung bawaan sifat ‘fujur’ dan sifat ‘takwa’, sedangkan yang dimaksud dengan akhlak kasbiyah (adab) adalah yang diperoleh melalui upaya, sebagaimana lanjutan ayat diatas : ‘qod aflaha man zakkaha’ maksudnya adalah orang yang melakukan pembersihan diri akan mendapatkan akhlak kasbiyah (adab). Maka pada setiap manusia untuk melahirkan perbuatan baik dan buruk pastilah menggunakan akal dan ilmu, oleh sebab itu ketika akal tidak ada atau tidak waras, maka tidak akan mampu untuk mengaplikasikan kebaikan ataupun keburukan, padahal sifatnya inheren atau ada dalam tubuhnya. Jadi sebodoh-bodohnya orang tetap mempunyai pikiran baik dan buruk. Yang perlu disadari bahwa akhlak jibiliyah atau akhlak bawaan ini bersifat ‘ananiyah’ atau pribadi atau selalu bersentuhan dengan maslahat pribadi. Oleh karenanya jika melakukan kebaikan maka keuntungannya mesti kembali kepada dirinya, kalau tidak maka tidak mau melakukannya. Misalnya, memberi makan orang atau membantu orang lain dalam bentuk materi atau tenaga dan pikiran adalah perbuatan baik, tetapi karena ada tuntutan ucapan terima kasih maka munculah perbuatan buruk, padahal agama memerintah tanpa pamrih. Memberi adalah kebaikan tetapai menuntut ucapan terima kasih adalah keburukan, atau dengan kata lain bahwa kebaikan yang sudah diberikan akan berakhir dengan keburukan. Para sahabat Rasulullah,saw, ketika memberi mereka takut jika akan ada balasan ucapan terima kasih, karena mereka mempunyai akhlak kasbiyah (adab), akhlak diniyah, atau para syeikh sufi mengatakan akhlak Al Muhammadiyah.

Sungguh sangat jelas bahwa agama diturunkan sebagai media untuk membangun akhlak, namun membangun akhlak didalam rohani bukan jasmani, oleh karenanya Al Qur’an itu adalah hidayah ruhiyah, sebagaimana ayat awal dalam surat al baqoroh ‘Dzalikal kitabu la raiba fih’ kata ‘rai’ saja sudah mencerminkan ruhiyah bukan aqliyah, dan hudalil muttaqin, bahwa Nabi,saw pernah berkata sampai tiga kali ‘at taqwa hahuna’ sambal menepuk dadanya (latifatul qolbi). Tetapi yang sangat penting bahwa untuk mendapatkan akhlak kasbiyah (adab) ini, manusia mesti melakukan agama secara ‘lillaahi ta'ala’. Oleh karenya manusia belum bisa melaksanakan agama jika motor penggeraknya adalah sifat kebaikan bawaan (akhlak jibiliyah), ini tidak lah cukup, karena sifatnya individual dan egois atau pamrih. Maka ciri-ciri orang yang melaksanakan agama menggunakan akhlak bawaan adalah ‘ananiyah’ atau mengaku, ananiyah itu artinya egois, motivasinya adalah kepentingan pribadi, maslahat diri, yang kedua mengaku bahwa sudah menyabari, sudah meridhoi, sudah mensyukuri, padahal itu bukan akhlak yang sebenarnya, itu akhlak bawaan, anak kecil pun juga punya meskipun akalnya belum di taklik, tapi sifat baik buruknya sudah ada, dan melakukan kebaikan hanya untuk kemaslahatan pribadi, kalau tidak ada kebaikannya pada diri, maka anak kecil itu tidak akan melakukannya, sampai dewasa akan begitu terus. Maka orang seperti ini akan sering mengguman : ‘saya kurang bagaimana sabar, saya kurang bagaimana ridho, saya kurang bagaimana dan bagaimana,’ karena merasa yang telah dilakukannya tidak ada maslahat yang kembali kepada dirinya. Adapun akhlakul karimah yang disebut-sebut dalam Alquran dan hadis yang dikatakan ‘wa innaka la'ala khuluqin adzim’ itu adalah akhlak kasbiyah (adab), orang sufi mengatakan ahklak sayidina Muhammad,saw. Apabila orang memiliki akhlak kasbiyah ini dan ditanya apa rasanya, maka akan dijawab rasa Muhammad,saw.

Imam Ibnu Arabi,qs, pernah memberikan analogi bagaimana orang yang memiliki akhlak kasbiyah (adab) dapat merasakan kehadiran Nabi,saw. Dikatakan seperti anak muda ketika belum menjadi ayah, dia tidak mengerti rasa sebagai ayah, tetapi setelah dia punya anak dan istri barulah ayah itu ada pada dirinya, yang sebelumnya tidak dipahami baru kemudian dapat dipahami, maka akan mengerti mengapa ayahnya dahulu bersikap begini dan begitu, perumpamaannya seperti itu. Seseorang tidak akan paham Nabi,saw kecuali jika memiliki akhlak kasbiyah itu, kita pun tidak paham bagaimana menjalankan agama kalau tidak mempunyai akhlak kasbiyah. Tidak ada jalan untuk memperolehnya kecuali melalui pelaksanakan agama ini tetapi lillaah atau orientasi hati jujur kepada Allah (siddiqut tawajjuh). Banyak penceramah di tv, apabila mengajak orang shalat mesti embel-embelnya nanti rezekinya banyak, kalau mengajak orang shodaqoh mesti akan mendapat balasan yang berlipat ganda, jika bisnisman jatuh atau gagal lalu kalau pengen maju mesti sodaqoh nanti dapat ini dan dapat itu, ini kan ajaran sesat dalam konteks tasawuf. Kita perlu orang-orang yang membangun agama di dalam jiwanya, melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah. Tetapi dalam dalam lain waktu penceramah tadi berbicara aqidah, bahwa rezeki sudah Allah tentukan tidak ada kaitannya dengan upaya manusia, itu pertanda bahwa agama itu hanya dalam nash, hanya dalam lisan, tidak dalam hakikat jiwanya. Satu-satunya cara untuk mendapatkan akhlak kasbiyah (adab) itu melainkan beribadah karena Allah saja, shalat karena Allah, shodaqoh karena Allah, ngaji karena Allah, nanti ngajarnya juga Karena Allah, semuanya karena Allah, barulah akan terbangun manusia rohani yang berakhlak kasbiyah (adab), pada gilirannya baru bisa dengan betul melaksanakan agama seperti yang dikehendaki Allah. Maka selama melakukan agama itu tidak karena Allah, maka pelaksanaan agama itu akan diakui oleh akhlak jibiliyahnya, aku sudah shalat, aku sudah puasa, aku sudah shodaqoh, aku sudah mengajar, aku sudah dzikir, bahkan tidak boleh dihina, tidak boleh dicaci atau di remehkan, karena selalu mengaku dan merasa alim, atau mengaku keturunan orang besar, atau keturunan ulama dan lain sebagainya, seolah-olah agama itu miliknya. Dan ciri yang terparah manakala selalu mengaku yang terbesar dan terbaik meskipun terkadang ucapannya merendah tetapi mengharapkan pujian, dipikirannya selalu mengakui ‘ana khairun minhu’, seperti iblis yang pertama kali mengatakan itu.

Mawlid sebetulnya media untuk memperoleh waris akhlak Nabi Muhammad,saw, akhlak-akhlak ruhiyah, akhlak diniyah ‘innama bu’istu liutammima makarimal akhlak.’ Orang mungkin sudah mencapai ilmu yang cukup untuk melaksanakan agama, tetapi mereka tidak mempunyai tarbiyah membangun akhlak ruhiyahnya atau akhlak kasbiyah. Sebenarnya tasawuf adalah madrasah yang mengajarkan agar umat Islam dapat mencapai akhlak kasbiyah itu, karena tasawuf sebenarnya hanya sebuah madrasah tarbiyah untuk meluruskan atau membetulkan tujuan hidup ini, tujuan ibadah ini dari karena selain Allah kepada karena Allah. Kebengkokan ini memang perlu waktu untuk diluruskan, jangan sekali-kali masuk ke dalam tasawuf dengan buru-buru baiat, kecuali sudah mengerti bahwa sebetulnya taubat itu bukan dari dosa akibat melanggar syariah melainkan taubat dari ibadah yang selama ini belum karena Allah. Karena jika taubat dari dosa tidak perlu masuk tasawuf, karena semua umat Islam jika berdosa lalu bertobat, lalu apa bedanya? Orang masuk kedalam tasawuf meski menyadari bahwa tasawuf adalah merubah tawajjuh siddiq lillaah. Jadi baiat adalah pintu gerbang besar untuk menanggalkan selain Allah dan meninggalkan dirinya untuk masuk kepada menunggalkan Allah SWT dan madrasah tasawuf untuk membangun akhlak ruhiyah, kasbiyah, diniyah, Muhammadiyah untuk mengalahkan akhlak Jibiliyah, akhlak bawaan. Dalam Bahasa lain, maksudnya adalah bahwa dominasi akhlak ruhani (adab) sangat kuat sehingga akhlak nafsiah nya itu menjadi mati, dan menjadi kendaraan untuk menuju kepada Allah SWT. Orang yang demikian akan mampu mengendalikan akhlak jasadiyahnya, baik nafsu syahwat atau ghodobiyah yang Allah anugerahkan sebagai nikmat besar dalam tubuh ini.

Nah maka kita masing-masing introspeksi kepada diri kita semua bahwa Maulid, ini sebetulnya sebuah media propaganda untuk memperkenalkan akhlak Rasulullah saw yang kita perlukan, yang dalam isyarohnya bahwasanya Nabi,saw meminta dicintai lebih daripada cinta kepada diri, yang maksudnya karena sifat baik yang ada dalam tubuh ini merupakan sifat bawaan dan cintanya kepada diri, sebagaimana dalam Al Qur’an dikatakan betapa manusia itu mencintai dirinya ‘li hubbil khairy lasyadid’, maka selama hidup harus berjuang melaksanakan agama karena Lillaah, agar bisa membawa amanah ini sampai kepada Allah SWT. Jadi sebetulnya tujuan daripada hidup ini adalah untuk liya'budun aliyarifun yaitu untuk mendapat akhlak sayyidina Muhammad,saw dan dengan agama ini kita dapat berakhlak kasbiyah, pada gilirannya ketika sudah ada akhlak kasbiyah, kita melaksanakan agama dengan akhlak itu dan itulah yang dikatakan menjadi Muhammad,saw.

Wallahualam bisawab semoga ada manfaatnya.

Minggu, 31 Mei 2020

MAKNA DIBALIK BENTUK

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
eSHa 31/5/20

Wahyu atau Kitab-kitab Samawi diturunkan bertujuan untuk mendidik (tarbiyah) ruhani agar berfungsi sesuai dengan perannya. Ruh manusia dicipta langsung oleh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka sifat ruh itu penuh dengan segala kebaikan, tumpah ruah sifat-sifat yang mahmudah, katakan ‘serupa’ dengan pencipta-Nya. Karena ‘serupa’ maka ruh mengenal dan akrab dengan-Nya. Begitu Dia meniupkan ruh ini kedalam jasad manusia, sontak ruh itu terbungkus oleh kegelapan dunia, oleh karat-karat bekas nafsu dan bekas taat, dan pada akhirnya ruhani manusia terpenjara oleh nafsunya. Untuk menggali permata ruh ini, harus dimulai dari luar atau dari jasad atau jasmani yang tentunya menggunakan akal, maka perintah dan larangan-Nya dilakukan menggunakan akal terlebih dahulu, tanpa akal meskipun berwujud manusia tetapi sesungguhnya ia binatang. Oleh sebab itu, Kitab-kitab Samawi, khususnya Al Qur’an adalah sebuah kitab yang tidak hanya memerlukan akal pikiran untuk memahaminya tetapi juga terutama menggunakan ruhani. Maka sangat penting bahwa akal ini harus selalu diberi asupan pengetahuan tentang Tuhan secara terus menerus, bisa dari membaca kitab-kitab karya para AuliaAllah yang mudah ditemukan di toko buku, atau mendengarkan tausyiah dari para murobbi. Fungsi akal adalah bagaimana kita melakukan penalaran, melakukan proses pemahaman, memandang dan mengkritisi segala sesuatu. Sedangkan fungsi ruhani adalah untuk musyahadah atau menyaksikan Allah (syuhud). Kalau kita tidak menyaksikan Allah (syuhud) berarti ruh yang kita miliki itu sebenarnya dalam posisi nganggur, jadi kalau akal itu mengajarkan nalar, bersikap kritis dan ketajaman untuk membaca segala sesuatu, sementara ruh itu memiliki potensi untuk merasakan Allah (dzauq), untuk menyaksikan Allah (syuhud) sehingga akan menimbulkan kesan (wijdaan). Menyaksikan Allah itu bermula dari melihat makna dibalik segala peristiwa atau segala wujud, mata jasmani hanya mampu melihat warna, rupa dan bentuk, tetapi bashirah atau mata batin itu mampu melihat makna dibalik segala sesuatu. Nah, apakah makna segala sesuatu? Makna segala sesuatu adalah Allah, Allah lah yang berada di balik segala warna, rupa dan bentuk itu. Maka jika kita melihat warna, rupa dan bentuk lebih ‘tampak dominan' dibandingkan dengan makna, berarti masih minim penggunaan ruh kita untuk merasakan dan menyaksikan Allah. Padahal disetiap mendengar azan dan mendirikan sholat kita ini bersyahadat, bersyahadat (syuhud) itu sebenarnya kita bersaksi atau menyaksikan makna atau pelaku dibalik segala sesuatu itu yakni Allah, tetapi faktanya kita tidak melihat Allah, sehingga syahadat kita itu baru merupakan formalitas dan tidak betul-betul atau tidak mengantarkan kita untuk menyaksikan Allah lebih nyata dibandingkan makhluk-makhluk-Nya. Padahal syahadat adalah rukun Islam yang pertama, artinya tanpanya bentuk peribadatan yang lain tidak ada makna. Nabiyullah Adam,as, mendapatkan ampunan-Nya lantaran bersaksi dengan syahadat ini. Jadi hal ini sesungguhnya merupakan tuntutan spritual bagi kita, bagaimana syahadat itu ‘nyata’ bukan syahadat yang formal yang hafal di luar kepala yang dengan mudah kita ucapkan dengan lisan tanpa makna. Artinya, kita membaca syahadat belum mengalami syahadat, sebagaimana mengucapkan takbir belum menyaksikan Akbarnya Allah SWT. Inilah sebuah cakrawala rohani di mana kita mesti melampaui segala sesuatu dengan selalu memohon bimbingan-Nya agar ruh kita tercahayai kembali oleh Sinar Keagungan-Nya.

Tanda manusia hidup salah satunya adalah bernafas, karena sejak dini manusia itu bernafas, maka nafas dianggap biasa dan sepele, padahal nafas ini menjadi bermakna agung bagi para sufi, bagi orang-orang yang merasakan Allah. Karena sebenarnya pada setiap tarikan nafas yang masuk dan hembusan nafas yang keluar terjadi takdir Allah untuk kita, realisasi dari qodho, atau konsep-Nya yang keluar dari Ilmu-Nya atau sifat-sifat-Nya dizaman azali yang disebut qadar atau Perbuatan-Nya. Jika Allah ta'ala itu merealisasikan takdirnya, bukankah sesungguhnya takdir itu bersentuhan dengan diri kita secara terus menerus dan ketika takdir itu bersentuhan dengan diri kita, bukankah seharusnya kita merasakan-Nya? Bagaimana dengan kedipan mata, pendengaran telinga, setiap gerakan anggota badan dan detak jantung? Itu semua sebenarnya adalah momen dimana Allah menyentuh kita dengan takdir-Nya, tapi merasakah kita? Nah ini yang jadi persoalan, sehingga kemudian Allah itu dirasa ghaib, dirasa jauh, dirasa berada di antah berantah entah di mana, berarti belum connect (wushul) antara Allah yang menggerakkan takdir-Nya dengan diri kita, belum online, sehingga kita tidak merasakan Mahadekatnya Allah, tidak merasakan sesungguhnya Allah sedang mengoperasikan takdir-Nya untuk diri kita, nah rasa ini sebenarnya yang perlu kita asah, meskipun kita meyakini bahwa rasa (musyahadah atau ma’rifat) adalah hak Allah untuk memberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa sebab, namun para syaikh sufi mengajarkan kepada kita untuk selalu berbaik sangka dan berupaya atau melatih merasakannya dengan selalu berdoa memohon kepada-Nya : ‘Ilaahi anta maqsudi, waridhoka matlubi, a’tini mahabbataka wa ma’rifataka, ya Arhamar Rohimiin.’

Memangnya siapa yang mengatur setiap tarikan dan hembusan nafas, siapa yang membuka dan menutup mata dan siapa yang membuat kita mampu mengeluarkan kotoran atas makanan dan minuman yang kita konsumsi? Bila tidak, sebesar apa kita? Sesungguhnya Allah sedang memanjakan, menina bobokan dan mengurusi kita dengan penuh Kasih dan Sayang, namun kita tidak merasakannya atau tidak merasa diurus, sungguh ironis. Padahal kualitas peribadatan terletak pada praktek yang benar terhadap syariat dan yang utama adalah terletak pada sebuah rasa (musyahadah). Misalnya kita mengucap dan menulis buah ‘kurma’ tetapi kita tidak merasakannya, sama saja dengan hampa, apa artinya mengucap dzikir laa ilaaha illallaah tetapi ketunggalan-Nya tak kunjung dirasakan malah sibuk merasakan yang lain, nah kearah ini mestinya kita memproses rohani diri, biar tidak hampa, hampa dari kenikmatan yang Haqiqi, hampa dari kenikmatan yang sesungguhnya. Maka orang yang sudah merasakan Allah, itu merasakan kenikmatan luar biasa. Misalnya begini, kita sedang membaca perkara Allah mengelola kita, cobalah Jangan hanya dipahami tetapi diproses dirasa itu sendiri, kalau hati kita bersih, kalau fokus hidup kita Allah, kita akan bisa dianugerahi kemampuan oleh Allah ta'ala untuk bisa merasakan apa yang dipahami, sehingga apa yang dibaca dan dengarkan dapat dirasakan, sebab rasa yang seperti ini tidak bergantung kepada lidah jasmani, melainkan lidah ruhani, karena lidah ruhani itu memiliki kepekaan dan kecepatan yang luar biasa, berlipat-lipat kekuatannya dibandingkan dengan lidah jasmani. JIka kita ambil kue nastar lalu kita konsumsi maka lidah kita akan langsung merasakannya, maka lidah rohani kita pun mempunyai potensi untuk dapat merasakan secara langsung terhadap sesuatu yang kita baca, dengar dan pahami, tentu saja bagi rohani yang sudah terlatih untuk itu. Oleh karenanya kita perlu menyadari betapa bebalnya hati kita ini, ternyata apa-apa yang kita ketahui itu tak kunjung kita rasakan. Kita bisa bayangkan ibadah kita yang berupa shalat, puasa, zakat, haji dan dzikir, shalawat dan semacamnya yang sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tanpa dapat merasakan ke-Maha-an Allah? Jadi untuk apa? Oleh karenanya kita harus medidik diri sehingga merasakan Allah itu betul-betul terealisir, ini yang harus serius dan fokus kesana, inilah tasawuf.

Sesungguhnya secara spiritual kita mewarisi rohaninya Nabi Adam,as, karena kita keturunannya, dan ruhani Nabi Adam,as, itu tak lain adalah bagian dari Nur Muhammad,saw, maka rebut kembali rohani kakek moyang kita itu, maka kita akan merasakan keilahiyan itu mengepung keseluruhan hidup kita. Jadi tidak ada satu pun yang berlalu pada diri kita, baik hembusan nafas keluar maupun tarikan nafas kecuali takdir Allah berlangsung pada diri kita. Oleh karenanya jika ihsan itu : ‘Anta'budallah ka annaka taraah, fa'illam takun taraah, fa'innahu yaraak, engkau bribadah seolah-olah melihat-Nya, dan jika tidak bisa maka Dia melihatmu.’ Maka sebagai tanda laku sopan dan berterima kasih atau syukur kepada Allah kita barengi nafas dengan berdzikir, katakan dalam hati ‘Hu’ saat tarikan nafas dan ‘Allah’ saat hembusan nafas, lakukan terus menerus, jika lupa lalu Allah memberi ingatan, segera berdoa terlebih dahulu sebelum melakukannya : ‘‘Ilaahi anta maqsudi, waridhoka matlubi, a’tini mahabbataka wa ma’rifataka, ya Arhamar Rohimiin.’ Hal ini sebenarnya merupakan latihan yang ampuh untuk merasakan Allah ta'ala, meskipun ketika nafas keluar atau masuk kita sedang berbahagia atau mungkin sedang menderita atau mungkin sedang mendapatkan kenikmatan atau mungkin sedang mendapatkan kepedihan dan lain semacamnya, yang jelas tidak ada satupun nafas keluar atau masuk yang Allah tidak menyentuh diri kita dengan takdir-Nya. Demikian pula juga dengan fenomena dan berlangsungnya alam semesta ini, senantiasa tersentuh oleh ke-Maha-an Allah, jadi Allah itu menyentuh diri kita, menyentuh alam semesta dan Allah tak pernah nganggur dan tidak ada apapun yang tak tersentuh oleh-Nya, nah ini yang perlu kita pertajam, kita asah batin kita agar menjadi sensitif secara spritual. Hadrat Maulana Rumi,qs, berkata : ‘Wahai kawan, engkau bilang engkau didera oleh dahaga, dicekik oleh rasa haus, sesungguhnya di sekitar dirimu bahkan pada dirimu ada air terjun melimpah ruah, bagaimana kau bilang bahwa itu dahaga?’ Dan para sufi berkata : ‘Coba tunjukkan kepadaku di mana atau apa yang bukan Allah.’

Semoga bermanfaat, Wallahualam bisawab.

Jumat, 29 Mei 2020

TAU - PAHAM - RASA ALLAH

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
eSHa 29/5/2020

Didalam kehidupan ini banyak orang yang membiarkan diri tidak menempuh proses untuk merasakan keberadaan Allah, ini disebut dengan tidak melakukan perjalanan (thariq atau thariqoh). Manusia mesti melakukan perjalanan rohani dari tidak merasakan dan tidak menyaksikan Allah menuju kepada merasa dan menyaksikan-Nya. Wahyu diturunkan untuk mendidik ruhani manusia agar mengenal-Nya. Oleh karena-nya jika tidak melakukan perjalanan di samudra rohani ini, maka sama artinya dengan tidak peduli dengan Wahyu Tuhan dan pasti disetiap saat akan fokus kepada sesuatu yang baru, artinya akan tertarik kepada sesuatu yang menyenangkan jiwa, berpindah dari kesenangan yang satu menuju kepada kesenangan yang lain dan tak kunjung tertarik kepada Allah Ta'ala, yang penting bagi orang seperti itu adalah mempunyai mainan baru. Kuota hidupnya hanya dipakai untuk games, whaatsup, facebook dan instagram, lama-kelamaan kuota hidupnya akan habis tanpa mengenal Allah tempat manusia kembali, jika tidak dimulai dari sekarang melakukan perjalanan rohani lalu kapan? Mau kemana manusia setelah mati?

Jika ma’rifat atau mengenal Allah itu adalah penyaksian (syuhud) atau perasaan (dzauq) dan diikuti oleh kesan (wijdaan), maka akal tidak akan mampu melakukannya, karena perasaan dan penyaksian serta kesan ada pada ruhani bukan jasmani. Meskipun demikian para murobbi atau orang yang dekat dengan Allah mengatakan bahwa pintu utama untuk ma’rifat adalah akal melalui pengetahuan dan pemahaman tentang Allah, khususnya tentang sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Oleh sebab itu Imam Asy’ari (873-935H) membuat pendekatan yang memudahkan akal guna mengenal Allah, yang dikenal sebagai sifat 20 yang terdiri dari 1 sifat Dzat yaitu wujud (Ada), 5 sifat salbiyah, 7 sifat ma’ani dan 7 sifat ma’nawiyah. Yang pertama adalah sifat Wujud (Ada) atau katakan Mutlak lawan daripada Wujud adalah Adam (tiada) atau nisbi. Artinya selain Wujud Allah itu tidak ada (adam) atau nisbi, menjadi ada karena diadakan oleh yang Ada. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin satu tindakan itu bisa terpisah dari yang bertindak dan bagaimana mungkin satu perbuatan itu terpisahkan dari orang yang berbuat, ini mesti merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Bagaimana mungkin angin itu dipisahkan dari hembusannya, bagaimana mungkin langit dipisahkan dari warna birunya dan lain semacamnya, hal ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya, kita ini hasil dari kreasi Allah ta'ala, lalu bagaimana mungkin kita bisa terpisah dari Allah? Ombak Itu tidak mungkin berpisah dari lautan, meskipun ombak bukan lautan, maka kita ini bukan Tuhan tapi bagaimana mungkin kita terpisah dari Tuhan? Kita ini bukanlah apa-apa kecuali hasil dari kreasi Tuhan itu sendiri. Nah dengan demikian merasakan adanya kedekatan dengan Tuhan adalah melalui pintu pengetahuan dan pemahaman yang seperti ini. Meskipun ‘tau’ itu sangat jauh jaraknya dengan ‘rasa’, seolah-olah ada dinding pembatas sebesar alam semesta ini, karena Allah hanya bisa dikenal melalui pengetahuan (ilm) bukan dengan kebodohan (jahl). Jadi sebenarnya kita itu tidak pernah jauh dari Allah dan Allah tidak pernah jauh dari kita, namun kita tidak merasakannya. Persis ketika Maulana Rumi,qs, mengatakan bahwa ada ikan-ikan dilaut mencari pemimpinnya untuk mengantarkannya ke lautan.

Mungkinkah ada sesuatu yang bersemayam di luar wujud Allah? tidak mungkin, ini tidak bisa dibayangkan ada sesuatu yang tak tercakup oleh Allah, tidak mungkin ada, kalau ada sesuatu yang tidak tercakup oleh Allah berarti ada sesuatu yang lebih luas dibandingkan dengan Allah dan itu mustahil. Lebih tegas lagi, mungkinkah ada makhluk yang betul-betul bisa menciptakan dirinya sendiri? Inipun tidak mungkin, berarti keberadaan segala sesuatu itu pastilah Allah asal-usulnya, keberadaan segala sesuatu secara hakikat pastilah Allah Wujud-Nya. Nah disini letak pemahamannya, tinggal kita berikhtiar untuk bisa merasakannya, jadi ketika kita mengucap Allah Allah Allah usahakan adanya pemahaman bahwa Allah meliputi segala sesuatu, karena tidak ada apapun yang tidak diliputi oleh Allah, dan getarkan ke batin kita, setelah itu bersungguh-sungguhlah untuk bisa merasakan bahwa Allah itu meliputi segala sesuatu dan Allah lebih mengerti segala sesuatu ketimbang segala sesuatu itu tentang dirinya sendiri, Allah Allah Allah tidak ada sesuatupun yang tidak tersentuh oleh hadirat-Nya, ini kita kembangkan dari pemahaman akal menuju kepada kekuatan rasa, tentu saja karena segala diri kita diliputi oleh Allah, maka pemahaman kita pun pasti diliputi-Nya, sebagaimana rasa yang ada dalam diri kita pun pasti diliputi-Nya jua, dari mana lagi kalau tidak dari Hadirat-Nya, Allah berfirman : "Subhanaka, la ilma lana illa ma alamtana, innaka Antal Alimul Hakim" [QS 2:32] "Mahasuci Engkau, kami tidak mengetahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Mahatahu dan Maha Bijaksana." Maka setiap saat Allah menjadi Maha Guru atau Pendidik rohani bagi makhluk makhluk-Nya, untuk mengenal-Nya (ma’rifat).

Analoginya sudah sering kita dengar dalam istilah cermin, dikatakan semakin bersih cerminnya semakin bersih memantulkan secara penuh yang bercermin, sehingga yang bercermin melihat dirinya sendiri melalui cermin, seolah berhadap-hadapan, mana mungkin yang didalam cermin bergerak tanpa yang diluar cermin bergerak? Tidak mungkin dan mustahil. Adanya berhadap-hadapan dengan Allah itu juga mengandung pemahaman bahwa sebenarnya betulkah yang nisbi itu bisa berhadap-hadapan dengan yang Mutlak? Ini sesungguhnya menyimpan pesan kepada kita bahwa tidaklah yang nisbi itu berhadap-hadapan dengan yang Mutlak, kecuali jika yang nisbi itu diperankan sendiri oleh yang Mutlak, sehingga yang nisbi itu berkata : ‘Ya Allah akukah yang menghadapkan diriku kepada-Mu atau Engkau menghadap diri-Mu sendiri? Para syaikh sufi sering mengatakan : ‘Al abid wal ma’bud wahidun, yang menyembah dan yang disembah satu hakikatnya.’ Sebab tanpa peran Allah kepada sihamba itu, bagaimana mungkin bisa berhadap-hadapan, yang nisbi bisa ketemu yang Mutlak? Tidak mungkin, tidak masuk akal, kecuali yang nisbi ini diperangkan oleh yang Mutlak, maka yang terjadi adalah sesungguhnya yang Mutlak ini berhadap-hadapan dengan diri-Nya lewat sosok yang nisbi ini. Rasulullah saw bersabda : ’Ya Allah, sungguh aku tak sanggup untuk memujimu sebagaimana semestinya engkau dipuji,’ maksudnya mana mungkin yang tiada memuji yang Ada, yang nisbi memuji yang Mutlak? Kecuali yang Mutalk memuji diri-Nya sendiri lewat perantara yang nisbi. Maka kenisbiannya itu disingkirkan dike-Maha-an Allah ta'ala dan dalam konteks seperti ini Al Hallaj,qs, mengatakan ‘Ana Al Haqq, aku adalah Tuhan Yang Maha Benar’, hilang dimensi kenisbian Al Hallaj,qs, dan digantikan oleh kehadiran-Nya. Bertitik tolak dari ini, maka setiap melakukan aktivitas apapun dan tidak terkecuali dzikir adalah hanya Allah bukan yang lain, sehingga dzikir yang dilakukan oleh jasmani lama-kelamaan dilakukan oleh ruhani dan pada akhirnya akan merasakan bahwa pendzikir dan yang didzikiri adalah satu persis serperti cermin tadi.

Oleh karenanya, jikalau ada perasaan terpisah dalam diri kita dengan Allah, perasaan itu yang perlu diperbaiki, kalau kita merasakan bahwa kita terasing dari Allah, perasaan itu yang perlu kita luruskan, tidak ada apapun terasing di hadapan hadirat-Nya, kita ini bukan siapa-siapa selain realisasi dari kehendak-Nya, bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, selain bukti dari ke-Maha-an-Nya dan bukti itu tidak mungkin terpisah dari yang membuktikan. Imam Ibnu Arabi,qs, mempertegas lagi, berarti tidak ada rahmat Allah yang keluar dari Allah, yang betul-betul keluar itu tidak ada, seluruh Rahmat Allah ternyata dalam ruang lingkup Allah itu sendiri, tapi yang disebut ruang lingkup itu tidak terbatas, kalau ruang lingkup berkaitan dengan sebuah desa dengan pedesaan itu ada garis batasnya ada garis tepinya, tapi kalau kata-kata ruang lingkup itu disandarkan kepada Allah, itu tidak ada batasnya, tidak ada garis tepinya, ke-Maha luasan-Nya tak terkira-kira, seolah-olah kita ini berenang-renang di Samudera Raya ke-ilahiyan yang tak bertepi. Bagaimana Wujud tidak tunggal, segala-galanya itu dilingkupi oleh Allah dan lingkup Allah tak bertepi adanya. Sentuhlah segala sesuatu, pasti sesungguhnya secara hakikat kita menyentuh Allah. Segala sesuatu pada diri kita ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa kecuali Allah semata-mata. Jadi tidak mungkin sebuah ciptaan itu, itu terpisah dari pencipta-Nya, maka olah rasa itu wajib terus-menerus dilakukan, terutama olah rasa dalam kaitannya dengan adanya ‘Penyatuan dengan Allah’. Kita bukan Allah, tapi bisakah kita selain Allah? Tidak bisa, kalau kita selain Allah, terus apa iya kita berada di luar Allah, makin tidak mungkin. Jadi orang-orang terpilih itu kekuatan rasa keilahiyannya sungguh hebat, itu yang membedakan dengan kita, sama-sama dilingkupi oleh Allah tetapi mereka itu merasa terus menerus dalam kebersamaan dengan-Nya, sementara kita merasa terasing dari Allah, seolah-olah Allah itu berada di keghaiban-Nya dan kita tidak menyentuh ini, sehingga doa-doa seringkali terpanjat dalam keadaan kosong, dzikir-dzikir terucap dilisan kosong, seolah-olah Allah berada diantara antah berantah yang tak tersentuh oleh aktivitas ibadah kita. Apa mungkin ada setitik wujud yang betul-betul berada di luar ke Maha Wujudan Allah? tidak mungkin ada. Jadi kemana kita akan mencari Allah, jangan ke mana-mana, di mana kita berada di situ kita sesungguhnya berada pada kebersamaan dengan Allah, jangan membayangkan mencari kemana, karena Allah itu sesungguhnya meliputi segala sesuatu, tidak ada satupun partikel, tidak ada satupun entitas yang di situ kosong dari kehadiran Allah. Pertaruhan kita itu dikeyakinan dan rasa, jangan kosong, dan itu fokuskan pertama-tama lewat dzikir, bila tak kunjung merasakan, terus dzikir, atau apa saja yang kita baca, baca Alquran, bacaan sholawat dan wiridan dan apa saja untuk bisa mempertajam dan menghaluskan hati kita, lama-lama akan masuk ke dalam luasnya renungan, terus belajar merasakan kebersamaan dengan Allah dengan diri kita tanpa jeda, di mana-mana kita sesungguhnya senantiasa berada dalam Allah itu sendiri dan kita ditimang-timang dari waktu ke waktu, dimanjakan dari hari ke hari, terus dikirim kepada kita adanya karunia-karunia itu, dan tidak perlu jauh-jauh Allah mengirimnya karena kita juga berada di dalam hadirat-Nya itu sendiri, apa yang tidak mungkin sangat mungkin Tuhan kita Maha segala-galanya. Jadi kalau begitu akhirat bukan di mana-mana kecuali di sini juga, dan kita yang masih hidup di manakah kematian, tidak di mana-mana di sini juga, sebab apa yang disebut di mana yang kesannya jauh, itu sebenarnya tetap saja berada dalam ruang lingkup Allah ta'ala itu sendiri.

Semoga bermanfaat Wallahualam bisawab.

Rabu, 01 April 2020

TAUHID - CINTA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allah berfirman : “Wallāhu khalaqakum wa mā ta'malụn, Allah yang menciptakan kamu dan amalmu sekalian.” (036:96)

Jika menelaah ayat Al Qur’an diatas, maka kita akan memahami bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah, baik diri kita ataupun perbuatan kita, tetapi mengapa hati kita menolaknya, bagaimana dengan upaya kita?

Salah satu sifat Allah adalah wujud (ada) lawan dari pada wujud adalah adam (tiada). Maksudnya yang ada hanyalah Allah dan selain-Nya tidak ada. Sehingga hakikatnya kita ini tidak ada! Menjadi ada karena di adakan oleh Allah, baik jasmani maupun rohani dan perbuatan kita. Allah yang membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya, sehingga bisa dikatakan bahwa wujud itu adalah cahaya (nur) dan ciptaan ini kegelapan (dzulumat), atau bisa juga dikatakan bahwa cahaya itu baik dan kegelapan itu buruk. Sehingga apa-apa yang keluar dari Allah adalah kebaikan, karena ditanganyalah segala kebaikan dan sebaliknya apa-apa yang keluar dari manusia adalah keburukan karena hakikatnya tidak ada atau ilusi (wahm).

Artinya, barang siapa mengaku-ngaku bahwa segala kebaikan yang keluar dari dirinya, seperti sholat, puasa, zakat, haji, berdakwah, shodaqoh, dan lain sebagainya, di akui sebagai perbuatan dirinya maka ini buruk, ini salah, ini dosa, sebailknya bila menyaksikan bahwa perbuatan itu semua adalah shuroh atau bentuk atau jelmaan sifat-sifat Allah yang indah (Jamalulloh) yang ditampakkan kepada manusia, itu adalah yang benar, itulah yang dimaksud dengan syuhud atau ma’rifat atau mahabbah. Kita bisa membayangkan saat bercermin, semua gerak dan gerik yang ada didalam cermin adalah serupa dengan kehendak kita yang diluar cermin. Sehingga bisa dikatakan bahwa kita seperti yang ada didalam cermin, tetapi yang didalam cermin bukan kita, tetapi bukan selain kita. Masalahnya timbul, manakala yang didalam cermin ‘mengaku’ dia yang diluar cermin, itulah kebanyakan manusia. Karena Allah menciptakan manusia sesuai dengan citra-Nya, yaitu ada Dzat, Sifat, Perbuatan (af’al) dan Ciptaan (intial), sehingga manusia seolah-olah berlaku seperti Tuhan dapat menciptakan upaya dan perbuatan atau dapat membuat amal dan kebaikan lainnya.

Imam Arsalan,qs, mengatakan : “Inji’ta bila anta khobilak, wa in’jita bika hajabak, Jika engkau datang kepada Allah tanpa dirimu, maka Allah akan menerimamu, dan jika engkau datang kepada-Nya dengan dirimu, maka Dia akan menghijabmu.” Maka jika apa yang dilakukan itu semata-mata anugerah dari Allah, pemberian dari Allah, bukan persembahan kepada Allah, sehingga dapat melakukan ibadah, maka Allah akan menerima, tetapi jika datang dengan merasa bahwa itu amal, maka Allah hijab dengan amal itu. Maka awal pendidikan jiwa dalam berjalan kepada Allah adalah bukan dengan amal melainkan dengan kepasrahan. Maka setinggi-tinggi akhlak kepada Allah adalah syukur, sehingga seluruh amal itu adalah sebagai syukur. Perintah beramal adalah sebagai tanda syukur dan tanda syukur itu adalah syukur kepada sifat syukur yang diberi oleh Allah. Berinteraksi dengan Allah adalah dengan hakikat bukan dengan syariat, sedangkan berinteraksi dengan manusia mesti dengan syariat, jika manusia jahirnya baik jangan dipikirkan batinnya, karena batinnya Allah yang menangani. Tetapi jika kepada Allah maka bukan menghitung banyaknya perbuatan baik, tetapi banyaknya syuhud atau ma’rifat tadi. Diantara syuhud dan ma’rifat adalah menyaksikan bahwa amal yang dilakukan itu dari Allah bukan dari diri. Karena hijab yang paling besar untuk dapat menuju Allah adalah diri.

Sebetulnya amal itu apa? Amal itu hanyalah sebuah shurah (bentuk) atau jelmaan daripada sifat yang ada dalam batin manusia, atau karakter, jadi jika manusia tidak ada sifat-sifat tertentu, maka tidak ada amal tertentu pula. Seperti ubudiyah, itu adalah sifat hamba, jika tidak punya sifat hamba, maka tidak akan ada ibadah. Seperti jika kita tidak punya sifat cinta kasih, bagaimana ada shuroh (bentuk) atau jelmaan cinta kasih yang berupa amal. Jika dipaksakan berbuat ‘amal’, maka bukan keluar dari sifat cinta kasih itu dan tidak bisa dikatakan amal melainkan maslahah, contoh maslahah seperti anak kecil yang berbuat baik kepada ayahnya bertujuan untuk minta uang, atau seorang istri bila ingin sesuatu ia banyak memuji suaminya, inilah maslahah. Mentalitas yang seperti ini yang digunakan oleh kebanyakan orang dalam menghadap kepada Allah, oleh karenanya sebagian syaikh sufi mengatakan bahwa hendaklah seseorang itu mempunyai cinta yang jujur dan setia, karena cinta itu seperti sinar, sinar itu akan bercahaya, bercahaya maknanya memberi atau cinta yang jujur (siddiq) dan setia (wafa). Sinar mengeluarkan cahaya maknanya siddiq dan cahaya itu wafa kepada sinar itu. Tetapi orang karena banyaknya kepalsuan maka perlu sifat cinta, kalau tanpa cinta tak dapat menuju kepada Allah, memang hanya karena cinta. Maka dikatan didalam al Qur’an dan al Hadits selalu mengenai pemeliharaan atau pemberian anugerah, akhlak, kemuliaan, keluhuran, kemenangan, atau selalu menggunakan kata Rahmat ini adalah kata lain dari cinta. Jadi orang mesti punya sifat cinta meskipun diawali cinta kepada dunia dan syahwat.

Imam Ibnu Farid,qs, dia bukan seorang ulama besar dia hanya seorang penyair, cintanya kepada perempuan menutup semuanya, begitu setia dan jujur, suatu hari berjanji untuk bertemu di Mekah, ternyata perempuannya tak datang, dia demam sakit memanggil-manggil nama wanita itu tetapi tetap tidak berjumpa, dia mengalami kekecewaan yang luar biasa, karena dia sangat setia (wafa) dan jujur (siddiq). Sifat cintanya yang demikian mengantarnya menjadi cinta kepada Allah, sehingga karya-karyanya yang bercorak cinta banyak disyarahkan oleh sufi terkemudian. Kisah lain, ada seorang yang dikenal sholeh yang punya kesetiaan dan kesidikan dalam Ibadah dan mahabbah kepada Allah, sehingga dikenal sebagai seorang waliyullah yang sangat sholeh, abid, zahid tapi kemudian ia melihat wanita pelacur, dia tertarik dan jatuh cinta dan dia datang kepada perempuan itu, mengatakan cinta, membuat wanita itu terkejut, bagaimana seorang Syekh yang hari-harinya diisi dengan ibadah, tiba-tiba datang kepada perempuan pelacur. Orang-orang menertawakannya, tetapi wanita itu menerimanya, dan sang waliyullah berkhidmat kepada perempuan itu, sehingga perempuan itu tidak boleh berbuat sesuatu melainkan dilayani olehnya, perempuan itu menyaksikan kejujuran, kesungguhan dan kesetiaan yang luar biasa dari lelaki ini. Melihat keindahan akhlak yang begitu mengharukan dan tanpa dibuat-buat, membuat wanita itu berpikir, patutlah dia sebelum ini dikenal sebagai orang yang ahli ibadah dan sholeh, ternyata bukan karena yang lain melainkan karena karakter yang ada dalam hatinya itu, yaitu karakter cinta yang sidik dan wafa. Hal ini membuat wanita ini beratubat, karena selama ini dia hanya cinta kepada dunia dan hawa, yang tidak dapat membahagiakan malah mengecewakan, akhirnya dia kembali kepada Allah, perempuan itu berkata : ‘Kedatanganmu telah membuat ilham turun kepadaku bahwa sesuatu itu mesti jujur dan setia, dan kejujuran dan kesetian itu hanya kepada Tuhan.’ Akhirnya orang sholeh itu pun sadar juga atas kesalahan yang dia buat dan kembali kepada Allah. Jauh sebelum riwayat itu ada kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf,as, sampai tua dan buta matanya serta rela dibuang dari istri seorang menteri menjadi hidup terlunta-lunta dijalanan. Kesehariannya hanya memanggil-manggil nama ‘Yusuf, Yusuf, Yusuf’. Nabi Yusuf,as pun telah menjadi menteri, bahkan jika beliau melewati jalan beberapa puluh meter dari Zulaikha, sudah tercium baunya, ‘Yusuf datang, cintaku datang’. Sehingga kabar itu sampailah kepada Nabi Yusuf,as dan beliau minta izin kepada raja dan istrinya untuk menikahi Zulaikha, maka raja dan istrinya mengizinkan untuk menikah. Zulaikha dibawa mendekat dan ditutup oleh sorban Nabi Yusuf,as, seketika ia kembali muda seperti pertama berjumpa kepada Nabi Yusuf,as. Maka dia memandang Nabi Yusuf,as, dan terkejut karena sudah dapat melihat dan kecantikan telah kembali. Maka disuruhnya ia bersolek agar bersiap-siap untuk akad nikah, tetapi didalam kamar saat di hias, kesadaran memasuki hatinya bahwa : ‘Rupanya ini penyebab Nabi Yusuf,as, tidak ingin dirinya, tidak ingin dunia, tidak ingin harta, dia jujur dan setia kepada Rabbnya.’ Zulaikha baru mengerti bahwa Tuhannya Yusuf yang menyembuhkannya, ternyata Dialah yang disetiai dan ditakuti serta dicintai oleh Yusuf selama ini, kata Zulaikha, akhirnya Zulaikha bersujud terus menerus sambil menangis dan bermunajat kepada Tuhannya Yusuf, dilain pihak Yusuf sudah siap untuk acara pernikahan, tetapi Zulaikha menolaknya dan berkata : ‘Aku baru tahu kepada siapa engkau mencintai, rupanya engkau hanya mencintai Tuhanmu, sekarang aku pun mencintai Tuhanmu dan aku tidak perlu lagi kepada engkau.’ Melihat riwayat-riwayat yang shohih diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sifat cinta dan mental setia dan jujur itulah kuncinya, bukan sifat mengaku-ngaku, meskipun diawali kepada apapun, itu adalah karakter dan mental yang inheren didalam hati manusia. Jangan dikira bila orang beribadah kepada Allah tetapi tidak jujur dan tidak setia, dapat jujur dan setia kepada yang lain, itu mustahil. Maka orang-orang yang jujur dan setia itu meskipun kafir, dia akan mudah mendapat Ilham kepada agama ini untuk sampai kepada Allah.

Adapun shalat, puasa dan zakat, dzikir yang kita lakukan adalah karena rutinitas sejak kecil, tetapi tanpa mengenal Allah. Maka bila orang belajar agama pun semata-mata hanya ingin disebut sholeh, arif, alim, atau ingin disebut tuan guru, singkatnya ingin dihormati di dunia ini, maka jika ia dihina, spontan akan marah, ilmunya tidak menjadikan hamba, tidak wafa, tidak shiddiq, masih mengaku ‘ada’. Orang arif mengatakan bahwa barang siapa yang mencintai sesuatu maka dia hamba sesuatu itu. Jadilah dari kalangan orang yang mendapat anugerah, jadilah orang yang dari kalangan ‘minah’, artinya ibadah ini pemberian dari Allah, jadi tidak menghitung amal tetapi menghitung Allah. Jika mendapat harta lantas bersyukur kepada yang memberi bukan pemberian-Nya. Maka amal yang keluar dari kita semuanya adalah cerminan sifat, asma dan af’al Allah untuk menunjukkan bahwa keberadaan ‘ada’ itu hanya Allah, jika demikian maka selamanya ‘minah’ itu hamba, sebetulnya itu hakikat hamba sepenuhnya. Jangan menghitung amal, maka janganlah menjadi orang yang ahli amal, tetapi cinta (mahabbah). Sekali lagi bahwa amal itu tidak berdiri sendiri, amal itu datang dari rohani dari sifat. Jika kita mengenal Allah, maka tidak akan goncang dan akan tentram, tapi jika kita bodoh (jahl) kepada Allah, maka tidak akan tentram. Sesungguhnya yang dikehendaki-Nya, bahwa hanya Dialah yang ada, bukan kita yang ‘ada’, jadi ini adalah tingkat kesadaran yang sangat tinggi, karena kita selalu mengembalikan semua itu kepada Allah setiap saat, sebagaimana sebelumnya kita pun setiap saat menyaksikan kita ‘ada’, mengaku ‘ada’ tetapi kemudian dengan anugerah-Nya kita selalu berupaya menyaksikan dan mengakui bahwa semuanya dari Allah dan hanya Allah, dan senantiasa seperti itu, itulah ibadah yang Agung.

Semoga bermanfaat wallahualam bisawab.


Rabu, 25 Maret 2020

RAJA BINATANG

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Manusia itu terdiri dari tubuh dan ruh, masing-masing mepunyai penasihat, penasihat tubuh adalah nafsu dan penasihat ruh adalah akal. Akal mempunyai keinginan dan begitu pula nafsu. Nafsu, adalah keinginan yang tumbuh dari tubuh ini, maka nafsu adalah diri. Nafsu bukan ciptaan yang terkutuk, melainkan anugerah dari Allah. Yang terkutuk itu syaithon, di dalam Al-Qur’an tidak ada kata nafsu itu terkutuk. Syaithon itu satu sifat yang yang putus asa dari Rahmat Allah, sehingga bila manusia dan jin berputus asa maka sifatnya menjadi syaithon, naudzibillah min dzalik. Hubungan nafsu dan syaithon adalah bahwa nafsu itu pintu bagi syaithon untuk masuk kepada manusia, agar manusia menjadi syaithon. Meskipun demikian nafsu adalah anugerah yang mulia dari Allah, karena nafsu itu identik atau menyatu dengan tubuh, kalau tubuhnya dibuang tinggal ruh, ruh itu sama dengan malaikat yang tidak menginginkan dunia. Kita ingin harta, ingin tahta, ingin wanita, karena tubuh ini, coba dibuka tubuh ini maka jadi malaikat dan tidak menginginkan harta, tahta dan wanita, oleh karenanya jika tubuh ini tidak punya keinginan maka menderita. Ada orang tidak menikah karena tidak punya keinginan, kan menderita, sakit, tak sempurna. Maka pimpinlah tubuh ini dengan akal dan itu namanya manusia, jika tidak, karena tubuh ini bahan ciptaannya adalah alam semesta, tubuh ini diciptakan dari ekstrak semua alam semesta, terutama sifat-sifat yang aktif adalah ekstrak sifat binatang, dan kalau kita tidak ada akal maka kita adalah ‘raja binatang’, karena dalam diri kita ini semua sifat binatang ada, sangat sempurna luar biasa. Jika anjing bertemu kerbau, maka anjing tidak paham dengan kerbau, karena berbeda sifatnya, dan begitu pula sebaliknya, itu sebab binatang itu saling menyakiti saling membunuh, karena tidak punya akal. Sedangkan manusia ‘Alhamdulillah’ semua sifat binatang punya, kerbau, anjing, monyet, kucing, tikus, dan ada pula tikus-tikus politik. Alhamdulillah, maka kita perlu punya akal, karena akal itulah kebijakan dan kebajikan, karena akal itulah Allah membagi syariat. Oleh karena itu manusia disuruh menundukkan nafsu kepada akal, tetapi akal harus di-isi oleh ilmu pengetahuan khususnya ilmu agama, karena kalau tidak, akal tidak akan mampu menampung keinginan tubuh.

Oleh sebab itu, pada permulaannya untuk melawan nafsu adalah akal, akal pada asasnya sebelum mendapat ilmu pengetahuan, adalah sebuah alat untuk mengetahui baik dan buruk, itulah yang disebut manusia, baik muslim atau non-muslim. Dapat dikatakan bahwa akal adalah sebuah neraca untuk mengetahui baik dan buruk, namun jika tidak ada pengetahuan ruhani, maka kebaikan itu hanya bersifat individual, egois, untuk dirinya atau untuk golongannya saja, tetapi jika ada keruhanian dan akal dipimpin olehnya, maka dia memandang kebaikan itu untuk semua alam semesta ini, Itu sebab Nabi,saw, dikatakan sebagai ‘rahmatan lil alamin’, untuk manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta. Maka bisa dikatakan bahwa rohani itulah rahmatan lil alamin, karena Nabi,saw, adalah akhlak, Nabi,saw, adalah kerohanian, Nabi,saw, adalah yang disebut hakikat Muhammadiyah atau Nur Muhammad, adalah sifat keruhanian, maka semuanya akhlak. Oleh karenanya, tundukkan akal kepada ilmu, tundukkan nafsu kepada akal. Paling tidak gunakan akal dengan sebaik-baiknya untuk berpikir positif. Karena orang yang berakal sehat itu sebenarnya bukan hanya mengetahui baik dan buruk saja, melainkan mengetahui akibat dari perbuatan buruk. Banyak orang mengetahui baik dan buruk tetapi tetap saja melakukan keburukan, karena tidak sampai pikirannya kepada akibatnya, itu akalnya tidak sehat meskipun akalnya ada. Karena itu akal wajib diberi masukan pikiran-pikiran yang positif, pikiran yang baik, Ilmu agama khususnya keruhanian agar mampu membimbing dan memimpin nafsunya.

Apabila ilmu agamanya telah memenuhi akalnya lalu mendawamkan dzikir dan mujahadah, maka akan membuahkan gerakan jahir dan juga barokah batin artinya batinnya semakin banyak kebaikan dan semakin membaik akhlaknya. Barokah adalah kebaikan yang bertambah dan banyak, seperti jika kita duduk dengan orang tua, meskipun sebentar tetapi seperti merasakan pengalaman yang banyak, tetapi jika duduknya dengan anak muda, berbicara satu hari pun tidak terasa apa-apa. Aktivitas jahir itu akan memastikan adanya barokah, dimulai dari berpikir yang baik berbicara yang santun dan bertindak yang benar, maka akan banyak kebaikan yang timbul, inisiatif baru, semangat baru, suasana baru. Karena Allah menjadikan antara tubuh dengan rohani ini, ada ikatan ketuhanan dan ada hubungan rohani. Imam Sya'roni,qs, mengatakan bahwa gerakan itu sebagai ibadah, kalau orang melakukan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan berbagi kebaikan, itu mesti memberikan cahaya dalam hatinya, karena jasad dengan ruh ada hubungan rohaniah, artinya apabila bergerak mesti ada sesuatu yang masuk ke dalam hati, Allah berkahkan kedalam rohani. Maka apabila ruh itu dominan hilang rasa ‘ada’, tapi apabila jasad dominan akan merasa ‘ada’. Contohnya apabila jawarih ini berawal taat, mesti ada memberikan kesan ke hati, lama kelamaan hati menjadi tunduk dan ruh menjadi suci serta nafsunya menjadi lemah. Jika hatinya sudah ikhlas, dengan sebab taat ini, maka taat yang keluar dari hati yang bersih, ini pun memberikan pengaruh yang lebih dalam kepada jawarih, maka demikian seterusnya dan pada akhirnya dapat menggunakan anggota tubuh untuk taat kepada Allah dengan ringan, karena jawarihnya sudah tidak diatur lagi oleh pikiran melainkan oleh ruhaninya.

Semoga bermanfaat Wallahualam bisawab.