Selasa, 24 November 2009

SYUKUR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian hari Jum’at tanggal 20 Nopember 2009 membahas tentang makna syukur, kemudian membandingkan keutamaan antara syukur dengan sabar, yang bersumber dari kitab Qutul Qulub karya Syaikh abu Thalib al Makki, disampaikan oleh seorang murid yang datang kembali setelah sekian lamanya menimba ilmu agama ditempat lain. Setelah murid itu selesai berbicara, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Bagi saya, tidak peduli, mana yang lebih utama antara sabar dan syukur, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menggapai kedua maqom yang mulia itu, dengan mengerjakan dengan sungguh-sungguh dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah, daripada hanya pandai berbicara tetapi tidak pandai bekerja.’ Ujaran ini dalam sekali maknanya, bahwa bukan perkara mudah untuk bisa sampai pada maqom syukur dan sabar. Seorang salik mestinya bertanya kepada sang guru tentang kesulitan-kesulitan yang muncul dalam perjalanannya, bukan membicarakan sesuatu yang belum dicapainya. Sehingga sangat bermanfaat bagi murid-murid yang mendengarnya. Semakin seorang murid giat bekerja atau berdzikir pada lathifahnya, maka semakin ia sadar, bahwa ia semakin jauh dari kesempurnaan, semakin merasa tidak lebih baik dari orang lain, lidahnya menjadi kelu dihadapan para sahabatnya apalagi dihadapan gurunya. Oleh karenanya, bila guru memerintahkan untuk berbicara, serasa ada dua buah gunung membebani pundaknya. Sebaliknya, jika ia merasa lebih baik dari murid-murid yang lain, dan merasa pantas memberikan tauziah, maka ia gagal didalam pekerjaan tarekatnya. Ilmu kesufian adalah ilmu tahapan yang diperoleh dari melakukan riyadhah dan mujahadah. Bisa saja seseorang memasuki maqom syukur terlebih dahulu, baru kemudian memasuki maqom sabar, ada juga yang sebaliknya, dan demikian pula ada yang kedua maqom itu berdatang silih berganti, terserah bagaimana Allah SWT mengaturnya. Akan tetapi semua syaikh sufi sepakat, bahwa memasuki alam kesucian wajib hukumnya melakukan pertaubatan terlebih dahulu sampai orang itu kukuh didalamnya dan tidak menyia-nyiakan kewajiban yang timbul akibat pertaubatannya, maka ia telah mencapai maqom taubat.

Tentang sabar sudah disampaikan pada bab terdahulu, pada prinsipnya sabar terbentuk dari ketegaran dalam menghadapi sasaran bidikan anak panah kesulitan-kesulitan, tekanan atau kesempitan kehidupan, yang kesemuanya ada dalam ketetapan-Nya. Jika ia tetap berdiri teguh dihadapan-Nya seraya tetap mematuhi dan menaati hukum-Nya, ia telah masuk dalam maqom sabar. Sedangkan bila ia lari ketika panah takdir-Nya menembus dadanya, lalu ia membangkan terhadap perintah dan larangan-Nya, karena dirasakan begitu berat tekanan itu, berarti ia meninggalkan kedudukannya yang selama ini ia jaga dan pelihara. Allah SWT berfirman : ‘Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’ (QS 002 : 153) Dikatakan bahwa Allah beserta orang yang sabar namun tidak demikian kepada yang shalat, karena begitu sulitnya orang mampu bersabar dalam menghadapi panah takdir-Nya. Oleh sebab itu, orang-orang yang sabar masih memerlukan pertolongan dan peneguhan, sebagaimana tercermin pada ayat berikut : ‘Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.’ (QS 016 : 127). Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana menyongsong pertolongan Allah SWT? Tidak ada jalan lain kecuali dengan dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah, atau seseorang dapat berpedoman kepada sebuah ayat al Qur’an : ‘Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (qs 002 : 152) Dan juga dapat berpedoman pada sebuah hadis qudsi : ‘Aku seperti apa yang dipikirkan hamba-Ku mengenai-Ku, dan Aku bersamanya seandainya ia mengingat-Ku. Seandainya ia mengingat-Ku didalam dirinya, Aku pun mengingatnya di dalam diri-Ku, seandainya ia mengingat-Ku di dalam kelompok orang, maka Aku akan mengingatnya di hadapan kelompok yang lebih baik dari mereka, seandainya ia mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sedepa, dan seandainya ia mendekati-Ku sedepa, Aku akan mendekatinya selangkah. Jika ia berjalan mendekati-Ku, Aku berlari mendekatinya.’ Sedangkan syukur adalah keterbukaan hati, terbentuk dari kegembiraan hati, karena melihat kemurahan, kebaikan, kasih sayang, karunia dan nikmat-nikmat-Nya. Shalat merupakan perwujudan syukur, sebagaimana yang terdapat pada hadist shahih bahwa Rasulullah,saw., melakukan shalat malam sampai bengkak kakinya sebagai tanda syukur atas nikmat-nikmat yang ia peroleh dari Allah SWT. Atau sebuah riwayat mengatakan bahwa : ‘Malaikat mendatangi Idris,as., dan berkata : ‘Aku datang membawa kabar gembira bahwa Allah telah ridha terhadapmu.’ Idris,as., menagis bahagia mendengarnya. Kemudian ia meminta kepada Allah supaya membiarkannya tetap hidup. Malaikat itu bertanya : ‘Apa yang akan kau lakukan dengan kehidupan abadimu, padahal Allah telah ridha terhadapmu? Ia menjawab : ‘Sebelumnya aku beramal untuk diriku sendiri. Kini aku ingin tetap hidup, supaya aku bisa beramal untuk-Nya sebagai rasa syukurku atas keridhaan-Nya terhadapku.’ Kemudian malaikat itu membentangkan sayapnya dan berkata : ‘Duduklah! Idris,as., pun duduk diatas sayap malaikat, lalu malaikat itu membawanya naik ke langit.” Dari kedua riwayat shahih itu, tercermin bahwa syukur sebagai perwujudan amal setelah Allah ridha terhadapnya.

Dipandang dari sudut lain, yakni lawan dari sabar adalah keluh kesah sedangkan lawan daripada syukur adalah kufur. Orang yang berkeluh kesah dalam menghadapi takdir-Nya adalah dosa, sedangkan orang yang kufur terhadap nikmat-nikmat dari Allah menjadikan murka-Nya. Demikian pula bila dilihat dari quantitas, bahwa sesuatu yang jumlahnya sedikit akan lebih baik dari yang jumlahnya banyak. Dari seluruh manusia, jumlah orang yang beriman tentu lebih sedikit, demikian pula yang mukmin lebih sedikit dari yang beriman, yang berpangkat wali lebih sedikit dari yang mukmin, dan jumlah para nabi lebih sedikit dari para wali, lalu jumlah rasul lebih sedikit dari jumlah nabi. Oleh karenanya orang-orang yang bersyukur itu sangat sedikit, sebagaimana firman-Nya : ‘Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.’ (QS 032 : 9)

Awalnya sabar, kemudian diikuti dengan syukur, seperti telah dikisahkan pada bab sabar terdahulu, bahwa Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) malah bersyukur tatkala seorang dokter memvonis bahwa ia mengindap suatu penyakit yang sangat membahayakan. Syukurnya tampak dari kesabarannya, karena syukur itu tersembunyi, sebagaimana api yang tersembunyi didalam batu. Sewaktu kecil kita sering bermain batu berwarna putih yang terdapat disekitar rel kereta api, bila kedua batu itu digesekkan dengan keras akan menimbulkan percikan api, lalu dengan mendekatkan kertas koran pada percikan api itu, terciptalah api. Demikian halnya dengan syukur, yaitu mengakui karunia dan nikmat-Nya, memuji Sang Pemberi nikmat, tunduk dan merendahkan diri pada keagungan-Nya, serta memasrahkan jiwa kepada-Nya. Semua ini tersimpan didalam hati (qolbu), seperti api yang tersimpan didalam batu putih tadi. Untuk mengeluarkan api syukur didalam hati, harus ada gesekan yang keras, serta harus tersedia kertas koran agar api dapat menyala. Gesekan yang keras adalah ujian dan cobaan, sedangkan kertas koran adalah nikmat dan karunia-Nya. Dengan ujian dan cobaan saja, api syukur tidak akan bisa dinyalakan, karena yang keluar bukan api syukur melainkan sabar dan pasrah. Supaya api syukur dapat menyala, maka harus ada kertas koran, yaitu nikmat dan karunia-Nya. Sebagaimana yang termaktub didalam firman-Nya : ‘Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi Setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.’ (QS 014 : 5)

Demikian, semoga apa-apa yang diperoleh oleh guru tercinta kita, Allah SWT berkenan melimpahkan kedalam dada kita, amiin yaa Allah ya Rabbal Alamiin.

Minggu, 22 November 2009

EVOLUSI JIWA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Mungkin sudah ratusan buku tasawuf membicarakan tentang evolusi jiwa, dan memang inilah yang menjadi pokok pembicaraan para syaikh sufi. Mereka melihat dan merasakan perubahan-perubahan jiwa dalam perjalanan ‘menuju’ Allah SWT, bahkan mereka berhenti sejenak (wuquf) pada setiap pemberhentian itu (stasiun) meneliti dan menulisnya atau berbagi pengalaman ruhaninya kepada murid-muridnya, khususnya cara-cara atau kaifiat untuk mencapainya. Agar diketahui ciri-ciri, sifat dan rasa yang hakiki, supaya para murid dapat memahami dan bilamana disuatu kelak mengalaminya, maka ia dapat dengan tepat mengetahui kebenarannya. Mereka menyebutnya ilmu tahapan, atau ilmu maqom-maqom. Pada umumnya untuk mencapai maqom-maqom itu, mereka melakukan praktik wirid, dzikir, tafakur, muroqobah, muhasabah, sedangkan ibadah yang wajib tidak dibahas disini, karena bersifat umum bagi setiap orang yang mengaku beriman, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Meskipun pada tahapan tertentu, maqom menjadi hijab, karena setiap maqom berkaitan dengan upayanya dalam melakukan riyadhah dan mujahadah, sedangkan keberserahan setelah keberupayaan, fana dari upayanya, atau fana dari dirinya dan baqo bersama Tuhanya menjadi akhir perjalanan. Setiap kelompok syaikh sufi mempunyai kaifiat yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama, oleh sebab itu, munculah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan pembimbing ruhani, diantaranya tarekat Qodiriyah, Naqsyabandiyah, Chistiyah, Sanusiyah, Samaniyah, Tijaniyah, Sadziliyah dan masih banyak lagi. Seperti praktik dzikir, ada kelompok tarekat yang melakukannya secara berbunyi dan menggunakan gerakan-gerakan serta hitungan tertentu, ada pula kelompok lain yang praktik dzikirnya diam dan tidak bergerak, demikian pula tentang praktik muroqobah, ada yang duduk seperti tahiyatul akhir dan ada yang duduk sebaliknya, ada yang mencapai tingkatan dua puluh dan ada pula yang hanya empat. Nah, praktik-praktik itu hanyalah sebuah sarana bukan tujuan, dan merupakah ciri khas dari kelompok sebuah tarekat. Akan tetapi menjadi wajib hukumnya untuk taat dan mengikuti secara tepat kaifiatnya bagi orang-orang yang menganutnya. Tentunya praktik-praktik itu dicontohkan oleh para masyaikh terdahulu yang berpedoman kepada Abu Bakar as Siddiq,ra., dan Sayyidina Ali bin Abu Thalib,ra., yang menerimanya langsung dari Rasulullah,saw., yang bersifat khusus.

Pengajian secara informal bersama seorang mursyid merupakan hal yang langka di era yang serba materialistk ini. Keajaiban-keajaiban (karomah, bagi para waliyullah) atau maunah (bagi para mukmin) sering terlihat dan terasa, walaupun murid-murid yang awam beranggapan bahwa karomah atau maunah itu mestilah dapat dilihat oleh panca indera, sebagaimana mu’jizat para nabi. Pendapat ini salah, karena karomah berbeda dengan mu’jizat, yang pertama datang dan pergi atas kehendak Tuhan, dan diperuntukkan hanya untuk wali-Nya saja, dan bukan konsumsi orang lain, sehingga bentuk karomahnya bisa bersifat lahir dan batin, dan Allah berkehendak untuk dapat disaksikan dan dirasakan oleh murid-murid tertentu saja. Sedangkan yang kedua, datang karena doa seorang nabi dan memang tujuannya untuk diperlihatkan kepada orang lain guna mengukuhkan keimanannya. Dalam kesempatan itu, seorang salik dapat bertanya secara langsung tentang keadaan dirinya atau kesulitan-kesulitan didalam perjalan spiritualnya. Karena, pada umunya pengajian tarekat yang diadakan secara formal, belangsung secara monologis, tidak ada kesempatan bagi seorang salik mengajukan pertanyaan. Meskipun, tanpa pertanyaan pun, seorang mursyid dapat memahami warna jiwa dari murid-muridnya yang hadir. Sehingga ujaran-ujarannya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan bisu murid-muridnya itu. Hal ini merupakan salah satu ciri yang wajib yang ada pada pembimbing ruhani, sebagaimana ucapan Imam Junayd,ra., : ‘Seorang pembimbing ruhani pasti mengetahui semua yang terjadi pada salah seorang muridnya.’ Diriwayatkan bahwa, terpikir oleh Khayr Nassaj bahwa Imam Junayd,ra., sedang menunggu didepan pintunya, dan ia ingin mengusir pikiran itu, karena dalam tradisi tarekat, nyaris mustahil seorang mursyid berkunjung kerumah muridnya. Pikiran yang sama terulang dua dan tiga kali, sehingga ia pergi keluar dan mendapati Imam Junayd,ra., yang mengatakan : ‘Jika engkau mengikuti apa yang terlintas dalam benakmu, tidak perlu bagiku berdiri berlama-lama disini.’ Begitu pula tatkala beberapa orang murid sedang ngariung bersama Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), tiba-tiba beliau memekik : ‘Ruh saudara kita, H Memed, yang sedang sakit berkunjung kesini, sebuah isyarat ia akan segera berpulang keharibaan-Nya.’ Segera murid-murid yang mendengar itu begegas berziarah dan mendapati keadaanya yang sudah payah. Tiga hari setelah kejadian ini, H Memed menghembuskan nafasnya yang terakhir (semoga Allah mensucikan, mengampuni semua dosanya dan menyayanginya).

Disebut buah kelapa, bilamana ia terdiri dari kulit, batok, buah dan air. Tidak tepat, jika kulit dan batok kelapanya saja disebut kelapa, meskipun keduanya adalah bagian darinya. Demikian juga sosok manusia, ia akan disebut manusia manakala lengkap terdiri dari materi yang lahir dan materi yang batin. Materi yang lahir berupa badan, Syaikh (semoga Allah merahmatinya) menyebutnya cangkang, sedangkan materi yang batin terdiri dari hati, ruh dan jiwa. Ruh mempunyai penasihat bernama akal dan jiwa mempunyai panglima bernama syahwat. Para syaikh sufi sepakat bahwa hati (qolbu) adalah tempat (lokus) ruh dan jiwa. Kata ‘tempat’ atau ‘lokus’ untuk materi-materi yang halus menjadi pokok perbedaan pendapat, khususnya yang berkenaan dengan letak hati (qolbu) pada sosok manusia. Memang, sejak dahulu kala orang-orang kafir Quraysy sudah bertanya kepada Rasulullah,saw., tentang sifat dan hakikat ruh, Allah SWT berfirman : ‘Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS 017 : 85) Rasulullah,saw., bersabda : ‘Ruh-ruh adalah tentara, mereka yang mengenal satu sama lain bersepakat dan mereka yang tidak mengenal satu sama lain berselisih.’ Ruh adalah substansi dan bukan atribut, karena , selama ia masih berkaitan dengan badan, Allah SWT terus menerus mencipta kehidupan baginya, dan kehidupan itu adalah atribut dan dengannya ia hidup. Ruh meliput atau ada yang mengatakan tersimpan dalam badan dan bisa dipisahkan darinya sewaktu ia masih hidup, seperti dalam keadaan tidur. Tapi bilamana ruh meninggalkan badan, akal-pikiran dan pengetahuan tidak lagi bisa ada dalam dirinya, karena itu Rasulullah,saw., mengatakan bahwa ruh-ruh para syahid berada dalam tembolok burung. Dengan demikian, ruh itu tentu substansi (dzat) atau materi yang halus, yang datang dan pergi menurut perintah Allah. Dan ruh itu bisa dilihat oleh mata hati dan bisa menempati tembolok burung atau bisa menjadi tentara yang bergerak kesana-kemari, sebagaimana hadis diatas. Oleh karenanya disaat Mi’raj, Rasulullah,saw., melihat di langit, nabiyullah Adam,as., Yusuf,as., Musa,as., Harun,as., Isa.,as., dan nabiyullah Ibrahim,as. Dan tidak heran bilamana Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) dapat merasakan dan mengenal kehadiran ruh murid-muridnya. Dan diriwayatkan bahwa Imam Uways al Qarani,ra., berkata kepada seseorang yang menziarahinya : ‘Assalamulaikum, wahai Harim bin Hayyan!’ Harim berseru : ‘Bagaimana engkau tahu bahwa aku adalah Harim?’ Imam Uways al Qarai,as., menjawab : ‘Ruhku telah mengenal ruhmu.’
Tarekat merupakan paguyuban, yang dipimpin oleh seorang mursyid sebagai pembimbing ruhani bagi para murid-muridnya. Didalamnya terdapat aturan-aturan yang sangat ketat, khususnya pelaksanaan cara-cara (kaifiat) melakukan peribadatan, hal ini merupakan pondasi yang kokoh, karena barang siapa salah menjalankan kaifiatnya, maka hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dan mungkin saja berbahaya bagi perkembangan jiwanya. Seorang mursyid mempunyai metodologi khusus yang diterima turun temurun dari para masyaikh terdahulu, guna mengantar murid-muridnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT secara benar, cepat dan tepat. Metode, cara-cara atau kaifiatnya shahih dan telah terbukti mujarob, hampir semua metodenya tidak terlepas dari melakukan tindakan riyadhah dan mujahadah, atau dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah. Sehingga maqom-maqom diraih, kesucian demi kesucian tergapai, tahap demi tahap mencapai kedekatan dengan Tuhannya. Semua syaikh sufi sepakat bahwa tempat tambang makrifat adalah hati (qolbu). Oleh karenannya, hampir semua bentuk peribadatannya dipusatkan atau diarahkan kepada hati (qolbu) ini. Maka yang diperlukan bagi seorang salik, adalah patuh terhadap bimbingan mursyidnya, dan mengerti serta memahami mengapa ia ditakdirkan masuk dalam orang-orang yang bertarekat, orang-orang yang mensucikan dirinya, sebagaimana doa yang ia lantunkan dalam setiap kesempatan “Yaa Allah, Engkaulah yang aku maksud, ridho-Mu yang aku harapkan, karuniakan kepadaku rasa cinta kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu, Wahai Yang Maha Belas Kasih, Ilahii anta maqsudi waridhoka matlubi ‘atini mahabbataka wa ma’rifataka ya arhamar rohimiin.”

Yang selalu ditilik oleh Allah SWT pada diri manusia adalah materi yang batin, yakni hati (qolbu), bukan materi yang lahir, oleh karenanya ia menjadi pusat perhatian para syaikh sufi, dan menjadi wajib hukumnya untuk selalu mewaspadai terhadap pengaruh-pengaruh yang buruk. Jika hati (qolbi) diperumpamakan sebagai sebuah ruangan, maka penghuni dalam ruangan itu, bersama-sama antara ruh (cahaya) dan jiwa (kegelapan). Ruh dicipta di alam amr, dan mengenal Tuhan sebagai Tuhan harus dikenal, ia menyerap sifat-sifat Tuhan, oleh karenanya sangat tepat bila diperumpamakan cahaya, sedangkan jiwa tercipta manakala ruh telah menyatu dengan badan, dan karena berada di dunia ini, maka sifat-sifatnya dominan seperti sifat dunia, yakni kegelapan. Oleh sebab itu, hati bisa terkadang bercahaya dan terkadang gelap, tergantung pihak mana yang mempengaruhinya. Sekarang! ruangan itu berada didalam rumah (badan manusia), dan rumah ini dibuat dari empat unsur alam semesta, yakni tanah, air, api dan angin, yang secara keseluruhan bersifat kegelapan, persis seperti sifat jiwa. Karena sifat dan unsurnya sama, rumah dan jiwa menjadi menyatu dan sulit dipisahkan, laksana sepasang kekasih yang mabuk asmara. Sedangkan ruh menyatu dengan ruangan itu, karena asalnya memang bukan pada rumah itu, dan bukan pula di tempat dimana rumah itu berdiri, melainkan dari alam yang tinggi, alam kesucian, atau alam amr. Al hasil, ruangan menjadi gelap, ruh (cahaya) kalah dominan dibanding kegelapan. Lama kelaman jika tidak waspada, dan tidak memberi suplemen pada ruh (cahaya) maka ruangan seluruhnya menjadi gelap gulita. Jika sudah demikian, yang memancar dari rumah tadi adalah kegelapan, tak sedikitpun ada cahaya. Maka dari itu, manusia yang demikian tidak dapat melihat kebenaran-kebenaran dan segala sesuatu gerak gerik dan ucapannya hanyalah kepalsuan belaka.

Mursyid adalah pembimbing ruhani, karena ruangan pada rumahnya bercahaya, yang menjadikan rumahnya pun bercahaya. Oleh sebab itu, menjadi tepat jika ia membimbing murid-muridnya mengembalikan ruangan tadi menjadi bercahaya, walaupun sangat sulit namun bukan hal yang mustahil. Yang pertama dan wajib bagi seseorang adalah memperoleh taufik dan hidayah-Nya, lalu patuh dan taat menjalankan pekerjaan tarekat, atas bimbingan dari seorang mursyid. Praktik dzikir menjadi pekerjaan yang dominan, dengan selalu menyebut asma Allah sebagai pemberi cahaya langit dan bumi, maka ruh tadi akan semakin bercahaya, dan menggeser sedikit demi sedikit kegelapan pada ruangan, sebagaimana yang termaktub didalam al Qur’an : ‘Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.’ (QS 024 : 35) Lalu setelah ruangan itu bercahaya, pekerjaan selanjutnya adalah muroqobah atau meditasi untuk mempengaruhi hati (qolbu) agar selalu merasa kehadiran Tuhan (Hudur al-Haq), merasa diawasi dan bersama-sama dengan-Nya, serta merasa diliput oleh-Nya terus menerus sepanjang kehidupannya, dalam keadaan terjaga ataupun tertidur.

Tarekat Qodiriyah, melakukan ritual peribadatannya dikhususkan pada hati (qolbu) baik dzikir, tafakur (kontemplasi) atau muroqobah (meditasi). Demikian pula tarekat Naqsyabandiyah, akan tetapi, tarekat ini mempunyai keyakinan bahwa didalam ruangan tadi masih tedapat ruangan-ruangan yang lain sebanyak tujuh ruangan. Atau dengan kata lain bahwa didalam hati (qolbu) masih terdapat materi-materi halus (lathifah) yang lain, dan hati (qalbu) sebagai ummul lathifah atau ibu dari pada lathifah. Kedua tarekat ini mempunyai metodologi yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama. Oleh sebab itu, Syaikh Ahmad Khatib as Sambasi (semoga Allah mensucikan ruhnya), menggabungkan ke dua tarekat ini menjadi tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sebagai pewaris mutiara ilmu kesufian dari tarekat ini mengatakan bahwa letak hati (qolbu) sebagai tambang makrifat ini, berada pada dua jari dibawah susu sebelah kiri. Ditempat inilah terdapat harta karun yang tidak ternilai harganya dan dijaga sangat ketat oleh sifat binatang ternak dan buas, sifat rububiyah dan sifat syaithoniyah, serta didepan ‘pintu’ hati dijaga oleh para syaithon yang berusaha menyesatkan anak cucu Adam. Nah, jika hati (qolbu) menjadi lokus dari pada dua entitas yang saling tarik menarik, ruh mengajak kearah kesucian dan kembali keasal muasalnya, yakni ‘dekat’ dengan Pencipta-Nya, dan jiwa mengajak kepada hal-hal yang kotor (buruk) agar terjerambab di alam dunia ini, agar manusia semakin tertabiri dari Tuhan, sesuai dengan keterkaitannya terhadap anasir, tanah, air, api dan angin. Oleh karenanya, jiwa dan badan menyatu dan lengket, sulit dipisahkan, dan selalu bertindak mengarah kepada kejahatan, melanggar hukum suci, syariat agama. Maka dari itu, orang-orang yang mencari Tuhan tidak akan pernah mengendorkan perjuangannya melawan jiwa rendahnya, sehingga dengan demikian mereka bisa menggunakan kekuatan ruh dan akal, yang menjadi rumah bagi rahasia Ilahi. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Bahwa jiwa dapat dipengaruhi.’ Yakni, melalui bimbingan dari seorang mursyid dalam melaksanakan pekerjaan tarekat, maka tahap demi tahap jiwa akan terpengaruhi oleh sifat-sifat Tuhan dan sedikit demi sedikit akan selaras dengan anasir alam semesta ini.

Kelompok syaikh sufi, mempunyai terminologi dalam menyampaikan pengalaman ruhaninya. Setelah bersungguh-sungguh melakukan praktik-praktik riyadhah dan mujahdah sesuai dengan metodologi masing-masing, jiwa mengalami evolusi, bergerak sedikit demi sedkit, atau tahap demi tahap menggugurkan sifat buruk (majmumah) dan terbukanya sifat-sifat yang terpuji (mahmudah). Perubahan-perubahan pada jiwa (evolusi) ini ada yang menyebut maqom-maqom, yang dimulai dari maqom taubat, sabar, syukur, tawakal dan sampai pada maqom ridha. Ada pula yang menyebutnya dari nafsul imarah, nafsul lawwamah, nafsul mulhimah, nafsul muthmainah, nafsul mardiyah, nafusl radiyah dan yang tertinggi adalah nafsul kamilah. Meskipun cara penyampaiannya berbeda namun mempunyai arti yang sama, terserah mana yang akan digunakannya. Begitu pula letak daripada materi-materi yang halus pada manusia, berbeda tempat namun mempunyai tujuan yang sama pula. Semoga Allah SWT meridhoi ktia semua, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.

Minggu, 01 November 2009

UJARAN PERTAMA SULTHONUL AULIYA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Para sahabat tercinta, sebelum membaca ceramah pertama dari pemimpin tarekat Qodiriyah, Sulthonul Auliya Sayyidi Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir al Jailani al Bagdadi,qs., pada hari Jum’at 15 Syawal 545 H, mari bersama-sama kita bacakan Suratul Fatihah, Al Fatihah ........... Amiin.

Hati para waliyullah adalah suci dan bersih. Mereka adalah orang-orang yang sudah bercerai dari makhluk dan tenggelam dalam cinta kepada Sang Pencipta. Mereka telah menceraikan dunia dan mempersiapkan diri untuk Hari Kemudian. Kau tidak akan bisa mengenali mereka, karena kau tersesat dalam dunia ini. Terbentang jarak yang amat jauh antara kau dengan mereka. Jika ada saudaramu mukmin memberimu nasihat, jangan melakukan hal yang bertentangan dengan perkataannya, karena dia bisa melihat hal-hal pada dirimu yang tidak bisa kau lihat. Nabi,saw., bersabda : ‘Seorang mukmin adalah cermin bagi muslim lainnya.’ Seorang mukmin sejati akan selalu memberi nasihat kepada saudaranya sesama muslim, tulus dari dasar hatinya. Dengan terbuka dia katakan kelemahan dari kekurangan saudaranya. Allah Yang Mahasuci telah meletakkan di hati muslim semangat untuk menasihati saudaranya, termasuk nasihat dan menyampaikan kebenaran kepadamu, dan menjelaskan kepadamu apa yang dia pahami. Sebagai imbalannya, dia tidak menginginkan apa pun dari dunia ini maupun di dunia nanti. Yang dia inginkan hanyalah ridho Kekasihnya dan inilah yang menjadi doanya.

Ya, aku sangat berbahagia ketika umatku mencapai keberhasilan dan kemakmuran, dan kemunduran kaumku terasa olehku laksana panah-panah yang menusuk hatiku. Bila salah satu muridku mencapai keberhasilan, maka hati merasa sangat bahagia, sehingga ketundukkan hati dan kepalaku ke hadirat Sang Penciptaku. Wahai hamba Allah! Perbaikan keadaanmulah yang menjadi tujuanku. Aku tidak memiliki pamrih pribadi, karena jenjang itu telah kutaklukkan. Aku ingin menggandeng tanganmu dan membimbingmu menuju jalan yang lurus, maka jangan segan meminta pertolongan dan bantuanku di jalan ini, sehingga engkau dapat mencapai keberhasilan. Aku dapat memperindah dirimu di hadapan Allah dan bukan dalam pandangan manusia, yang kuinginkan adalah menunjukkan padamu siapakah dirimu sesungguhnya. Seperti apakah keadaanmu? Apakah seperti setititk air dalam segumpal daging yang mati, atau laksana sepotong bangkai yang dipenuhi belatung dan ulat, dibiarkan untuk burung pemakan bangkai dan hewan-hewan lain?

Engkau harus paham bahwa orang yang mengajakmu taat dan menjadi hamba para raja dunia ini, dan menuangkan pada hatimu ketamakan dunia, emas dan perak, yang kau anggap lebih berharga daripada harta kekayaanmu yang sejati (iman), sesungguhnya ia sedang menyesatkanmu. Dia tidak lain adalah syaithoon.

Ingatlah pada Allah! Balasan atas ketamakan ini tidak lain adalah hilangnya kemuliaan dan timbulnya kehinaan. Rasulullah,saw., tercinta telah menyatakan : ‘Orang yang paling pantas menerima murka Allah adalah orang yang menghasratkan hal-hal dunia melebihi kebutuhan dirinya, karena tamak.’ Jika kau berpikir manusia dapat memberimu keuntungan berlimpah, sehingga akan menelan segala sesuatu, maka sesungguhnya kau belum mengerti inti rahasia. Ini adalah bisikan syaithon dalam hatimu. Sesungguhnya kau bukanlah hamba Allah, tetapi kau adalah hamba nafsumu dan pembantu-pembantu syaithoon.

Ceraikan kecintaan pada uang dan harta benda dan cobalah bebaskan dirimu dari penjara dunia ini. Jika kau ingin merdeka darinya, maka kau memerlukan bimbingan seseorang. Maka kau harus mencari seorang pembimbing. Ingatlah, bahwa jika kau mencari bimbingan semacam itu dengan mata jasmanimu, itu tak ada bedanya dengan mencari-cari sesuatu dalam gelap. Bimbingan ini hanya bisa ditemukkan dengan menggunakan mata hati dan pandangan ruhani. Jika kau ingin menjumpai bimbingan itu, maka syaratnya adalah iman. Jika kau tidak memiliki iman, maka kau tidak akan pernah memiliki pandangan batin. Allah SWT., berfirman: ‘Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.’ (QS 22 : 46).

Perumpamaan ketamakan terhadap dunia adalah ibarat seseorang yang memberikan uang dinar untuk ditukar dengan jerami. Jerami akan segera terbakar dan musnah, sedangkan dinar yang sebelumnya kau miliki, hilang sudah. Jika imanmu lemah, pastilah kau akan memburu dunia. Cobalah perkuat imanmu sehingga derajatmu dapat terangkat dan memiliki keyakinan sejati kepada Allah. Bila imanmu bertambah kuat, maka kau akan melihat bahwa keyakinanmu kepada Allah bertambah kokoh pula, dan kau akan menyaksikan kebutuhanmu dipenuhi-Nya bahkan tanpa sepengetahuanmu. Bila kau menjauhi keramaian orang, kau akan menyadari bahwa kau mencapai tingkat di mana kau siap dan rela memberikan hidupmu ke tangan Malaikat Maut. Kau tidak akan memikirkan hal itu, juga mengenai ke mana gelombang Laut Kebenaran Sejati akan membawamu.

Maka, kekhawatiran dan kesenangan duniawi sama sekali tidak akan mempengaruhi pikiranmu dan mengganggu jiwamu. Nabi,saw., bersabda : ‘Ceraikanlah pikiranmu dari dunia ini semampu kalian.’ Wahai hamba Allah! Cobalah bebaskan dirimu dari belenggu dunia ini. Tambatkan dirimu dengan tali kokoh rahmat Allah, yang dengan mantap akan menarik bahtera hatimu menuju pantai sejati Samudera Cinta. Allah berkuasa atas segala sesuatu. Dia Sang Mahatahu. Segala sesuatu ada di dalam kendali-Nya. Jika kau mendambakkan Dia, pertama-tama mintalah kebersihan bagi hatimu, mohonlah iman dan makrifat. Mohonlah ilmu. Mohonlah keridhoan hati. Mohonlah cahaya hati. Mohonlah cinta dan Kasih Sayang-Nya. Mintalah semua ini dari-Nya.

Jika engkau memperoleh ini semua, maka kau telah memiliki segalanya. Jangan tadahkan tanganmu kepada yang lain. Tujuanmu hanyalah Dia. Tidak ada guna memohon pada orang sombong dan angkuh di dunia ini. Wahai hamba Allah! Jika kau hanya mengucapkan kalimat syahadat dengan lidahmu, dan hatimu tidak memunculkan kesaksianmu ini dalam perbuatanmu, maka sesungguhnya kau belum bergerak selangkah pun menuju Sang Pencipta.

Kesungguhan perjalanan menuju Allah tergantung pada laju ruhani dan kekuatan hati. Kedekatan sejati adalah kedekatan jiwa. Amal saleh sejati adalah amal yang disertai jiwa, atau dengan kata lain, keikhlasan. Perbuatan baik ini hanya dapat dilaksanakan jika kau tetap berada di dalam batas-batas yang ditetapkan syariat dan disertai perlindungan syariat. Ini semua hanya bisa dicapai oleh hamba Allah yang sejati dan saleh. Ini harus menjadi mistar pengukurmu. Jika manusia tidak mempergunakan jiwanya sebagai mistar, maka dia tidak akan berhasil. Tindakan atau amalan yang dilakukan untuk memamerkan kesalehan diri, bukanlah amal saleh yang sejati. Amal kebaikan yang sejati dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Orang hanya wajib melaksanakan fa’idl-nya secara terbuka, karena memang diharuskan. Amalan seseorang tergantung kepada tauhid dan keikhlasannya. Jika dua hal ini tidak ada, maka amalan seseorang tidak ubahnya laksana sebuah bangunan tanpa pondasi yang kokoh. Tidak akan lama waktunya bagi bangunan itu untuk rubuh dan runtuh. Pertama-tama bangun dan perkokoh pondasi ini, setelah itu dirikanlah bangunan yang megah. Jika Allah berkehendak, maka bangunan semacam itu tidak akan pernah ambruk atau hancur, karena bangunan ini memiliki pondasi yang kokoh. Hanya dengan menerima Ke-Esa-an Allah, amal-amalmu akan dapat bercahaya di angkasa ruhani sebagaimana bulan purnama dan akan mencurahkan sinar sebagaimana matahari.

Jumat, 30 Oktober 2009

HATI (QOLBU)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allah SWT berfirman : ‘(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS 013 : 28)’

Seorang salik terkejut mendengar celotehan bocah kecil yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar yang berkomentar tentang gempa bumi yang sedang melanda di beberapa kota di Indonesia, bahwa gempa bumi itu, bumi bergoyang-goyang mengikuti tingkah laku orang-orang masa kini, yang suka bernyanyi dan bergoyang-goyang mengikuti irama lagu. Makanya banyak-banyak shalat dan puasa agar bumi menjadi tenang. Bocah kecil itu begitu tajam ucapannya, tanpa disadarinya ia telah berbicara tentang anasir, insya Allah pada bab mendatang akan disampaikan pengajian tentang anasir, yakni hubungan antara Sang Pencipta, alam semesta (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos).

Ayat diatas jelas sekali maknanya, yakni ketenangan seseorang terletak pada hatinya, dan ketenangan hati diperoleh dari hasil dzikir-dzikirnya, tentunya dzikir kepada Allah (dzikrullah) bukan dzikir dunia. Seseorang boleh melihat kedalam dirinya apakah ketenangannya diperoleh disaat angka rekening tabungan banknya banyak atau sebaliknya kegundahannya datang tatkala angka rekening banknya menipis. Jika ketenangannya dikarenakan cahaya ketuhanan yang menguasai hatinya karena dzikir-dzikirnya, maka ia termasuk golongan orang-orang yang berbahagia di dunia ini dan akhirat nantinya, sebaliknya jika ketenangannya disebabkan karena adanya harta bendawi yang menumpuk didalam rekeningnya atau uangnya menjadi banyak maka ia termasuk golongan orang-orang yang tertipu, meskipun ia juga telah melakukan dzikir-dzikir, namun jelas ia telah salah dalam mematuhi kaifiat dzikir yang benar, dan tidak melakukan tindak mujahadah. Yang pertama, ruhnya telah mendominasi jiwanya, lalu cahaya ketuhanan memenuhi ruang hatinya, sehinga keimanannya bertambah-tambah kuat, dan tuhannya adalah Allah SWT semata, sedangkan yang kedua jiwanya telah mendominasi ruhnya dan kegelapan telah memenuhi hatinya, sehingga keimanannya merosot tajam, dan tuhannya adalah harta bendawi dunia, naudzubillah mindzalik.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : 'Seseorang menjadi mulia tatkala ia mampu mewaspadai gerak gerik hatinya.'

Hati (Qolbu) menjadi pusat perhatian para syaikh sufi, karena merupakan tambang makrifatullah, jika ia baik maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Hati yang dimaksud adalah suatu yang halus yang terdapat pada manusia bukan hati organ tubuh. Hati (Qolbu) secara etimologis berarti membalik, mengalihkan, mengubah. Jika sebuah gelas diisi penuh dengan anggur, maka ia akan berwarna merah atau putih, tergantung dari pada warna anggurnya. Jika gelasnya tenang maka isinya juga akan tenang, demikian pula jika isinya tenang maka gelasnya akan tenang pula. Demikian pula dengan hati manusia, sebagai tempat (lokus) antara ruh dan jiwa, lokus dari kebaikan dan keburukan, keimanan dan kemunafikan, kebenaran dan kepalsuan. Ketika Allah SWT menciptakan hati (qolbu), malaikat Ridhwan (penjaga surga) berkata : ‘Berikan kepadaku, sebab didalamnya ada madu keakraban dan anggur kesucian.’ Malaikat Malik (penjaga neraka) berkata : ‘Berikan kepadaku, sebab didalamnya ada gejolak api hasrat dan api nafsu.’ Para malaikat muqorobin (penyangga Arasy) berkata : ‘Berikan kepada kami, sebab ia adalah arasy cinta mulia dan hamparan luas kebaikan.’ Malaikat yang lain berkata : ‘Berikan kepada kami, sebab ia adalah langit penuh hiasan, pikiran-pikirannya mengalir bagaikan bintang-gemintang yang melesat cepat.’ Lalu Allah SWT membubarkan mereka dan berkata : ‘Qalbu itu berada diantara dua jari-jari Dzat Yang Maha Pengasih.’ Rasulullah,saw., sering melantunkan sebuah doa : ‘Wahai Dia yang membuat hati berubah-ubah, tetapkan hatiku pada agama-Mu.’ Yakni, ‘Tidak ada putra Adam yang hatinya tidak berada diantara dua jari Tuhan. Siapa pun yang Dia inginkan, dibuat-Nya berjalan lurus, dan siapa pun yang Dia inginkan, dibuat-Nya berjalan bengkok.’ Hati berada diantara dua jari Tuhan, diantara keridhoan-Nya dan kemurkaan-Nya, Rahmat-Nya dan Keadilan-Nya. Hati juga bisa selembut malaikat dan segelap syaithon. Kadang-kadang angin rahmat berhembus yang membuatnya senang, dan kadang-kadang angin panas menerjangnya yang membuatnya lelah. Hati menjadi bingung diantara kedua jenis sifat dan kedua keadaan ini. Oleh karenanya hati merupakan pusat seorang manusia. Allah menaruh perhatian khusus kepadanya, dan yang ditilik dari manusia adalah hatinya bukan yang lain, bahkan tindakan-tindakan jawarih manusia yang tidak dibarengi dengan hati bukan merupakan dosa : ‘Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. (QS 033 : 5). ‘Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.’ (QS 002 : 25) demikian pula terdapat hadits yang mengatakan bahwa : ‘Allah tidak melihat badanmu atau bentukmu, melainkan kedalam hatimu.’

Sifat ruh adalah Ilahiyah, bercahaya dan tinggi sedangkan sifat jiwa adalah duniawi, rendah, gelap dan syaithoniyah. Hati sebagai lokus dari keduanya, menjadi berubah-ubah mengikuti angin yang membawanya. Kadang-kadang ia menuju yang tinggi dan menjadi satu dengan ruh dan kadang-kadang ia mendatangi yang rendah dan menjadi satu dengan jiwa. Ketika ia menjadi satu dengan ruh, ia mendominasi jiwa. Selanjutnya tidak ada lagi yang muncul kecuali kesesuaian dan kepatuhan. Ketika menjadi satu dengan jiwa, ia mendominasi ruh. Selanjutnya tidak ada lagi yang muncul kecuali penentangan dan ketidakpatuhan. Berubah-rubahnya hati adalah seperti berubah-ubahnya lingkaran langit, berubahnya peredaran planet-lanet atau galaksi. kadang-kadang ia membawa matahari kebawah dunia dan dunia menjadi gelap, dan kadang-kadang ia membawa dunia kebawah matahari dan membuatnya bercahaya. Ruh itu laksana matahari, jiwa itu seperti bumi dan hati itu seperti lingkaran langit.

Tugas para Syaikh sufi adalah terpusat pada pembersihan hati dari noda bawaan dan noda dunia. Jika dijelaskan metodologi Tarekat Qodriyah wa Naqsyabandiyah dalam upayanya untuk membersihkan hati, maka kitab ini akan menjadi tebal sekali dan membosankan untuk dibaca. Pendeknya, pendidikan keruhanian dan kejiwaan yang shahih hanya dipunyai oleh guru mursyid, seorang syaikh yang mendapat otoritas untuk menyebarkannya. Hati, ruh dan jiwa merupakan sesuatu yang halus yang ada pada manusia, dan hati menjadi tempat (lokus) ruh dan jiwa secara bersama-sama. Sesuatu yang halus hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh indera yang halus pula, sedangkan sesuatu yang kasar hanya bisa didengar dan dilihat oleh indera yang kasar pula, seperti telinga dan mata. Pandangan para syaikh dari tarekat ini terhadap sesuatu yang halus pada manusia (lathifah), terdapat tujuh tingkatan kelembutan, sebagaimana langit diciptakan tujuh lapis, dan demikian pula bumi, serta surga diciptakan tujuh lapis demikian pula neraka. Namun demikian telah dikatakan pada bab-bab terdahulu bahwa hakikat angka tujuh mewakili sesuatu yang banyak dan mendekati tak terhingga. Ketujuh tingkatan kelembutan itu yang pertama adalah Latifatul Qolbi, didalam Latifatul Qolbi ada Latifatul Ruh, didalam Latifatul Ruh ada Latifatul Sirri, didalam Latifatul Siiri ada Latifatul Khofi, didalam Latifatul Khofi ada Latifatul Akhfa, kelima tingkatan kelembutan (lathifah) ini dicipta di alam amr (alam perintah) tanpa evolusi dan terletak disekitar dada manusia. Lalu didalam Latifatul Akhfa ada Latifatul Nafsun Natiqo, didalam Latifatul Nafsun Natiqo ada Latifatul Kullu Jasad. Kedua lathifah yang terakhir disebut ini letaknya disekitar kepala manusia dan mempunyai hubungan dengan anasir, tanah, air, api dan angin. Didalam ketujuh lathifah ini bersama-sama berkumpul sifat-sifat yang mahmudah (terpuji) dan sifat-sifat yang majmumah (tercela), sifat-sifat ketuhanan dan sifat-sifat syaithoniyah, sifat-sifat binatang jinak dan binatang buas. Nah, lokasi tambang kesempurnaan manusia ada pada ketujuh tempat ini, aktifitas menambangannya harus dengan dzikir dan muroqobah. Setiap harinya, paling tidak pada ketujuh tingkatan kelembutan (lathifah) ini berdzikir menyebut ismudzat Allah … Allah … Allah sebanyak 11.000, atau khusus pada latifatul qolbi melakukan muroqobah sebanyak dua puluh (20) tingkatan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Barang siapa mampu masuk dengan benar dua (2) muroqobah awal, yakni ahadiyah dan maiyah maka orang itu telah memasuki awal kewalian, dan bila berhasil memasuki muroqobah yang ke tiga (3), aqrobiyah, maka ia telah memperoleh kewalian sugro atau kewalian kecil. Sedangkan barang siapa mampu memasuki muroqobah ke empat (4), muroqobah al-mahabbat fi al-dairat al-ula, sampai ke tujuh(7), maka ia akan memperoleh kewalian Qubro atau kewalian besar, dan seterusnya bila ia dapat memasuki muroqobah ke delapan (8) sampai ke dua puluh (20) maka ia telah memperoleh kewalian ulya atau kewalian malaikat.’ Yang dimaksud dengan masuk dengan benar dalam muroqobah adalah ia akan merasa dirinya sirna dan berada dalam Haribaan-Nya, dalam lingkaran Kasih dan Sayang-Nya, terus menerus dalam Kehadiran-Nya (Hudurul Haq) dan bersama-Nya. Yang dimaksud dengan kebersamaan dengan-Nya, adalah Allah SWT akan senantiasa menjaga pendengaran, penglihatan dan seluruh tindak tanduknya. Disamping itu Allah SWT akan senantiasa mengabulkan doa dan permintaannya yang terkait dengan urusan dunia atau urusan akhirat. Bukanlah kebersamaan Allah berarti Dzat-Nya menyatu dengan dirinya. Karena kebesaran dan keagungan Dzat Allah mustahil untuk menyatu pada dzat makhluk yang sangat kecil dan hina.

Jika pangkat kewalian tercermin pada tingkatan pekerjaan muroqobah, maka muroqobah bukan pekerjaan biasa, melainkan sebuah anugerah dari Allah SWT. Seorang Syaikh menjadi pena Tuhan tatkala mengijazahkan pekerjaan ini, tak sedikitpun campur tangan darinya, terkecuali doa-doanya saja, yang membuat Allah meridhoi orang-orang yang dimaksud oleh syaikhnya. Sungguh sangat memprihatinkan, saat ini ada sebuah tarekat yang dengan mudah mengijazahkan muroqobah satu (1) hingga dua puluh (20) tingkatan, padahal tak satupun tingkatan muroqobah dapat dimasukinya dengan mudah dan dalam waktu yang singkat, melainkan harus dilakukan dengan riyadhah yang terus menerus dan dibawah pengawasan seorang mursyid, ini wajib hukumnya. Ijazah dzikir-dzikir dan muroqobah hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah khirkoh dalam tarekatnya, bilamana seorang syaikh memberikan izin kepada wakil talqin, hal ini berlaku selama syaikhnya masih hidup, dan jika syaikhnya telah wafat, maka haram hukumnya seorang wakil talqin mengijazahkan pekerjaan tarekat, hal ini berlaku diseluruh tarekat di dunia fana ini. Maka jika ada yang melanggar peraturan keras ini, pekerjaan tarekatnya tidak menghasilkan buah melainkan hanya menuai kelelahan phisik dan menghancurkan keimanan serta menutup pintu amal. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : 'Barang siapa mampu memasuki satu tingkatan muroqobah dengan benar dalam waktu enam bulan, maka ia termasuk manusia yang jenius.' Karena jelas, bahwa jumlah wali itu terbatas dan sangat sedikit serta tidak akan berubah jumlahnya dari saat penciptaan hingga akhir zaman nantinya, kecuali jika Allah berkehendak lain. Dan sangat nyata, bahwa kewalian itu niscaya bisa diperoleh dengan mempersiapkan hati (qolbu) yang bersih nan bercahaya dengan jalan melakukan dzikir-dzikir dan muroqobah. Sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah,ra., yang berkata: "Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, 'Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu tetap mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta pasti Aku beri, jika ia meminta perlindungan, niscaya Aku lindungi.'" Ciri-ciri waliyullah sebagaimana firman-Nya : ‘Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’ QS 010 : 62) dan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : 'Tanda-tanda kewalian melekat pada seseorang, ialah, manakala engkau melihatnya lantas Allah diingat. Dan bila engkau berdekat dengannya, maka seluruh beban yang membelenggu qolbu menjadi sirna.' Semoga Allah SWT mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita semua, Amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.

Senin, 26 Oktober 2009

LAA ILAAHA ILLALLAAH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Allah SWT berfiman : 'Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, (QS 015 : 92)'

Begitu banyak ayat Al Qur’an dan al Hadits yang mengutamakan orang-orang yang berdzikir, meskipun demikian sedikit sekali orang-orang yang mengerjakannya. Tidak mengherankan jika orang-orang yang berdzikir itu mendapatkan keistimewaan. Ini sebuah bukti bahwa sesuatu yang bersifat istimewa berjumlah sedikit walaupun mempunyai fadhilah yang banyak, seperti sebuah ayat didalam Al Qur’an yang menyatakan bahwa ‘Amat sedikitlah kamu bersyukur.’ (QS 007 : 10) walaupun balasan syukur ini adalah bertambah-tambah nikmat dari-Nya dan sebaliknya ancaman bagi orang-orang yang tidak bersyukur adalah azab. (QS 014 : 7). Demikian pula dikatakan bahwa orang-orang yang tidak berdzikir itu adalah golongan yang melampaui batas sebagaimana firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.’ (QS 018 : 28)

Dalam perjalanan mengaji dari Bogor ke Jakarta, Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menyampaikan penjelasan berkenaan dengan ayat diatas, bahwasanya seseorang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah suatu kelak akan dimintai pertanggung jawaban, apakah ia telah mengucapkannya dengan tulus dan telah mengamalkan semua tuntutannya. Sebagaimana sabda Rasulullah,saw : “Kebaikan para pemilik Laa Ilaaha Illallaah senantiasa diterima, sementara kesalahan mereka selalu diampuni dan mereka senantiasa dihindarkan dari musibah berkat Laa Ilaaha Illallaah yang mereka ucapkan, selama mereka tidak berpaling kepada urusan dunia yang dapat mengurangi kesempurnaan agama mereka. Jika mereka berpaling, maka ucapan Laa Ilaaha Illallaah ditolak oleh para malaikat, yang kemudian berkata kepada mereka : ‘Kalian telah berdusta. Kalian bukan ahli Laa Ilaaha Illallaah, kalian mengucapkannya tanpa ketulusan dan tidak benar.’” Ketulusan berarti, melindunginya dari perkara-perkara yang diharamkan, tidak rakus akan dunia, kikir dan menumpuk-numpuk harta, serta berucap dengan ucapan para ulama namun berbuat dengan perbuatan para pendosa. Murid-murid yang mendengar hanya terdiam, seakan-akan kehidupannya berhenti, karena tak satu pun yang mampu memelihara amanah kalimat laa ilaaha illallaah yang telah mereka ucap, semakin banyak dzikir yang dilakukan maka semakin besar pula kebohongan yang telah dibuatnya, bukankah ini sebuah tanda kemunafikan? Sedangkan disuatu kesempatan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa untuk mengikis kemunafikan adalah dengan banyak menyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah. Perjalanan menuju kepada-Nya mestilah didahului oleh sebuah hidayah, dan diperlukan seorang pemandu, karena perjalanannya sangat sulit, licin dan terjal serta banyak musuh menghadang. Manusia tidak ada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya, termasuk didalamnya ketaatan, riydadhah dan mujahadah. Syaikhuna (semoga Allah merhamatinya) berkata : ‘Tidak ada satu pun jalan untuk menuju kepada-Nya, melainkan dengan menafikan atau meniadakan segala sesuatu ciptaan (Laa Ilaaha) dan mengisbatkan atau mengkukuhkan Allah saja (Illallaah) didalam hati, Laa Ilaaha Illallaah.’ Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, para murid wajib mendawamkan dzikir ini dengan sekuat tenaganya, setelah itu berjuang untuk memelihara ketulusannya dan berserah kepada-Nya. Terbunuh selagi dimedan juang adalah syuhada, dan sebaliknya berserah tapa didahului oleh upaya yang gigih adalah kebohongan belaka.

Inilah satu-satunya kalimat yang menembus ciptaan-ciptaan dan sampai bersih kepada Sang Pencipta. Laa Ilaaha Illallaah, segala sesuatu selain Allah adalah realitas palsu, dari dahulu hingga kini dan akan tetap demikian adanya sampai kapanpun, bahkan sebelum waktu itu ada dan sampai dengan waktu itu tidak ada, yang ada hanya Dia. Laa Ilaaha Illallaah, segala sesuatu selain Allah adalah tabir-tabir, atau hijab-hijab. Laa Ilaaha Illallaah, segala sesuatu selain Allah adalah ciptaan (kosmos) dan kosmos meliputi langit dan bumi beserta isinya, baik yang terinderawi maupun yang tidak, baik berupa alam-alam ghaib, makhluk-makhluk ghaib ataupun alam nyata dan makhluk nyata, termasuk gerak gerik lahiriyah maupun batiniyah. Dzat yang mempunyai sifat Wujud, Qidam dan Baqa hanyalah Allah saja, selainnya hanyalah fenomena. Betapa kalimat thoyibah ini mempunyai makna yang sedemikian tinggi dan tuntutan yang sedemikian beratnya. Si pengucap harus bermujadah terus menerus sampai ajal menjemputnya, melawan dengan sungguh-sungguh tabiat alamiahnya, memberhangus nafs dan syahwatnya, agar fana darinya, agar merasa ‘tiada’, dan bersatu dengan-Nya laksana sungai yang bermuara kelautan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) nyaris tak sadarkan diri tatkala memberikan tauziah tentang tauhid, tiba-tiba beliau berhenti berkata-kata dan memekik Hu .. Hu … Hu… tubuhnya gemetar dan terlihat terhuyung-huyung, nyaris pingsan. Keadaan atau maqom kebersatuan ini sangat sulit dicapai, namun bukan hal yang mustahil, pintu untuk memasukinya sangat jelas namun sekilas, laksana kilat dimalam hari. Pintu satu-satunya untuk mencapai kedudukan ruhaniyah yang sedemikian tingginya itu, mewajibkan menyebut-nyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya dan pada setiap kesempatan serta berperang melawan hawa nafsu sepanjang kehidupannya. Menyebutnya dimulai dengan lidah, lalu bersama-sama antara lidah dengan hati, lalu hati saja dan pada akhirnya seluruh unsur yang ada pada sosok manusia (kullu jasad), baik yang lahir maupun batin, semua menyebut kalimat terbaik dialam semesta ini, Laa Ilaaha Illallaah.

Analoginya, seseorang yang tinggal disebuah desa selalu berkata dengan lantangnya bahwa, tidak ada seorang raja pun diatas dunia kecuali engkau. Mendengar dari menterinya bahwa ada seseorang yang selalu berkata seperti itu, sang raja ingin menguji kebenaran ucapannya, dengan memberikan hadiah berupa sebuah pedang, seekor kuda dan sebuah kitab yang berisi perintah dan larangan sebagai bekal untuk mencapai istana raja. Semakin sering orang itu menyebut-nyebutnya maka semakin tajam pedangnya dan semakin gagah kudanya. Meskipun sang raja mengetahui dengan pasti, apakah orang itu berdusta dengan banyak berbuat maksiat, apakah pedang dan kudanya itu digunakan untuk mengikuti hawa nafsunya, apakah pedangnya itu telah digunakan untuk merobek-robek kitab yang diterimanya dan kudanya digunakan untuk menginjak-injaknya, atau sebaliknya, yakni digunakan untuk menebas semua alang-alang, membunuh semua penghadang dijalannya guna mencapai istana raja.

Semua ikrar yang diucap dibutuhkan bukti-bukti, karena ikrar yang tidak diikuti oleh bukti tindakan yang mendukungnya adalah kepalsuan belaka, begitu pula ikrar Laa Ilaaha Illallaah. Bukti ikrar pada tingkat pemula adalah bahwa seluruh jawarihnya tidak digunakan untuk menentang perintah-Nya, lalu tidak melanggar semua yang dilarang-Nya. Sedangkan pada tahapan tertentu, bukti ikrarnya berupa ketenangan dalam menghadapi qadha dan qadar-Nya. Sehingga diharapkan kematiannya dalam keadaan tenang pula, demikian yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw.,: ‘Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dengan tulus ikhlas, niscaya ia masuk surga,’ dan ‘Barangsiapa diakhir perkataannya Laa Ilaaha Illallaah, maka ia masuk surga,’ dan ‘Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga.’

Jika penafiannya sempurna, maka siaplah hati untuk dipahat sedikit demi sedikit dengan ismudzat … Allah … Allah … Allah, sebagaimana firman-Nya : ‘Katakanlah, Allah saja, kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.’ (QS 006 : 91). Imam Sybli,ra., mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mengatakan Allah melainkan Allah sendiri. Dikarenakan setiap orang yang mengatakannya telah mengikuti ucapannya sesuai dengan tingkat intelektualitasnya sesuai dengan maqomnya, sedangkan esensinya jauh sekali dari yang dapat dicapai oleh pendapat pribadinya. Dzikir makhluk kepada-Nya tidak sebagaimana dzikir Allah kepada Dzat-Nya sendiri Yang Maha Suci. Imam Junaid,ra., pernah berkata kepada Imam Nuri,ra., : ‘Wahai Aba al-Husain, cobalah anda teliti apakah ucapanmu (Allah … Allah … Allah) itu dengan Allah ataukah dengan perkataanmu sendiri ? Jika dengan Allah berarti bukanlah anda yang mengatakan kepada-Nya, dan jika dengan perkataanmu, berarti untuk dirimu dan seharusnyalah anda bersama dirimu.’

Namun demikian Syaikh abu Sa’id al-Kharaz,ra., berkata : ‘Diantara orang-orang yang berdzikir ada yang melampaui kadar dirinya hingga mencapai tingkat sirna diri (fana) dan lupa ingatan, menyatu kepada Allah Yang Maha Tinggi, lupa pada kebutuhan dirinya, karena berhadapan dengan Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan. Hingga seandainya tiap-tiap anggota tubuhnya dapat berkata-kata, tentu saja yang diucapkannya ialah Allah … Allah … Allah. Keadaan ini pernah menimpa seorang yang kejatuhan batu besar hingga kepalanya mengucurkan darah. Darah tersebut menggenang di tanah membentuk tulisan Allah.’ Disuatu kesempatan beliau bertanya kepada sebagian sufi : ‘Apakah kesudahan persoalan itu?’ dijawab : ‘Allah.’ Lalu apakah makna jawabanmu (Allah) itu ?’ mereka menerangkan : ‘Yaa Allah, bimbinglah aku kepada-Mu dan jadikanlah agar aku berada disisi-Mu, dan jangan Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang rela dengan sesuatu selain-Mu sebagai pengganti-Mu, dan tetapkanlah hatiku disisi pertemuan-Mu.’

Rabu, 07 Oktober 2009

SABAR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allah SWT berfirman :
Dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,’ (QS 016 : 127)

Rasulullah,saw., bersabda : ‘Sabar itu sebagian dari Iman.’ Dan Ali bin Abi Thalib,ra., berkata : ‘Hubungan antara sabar dan iman, laksana kepala dan badan, badan tidak ada artinya tanpa kepala.’ Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Sabar melekat pada setiap tahapan maqom ilmu kesufian.’Ujaran ini indah sekali, karena berkenaan dengan pokok-pokok tasawuf, makanya tak heran, bila pengajian tentang sabar selalu diulang-ulang dalam perspektif yang berbeda-beda dan dalam tahapan yang belainan pula. Sebagaimana makna daripada sabar itu sendiri, yakni ‘memenjarakan’. Jika yang dimaksud adalah memenjarakan nafsu dari segala syahwat, atau mengekang keinginan-keinginan diri (mujahadah), maka tepat sekali bilamana sabar melekat kepada seluruh tahapan maqom-maqom. Dan pada setiap perubahan peningkatan maqom, akan meningkat pula tingkat kesabaran dan tingkat keimanannya. Sehingga tampak bahwa kesabaran dan keimanan selalu berjalan beriringan, laksana kepala dan badan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) juga pernah berkata bahwa : ‘Tasawuf adalah peperangan melawan hawa nafsu sepanjang kehidupan.’ Nah, bila seseorang memperoleh kemenangan didalam pertempuran melawan musuh besarnya, maka ia akan memenjarakan para tawanannya, agar tidak kembali menyerangnya, atau paling tidak, bila ia kembali berkhianat ia telah menguasai jurus-jurus untuk menundukkannya. Imam Qusyairi al-Naisaburi,ra., berkata : ‘Kesabaran yang diwajibkan kepada seorang hamba adalah kesabaran menerima perintah Allah SWT terhadap dirinya dengan penuh ketaatan, sabar atas apa yang dilarang dan diharamkan, dan bersikap tenang menerima qadha dan takdir-Nya.’ Bukankah apa yang dikatakan oleh Imam yang mulia ini selaras dengan apa yang Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) katakan berkenaan dengan tasawufan rajulu? Yakni, yang pertama menjalankan seluruh perintah Allah SWT dengan keteguhan, yang kedua menarik garis yang tebal terhadap semua larangan-Nya dan yang ketiga ridha terhadap qadha dan qadar-Nya. Lalu yang kedua dijadikan nomor satu, karena banyak manusia yang mampu mengerjakan perintah-Nya, namun sedikit sekali yang meninggalkan larangan-larangan-Nya, atau dengan kata lain bahwa, manusia mampu sabar dalam ketaatan namun tidak mampu sabar dalam kemaksiatan. Dengan ketawadhuannya Syaikh Hasan al-Basri,ra., berkata kepada seorang Badui, bahwa :‘Kesabaranku tak lain kecuali hilangnya kekuatan.’ Karena Rasulullah,saw., telah bersabda bahwa : ‘Sabar yang sebenarnya itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.’ Kesabarannya dalam menghadapi kemalangan dan kepasrahannya menyatakan rasa takutnya kepada api neraka bukan demi Allah semata.

Imam al-Ghazali,ra., pernah mengatakan bahwa Ash-Shabur (Yang Mahasabar) adalah satu sifat Allah SWT, adalah Dia yang tidak tergesa-gesa bertindak sebelum waktunya, namun memutuskan segala persoalan menurut rencana yang pasti, dan mewujudkannya dengan cara-cara yang terlukiskan, tidak menundanya seperti seorang pemalas yang selalu menunda-nunda pekerjaan, tetapi menempatkan setiap sesuatu pada waktu yang tepat, pada saat diperlukan dan sesuai dengan kebutuhannya. Dan semua itu tanpa adanya kuasa yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu hakikat kesabaran adalah tidak terbatas, karena Allah SWT tidak terbatas dan karena sifat-sifat-Nya bersatu dengan Dzat-Nya yang Qadim, tanpa pemisahan. Bagi manusia, kesabaran menjadi terbatas karena dzat dan sifat manusia terbatas, maka sabar bagi manusia adalah diperlukannya ketahanan terhadap dorongan yang menyebabkan tergesa-gesa dan bertindak gegabah, baik dalam mengerjakan perintah Allah SWT (ketaatan), menjauhi larangan-Nya (kemaksiatan) atau dalam menerima qadha dan qadar-Nya.

Kebanyakan orang memahami sabar adalah, menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diingini, ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Faktanya, tidaklah demikian, Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) begitu divonis oleh dokter bahwa, didalam darahnya terdapat virus hepatitis, malah bersuka cita, dan sebaliknya, tidak ada seorang murid pun, yang tidak berduka dan turut prihatin mendengar sang guru terjangkit penyakit yang pelan tapi mematikan itu. Para murid berlomba memberikan informasi dan mendatangkan dokter spesialis yang akhli dalam menangani penyakit ini. Sikap dan gerak hati seorang syaikh yang demikian itu terdengar absurb bagi orang awam, namun biasa bagi para sufi, sehingga sabarnya orang awam didalam menghadapi penderitaan, adalah syukurnya bagi para sufi. Dikarenakan, mereka mempunyai keyakinan bahwa, penderitaan adalah salah satu tindakan Tuhan guna menarik seseorang untuk berdekat kepada-Nya. Banyak murid yang tidak meyadari keadaan gurunya ini, bahkan ada yang mengajaknya berziarah ke Yerusalem dan Turki, meskipun syaikh dalam keadaan yang demikian itu dan harus menyuntikkan obat pada setiap seminggu sekali. Jadi, ini bukan tindakan menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya dari penglihatan orang lain, tetapi keadaan ruhaninya memang demikian adanya. Syaikh selalu mementingkan kepentingan murid-muridnya dan tidak berpikir untuk mementingkan kesenangan dirinya, dan ini bukan derajat sabar biasa, melainkan kesempurnaan penafian diri, sehingga bagi awam adalah rintihan, sedangkan baginya adalah pujian kepada Tuhan. Karena merintih bagi seorang syaikh adalah tabu, sebagaimana Nabiyullah Ayyub,as., pernah menerima wahyu dari Allah SWT : ‘Hai Ayyub! Mengapa engkau mengadukan Daku?’ Nabi Ayyub,as., bertanya : ‘Ilahi! Kepada siapa daku mengadukan perihal-Mu, sedangkan suara rintihanku tidak pernah terdengar oleh orang lain?’ Allah SWT menjawab : ‘Engkau mengadukan diri-Ku kepada musuhmu yang paling besar, yaitu dirimu sendiri.’ Setelah beberapa lama dalam perawatan dokter dan kemudian dinyatakan sehat, seorang salik memekik dan berkata kepada Syaikhuna : ‘Sungguh tiada kegembiraan seperti yang kualami pada hari ini, bahwa syaikh telah sehat kembali.’ Mendengar itu, Syaikhuna hanya terdiam, lalu setelah diucap yang ketiga kalinya oleh sang salik, beliau berkata : ‘Apakah saya juga harus bergembira seperti engkau, padahal hatiku menangis karena kesempatan itu pergi.’

Kisah diatas dapat dipahami bahwa sabar itu bertingkat-tingkat dan dapat diupayakan. Menjadi luas maknanya dan tidak saja dikaitkan kepada hal-hal yang berkenaan dengan penderitaan, melainkan keteguhannya didalam mengekang segala bentuk keinginan-keinginannya yang menggebu-gebu (syahwat). Rasulullah,saw., bersabda : ‘Sungguh aku lebih khawatir jika kalian mendapatkan fitnah (ujian) yang menyenangkan dibanding ujian yang menyengsarakan.’ Abdurrahman bin ‘Awf,ra., berkata : ‘Ketika kami mendapat ujian yang menyulitkan, kami dapat bersabar, tetapi ketika kami mendapat ujian yang menyenangkan, kami tidak kuasa bersabar.’ Syaikh Abu Sulaiman,ra., berkata : ‘Demi Allah, kita tidak dapat bersabar dengan apa yang kita sukai, jadi bagaimana pula halnya dengan apa yang tidak kita sukai.’ Orang yang keluar dari kesenangan dalam keadaan istiqomah dijalan yang benar, maka derajatnya lebih tinggi daripada orang yang keluar dari kesulitan dalam keadaan istiqomah. Karenanya para syaikh sufi mengelompokkan sabar kedalam kategori maqom, sesuatu yang para salik dapat teguh didalam kesabaran, dengan selalu memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditimbulkan dari maqom sabar ini, tanpa sekalipun menyia-nyiakannya. Didalam al-Qur’an banyak dijumpai perintah untuk bersabar, namun bila dicermati perintah sabar itu ditujukan bagi orang biasa dan orang khusus, jika dijumpai dalam firman-Nya perintah : ‘Dan bersabarlah’ maka ini ditujukan untuk semua orang yang beriman sebagai perintah untuk beribadat, dan bisa dikatakan sebagai ‘tafriqah’ atau ‘pemisahan’ karena melibatkan perbuatan-perbuatan manusia, sedangkan firman-Nya : ‘Dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,’ (QS 016 : 127) ini ditujukan kepada kelompok orang mukmim sebagai bukti ubudiyahnya dan dapat dikatakan sebagai ‘jam’ atau persatuan, yakni tanpa melibatkan perbuatan manusia melainkan karena karunia-karunia Ilahi.

Selasa, 22 September 2009

SEDIH

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Syaikh Fudhail bin Iyad,ra., berkata bahwa : ‘Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang.’

Semua manusia tentu pernah merasakan kesedihan, lalu dengan apa kualitas kesedihan itu bisa diukur? Pertanyaan ini terdengar absurb, namun seseorang bisa melihat apakah dalam kesedihannya ada ratapan kepada Tuhan atau terhadap dunia. Nah, bilamana ratapan kepada Tuhan mendominasi kesedihannya maka kualitasnya semakin baik, dan sebaliknya, semakin buruk bila ratapan tertuju kepada dunia. Oleh karenanya, tatkala Yusuf,as., dikabarkan wafat oleh saudara-saudaranya, orang tuanya, yakni Nabiyullah Yakub,as., meratap dengan kerasnya dan membuat matanya menjadi rabun, sebagaimana firman Allah SWT : 'Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena Kesedihan dan Dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).’ (QS 012 : 84)

Penderitaan, penyakit, kesedihan atau rasa sakit yang merisaukan adalah tentara-tentara Allah SWT guna mengampuni dosa-dosa manusia, anehnya, setiap manusia yang terjangkit salah satu darinya malah memohon kepada Allah untuk segera melenyapkannya. Seperti anak kecil yang menolak minum air susu ibundanya, padahal itu untuk kesehatannya, untuk pertumbuhannya dan untuk kekebalannya terhadap serangan penyakit. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : ‘Semakin engkau banyak melakukan dzikir-dzikir semakin sering engkau dihinggapi rasa sedih dan semakin banyak pula air mata bercucuran.’ Dan beliau berkata : ‘Berdzikir Jahr-lah diwaktu Subuh sebanyak 2000X dan diwaktu Magrib sekurang-kurangnya 2000X, lalu rasakan perubahan didalam jiwamu.’ Sudah banyak murid yang melaksanakan perintah ini, dan benar! Jiwa ini mudah tersentuh dan mata ini mudah sekali meneteskan air mata, khususnya bila menyebut atau mendengar Ismudzat (Allah) atau berbagai nama lain yang indah dari Rasul Allah, serta nama para masyaikh terdahulu dan tentunya nama guru tercinta, Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya). Ini sebuah bukti bahwa, kesedihan bisa diusahakan, oleh karenanya para sufi mengelompokkannya kedalam sebuah 'maqom' bukan 'hal'.

Kesedihan adalah sifat para akhli penempuh jalan keruhanian, sedangkan kealpaan adalah sifat manusia awam pada umumnya. Dengan kesedihan, Allah SWT bermaksud menyelamatkan hati orang-orang mukmin dari lembah kealpaan. Sedangkan orang awam semakin jauh tersesat karena yang dicari adalah kesenangan. Kesedihan adalah kendaraan untuk menempuh perjalanan dalam waktu satu hari yang biasa ditempuh oleh orang awam dalam waktu satu tahun. Dalam Kitab Taurat disebutkan : ‘Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan sesuatu penyedih dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka ditempatkan-Nya sebuah seruling dalam hatinya (keinginan untuk bernyanyi).’ Sedih bagaikan raja, bilamana ia menduduki tahta kerajaan hati, maka tidak ada lagi ruang yang tinggal bersamanya. Jika raja meninggalkan tahta, maka lambat laun kekuatan ruhaninya akan roboh.

Jika diperumpamakan bahwa ruh adalah makrokosmos dan badan ini adalah mikrokosmos, maka mendung adalah kesedihan, meskipun alam semesta tampak gelap dan berduka, namun air hujannya ditunggu bumi, guna menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghidupi semua makhluk. Begitu pula kesedihan, walaupun menyesakkan dada namun setiap airmata yang menetes Allah akan mengampuni setiap dosa-dosa yang dibuatnya. Imam Sary as-Saqoti,ra., berkata : ‘Aku ingin seandainya, kesedihan seluruh manusia dimuka bumi ini ditimpakan kepadaku.’ Dikatakan bahwa Rasulullah,saw., selalu berada dalam keadaan bersedih dan merenung sepanjang kehidupannya, sebagaimana firman Allah SWT : ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.'(QS 009 : 128) Begitu pula Syaikh Hasan al-Basri,ra., dan Syaikh Fudhail bin Iyad,ra., sehingga tatkala mereka wafat, sahabat-sahabatnya berkata : ‘Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi.’