Jumat, 14 Oktober 2016

FAQIR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Enam belas tahun yang lalu, Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) beserta beberapa muridnya berziarah ke Lubuk Linggau, mengunjungi muridnya yang baru membuka kholaqoh dzikir disana. Setibanya, sebagian murid menjerit dan menangis melihat keadaan kehidupannya, mereka tinggal di tengah hutan dengan rumah yang sangat sederhana, tanpa daun pintu dan jendela, hanya ditutup dengan kain. Kami heran, bagaimana bisa mereka menjalani kehidupan yang demikian tanpa memperlihatkannya dan tanpa meminta. Keadaan ini sangat kontras dengan keadaan murid-murid yang datang kesana, baginya kemiskinan merupakan momok yang sangat menakutkan sedangkan bagi murid-murid yang berada disana telah mengalaminya tanpa berkeluh kesah dan wajah-wajahnya memperlihatkan kegembiraan. Apakah murid-murid di Lubuk Linggau telah masuk kedalam maqom faqir atau karena terbiasa dengan kehidupan yang demikian, kami tidak mengetahui namun mengharapkannya, agar kami dapat belajar darinya.

Dua kitab tasawuf kuno yaitu Al Luma karya Syaikh Abu Nassir As Sirrad,qs., dan Qutub Qulub karya Syaikh Abu Thalib al Makky,qs., merupakan kitab rujukan bagi kitab-kitab tasawuf terkemudian. Al Luma menjadi referensi bagi Imam Qusyairi,qs., dalam menyusun kitab Risalatul Qusyairah dan Qutul Qulub menjadi dasar penyusunan beberapa kitab karya Imam Al Ghazali,qs. Pengajian bulan September 2016 membahas tentang faqir dari kitab Al Luma yang disampaikan oleh Ustadz Yordanis Salam. Guru kami tercinta Syakh Waasi’ Ahmad Sayechudin (semoga Allah merahmatinya) menyederhanakan pembahasan tersebut dengan mengatakan bahwa : ‘Faqir adalah tidak punya apa-apa,’ dan ‘merasa dicukup-cukupkan.’ Maksudnya adalah, orang yang tidak punya apa-apa adalah miskin, yang membutuhkan harta benda dunia, sehingga selalu berada dalam lautan kesulitan, namun membatasi diri dari meminta-minta. Tentunya yang dibutuhkan untuk menopang kehidupannya adalah sandang, pangan dan tempat tinggal. Kondisi yang demikian ini berlangsung terus menerus dan dalam waktu yang lama. Namun demikian ia tetap berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mendapatkannya. Akan tetapi, acap kali apa yang diperolehnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Orang yang beriman diperintahkan untuk bersedekah kepadanya. Dibutuhkan mata batin untuk dapat melihat orang yang faqir. Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman: ‘Bersedekahlah bagi orang-orang fakir yang terikat pada jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha di bumi (mencari penghidupan). Orang yang tidak tahu, mengira mereka itu orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Engkau dapat mengetahui dengan tanda-tanda mereka; tidak meminta kepada manusia berulang-ulang. Dan apa-apa yang kamu nafkahkan dari harta maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.’ (QS 002 : 273)

Dan jika yang diharapkan tak kunjung tiba setelah melakukan upayanya yang maksimal, maka ia akan melepaskan upayanya dan hanya berpaling hanya kepada Allah SWT semata. Nah, jika sang faqir menanggung semua kesulitannya demi Allah SWT, itu adalah sebuah kemuliaan. Sedangkan jika mengandalkan upayanya agar terbebas dari kesulitan, maka ini disebut sebuah kehinaan, karena ia menuhankan dirinya sendiri. Kefakiran mempunyai bentuk dan makna, bentuknya adalah kemiskinan dan maknanya adalah merasa membutuhkan Allah SWT. Oleh karenanya meskipun seseorang yang kaya harta benda dunia namun keadaannya selalu membutuhkan Allah SWT saja, maka ia dapat disebut sebagai faqir secara hakikat. Sedangkan jika yang dibutuhkan pujian dari makhluk maka ini merupakan kehinaan baginya. Rasulullah SAW bersabda :“Yang disebut miskin bukanlah orang yang pekerjaannya mengemis keliling kampung, sehingga tertolak dari satu dua suap nasi atau satu dua biji kurma. Namun miskin menurut definisi Islam harus ditolong dan diperhatikan, yaitu orang yang tiada usaha/tidak punya penghasilan tetap untuk mencukupi nafkahnya, dan tidak mengundang perhatian umum untuk disantuni/ disedekahi dan tidak pula keliling mengemis ke pintu setiap orang”.

Dalam dunia kesufian, faqir merupakan sebuah maqom yang tinggi, bahkan di abad kesembilan, kefaqiran menjadi kebanggaan orang-orang yang bertasawuf. Para dawisy memakai pakaian yang bertambal sebagai lambang kafakiran, mereka tidak mencari nafkah melainkan mengabdikan dirinya dengan melakukan peribadatan yang keras. Masyarkat Islam terdahulu sangat memuliakan mereka lantaran bekas-bekas peribatannya Nampak pada wajahnya yang bercahaya dan bukan karena kemiskinannya. Tidak mungkin menjelaskan kefaqiran tanpa menjelaskan tentang sabar terlebih dahulu, karena mustahil seseorang dapat mencapai maqom faqir tanpa melalui maqom sabar. Syaikh Abul Al Hasan Nuri,qs., menggambarkan ciri seorang yang fakir adalah bilamana dia tidak memperoleh apa pun, dia diam, dan bilamana dia memperolah sesuatu, dia memandang orang lain lebih berhak memperolehnya dari pada dirinya, sehingga karenanya dia mudah memberikannya.

Menurut Syaikh Abu Nassir As Sirrad,qs., tingkatan tertinggi maqom faqir adalah bilamana ia tidak meminta apa pun kepada seseorang, baik secara lahir maupun batin dan tidak menunggu apapun dari seseorang. Jika diberi sesuatu ia tidak mengambilnya. Tingkatan kedua sama dengan tingkatan tertinggi namun jika diberi ia akan menerimanya. Sedangkan yang terendah adalah ia merasa senang mengungkapkan keadaannya kepada sebagian sahabatnya, tanpa berharap mendapatkan bantuan darinya. Lalu sebagai kaffarah ia bersedekah.
Imam Junayd,qs., berkata bahwa tanda-tanda orang fakir yang jujur adalah tidak meminta dan tidak memperlihatkan tanda kefakirannya dan jika ditawari ia terdiam.

Sedangkan Syikah Sahl bin Abdullah,qs. Berkata bahwa seorang fakir yang jujur adalah ia tidak meminta dan tidak menolak bila diberi serta tidak pula menyimpan apa yang diterimanya.

Tidak ada satupun orang yang bertasawuf tanpa melalui tahapan kefakiran, oleh karenanya begitu pentingnya kefakiran ini, ada beberapa syaikh yang berani berpendapat bahwa kefakiran mengungguli kesucian.

Demikian para sahabat semoga bermanfaat.


Jumat, 19 Agustus 2016

WARA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian Jum’at malam dan Sabtu sore membahas tentang wara dari kitab Al luma karya Syaikh Abu Nashr as Sarraj,qs. Yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengawalinya dengan memuji Allah SWT dan bershalawat atas manusia teragung sepanjang masa sayidina Muhammad Rasulullah,saw., lalu mengucap syukur atas terbentuknya qolaqoh dzikir dan di akhiri dengan mengajak murid-muridnya untuk memulai wara agar di kemudian hari Allah SWT berkenan menjadikannya sebuah keteguhan atau maqom.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Mari kita periksa sudah sampai dimana tingkat wara kita?’ Wejangan ini merupakan sindirian yang tajam, tetapi banyak murid yang tidak menyadarinya, malah wajahnya berbinar-binar tatkala mendengar itu, seolah-olah ia sudah berada pada tingkatan ini. Salah satu syarat wara adalah mengetahui dan memahami ilmu fiqih secara baik, sehingga dapat menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kedudukan hukum agama. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Kuasailah ilmu syariat terlebih dahulu baru kemudian bertasawuf.’ Wara termasuk maqom yang tinggi didalam bertasawuf, sebagaimana nama tasawuf itu sendiri yang dimulai dengan huruf 't' yang maksudnya adalah taubat sebagai syarat wajib untuk mengawali alam kesucian, lalu huruf 's' yang maksudnya syukur yaitu tidak menggunakan seluruh failitas dari Allah SWT untuk berbuat maksiat, lalu 'w' yaitu wara yang akan dirinci di bab ini dan kemudian huruf ‘f’ yang berarti fana atau musnah dari sifat kedirian atau sifat ego. Ujung daripada pencapaian bertasawuf adalah fana, namun ada beberapa syaikh yang menyebut ‘ridho’. Sehingga dapat diketahui jarak yang jauh antara wara dengan ridho. Tidaklah mungkin menjelaskan wara dicampur dengan ridho. Insya Allah bila cukup umur di bab berikutnya akan diterangkan mengenai fana dan ridho.

Semua tingkatan dalam bertasawuf berkaitan dengan mujahadah, oleh karenanya wara adalah salah satu bentuk mujahadah atau salah satu bentuk perjuangan melawan diri sendiri dari meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang tidak berarti, dan apa pun yang berlebihan, baik secara lahir maupun batin. secara lahir wara adalah meninggalkan segala penglihatan yang tidak mengingatkannya kepada Allah, menutup telinga dari segala bentuk penjelasan yang tidak membicarakan Allah, dan ia juga menjauhkan tangan dari segala hal yang tidak memiliki arti di hadapan Allah. Sedangkan secara batiniyah wara dapat dikatakan menjauhkan diri dari segala pikiran yang tidak dapat membuat mencapai Allah, termasuk didalamnya meninggalkan cakap-cakap hati selain Allah. Nah, setelah mengetahui wara secara ilmu pengetahuan, sekarang pada gilirannya memeriksa tingkat wara kita, sebagaimana yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pertanyakan di awal bab ini. Jangankan meninggalkan yang meragukan (syubhat) yang dilarang agama saja masih kita langgar. Contohnya, kita masih suka berbohong guna pencitraan agar dianggap orang alim, untuk mempertahankan sanjungan dari makhluk. Kita masih senang menggunjing, kita masih tidak memperdulikan saudara-saudara yang dalam keadaan perang, tidak menolong saudara-saudara kita yang terusir dari tanah airnya. Kita tidak membantu sahabat yang sedang susah, tetangga yang mengeluh dan anak-anak yatim yang perlu biaya sekolah dan makan ataupun orang tua jompo yang perlu perawatan. Kita masih senang membakar uang, menonton acara tv berlebihan, pergi plesiran, makan banyak, tidur lama, menumpuk uang dan harta benda serta benda-benda kesenangan dan masih banyak lagi. Melepas topeng kepura-puraan adalah sebagian dari wara namun sulit dilakukan, agar Allah SWT tidak melucutinya dihadapan semua makhluk, agar menyadari betapa rendahnya kita, betapa tinggi kedudukan para syaikh sufi dan betapa Maha Tingginya Allah SWT.

Merupakan sesuatu yang janggal bila seseorang mengaku mencapai maqom wara tetapi masih berharap dan meminta sesuatu kebutuhan dunia kepada makhluk bukan kepada Allah, baik secara secara terang-terangan atau pun dengan cara isyarat-isyarat. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.’
Khawatir terjerumus kedalam hal-hal yang haram biasanya para akhli tasawuf mengurangi atau membatasi makan, minum, tidur, dan berkata-kata dan mengutamakan ibadah yang bersifat ruhani, seperti berdzikir khafi, menghindari pikiran, perasaan, dan prasangka negatif. Dua di antara tiga pembatasan itu, yakni makan dan tidur, merupakan satu paket. Sebab, orang yang banyak makan biasanya banyak tidur pula. Karena itu dalam laku wara biasanya kedua hal tersebut dihindari. Yang sangat diajurkan dalam wara adalah perilaku sedikit bicara. Sebab, orang yang banyak bicara akan semakin banyak pula salah dan khilafnya. Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq,ra., memberi keteladanan dengan mengulum batu setelah mendengar sabda Rasulullah SAW, "Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, falyaqul khairan au liyashmut (Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, bicaralah yang baik-baik saja, atau lebih baik diam).”

Kisah, seorang ulama sedang berjalan melintasi sebuah jalan di Basrah dan dilihatnya beberapa orang syaikh sedang duduk, sementara beberapa pemuda bermain di dekatnya. Bertanyalah ulama itu: ‘Apakah kalian tidak malu bermain di depan para syaikh?’ Salah satu pemuda itu menjawab : ‘Wara para syaikh ini demikian kecil hingga kami memandang kecil mereka.’ Bagaimana mungkin para pemuda ini dapat melihat yang demikian? Karena pemilik wara akan terlihat pada perilaku kesehariannya. Semakin hebat kualitas waranya, maka semakin tinggi pula kualitas ketaatan beribadahnya dan berlaku sebaliknya. Orang yang wara tentu akan meninggalkan keraguan bukan menciptakan keraguan yang disebabkan oleh bicara dan perilakunya berbeda, karena keadaan batinnya berlawanan dengan perilaku lahirnya. Sebagaimana sabda Rasulullah,saw., : ‘Bersikaplah wara, dan kamu akan menjadi orang yang paling taat beribadah di antara umat manusia.’

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Bahwa wara adalah bersikap waspada atau bersikap hati-hati terhadap kehidupan ini.’ Kemudian beliau juga berkata bahwa hasil daripada puasa adalah sikap wara. Puasa adalah keberpantangan dari yang halal pada siang hari, sedangkan wara meninggalkan yang meragukan, yang tidak berarti dan yang berlebihan pada setiap waktu, baik secara lahir ataupun batin. Jika demikian dapat dikatakan bahwa wara adalah bentuk dari pada keadaan khalwat yang terus menerus. Syaikh Hasan al Basri,qs., berkata bahwa : ‘Bobot sebutir wara yang cacat adalah lebih baik ketimbang bobot seribu hari berpuasa dan shalat.’

Semoga Allah menolong kita untuk dapat belajar menjalankan wara dengan benar dan istiqomah, agar tidak menjadi pengetahuan saja. Karena pengetahuan bisa lupa, sedangkan perbuatan wara seperti menanam sebuah bibit yang akan tumbuh menjadi pohon zuhud dan buah ketaatan. Jika bibit tidak ditanam akan percuma seperti pengetahuan yang tidak diamalkan. Oleh karenanya Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengutip sebuah hadis yang mengatakan bahwa : ‘Barang siapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, maka Allah akan mewariskan ilmu yang belum diketahuinya.’

Demikian para sahabat semoga ada manfaatnya.

Selasa, 26 Juli 2016

DZIKIR JAHR - DZIKIR YANG BERSUARA

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Seorang murid yang baru beberapa kali menghadiri kholaqoh dzikir mendapat ijazah dari guru kami tercinta syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berupa dzikir jahr (dzikir yang bersuara) dan dzikir lathaif (dzikir yang tidak bersuara). Sang murid hanya bisa terbengong-bengong, karena baru pertama kali mendengar nama-nama itu dan baru mendapatkan pekerjaan yang terasa asing baginya, meskipun ia pemeluk Islam sejak kecil. Yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menangkap keadaan ini dan berkata : ‘Insya Allah setelah upacara dzikir jahr selesai, akan dijelaskan makna dan tatacaranya.’ Mendengar ini sang murid merasa lega.

Dzikir jahr atau dzikir yang bersuara yang disertai dengan gerakan kepala, dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama, banyak hadis yang menerangkan keutamaan dari pada dzikir ini. Jika dikerjakan secara bersama-sama, Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai ‘raudhah min riyadhil Jannah atau taman dari pada taman surga’. Disebut demikian karena orang-orang yang berada didalamnya diampuni seluruh dosa-dosanya, sebagai gambaran seperti penduduk surga. Dzikir Jahr yang demikian adalah salah satu metodologi dari sebuah tarekat untuk mengingat Allah, sebelum memasuki dzikir lathaif, dengan cara mengulang-ulang menyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah, yang bertujuan agar hatinya tercerahkan dan bersih dari noda-noda yang melekat. Pada saat menyebut ‘Laa ilaaha’ (tiada yang lain yang aku sembah), yang mempunyai makna me-nafy-kan atau meniadakan segala sesuatu selain Allah, kepala digerakkan kearah bahu kanan, lalu disaat menyebut ‘Illallaah’ (kecuali Allah), yang maksudnya meng-isbat-kan atau mengkukuhkan hanya Allah saja kedalam latifatul qalbi, kepala diarahkan sambil dipalukan ke dada (shadr) tepatnya dua jari dibawah susu sebelah kiri, disinilah tempatnya hati yang batin atau latifatul qalbi.

Al Qur'an memberitahukan bahwa setelah ruh bersatu dengan jasad, terdapat subtansi yang halus atau lembut yang disebut hati. Hati adalah sebuah kelembutan yang mencakup seluruh lapisan batin manusia. Ada yang lebih kasar darinya dan ada yang lebih lembut. Seperti sebuah rumah, ada bagian luar yang disebut pagar, halaman, lalu bagian dalam rumah ada kamar, lemari dan peralatan lainnya. Setiap bagian mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Sesuatu yang lebih berharga akan ditempatkan dan disembunyikan didalam kamar yang khusus. Demikian pula dengan hati manusia, kesadaran atau pengetahuan yang lebih tinggi, ditempatkan didalam hati yang lebih kokoh, lebih khusus, lebih terjaga, lebih tersembunyi dan lebih tertutup. Istilah hati bagi orang awam mewakili penyebutan semua lapisan itu, sebagaimana rumah. Terdapat hadis qudsi yang mengatakan : 'Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) itu ada istana, disitu ada dada, didalam dada ada al-qalb, didalam qalb ada fu’ad, didalam fu’ad ada syaqaf, didalam syaqaf ada lubb, dan didalam lubb ada sir, sedangkan didalam sir ada AKU.’

Jika terdapat ‘Cahaya’ dilapisan terdalam pada diri manusia, seharusnya manusia bergerak diatas bumi ini sesuai dengan yang di kehendaki-Nya, namun faktanya tidak demikian, justru manusia bergerak kearah sebaliknya. Allah SWT mengendaki yang demikian untuk menguji manusia, sebagai pembeda daripada makhluk-makhluk lain, apakah ia berkemampuan dengan potensi-potensi yang ada dalam dirinya menjadi khalifah dimuka bumi ini. Allah SWT berfirman : ‘Dan Allah berbuat demikian untuk menguji apa yang ada dalam dadamu (shadr) dan untuk membersihkan apa yang dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS 003: 154).’ Allah SWT memperlihatkan, tanpa pertolongan-Nya tak ada satupun manusia yang mampu lepas dari jerat ini, semuanya akan binasa mengikuti keinginan jiwanya. Kesadaran inilah yang dikehendaki-Nya, maka dengan sifat Maha Kasih dan Maha Penyayang-Nya serta adanya taufik dan hidayah-Nya, Dia akan memilih manusia yang dikehendaki-Nya, untuk mampu berperang melawan dirinya sendiri sampai mati egonya dan hidup disisi-Nya. Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai ‘mutu qobla anta mutu, matilah engkau sebelum engkau mati.’ Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ‘Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.’ (QS 002 : 154). Inilah gambaran orang yang mati secara maknawi tetapi hidup bersama Tuhan-Nya (baqa). Ia terbunuh oleh cahaya cinta-Nya, oleh api perlawanan terhadap hawa nafsunya, oleh pedang tauhid, oleh cahaya mengikuti kebenaran dan api rindu.

Lapisan yang lebih kasar dari hati adalah shadr atau dada, tetapi bukan dada dalam bentuk lahiriyah melainkan yang batiniyah seperti halaman atau pekarangan pada rumah. Sebagaimana fungsi pekarangan, menampung banyak sampah dari tumbuh-tumbuhan, debu, kotoran hewan dan hewan yang tidak diundang ataupun orang lain serta syaithon. Apa yang masuk kedalamnya jarang terasa, seperti yang masuk kedalam shadr berupa sifat dengki, syahwat dan angan-angan. Secara umum fungsi shadr dapat dikatakan berkumpulnya sesuatu yang baik dan yang buruk atau tempak masuknya cahaya Islam dan berkuasanya nafsul ammarah atau yang selalu mengajak kepada kejahatan. Oleh sebab itu, kesempitan dan kelapangan dikaitkan dengan dada (shadr) bukan pada hati (qalb), sebagaimana Allah SWT berfirman ‘Maka bisa jadi engkau meninggalkan sebagian dari yang diwahyukan kepadamu dan dadamu (shadr) merasa sempit karenanya. (QS 011: 12).’ Dan : ‘Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu (shadr) karenanya. (QS 007 : 2).’ Dan : ‘Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu (shadr). (QS 094 : 1).’

Jika didalam shadr terdapat banyak angan-angan dan tamu yang tidak diundang, maka pengetahuan yang diperoleh melalui panca indra, yaitu mata dan tekinga akan mudah lupa, karena cahaya hati tidak akan sampai kepada jawarih atau panca indra manusia dengan sempurna, sebagaimana cahaya matahari yang terhalang oleh awan. Sehingga jawarih bergerak tidak sebagaimana yang diharapkan oleh hati atau syariat agama. Jawarih akan mengikuti keinginan jiwa yang cenderung kepada dunia. Oleh karenanya, benda-benda asing yang berada di shadr harus selalu dibersihkan, atau halaman rumah harus disapu pada pagi dan sore hari. Pembersihnya berupa suara kalimat Laa Ilaaha Illallaah. Itulah mengapa guru kami tercinta Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mengharuskan murid-muridnya untuk mengerjakan dzikir jahr ini dengan serius dan istiqomah pada waktu pagi dan petang, dengan mengikuti tatacara yang benar. Mengapa harus bersuara bukankah Allah itu Maha Mendengar? Ya benar, tetapi hati kita yang menjadi tuli, seperti cermin yang buram karena terlalu banyak kotoran di lapisan luarnya atau di pekarangannya atau di shadr-nya. Sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu atau disapu dengan suara kalimat Laa Ilaaha Illallaah, agar cermin hati dapat memantulkan cahaya ilahi kedada (shadr) dan kemudian ke jawarih. Baru kemudian bila shadr-nya sudah bercahaya, maka cermin hati atau latifatul qolbi diisi atau dipahat dengan dzikir lathaif, dzikir yang sangat halus dan lembut tanpa suara dengan mengingat sambil menyebut Ismudzat, Allah … Allah … Allah, menyebutnya menggunakan lisan hati atau lisan batin bukan lisan lahir.

Demikian para sahabat, semoga bermanfaat.

Rabu, 20 Juli 2016

JILBAB

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Di kereta api seorang wanita berjilbab ditangkap oleh yang berwajib, pasalnya ia kepergok mencopet. Sang korban terheran-heran, bagaimana bisa wanita yang berjilbab mencuri? Jika sang pencopet memakai topeng hitam dan membawa senjata, maka orang akan menghindarinya, karena ciri-cirinya dikenali sebagai penjahat. Tetapi tidak demikian dengan wanita yang berjilbab, ia mengelabui penumpang dengan perilaku yang sopan agar tidak dicurigai atas apa yang akan diperbuatnya, agar dirinya dianggap sebagai penganut agama yang taat. Dengannya akan lebih memudahkan melakukan niat jahatnya. Jilbab yang seharusnya digunakan sebagai penutup aurat guna memperoleh ridho-Nya, malah digunakan sebagai penutup kejahatan yang memicu kemurkaan-Nya. Kejahatan yang berkedok agama sedang marak di negeri kita ini.

Bayangkan, bagaimana jika dilakukan oleh seorang yang dianggap sebagai kyai, ustadz atau ustadzjah, padahal hanya sedikit menghafal ayat Al Qur'an dan hadis dari buku dan tidak pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren ataupun di perguruan tinggi. Jilbabnya berupa pengetahuan tentang syariat agama, mencopetnya dengan cara menjual kata-kata indah, target korbannya adalah para jamaah. Modusnya dengan cara, membesar-besarkan fadhilah tentang amal dan menyampaikan ancaman tentang tempat kembali orang-orang yang kikir, yakni neraka jahanam. Cara ini cukup jitu, banyak jamaah yang secara sukarela atau terpaksa mengeluarkan harta bendanya. Kejahatan jenis ini banyak muncul di tv, sebagai media yang tepat sebagai sarana pencitraannya. Ibu-ibu sangat menggemari acara-acara ini, berdalih mendengarkan atau hadir dalam pengajian, sebagai alasan kepada suami guna lari dari memenuhi kewajiban utamanya. Hukum Negara tidak menyentuh masalah ini, karena niat tidak terlihat, tetapi hukum agama jelas melarangnya. Baru-baru ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa agar tidak memanggil pendakwah yang memasang tarif tinggi. Ironisnya masyarakat kadung menyebut para pendakwah yang memasang tarif sebagai ulama. Rasulullah,saw., pernah bersabda : 'Ulama itu adalah orang-orang yang dipercaya oleh para Rasul, selama tidak mukhallathah (dikendalikan) oleh penguasa yang dzalim, dan selama tidak menjadikan dunia sebagai tumpuan hidupnya. Apabila mereka dikendalikan oleh para penguasa yang dzalim, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat terhadap Allah dan Rasulnya. Karena itu, jauhilah mereka itu.' Imam Al-Ghazali telah membagi ulama menjadi dua kelompok, yaitu ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia adalah orang yang mencari kedudukan, kehormatan dan kesenangan duniawi dengan menggunakan ilmunya, sedangkan ulama akhirat bersikap sebaliknya. Iblis laknatullah pernah berkata kepada Rasulullah,saw., bahwa selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.

Lebih jauh lagi dengan cara yang teramat halus, dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai seorang pembimbing ruhani, padahal ia tidak pernah di khirkhoh dari sebuah tarekat yang mutabaroh. Jilbabnya berupa ilmu keruhanian, ilmu tentang seluk beluk hati, mencopetnya dengan cara menyampaikan pengetahuan tentang keutamaan memusuhi dunia (zuhud) dan merasa cukup (qona’ah). Dengan cara yang apik, menceritakan kedekatan Tuhan dengan para syaikh sufi yang melakukannya, menekankan tentang keajaiban-keajaibannya dan berperilaku seolah-olah dirinya dalam keadaan yang sudah demikian. Padahal batinnya berlawanan dengan bicaranya, disuruhnya jiwa orang untuk memusuhi dunia (zuhud) dan merasa cukup (qona'ah), namun justru ia mengharapkan kenikmatan dunia dan serakah. Imam Junayd,qs., meraknya para sufi telah memperingatkan hal yang demikian sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Seorang ulama mengatakan : ‘Jika ulama menjadi kaya setelah miskin, saya ingin tahu ayat mana yang ia jual. Dan jika ulama menjadi miskin setelah kaya, memang harus demikian adanya, karena rasa takutnya yang demikian besar kepada Allah SWT, lalu dengan ilmunya ia dermakan harta bendanya kepada yang membutuhkannya.’ Guru kami tercinta Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pernah bercerita bahwa beliau pernah menerima hadiah berupa sebidang tanah dari kakek guru Syaikh Nuurunnaum Suryadipraja (semoga Allah mensucikan ruhnya), meskipun beliau hidup dalam keadaan yang sangat sederhana. Begitu pula yang dilakukan oleh guru kami, amal lahirnya saja tidak diketahui oleh muridnya, apalagi amal batinnya. Inilah sebuah bentuk bimbingan yang bukan saja pengetahuan dan pekerjaan tentang tasawuf saja, melainkan berupa tindakan yang indah agar menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya di masa mendatang, sebagi wujud dari keadaan zuhud dan qona'ahnya.

Lalu bagaimana jika pencopetnya tidak berwujud, ia berada di dalam diri sendiri yang merampok amal-amal yang tersimpan. Jilbabnya berupa dorongan agar menceritakan amal baiknya kepada orang lain (su’ma) atau berbangga atas perbuatan baiknya (ujub). Semuanya menjadi sia-sia, amalnya akan habis atau hangus sebagaimana kayu bakar habis dimakan api.

Kejahatan bertingkat-tingkat, dari yang mudah dikenali sampai dengan yang samar. Seperti jenis, bentuk dan corak jilbab yang beraneka ragam. Tujuan memakai jilbab agar tdak dilihat oleh orang lain atau bukan muhrimnya, tetapi malah ingin dilihat oleh orang lain dengan model dan bentuk jilbabnya yang aneh-aneh. Persis seperti keadaan hati orang yang selalu ingin memberitahukan perbuatan baiknya (amal) kepada orang lain, bukan menyembunyikannya. Amal yang tersembunyi mempunyai keutamaan yang tinggi, bahkan lebih baik dari pada manafaat angin, air, api, besi dan gunung-gunung bagi kehidupan manusia. Misteri amal yang bersih sesungguhnya berasal dari pertolongan Allah SWT, jika manusia membuang amalnya dengan cara memberitakan kepada orang lain, sungguh sangat disayangkan.

Sebuah dialog antara malaikat dengan Allah SWT, sebagaimana diriwayatkan oleh Baginda Nabi,saw., dalam hadis qudsi : 'Ketika Tuhan menciptakan bumi, dia mulai bergetar. Maka Dia menciptakan gunung-gunung dan berkata kepada mereka, "kuasai dia" maka bumi menjadi tenang.' Para malaikat heran melihat kekuatan gunung-gunung. Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada gunung-gunung itu?" ia berkata, "Ya, besi." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada besi?" Dia berkata, "Ya, api." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada api?" Dia berkata. "Ya, air." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakah di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada air?" Dia berkata. "Ya, angin." Mereka berkata, "Wahai Tuhanku, adakaih di antara makhluk-makhluk-Mu yang lebih kuat daripada angin?" Dia menjawab, "Ya. putra Adam. Dia memberi sedekah dengan tangan kanannya tanpa diketahui oleh tangan kirinya."

Bahwa yang mendorong pada perbuatan amal adalah ruhani dan Ilahiah, yang sepenuhnya kosong dari sifat-sifat lahiriah, dan hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa pertolongan-Nya. Yang membuatnya begitu sulit adalah karena manusia merupakan gabungan dari sifat-sifat ruhani dan jasmani yang tercampur dengan sempurna. Jiwa manusia selalu mengajak kepada kejahatan sedangkan ruh manusia mengajak kepada kebaikan. Jika keadaan ruhani seseorang bercahaya murni tanpa adanya pengaruh dari sifat lahirnya. Dia akan memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk berbuat baik. Dia akan lebih unggul daripada kebanyakan malaikat, sebab sifat bawaan malaikat adalah bebas dari pengaruh sifat-sifat jasmani. Tetapi di dunia ini, indra-indra dan sifat-sifat jasmani berhadapan dengan yang ruhani, dan jiwa menguasai jasmani sangat kuat. Maka kekuasaan dari ruh, yang dianggap sebagai tangan kanan manusia tidak dapat mengatasi kekuasaan komposisi jasmaninya, yang mempunyai arah tangan kiri. Oleh karenanya jika tangan kanan manusia berbuat kebaikan tanpa diketahui oleh tangan kirinya, adalah merupakan karunia-Nya yang besar. Amal tersebut harus ditutup rapat-rapat agar tidak diketahui oleh orang lain dan dirinya, agar tidak hilang percuma, seperti wanita yang menutup auratnya dengan jilbab.

Sayidah Fatimah,ra., mengatakan bahwa : 'Wanita yang baik adalah yang tidak dilihat oleh pria dan tidak melihat pria.' Untuk menangkap kejahatan yang samar harus menggunakan ilmu yang tinggi dan atas bantuan dari Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, yaitu kebaikan, dari yang mudah dilakukan sampai dengan yang halus. Besar kecilnya amal seseorang tergantung kepada niatnya, tergantung kepada kebersihan dan kemurniannya. Semua ini terjadi sesuai dengan keadaan hati. Oleh karena begitu penting kesehatan hati ini, maka menjadi tujuan utama bagi para pembimbing ruhani untuk membersihkan keadaan murid-muridnya dari noda-noda dunia.

Sabtu, 16 Juli 2016

TABIAT ALAMIAH

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Seorang murid sedang berkendara tiba-tiba dimaki oleh seseorang : ‘Monyet kamu.’ Sang murid marah dan spontan menjawab : ‘Anjing kamu.’ Tanpa disadari mereka sedang menyebutkan sifat binatang yang ada pada dirinya sendiri. Berbeda dengan yang dialami oleh guru kami tercinta Syaikh. Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), beliau pernah dimaki dengan sebutan nama binatang, beliau hanya tersenyum dan tidak tampak perubahan pada wajahnya, karena cacian dan pujian sudah sama saja baginya. Beliau membalasnya dengan melontarkan pujian kepada sang pemaki. Ditanya alasannya oleh seorang murid, beliau menjawab : ‘Saya memujinya, karena ia telah mengungkapkan sifat alamiah yang tersembunyi didalam diri saya yang telah lama saya cari.’ Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk bercerita tentang caci maki dengan menyebut nama binatang, melainkan menjelaskan sifat-sifat jiwa alamiah atau tabiat alamiah yang ada pada diri manusia.

Tuhan ingin diketahui, oleh karenanya Dia menciptakan makhluk. Dari segi bentuk dan bobot, manusia itu sangat kecil dibanding dengan seluruh ciptaan-Nya, tetapi Tuhan tidak ingin ciptaan-Nya terwujud sia-sia tanpa dapat diketahui oleh manusia, agar manusia dapat mengetahui tentang kekayaan pengetahuan-Nya dan menjadikannya saksi bagi seluruh makna ciptaan. Tetapi sekali lagi bahwa ciptaan itu sangat luas, bumi saja sangat lebar. Tidak mungkin manusia dapat berkelana ke seluruh ciptaan, mengingat masa hidup mereka yang pendek dan ketidakmampuan mereka menangani urusan-urusan ciptaan. Oleh karenanya potensi untuk mengenal Sang Pencipta dan seluruh ciptaan ditanamkan didalam akal, lalu Dia minta kesaksian atasnya ; ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Ya, kami bersaksi .’ (QS. 7: 172). Sehingga tampak secara jelas hubungan seluruh ciptaan dengan manusia, yang secara timbal balik akan saling mempengaruhi. Jika kondisi manusia dalam keadaan seimbang, maka alam semesta akan seimbang pula dan sebaliknya jika manusia penuh dengan amarah, rakus, tamak dan mendominasi maka alam pun akan mengikutinya. Sehingga jangan heran jika akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam yang dasyat, karena mengikuti keadaan kebanyakan jiwa manusia.

Manusia diciptakan pada tingkatan antara yang rendah dan tinggi, yang rendah seperti sifat tanaman dan hewan sedangkan yang tinggi seperti sifat malaikat. Dalam kaitan dengan kebutuhan makan dan minum agar tumbuh adalah tanaman. Dalam kaitan dengan gerakan mengikuti naluri dan syahwatnya adalah hewan. Dan dalam kaitan sifat kepatuhan dan kesucian adalah malaikat. Namun ciri khas manusia yang utama adalah adanya akal.

Beberapa hewan mencari keuntungan melalui kekejaman dan dominasi, seperti para hewan pemangsa. Sebagian mencari melalui bujukan, seperti anjing dan kucing. Sebagian mencari melalui kecerdasan, seperti laba-laba. Dan semua sifat-sifat ini ada pada manusia. Para raja dan sultan mendapatkan keuntungan melalui dominasi, para pengemis melalui permintaan dan kerendahan hati, para pedagang melalui kecerdasan dan persahabatan. Pendeknya, tidak ada hewan, mineral, tanaman, pilar, lingkaran langit, planet, konstelasi, atau benda apa pun yang memiliki suatu watak tanpa watak itu terdapat dalam diri manusia.

Mereka yang menggunakan seluruh indranya untuk meraih pengetahuan tentang Tuhan dan tauhid serta amal baik, serupa dengan para malaikat dan patut digabungkan dengan mereka di alam malakut. Sedangkan mereka yang mengalihkan aspirasi mereka untuk mengikuti kenikmatan-kenikmatan badaniah dan makan serupa dengan hewan dan tumbuhan. Persis seperti yang kita lakukan, pemarah seperti binatang buas, rakus seperti babi, tamak seperti monyet, banyak bicara seperti anjing, pendendam seperti burung gagak atau ular kobra, lambat seperti kura-kura, sombong seperti burung merak, atau pandai berkelit seperti kancil. Perumpamaan sifat manusia seperti binatang terdapat dalam Al Qur’an : ‘Tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. (QS 7 : 176) Sedangkan yang menyerupai sifat malaikat adalah : ‘Maha sempurna Allah, Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.’(QS 12: 31)

Orang-orang yang ingin memasuki alam malaikat atau alam malakut atau alam kusucian tidak ada jalan lain kecuali harus berperang melawan diri mereka sendiri, perang suci melawan jiwanya atau menentang kencenderungan tabiat alamiahnya, suatu peperangan yang tidak mengenal jalan damai. Perang yang Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai tidak ada peperangan yang lebih besar dari pada perang melwan dirinya sendiri atau disebut sebagai perang akbar. Sebab mereka mendapati jiwanya sebagai musuh agama. Bagaimana mungkin orang yang mempunyai tekad memasuki alam kesucian berdamai dengan musuh agamanya?

HUDHUR DAN GHAYBAT

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian tentang hudhur dan ghaybat berlangsung lama, bersumber dari kitab Kasyful Mahjub karya Imam Hujwiri,qs. Terdengar rumit namun sesungguhnya sederhana. Seperti sholat, menjelaskan tata caranya mudah, tetapi melukiskan rasanya sangat sulit, atau menerangkan cara menyetir mobil amat mudah, tapi menjelaskan rasa pada saat menyetir sangat susah. Demikian pula tentang hudhur dan ghaybat, menjelaskan pengetahuannya tidak sulit, tetapi menyampaikan rasanya tidak mudah. Orang yang dapat menjelaskan rasa ketika sholat atau rasa ketika berkendara mobil, berarti ia pernah mendirikan sholat dan menyetir mobil. Jika belum pernah, maka yang dijelaskan hanyalah pengetahuannya bukan rasa yang aktual. Perbedaan antara pengetahuan dan rasa sangat besar, seperti langit dan bumi atau seperti badan dan ruh. Sesungguhnya berbicara sesuatu yang belum dialami dilarang oleh agama, sebagaimana yang termaktub didalam Al Qur’an : ‘Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.’ (Ash-Shaff : 2-3).

Arti hudhur dalam Bahasa Indonesia adalah hadir, yang dimaksud dengan hadir adalah ada atau datang, sedangkan hadirin adalah semua orang yang datang. Lawan dari pada hadir adalah absen atau tidak datang atau ghaybat. Sehingga bisa dikatakan bahwa Jika seseorang hadir disekolah maka ia absen di rumah, dan sebaliknya jika ia absen di sekolah maka ia hadir di rumah. Dalam hal ini, kehadiran pasti dikaitkan dengan keberadaan jasad. Sedangkan didalam dunia tasawuf istilah hudhur diartikan sebagai kehadiran hati bersama Tuhan dan sebaliknya bila tidakkehadiran hati disebut sebagai Ghaybat. Sehingga yang dimaksud hudhur adalah kehadiran secara spiritual atau merasa yaqin keberadaannya didalam hati, tanpa berpikiran lagi tentang ada atau tidak adanya jasad.

Suatu hari murid-murid diperintah oleh Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) untuk mendirikan sholat di Mesjid Nuur al Baru. Pada saat pelaksanaan sholat, beliau pergi meninggalkan Mesjid. Setelah selesai, seorang murid ‘merasa yaqin’ bahwa syaikh berada bersamanya selama sholat, karenanya ia memperbaiki sikap sholatnya tidak seperti biasanya. Meskipun faktanya, syaikh tidak berada disitu. JIka seseorang dapat ‘merasa yaqin’ seolah-olah syaikh bersamanya selama waktu sholat dan mempunyai kedudukan yang sama tatkala syaikh tidak ada, atau apa yang bisa terlihat olehnya mempunyai kekuatan yang sama dengan apa yang tersembunyi darinya, maka hal ini disebut sebagai ‘kehadiran hati’ (hudhur) bersama syaikhnya atau ‘tidakkehadiran’ (ghaybat) bersama yang lain. Sehingga bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan kehadiran (hudhur) dan tidakkehadiran (ghaybat) mempunyai makna yang sama walaupun tampaknya bertentangan satu sama lain.

Tugas seorang syaikh adalah membimbing murid-muridnya untuk mencapai hudhur, dimulai dengan latihan spiritual yang disebut dengan dzikir lalu meningkat kepada muroqobah. Pendeknya pekerjaan dzikir dan muroqobah adalah medan laga latihan spiritual yang diawali dengan berupaya seolah-olah merasakan ‘rasa’ rindu dan cinta serta kehadiran Tuhan pada akhirnya. Diharapkan dari seolah-olah merasakan laama-kelamaan perasaan yaqin atas kehadiran hati bersama Tuhan itu melekat. Oleh karenanya tidak mungkin kehadiran hati (hudhur) bersama Tuhan dapat diraih manakala hati seseorang masih kotor, dilain pihak keadaan hati yang bersih adalah sebuah karunia-Nya, karena upaya membersihkan hati dengan dzikir-dzikir adalah perbuatan manusia, sedangkan penghapusan terhadap noda hati atau kekotoran hati adalah perbuatan Tuhan.

Pengetahuan tentang hudhur dengan perasaan yang aktual tentang hudhur merupakan dua hal yang berbeda. Penguasaan pengetahuan atau pemahaman tentang hudhur tidak akan berdampak kepada keadaan hati atau tidak mempengaruhi padangannya terhadap tauhid, karena bisa saja orang non muslim dapat mempelajarinya, tetapi tidak demikian terhadap keadaan hudhur yang sebenarnya, terdapat tanda-tanda bagi seseorang yang mengalaminya, khususnya meningkatnya perasaan yaqin dan lenyapnya keburukan-keburukan serta adanya perubahan yang mendasar dalam perilakunya. Keyaqinannya memuncak bahwa dirinya sendiri merupakan sebesar-besar tabir untuk dapat hadir bersama Tuhan, mata hati menjadi tertutup terhadap diri sendiri dan terhadap semua selain Tuhan, sehingga sifat-sifat kemanusiaannya ditelan oleh nyala api kedekatan dengan Tuhan. Maka selama tidak hadir dari diri sendiri, maka akan hadir bersama Tuhan, tetapi bilamana hadir bersama sifat-sifat diri sendiri, akan menjadi tidak hadir dari kedekatan dengan Tuhan. Inilah mengapa yang mulia Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) selalu menanyakan ‘perasaan’ hudhur tatkala murid-muridnya mengaku telah mengalaminya.

Kisah, seseorang mendatangi Imam Junayd,qs., dan mengatakan: ‘Hadirlah bersamaku sesaat agar aku bisa berbicara denganmu.’ Dijawab: ‘Wahai anak muda, engkau menginginkan sesuatu dariku yang sekian lama kucari. Bertahun-tahun aku mengharapkan bisa hadir bersama diriku sendiri sesaat saja, tapi aku tak bisa, lalu bagaimanakah aku bisa hadir bersamamu sekarang juga?’ Inilah jawaban dari seorang yang dalam keadaan hudhurul haq secara terus menerus.

Dzikir dengan objek yang dizikiri adalah sesuatu hal yang berbeda, atau nama dengan pemilik nama adalah dua hal yang lain. Jika seseorang menyebut nama, boleh jadi objek yang disebutnya tidak berada di dekatnya. Terdapat ayat Al Qur’an yang mengatakan : ‘Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, maka Aku akan ingat pula kepadamu.’ (QS. 2 : 152). Ayat yang mulia ini tidak mengatakan ‘menyebut’ tetapi ‘mengingat’. Yang terjadi pada kebanyakan murid saat berdizkir adalah menyebut-nyebut nama-Nya saja tetapi lalai dalam mengingat-Nya. Yang diutamakan oleh murid adalah mengingat perbuatan dzikirnya bukan yang dizikiri, oleh karenanya ia sibuk menyelaraskan nada suara dan gerakannya saja. Hal ini lebih mendekati pada ketakpedulian karena mengira bahwa dirinya hadir bersama Tuhan. Karena itu, mengira bahwa hadir bersama Tuhan ketika tidak hadir, lebih buruk daripada tidak hadir tetapi tidak mengira hadir, karena kebanggaan adalah keruntuhan bagi orang-orang yang mendambakkan Kebenaran. Makin bangga, makin jauh dari kenyataan, dan sebaliknya, aspirasi yang suci sungguh jauh dari kualitas-kualitas ini. Penyakit yang seperti ini menjangkiti tidak saja kepada murid baru saja melainkan pada tingkatan yang lain. Prinsip dasar mengingat Allah (dzikir) bilamana sang pendzikir tidak hadir dari dirinya sendiri (ghaybat) tetapi hadir bersama Tuhan (hudhur), dan bilamana orang tidak hadir dari Tuhan dan hadir bersama dirinya sendiri, keadaan itu bukanlah mengingat Allah (dzikir), melainkan ketidakhadiran dan ketidakhadiran adalah akibat dari kelalaian (ghaflat).

Seseorang yang mengalami hudhurul Haq atau kehadiran hati bersama Allah mempunyai tanda-tanda, yang perasaan yaqinnya sebagaimana sang murid tadi, ketika merasa yaqin bahwa syaikh bersamanya pada waktu sholat. Dan perubahan sikapnya nyata, menjadi baik, akhlaknya indah. Sikap baiknya bukan merupakan sebuah upaya lagi sebagaimana waktu sholat tadi, melainkan menjadi pakaiannya, karena sirnanya keburukan. Hatinya penuh dengan sifat pengasih, rasa dengki dan irinya menjauh dan tertutup rapat.

Hudhrul Haq adalah salah satu bentuk musyahadat, yang berarti atas sekehendak Allah SWT dan manusia tidak terlibat sama sekali, meskipun ia melakukan keberupayaan. Jika musyahadat teraih tatkala melakukan dzikrullah atau muroqobah, maka itulah yang disebut dengan beribadah sambil menikmati sajian ruhani. Inilah yang membedakan orang-orang yang gemar bermujahadah dengan yang tidak. Dan menyadari pentingnya mendahulukan orang lain daripada dirinya, pentingnya melayani bukan dilayani, pentingnya memberi bukan menerima, pentingnya merendah bukan sombong, pentingnya berkata jujur bukan bohong. Menyadari dan merasakan bahwa dirinya hina. Orang yang merasa hina akan takjub kepada Yang Maha Mulia dan dekat dengan Tuhan, sebaliknya orang yang merasa mulia akan selalu memandang rendah orang lain dan jauh dari Tuhan, meskipun ia mengaku dekat dengan Tuhan tetapi cepat atau lambat orang akan mengetahuinya, karena semua kedudukan ada tanda-tanda, seperti hujan maka bumi menjadi basah. Semuanya terletak kepada kesadaran dan kesadaran adalah tasawuf begitulah guru kami tercinta Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengatakan.

Demikian para sahabat semoga ada manfaatnya.

Selasa, 12 Juli 2016

JIWA DAN RAGA

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Sayyidina Ali bin Abu Thalib,ra., berkata : ‘Aku dan jiwaku adalah seperti seorang gembala dan domba-dombanya. Setiap kali aku mengumpulkan mereka dari satu sisi, mereka berlarian ke arah lain.’

Istilah jiwa dan raga sangat popular di Indonesia, sungguh sangat tepat! Memang jiwa tidak bisa dipisahkan dengan raga, ia bersahabat, apapun kebutuhan jiwa maka raga akan mendukungnya, tubuh sebagai alat jiwa untuk mewujudkan keinginannya. Ada istilah latin yang mengatakan ‘Mens sana in corpore sano’, yang artinya adalah ‘Jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat.’ Maksudnya didalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, begitu pula sebaliknya. Rasulullah,saw., tidak mengkaitkan antara tubuh yang sehat dengan sebuah jiwa, melainkan mengkaitkan antara keadaan hati yang baik dengan tubuh, sebagaimana sabdanya : ‘Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.’ Jika bangunan tubuh manusia adalah sebuah singasana atau istana, maka hati adalah rajanya dan jiwa adalah permaisurinya. Jika raja baik, bijaksana dan adil maka seluruh tubuh akan baik pula dan sebaliknya. Namun faktanya tidak demikian, karena setiap perintah raja akan di tentang oleh sang permaisuri.

Istilah ‘Mens sana in corpore sano’ sangat dipercaya, sehingga manusia berlomba-lomba menyehatkan raganya agar jiwanya turut sehat. Padahal jika raga mengikuti kemauan jiwa maka akan semakin gelap hatinya dan sebaliknya jika raga menolak mengikuti kemauan jiwa maka hatinya akan bercahaya. Nah, jika dikaitkan dengan hadis yang mulia Nabi,saw., maka menolak kemauan jiwa merupakan kunci baiknya seluruh tubuh manusia. Adalah sholat, sebagai bukti meluangkan waktu sesaat untuk menolak keinginan jiwa yang selalu mengajak kepada kesenangan-kesenangan, dapat menghindarkan dari perbuatan yang keji dan durhaka. Jika meluangkan waktu yang sesaat hanya untuk Allah SWT ini diperpanjang menjadi lebih lama, seperti puasa, tentu dampak positifnya akan lebih baik. Oleh karenanya seorang muslim yang telah selesai berpuasa satu bulan penuh akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, atau kembali kepada fitrahnya, atau akan merasa sebagaimana ia dicipta di Alam Amr yang selalu menghadap kepada Keagungan Allah, yang kadarnya sesuai dengan kualitas puasanya. Lalu bagaimana bila berdzikir atau menyebut-nyebut dan mengingat Allah pada setiap waktu, yang dalam Al Qur’an dikatakan lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain. Sehingga sangat jelas bahwa rukun Islam adalah sarana untuk membuat tubuh menjadi baik dan begitu juga hatinya. Sarana bagi sesuatu yang bersifat halus atau lathaif yang berada didalam raga untuk menaik dan kembali kepada fitrahnya.

Kebanyakan para penempuh di jalan kesucian tidak terlalu perduli terhadap kejadian jiwa manusia, melainkan dipusatkan kepada cara-cara pengenalan terhadap tabiat alamiahnya dan cara memeranginya. Didalam Al Qur’an disebutkan secara rinci tentang kejadian ruh dan raga manusia, tetapi tidak demikian dengan kejadian jiwa. Padahal pengetahuan tentang Tuhan berkaitan dengan pengetahuan tentang jiwa, maka mustahil manusia dapat mengetahui pengetahuan tentang sifat jiwa secara paripurna, jika ia mengabaikan tentang kejadiannya. Sayidina Ali,ra., yang disebut oleh Rasulullah,saw., sebagai pintunya ilmu merasa kesulitan mengenal sifat-sifat jiwanya sendiri dengan berkata : ‘Aku dan jiwaku adalah seperti seorang gembala dan domba-dombanya. Setiap kali aku mengumpulkan mereka dari satu sisi, mereka berlarian ke arah lain,’ lalu bagaimana dengan manusia sesudahnya? Dan bagaimana dengan orang yang mengklaim dirinya telah mengenal Tuhannya?

Terdapat hadis Nabi,saw., yang mengatakan bahwa, ‘Yang pertama kali dicipta adalah pena.’ Pada hadis yang lain, beliau,saw., bersabda,‘Yang pertama kali dicipta adalah akal.’ Dan ada pula hadis yang mengatakan bahwa, ‘Yang pertama dicipta adalah Nuur Nabimu.’ Oleh karenanya merupakan sebuah keniscayaan bahwa akal, pena dan nuur (cahaya) mempunyai makna yang sama.

Sarana agar pena dapat menulis adalah Sang Penulis, lembaran dan cahaya. Saat menulis, pena selalu mempunyai dua wajah, yang satu menghadap kepada Sang Penulis dan yang lainnya menghadap kepada lembaran. Dengan kata lain, yang satu berpaling kepada Allah SWT dan yang lain berpaling dari Allah SWT. Atau dapat dikatakan yang satu merenungkan keagungan Kekuasaan Allah SWT Yang Tidak Berawal dan yang lain menatap Keindahan dari Kebijaksanaan-Nya Yang Tak Berakhir. Kedua wajah itu atau ‘pena’ bisa disebut sebagai ‘Akal,’ karena ia mempunyai kemampuan yang begitu tinggi untuk merenungkan keagungan dan kekuasaan-Nya dan merenungkan keindahan dan kebijaksanaan ciptaan-Nya. Allah SWT berfirman kepada akal : 'Berpalinglah ke sini, maka ia berpaling kepada-Nya. Lalu berpalinglah ke sana, maka ia berpaling dari-Nya.’ Oleh karenanya pena atau akal yang dicipta pertama kali di alam perintah (alm amr) oleh Allah SWT dapat disebut sebagai ‘Akal Universal’ atau ‘Nuur Muhammad’, sedangkan lembaran tempat pena menulis atau Lembaran Yang Terjaga (Lawh Mahfuz) dapat disebut sebagai ‘Jiwa Universal’. Sehingga ke tiga hadis diatas mempunyai makna yang sama, meskipun berbeda cara penyampaiannya.

Pendeknya, aktivitas antara Akal Universasl atau Nuur Muhamad dengan Jiwa Universal atau Lawh Mahfuz di alam amr, menjadikan ciptaan menuju eksitensi memasuki dunia perwujudan (alm khalq). Maka seluruh ciptaan atau makhluk berasal dari Akal Universal dan Jiwa Univesal. Sementara Jiwa Universal berasal dari Akal Universal, dan Akal Universal atau Nuur Muhammad berasal dari Allah di Alam Perintah. Sebab Allah SWT menciptakan Nuur Muhammad tanpa penyebab perantara, dan ini dikiaskan melalui kata ‘Perintah.’ Dengan cara yang sama Allah SWT menciptakan semua makhluk dengan sarana Nuur Muhammad, dan semua ini dinamakan ‘Ciptaan.’ Sebagaimana firman-Nya : ‘Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.’ (QS 7: 54).

Kehendak-Nya telah memilih ruh untuk mewakili-Nya di dunia Ciptaan. Jika ruh yang dicipta didalam alam perintah ditiupkan kedalam raga manusia yang dicipta di alam penciptaan, maka ruh akan terjebak. Karena secara tiba-tiba ruh tidak mempunyai wewenang untuk mengendalikan raga secara langsung. Ruh, melalui akal hanya berfungsi sebagai penasihat jiwa, meskipun ia mempunyai potensi untuk membuka perbendaharaan misteri-misteri Illahi. Pertemuan antara ruh dan raga, akan melahirkan sesuatu yang halus didalam diri manusia, yang disebut sebagai hati (qalb) dan jiwa (nafs), maka jika ada ke empat unsur ini, sempurnalah ia disebut sebagai manusia, yang terdiri dari raga (jasad), jiwa (nafs), hati (qalb) dan ruh.

Jiwa adalah alat kekerasan Tuhan, darinya timbul segala kejahatan dan kerusakan. Jiwa tidak menyatakan kebenaran dan hati tidak berdusta. Jiwa mempunyai sifat seperti binatang yang bernama bunglon, dimanapun ia berada, ia mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan warnanya. Dalam setiap kedipan mata, ia bisa melakukan tipuan yang berlainan. Panca indera merupakan kendali jiwa. Dengan berbagai cara, ia bisa melakukan tipu muslihat dengan cara yang amat halus, ataupun dengan cara terang-terangan tergantung kepada siapa ia berhadapan, sungguh luar biasa!

Seorang bayi yang dilahirkan, akan memancarkan aroma wangi yang mengingatkan seseorang akan masa kecilnya. Pertanda kesucian masih melekat didalam dirinya. Ia menangis keras saat mencium bau dunia ini dan syaithon memukul pinggangnya, babak baru kehidupan sebagaimana yang Digariskan akan dimulai. Sebelum empat puluh hari, ia masih suci, air seninya pun tidak dianggap najis oleh agama dan tidak membatalkan wudhu seseorang. Ruh atau akalnya masih tidur, yang dominan adalah jiwa hewaniyahnya atau naluri, sehingga yang dibutuhkan hanyalah minum air susu ibundanya, menangis jika haus dan tidur.

Jika ruh di ibaratkan seorang suami dan istrinya adalah jiwa, maka anaknya adalah raga atau panca indera, seperti Adam yang mempunyai istri Hawa dan anak-anaknya yang bernama Habil dan Qobil yang mewakili kebaikan dan keburukan. Adam mewakili ruh dan Hawa mewakili jiwa. Hawa terhasut oleh ajakan Iblis lalu mempengaruhi suaminya, yang pada akhirnya keduanya terjerumus. Oleh karenanya, setiap ‘keinginan diri’ disebut menggunakan istri nabiyullah Adam,as., yaitu Hawa Nafsu. Ruh mempunyai penasihat yang bernama akal dan jiwa mempunyai perdana menteri yang bernama syahwat. Setiap saat jiwa selalu dipengaruhi oleh tentara akal dan pasukan syahwat agar berbuat sebagaimana keinginannya. Akal selalu mengajak kepada ingatan akan Tuhan, sedangkan syahwat selalu mengajak kepada kesenangan terhadap ciptaan Tuhan atau dunia. Jiwa selalu dalam keadaan yang demikian, yang terombang ambing oleh dua kekuatan yang berbeda, oleh karenanya ia disebut sebagai jiwa. Akal akan terus tumbuh sedikit demi sedikit seiring dengan tumbuhnya raga, melalui pengaruh hubungan yang terus berubah antara kedua orang tuanya. Sampai dengan akalnya dianggap dewasa dan dapat membedakan yang baik dan buruk, barulah hukum syariat agama berlaku atasnya. Itulah mengapa Rasulullah,saw., bersabda : ‘Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yg menjadikannya sebagai seorang yahudi, nasrani dan majusi (penyembah api). Apabila kedua orang tuanya muslim, maka anaknya pun akan menjadi muslim. Setiap bayi yg dilahirkan dipukul oleh syetan pada kedua pinggangnya, kecuali Maryam dan anaknya.’

Dimulailah proses yang ajaib dari seorang manusia, apakah ia senang hidup didalam dunia kegelapan atau berusaha berjuang untuk kembali sebagai ia dicipta di alam perintah, suci dan mengenal Tuhan. Inti daripada jiwa adalah hawa nafsu, dalam hadis disebutkan : ‘Segala sesuatu memiliki jiwa, dan jiwa dari jiwa adalah hawa nafsu.’ Apabila jiwa disapih dari hawa nafsu dengan cara dipisahkan darinya, ia akan berhenti mengatur, apalagi merongrong untuk melakukan keburukan dan jika bergerak menjauh dari syahwat dan mendekati tahap perdamaian dengan Akal, maka hati mengalami suatu perubahan yang sesuai dengan itu, dan berlaku pula sebaliknya. Disinilah dimulainya Perang Suci melawan diri sendiri, disinilah menjadi wajib hukumnya mempunyai seorang Pembimbing Ruhani untuk menuntun jalan pulang sebelum kematian tiba. Melalui perjuangan yang sungguh-sungguh dan berperang melawan jiwa, seseorang akan mengalami pengalaman-pengalaman mistis yang terus berubah sebagai bentuk Anugerah dari Allah yang disebut sebagai Maqom atau Kedudukan. Ia akan menaik dari alam Nasut ke alam Malakut, atau Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyebutnya ‘Ia akan terbang sebagaimana laron menuju cahaya yang kemudian mati terbakar.’ Maksudnya akan terbakar kediriannya atau nafsnya, menjadi fana terhadap dirinya sendiri.

Demikian para sahabat, semoga Allah SWT menolong kita.