Minggu, 19 Januari 2020

MENGENAL NAFSU

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim


Bab ini diawali dengan sebuah cerita. Seorang ayah mempunyai anak perempuan yang masih kecil, diajarinya jalan yang benar agar tidak membahayakan dirinya, maka sang ayah harus ‘turun’ bertingkah layaknya seperti anak kecil, sang anak berkata ‘Papah, aku bisa jalan.’ Lalu sang ayah mengajarinya berlari kecil dan dibuatnya agar sang anak sampai lebih dulu, sang anak berkata : ‘Horeee, aku menang.’ Sang anak merasa lebih hebat dari ayahnya! Begitulah analogi pendidikan ruhani dari seorang guru kepada murid-muridnya, setiap tarbiyah yang dilakukannya disesuaikan dengan keadaan murid. Sehingga terkadang nafsu sang murid membisikkan bahwa dirinya lebih baik dari gurunya. Sifat nafsu yang ada pada murid tidak salah! Karena Allah SWT yang menciptakannya, memang seperti itu adanya sebagai ujian baginya, untuk dikenali dan ditundukkannya lalu dikendarai untuk menuju Allah SWT, hal ini merupakan anugerah terbesar bagi manusia, karena tidak ada pada makhluk lain yang diciptakan-Nya. Tetapi yang perlu kita sadari bersama, bahwa tidak seorang pun yang mampu menundukkannya kecuali Allah SWT. Dia mewajibkan kita meminta tolong kepada-Nya, seperti yang selalu dibaca oleh setiap orang Islam yang terdapat pada suratul Fatihah,'Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan [al-Fatihah: 5]. Jika di umpamakan bahwa bisikan nafsu itu adalah kegelapan (dzulumat) maka sifat-sifat Allah adalah cahaya (nuur). Cahaya ini adalah sifat ruhani yang akan menerangi jalan manusia menuju-Nya. Sebuah ruangan yang gelap gulita jika ada sekilas cahaya, maka kegelapan akan lenyap. Oleh sebab itu, menjadi tugas pembimbing ruhani untuk mendidik muridnya melalui manhaj atau metodologi yang baku dan telah teruji sebelumnya, agar cawan ruhani sang murid terwujud, dengannya keniscayaan Allah mentajallikan sifat-sifat-Nya terbuka lebar. Akan tetapi ketaatan sang murid bukan penyebab langsung diperolehnya tajalli dimaksud, melainkan atas kehendak-Nya.

Perbincangan didalam tasawuf tidak akan pernah terlepas dari masalah nafs dan Allah, Sayyid Abdul Qodir al Jailani,qs pernah berkata kepada murid-muridnya : ‘Kalian berada di antara dua pilihan, yaitu Allah atau nafsumu.’ Begitu pula Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) selalu menyebut kata mujahadah disetiap pengajian, yang maksudnya adalah melawan atau memerangi nafsu. Nafsu memang hanya satu kata tetapi mempunyai banyak makna, insyaAllah kita akan membahasnya dari sudut pandang tasawuf saja. Imam Al-Ghazali,qs., mengatakan bahwa nafsu sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia.

Pemahaman tentang nafsu membutuhkan talenta spiritual, sebagaimana perkataan Imam Junaid,qs bahwa syarat utama bertasawuf adalah talenta, bila tidak akan sia-sia. Meskipun seseorang telah mengaji selama bertahun-tahun, ia akan tetap hidup dengan kendali nafsunya bukan ruhani. Jika nafsu saja tidak dapat dikenali bagaimana mampu melawanya? lalu bagaimana bisa mengenal Tuhannya? Sebuah hadist mengatakan : ‘Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu,’ yang artinya barang siapa mengenal dirinya (nafsunya), dia akan mengenal Tuhannya.

Didalam al Qur’an dan al Hadist dikatakan bahwa nafsu dan syaithon adalah sebagai musuh. Kata musuh dalam agama diartikan sebagai menang dan kalah bukan baik dan buruk. Karena jika musuh diartikan sebagai baik dan buruk, maka istri dan anak pun termasuk didalamnya, karena Al Qur’an menyebut sebagian keduanya adalah musuh. Oleh sebab itu, melawan nafsu adalah memenangkan bisikan atau keinginannya dengan meletakkan akal atau nilai nilai akhlak di depan emosi. Sebagai contoh, jika seorang suami ingin memberikan uang kepada ibunya dan sang istri menolak. Maka penolakan istri adalah musuh yang harus dikalahkan dengan memberikan pemahaman agama, bahwa ibu atau saudara perempuannya yang tidak bersuami dan tidak bisa mencari nafkah merupakan tanggung jawabnya. Jika syaithon membisikan kepada suami untuk tidak melaksanakan kewajiban agama, bisikan ini pun adalah musuh dan wajib dilawan untuk dimenangkannya. Disetiap peristiwa, musuh manusia adalah bisikan atau keinginan nafsu dan syaithon, dan wajib dikalahkan dengan kepentingan Allah. Memeranginya merupakan jihad akbar dan barang siapa mati dalam keadaan berperang disebut sebagai syuhada.

Nafs itu adalah diri, tetapi yang lebih dekat maknanya sebagai 'jiwa', adalah suatu realitas yang lembut (lathîfah) yang ditempatkan di dalam kerangka badaniah dan bahwa darinya muncul ciri-ciri watak dan sifat-sifat tercela. Dengan cara yang sama, ruh merupakan realitas yang lembut yang ditempatkan di dalam hati, dan darinya muncul ciri watak dan sifat-sifat yang terpuji. Sebagaimana mata merupakan lokus penglihatan, telinga lokus pendengaran, hidung lokus penciuman, dan mulut lokus pencicipan, keseluruhannya disebut jism atau tubuh, demikian pula jiwa itu merupakan lokus sifat-sifat yang tercela pada tubuh. Kumpulan dari keinginan dari setiap anggota tubuh disebut sebagai syahwat. Syahwat bertujuan untuk kesenangan dan kebahagiaan diri. Sebagai contoh, meskipun seorang kakek sudah berumur 80 tahun, tetap saja merasa senang manakala melihat wanita cantik, mobil dan rumah mewah. Hal ini tidaklah salah karena Allah SWT yang mencipta dan menghendaki demikian adanya. Nafsu tidak mengenal tua, tetapi tubuh yang mengalaminya. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Syahwat adalah keinginan yang menggebu-gebu untuk segera dikerjakan.’ Nah, yang harus dilawan adalah keinginannya (Al Khawatir) atau syahwatnya bukan anggota tubuhnya. Akan tetapi keinginan dari nafsu oleh syaikh sufi sering disebut nafsu saja. Di Indonesia kita mengenalnya sebagai hawa nafsu, kata hawa diambil dari kisah Nabi Adam,as dan Hawa yang mempunyai keinginan untuk mendekati pohon terlarang. Keinginan Hawa ini disebut sebagai nafsu, oleh sebab itu keinginan diri atau keinginan nafsu disebut sebagai hawa nafsu.

Sebagaimana ucapan Imam Al Ghazali,qs bahwa nafsu itu mempunyai dua keinginan, yakni syahwat dan marah. Syahwat adalah keinginan dari pemuasaan anggota tubuh, seperti makan, minum, tidur, malas, melihat yang indah-indah, hubungan biologis, dan lain sebagainya, sedangkan nafsu marah adalah sombong, dengki, iri, benci, adu domba, gibah, senang kalau orang menderita, merasa pintar, mengaku tau agama, ingin dihormati, dan lain sebagainya. Berkaca dari riwayat nabiyullah Adam,as dan Iblis, yang sama-sama berbuat salah karena nafsu. Nabi Adam,as tergelincir karena nafsu syahwatnya ingin memakan buah yang terlarang, sedangkan Iblis karena nafsu marahnya, yaitu menolak patuh karena dengki dan berkata 'Ana khairun minhum, aku lebih baik darinya.' Malaikat pun bertanya kepada Allah tentang penciptaan Adam,as, tetapi setelah diberi tahu hakikat-Nya langsung patuh. Hukuman bagi pelaku pengikut nafsu berbeda-beda, yang disebabkan oleh syahwat, di turunkan dari surga ke bumi untuk dimuliakan atau untuk lebih mengenal Allah, untuk diberi ampunan-Nya. Sedangkan pelaku nafsu marah langsung dilaknat (laknatullah) dan ini sebuah keniscayaan dan jahanam tempat kembalinya, naudzubillah mindzalik. Berapa banyak kita telah melakukan dengki, iri, sombong? Mengapa dalam tubuh kita ini muncul syahwat dan marah?

Yang paling menarik dari pengajian tasawuf adalah penjelasann tentang anasir dan hubungannya dengan diri. Guru kami Syaikh Waasi’ Achmad Syaehuddin (semoga Allah merahmatinya) mengatakan bahwa ‘Tubuh manusia ini dicipta dari unsur alam semesta, yaitu tanah, air, udara dan api.’ Atau bisa disebut terbuat dari saripati alam semesta, sehingga manusia disebut sebagai ringkasan alam semesta (micro kosmos), artinya sebanding dengan semua alam ini, namun dalam ukuran kecil. Dalam hal ini, jiwa itu diselimuti empat sifat yang berbeda. Yang pertama adalah makna dari sifat-sifat Kebesaran (rubúbiyyah), seperti sombong, tak terkalahkan, cinta akan puji-pujian, agung, dan merdeka. Ia juga diselimuti ciri-ciri watak dari syaithon, seperti menipu, kejam, iri, dan curiga. Dan ia juga diselimuti perangai hewan, yaitu suka akan makanan, minuman, dan perkawinan. Dan dengan semua ini, ia juga dianggap bertanggung jawab atas sifat-sifat hamba, seperti takut dan rendah hati. Hamba itu bukanlah hamba sejati sebelum dia disucikan dari ketiga makna pertama. Ketika dia menyadari sifat-sifatnya sebagai hamba, maka dia terbebas dari sifat-sifat kebesaran yang menyelimutinya. Oleh sebab itu, kita mesti menghormati manusia, karena satu manusia itu kekuatannya sama dengan alam semesta. Terdapat dalam hadist bahwa manusia akan dibangkitkan di Yaumil Akhir berdasarkan rupa binatang sesuai dengan sifat yang dominan ketika ia hidup. Semua sifat-sifat yang tumbuh dari Jasmani ini, adalah untuk mempertahankan kehidupan, adakah binatang yang lapar lalu diam saja? Tentu dia akan mencari, kalau tidak dapat akan mencuri, kenapa? karena untuk mempertahankan eksistensinya dan ingin mendapatkan Kesenangan. Juga, akan menolak sesuatu yang menyakitinya, sifat kebinatangan ini adalah sifat manusia. Manusia dihina pasti akan marah, meskipun ia salah, jadi jangan dianggap salah jika ada yang membela diri. Hal ini adalah anugerah Allah SWT dan itulah salah satu cara-Nya memelihara manusia. Tetapi dalam hubungannya dengan syariah Agama, nafsu itu adalah musuh, karena keinginan nafsu itu akan melampaui batas! Oleh sebab itu, harus diperangi sesuai aturan agama (mujahadah).

Pembangunan agama kepada diri manusia, bertujuan agar terjadi keseimbangan antara lahir dan batin antara sifat jasad dan sifat Ruhani. Karena selain jasad atau tubuh atau diri, Allah SWT juga meniupkan ruh-Nya kedalam jasad ini. Apa yang dimaksud dengan melawan nafsu? artinya tumbuhkan di dalam diri ini sifat-sifat ‘Ruhani’. Jika jasad punya sifat seperti yang sudah disampaikan diatas, maka ruhani juga mempunyai potensi sifat-sifat seperti sabar, ridha, syukur, tawakkal, siddiq, amanah, marifah, wara, yaqin, sifat-sifat ruhani itulah sifat agama. Didalam hadis dikatan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara, yang terkahir adalah ‘agamanya’, maksudnya adalah akhlak agamanya, yaitu sifa-sifat ruhani yang ada pada dirinya. Jika seseorang mempunyai istri yang akhlaknya baik, maka itulah surga dunia, dan sebaliknya jika akhlaknya buruk maka itulah neraka dunia. Sekarang kita bisa memahami wejangan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) tentang mujahadah, yaitu memerangi nafsu dengan ruhani, atau menangani musibah dengan sifat-sifat ruhani. Dikatakan musibah manakala keinginan dari salah satu anggota tubuh tidak diperoleh, menanganinya harus dengan ruhani. Jika tidak, maka sifat binatang buas yang ada pada diri akan muncul kepermukaan, pukul saja, hina saja, gigit saja, curi saja kalau sudah demikian nasihat pun tidak didengar. Kebuasan sifat nafsu ini bukan seperti sifat anjing saja, melainkan sebanyak binatang buas di bumi dan di lautan. Jika bukan dengan Ruhaninya tidak akan tunduk manusia itu.

Manusia bisa saja memimpin menggunakan hartanya, jika hartanya habis maka dia akan ditinggal pengikutnya, demikian pula jika menggunakan jabatan dan jika jabatan dicopot maka akan dijauhi. Nah, jika orang memimpin menggunakan ruhaninya, atau sifat-sifat Tuhan yang di jelmakan kepadanya, maka siapa yang tidak tunduk kepada Tuhan? Oleh karenya ulama itu dihurmati meskipun miskin, meskipun sudah wafat karena ia hidup dengan ruhani, hidup dengan sifat-sifat Tuhan.

Maksud hidup dengan ruhaninya adalah hidup dengan sifat-sifat mulia itu. Inilah yang dikatakan bahwa hidupnya dengan Allah, karena sifaf-sifat Allah ada pada dirinya. Seperti kita mencintai seorang kekasih, meskipun ia jauh keberadaannya tetapi terasa dekat, terasa ada ketersambungan dan terasa bersamanya, karena sifat-sifatnya ada pada diri kita. Jika dalam kehidupannya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan atau musibah maka dihadapinya dengan sifat ruhani untuk mengalahkan sifat nafsu, jika terjadi begini harus ridho, atau jika begitu harus sabar, tawakal, zuhud, dan seterusnya, ini yang dinamakan melawan nafsu. Allah SWT bersabda bahwa sholat itu berat bagi jasad, kecuali yang hatinya tunduk, maksudnya sholatlah dengan sifat ruhani. Makanya Nabi saw berkata mudahkan agama jangan susahkan, maksudnya miliki keruhanian nanti jadi mudah agama itu.

Syaikh. Achmad Syaechudin (semoga ALlah merahmatinya) berkata kepada murid-muridnya : 'Perangilah nafsumu dengan mendawamkan dzikir dan mendawamkan ubudiyah.' Apa yang diamksud dengan perkatan ini? InsyaAllah akan disampaikan pada bab berikutnya.

Semoga bermanfaat wallahualam bisawab

Senin, 16 Desember 2019

MARAHNYA GURU ADALAH BAROKAH

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Judul tulisan ini terasa absurd, seorang murid karena terlalu bersemangat memahami pengetahuan tasawuf, melakukan telaah terhadap wejangan-wejangan yang didengar dari gurunya. Murid-murid lain berpendapat seolah-olah telaahnya itu bertentangan, lalu sesuai dengan pemahamannya dengan segera menyampaikannya kepada sang Guru. Perilaku murid yang senang mengadu domba (namimah) seperti ini sudah ada sejak zaman dulu, Imam Syafi'i,ra, pernah bercerita bahwa:'Ada murid datang kepadanya mengatakan ada yang memburuk-burukannya, maka beliau menjawab kenapa engkau menancapkan anak panah ke hatiku yang tidak sampai kepadaku? Biarkan orang mengatakan tentang keburukanku dan aku tidak tahu, sehingga aku tetap berbuat baik, bergaul baik dengan mereka.' Murid seharusnya mencitai gurunya bukan mengoyak-ngoyak hatinya, jangan menyampaikan sesuatu atau berbicara yang menyakiti hati guru. Meskipun dimata Sang Guru semua murid adalah pasien penderita sakit jiwa dan guru adalah dokternya, oleh karenanya apapun yang keluar dari mulut pasien tidak akan mempengaruhi lautan jiwa sang dokter. Seorang guru ruhani melihat kejadian ini datangnya dari Allah, karena manusia adalah shuroh perbuatan-Nya atau jelmaan Sifat dan Asma-Nya, dan semua perbuatan-Nya bertujuan agar manusia mengenal-Nya. Akan tetapi untuk pendidikan jiwa atau tarbiyatun nafs wajiblah baginya untuk menegur murid. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, karena kadar ilmu yang berbeda. Sebagai contoh, seorang murid mengatakan bahwa waliyullah itu banyak, dan murid yang lain mengatakan sebaliknya bahwa waliyullah hanya satu. Yang pertama melihat dari jahir sedangkan yang kedua melihat dari Nuur Allah. Di mata sang Guru, keduanya tidaklah salah, apapun perbedaannya yang dilihat hanyalah Allah saja. Akan tetapi penyakit adu domba (namimah) adalah perbuatan keji, karena cenderung kepada fitnah, tanpa disadari murid telah menancapkan panah api kehati sang guru dan menampakkan kebencian kepada murid yang lain.

Murid yang telah melakukan telaah-telaah memohon maaf kepada Gurunya dan kepada murid yang lain, karena menyebabkan murid yang lain mengadukan hal ini kepada sang Guru. Apa hikmah kejadian ini? Kita harus menyadari bahwa Allah lah yang menguji setiap orang, Dia yang lebih mengetahui maslahat kita daripada diri kita sendiri, kesadaran ini akan menjadi sebab kebahagiaan, kesenangan, hiburan, ketawakalan dan kesabaran. Dia yang menetapkan berbagai perkara yang ditakdirkan dan pastilah perkara terbaik yang sesuai dengan kita. Sudah menjadi hukum bahwa orang yang selalu berbuat baik kepada kita bisa jadi sewaktu-waktu bersikap buruk dan berbuat kasar kepada kita. Meskipun demikian kita tetap sabar mengahadapi sikap buruknya karena mungkin saja sikapnya itu disadari oleh niat baik dari dalam lubuh hatinya. Demikian pula seorang hamba, jika ia mengetahui bahwa Allah SWT Maha Pemurah, Mahalembut dan Maha Melihat kepadanya, setiap perkara dan ujian yang dijatuhkan kepadanya tidak perlu dipedulikan karena Allah tidak menghendaki darinya kecuali kebaikan. Dengan kesadaran ini maka kita akan berbaik sangka kepada Allah dan meyakini bahwa itu adalah pilihan-Nya untuk kita. Kita harus yakin bahwa dalam ujian itu terkandung maslahat tersamar bagi diri kita yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah. Dalam hal ini Allah SWT menganugerahi rasa sesal (nadam) yang sangat dalam dan membuatnya melakukan pertaubatan, serta tumbuh rasa takut yang luar biasa kepada-Nya. Dibanding dengan waktu mengaji yang begitu lama namun rasa takut yang hakiki tak jua tiba, begitu ada teguran dari gurunya maka lahirlah rasa takut itu. Itulah mengapa para syeikh sufi mengatakan bahwa kesalahan atau dosa itu adalah hikmah. Semoga Allah juga menganugerahi hal sama kepada sahabat murid yang mengadu domba (namimah). Orang bisa saja melakukan kesalahan karena emosi sesaat lalu mengkoreksi kesalahannya, ini lebih baik dibanding orang yang melihat kesalahan orang lain lalu menyebarkannya, persis seperti seruling syaithon. Seorang Syaikh berkata : 'Jika seorang yang berkutat dalam tarekat belum dapat memuliakan semua orang itu indikasi bahwa dia tidak mempunyai kekuatan tali kasih persaudaraan kepada sesama murid dan gurunya, yang artinya cinta kepada gurunya dusta.'

Jangan pernah buruk sangka kepada orang yang berdosa, dan menganggapnya hina, banyak contoh bahwa ketaatan justru membuat manusia menjadi sombong, sebaliknya dosa membuat orang menjadi tawadhu, karena Allah sayang kepada orang yang bertaubat, dan orang yang bertaubat adalah pembuat dosa. Makna dosa dalam agama adalah hikmah. Tidak heran jika Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) justru dekat secara ruhani kepada yang berdosa, karena itu adalah hikmah Allah. Disini titik yang tidak dipahami oleh banyak murid. Sehingga orang memandang buruk bagi yang berbuat dosa. Dizaman serba materialistik ini, berbicara salah saja sudah menjadi viral, apa tidak ada yang menutupi dan membalut luka itu? yang di viralkan itu umat Muhammad,saw, dan dosa bisa jatuh kepada siapa saja, karena itu Qohr Illaahi. Itulah sebuah bukti bahwa, bisa saja meskipun seseorang berada didekat gurunya, namun hidayah itu turun hanya kepada akalnya saja bukan ruhaninya.

Seorang Syaikh dari tarekat Sadziliyah berkata :'Sebenarnya mukadimah orang yang bertasawuf itu dimulai dengan adanya rasa takut (kosyah) kepada Allah SWT dan ingin mendekatkan diri kepada-Nya, lalu berbaiat kepada seorang Syaikh. Oleh karenanya orang yang tidak mempunyai rasa-rasa ini meskipun telah berbaiat tarekat, sejatinya dia belum bertasawuf, dan sebaliknya orang yang mempunyai rasa-rasa ini meskipun ia tidak berbaiat maka sejatinya ia sedang bertasawuf.' Oleh karenanya di era tahun 1970 an orang-orang yang bertarekat adalah para ulama fiqih yang usianya diatas 55 tahun, karena rasa takut tentang kematian datang menghampirinya dan ingin mengenal Allah SWT.

Waktu berjalan hampir dua tahun, sang murid tetap dalam keadaan rasa sesal (nadam) dan terus melakukan pertaubatan. Dimulai dari hal-hal yang melanggar syariah dan adab (menghapus kotoran bekas dosa), kemudian menaik kepada pengakuan akan ketaatan ibadahnya (menghapus kotoran bekas taat) serta taubat atas ibadahnya yang tidak ditujukan kepada Allah, dalam istilah tasawuf disebut sebagai takhali. Menarik diri dari pergaulan, merasa khawatir telaah-telaah terhadap wejangan gurunya akan memberikan pengaruh buruk kepada yang lain. Sebenarnya sifat ilmu yang ada pada diri sang murid mendorongnya untuk memberikan perhatian yang besar terhadap pengetahuan tasawuf yang diperoleh dari wejangan gurunya. Sehingga ia melakukan telaah-telaah, bukan untuk membandingkan satu dengan lainnya, melainkan untuk mengambil hikmah dari setiap ucapan para Aulia Allah yang terdapat pada kitab-kitab tasawuf. Karena ilmu itu bagaikan binatang buruan dan penangkapnya adalah catatan atau buku atau bahkan telaah, jangan biarkan binatang buruan itu lepas begitu saja. Jangan berpura-pura didepan guru mengangguk-anggukan kepala seolah-olah mengerti padahal tidak paham, begitu meninggalkan majlis, apa-apa yang didengar lupa dengan sekejap, itulah mengapa ilmu itu haru diikat dengan akal.

Didalam kesendiriannya, seorang murid menyampaikan berita bahwa : 'Guru telah memberi maaf dan sesungguhnya guru sudah mengetahuinya sejak sepuluh tahun yang lalu.' Mendengar berita ini, sang murid bersyukur, meskipun sejak dulu dia yakin bahwa guru tidak akan terganggu atas perbuatannya. Tidaklah mungkin seorang guru memberitahukan aib murid kepada murid yang lain. Dan anak panah yang dilepas guru tidak akan sampai kecuali bila murid yang mendengar menyampaikannya. Hal-hal demikian ini muncul dari nafsul imarah (ghodhobiyah) dan bukan nafsu syahwat, dan hal ini membuktikan bahwa nafsul imarah (ghodhobiyah) memang sulit untuk ditaklukkan. Manusia diuji oleh hawa nafsunya sendiri yang dipaksakan oleh Allah, atas kehendak-Nya, kita tidak mampu menolaknya. Oleh karena nafsu, manusia tidak dapat bertindak adil dengan dirinya, mana ada manusia yang mengaku dirinya salah meskipun salah. Guru dengan pandangan batin dengan tujuan tarbiyah akan mengatakan kepada seorang murid salah dan ‘marah’. Jika si murid langsung mendatangi gurunya dan memohon maaf, maka sang guru ketika mendengar itu akan berkata, ‘Aku yang salah.’ Guru membela muridnya yang salah dan menyalahkan yang benar, tujuannya untuk membebaskan daripada kungkungan nafsu, dalam rangka membangun tarbiyah. Tidaklah mungkin murid menyadari tipu muslihat nafsu, dengan sekedar memandang pada setiap waktu dan melawannya sendiri, kecuali mesti ada guru yang dia tunduk kepadanya. Ironisnya meskipun guru telah memberi maaf, tetapi beberapa murid masih terus memendam rasa marah, menunjukkan seolah-olah taklid kepada gurunya, yang menjadi pertanyaan apa yang diambil oleh murid dari gurunya? bukankah qudwah dan bukan nafsunya sendiri, gurunya sudah memberikan contoh dan menunjukkan sifat pemaaf dan sabar tetapi tidak diambil sebagai pelajaran (qudwah), sehingga mereka akan berjalan ditempat dan tidak berjalan menuju Allah.

Orang bila memperoleh kekayaan secara tiba-tiba, maka ia akan membeli barang-barang yang konsumtif, dan dipamerkan kepada orang lain, ini karena emosi, karena nafsu, tetapi tidak berlaku bagi orang yang memang sudah menjadi orang kaya lama. Begitu juga murid yang baru memperoleh anwar atau cahaya batin, ia akan meracau atau pamer untuk diketahui murid yang lain, oleh karena itu gunakanlah pemakluman atau pemaafan, begitulah yang tedapat pada kitab yang ditulis oleh Syaikh. Abdul Ghani An-Nabulsi,qs. di Damaskus, Syria.

Yang dikehendaki oleh Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) kepada murid-muridnya adalah meluruskan pandangan hati hanya kepada Allah SWT (siddqut tawajjuh), bukan menyibukkan pandangan diri kepada dunia yang justru akan meniadakan Allah. Seorang wali pun selalu menyembunyikan kewalian dan karomahnya, khawatir sang murid tergelincir karena membesarkan dirinya bukan Allah. Oleh sebab itu seorang Aulia Allah berkata bahwa karomah adalah haidnya para wali, karena haid adalah kotoran maka harus disembunyikan. Seperti ketika seorang wali melihat orang yang berpenyakit hati berada dihadapannya, terlihat bagaikan wanita pingitan yang terbuka auratnya, maka beliau seolah-olah menutup wajahnya karena malu, lantas mengasihi dan menyayanginya. Itulah sifat yang paling menonjol dari Aulia Allah, sebagai tanda bahwa Asma Ar Rahmaan dan Ar Rahiim telah ditajallikan kedalam hati oleh-Nya, sehingga terlihat seperti 'penampakkan-Nya'. Begitu hebatnya Aulia Allah menyembunyikan kewalian dan karomah maka tidak ada seorangpun yang dapat mengenalnya kecuali wali yang lain. Syaikhuna pernah berkata bahwa : 'Tidak ada yang mengenal wali keuali wali.' Maka jangan pernah menyebut seseorang sebagai wali atas penglihatan dan penilaiannya sendiri. Kembali kepada siddqut tawajjuh, dengannya dapat menghindarkan seseorang dari sifat-sifat yang tercela atau buruk, khususnya dalam hal menabuh genderang gibah. Gibah itu membuat nafsu bergembira atau senang, tetapi membuat sang pembimbing atau sang guru bersedih, meskipun kesedihan sang Guru tidak diperlihatkan dan tidak akan terlihat. Oleh karenanya, bisa jadi murid-murid secara jasmani terlihat dekat dengan gurunya tetapi sesungguhnya jauh secara ruhani dan sebaliknya yang jauh secara jasmani sesungguhnya dekat ruhaninya.

Dari sekian banyak wejangan Syaikh. Wassi' Achmad Syaechuddin (semoga Allah merahmatinya) memberikan gambaran bahwa keadaan jiwa murid tampak pada pembicaraan dan perilakunya, bilamana ia punya sifat sabar dalam ruhaninya, maka setiap peristiwa yang menimpanya ia akan mampu bersabar, dan juga jika mempunyai sifat dermawan maka setiap memberi ia akan ikhlas, serta akan merasa cukup dalam setiap keadaan jika ia mempunyai sifat qona'ah. Nah manhaj atau metode yang diberikan oleh Syaikhuna kepada murid-murid berkenaan dengan pekerjaan tarekat adalah untuk memperoleh limpahan ruhani yang mulia ini. Sebaliknya jika yang dipunyai oleh seorang murid adalah sifat benci, maka yang diucapkan dan dilontarkan adalah hal-hal yang keji. Syaikh Nawawi al Bantani,qs pernah berkata 'Ya Allah, jika aku membeci seseorang saja, maka jangan engkau terima ibadahku.' Karena, benci adalah induk dari penyakit hati yang mengarah kepada syirik halus atau syirik khofi. Kita bisa membayangkan dengan menggunakan akal tentang sifat-sifat Maha Mulia Allah SWT, khususnya sifat yang berkenaan dengan pemberian ampun dan maaf, sifat ini terbanyak daripada sifat-sifat-Nya yang lain, maka Dia disebut Maha Pengampun dan Maha Pemaaf, karena selalu memberikan ampunan dan maaf kepada pelanggar hukum-hukum-Nya kecuali syirik. Nah orang-orang yang telah menerima limpahan (tajalli) sifat pemaaf ini, mudah memberi maaf kepada orang lain, karena memang sifatnya, sebagaimana mata yang mempunyai sifat melihat, maka dapat melihat. Sebaliknya orang yang tidak mempunyai sifat ini, akan secara terpaksa bila memberi maaf, sehingga suatu saat akan mengungkit kesalahan orang lain lagi, dan tidak akan mampu menutupinya. Sifat-sifat mulia yang terdapat pada ruhani seseorang adalah merupakan Tajalli dari sifat-sifat Maha Mulia Allah SWT. Para Syaikh Sufi terdahulu menyebutnya sebagai maqomat ruhiyah dan dizaman Imam Ibnu Arabi,qs disebut sebagai Nuur Muhammad, syuhud atau Akhlak Mulia dan orang yang beruntung memperolehnya disebut sebagai Insan Kamil atau Aulia Allah.

Barokah dari marahnya seorang guru kepada murid adalah pemicu madadnya sang guru guna wushul kepada Allah SWT. Sang murid barulah merasakan rasa takut kepada Allah yang hakiki setelah mengaji lebih dari 20 tahun lantaran sang guru menegurnya, dan sesungguhnya menurut Imam Ahmad Zarruq,qs keadaan takut seperti inilah sebagai syarat utama orang memasuki dunia tasawuf. Seorang syaikh berkata : 'Jika seseorang menyakiti hatimu dengan memfitnah atau apapun yang membuat hatimu sakit, maka obatilah hatimu dengan membebaskan hutangnya jika ia punya hutang, atau berikan ia seuatu yang diperlukan, dengan begitu engkau telah mengikuti sabda baginda Nabi Muhammad,saw, yakni balaslah keburukan dengan kebaikan, maka engkau akan memperoleh ketenangan.'

Kehendak Allah begitu tersembunyi karena muncul dari sifat Dzat yang Ghaib mutlak dan kehendak-Nya pastilah baik, karena seluruh kebaikan berada ditangan-Nya (biyadihil khaiir). Bagi sang Guru apapun perbuatan Allah yang ditampakkan kepada makhluk adalah baik, apakah itu berupa cacian ataupun pujian kepadanya, sehingga jika ada murid yang mengkritik atau bahkan mencacipun hakikatnya adalah baik, karena terlihat oleh hatinya (syuhud) bahwa Allah sedang mengujinya. Sedangkan bagi murid bila ditegur oleh gurunya, dadanya terasa sesak bagai tertimpa langit yang runtuh, padahal hakikatnya adalah kasih sayang dari sang guru.

Semoga bermanfaat, wallahualam bisawab.

Selasa, 28 Februari 2017

SYAUQ (RINDU)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian tentang syauq telah berlangsung sejak bulan January 2017, satu bulan lamanya guru kami Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menjelaskan makna terdalam dari syauq ini berdasarkan kitab al Luma karya Syaikh abu Nasr Al Sarraj,qs., dan pengalaman ruhani pribadinya.

Meskipun rindu ini adalah maqom syarif atau kedudukan yang mulia yang hanya dikenakan oleh ahli-ahli ruhani yang tangguh dan dipilih oleh Tuhan, tidak ada salahnya jika dibawah ini diuraikan sekelumit tentang pengetahuannya. Karena tidaklah mungkin menjelaskan keadaan rindu tanpa menjelaskan pengetahuannya terlebih dahulu. Para ahli tarekat percaya bahwa rindu adalah sebuah tangga yang mungkin bisa didaki dan ditapaki dengan sebuah upaya yang sungguh-sungguh (riyadah) dan terus menerus memerangi hawa nafsu (mujahadah).

Kata syauq dan syauk dalam Bahasa Arab hanya berbeda satu huruf, yang pertama berarti rindu dan yang kedua duri. Hal ini mencerminkan bahwa derita karena rindu seperti hati yang tertusuk-tusuk duri. Derita rindu hanya dirasakan oleh pecinta yang terpisah dari yang dicinta. Dari penderitaan ini lahirlah gerak tarian dan syair-syair yang mempesona. Salah satu pecinta yang menggemparkan dunia kesufian adalah Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,qs., yang secara menakjubkan menjalin sulaman kata-kata yang rumit menjadi rangkaian sajak yang bermutu tinggi, laksana mutiara yang baru lepas dari rumahnya, seperti juga ketika ia berputar-putar dalam tarian darwisnya. Sejarah kesufian mencatat bahwa penganut doktrin cinta yang pertama kali adalah seorang sufi wanita yang bernama Rabiyah al Adawiyah,qs., yang sezaman dengan Hasan al Basri,ra, yang menganut doktrin kezuhudan. Dari ketiga karya Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,qs., yaitu Fihi ma fihi, Matsnawi dan Diwani Syamsi Tabrizi semuanya bercorakkan cinta dan kerinduan yang tiada duanya. Sebagai tanda penghurmatan, Syaikh kami (semoga Allah merahmatinya) telah beberapa kali ziarah ke Konya, Turkiye tempat beliau dimakamkan dan mengikuti perayaan haul disana. Dalam perjalanan spiritual ini disampaikan sejarah kehidupannya yang begitu memikat kepada murid-murid yang menyertainya.

Salah satu syair Hadrat Maulana,qs., yang apik dan dikenal dibelahan dunia barat sekalipun, mengisahkan kerinduan seruling bambu yang terpisah dari rumpun bambu, yang tangisnya di ilustrasikan sebagai alunan suara seruling, sebagai gambaran kerinduannya kepada Tuhan. Seperti ruh yang terpenjara oleh pesona alam dunia yang ingin kembali kepada pencipta-Nya. Menjadi perbincangan yang hangat bagi kelompok pencinta seni dan kesucian yang tiada henti-hentinya.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa : 'Tanda kerinduan adalah mencintai kematian.' Wejangan ini begitu tinggi kandungan maknanya, karena hanya dengan kematian perjumpaan dengan yang dicinta bakal terwujud. Baginda Rasulullah,saw., pernah bersabda : ‘Mutu qobla anta mutu,’ yang artinya matilah engkau sebelum engkau mati, atau mati secara maknawi sebagai manusia yang telah terbebaskan dari hawa nafsu atau keinginan diri. Orang yang ghaybah (terpisah) dari hawa nafsunya maka ia akan hudhur (hadir) bersama Tuhannya, orang yang hudhur akan terbebas dari belenggu penderitaan karena sirna kerinduannya.

Cinta dan kerinduan letaknya di hati atau latifatil qolbi, oleh karenanya bagi murid yang telah diijazah dzikir lataif oleh Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), dianjurkan untuk selalu menghadirkan kedua rasa ini manakala memulai pelaksanaan dzikir. Meskipun terdengar absurb, dan dirasakan begitu sulit melakukannya, namun disuatu saat, jika sang murid beruntung memasuki alam muroqobah akan mengetahui manfaat dari pekerjaan tersebut.

Rindu murid kepada guru mursyidnya, karena pesonanya yang begitu hebat bersarang didalam hati. Tidak ada sesuatu pun yang mempesona kecuali gurunya. Perasaan ini mendominasi ruang hati yang membuat sang murid selalu dalam keadaan rindu dan ingin berjumpa dengan mursyidnya. Ikatan batin yang begitu kuat ini, menjadi modal utama bagi sang murid untuk menapaki jalan kesucian. Tanpa disadari, dalam keadaan yang demikian jalur cahaya ke ratai emas silsilah tarekatnya selalu terbuka, sehingga amal-amal yang dilakukannya dapat dengan cepat sampai ketujuan. Dengan berkah gurunya, lama kelamaan perasaan rindu kepada mursyidnya akan ditransformasikan menjadi rindu kepada baginda Rasulullah,saw., dan seterusnya sampai kepada Allah SWT dengan rasa dan kadar rindu yang berbeda.

Betapa indah jenis kerinduan seperti ini, yang merobek-robek hati dan memaksa air mata bercucuran, khususnya manakala api rindu berkobar didadalam dada dan membakar segalanya kecuali yang dirindukan. Airmata kerinduan yang menetes mempunyai kualitas yang berbeda dengan airmata biasa. Suatu ketika Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berada di Kalimantan Timur tepatnya di Penajam, sedang diatas perahu bersama dua orang muridnya, saat itu mendung begitu gelap dan hujan, ajaib hujan hanya berputar-putar disekeliling, tanpa menyentuh sedikitpun orang-orang yang berada diperahu. Ditanya penyebabnya, Syaikhuna (semoga Allah meramatinya) menjawab : 'Itu bisa terjadi karena bias kecintaan dan kerinduan murid kepada gurunya, yang menjadikan alam merunduk karenanya.' Di zaman kini, kejadian yang seperti ini, yang dapat mengguncangkan alam semesta, yang membuat iri makhluk-makhluk ghaib lainnya, sudah langka! Wajar bila seorang Ibu yang sudah sepuh berkata bahwa kita hidup di zaman edan dan zaman yang hanya berisikan kekosongan.

Semoga Allah menyayangi kita semua.

Jumat, 24 Februari 2017

BASTH (KELAPANGAN) DAN QABTH (KESEMPITAN)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Keadaan ruhani yang disebut dengan uns (kedekatan) dan haybat (keseganan) berkaitan erat dengan keadaan kelapangan hati (basth) dan perasaan kesempitan hati (qabth).

Murid yang menapaki tangga awal cinta belum tentu bisa membedakan perubahan pada nafs dan hati. Mereka masih bergelut dalam tahap pengenalan tehadap tabiat nafs-nya, dan mencoba dengan sekuat tenaganya untuk memeranginya, akibatnya yang dirasakan adalah perasaan gembira dan sedih yang datangnya secara tiba-tiba tanpa diharapkan. Pelaksanaan dzikir yang tekun disertai dengan metode yang benar senantiasa akan menghadirkan kedua keadaan itu, seiring dengan teguhnya keimanannya. Teguhnya keimanan akan mendatangkan harapan (roja) dan takut (khauf). Jika daya rojanya lebih dominan ia akan merasakan kegembiraan dan jika daya khaufnya yang lebih bekuasa ia akan merasakan kesedihan. Sementara bagi murid yang menapaki pertengahan tangga cinta, mereka dapat merasakan keadaan basth dan qabth yang berkaitan dengan perubahan pada nafs dan hati, sebagai ganti dari harapan (roja) dan ketakutan (khauf) pada pencinta tahap awal.

Untuk menyederhanakan pengenalan terhadap perubahan pada hati dan nafs yang berkenaan dengan qabth dan basth, diawali dengan salah satu ujaran dari yang mulia Syaikh Abu Yazid al Busthami,qs., yang mempunyai makna yang tinggi, yaitu : ‘Penyempitan kalbu terletak dalam kelapangan atau keleluasaan nafsu, dan kelapangan kalbu terletak dalam penyempitan nafsu.’ Beliau adalah seorang sufi agung yang namanya diabadikan dari perkumpulan para sufi yaitu Taifuriyah yang sekarang menjadi tarekat Naqsyabandiyah. Hampir semua ujarannya yang bisa dijumpai dalam kitab-kitab, bermutu tinggi. Namun, jIka ujaran-ujarannya diartikan oleh orang yang tidak mempunyai otoritas dalam bidang ini atau secara jahiran saja maka akan menuduhnya sebagai orang yang zindik, oleh karenanya para syaikh sufi sangat berhati-hati dalam menjelaskan kepada muridnya makna-makna yang tersembunyi namun mempunyai kandungan yang murni dan tinggi. Wajar saja, karena doktrin beliau dalam meneguhkan kesucian adalah kemabukan lawan dari pada ketidakmabukan.

Hubungan kalbu dengan nafs seperti wajah yang bermuka dua, jika wajah nafs terang maka wajah kalbu gelap, dan sebaliknya jika wajah nafs gelap maka wajah kalbu terang. Nah, dorongan kejahatan terletak pada an-nafs, sedangkan dorongan kebaikan terletak pada ar-ruh, jika keduanya ditempatkan dalam satu kamar hati atau kamar kalbu, maka keadaan kamar kalbu itu bisa berubah-ubah sesuai dengan ‘pengaruh’ pemenang pertempuran antara ar-ruh dan an-nafs tadi. Jika seseorang mengikuti keinginan an-nafs maka akan mempengaruhi ruang kalbu menjadi gelap, dan sebaliknya jika seseorang mengikuti ajakan ar-ruh atau kebaikan maka kamar kalbu terpengaruh menjadi terang. Jika gelap disebut sebagai hijab, maka hati akan merasakan ‘kesempitan’ dan jika terang disebut sebagai penyingkapan atau kasyf maka hati akan merasakan kelapangan. Akan tetapi gelap atau terangnya kamar kalbu, atau sempit dan lapangnya tergantung kepada kebijaksanaan Tuhan, tanpa manusia bisa mengupayakannya. Manusia tidak mempunyai hak sama sekali terhadap hal itu, meskipun ia melakukan latihan spiritual yang ketat. Oleh karenanya riyadhah dan mujahadah bukan penyebab langsung akan diperolehnya ‘kelapangan’ dan ‘kesempitan’ dalam istilah tasawufnya disebut sebagai ‘qabth dan basth’, namun tanpanya jangan pernah bermimpi untuk memperolehnya.

Pendeknya qabth dan basth adalah akibat dari pengaruh ruhani semata, yang datangnya dari Tuhan, dan memenuhi hati dengan kegembiraan serta menundukkan jiwa rendah, atau menundukkan hati dan menundukkan jiwa rendah dengan kegembiraan. Oleh sebab itu dalam qabth ada kesedihan dan dalam basth ada kegembiraan. Nafs yang sempit tercegah dari kemudharatan dan sebaliknya hati yang lapang tercegah dari kerusakan.

Guru kami tercinta, Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pernah mengatakan bahwa : ‘Kegembiraan yang hakiki dirasakan manakala hanya dalam persatuan dengan objek pengetahuan dan kesedihan hanya dalam keterpisahan dengan objek keinginan.’ Wejangan ini sangat dalam maknanya, karena pengetahuan dan keinginan adalah dua hal yang sangat berbeda. Yang pertama letaknya bersama akal dan yang terakhir berada pada jiwa berupa angan-angan. Pengetahuan dalam hal ini diperoleh dari mengamalkan pengetahuan yang sudah diketahuinya dengan cara yang benar, sebagaimana sabda baginda Rasulullah,saw., : “Man ‘amila bima ‘alima, warotsallahu ‘ilma ma’lam ya’lam yang artinya barang siapa mengamalkan ilmu yang sudah diketahuinya, maka Allah akan mewariskan ilmu yang belum diketahuinya.” Allah akan mewariskan ilmu pengetahuan tentang diri-Nya, sebagai dasar dari semua barokah di dunia dan di akhirat nantinya. Hanya dengan ilmu pengetahuan ini saja Allah bisa dikenal dan bukan dengan keinginan. Persatuan dengan objek pengetahuan ini merupakan kegembiraan yang tiada taranya atau suka cita yang amat sangat (uns). Orang yang dimuliakan Tuhan dengan ilmu pengetahuan tentang Tuhan sungguh sangat beruntung, karena hal ini merupakan anugerah Tuhan. Dan tidaklah mungkin orang yang dimuliakan dengan anugerah Tuhan akan terhina karena tindakannya sendiri. Tuhan memuliakan nabi Adam,as, dengan pengetahuan dan tidak menghinakannya karena dosanya

Ada dua orang yang bernama Yahya didalam sejarah keagamaan, yang sama-sama mempunyai riwayat yang hebat, yang pertama adalah nabiyullah Yahya,as., yang selalu menangis sejak dilahirkan, karena beliau,as., berada dalam kesempitan (qabdh), yang biasa berkata kepada nabiyullah Isa,as., : ‘Wahai Isa, apakah kau tidak takut terputus dari Tuhan?’ dan nabiyullah Isa,as., dalam keadaan basth mengatakan : ‘Wahai Yahya, apakah kau tidak punya harapan akan kasih sayang Tuhan?.' Yang kedua adalah Syaikh Yahya bin mu’adz,qs., yang menempuh jalan harap sehingga dia mengikat erat semua pengikutnya dengan doktrin harap. Beliau,qs., berkata : ‘Dunia ini adalah sebuah tempat dukacita dan akhirat tempat ketakutan yang mencekam, dan manusia tidak pernah terlepas dari keduanya hinga dia masuk surga atau neraka. Berbahagialah jiwa yang yang terlepas dari duka cita dan ketakutan yang mencekam, dan yang telah membebaskan pikiran-pikirannya dari kedua alam, dan yang telah sampai kepada Tuhan.’ Dari ujaran ini dapat disampaikan bahwa akhir daripada qabth adalah basth dan akhir daripada basth adalah fana, oleh karenanya dalam fana tidak adalagi qabth dan basth atau tidak adalagi dukacita dan ketakutan yang mencekam.

Hijab sebagai penyebab 'kesempitan' antara hati dengan nafs begitu banyak dan halus laksana awan yang berlapis-lapis. Untuk mengenal dan menundukkannya, hati harus berpaling dari segala sesuatu dan berlindung hanya kepada Allah SWT, dengan penuh kesungguhan dan penyesalan. Terjadinya hijab adalah perilaku yang buruk dan kedurhakaan kepada Tuhan, sedangkan pengangkat hijab hanyalah Allah SWT semata. Mustahil hijab terangkat tanpa ketaatan atau kesungguhan dalam melakukan riyadhah dan mujahadah.

Demikian para sahabat semoga ada manfaatnya.

Sabtu, 18 Februari 2017

UNS DAN HAYBAT

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian pada hari Jum’at malam dan Sabtu sore, dari tanggal 17 sampai 24 Pebruari 2017 membahas tentang uns (kedekatan)dari kitab al Luma karya Syaikh Abu Nashr as Sarroj,qs. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menjelaskan tahapan ini dengan sederhana dan mudah dimengerti serta memberikan tambahan tentang haybat (keseganan). Karena uns dan haybat silih berganti dirasakan oleh para pejalan. Namun beliau berpesan bahwa uns dan haybat bukanlah ilmu anjuran melainkan menjadi target untuk diperoleh dengan cara-cara atau upaya yang telah diajarkan.

Seorang syaikh atau guru mursyid sangat berperan dalam membentuk kepribadian muridnya. Bilamana seorang murid tenggelam didalam muroqobah, setelah sekian lama tekun didalam dzikir-dzikirnya. Maka ia akan berperilaku sesuai dengan rasa-rasa yang ia peroleh. Muroqobah yang ke empat, yang berkenaan dengan Asma ul Husna atau nama-nama Indah Allah SWT niscaya Allah akan menampakkan Keindahan-Nya (Jamal) atau Keperkasaan-Nya (Jalal) pada pelakunya. Jika keindahan-Nya lebih berkuasa atau menguasai hati, maka pelakunya akan merasakan daya harap (roja) dan daya selanjutnya adalah kedekatan (uns), sedangkan bilamana keperkasaan-Nya yang lebih mendominasi, maka akan merasakan daya takut (khauf) yang kelanjutannya akan menimbulkan keseganan (haybat). Didalam uns ada kegembiraan atau sukacita dan didalam haybat ada kesedihan.

Mudahnya begini, murid-murid yang sering mengikuti pertemuan bersama Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) akan terbagi dua, bagi yang melihat kelembutan dan keindahannya, ia akan dekat dan lama kelamaan menjadi akrab, dari keakrabannya akan menimbulkan rasa sukacita (uns), sementara murid yang melihat kegagahan dan ketegasannya akan merasakan keseganan yang didalamnya akan menimbulkan kesedihan (haybat). Kedua daya uns dan haybat ini, sangat bermanfaat bagi perkembangan ruhani. Perbedaannya terletak pada pengaruhnya, daya uns digunakan terhadap hati (qolbi) dalam meningkatkan pengenalan terhadap sifat dan perbuatan gurunya (makrifat), sedangkan daya haybat digunakan terhadap 'pelenyapan' tabiat jiwa rendah dan keinginan-keinginannya (nafs). Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa Tuhan melenyapkan nafs orang-orang yang mencintai-Nya dengan menampakkan keagungan-Nya (Jalal-Nya) dan menganugerahi hati mereka kehidupan 'abadi' dengan menampakkan keindahan-Nya (Jamal-Nya).

Murid-murid yang tidak bisa menikmati kedekatan (uns) atau keseganan (haybat) kepada gurunya, berupa rasa suka cita atau kesedihan, sama artinya ia tidak mengenal kewajiban-kewajibannya sebagai murid, ia tidak serius melakukan riyadhah dan mujahadah, ia menyia-nyiakan pekerjaan tarekat yang sangat tinggi mutunya dalam beribadah, rasa suka citanya hanya manakala ia menyebarkan berita bohong atau dalam masa kini disebut hoax. Karena tidak menyukai pemimpin yang bukan pilihannya dan mendengar gosip-gosip yang terus menerus menggerus pertahanannya, maka banyak murid terlibat erat dengan hal yang haram ini. Rubat yang biasa membicarakan dan mendengarkan perbincangan dan gagasan yang indah tentang tasawuf, bahkan sampai malaikat pun turut mendengarnya, berganti dengan pendapat kosong dan sangkaan yang tidak berdasar. Murid yang mempunyai informasi kosong, bergegas menyampaikan kepada yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya). Tidak menyadari yang disampaikan kepada Syaikhuna adalah sampah! Guru dianggap tempat menampung sampah-sampah. Murid yang seperti ini telah menempatkan dirinya lebih mengetahui daripada gurunya dan bertindak bodoh. Sang guru hanya mendengar dan tersenyum, namun merasa sangat sedih melihat muridnya menjadi demikian, meskipun tidak diperlihatkannya. Yang ditunggu-tunggu oleh sang guru adalah pertanyaan tentang kesulitan dalam memerangi perangainya yang buruk atau kegaiban pengalaman ruhaninya. Ironis, sang guru membimbing murid-muridnya agar waspada terhadap yang halal, agar keadaan ruhaninya membaik, sang murid malah menikmati sesuatu yang haram. Itulah jenis kedekatan yang lain, dekat dengan syaithon bukan dengan Tuhan yang justru akan menjauhkan dari kejernihan jiwanya. Mereka bangga telah melakukan demo dan lupa bahwa dengan berdemo ia telah membuat para wanita, ibu-ibu dan anak-anak serta pihak lain merasa tidak aman dan tidak nyaman. Berdemo belum tentu meningkatkan keadaan ruhani dan berpahala sedangkan membuat orang lain merasa tidak nyaman dan aman adalah dosa dan menggelapkan hati. Mereka lupa bahwa senjata yang paling tajam di dunia ini adalah doa bukan demo, sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah,saw. Bagi orang-orang yang bertasawuf, demo memang diwajibkan, tetapi bukan ditujukan kepada orang lain melainkan kepada dirinya sendiri yang selalu mengecoh untuk merusak kedekatan dengan Tuhan. itulah yang selalu diajarkan oleh sang mursyid, dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah.

Fakta, saat ini bahwa banyak negara di timur tengah yang mayoritas beragama Islam saling berperang, hanya Negara Palestina yang berbenturan dengan Israel, selainya berperang dengan sesamanya yang beragama Islam, yang diawali dari berita-berita hoax yang menyebar dengan cepat melalui media dan mobile. Tentunya kita tidak menghendaki hal ini terjadi kepada negara kita yang cinta damai ini, oleh karenanya diam jauh lebih baik daripada berbicara. Hoax bisa memecah belah persatuan bangsa, kita bisa bayangkan sebesar apa dosa pembuat dan penyebar hoax ini. Gibah yang latar belangkang riwayatnya benar dilarang oleh agama atau di haramkan apalagi fitnah atau hoax.

Sesungguhnya kedekatan dengan Tuhan tidak mungkin bisa dipahami, meskipun didalam Al Qur'an ada beberapa ayat tentang 'kedekatan' Tuhan kepada manusia, karena tidaklah mungkin ada keserupaan antara Tuhan dengan manusia. Jika kedekatan adalah mungkin, itu hanya mungkin dengan dzikir dan muroqobah kepada-Nya, yang merupakan sesuatu yang berbeda dengan Diri-Nya sendiri. Jika manusia puas dengan dzikir dan muroqobahnya maka ia puas dengan dirinya sendiri, dan puas dengan selain-Nya adalah kepalsuan bukan kedekatan.

Demikian semoga bermanfaat dan semoga Allah mengkaruniai ilmu yang bermanfaat kepada kita semua.

Jumat, 14 Oktober 2016

FAQIR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Enam belas tahun yang lalu, Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) beserta beberapa muridnya berziarah ke Lubuk Linggau, mengunjungi muridnya yang baru membuka kholaqoh dzikir disana. Setibanya, sebagian murid menjerit dan menangis melihat keadaan kehidupannya, mereka tinggal di tengah hutan dengan rumah yang sangat sederhana, tanpa daun pintu dan jendela, hanya ditutup dengan kain. Kami heran, bagaimana bisa mereka menjalani kehidupan yang demikian tanpa memperlihatkannya dan tanpa meminta. Keadaan ini sangat kontras dengan keadaan murid-murid yang datang kesana, baginya kemiskinan merupakan momok yang sangat menakutkan sedangkan bagi murid-murid yang berada disana telah mengalaminya tanpa berkeluh kesah dan wajah-wajahnya memperlihatkan kegembiraan. Apakah murid-murid di Lubuk Linggau telah masuk kedalam maqom faqir atau karena terbiasa dengan kehidupan yang demikian, kami tidak mengetahui namun mengharapkannya, agar kami dapat belajar darinya.

Dua kitab tasawuf kuno yaitu Al Luma karya Syaikh Abu Nassir As Sirrad,qs., dan Qutub Qulub karya Syaikh Abu Thalib al Makky,qs., merupakan kitab rujukan bagi kitab-kitab tasawuf terkemudian. Al Luma menjadi referensi bagi Imam Qusyairi,qs., dalam menyusun kitab Risalatul Qusyairah dan Qutul Qulub menjadi dasar penyusunan beberapa kitab karya Imam Al Ghazali,qs. Pengajian bulan September 2016 membahas tentang faqir dari kitab Al Luma yang disampaikan oleh Ustadz Yordanis Salam. Guru kami tercinta Syakh Waasi’ Ahmad Sayechudin (semoga Allah merahmatinya) menyederhanakan pembahasan tersebut dengan mengatakan bahwa : ‘Faqir adalah tidak punya apa-apa,’ dan ‘merasa dicukup-cukupkan.’ Maksudnya adalah, orang yang tidak punya apa-apa adalah miskin, yang membutuhkan harta benda dunia, sehingga selalu berada dalam lautan kesulitan, namun membatasi diri dari meminta-minta. Tentunya yang dibutuhkan untuk menopang kehidupannya adalah sandang, pangan dan tempat tinggal. Kondisi yang demikian ini berlangsung terus menerus dan dalam waktu yang lama. Namun demikian ia tetap berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mendapatkannya. Akan tetapi, acap kali apa yang diperolehnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Orang yang beriman diperintahkan untuk bersedekah kepadanya. Dibutuhkan mata batin untuk dapat melihat orang yang faqir. Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman: ‘Bersedekahlah bagi orang-orang fakir yang terikat pada jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha di bumi (mencari penghidupan). Orang yang tidak tahu, mengira mereka itu orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Engkau dapat mengetahui dengan tanda-tanda mereka; tidak meminta kepada manusia berulang-ulang. Dan apa-apa yang kamu nafkahkan dari harta maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.’ (QS 002 : 273)

Dan jika yang diharapkan tak kunjung tiba setelah melakukan upayanya yang maksimal, maka ia akan melepaskan upayanya dan hanya berpaling hanya kepada Allah SWT semata. Nah, jika sang faqir menanggung semua kesulitannya demi Allah SWT, itu adalah sebuah kemuliaan. Sedangkan jika mengandalkan upayanya agar terbebas dari kesulitan, maka ini disebut sebuah kehinaan, karena ia menuhankan dirinya sendiri. Kefakiran mempunyai bentuk dan makna, bentuknya adalah kemiskinan dan maknanya adalah merasa membutuhkan Allah SWT. Oleh karenanya meskipun seseorang yang kaya harta benda dunia namun keadaannya selalu membutuhkan Allah SWT saja, maka ia dapat disebut sebagai faqir secara hakikat. Sedangkan jika yang dibutuhkan pujian dari makhluk maka ini merupakan kehinaan baginya. Rasulullah SAW bersabda :“Yang disebut miskin bukanlah orang yang pekerjaannya mengemis keliling kampung, sehingga tertolak dari satu dua suap nasi atau satu dua biji kurma. Namun miskin menurut definisi Islam harus ditolong dan diperhatikan, yaitu orang yang tiada usaha/tidak punya penghasilan tetap untuk mencukupi nafkahnya, dan tidak mengundang perhatian umum untuk disantuni/ disedekahi dan tidak pula keliling mengemis ke pintu setiap orang”.

Dalam dunia kesufian, faqir merupakan sebuah maqom yang tinggi, bahkan di abad kesembilan, kefaqiran menjadi kebanggaan orang-orang yang bertasawuf. Para dawisy memakai pakaian yang bertambal sebagai lambang kafakiran, mereka tidak mencari nafkah melainkan mengabdikan dirinya dengan melakukan peribadatan yang keras. Masyarkat Islam terdahulu sangat memuliakan mereka lantaran bekas-bekas peribatannya Nampak pada wajahnya yang bercahaya dan bukan karena kemiskinannya. Tidak mungkin menjelaskan kefaqiran tanpa menjelaskan tentang sabar terlebih dahulu, karena mustahil seseorang dapat mencapai maqom faqir tanpa melalui maqom sabar. Syaikh Abul Al Hasan Nuri,qs., menggambarkan ciri seorang yang fakir adalah bilamana dia tidak memperoleh apa pun, dia diam, dan bilamana dia memperolah sesuatu, dia memandang orang lain lebih berhak memperolehnya dari pada dirinya, sehingga karenanya dia mudah memberikannya.

Menurut Syaikh Abu Nassir As Sirrad,qs., tingkatan tertinggi maqom faqir adalah bilamana ia tidak meminta apa pun kepada seseorang, baik secara lahir maupun batin dan tidak menunggu apapun dari seseorang. Jika diberi sesuatu ia tidak mengambilnya. Tingkatan kedua sama dengan tingkatan tertinggi namun jika diberi ia akan menerimanya. Sedangkan yang terendah adalah ia merasa senang mengungkapkan keadaannya kepada sebagian sahabatnya, tanpa berharap mendapatkan bantuan darinya. Lalu sebagai kaffarah ia bersedekah.
Imam Junayd,qs., berkata bahwa tanda-tanda orang fakir yang jujur adalah tidak meminta dan tidak memperlihatkan tanda kefakirannya dan jika ditawari ia terdiam.

Sedangkan Syikah Sahl bin Abdullah,qs. Berkata bahwa seorang fakir yang jujur adalah ia tidak meminta dan tidak menolak bila diberi serta tidak pula menyimpan apa yang diterimanya.

Tidak ada satupun orang yang bertasawuf tanpa melalui tahapan kefakiran, oleh karenanya begitu pentingnya kefakiran ini, ada beberapa syaikh yang berani berpendapat bahwa kefakiran mengungguli kesucian.

Demikian para sahabat semoga bermanfaat.


Jumat, 19 Agustus 2016

WARA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pengajian Jum’at malam dan Sabtu sore membahas tentang wara dari kitab Al luma karya Syaikh Abu Nashr as Sarraj,qs. Yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengawalinya dengan memuji Allah SWT dan bershalawat atas manusia teragung sepanjang masa sayidina Muhammad Rasulullah,saw., lalu mengucap syukur atas terbentuknya qolaqoh dzikir dan di akhiri dengan mengajak murid-muridnya untuk memulai wara agar di kemudian hari Allah SWT berkenan menjadikannya sebuah keteguhan atau maqom.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Mari kita periksa sudah sampai dimana tingkat wara kita?’ Wejangan ini merupakan sindirian yang tajam, tetapi banyak murid yang tidak menyadarinya, malah wajahnya berbinar-binar tatkala mendengar itu, seolah-olah ia sudah berada pada tingkatan ini. Salah satu syarat wara adalah mengetahui dan memahami ilmu fiqih secara baik, sehingga dapat menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kedudukan hukum agama. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Kuasailah ilmu syariat terlebih dahulu baru kemudian bertasawuf.’ Wara termasuk maqom yang tinggi didalam bertasawuf, sebagaimana nama tasawuf itu sendiri yang dimulai dengan huruf 't' yang maksudnya adalah taubat sebagai syarat wajib untuk mengawali alam kesucian, lalu huruf 's' yang maksudnya syukur yaitu tidak menggunakan seluruh failitas dari Allah SWT untuk berbuat maksiat, lalu 'w' yaitu wara yang akan dirinci di bab ini dan kemudian huruf ‘f’ yang berarti fana atau musnah dari sifat kedirian atau sifat ego. Ujung daripada pencapaian bertasawuf adalah fana, namun ada beberapa syaikh yang menyebut ‘ridho’. Sehingga dapat diketahui jarak yang jauh antara wara dengan ridho. Tidaklah mungkin menjelaskan wara dicampur dengan ridho. Insya Allah bila cukup umur di bab berikutnya akan diterangkan mengenai fana dan ridho.

Semua tingkatan dalam bertasawuf berkaitan dengan mujahadah, oleh karenanya wara adalah salah satu bentuk mujahadah atau salah satu bentuk perjuangan melawan diri sendiri dari meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang tidak berarti, dan apa pun yang berlebihan, baik secara lahir maupun batin. secara lahir wara adalah meninggalkan segala penglihatan yang tidak mengingatkannya kepada Allah, menutup telinga dari segala bentuk penjelasan yang tidak membicarakan Allah, dan ia juga menjauhkan tangan dari segala hal yang tidak memiliki arti di hadapan Allah. Sedangkan secara batiniyah wara dapat dikatakan menjauhkan diri dari segala pikiran yang tidak dapat membuat mencapai Allah, termasuk didalamnya meninggalkan cakap-cakap hati selain Allah. Nah, setelah mengetahui wara secara ilmu pengetahuan, sekarang pada gilirannya memeriksa tingkat wara kita, sebagaimana yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pertanyakan di awal bab ini. Jangankan meninggalkan yang meragukan (syubhat) yang dilarang agama saja masih kita langgar. Contohnya, kita masih suka berbohong guna pencitraan agar dianggap orang alim, untuk mempertahankan sanjungan dari makhluk. Kita masih senang menggunjing, kita masih tidak memperdulikan saudara-saudara yang dalam keadaan perang, tidak menolong saudara-saudara kita yang terusir dari tanah airnya. Kita tidak membantu sahabat yang sedang susah, tetangga yang mengeluh dan anak-anak yatim yang perlu biaya sekolah dan makan ataupun orang tua jompo yang perlu perawatan. Kita masih senang membakar uang, menonton acara tv berlebihan, pergi plesiran, makan banyak, tidur lama, menumpuk uang dan harta benda serta benda-benda kesenangan dan masih banyak lagi. Melepas topeng kepura-puraan adalah sebagian dari wara namun sulit dilakukan, agar Allah SWT tidak melucutinya dihadapan semua makhluk, agar menyadari betapa rendahnya kita, betapa tinggi kedudukan para syaikh sufi dan betapa Maha Tingginya Allah SWT.

Merupakan sesuatu yang janggal bila seseorang mengaku mencapai maqom wara tetapi masih berharap dan meminta sesuatu kebutuhan dunia kepada makhluk bukan kepada Allah, baik secara secara terang-terangan atau pun dengan cara isyarat-isyarat. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.’
Khawatir terjerumus kedalam hal-hal yang haram biasanya para akhli tasawuf mengurangi atau membatasi makan, minum, tidur, dan berkata-kata dan mengutamakan ibadah yang bersifat ruhani, seperti berdzikir khafi, menghindari pikiran, perasaan, dan prasangka negatif. Dua di antara tiga pembatasan itu, yakni makan dan tidur, merupakan satu paket. Sebab, orang yang banyak makan biasanya banyak tidur pula. Karena itu dalam laku wara biasanya kedua hal tersebut dihindari. Yang sangat diajurkan dalam wara adalah perilaku sedikit bicara. Sebab, orang yang banyak bicara akan semakin banyak pula salah dan khilafnya. Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq,ra., memberi keteladanan dengan mengulum batu setelah mendengar sabda Rasulullah SAW, "Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, falyaqul khairan au liyashmut (Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, bicaralah yang baik-baik saja, atau lebih baik diam).”

Kisah, seorang ulama sedang berjalan melintasi sebuah jalan di Basrah dan dilihatnya beberapa orang syaikh sedang duduk, sementara beberapa pemuda bermain di dekatnya. Bertanyalah ulama itu: ‘Apakah kalian tidak malu bermain di depan para syaikh?’ Salah satu pemuda itu menjawab : ‘Wara para syaikh ini demikian kecil hingga kami memandang kecil mereka.’ Bagaimana mungkin para pemuda ini dapat melihat yang demikian? Karena pemilik wara akan terlihat pada perilaku kesehariannya. Semakin hebat kualitas waranya, maka semakin tinggi pula kualitas ketaatan beribadahnya dan berlaku sebaliknya. Orang yang wara tentu akan meninggalkan keraguan bukan menciptakan keraguan yang disebabkan oleh bicara dan perilakunya berbeda, karena keadaan batinnya berlawanan dengan perilaku lahirnya. Sebagaimana sabda Rasulullah,saw., : ‘Bersikaplah wara, dan kamu akan menjadi orang yang paling taat beribadah di antara umat manusia.’

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Bahwa wara adalah bersikap waspada atau bersikap hati-hati terhadap kehidupan ini.’ Kemudian beliau juga berkata bahwa hasil daripada puasa adalah sikap wara. Puasa adalah keberpantangan dari yang halal pada siang hari, sedangkan wara meninggalkan yang meragukan, yang tidak berarti dan yang berlebihan pada setiap waktu, baik secara lahir ataupun batin. Jika demikian dapat dikatakan bahwa wara adalah bentuk dari pada keadaan khalwat yang terus menerus. Syaikh Hasan al Basri,qs., berkata bahwa : ‘Bobot sebutir wara yang cacat adalah lebih baik ketimbang bobot seribu hari berpuasa dan shalat.’

Semoga Allah menolong kita untuk dapat belajar menjalankan wara dengan benar dan istiqomah, agar tidak menjadi pengetahuan saja. Karena pengetahuan bisa lupa, sedangkan perbuatan wara seperti menanam sebuah bibit yang akan tumbuh menjadi pohon zuhud dan buah ketaatan. Jika bibit tidak ditanam akan percuma seperti pengetahuan yang tidak diamalkan. Oleh karenanya Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengutip sebuah hadis yang mengatakan bahwa : ‘Barang siapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, maka Allah akan mewariskan ilmu yang belum diketahuinya.’

Demikian para sahabat semoga ada manfaatnya.