Jumat, 02 April 2010

MAWLID 1431H

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Pada abad kedua belas, para syaikh sufi di Iran atau persia menggunakan hadits qudsi sebagai penghurmatan yang tinggi kepada Nabi Muhammad,saw., dari Fariduddin Attar,ra., Abdurahman Jami,ra., hingga Jalaluddin Rumi,ra., semua gemar sekali menggunakan hadits ini, ‘Ana Ahmad bila mim’, ‘Akulah Ahmad tanpa m’, yaitu Ahad. Ahmad, adalah utusan dari Ahad, melalui Ahmad, Ahad bisa dicapai. Terlihat jelas bahwa Ahmad terpisahkan dari Ahad hanya melalui satu huruf saja, yaitu m. Dalam sistem huruf arab, huruf m ini mempunyai nilai 40, yang sama artinya bahwa kenabiannya diperoleh pada usianya yang ke 40, dan di dunia kesufian pensucian diri atau khalwat yang sempurna dilakukan selama 40 hari. Secara mistis huruf m (40) bisa memberikan arti sebagai manusia, atau sifat-sifat dasar manusia, yang harus ditundukkan untuk dapat mengenal Ahad, ‘man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu’. Oleh karenanya tahapan untuk pengenalan diri ini dilakukan melalui 40 tahapan dalam 40 hari (khalwat). Nama manusia tersuci pun dimulai dengan huruf 'm', Muhammad,saw., begitu pun tempat tersuci di dunia ini 'Mekkah' dan 'Madinah'.

Para pencintanya, membuat syair-syair pujian yang elok, Imam Busiri menggunakan huruf m ini untuk karyanya yang masyhur ‘Burdah’. Khalifah Harun Al-Rasyid,ra., pada abad ke-8 pernah merubah tempat lahir Nabi Muhammad,saw., menjadi ruang shalat. Orang-orang yang datang ke Mekkah mendatangi tempat itu dengan membawa-bawa rasa haru dan gembira karena dapat melakukan itikaf, khususnya dihari kelahiran baginda Rasulullah,saw. Tak pelak lagi, orang-orang mengelu-elukan khalifah karena kebijaksanaannya itu. Juga di Arbela, Irak Utara, persiapan-persiapan untuk peringatan maulid sudah dimulai selama sebulan sebelumnya, pondok-pondok kayu didirikan, dan dipersiapkan kamar-kamar tamu bagi para pendatang, dan dipersiapkan pula domba-domba yang besar, kambing dan sapi untuk dipotong guna menghormati para tamu.

Dibeberapa negara, kelahiran Nabi Muhammad,saw., identik dengan datangnya cahaya ke alam semesta ini untuk melumatkan kegelapan, maka konsep ‘penerangan’ dijadikan tema-tema dalam perayaannya. Di pelosok-pelosok desa di Jawa, mereka membuat obor dari bambu dan diisi minyak tanah, dinyalakan diwaktu malam hari, dimulai dari pintu utama kampungnya hingga menuju mesjid. Ibu-ibu berdatang dengan membawa beraneka jenis kue-kue yang dibuatnya sendiri, mereka turut berbakti dengan suka cita, sebagai wujud rasa bahagia di hari kelahiran sosok manusia yang paling dicintai dan dihormatinya. Juga di sebagian kota di Kalimantan, setiap kepala keluarga diwajibkan untuk menyalakan obor dimalam hari selama bulan Rabiul Awwal. Di Turki, perayaan maulid disebut ‘mevlut kandili’ mesjid-mesjid dihias dengan lampu-lampu, dan masyarakatnya berpuasa pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Di Mesir, tradisi maulid terus berlangsung sejak zaman Fathimiyah hinga dinasti-dinasti berikutnya. Para penguasa Mamluk pada abad ke 14 dan 15 biasa memperingati dengan penuh kebesaran dipelataran benteng Kairo, benteng Sultan Salahuddin al-Ayyubi,ra., didirikan sebuah tenda yang sangat besar dan dihias dengan sedemikian indah. Setelah pembacaan Al Qur’an, sultan membagi-bagikan pundi-pundi dan kue-kue serta mengirimkan surat-surat ucapan selamat. Di Kasymir, India, dimainkan genderang-genderang dan terompet-terompet selama dua belas hari pertama dari bulan Rabiul Awwal dan shalawat untuk Nabi diulang-ulang 101 kali setelah shalat. Sebuah dataran amat luas diubah menjadi sentra eksibisi. Disini para pedagang dari seluruh pelosok India menjual produk-produk mereka, dari mulai mainan anak-anak sampai karpet dan batu-batu mulia. Ceramah-ceramah tentang kehidupan Nabi,saw., disampaikan dibawah langit-langit mimbar yang besar. Setelah itu, seribu gadis cantik tampil menyayikan puji-pujian dan tari-tarian, ada pula yang bermain akrobat, dan melantunkan gazal-gazal. Hari pertama perayaan diakhiri dengan membagi-bagikan makanan dan sejumlah uang untuk para fakir miskin.

Di Bogor Baru, tradisi perayaan maulid disatukan dengan perayaan haul, diadakan secara sederhana namun khidmat di kediaman Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya). Para salik dengan penuh rasa kecintaan bahu membahu berusaha mewujudkan agar acara yang agung ini dapat terlaksana dengan baik. Berharap mendapatkan berkah dari kedekatan Rasulullah,saw., Tuan Syaikh Abdul Qodir al Jailani,qs dan Syaikh Muhammad Bahauddin Syah Baqsyabandi,qs. Kepada Tuhannya. Dengan rasa takzim para salik membacakan pujian-pujian teruntuk Nabi,saw., (asrokol) yang diikuti para jamaah yang datang, yang sebelumnya dibacakan Asma Ul-Husna dari kitab Dalail al-Khairat karya Imam Jazuli,ra., lalu pembacaan ayat suci al-Qur’an dan pembacaan sejarah Nabi,saw., Sulthonul Aulia Syaikh Abdul Qodir al-Jailani,qs dan Hadrat Syaikh Muhammad Bahauddin Syah Naqysabandi,qs., serta wejangan dari Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) dan ditutup dengan pembacaan silsilah tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah serta dzikir bersama.
Kelahiran Yang Mulia Baginda Nabi Muhammad Rasulullah,saw., menjadikan dunia sepenuhnya tenggelam dalam cahaya. Dia telah diutus kepada umat manusia oleh Tuhan Yang Mahaagung dan Mahapenyayang, sebagai Rahmat bagi alam semesta. Dialah Matahari spiritualitas yang menyinari dan menghangati hari-hari kehidupan umat manusia. Dialah cahaya kehidupan, cahaya hati, cahaya yang menerangi pedang-pedang Allah yang terhunus. Seluruh hidupnya, airmata, darah dan hatinya ditumpahkan untuk umatnya. Dialah nabi yang tangannya lebih sejuk dari gunung es dan lebih lembut dari sutera. Keindahannya tak terbandingkan, dari ujung kepala hingga ujung kaki yang diberkati itu, hanya cinta yang menjelma. Dia tidak pernah belajar membaca dan menulis, tetapi telah menyapu bersih seluruh ilmu pengetahuan dijagat raya ini. Ketika Pena menulis nama Tuhan, ia juga menulis nama sang Utusan Tuhan, Muhammad. Dia dituntun menuju cahaya yang penuh rahmat, ditunjuki dengan benar dan sebagai penunjuk jalan yang benar. Cahaya para nabi, cahaya kerajaan langit, malakut, cahaya dunia ini dan dunia yang akan datang berasal dari cahayanya. Inilah cahaya Allah yang mewujud dalam sosok pribadi Nabi, sebagaimana cahaya bulan diambil dari matahari. Yang telah dipuja karena seluruh sifatnya yang agung, dia diberi persembahan segala kata. Karena sifatnya yang mulia, tiang-tiang penyangga tenda seluruh eksistensi tetap tegak ditempatnya, dia adalah rahasia kata-kata kitab malaikat, makna huruf-huruf ‘penciptaan bumi dan langit’, dia adalah Pena Penulis yang telah menuliskan tumbuhnya benda-benda ciptaan, dia adalah murid dimata dunia, guru yang telah menetapkan penutup eksistensi. Dia adalah yang menyusu kepada puting wahyu, dan membawa misteri abadi itu, dia adalah penterjemah bahasa keabadian. Dia membawa bendera kehormatan dan menjaga kendali pujian, dia adalah mutiara utama pada kalung kenabian, dan permata pada mahkota para rasul. Dia adalah yang pertama sebagai penyebab, dan yang terakhir dalam eksistensi. Dia ada lebih dulu dibanding Adam dalam esensinya, meskipun secara lahiriyah dia adalah keturunannya. Dia diutus dengan rahasia terbesar untuk membuka tabir kesedihan, untuk membuat yang sulit menjadi mudah, menafikan godaan hati, melipur kesedihan jiwa, memoles cermin batin, menerangi kegelapan hati, membuat kaya mereka yang miskin hatinya, dan melonggarkan ikatan-ikatan jiwa. Dialah yang mencium tangan kasar pekerja batu, sambil menyatakan ‘tangan yang melepuh inilah yang mengantarkanmu ke surga.’

Wahai Allah, aku mohon kepada-Mu melalui kedudukannya disamping-Mu, dan keimanannya kepada-Mu, dan penyerahan dirinya dihadapan-Mu, agar memilihnya sebagai wasilah, yang kepadanya diberikan tugas wasilah untuk guru-guruku, untuk kedua orangtuaku, untuk sahabat-sahabatku, untuk diriku dan untuk semua orang yang beriman kepada-Mu.

Allah menciptakan dari Nur-Nya berupa Nur Muhammad, sebelum ada lawh al-mahfudh, Pena, tidak Surga ataupun Neraka, tidak Malaikat Muqarabin, tidak langit ataupun bumi; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jin atau manusia, belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.

Kemudian dengan iradat-Nya, dibagi-Nya Nur ini menjadi empat bagian. Dari bagian pertama Allah menciptakan Pena, dari bagian kedua lawh al-mahfudh, dari bagian ketiga Arsy, lalu bagian ke-empat dari Nur itu dibagi lagi menjadi empat bagian. Lalu yang pertama kali ditulis oleh Pena atas atas perintah-Nya adalah kalimat ‘la ilahaa illallah, Muhammadar Rasulullah.’ Allah SWT kemudian berkata : ‘Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya Aku menciptakan Arsy dan Pena dan lawh al-mahfudh; kamu, juga diciptakan dari Nurnya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun,’

Ruh yang cantik ini diciptakan 360,000 tahun sebelum penciptaan dunia ini, dan itu dibentuk sangat indah serta dibuat dari bahan yang tak terbandingkan. Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati, matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah), mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan, pipinya dari cinta dan kehatihatian, perutnya dari penafian terhadap makanan dan hal-hal keduniaan, kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus, dan jantungnya yang mulia dipenuhi dengan rahman. Ruh yang penuh kemuliaan ini dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalahnya dan kualitas kenabiannya dipasang. Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah disematkan pada kepalanya yang penuh barokah, masyhur dan tinggi diatas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah yang murni dan suci.

Saat ruh Adam mula-mula ditiupkan ke badannya, ia melihat ke atas ke ‘arasy (singgasana) Allah; kemudian ketika ia berbuat dosa di Surga dan Allah Ta’ala mengirimkannya ke bumi, ia memohon pada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, demi kehormatan Muhammad, ampunilah aku.” Allah SWT bertanya padanya, “Wahai Adam, bagaimana kau tahu akan Muhammad padahal ia belum diciptakan?” “Wahai Tuhanku, saat ruhku memasuki tubuhku dan aku mula-mula membuka mataku, aku melihat ke ‘arasy-Mu, dan di sana aku melihat tertulis, “Laa ilaaha illallah, Muhammadun Rasulullah”, dan aku pun tahu bahwa ia pastilah seseorang yang paling dicintai oleh-Mu dan yang paling terhormat di antara makhluq-Mu hingga namanya sampai tertulis di samping nama-Mu.” Allah Ta’ala menjawab “Ya, engkau benar, dialah kekasih-Ku, dan ia begitu terhormat dalam Pandangan-Ku hingga Ku-ciptakan seluruh alam semesta ini demi dirinya; jika engkau memohon pada-Ku ampunan demi dirinya, akan Ku-ampuni dirimu dan Aku pun akan Mengasihi anak-anakmu.”

Nabi Muhammad Rasulullah.saw, lahir ke dunia fana ini pada 12 Rabi'ul Awwal tahun Gajah (±571M). Ayahnya wafat saat beliau masih dalam kandungan. Ibunyapun wafat pada saat beliau baru berusia enam tahun. Dua tahun kemudian kakeknya yang sangat ia cintai dan hormati pun wafat. Pamannya, Abu Tholib, yang miskin dan murah hati menjadi pengasuhnya.

Nabi Muhammad Rasulullah.saw., memberi contoh tentang bagaimana hidup di alam dunia ini. Yang tidak mencari kandungan benda-benda dunia, namun melulu menuntun kita demi kedekatan dan kebersamaan dengan Allah SWT. Dialah nabi yang sempurna akhlaknya, rupawan wajahnya. Istrinya, Aisyah menyebutnya ‘Akhlaknya al Qur’an’. Dan Alqur'an pun memberinya sebutan ‘uswahtun hasanah’.

Nabi Muhammad Rasulullah,saw., bersabda : ‘Agama sesungguhnya adalah ketulusan cinta (al-Din al-Nashihah).’ Dan ‘Siapa yang mencintaiku kelak disurga bersamaku’. Tanpa ketulusan cinta beragama akan hambar rasanya, seperti sayur tanpa garam. Itulah mengapa sejak dini Nabi,saw., menganjurkan kepada para orang tua untuk mendidik anak-anaknya cinta kepadanya dan keluarganya serta kecintaan kepada al-Qur'an.

Inilah nabi yang kata terakhir yang lepas dari bibirnya yang suci saat menjelang wafat adalah, ummatku .. ummatku ... ummatku. Inilah nabi yang sangat merindukan kita, ummatnya, meskipun belum pernah bertemu dengannya. Inilah Nabi yang membuat Aisyah menangis ketika makan, karena teringat bahwa Nabi,saw., semasa hidupnya hampir tidak pernah menikmati makanan yang enak. Dengan seluruh kesederhanaannya, tak pernah seorang pengemis pun yang pulang dari rumahnya dengan tangan hampa. Dengan kemiskinannya, beliau menggembirakan seluruh alam dan ummat manusia.

Aisyah, ra., berkata, Ada seorang pedagang Yahudi berada di Makkah pada malam saat mana Nabi,saw., dilahirkan. Dia bertanya, Wahai, kaum Quraisy, adakah seorang bayi yang baru dilahirkan di antaramu? Mereka menjawab, Kami tidak tahu. Ia berkata, Malam ini, Nabi dari ummat terakhir ini dilahirkan. Di antara kedua bahunya ada suatu tanda yang terdiri atas beberapa rambut di atasnya seperti rambut leher kuda. Mereka menemani Yahudi itu dan pergi ke ibunda Nabi, dan bertanya padanya apakah mereka dapat melihat putranya. Ia pun membawa putranya yang baru lahir kepada mereka dan mereka membuka punggungnya dan melihat tanda kelahiran itu, saat mana sang Yahudi jatuh pingsan. Ketika ia kembali sadar, mereka bertanya padanya, Celakalah kamu. Apa yang telah terjadi padamu? Ia menjawab, Demi Allah, kenabian telah pergi meninggalkan anak-anak Israel.

Ibn al Jazri berkata, Jika Abu Lahab, Yang kafir, yang dicela dalam suatu wahyu al Quran, tetap saja diberikan balasan atas kebahagiannya disaat kelahiran nabi Muhammad SAW, bagaimana dengan kaum muslimin dan umat beliau yang bergembira disaat kelahiran beliau (Mawlid Nabi) dan melakukan yang terbaik untuk memperingatinya memberikan sadaqoh, menambah amal perbuatan baik berzdikir dan membaca riwayat kelahiran beliau saw. Sebagai balasannya, Allah mengaruniakan pada orang-orang beriman dengan barakah yang berlimpah di bulan ini. Telah dibuktikan bahwa salah satu dari sifat-sifat kelahiran Nabi, yang disebut sebagai Mawlid, adalah memberikan keselamatan sepanjang tahun dan kabar gembira akan dipenuhinya semua harapan dan keinginan.

Nabi Muhammad Rasulullah,saw., bersabda dalam sebuah hadits: “Pada hari itu, Adam dan seluruh para Nabi akan berada di bawah benderaku. Aku tidak mengatakan hal ini karena kesombongan, tapi hanya untuk memberitahu kalian agar kalian beriman pada apa yang diberikan Tuhanku padaku di Hari Akhir nanti; di hari itu seluruh Nabi akan berada di bawah benderaku atas perintah Allah Ta’ala, dan dengan perintah-Nya pula aku memberitahukan pada kalian agar kalian tahu derajat setiap orang dalam Hadirat Ilahiah.”

Allah SWT akan memberikan wewenang kepada Nabi Suci Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam di Hari Akhir nanti. Di hari itu Allah akan menghakimi setiap orang, dan di saat Dia telah selesai dengan keputusan-Nya, Allah,SWT., akan memanggil Muhammad dan menempatkannya di kedudukan paling terpuji (al-Maqam-ul-Mahmud), yang tak seorang pun lainnya mampu meraihnya. Allah Ta’ala akan berfirman, “Mintalah, dan apa pun yang kau inginkan akan diberikan padamu, karena orang-orang itu kini menjadi tanggungan dari penghakimanmu.” Inilah makna dari salah satu ayat dalam Quran yang mengatakan bahwa Muhammad tidaklah diutus melainkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam.

Imam Bushiri dalam syair burdahnya berkata : ‘Pujilah beliau sesukamu dengan sempurna, sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya, dan nisbatkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliannya. Karena sesungguhnya kemuliaan Rasulullah,saw., tak ada batasnya, sehingga tak akan ada lisan mampu mengungkapkannya.’

Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi : ‘Wahai umat Muhammad, lihat, rahmat-Ku melampaui kemarahan-Ku. Aku memberikannya kepadamu sebelum kamu meminta, dan mengampunimu sebelum kamu memohon ampunan-Ku. Setiap orang yang bertemu dengan-Ku dan berkata ‘Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’ Aku akan menuntunnya ke surga.’

Yaa Allah dengan peringatan mawlid dan haul yang sederhana ini, jadikan nama Muhammad tetap melekat dihati kami yang hadir disini, sampai ajal menjemput kami, sehingga kami bisa tersenyum karenanya.

Seluruh dunia meridukanmu wahai Muhammad, jadilah wasilah bagi kami.
Berkahilah wahai Allah, Nabi dan utusan yang terbaik.
Berkahilah wahai Allah, Nabi yang paling mulia diantara jin dan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.