Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Sebuah riwayat mengatakan bahwa Imam Baqi Billah,qs., salah seorang pemimpin tarekat Naqsyabandiyah tatkala memimpin dzikir bersama berkata dihadapan murid-muridnya : ‘Aku adalah obor (penerang) bagi kalian, sedangkan dia (yang dimaksud adalah muridnya yang bernama Ahmad al Faruqi al Sirhidh) adalah matahari. Apa arti sebuah obor bila matahari telah terbit?’ Dan ucapan beliau terbukti, dikemudian hari muridnya itu menjadi seorang Imam besar dan dikagumi di dunia tasawuf khususnya dinegeri India dan Pakistan. Yang pada saat itu Islam bercampur dengan ajaran hindu, dan masyarakatnya senang mempercayai hal-hal yang mistis. Sultan Akbar penguasa dinasti Mughal di India, mengatakan bahwa ajaran yang pernah diturunkan oleh Rasulullah,saw., sudah usang dan perlu diganti dengan yang baru, dan sebagai gantinya ia mendorong munculnya ajaran yang sesuai dengan gagasannya sendiri. Oleh karenanya Syaikh Ahmad al Faruqi,qs., berdakwah sebagai pembaharu yang menegakkan syariat Islam dan mengajarkan tasawuf kepada murid-murid tertentu saja, meskipun dibawah tekanan yang hebat dari penguasa, oleh karena itu beliau mendapat gelar sebagai Mujadid (pembaharu) dan sebagai Imam Robbani atau pemimpin para sufi. Demikianlah contoh ketawadhuan, keberanian dan kegigihan yang niscaya dimiliki oleh seorang Syaikh, yang selalu memuji murid-muridnya dengan penuh rasa kasih sayang, menegakkan syariah dengan gagah berani dan menyucikan jiwa-jiwa yang tenggelam dilautan ilusi.
Imam Shahabudin Umar Suhrawardi,qs., penulis karya yang masyhur berjudul Awarif al Ma’arif mengisahkan sebuah cerita untuk menyindir orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pembimbing ruhani tetapi tidak pernah hidup dalam lingkungan tarekat.
Konon, ada seekor burung yang tidak mempunyai tenaga untuk terbang, seperti ayam, ia berjalan saja di tanah, meskipun ia tahu bahwa ada burung lain yang bisa terbang. Pada suatu ketika, terjadilah, lewat berbagai keadaan, ada telur seekor burung yang bisa terbang, dierami olehnya.
Setelah sampai waktunya, telur itu pun menetas. Tentunya burung kecil itu masih mempunyai kemampuan untuk terbang yang selalu dimilikinya, bahkan ketika ia masih berada dalam telur. Kemampuan ini tidak disadari oleh orang tua angkatnya, tertutup oleh perasaan akan kehebatan dirinya. Si anak pun berkata kepada orang tua angkatnya, ‘Kapan aku akan terbang?’ Dan burung yang hanya bisa berjalan di tanah itu menjawab, ‘Tetaplah terus belajar terbang, seperti yang lain.’ Sebab burung itu tidak tahu bagaimana mengajarkan anak angkatnya itu terbang. Ia bahkan tidak tahu bagaimana menjatuhkannya dari sarang agar ia bisa belajar terbang.
Dan aneh bahwa burung kecil itu tidak mengetahui hal ini. Pengenalannya terhadap keadaan, terkacaukan oleh kenyataan bahwa ia merasa berterima kasih kepada orang tua angkatnya yang telah berjasa menetaskannya. ‘Tanpa jasanya,’ katanya pada diri sendiri, ‘tentu aku masih berada dalam penjara kulit telur.’Dan lagi, kadang-kadang ia bergumam pada diri sendiri, ‘Siapa pun yang bisa mengeramiku, tentu bisa juga mengajariku terbang. Pasti ini hanya soal waktu saja, atau karena usahaku yang tanpa bantuan, atau karena suatu kebijaksanaan agung, ya, pasti karena itu. Akan tiba waktunya, suatu hari nanti aku akan dibawa ke tahap berikutnya oleh ia yang telah membawaku sejauh ini.’
Kisah diatas sungguh menggelitik dan berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Imam Baqi Billah,qs., terhadap muridnya. Jika seorang syaikh dapat mengetahui keadaan spiritual murid-muridnya, bahkan dapat mencium bau harum seorang bayi yang mempunyai potensi menjadi seorang ulama agung, sebagaimana yang dialami oleh Syaikh Baba as-Samasi,qs., terhadap kelahiran seorang bayi yang kemudian menjadi Syaikh Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi,qs., yang namanya diabadikan sebagai nama sebuah tarekat naqsyabandiyah, sedangkan dalam kisah ini sang orang tua angkat tidak mengetahui potensi yang dimiliki oleh anak angkatnya itu. karena ia tidak mempunyai pandangan batin yang dalam dan tidak pernah mengasahnya, sebagaimana yang dimiliki oleh seorang syaikh dari akhli silsilah sebuah tarekat.
Wajar jika Imam Suhrawardi pada masa itu kira-kira di abad 13 tepatnya ditahun 1234 menulis kisah yang sederhana tetapi sarat dengan makna yang hebat. Karena pada saat itu banyak yang mengaku sebagai pembimbing ruhani tetapi tidak pernah mengenyam pendidikan tarekat dan tidak menyadari bahwa keberhasilan muridnya adalah keberhasilannya dan sebaliknya bahwa kegagalan murid adalah kegagalannya.
Para sahabat, kita bukanlah telur burung seperti riwayat diatas, melainkan telur ular, yang bilamana di erami oleh seekor burung, dan kemudian menetas, maka segera akan mematuknya, bukannya berterima kasih karena telah menetaskannya.
Ya Allah bimbinglah kami semua dan ampunilah dosa-dosa kami
Minggu, 28 April 2013
Sabtu, 27 April 2013
DUSTA
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Berkata jujur ketika merasa takut bahwa hal itu akan mencelakakan, merupakan tindakan yang bermanfaat bagi kemajuan spiritual. Dan berdusta manakala mengira akan menguntungkan, merupakan kerugian bagi perkembangan jiwa. Oleh karenanya kejujuran merupakan tiang penompang segala persoalan, dengannya kesempurnaan dalam menempuh jalan kesufian tercapai. Sebagaimana firman Allah SWT : ‘Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-Nabi, Para shiddiqiin (orang yang menetapi kejujuran), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.’ (QS 004 : 69)
Banyak hadis menyatakan bahwa dusta merupakan maksiat dan tidaksenonohan yang besar. Akibat lain dari kenistaan ini sangat keji dan melebihi dosanya itu sendiri. Jika seseorang sekali saja melakukan dusta dan kemudian terungkap. Ia akan jatuh dimata orang lain dan tak akan mampu memperbaikinya sampai akhir hayatnya, apalagi bila ia lancar berdusta. Belum lagi kerugian-kerugian secara spiritual dan balasan di Yaumil Akhir atas perbuatan dusta ini. Dikatakan oleh cucu-cucu Rasulullah,saw., bahwa dusta lebih buruk dari minuman keras dan melebihi riba dalam hal kejahatannya serta kehancuran bagi iman. Imam Ali Bin Musa Al Ridha,ra., putra dari Imam Musa Al Kazhim,ra., akhli silsilah dari Tarekat Qodiriyah berkata bahwa Rasulullah,saw., ditanya : ‘Apakah seorang mukmin bisa menjadi pengecut dan penakut?’ Beliau menjawab : ‘Ya.’ Kemudian mereka bertanya : ‘Apakah seorang mukmin bisa menjadi kikir?’ Beliau menjawab : ‘Ya.’ ‘Dapatkah dia menjadi pendusta?’ Beliau menjawab : ‘Tidak.’ Hadist ini sangat jelas untuk mengukur diri kita sendiri apakah gelar seorang mukmin berada ditangan kita.
Seorang syaikh yang mendapat gelar sebagai Lentera Dehli dari tarekat Chistiyah menulis sebuah kisah yang sangat menarik. Intinya adalah bahwa sesungguhnya manusia itu selalu mencari cara dan pembenaran atas sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya. Untuk mempertahankan ketergantungan qolbu manusia terhadap dirinya, dibuatnya sebuah ‘alasan’ agar tindakannya itu tidak tercela sama sekali, padahal ‘asalan’ yang dibuatnya itu adalah sebuah dusta. Karena khawatir populeritasnya diantara manusia akan lenyap. Dan ia senang bila jasanya kepada manusia dapat dilihat dan dibicarakan. Meskipun cara-caranya secara komersial dapat diterima, akan tetapi secara moral merupakan tindakan yang tercela.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengingatkan murid-muridnya agar janji, sumpah dan nazarnya dapat ditunaikan. Karena banyak murid agar dilihat sebagai murid yang baik mudah melantunkan sebuah janji atau nazar. Begitu hajatnya terpenuni, janji dan nazarnya tidak ditunaikan, mencari-cari alasan sebagimana kisah yang akan disampaikan dibawah ini. Dusta memang sebuah dosa yang sangat sulit dihindari, pesan pertama Rasulullah,saw., kepada sayyidina Ali,ra., adalah hal ini juga, yakni jangan berdusta. Karena sulitnya untuk tidak berdusta, Rasulullah,saw., lantas berdoa : ‘Ya Allah tolonglah dia.’
Suatu ketika seorang murid bertanya kepada Imam Junaid,ra., perihal apakah mungkin seorang ulama itu berzinah? Beliau tertunduk lama dan menjawab : ‘Hal itu adalah kehendak Allah SWT, akan tetapi seorang ulama tidak mungkin berdusta.’ Sebagaimana Al Qur’an mengatakan bahwa orang yang takut kepada Tuhan adalah para ulama, oleh sebab itu mustahil bagi seorang ulama melakukan dusta, meskipun niatnya baik.
Kisah yang masyhur itu mengatakan suatu saat ada seorang lelaki yang sedang gelisah, ia bersumpah bahwa jika masalah-masalahnya teratasi maka ia akan menjual rumahnya dan memberikan semua hasil penjualannya kepada fakir miskin.
Ketika semua masalahnya sudah selesai, ia menyadari bahwa sudah saatnya untuk menepati sumpahnya tersebut. Tetapi, hatinya menjadi galau, ia tak ingin menyumbangkan begitu banyak uang. Akalnya segera bekerja mencari jalan keluar dan mendapatkan cara yang jitu, yaitu rumah itu dijualnya seharga satu keping perak dengan syarat, pembeli harus membeli rumah itu beserta seekor kucing. Harga yang diajukannya untuk kucing itu adalah sepuluh ribu keping perak.
Seorang tuan membeli rumah dan kucing itu. Lelaki itu memberikan sekeping perak kepada orang miskin, dan mengantongi sepuluh ribu keping perak itu bagi dirinya sendiri.
Banyak orang memiliki pikiran yang seperti ini. Mereka berketetapan hati untuk mengamalkan suatu ajaran, tetapi mereka menafsirkan ajaran itu sesuai dengan keuntungan diri mereka sendiri. Selama mereka belum mengatasi kecendurungan tersebut dengan cara khusus, mereka tidak dapat belajar sesuatupun.
Kita lebih keji dari riwayat diatas, karena lancarnya berdusta sehingga rasa penyesalan setelah melakukannya tidak lagi singgah didalam dada ini. Jika demikian, adakah taubatnya? Karena syarat daripada taubat adalah daya sesal atau disebut sebagai nadam, sebagaimana sabda Rasulullah,saw., bahwa taubat itu adalah penyesalan (nadam).
Ya Allah tolonglah kami.
Berkata jujur ketika merasa takut bahwa hal itu akan mencelakakan, merupakan tindakan yang bermanfaat bagi kemajuan spiritual. Dan berdusta manakala mengira akan menguntungkan, merupakan kerugian bagi perkembangan jiwa. Oleh karenanya kejujuran merupakan tiang penompang segala persoalan, dengannya kesempurnaan dalam menempuh jalan kesufian tercapai. Sebagaimana firman Allah SWT : ‘Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-Nabi, Para shiddiqiin (orang yang menetapi kejujuran), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.’ (QS 004 : 69)
Banyak hadis menyatakan bahwa dusta merupakan maksiat dan tidaksenonohan yang besar. Akibat lain dari kenistaan ini sangat keji dan melebihi dosanya itu sendiri. Jika seseorang sekali saja melakukan dusta dan kemudian terungkap. Ia akan jatuh dimata orang lain dan tak akan mampu memperbaikinya sampai akhir hayatnya, apalagi bila ia lancar berdusta. Belum lagi kerugian-kerugian secara spiritual dan balasan di Yaumil Akhir atas perbuatan dusta ini. Dikatakan oleh cucu-cucu Rasulullah,saw., bahwa dusta lebih buruk dari minuman keras dan melebihi riba dalam hal kejahatannya serta kehancuran bagi iman. Imam Ali Bin Musa Al Ridha,ra., putra dari Imam Musa Al Kazhim,ra., akhli silsilah dari Tarekat Qodiriyah berkata bahwa Rasulullah,saw., ditanya : ‘Apakah seorang mukmin bisa menjadi pengecut dan penakut?’ Beliau menjawab : ‘Ya.’ Kemudian mereka bertanya : ‘Apakah seorang mukmin bisa menjadi kikir?’ Beliau menjawab : ‘Ya.’ ‘Dapatkah dia menjadi pendusta?’ Beliau menjawab : ‘Tidak.’ Hadist ini sangat jelas untuk mengukur diri kita sendiri apakah gelar seorang mukmin berada ditangan kita.
Seorang syaikh yang mendapat gelar sebagai Lentera Dehli dari tarekat Chistiyah menulis sebuah kisah yang sangat menarik. Intinya adalah bahwa sesungguhnya manusia itu selalu mencari cara dan pembenaran atas sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya. Untuk mempertahankan ketergantungan qolbu manusia terhadap dirinya, dibuatnya sebuah ‘alasan’ agar tindakannya itu tidak tercela sama sekali, padahal ‘asalan’ yang dibuatnya itu adalah sebuah dusta. Karena khawatir populeritasnya diantara manusia akan lenyap. Dan ia senang bila jasanya kepada manusia dapat dilihat dan dibicarakan. Meskipun cara-caranya secara komersial dapat diterima, akan tetapi secara moral merupakan tindakan yang tercela.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengingatkan murid-muridnya agar janji, sumpah dan nazarnya dapat ditunaikan. Karena banyak murid agar dilihat sebagai murid yang baik mudah melantunkan sebuah janji atau nazar. Begitu hajatnya terpenuni, janji dan nazarnya tidak ditunaikan, mencari-cari alasan sebagimana kisah yang akan disampaikan dibawah ini. Dusta memang sebuah dosa yang sangat sulit dihindari, pesan pertama Rasulullah,saw., kepada sayyidina Ali,ra., adalah hal ini juga, yakni jangan berdusta. Karena sulitnya untuk tidak berdusta, Rasulullah,saw., lantas berdoa : ‘Ya Allah tolonglah dia.’
Suatu ketika seorang murid bertanya kepada Imam Junaid,ra., perihal apakah mungkin seorang ulama itu berzinah? Beliau tertunduk lama dan menjawab : ‘Hal itu adalah kehendak Allah SWT, akan tetapi seorang ulama tidak mungkin berdusta.’ Sebagaimana Al Qur’an mengatakan bahwa orang yang takut kepada Tuhan adalah para ulama, oleh sebab itu mustahil bagi seorang ulama melakukan dusta, meskipun niatnya baik.
Kisah yang masyhur itu mengatakan suatu saat ada seorang lelaki yang sedang gelisah, ia bersumpah bahwa jika masalah-masalahnya teratasi maka ia akan menjual rumahnya dan memberikan semua hasil penjualannya kepada fakir miskin.
Ketika semua masalahnya sudah selesai, ia menyadari bahwa sudah saatnya untuk menepati sumpahnya tersebut. Tetapi, hatinya menjadi galau, ia tak ingin menyumbangkan begitu banyak uang. Akalnya segera bekerja mencari jalan keluar dan mendapatkan cara yang jitu, yaitu rumah itu dijualnya seharga satu keping perak dengan syarat, pembeli harus membeli rumah itu beserta seekor kucing. Harga yang diajukannya untuk kucing itu adalah sepuluh ribu keping perak.
Seorang tuan membeli rumah dan kucing itu. Lelaki itu memberikan sekeping perak kepada orang miskin, dan mengantongi sepuluh ribu keping perak itu bagi dirinya sendiri.
Banyak orang memiliki pikiran yang seperti ini. Mereka berketetapan hati untuk mengamalkan suatu ajaran, tetapi mereka menafsirkan ajaran itu sesuai dengan keuntungan diri mereka sendiri. Selama mereka belum mengatasi kecendurungan tersebut dengan cara khusus, mereka tidak dapat belajar sesuatupun.
Kita lebih keji dari riwayat diatas, karena lancarnya berdusta sehingga rasa penyesalan setelah melakukannya tidak lagi singgah didalam dada ini. Jika demikian, adakah taubatnya? Karena syarat daripada taubat adalah daya sesal atau disebut sebagai nadam, sebagaimana sabda Rasulullah,saw., bahwa taubat itu adalah penyesalan (nadam).
Ya Allah tolonglah kami.
KETIKA ILMU SIRNA
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,ra., mengatakan : ‘Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza'i telah mengabarkan kepadaku Abdah bin Abi Lubabah dari Abdullah bin Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam memegang sebagian badanku lalu beliau bersabda: "Beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jadilah kamu di dunia ini seolah-seolah seperti orang asing, atau seorang musafir yang kehabisan bekal."
Berkenaan dengan hadist diatas, Syaikh Dzun Nun al Misri,ra., mengisahkan bahwa suatu hari nanti orang yang berpegang kepada tali agama akan dikatakan gila oleh kelompok modern yang bertuhankan dirinya sendiri. Sudah sejak lama Nabiyullah Khidir,as., guru dari Nabiyullah Musa,as., memberi peringatan kepada manusia dengan mengatakan bahwa pada hari tertentu nanti, semua air di bumi yang tidak disimpan secara khusus, akan lenyap. Sebagai gantinya, akan ada air baru yang membuat manusia yang meminumnya menjadi gila. Hanya ada satu orang yang memperhatikan nubuat tersebut. Ia menimba air dan menyimpannya di tempat aman, dan menunggu air berubah sesuai ucapan Guru Musa.as.
Pada hari yang ditentukan itu, sungai-sungai berhenti mengalir, sumur-sumur mengering. Orang yang mengindahkan peringatan itu, melihat penggenapannya, pergi ke tempat di mana ia menyimpan air dan minum dari sana.
Ketika dilihatnya dari tempatnya berada bahwa air terjun kembali mencurahkan air, orang ini pun kembali bergabung dengan orang-orang lain. Ia mendapati semua orang kini berpikir dan berbicara dengan cara yang sama sekali lain dari sebelumnya; dan mereka tidak ingat sesuatu hal pun, termasuk bahwa mereka telah diperingatkan sebelumnya. Ketika orang itu mencoba berbincang dengan mereka, ia sadar bahwa mereka pikir ia gila, dan mereka menunjukkan rasa benci dan kasihan, bukannya pengertian.
Semula orang itu tidak mau minum air yang baru. Setiap kali merasa haus, ia kembali ke tempat penyimpanannya dan minum airnya. Namun akhirnya, ia memutuskan untuk minum air yang baru karena tidak tahan menanggung kesepian hidup, berperilaku dan berpikir secara berbeda dari semua orang. Ia minum air yang baru itu, dan ia pun jadi sama dengan yang lain. Kemudian, ia lupa pernah mempunyai simpanan air khusus, dan sesamanya mulai menganggapnya secara ajaib telah waras dari sakit gila.
Pesan moral dari riwayat diatas adalah bahwa sungguh sangat sulit mempertahankan prinsip-prinsip agama dizaman yang seperti ini, tanpa hidayah, taufik dan inayah-Nya manusia akan minum air yang baru, atau pengetahuan yang modern, karena malu dikatakan asing atau ketinggalan zaman.
Ya Allah ampunilah kami semua ..................
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,ra., mengatakan : ‘Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza'i telah mengabarkan kepadaku Abdah bin Abi Lubabah dari Abdullah bin Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam memegang sebagian badanku lalu beliau bersabda: "Beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jadilah kamu di dunia ini seolah-seolah seperti orang asing, atau seorang musafir yang kehabisan bekal."
Berkenaan dengan hadist diatas, Syaikh Dzun Nun al Misri,ra., mengisahkan bahwa suatu hari nanti orang yang berpegang kepada tali agama akan dikatakan gila oleh kelompok modern yang bertuhankan dirinya sendiri. Sudah sejak lama Nabiyullah Khidir,as., guru dari Nabiyullah Musa,as., memberi peringatan kepada manusia dengan mengatakan bahwa pada hari tertentu nanti, semua air di bumi yang tidak disimpan secara khusus, akan lenyap. Sebagai gantinya, akan ada air baru yang membuat manusia yang meminumnya menjadi gila. Hanya ada satu orang yang memperhatikan nubuat tersebut. Ia menimba air dan menyimpannya di tempat aman, dan menunggu air berubah sesuai ucapan Guru Musa.as.
Pada hari yang ditentukan itu, sungai-sungai berhenti mengalir, sumur-sumur mengering. Orang yang mengindahkan peringatan itu, melihat penggenapannya, pergi ke tempat di mana ia menyimpan air dan minum dari sana.
Ketika dilihatnya dari tempatnya berada bahwa air terjun kembali mencurahkan air, orang ini pun kembali bergabung dengan orang-orang lain. Ia mendapati semua orang kini berpikir dan berbicara dengan cara yang sama sekali lain dari sebelumnya; dan mereka tidak ingat sesuatu hal pun, termasuk bahwa mereka telah diperingatkan sebelumnya. Ketika orang itu mencoba berbincang dengan mereka, ia sadar bahwa mereka pikir ia gila, dan mereka menunjukkan rasa benci dan kasihan, bukannya pengertian.
Semula orang itu tidak mau minum air yang baru. Setiap kali merasa haus, ia kembali ke tempat penyimpanannya dan minum airnya. Namun akhirnya, ia memutuskan untuk minum air yang baru karena tidak tahan menanggung kesepian hidup, berperilaku dan berpikir secara berbeda dari semua orang. Ia minum air yang baru itu, dan ia pun jadi sama dengan yang lain. Kemudian, ia lupa pernah mempunyai simpanan air khusus, dan sesamanya mulai menganggapnya secara ajaib telah waras dari sakit gila.
Pesan moral dari riwayat diatas adalah bahwa sungguh sangat sulit mempertahankan prinsip-prinsip agama dizaman yang seperti ini, tanpa hidayah, taufik dan inayah-Nya manusia akan minum air yang baru, atau pengetahuan yang modern, karena malu dikatakan asing atau ketinggalan zaman.
Ya Allah ampunilah kami semua ..................
Selasa, 12 Maret 2013
TONGKAT KESADARAN
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Ada yang mengatakan bahwa ajaran agama bagaikan tongkat. Karena fungsi tongkat bagi orang buta adalah penunjuk jalan. Sebuah tongkat di tangan Nabiyullah Musa,as., menjadi sangat dinamis, bisa menghancurkan ego, melembutkan dan membangkitkan kesadaran. Tetapi jika dipegang oleh para ahli sihir Fir'aun terjadilah kekacauan.
Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) dengan kebesaran jiwanya selalu menganggap para muridnya sebagai sahabat. Tetapi, para murid sering kali menyalah artikannya. Baru belajar sedikit, sudah mau berlari sebagaimana sang Syaikh. Mereka tidak sadar bahwa sang Syaikh justru tengah melangkah lamban, agar sang murid mampu memperhatikan dan menarik pelajaran darinya. Meskipun seorang murid sudah belajar di negeri Arab, hafal Al Qur’an, hidup dalam pesantren, keturunan ulama, dihadapan seorang Syaikh sama artinya seperti bayi yang baru lahir, seperti orang yang mati yang merasa hidup. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata kepada seorang muridnya : 'Para ulama Banten mengatakan sekiranya seseorang sudah banyak membaca kitab yang bernuansa Islami, hafal Al Qur'an dan Hadis, namun adab dihadapan Syaikhnya tidak baik, maka dia belum bertarekat, belum bertasawuf.'
Hadrat Maulana Jalalludin Rumi,ra., mengisahkan ada seorang sahabat Nabiyullah Isa,as., melihat tumpukan tulang. Dalam ketidak sadarannya, dia memohon kepada Sang Nabi,as., agar memberitahu cara untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Nabi Isa,as., bersabda, ‘Untuk melakukan itu dibutuhkan jiwa yang bersih, lebih jernih daripada air hujan. Dan untuk membersihkan jiwa, untuk menjernihkan hati, dibutuhkan sekian banyak masa kehidupan. Kalaupun engkau memperoleh tongkat Nabi Musa,as., belum tentu engkau juga memperoleh kesadaran seorang Musa.' Sang murid bersikeras, ‘Kalau begitu, engkau saja yang menghidupkan kembali manusia ini.’
Sang murid tidak menyadari bahwa dirinya sakit dan tidak menyadari penyakitnya, bagaimana bisa ia menghidupkan orang yang sudah mati, sedangkan mnghidupkan dirinya saja tidak bisa. Dia tidak sadar kalau jiwanya sudah sekarat. Yang dia perhatikan malah tengkorak orang lain. Berarti, yang tidak sadar selalu mengurusi ketidaksadaran. Sebaliknya, yang sadar akan selalu mengurusi kesadaran. Yang bijak akan selalu mengurusi kebijakan. Yang baik akan selalu mengurusi kebaikan.
Karena didesak terus oleh muridnya, Nabi Isa,as., mengucapkan Asma Allah, ternyata tumpukan tulang itu bukanlah milik manusia, tetapi milik seekor singa yang buas. Begitu hidup kembali, dia menerjang si murid dan mencakarnya sampai tewas. Nabi Isa,as., menegur sang singa : ‘Mengapa engkau harus membunuh dia?' Sang singa menjawab : ‘Supaya yang mendengar tentang kejadian ini mengambil hikmahnya. Berada begitu dekat dengan Sumber Air Kehidupan Yang Jernih, malah masih saja mau bermain-main dengan air kotor. 'Allah ... Allah ... Allah' dia ucapkan dengan mulut, padahal jiwanya masih kafir. Jiwanya masih belum beriman! Nama Allah pun dia ucapkan untuk memperoleh imbalan untuk mendapatkan keuntungan duniawi, untuk mendapatkan ketenaran. Seperti seekor keledai yang mengangkat Al-Quran. Ada kitab suci di atas punggungnya, tetapi dia tidak mengetahui nilainya. Bagi dia Al-Qur'an atau beban lain sama saja. Dia mengangkatnya demi perut.’
Hadrat Maulana,ra., mengajak kita untuk bercermin diri, Jangan-jangan hubungan kita dengan sang guru selama ini tidak lebih baik daripada murid Nabi Isa.as., tadi. Jangan-jangan agama kita tak lebih dari sekadar alat dagangan, atau alat untuk memperoleh sanjungan dan kepopuleran. Jangan-jangan kita adalah para penyihir Fir’aun yang salah memegang tongkat.
Ada yang mengatakan bahwa ajaran agama bagaikan tongkat. Karena fungsi tongkat bagi orang buta adalah penunjuk jalan. Sebuah tongkat di tangan Nabiyullah Musa,as., menjadi sangat dinamis, bisa menghancurkan ego, melembutkan dan membangkitkan kesadaran. Tetapi jika dipegang oleh para ahli sihir Fir'aun terjadilah kekacauan.
Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) dengan kebesaran jiwanya selalu menganggap para muridnya sebagai sahabat. Tetapi, para murid sering kali menyalah artikannya. Baru belajar sedikit, sudah mau berlari sebagaimana sang Syaikh. Mereka tidak sadar bahwa sang Syaikh justru tengah melangkah lamban, agar sang murid mampu memperhatikan dan menarik pelajaran darinya. Meskipun seorang murid sudah belajar di negeri Arab, hafal Al Qur’an, hidup dalam pesantren, keturunan ulama, dihadapan seorang Syaikh sama artinya seperti bayi yang baru lahir, seperti orang yang mati yang merasa hidup. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata kepada seorang muridnya : 'Para ulama Banten mengatakan sekiranya seseorang sudah banyak membaca kitab yang bernuansa Islami, hafal Al Qur'an dan Hadis, namun adab dihadapan Syaikhnya tidak baik, maka dia belum bertarekat, belum bertasawuf.'
Hadrat Maulana Jalalludin Rumi,ra., mengisahkan ada seorang sahabat Nabiyullah Isa,as., melihat tumpukan tulang. Dalam ketidak sadarannya, dia memohon kepada Sang Nabi,as., agar memberitahu cara untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Nabi Isa,as., bersabda, ‘Untuk melakukan itu dibutuhkan jiwa yang bersih, lebih jernih daripada air hujan. Dan untuk membersihkan jiwa, untuk menjernihkan hati, dibutuhkan sekian banyak masa kehidupan. Kalaupun engkau memperoleh tongkat Nabi Musa,as., belum tentu engkau juga memperoleh kesadaran seorang Musa.' Sang murid bersikeras, ‘Kalau begitu, engkau saja yang menghidupkan kembali manusia ini.’
Sang murid tidak menyadari bahwa dirinya sakit dan tidak menyadari penyakitnya, bagaimana bisa ia menghidupkan orang yang sudah mati, sedangkan mnghidupkan dirinya saja tidak bisa. Dia tidak sadar kalau jiwanya sudah sekarat. Yang dia perhatikan malah tengkorak orang lain. Berarti, yang tidak sadar selalu mengurusi ketidaksadaran. Sebaliknya, yang sadar akan selalu mengurusi kesadaran. Yang bijak akan selalu mengurusi kebijakan. Yang baik akan selalu mengurusi kebaikan.
Karena didesak terus oleh muridnya, Nabi Isa,as., mengucapkan Asma Allah, ternyata tumpukan tulang itu bukanlah milik manusia, tetapi milik seekor singa yang buas. Begitu hidup kembali, dia menerjang si murid dan mencakarnya sampai tewas. Nabi Isa,as., menegur sang singa : ‘Mengapa engkau harus membunuh dia?' Sang singa menjawab : ‘Supaya yang mendengar tentang kejadian ini mengambil hikmahnya. Berada begitu dekat dengan Sumber Air Kehidupan Yang Jernih, malah masih saja mau bermain-main dengan air kotor. 'Allah ... Allah ... Allah' dia ucapkan dengan mulut, padahal jiwanya masih kafir. Jiwanya masih belum beriman! Nama Allah pun dia ucapkan untuk memperoleh imbalan untuk mendapatkan keuntungan duniawi, untuk mendapatkan ketenaran. Seperti seekor keledai yang mengangkat Al-Quran. Ada kitab suci di atas punggungnya, tetapi dia tidak mengetahui nilainya. Bagi dia Al-Qur'an atau beban lain sama saja. Dia mengangkatnya demi perut.’
Hadrat Maulana,ra., mengajak kita untuk bercermin diri, Jangan-jangan hubungan kita dengan sang guru selama ini tidak lebih baik daripada murid Nabi Isa.as., tadi. Jangan-jangan agama kita tak lebih dari sekadar alat dagangan, atau alat untuk memperoleh sanjungan dan kepopuleran. Jangan-jangan kita adalah para penyihir Fir’aun yang salah memegang tongkat.
Senin, 11 Maret 2013
ADAB
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Semua mengetahui bahwa tidak dibenarkan membaca surat yang panjang manakala menjadi Imam shalat, Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai fitnah, karena jamaah yang shalat berbeda-beda kemampuan dan usianya. Para orang tua tidak mampu lagi berdiri berlama-lama, maka bila bacaannya terlalu panjang akan mengakibatkan keluh kesah dalam hatinya bukannya dzikir, oleh sebab itu disebut sebagai ‘fitnah’. jika pedang ilmu berada ditangan penjahat lebih berbahaya daripada pemabuk yang bersenjata. Orang jahat akan menyalahgunakan tahta. Terhadap merekalah perang suci diwajibkan untuk melucuti senjata mereka. Kita adalah penjahat yang sedang diperangi oleh seorang mursyid guna melucuti semua sifat-sifat jahat yang berada dalam diri kita.
Juga masyarakat Islam mengetahui bahwa ada sebuah riwayat yang mengatakan tidaklah dibolehkan meninggikan suara disaat ada Rasulullah,saw. Ini sama artinya menyalakan obor disiang hari bolong. Kita bisa membayangkan, jika mengeraskan suara saja tidak boleh apalagi berdoa dihadapan yang mulia Rasulullah,saw.
Dalam adab tarekat dikatakan dilarang duduk diatas sajadah dihadapan guru. Hal ini bermakna bahwa sajadah merupakan alas suci untuk melakukan peribadatan. Sajadah digunakan hanya untuk melakukan shalat, wiridan, membaca Al Qur’an atau bisa disebut sebagai tindak peribadatan bukan yang lain. Jika demikian guru adalah sejuta sajadah bagi sang murid, oleh sebab itu murid harus segera melipat sajadah dzahiran dan menggelar sajadah batinannya. Membuang jauh-jauh ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan mempersiapkan cawan kosong guna menerima air kehidupan dari seorang syaikh. Dikatakan bahwa tidak mengaminkan doa seorang syaikh atau waliyullah maka robohlah keimanannya. Oleh karenanya, jangan pernah meninggikan suara dihadapan syaikh, apalagi melantunkan doa-doa dihadapannya.
Jika Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengenakan topi merah, maka sang murid jangan sekali-kali memakainya. juga jika beliau memakai jubah jangan pernah sang murid memakainya juga. Sebagai tanda kepatuhan seorang murid, sebagai simbol bahwa sang murid adalah gelas kosong adalah dengan memakai topi hijau dan memakai gamis yang sederhana, bukan sama seperti guru. Sebuah riwayat mengatakan bahwa disaat Rasulullah,saw., dan Abu Bakar,ra., memasuki Madinah dan agar masyarakat segera mengetahui yang mana Rasulullah, maka segera Abu Bakar,ra., menanggalkan sesuatu yang dipakainya. Orang yang meniru-niru prilaku seorang syaikh, disindir oleh Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,ra., seperti burung beo yang botak lantaran menumpahkan minyak wangi milik tuannya, lalu tuannya menamparnya hingga botak. ia berhenti bicara sampai tuannya menduga karena shock. suatu ketika seorang sufi botak lewat ddidepan burung beo itu, tiba-tiba sang burung berkata kepada sang sufi : 'Wahai sufi, apakah engkau botak lantaran menumpahkan minyak wangi?' Sang sufi menjawab : 'Tidaklah sama orang-orang yang memakai pakaian ala sufi dengan seorang sufi, tidaklah sama bicaranya orang-orang yang mencontoh sufi dengan sufi, dan tidaklah sama doa orang yang mengaku sufi dengan seorang sufi.'
Tugas seorang murid adalah mengikat semua sifat hewaniyah, syaithoniyah dan jiwa rendah lainnya, agar cahaya ketawadhuan memancar dan mengejewantah dalam tindakan.
Semua mengetahui bahwa tidak dibenarkan membaca surat yang panjang manakala menjadi Imam shalat, Rasulullah,saw., menyebutnya sebagai fitnah, karena jamaah yang shalat berbeda-beda kemampuan dan usianya. Para orang tua tidak mampu lagi berdiri berlama-lama, maka bila bacaannya terlalu panjang akan mengakibatkan keluh kesah dalam hatinya bukannya dzikir, oleh sebab itu disebut sebagai ‘fitnah’. jika pedang ilmu berada ditangan penjahat lebih berbahaya daripada pemabuk yang bersenjata. Orang jahat akan menyalahgunakan tahta. Terhadap merekalah perang suci diwajibkan untuk melucuti senjata mereka. Kita adalah penjahat yang sedang diperangi oleh seorang mursyid guna melucuti semua sifat-sifat jahat yang berada dalam diri kita.
Juga masyarakat Islam mengetahui bahwa ada sebuah riwayat yang mengatakan tidaklah dibolehkan meninggikan suara disaat ada Rasulullah,saw. Ini sama artinya menyalakan obor disiang hari bolong. Kita bisa membayangkan, jika mengeraskan suara saja tidak boleh apalagi berdoa dihadapan yang mulia Rasulullah,saw.
Dalam adab tarekat dikatakan dilarang duduk diatas sajadah dihadapan guru. Hal ini bermakna bahwa sajadah merupakan alas suci untuk melakukan peribadatan. Sajadah digunakan hanya untuk melakukan shalat, wiridan, membaca Al Qur’an atau bisa disebut sebagai tindak peribadatan bukan yang lain. Jika demikian guru adalah sejuta sajadah bagi sang murid, oleh sebab itu murid harus segera melipat sajadah dzahiran dan menggelar sajadah batinannya. Membuang jauh-jauh ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan mempersiapkan cawan kosong guna menerima air kehidupan dari seorang syaikh. Dikatakan bahwa tidak mengaminkan doa seorang syaikh atau waliyullah maka robohlah keimanannya. Oleh karenanya, jangan pernah meninggikan suara dihadapan syaikh, apalagi melantunkan doa-doa dihadapannya.
Jika Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengenakan topi merah, maka sang murid jangan sekali-kali memakainya. juga jika beliau memakai jubah jangan pernah sang murid memakainya juga. Sebagai tanda kepatuhan seorang murid, sebagai simbol bahwa sang murid adalah gelas kosong adalah dengan memakai topi hijau dan memakai gamis yang sederhana, bukan sama seperti guru. Sebuah riwayat mengatakan bahwa disaat Rasulullah,saw., dan Abu Bakar,ra., memasuki Madinah dan agar masyarakat segera mengetahui yang mana Rasulullah, maka segera Abu Bakar,ra., menanggalkan sesuatu yang dipakainya. Orang yang meniru-niru prilaku seorang syaikh, disindir oleh Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,ra., seperti burung beo yang botak lantaran menumpahkan minyak wangi milik tuannya, lalu tuannya menamparnya hingga botak. ia berhenti bicara sampai tuannya menduga karena shock. suatu ketika seorang sufi botak lewat ddidepan burung beo itu, tiba-tiba sang burung berkata kepada sang sufi : 'Wahai sufi, apakah engkau botak lantaran menumpahkan minyak wangi?' Sang sufi menjawab : 'Tidaklah sama orang-orang yang memakai pakaian ala sufi dengan seorang sufi, tidaklah sama bicaranya orang-orang yang mencontoh sufi dengan sufi, dan tidaklah sama doa orang yang mengaku sufi dengan seorang sufi.'
Tugas seorang murid adalah mengikat semua sifat hewaniyah, syaithoniyah dan jiwa rendah lainnya, agar cahaya ketawadhuan memancar dan mengejewantah dalam tindakan.
KEBIJAKSANAAN
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Cara-cara yang hebat telah dilakukan oleh para waliyullah di tanah jawa untuk menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Syaikh Maulana Malik Ibrahim,ra., atau disebut Sunan Gresik, Syekh Maghribi, atau terkadang Makhdum Ibrahim As-Samarqandy mendakwahkan Islam di Jawa dengan mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Begitu juga dengan Sunan Bonang putra Sunan Ampel, banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ajarannya berintikan pada ‘Cinta’, persis sebagaimana yang diajarkan oleh Hadrat Jalalludin Rumi.ra. Agar cepat mengenai sasarannya, disampaikan melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Karya sastra berupa tembang tamsil (suluk), salah satunya adalah "Suluk Wijil". Banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Syaikh. Ibnu Arabi,ra., Syaikh. Fariduddin Attar,ra., Hadrat Maulana Jalalludin Rumi,ra., serta Hamzah Fansuri.ra. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental. Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang. jelas sekali bahwa ajarannya adalah tentang konsep penyucian diri atau tasawuf. lima 'tombo ati' atau obat hati adalah membaca Al Qur'an dan maknanya, sholat malam, berkumpul dengan orang sholeh, puasa dan dzikir pada malam hari yang banyak. Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbat (peneguhan).
Kebijaksanaan yang demikian dilakukan tentunya dengan kajian dan penglihatan spiritual yang begitu tajam. Karena budaya merupakan himpunan daripada adab-adab yang terpuji, oleh karenanya memang sangat tepat menyisipkan ajaran agama Islam didalam budaya yang saat itu sedang digandrungi oleh masyarakat. Meskipun bila di abad sekarang dilakukan akan banyak ulama zhahiran yang mengatakan bid’ah.
Di Bukhara dan Samarkand, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menerima beberapa kitab dan sejarah atau biografi atau manaqib para waliyullah yang berada disana dalam bahasa Rusia bukan bahasa Arab, meskipun kandungannya berisi inti ajaran agama Islam. Karena saat itu Uzbekistan belum lama lepas dari kekuasaan Uni Sovyet. Tujuannya jelas agar mudah dimengerti oleh masyarakatnya.
Di tanah jawa, para ulama menyampaikan pengetahuan agama dengan bahasa yang dimengerti oleh masayarakat, dan tidak melulu menggunakan bahasa Arab. Di zaman kini terbalik, suka atau tidak yang disampaikan dalam bahasa Arab, agar dianggap sebagai santri atau jebolan pesantren. Biografi Tuan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani,qs, yang lahir di Iran dan hijrah ke Irak juga dibacakan dalam bahasa Arab. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menangkap keluhan para tamu yang hadir dalam acara Mawlid dengan mengatakan bahwa : ‘Mengerti atau tidak mengerti, mendengarkan manaqiban Sayyid Abdul Qodir Al Jailani,qs., dalam bahasa Arab akan mendapatkan fadhilah yang besar, akan berpahala yang besar.’
Orang yang mengikat egonya, akan memperoleh kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan menghasilkan keakraban dan penghurmatan. Sebaliknya orang yang mengedepankan egonya akan menutup kebijaksanaan, yang akan menghasilkan fitnah-fitnah. Belajar dari Sunan Gresik,ra., dan Sunan Bonang,ra., sungguh nyata bahwa dalam dakwah harus secara sederhana dan mengenai sasaran, oleh sebab itu agar masyarakat dapat memahami pengetahuan agama secara cepat, bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah yang dapat dimengerti oleh masayarakat dan bukan dalam bahasa Arab, bahkan melalui perantara peleburan budaya, agar tujuan utamanya tercapai, yaitu mengakui bahwa tiada tuhan yang disembah kecuali Allah ‘Laa Ilaaha Illallaah.’
Peringatan Mawlid mempunyai makna yang begitu tinggi di hati masyarakat Tarekat. Ada yang memperingatinya secara sendiri-sendiri dan ada juga yang berkelompok. Masing-masing mempunyai cara yang berbeda-beda. Ada yang bangun malam lalu mendendangkan shalawat, ada yang berkelompok membaca syair-syair pujian dalam bentuk prosa. Pembacaan asrokol dirancang sedemikian rupa indahnya, waktu berdiripun singkat tetapi tidak mengurangi sedikitpun rasa hurmat kepada Nabi,saw. Di Sekolah Dasar melombakan seni tari dan membaca syair, para guru membacakan biografi Nabi Muhammad,saw. Caranya berbeda-beda tetapi tujuannya sama, menyambut hari datangnya cahaya keatas bumi ini. Konsumsi Sekolah Dasar berbeda dengan konsumsi Perguruan Tinggi, dibutuhkan kebijaksanaan agar tujuannya mengenai sasaran secara tepat.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) bertanya kepada salah seorang muridnya selepas perayaan Mawlid : ‘Mengapa tidak membaca Asma ul-Husna dengan Jalla Jalaaluhu dan mengapa tidak membaca Silsilah Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah serta mengapa sebelum dzikir bersama acara sudah ditutup? Padahal hukumnya wajib bagi tarekat kita.’ Kebijaksanaan perlu dikedepankan, tidaklah tepat bila anak-anak Sekolah Dasar disuguhi menu makanan Perguruan Tinggi. Tidaklah bijaksana membawa-bawa ego didepan guru, kita semua adalah ‘menerima’ dari guru bukan ‘memberi’, satu-satunya yang boleh diberikan kepada guru adalah patuh lantaran hurmat, karena kepatuhan dan kehurmatan adalah dua tiang penopang cinta.
Semoga menjadikan renungan bersama.
Cara-cara yang hebat telah dilakukan oleh para waliyullah di tanah jawa untuk menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Syaikh Maulana Malik Ibrahim,ra., atau disebut Sunan Gresik, Syekh Maghribi, atau terkadang Makhdum Ibrahim As-Samarqandy mendakwahkan Islam di Jawa dengan mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Begitu juga dengan Sunan Bonang putra Sunan Ampel, banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ajarannya berintikan pada ‘Cinta’, persis sebagaimana yang diajarkan oleh Hadrat Jalalludin Rumi.ra. Agar cepat mengenai sasarannya, disampaikan melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Karya sastra berupa tembang tamsil (suluk), salah satunya adalah "Suluk Wijil". Banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Syaikh. Ibnu Arabi,ra., Syaikh. Fariduddin Attar,ra., Hadrat Maulana Jalalludin Rumi,ra., serta Hamzah Fansuri.ra. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental. Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang. jelas sekali bahwa ajarannya adalah tentang konsep penyucian diri atau tasawuf. lima 'tombo ati' atau obat hati adalah membaca Al Qur'an dan maknanya, sholat malam, berkumpul dengan orang sholeh, puasa dan dzikir pada malam hari yang banyak. Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbat (peneguhan).
Kebijaksanaan yang demikian dilakukan tentunya dengan kajian dan penglihatan spiritual yang begitu tajam. Karena budaya merupakan himpunan daripada adab-adab yang terpuji, oleh karenanya memang sangat tepat menyisipkan ajaran agama Islam didalam budaya yang saat itu sedang digandrungi oleh masyarakat. Meskipun bila di abad sekarang dilakukan akan banyak ulama zhahiran yang mengatakan bid’ah.
Di Bukhara dan Samarkand, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menerima beberapa kitab dan sejarah atau biografi atau manaqib para waliyullah yang berada disana dalam bahasa Rusia bukan bahasa Arab, meskipun kandungannya berisi inti ajaran agama Islam. Karena saat itu Uzbekistan belum lama lepas dari kekuasaan Uni Sovyet. Tujuannya jelas agar mudah dimengerti oleh masyarakatnya.
Di tanah jawa, para ulama menyampaikan pengetahuan agama dengan bahasa yang dimengerti oleh masayarakat, dan tidak melulu menggunakan bahasa Arab. Di zaman kini terbalik, suka atau tidak yang disampaikan dalam bahasa Arab, agar dianggap sebagai santri atau jebolan pesantren. Biografi Tuan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani,qs, yang lahir di Iran dan hijrah ke Irak juga dibacakan dalam bahasa Arab. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menangkap keluhan para tamu yang hadir dalam acara Mawlid dengan mengatakan bahwa : ‘Mengerti atau tidak mengerti, mendengarkan manaqiban Sayyid Abdul Qodir Al Jailani,qs., dalam bahasa Arab akan mendapatkan fadhilah yang besar, akan berpahala yang besar.’
Orang yang mengikat egonya, akan memperoleh kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan menghasilkan keakraban dan penghurmatan. Sebaliknya orang yang mengedepankan egonya akan menutup kebijaksanaan, yang akan menghasilkan fitnah-fitnah. Belajar dari Sunan Gresik,ra., dan Sunan Bonang,ra., sungguh nyata bahwa dalam dakwah harus secara sederhana dan mengenai sasaran, oleh sebab itu agar masyarakat dapat memahami pengetahuan agama secara cepat, bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah yang dapat dimengerti oleh masayarakat dan bukan dalam bahasa Arab, bahkan melalui perantara peleburan budaya, agar tujuan utamanya tercapai, yaitu mengakui bahwa tiada tuhan yang disembah kecuali Allah ‘Laa Ilaaha Illallaah.’
Peringatan Mawlid mempunyai makna yang begitu tinggi di hati masyarakat Tarekat. Ada yang memperingatinya secara sendiri-sendiri dan ada juga yang berkelompok. Masing-masing mempunyai cara yang berbeda-beda. Ada yang bangun malam lalu mendendangkan shalawat, ada yang berkelompok membaca syair-syair pujian dalam bentuk prosa. Pembacaan asrokol dirancang sedemikian rupa indahnya, waktu berdiripun singkat tetapi tidak mengurangi sedikitpun rasa hurmat kepada Nabi,saw. Di Sekolah Dasar melombakan seni tari dan membaca syair, para guru membacakan biografi Nabi Muhammad,saw. Caranya berbeda-beda tetapi tujuannya sama, menyambut hari datangnya cahaya keatas bumi ini. Konsumsi Sekolah Dasar berbeda dengan konsumsi Perguruan Tinggi, dibutuhkan kebijaksanaan agar tujuannya mengenai sasaran secara tepat.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) bertanya kepada salah seorang muridnya selepas perayaan Mawlid : ‘Mengapa tidak membaca Asma ul-Husna dengan Jalla Jalaaluhu dan mengapa tidak membaca Silsilah Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah serta mengapa sebelum dzikir bersama acara sudah ditutup? Padahal hukumnya wajib bagi tarekat kita.’ Kebijaksanaan perlu dikedepankan, tidaklah tepat bila anak-anak Sekolah Dasar disuguhi menu makanan Perguruan Tinggi. Tidaklah bijaksana membawa-bawa ego didepan guru, kita semua adalah ‘menerima’ dari guru bukan ‘memberi’, satu-satunya yang boleh diberikan kepada guru adalah patuh lantaran hurmat, karena kepatuhan dan kehurmatan adalah dua tiang penopang cinta.
Semoga menjadikan renungan bersama.
Selasa, 05 Maret 2013
FAQIR
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Allah SWT mewahyukan kepada Nabiyullah Musa,as., : ‘Maukah engkau memperoleh pahala amal kebajikan yang setara dengan pahala seluruh umat manusia di Hari Kiamat?’ Nabi Musa,as., menjawab : ‘Ya.’ Allah SWT berfirman : ‘Kunjungilah orang sakit dan pastikanlah bahwa orang-orang miskin punya pakaian.’
Hubungan antara sakit dan miskin nyaris sama derajatnya, karena disebut berdampingan dalam wahyu diatas. Didalamnya terdapat kualitas amal yang begitu tinggi, yang setara dengan pahala seluruh umat manusia. Sakit dan miskin mengantarkan manusia kedalam kesempurnaan tauhid, bentuknya sebuah paksaan agar manusia ingat kepada penciptanya dan maknanya adalah sebuah karunia yang besar. Dalam sakit, setelah berupaya dengan obat-obatan, terapi dan diet tetapi tak kunjung sembuh, maka hatinya secara perlahan akan bergerak kepada pelepasan harapannya kepada sarana-sarana tadi menuju kepada harapan kesembuhannya kepada Allah SWT saja. Begitu pula dalam derita kemiskinan harta benda, setelah berhenti dari harapannya kepada makhluk untuk memperoleh bantuan sandang dan pangan, maka harapannya tertuju hanya kepada Allah SWT saja. Oleh sebab itu, baik sakit maupun miskin mempunyai derajat yang tinggi menjadikan manusia merasa butuh Allah SWT saja. Kedua keadaan ini sebagai pembuktian bahwa Allah itu satu-satunya tempat bergantung, sebagaimana dikatakan dalam surat Al Ikhlas. Pantas saja bila Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata kepada seorang muridnya yang dalam keadaan sakit ketika melaksanakan ibadah haji bahwa Allah sedang membersihkannya dari noda-noda dosa.
Jika segala ciptaan menunyai bentuk dan makna, maka makna faqir dapat dikatakan sebagai perasaan hanya membutuhkan Allah saja, dan bentuk faqir adalah kemiskinan atau tidak mempunyai harta benda. Oleh karenanya, istilah ‘faqir miskin’ adalah sebuah penekanan bahwa meskipun tidak mempunyai harta benda tetapi tidak meminta-minta kepada makhluk melainkan hanya kepada Allah SWT saja. Sebagaimana orang sakit yang berhenti meminta kesembuhan dari dokter, kecuali hanya membutuhkan pertolongan Allah saja. Keduanya bergantung kepada Allah, meskipun mempunyai tanda yang berbeda, yang pertama derita karena kekurangan harta benda yang kedua derita karena sakit.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Kita adalah golongan orang yang faqir, tetapi bukan faqir kepada Allah SWT melainkan faqir terhadap dunia.’ Karena faqir adalah sebuah maqom yang tinggi, didalamnya ada sabar, qinaah dan keridhaan. Pantas saja jika Imam Hujwiri menempatkan bab faqir pada kitabnya yang masyhur itu, ‘Kasyful Mahjub’ setelah ilmu. Seorang salik berkata kepada salik yang lain, bahwa pengajian tarekat kita sudah lebih dari dua puluh tahun, tetapi ada kejadian yang menyentuh hati, dan bukan sekali saja terjadi, melainkan terjadi beberapa kali, yakni, jika seorang sahabat yang miskin jatuh sakit lalu beberapa hari kemudian wafat, sedikit sekali sahabat yang menjenguknya, padahal orang tersebut adalah sahabat senior dalam pengajian. Tetapi begitu ada keluarga dari sahabat yang kaya harta benda sakit lalu wafat, hampir seluruh sahabat pengajian hadir. Padahal Rasulullah,saw., bersabda : ‘Orang yang merendahkan diri dihadapan orang kaya dikarenakan kekayaanya, berarti dia telah kehilangan dua pertiga agamanya.’ Mengapa dua pertiga? Karena, orang yang merendahkan dirinya bisa dengan ucapan atau lidahnya lantaran nafs-nya meskipun hatinya melarangnya, oleh sebab itu dikatakan dua pertiga, tetapi jika hatinya juga menyetujuinya maka akan kehilangan seluruh agamanya. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin. Kaum faqir yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan.’
Suatu ketika seorang salik sedang shalat Jum’at di salah satu Masjid di Sentul City, Bogor. Sang Khatib berkata : ‘Seorang sufi itu haruslah kaya harta benda, sehingga ia bisa berbagi kepada orang yang membutuhkan, jika seorang sufi itu miskin, maka ada unsur keterpaksaan dalam menjadi sufi.’ Setelah turun dari mimbar, ia melihat Syaikhuna (semoga Allah merahamatinya) sedang duduk dibarisan depan, sontak ia berkata : ‘Nah, kalau ini sufi beneran!’ Riwayat ini shahih, dan sungguh mengerikan, bagaimana seorang ulama yang kondang bisa berkata seperti itu, padahal ia tidak pernah hidup dalam dunia kesufian dan belum pernah merasakan menjadi sufi. Pendapatnya meleset dan jauh dari kebenaran. Karena sufi adalah orang-orang yang telah sampai kepada Allah SWT. Sedangkan orang-orang yang dalam perjalanan menuju tuhan adalah orang-orang yang bertasawuf atau dalam istilah kesufian disebut muthasowif. Sesungguhnya tidak ada kaitannya antara kekayaan dengan kemiskinan dalam menempuh jalan kesufian. Bisa saja orang-orang miskin menjadi sufi, begitu pula orang-orang kaya menjadi sufi, dan sejarah telah membuktikan hal yang demikian, terserah bagaimana Allah SWT memilihnya. Jika untuk menjadi sufi haruslah kaya terlebih dahulu, maka sama saja artinya bahwa sebuah tarekat tidak boleh diikuti oleh orang-orang miskin dan hanya orang-orang kaya yang berada didalamnya, sungguh ironis!
Yang mulia Rasulullah,saw., pernah berdoa : ‘Yaa Allah jadikan aku hidup miskin,dan jadikanlah aku mati miskin dan bangkitkan aku dari kematian ditengah-tengah orang-orang miskin.’
Nah, jika kata ‘miskin’ dalam hadis mulia diatas diartikan sebagai tidak mempunyai harta benda maka tidak seorangpun didunia ini yang mau melantunkan doa itu, karena hampir semua manusia takut menghadapi kemiskinan. ‘Miskin’ yang dimaksud adalah merasa butuh hanya kepada Allah SWT saja, sehingga dalam hidup, mati dan kebangkitan hanya membutuhkan Allah saja. Para syaikh sufi mengatakan bahwa kefaqiran adalah sebuah maqom yang tinggi, melibihi kesucian itu sendiri.
Allah SWT mewahyukan kepada Nabiyullah Musa,as., : ‘Maukah engkau memperoleh pahala amal kebajikan yang setara dengan pahala seluruh umat manusia di Hari Kiamat?’ Nabi Musa,as., menjawab : ‘Ya.’ Allah SWT berfirman : ‘Kunjungilah orang sakit dan pastikanlah bahwa orang-orang miskin punya pakaian.’
Hubungan antara sakit dan miskin nyaris sama derajatnya, karena disebut berdampingan dalam wahyu diatas. Didalamnya terdapat kualitas amal yang begitu tinggi, yang setara dengan pahala seluruh umat manusia. Sakit dan miskin mengantarkan manusia kedalam kesempurnaan tauhid, bentuknya sebuah paksaan agar manusia ingat kepada penciptanya dan maknanya adalah sebuah karunia yang besar. Dalam sakit, setelah berupaya dengan obat-obatan, terapi dan diet tetapi tak kunjung sembuh, maka hatinya secara perlahan akan bergerak kepada pelepasan harapannya kepada sarana-sarana tadi menuju kepada harapan kesembuhannya kepada Allah SWT saja. Begitu pula dalam derita kemiskinan harta benda, setelah berhenti dari harapannya kepada makhluk untuk memperoleh bantuan sandang dan pangan, maka harapannya tertuju hanya kepada Allah SWT saja. Oleh sebab itu, baik sakit maupun miskin mempunyai derajat yang tinggi menjadikan manusia merasa butuh Allah SWT saja. Kedua keadaan ini sebagai pembuktian bahwa Allah itu satu-satunya tempat bergantung, sebagaimana dikatakan dalam surat Al Ikhlas. Pantas saja bila Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata kepada seorang muridnya yang dalam keadaan sakit ketika melaksanakan ibadah haji bahwa Allah sedang membersihkannya dari noda-noda dosa.
Jika segala ciptaan menunyai bentuk dan makna, maka makna faqir dapat dikatakan sebagai perasaan hanya membutuhkan Allah saja, dan bentuk faqir adalah kemiskinan atau tidak mempunyai harta benda. Oleh karenanya, istilah ‘faqir miskin’ adalah sebuah penekanan bahwa meskipun tidak mempunyai harta benda tetapi tidak meminta-minta kepada makhluk melainkan hanya kepada Allah SWT saja. Sebagaimana orang sakit yang berhenti meminta kesembuhan dari dokter, kecuali hanya membutuhkan pertolongan Allah saja. Keduanya bergantung kepada Allah, meskipun mempunyai tanda yang berbeda, yang pertama derita karena kekurangan harta benda yang kedua derita karena sakit.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Kita adalah golongan orang yang faqir, tetapi bukan faqir kepada Allah SWT melainkan faqir terhadap dunia.’ Karena faqir adalah sebuah maqom yang tinggi, didalamnya ada sabar, qinaah dan keridhaan. Pantas saja jika Imam Hujwiri menempatkan bab faqir pada kitabnya yang masyhur itu, ‘Kasyful Mahjub’ setelah ilmu. Seorang salik berkata kepada salik yang lain, bahwa pengajian tarekat kita sudah lebih dari dua puluh tahun, tetapi ada kejadian yang menyentuh hati, dan bukan sekali saja terjadi, melainkan terjadi beberapa kali, yakni, jika seorang sahabat yang miskin jatuh sakit lalu beberapa hari kemudian wafat, sedikit sekali sahabat yang menjenguknya, padahal orang tersebut adalah sahabat senior dalam pengajian. Tetapi begitu ada keluarga dari sahabat yang kaya harta benda sakit lalu wafat, hampir seluruh sahabat pengajian hadir. Padahal Rasulullah,saw., bersabda : ‘Orang yang merendahkan diri dihadapan orang kaya dikarenakan kekayaanya, berarti dia telah kehilangan dua pertiga agamanya.’ Mengapa dua pertiga? Karena, orang yang merendahkan dirinya bisa dengan ucapan atau lidahnya lantaran nafs-nya meskipun hatinya melarangnya, oleh sebab itu dikatakan dua pertiga, tetapi jika hatinya juga menyetujuinya maka akan kehilangan seluruh agamanya. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin. Kaum faqir yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah SWT pada Hari Kebangkitan.’
Suatu ketika seorang salik sedang shalat Jum’at di salah satu Masjid di Sentul City, Bogor. Sang Khatib berkata : ‘Seorang sufi itu haruslah kaya harta benda, sehingga ia bisa berbagi kepada orang yang membutuhkan, jika seorang sufi itu miskin, maka ada unsur keterpaksaan dalam menjadi sufi.’ Setelah turun dari mimbar, ia melihat Syaikhuna (semoga Allah merahamatinya) sedang duduk dibarisan depan, sontak ia berkata : ‘Nah, kalau ini sufi beneran!’ Riwayat ini shahih, dan sungguh mengerikan, bagaimana seorang ulama yang kondang bisa berkata seperti itu, padahal ia tidak pernah hidup dalam dunia kesufian dan belum pernah merasakan menjadi sufi. Pendapatnya meleset dan jauh dari kebenaran. Karena sufi adalah orang-orang yang telah sampai kepada Allah SWT. Sedangkan orang-orang yang dalam perjalanan menuju tuhan adalah orang-orang yang bertasawuf atau dalam istilah kesufian disebut muthasowif. Sesungguhnya tidak ada kaitannya antara kekayaan dengan kemiskinan dalam menempuh jalan kesufian. Bisa saja orang-orang miskin menjadi sufi, begitu pula orang-orang kaya menjadi sufi, dan sejarah telah membuktikan hal yang demikian, terserah bagaimana Allah SWT memilihnya. Jika untuk menjadi sufi haruslah kaya terlebih dahulu, maka sama saja artinya bahwa sebuah tarekat tidak boleh diikuti oleh orang-orang miskin dan hanya orang-orang kaya yang berada didalamnya, sungguh ironis!
Yang mulia Rasulullah,saw., pernah berdoa : ‘Yaa Allah jadikan aku hidup miskin,dan jadikanlah aku mati miskin dan bangkitkan aku dari kematian ditengah-tengah orang-orang miskin.’
Nah, jika kata ‘miskin’ dalam hadis mulia diatas diartikan sebagai tidak mempunyai harta benda maka tidak seorangpun didunia ini yang mau melantunkan doa itu, karena hampir semua manusia takut menghadapi kemiskinan. ‘Miskin’ yang dimaksud adalah merasa butuh hanya kepada Allah SWT saja, sehingga dalam hidup, mati dan kebangkitan hanya membutuhkan Allah saja. Para syaikh sufi mengatakan bahwa kefaqiran adalah sebuah maqom yang tinggi, melibihi kesucian itu sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
