Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Meskipun terdengar absurb, memberikan analog adil sebagai jalan tol memang kurang tepat, namun tidaklah mengapa, guna memudahkan pembahasan lebih lanjut. Jika adil diibaratkan jalan tol, maka tidak ada bedanya seseorang yang baru mengambil karcis tol dengan orang yang berada diujung jalan tol. Keduanya berada dijalur adil, walaupun tingkatannya berbeda-beda. Yang satu baru melangkah sudah mengaku adil, sedangkan yang lainnya, harus melakukan keber-upaya-an yang sungguh-sungguh terlebih dahulu. Demikian sifat manusia, apa yang ia telah lakukan diangggapnya telah berlaku adil. Bagi manusia, adil menjadi sangat relative, bisa jadi yang satu menganggap adil, sedangkan yang yang lain menolak. Oleh karenanya sulit bagi seorang pemimpin untuk berlaku adil, padahal adil adalah syarat utamanya. Seorang salik menuturkan bahwa sudah banyak buku ditulis oleh profesor tentang keadilan, namun yang satu dengan yang lain tampak berbantahan. Seorang keturunan dari India, Amartya Sen, mendapatkan hadiah nobel lantaran memberikan gambaran tentang teori keadilan. Pada awalnya keadilan itu dinilai sebagai keadilan mendapatkan peluang (equal opportunity), kenyataannya peluang yang sama bermuara pada penghasilan yang berbeda, karena kemampuan manusia berbeda-beda. Lalu muncul teori keadilan pendapatan (equal income), kenyataannya pendapatan yang sama berujung pada kekayaan yang tidak sama, karena kebutuhan manusia berbeda-beda. Lalu muncul teori keadilan kekayaan (equal wealthiness), kenyataannya kekayaan yang sama berujung pada kebahagiaan yang tidak sama, karena materi ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Teori tahapan keadilan bagi kaum intelektualitas ini bagus, walaupun pada akhirnya berujung pada kesalahan yang mendasar, yakni, 'kebahagiaan' sebagai ujung keadilan, sedangkan dalam ilmu kesufian 'kebahagiaan' atau 'suka cita' atau 'uns' dalam istilah tasawufnya, merupakan awal perjalanan, karena merupakan sebuah rasa yang masih bisa berubah-rubah dan belum menetap (tamkin). Uns (suka cita) kedudukannya diatas basth (kelapangan), dan basth diatas raja (harap). Teori 'kebahagiaan' sebagai akibat dari materi, ini mustahil, karena materi justru mendatangkan kesulitan, ketamakan dan kesombongan serta menjauhkannya dari Tuhan. Orang yang jauh dari Tuhan mustahil ada setitik kebahagiaan pada dirinya. Didalam al Qur'an ada beberapa kisah yang menuturkan bahwa orang-orang yang kaya itu menjadi sesat, yakni qorun dan fir'aun, sedangkan orang yang kaya namun shaleh hanyalah seorang nabi, yakni Nabiyullah Sulaiman,as. Seseorang bisa mengambil pelajaran disini, betapa kekayaan itu menjerat jiwa untuk berbuat sewenang-wenang, kecuali bagi orang yang ruh, jiwa, hati dan badannya dicipta dari lempung kenabian. Orang yang fakir, selamanya akan membutuhkan Tuhan, sedangkan orang yang banyak materi keduniawian, meskipun ia setiap saat berpikir membagikan hartanya kepada kaum miskin, menjadikan jauh dari tuhannya, karena ia sibuk dengan makhluk dan rencana-rencananya, keduanya merupakan dzikir dunia bukan dzikrullah, dan merupakan hijab-hijab sejati. Karena yang pertama sibuk dengan selainnya sedangkan yang kedua sibuk dengan Tuhannya. Para syaikh sufi sepakat, justru jalan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati adalah berpaling dari 'kekayaan materi'. Karena orang yang bergantung kepada Tuhannya, tidak mungkin bergantung kepada selainnya. Sedangkan kekayaan adalah kendali syaithon yang utama selain wanita, guna menjerumuskan manusia kejurang kedzaliman yang paling dalam. Khususnya materi yang membuat orang bergantung kepadanya.
Adil adalah salah satu asma-Nya, sifat daripada Dzat-Nya, artinya Dia yang adil, dan Dialah yang selalu bentindak adil. Dan karena Allah itu Qadim, maka Dia tidak terbatas, karena Dia tidak terbatas maka demikian pula sifat-sifat-Nya. Nah, karena adil tidak terbatas, maka tak satupun manusia dapat berlaku adil, sebab manusia dicipta terbatas, sehingga keadilannya pun terbatas, sesuai dengan sifat dzatnya. Semakin besar pengakuan terhadap keadilannya atas apa yang telah ia lakukan, maka semakin besar pula kebohongannya, semakin besar egonya dan semakin jauh ia dari Tuhannya. Oleh karenanya, bila engkau sebagai seorang pemimpin ditanya, sudah adilkah engkau? Maka sebaiknya diam, Bila dijawab 'ya' engkau telah berbohong, dan jika dijawab 'tidak' engkau seorang pemimpin dan syarat untuk menjadi pemimpin adalah 'adil'.
Seorang sufi mengatakan bahwa adil itu meletakkan setiap sesuatu pada tempatnya, dan yang mempunyai kemampuan melakukan ini hanyalah Allah saja. Sebagai contoh Allah telah menciptakan alam semesta sedemikian luasnya dan mengaturnya dengan sempurna, bumi ditempatkan yang paling bawah, diatasnya ada air, diatas air ada udara dan langit diatas udara. Dan jika salah satu susunannya terbalik, maka tatanannya tidak dapat dipertahankan. Lalu kita lihat pada diri manusia, ada tulang, daging dan kulit. Dia menciptakan tulang sebagai penopang, daging sebagai pembukusnya untuk melindungi tulang dan kulit yang membukus daging. Jika tatanan ini dibalik, maka susunannya tidak dapat dipertahankan. Demikian pula penempatan jawarih pada diri manusia, yakni, mata, hidung, telinga, mulut, tangan dan kaki. Dengan menempatkan anggota tubuh dengan tepat, maka Dia itu adil. Pendeknya tidak ada yang diciptakan kecuali ditempat yang memang dimaksudkan untuk apa yang diciptakan itu. Tidak bisa dibayangkan bila, hidung ditempatkan didahi dan mulut dibelakang kepala, maka kecacatannya itu akan mengurangi kemanfaatanya. Maka segala sesuatu ciptaan-Nya tidak ada yang tidak seimbang, oleh sebab itu ada kelompok yang menggambarkan keadilan itu dengan lambang timbangan, mungkin ini yang mereka maksud.
Apakah keadilan itu harus memberikan manfaat kepada pihak lain? Jawabnya tidak! Karena bila buku-buku diberikan kepada tentara atau senjata kepada para ulama, maka ia telah meletakkan segala sesuatunya bukan pada tempatnya, dan ini bukanlah keadilan melainkan kedzaliman. Sebaliknya, bisa jadi memberikan kemudaratan merupakan keadilan, seperti memberi hukuman mati kepada penjahat, atau memotong salah satu anggota tubuh mereka atau dengan mencambuk mereka. Karena ia telah menempatkan mereka pada tempatnya yang tepat.
Tingkat tertinggi keadilan bagi manusia, bila susunan yang halus (lathif) pada diri manusia sudah berada ditempat sebagaimana ia harus berada, yakni, jiwa (nafs) dibawah bimbingan akal (aql), sehingga syahwatnya (tabiat) tidak lagi beringas dan tidak ditaati lagi oleh jiwanya (nafsnya), serta ruhnya tidak kuatir lagi akan pemberontakan oleh jiwanya (nafsnya), sehingga pada akhirnya iderawi manusia bergerak sesuai dengan ketentuan hukum agama. Susunan yang demikian bisa diupayakan, dengan melakukan dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah secara berkesinambungan dan wajib hukumnya dibawah bimbingan seorang mursyid. Seseorang yang tenggelam didalam dzikir-dzikirnya ia akan menyerap sifat-sifat Tuhan, sifat-sifat manusia menjadi sirna dan tergantikan dengan sifat-sifat-Nya. Nah, bila sudah demikian, adil berada di genggamannya. Seseorang yang mempunyai kedudukan yang demikian sudah tidak mau lagi menjadi pemimpin bangsa, kecuali bagi dirinya dan murid-muridnya saja. Karena baginya, kegembiraannya terletak pada memimpin manusia berdekat kepada pencipta-Nya. Jadi untuk para pemimpin bangsa ini bila ingin berlaku adil, seringlah mengunjungi para guru mursyid, datangi mereka dan pasanglah rasa takzim. Jangan banyak bicara dihadapannya dan jangan pernah mengundang untuk datang ke istana negara, karena, kalau ia benar-benar sorang mursyid pastilah ditolaknya, tetapi datanglah ke rubatnya yang sederhana itu, karena rumah Tuhan yang hakiki berada disana, bersama-sama dengan para guru mursyid. Dan keadilan ada pada khazanah hatinya, datang .. datanglah.
Tampilkan postingan dengan label raja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label raja. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 September 2009
Senin, 15 Juni 2009
NADAM
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.
Pengajian tanggal 4-5 & 12 Juni 2009.
Di dunia bisnis, ada istilah-istilah yang hanya dimengerti oleh kalangan mereka yang menggelutinya. Begitu pula didalam tasawuf banyak istilah-istilah khusus yang dipergunakan untuk mengungkapkan keadaan ruhani masing-masing pejalan yang bersumber dari al Qur’an dan al Hadits agar mudah dipahami oleh kelompoknya dan rahasia-rahasia mereka tidak diketahui oleh orang lain. Seperti pengajian tentang ‘nadam’ yang akan diuraikan dibawah ini, bersumber dari kitab tasawuf tua (386H) yang berjudul Qutul Qulub karya Syaikh Abu Thalib al-Makki,ra. Yang telah disampaikan terjemahan bebasnya secara apik oleh Ustadz Yordanis Salam, lalu Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menjabarkannya dengan gamblang dan mudah dimengerti, laksana raja menuangkan anggur pengetahuan kedalam cawan para hamba sahaya yang hadir, sehingga dahaga akan ilmu pengetahuan terpenuhi pada malam itu. Namun rasa tenang dan sejuk saat masuk kedalam kholaqoh dzikir, lama kelamaan lenyap tatkala meninggalkan rubat, tatkala makan dan minum, ketika perhatiannya telah berpaling kepada yang lain selain Allah, begitu pula daya ingat atas ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Maka, sehubungan dengan itu, kami, insya Allah menuangkannya kedalam bentuk tulisan, agar para sahabat mudah mengingatnya, agar para sahabat yang tidak mengikuti pengajian dapat mengetahui dan mudah mencernanya. Meskipun wejangan dari Syaikhuna berlangsung sekitar 30 menit, didalamnya terkandung samudera ilmu pengetahuan yang tidak bertepi, yang bilamana diurai akan menjadi sebuah kitab tersendiri.
Nadam adalah penyesalan, dan menyesali kesalahan merupakan suatu taubat, begitulah Sabda baginda Rasulullah,saw. Tidak semua manusia lantas menyesal setelah ia melakukan tindakan tercela (dosa), bahkan ada yang merasa senang dan ingin mengulanginya lagi, yang demikian karena Allah SWT telah mengunci mati hati orang itu. Penyesalan adalah sebuah ‘rasa’ yang hinggap didalam hati, yang datang dan pergi atas sekehendak Allah SWT. Namun demikian, para Syaikh sufi meyakini bahwa rasa sesal niscaya dapat diupayakan dengan jalan melakukan perenungan (kontemplasi) dan muhasabah, Hadrat Syaikh Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi,qs., menyebutnya wuquf zamani, yakni memeriksa waktu yang telah lampau apakah waktunya dihabiskan untuk bersama dengan nafs-nya atau bersama dengan Tuhannya, diawali dari waktu yang panjang lalu semakin diperketat menjadi lebih pendek, dari setiap hari menjadi setiap jam, dan dari setiap jam menjadi setiap menit, lama kelamaan lebur didalamnya. Oleh sebab itu, penyesalan pada awalnya adalah ‘perolehan’ dan pada akhirnya adalah ‘anugerah’, perolehan disebabkan oleh sebuah upaya sedangkan ‘anugerah’ tanpa upaya. Bisa jadi, seseorang tidak menganggap tindakannya tercela bila ia lupa berdzikir, namun tidak demikian bagi orang lain, karena hal itu merupakan kealpaan. Demikian pula, bagi seseorang yang merasa mampu telah melakukan sholat malam empat puluh hari berturut-turut bukanlah merupakan tindakan yang tercela, namun sebagian yang lain menganggapnya tercela, karena adanya pengakuan atas kehebatan dirinya. Akan tetapi semua sepakat bahwa meninggalkan hal-hal yang fardu adalah tindakan yang tercela. Nah, perbedaan pandangan ini disebabkan oleh kadar ilmu yang berbeda-beda, keadaan ruhaniyah yang berjenjang-jenjang, dan tingkat makrifat yang berlainan pula. Oleh karenanya ilmu sangat berperan didalam ‘memperoleh’ daya sesal yang besar dan berkepanjangan, sehingga pertaubatannya terus-menerus dengan qualitas yang tinggi.
Taubat adalah daya sesal yang diikuti oleh datangnya kesadaran akan dosa yang telah ia lakukan dan ketakutannya (khauf) atas siksa atau hukuman dari Allah SWT, lalu datanglah sebuah harapan (raja) akan pengampunan dari Allah SWT, seketika ia mohon ampunan kepada Allah SWT dan berniat serta berusaha dengan sekuat tenaganya untuk tidak kembali melakukan perbuatan itu lagi serta terus menerus melakukan tindakan amal sholeh. Sedangkan apabila seseorang merasakan daya sesal yang tinggi atas kealpaannya melakukan peribadatan-peribadatan sunah, yang disertai dengan kesadaran akan lepasnya kedekatan dengan Allah SWT maka keadaan ini disebut inabah. Sedangkan apabila daya sesal berdatang akibat dari kesadaran atas pengakuan terhadap perbuatan baiknya sendiri, sehingga rasa keterpisahan dengan-Nya mengusik hatinya, maka keadaan ini disebut awwab. Taubat adalah bagi orang awam, inabah bagi orang khawas dan awwab bagi orang khawasul khawas.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata didalam kholaqoh dzikir : ‘Alhamdulillah wa syukru ala ni’amillah, Allah turunkan rahmat berupa hujan, hujan yang menyegarkan segala makhluk yang memerlukannya, Alhamdulillah kita sampai juga di kholaqoh dzikir ini, Allah telah memberikan kesempatan untuk menyembah dan menyebut-nyebut nama-Nya serta dibukakannya pintu taubat. Apabila kita tidak bersyukur atas hidayah ini, maka itu termasuk dosa.’ Dosa ada yang berupa terang-terangan dan ada pula yang sirri (halus atau tersembunyi). Bahkan ada dosa yang di gemari manusia, ada yang memang tertarik berbuat dosa, ada dosa yang tidak disengaja lalu kemudian tersadarkan, ada dosa yang memang sudah diketahui tetapi tidak mampu menahannya lalu terlepas, ini termasuk dosa-dosa yang jelas dilakukan, jenis dosa-dosa yang menyenangkan jawarih atau inderawi. Sedangkan dosa-dosa yang tidak diketahui, disebut dosa-dosa sirri dan terlalu banyak jenis dosa sirri ini, namun manusia awam tidak akan menyadarinya, karena membutuhkan keadaan ruhani yang tinggi untuk dapat mengetahuinya. Dari kitab Tadkhirat al-Auliya karya Syaikh. Fariduddin Aththar,ra. Mengisahkan : ‘Seorang lelaki bangkit dan mulai mengemis di majlis Imam Junaid,ra. ‘Lelaki itu benar-benar sehat, seharusnya ia mampu bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya, namun mengapa ia mengemis dan menghinakan dirinya sendiri?’ Pikir Imam Junaid,ra. Malam itu beliau bermimpi, dihadapannya ada hidangan yang tertutup. ‘Makanlah’ beliau ditawari, saat dibuka tutup hidangan itu, dilihatnya pengemis tadi, terbaring mati diwadah itu, ‘Aku tidak makan daging manusia’ protesnya. ‘Lalu mengapa engkau berbuat demikian di mesjid kemarin?’ beliau ditanya. Imam Junaid,ra., akhirnya sadar bahwa ia bersalah karena telah menghujat dalam hatinya, da ia telah ditegur karena pikiran buruknya itu. Lalu beliau terjaga dan mengambil wudhu serta mendirikan sholat sunah dua rakaat, kemudian beliau pergi mencari pengemis tadi, dan dijumpainya di tepi sungai tigris, sedang memunguti sisa sayuran yang sedang dicuci oleh orang-orang disana dan ia pun memakannya. Pengemis itu mengangkat kepalanya dan berkata kepada Imam Junaid,ra., : ‘Wahai Junaid, apakah engkau telah bertaubat atas pikiran-pikiranmu mengenaiku?’ Beliau menjawab : ‘Ya, aku telah bertaubat.’ Kalau begitu pergilah, ‘Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambanya, kali ini jagalah pikiran-pikiranmu.’ Kisah ini memperlihatkan bahwa dosa sirri sangat sulit dikenali, kecuali bagi orang-orang yang dijaga dari noda oleh Allah SWT.
Nadam adalah penyesalan, dan menyesali kesalahan merupakan suatu taubat, begitulah Sabda baginda Rasulullah,saw. Tidak semua manusia lantas menyesal setelah ia melakukan tindakan tercela (dosa), bahkan ada yang merasa senang dan ingin mengulanginya lagi, yang demikian karena Allah SWT telah mengunci mati hati orang itu. Penyesalan adalah sebuah ‘rasa’ yang hinggap didalam hati, yang datang dan pergi atas sekehendak Allah SWT. Namun demikian, para Syaikh sufi meyakini bahwa rasa sesal niscaya dapat diupayakan dengan jalan melakukan perenungan (kontemplasi) dan muhasabah, Hadrat Syaikh Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi,qs., menyebutnya wuquf zamani, yakni memeriksa waktu yang telah lampau apakah waktunya dihabiskan untuk bersama dengan nafs-nya atau bersama dengan Tuhannya, diawali dari waktu yang panjang lalu semakin diperketat menjadi lebih pendek, dari setiap hari menjadi setiap jam, dan dari setiap jam menjadi setiap menit, lama kelamaan lebur didalamnya. Oleh sebab itu, penyesalan pada awalnya adalah ‘perolehan’ dan pada akhirnya adalah ‘anugerah’, perolehan disebabkan oleh sebuah upaya sedangkan ‘anugerah’ tanpa upaya. Bisa jadi, seseorang tidak menganggap tindakannya tercela bila ia lupa berdzikir, namun tidak demikian bagi orang lain, karena hal itu merupakan kealpaan. Demikian pula, bagi seseorang yang merasa mampu telah melakukan sholat malam empat puluh hari berturut-turut bukanlah merupakan tindakan yang tercela, namun sebagian yang lain menganggapnya tercela, karena adanya pengakuan atas kehebatan dirinya. Akan tetapi semua sepakat bahwa meninggalkan hal-hal yang fardu adalah tindakan yang tercela. Nah, perbedaan pandangan ini disebabkan oleh kadar ilmu yang berbeda-beda, keadaan ruhaniyah yang berjenjang-jenjang, dan tingkat makrifat yang berlainan pula. Oleh karenanya ilmu sangat berperan didalam ‘memperoleh’ daya sesal yang besar dan berkepanjangan, sehingga pertaubatannya terus-menerus dengan qualitas yang tinggi.
Taubat adalah daya sesal yang diikuti oleh datangnya kesadaran akan dosa yang telah ia lakukan dan ketakutannya (khauf) atas siksa atau hukuman dari Allah SWT, lalu datanglah sebuah harapan (raja) akan pengampunan dari Allah SWT, seketika ia mohon ampunan kepada Allah SWT dan berniat serta berusaha dengan sekuat tenaganya untuk tidak kembali melakukan perbuatan itu lagi serta terus menerus melakukan tindakan amal sholeh. Sedangkan apabila seseorang merasakan daya sesal yang tinggi atas kealpaannya melakukan peribadatan-peribadatan sunah, yang disertai dengan kesadaran akan lepasnya kedekatan dengan Allah SWT maka keadaan ini disebut inabah. Sedangkan apabila daya sesal berdatang akibat dari kesadaran atas pengakuan terhadap perbuatan baiknya sendiri, sehingga rasa keterpisahan dengan-Nya mengusik hatinya, maka keadaan ini disebut awwab. Taubat adalah bagi orang awam, inabah bagi orang khawas dan awwab bagi orang khawasul khawas.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata didalam kholaqoh dzikir : ‘Alhamdulillah wa syukru ala ni’amillah, Allah turunkan rahmat berupa hujan, hujan yang menyegarkan segala makhluk yang memerlukannya, Alhamdulillah kita sampai juga di kholaqoh dzikir ini, Allah telah memberikan kesempatan untuk menyembah dan menyebut-nyebut nama-Nya serta dibukakannya pintu taubat. Apabila kita tidak bersyukur atas hidayah ini, maka itu termasuk dosa.’ Dosa ada yang berupa terang-terangan dan ada pula yang sirri (halus atau tersembunyi). Bahkan ada dosa yang di gemari manusia, ada yang memang tertarik berbuat dosa, ada dosa yang tidak disengaja lalu kemudian tersadarkan, ada dosa yang memang sudah diketahui tetapi tidak mampu menahannya lalu terlepas, ini termasuk dosa-dosa yang jelas dilakukan, jenis dosa-dosa yang menyenangkan jawarih atau inderawi. Sedangkan dosa-dosa yang tidak diketahui, disebut dosa-dosa sirri dan terlalu banyak jenis dosa sirri ini, namun manusia awam tidak akan menyadarinya, karena membutuhkan keadaan ruhani yang tinggi untuk dapat mengetahuinya. Dari kitab Tadkhirat al-Auliya karya Syaikh. Fariduddin Aththar,ra. Mengisahkan : ‘Seorang lelaki bangkit dan mulai mengemis di majlis Imam Junaid,ra. ‘Lelaki itu benar-benar sehat, seharusnya ia mampu bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya, namun mengapa ia mengemis dan menghinakan dirinya sendiri?’ Pikir Imam Junaid,ra. Malam itu beliau bermimpi, dihadapannya ada hidangan yang tertutup. ‘Makanlah’ beliau ditawari, saat dibuka tutup hidangan itu, dilihatnya pengemis tadi, terbaring mati diwadah itu, ‘Aku tidak makan daging manusia’ protesnya. ‘Lalu mengapa engkau berbuat demikian di mesjid kemarin?’ beliau ditanya. Imam Junaid,ra., akhirnya sadar bahwa ia bersalah karena telah menghujat dalam hatinya, da ia telah ditegur karena pikiran buruknya itu. Lalu beliau terjaga dan mengambil wudhu serta mendirikan sholat sunah dua rakaat, kemudian beliau pergi mencari pengemis tadi, dan dijumpainya di tepi sungai tigris, sedang memunguti sisa sayuran yang sedang dicuci oleh orang-orang disana dan ia pun memakannya. Pengemis itu mengangkat kepalanya dan berkata kepada Imam Junaid,ra., : ‘Wahai Junaid, apakah engkau telah bertaubat atas pikiran-pikiranmu mengenaiku?’ Beliau menjawab : ‘Ya, aku telah bertaubat.’ Kalau begitu pergilah, ‘Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambanya, kali ini jagalah pikiran-pikiranmu.’ Kisah ini memperlihatkan bahwa dosa sirri sangat sulit dikenali, kecuali bagi orang-orang yang dijaga dari noda oleh Allah SWT.
Baik dosa yang secara terang-terangan maupun dosa sirri, keduanya menggelapkan hati, yang berakibat datangnya kegundahan-kegundahan, dan menjadikan berbagai penghalang didalam kehidupan. Karena selain dosa itu dicatat oleh malaikat, juga tercatat dialam semesta ini dan menghadang sipembuatnya, kadang-kadang berupa was-was, bimbang, rasa tidak kepastian dimasa depan, dan lain-lain yang tidak mengenakkan hati. Obatnya adalah harus istiqomah dalam melakukan perbuatan baik, karena perbuatan baik akan mengganti kejahatan yang telah dilakukan, lahir maupun batin. Perbuatan baik yang berkualitas adalah yang dilakukan secara sirri, tidak ada yang mengetahui selain Allah SWT, yang paling mudah adalah berdoa, yakni mendoakan orang-orang yang sering berbuat jahat kepada diri kita. Yang kedua adalah gemar bershodaqoh, memberi makan anak yatim, menyekolahkan dan menggembirakan hatinya. Kisah, di Bagdad ada seorang janda yang mempunyai beberapa anak (yatim), sering mendapatkan sekarung gandum didepan rumahnya, sekian lama tidak diketahui siapa yang melakukannya. Setelah Imam Ali Zaenal Abidin,ra., cicit Rasulullah,saw., wafat, tidak ada lagi gandum didepan rumah janda tadi. Barulah si janda menyadari dan mengetahuinya bahwa Imam Ali,ra., yang selama ini melakukannya. Ketiga banyak berpuasa, karena puasa akan mensucikan seseorang, Allah SWT berfirman : ‘Al shawm li wa-ana ajza bihi, puasa adalah milik-Ku, dan Aku yang paling berhak memberikan ganjaran untuknya.’ Maksudnya adalah, bahwa puasa yang berkualitas adalah puasa dari segala sesuatu selain Allah SWT, dipuasakan perhatian lahir dan batinnya dari yang lain dan hanya ditujukkan bagi Allah SWT. Barulah ganjaran puasanya tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali hanya Allah SWT. Keempat terus menerus dalam keadaan berdzikir dan kelima membawa daya harap yang tinggi menurut kadarnya dan terus memohon ampunan kepada Allah SWT.
Nadam, sesuai dengan namanya, bila tanpa huruf ‘Nun’ maka akan dibaca ‘Adam’, maka pemilik daya sesal yang pertama kali dengan kualitas yang sangat tinggi adalah Nabiyullah Adam,as., daya sesal atau rasa bersalah kepada Alah SWT inilah yang mendorongnya melakukan tindakan-tindakan yang terpuji dan amal sholeh, sebagai bukti pertaubatannya guna memperoleh pengampunan-Nya, Allah SWT telah berfirman sehubungan dengan hal ini : ‘Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.’ (QS 2 : 37) Oleh karenanya Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Taubat itu datangnya dari Allah SWT.’ Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah,saw., bersabda : ‘Orang yang bertobat dari dosa seperti orang tidak berdosa dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya.’
Langganan:
Postingan (Atom)
