Rabu, 15 Mei 2013

SYARIAT DAN HAKIKAT

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Sebuah riwayat mengatakan bahwa Abdul 'Aziz bin Abdullah,ra., berkata, telah menceritakan kepadaku Sulaiman,ra., dari 'Amru bin Abu 'Amru,ra., dari Sa'id Al Maqburi,ra., dari Abu Hurairah,ra., bertanya : ‘Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari kiamat?’ Rasulullah Saw., menjawab: ‘Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.’

Seorang salik dengan nada merendahkan, berkata : ‘Itukan pengajian syariat ...’, ia merasa lebih baik karena telah mengikuti pengajian tarekat. Perasaan yang demikian ini umum terjadi dikalangan para pejalan awal yang belum mumpuni. Rasa bangga yang berlebihan mengikuti pengajian tarekat merusak inti daripada ajarannya itu sendiri. Faktanya banyak yang belum mencapai hakikat tetapi bicaranya seolah-olah sudah merasakannya. Bila ia terpojok dari sebuah pembicaraan dan tidak dapat mengemukakan sebuah hadist, ia akan berkata ‘ini kan sebuah hakikat .....’. Pandangan yang seperti ini harus diluruskan, karena hakikat adalah bagian dari syariat. Syariat terdiri dari tiga bagian yang tidak dapat dipisahkan yaitu pengetahuan, tindakan dan keikhlasan atau bahasa lainnya iman, amal dan intuisi (perasaan). Sebelum ketiga hal tersebut terangkai dengan benar maka seseorang belum dikatakan bersyariat. Tidak mungkin pengetahuan tanpa tindakan akan memperoleh keikhlasan, demikian pula mustahil tindakan tanpa pengetahuan akan memperoleh keikhlasan. Keikhlasan adalah tujuan, melalui tindakan dengan berbekal pengetahuan. Oleh karena itu syariah meraup segala kebaikan di dunia dan akhirat, serta tidak ada lagi yang tercecer, sehingga seseorang harus mencari diluar syariat. Apabila seseorang patuh terhadap syariat, niscaya akan memperoleh perkenan Allah SWT.

Pengetahuan dan tindakan dapat dilakukan oleh kebanyakan orang, tetapi untuk ikhlas tidaklah mudah. Karena ikhlash melibatkan penafian terhadap manusia dan pengisbatan terhadap Allah saja pada setiap tindakan, sehingga terbebas dari riya. Secara etimologi, Ikhlas artinya membersihkan (bersih, jernih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi ataupun immateri). Imam Al Ghazali,ra., berkata : 'Setiap manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal (dengan ilmunya), dan orang yang beramal juga binasa kecuali yang ikhlas (dalam amalnya). Akan tetapi, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal.' Karena sulitnya memperoleh ikhlas yang merupakan perbuatan batin, maka sebagian ulama terdahulu menyusun sebuah metodologi untuk meraihnya. Inti daripada metodologi ini adalah penyucian diri dari noda dunia, agar hatinya bersih dan bercahaya, dengan cara-cara yang unik yang bersumber dari Al Qur’an dan al Hadist, yang pada gilirannya akan meraih keikhlasan dari setiap tindakannya. Metodologi yang dimaksud disini oleh kaum sufi diberi nama ‘tarekat’. Akan terlihat pada awalnya ikhlas diupayakan untuk teraih dengan menjalankan praktik metodologi ini dengan benar, akan tetapi pada akhirnya iklhas akan dirasakan secara spontan. Dalam istilah tasawuf upaya untuk memperoleh ikhlas disebut ‘maqom’ sedangkan secara spontan keikhlasannya adalah maqom yang tidak bergerak lagi atau disebut tamkin dan perasaan yang hadir pada setiap pergerakan maqom ini disebut hal. Syaikh Waasi’Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menyebutnya sebagai kejelasan-kejelasan atau hakikat.

Selagi kerajaan manusia dikuasi oleh jiwanya, maka seluruh jawarihnya (panca indranya)akan patuh terhadap perintahnya, yang menurut Al Qur’an selalu mengajak kepada kejahatan atau disebut sebagai nafsul Immarah. Jiwa yang demikian jauh dari keikhlasan. Untuk mempengaruhi jiwa yang sudah demikian ini agar menjadi baik, adalah dengan jalan bersungguh-sungguh menjalankan praktik-praktik metodologi tadi atau dalam bahasa tasawufnya disebut sebagai riyadhah dan mujahadah, yang diantaranya adalah puasa, dzikir yang banyak dan muroqobah (meditasi), atau mengikuti rangkaian peribadatan yang ketat yang disebut khalwat selama 10, 20 dan 40 hari. Muroqobah (meditasi) sangat jitu untuk meraih keikhlasan karena muroqobah adalah membiasakan diri selalu dalam kebersamaan dan pengawasan Allah SWT. Tanpanya, mustahil seseorang akan memperoleh keikhlasan. Nah, peribadatan yang berupa muroqobah ini hanya akan ditemui didalam pengajian tarekat saja. Pengalaman-pengalaman batin dalam perjalan bukanlah tujuan, melainkan merupakan sebuah kebahagiaan saja. Tujuannya adalah beroleh keikhlasan dalam setiap tindakan hanya untuk Allah semata, yang pada akhirnya keridhaan Allah akan diraihnya.

Dari keterangan diatas memperjelas hubungan antara syariat dengan hakikat, yang menurut Imam Robbani,qs., dan Imam Qusyairi,ra., bahwa tidak ada beda atara syariat dan hakekat kecuali terletak pada prinsip dan penjabarannya, antara gabah dengan berasnya, antara kulit dengan intinya. Syaikh Bahauddin Syah Naqsyabandi,qs., pernah ditanya : ‘Apakah tujuan daripada muroqobah dan suluk atau khalwat?’ Beliau menjawab : ‘Tujuannya adalah agar kalian mengetahui secara rinci apa yang telah kalian ketahui sebagai esensinya, dan melihat dengan kasyaf terhadap apa yang kalian ketahui melalui nalar.’ Demikian juga Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa : ‘Dengan banyak mendawamkan Dzikir dan Ubudiyah, seseorang akan memperoleh kejelasan-kejelasan.’ Yang dimaksud yang mulia Syaikhuna tentang kejelasan-kejelasan tidak lain adalah hakikat itu sendiri. Sehingga mengkonfirmasi bahwa syariat dan hakikat adalah sebuah kesatuan bangunan yang kokoh.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering mengutip ayat Al Qur’an : ‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.’ (QS 029 : 69) Berjuang untuk mencari keridhaan Tuhan adalah riyadhah dan mujahadah (hukum), sedangkan petunjuk adalah kebenaran. Yang pertama terletak kepada dilaksanakannya oleh manusia peraturan-peraturan (hukum) dalam bertarekat secara ketat, sedangkan yang terakhir terletak kepada dijaganya oleh Tuhan perasaan-perasaan ruhaniah manusia. Karena itu riyadhah dan mujahadah (hukum) adalah salah satu tindakan yang diupayakan oleh manusia sedangkan kebenaran adalah salah satu anugerah yang dilimpahkan oleh Tuhan kepada manusia. Nah, jika ikhlas adalah maqom maka tidak ada bedanya antara syariat dan hakekat, karena keduanya adalah tindak upaya manusia, tetapi jika ikhlas adalah sebuah hal, maka jelas bahwa syariat sebagaimana sebuah badan dan hakikat adalah ruh, karena ikhlas dalam hal ini adalah tindakan Tuhan.

Jika syariah hukumnya wajib yang didalam kesempurnaannya harus merangkai ketiga hal, yakni pengetahuan, tindakan dan ikhlas. Sedangkan untuk mencapai keikhlasan tidak mungkin dapat dicapai kecuali melalui pengajian tarekat, maka kita dapat menyimpulkan kedudukan tarekat bagi yang berniat memurnikan syariat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.