<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230</id><updated>2011-09-21T22:13:18.105-07:00</updated><category term='halal'/><category term='lathifatul akhfa'/><category term='sifat-sifat'/><category term='lathifatul ruh'/><category term='lathifatul sirri'/><category term='isra'/><category term='Anas Bin Malik'/><category term='Hasan al Basri'/><category term='pelayan'/><category term='Imam Nuri'/><category term='suluk'/><category term='qs.'/><category term='muroqobah'/><category term='Naqsyabandiyah Qodiriyah'/><category term='khauf'/><category term='melupakan dosa'/><category term='jiwa'/><category term='puasa'/><category term='af&apos;al'/><category term='iraq'/><category term='takdir'/><category term='qolbu'/><category term='bushiri'/><category term='Abu Dzar al Ghiffari'/><category term='madinah'/><category term='haram'/><category term='darvish'/><category term='jam'/><category term='jubah'/><category term='lailatul qadar'/><category term='wuquf zamani'/><category term='Nabiyullah sulaiman'/><category term='al uns'/><category term='tasawuf'/><category term='keinginan'/><category term='konya'/><category term='susu'/><category term='hal'/><category term='subhat'/><category term='Imam Junayd'/><category term='Fudhail bin Iyad'/><category term='mi&apos;raj&apos;'/><category term='sadziliyah'/><category term='kehendak'/><category term='ra.'/><category term='buraq'/><category term='hidayat'/><category term='tawfiq'/><category term='lathifatul qolbi'/><category term='Imam Sibly'/><category term='sorban'/><category term='Ubay bin Ka&apos;ab'/><category term='Sary as-Saqoti'/><category term='tafriqah'/><category term='makrifat'/><category term='fana'/><category term='asaf'/><category term='burdah'/><category term='ibrahim bin adham'/><category term='mimpi'/><category term='bilqis'/><category term='wara'/><category term='basth'/><category term='sufi'/><category term='mursyid'/><category term='zuhud'/><category term='salik'/><category term='naqsyabandiyah'/><category term='lathifatul khofi'/><category term='ka&apos;ab'/><category term='hati'/><category term='rum'/><category term='fudhayl bin Iyad'/><category term='lathifatul kullu jasad'/><category term='lathifatul nafsun natiqo'/><category term='jibril'/><category term='tha&apos;at'/><category term='Adam'/><category term='hubbud dunya'/><category term='khalwat'/><category term='istidraj'/><category term='musyahadat'/><category term='taubat'/><category term='islam'/><category term='mengingat dosa'/><category term='keajaiban'/><category term='nisfu sya&apos;ban'/><category term='ruh'/><category term='tarekat'/><category term='diam'/><category term='sabar'/><category term='uways al qurni'/><category term='qodiriyah'/><category term='ifrit'/><category term='dzikir'/><category term='muhasabah'/><category term='qorun'/><category term='bicara'/><category term='Umar bin Khatab'/><category term='fir&apos;aun'/><category term='uns'/><category term='Ibnu Mas&apos;ud'/><category term='khirqoh'/><category term='mujahadat'/><category term='amartya sen'/><category term='maqom'/><category term='raja'/><category term='Harun al Rasyid'/><category term='Hasan Basri'/><category term='gamis'/><title type='text'>TASAWUF</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>67</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-8199227183588093963</id><published>2011-09-17T00:40:00.000-07:00</published><updated>2011-09-21T22:13:18.206-07:00</updated><title type='text'>KUPU-KUPU PUN RINDU</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu adalah akibat cinta, akankah terpuaskan dan sirna rasa rindu manakala berjumpa dengan yang dicinta? Ketahuilah, bahwa yang demikian itu adalah rindunya nafs, bukan rindunya qalbu. Tanda rindunya nafs adalah mencintai seseorang dari keindahan keadaan lahir, bukan karena  ketinggian dan kecantikan batin, dan bukan dari hasil melakukan riyadhah dan mujahadah, melainkan dari dorongan syahwat. Rindunya nafs adalah milik orang awam, sedangkan rindunya qalbu adalah milik para mutashowif, ia tidak akan pernah puas meneguk segelas air lautan, melainkan sebanyak-banyaknya, bahkan ia ingin tenggelam didalamnya, rasa rindunya pun tidak sirna tatkala berjumpa dengan yang dicinta, bahkan ia akan menetap bersamanya. Oleh sebab itu, para murid yang berada pada tahapan rindunya nafs, akan terpuaskan manakala kebutuhan jawarihnya terpenuhi, seperti berbicara melalui telepon atau membaca sms atau bbm kepada yang dicinta. Sehingga api rindu cepat padam, bias kerinduan menghilang, akibatnya kupu-kupu pun hanya terbang kesana dan kemari, tanpa menangkap energi yang datang dari bias rasa rindu murid-murid kepada yang dicinta. Keadaan ini sangat berbeda dengan sebelas tahun yang lalu, pada saat itu banyak murid yang tercekik rasa rindu, yang tidak pernah bosan memandang dan merasakan keindahan akhlak, ketinggian kedudukannya, tatapan matanya menjadi hal khusus dan istimewa, bahkan banyak yang rela tidur dekat rubat untuk dapat merasa dekat, menangis dan menangis tatkala rindunya memuncak dan menangis tatkala berjumpa. Kejadian ini persis sebagaimana sahabat-sahabat Nabi,saw., yang mabuk rindu, mereka tinggal dan bediam diserambi rumah Nabi,saw., serambi yang mulia ini dikenal dengan sebutan 'raudhah'. Begitu mendengar rencana Syaikhuna ingin melakukan 'samad', maka serasa dunia runtuh, semua bersedih seakan tiada obat yang dapat mengobati perihnya hati ini, makan tidak enak dan tidur pun tidak nyenyak. Sehingga waktu yang tersisa digunakan sebaik-baiknya untuk dapat selalu berdekat dengan yang dicintainya, khawatir waktu samad akan segera tiba, artinya Syaikhuna akan ‘bermusuhan’ kepada seluruh muridnya, tanpa terkecuali. Oleh karena itu, energi rindu dan keinginan berjumpa begitu tinggi, yang menyebabkan banyak kupu-kupu menangkap energi yang hebat itu, lalu bercengkerama pada garis dari mana energi itu berasal dan menuju sasarannya, terbang dan hinggap di pepohonan sebagai wujud kegembiraan lantaran adanya energi kasih sayang yang tumbuh sedemikian hebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah bercerita bahwa Abah Sepuh,qs., atau Syaikh Abdullah Mubarak,qs., ayah dari Abah Anom,qs., yang tersohor itu, biasa berjalan kaki berhari-hari dari Tasikmalaya menuju Cirebon, hanya untuk bertemu dengan orang yang sangat dicintainya, yakni Syaikh Tholhah,qs. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) juga melakukan hal yang sama jika ingin bertemu dengan Syaikh Nuurunnaum Suryadipraja,qs., harus melalui hutan dan pematang sawah, kadang kala berpayung daun pisang untuk berlindung dari hujan, serta membawa obor yang terbuat dari bambu dan diisi minyak tanah manakala malam tiba. Itulah bukti cinta, yang tidak perduli apakah jauh jaraknya, apakah itu hujan dan panas, apakah itu dimalam hari, ia akan tetap mencari dan mencarinya. Berbanding dengan kondisi pada saat ini sungguh sangat menyedihkan, murid bisa menghilagkan rasa rindunya hanya dengan menggunakan sejenis logam yang diisi dengan berbagai macam chips, yang mereka sebut hp. Lalu kemana mujahadah? Bukankah kualitas amal itu bergantung kepada besaran mujahadah, sebagaimana yang dilakukan oleh para Syaikh terdahulu? Oleh karena itu, seseorang bisa menilai dadanya, apakah ia berada pada rindunya nafs ataukah rindunya qalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga keadaan seperti sebelas tahun lalu dapat terulang kembali. Semoga semua murid merasa bahwa orang yang paling dicintainya akan segera melakukan samad, sehingga rasa rindu selalu memuncak. Nah, bila seseorang beroleh rasa yang demikian, maka kualitas peribadatannya pun akan sempurna. Dilain pihak, kurangilah berbicara kepada Hadrat Syaikhuna menggunakan hp, jangan ber–sms dan ber-bbm, dengarkan petuahnya secara langsung, ambilah cahaya dari sumbernya, minumlah air dari mata airnya, mudah-mudahan yang demikian dapat membangkitkan rasa rindu, sebagaimana yang dirasakan oleh para sahabat yang berada digunung-gunung dan didesa terpencil. Sehingga kupu-kupu pun dengan berbagai macam kecantikannya dapat menangkap kembali bias energi kerinduan yang telah lama sirna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian para sahabat, semoga menjadi renungan bersama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-8199227183588093963?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/8199227183588093963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/09/kupu-kupu-pun-pergi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8199227183588093963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8199227183588093963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/09/kupu-kupu-pun-pergi.html' title='KUPU-KUPU PUN RINDU'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7246258082039669919</id><published>2011-08-29T20:30:00.001-07:00</published><updated>2011-09-16T23:08:45.821-07:00</updated><title type='text'>MAIYAH</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipenghujung bulan suci Ramadhon 1432 H ini, seorang salik bertanya kepada yang lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;: ‘Tulislah tentang muroqobah, agar kami dapat menarik pelajaran darinya.’&lt;/span&gt; Percakapan ini sungguh dalam maknanya, karena pekerjaan muroqobah bukan hal biasa, melainkan pekerjaan khusus bagi para mutashowif. Tentunya yang ditanya adalah hasil dari muroqobah bukan cara melakukannya, karena cara-caranya (kaifiat) tentu sama, namun pemahaman dari hasilnya yang berbeda-beda. Untuk menjawab pertanyaan ini dibutuhkan perumpamaan, sebagaimana Al Qur’an juga demikian dalam menjelaskan hal-hal yang rumit. Karena sejak dahulu, banyak para salik yang bertanya tentang hal yang sama : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Saya sudah wirid Malakandias tetapi tidak terjadi apa-apa.’&lt;/span&gt; Ada juga yang berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku sudah berdzikir lathif dengan menambahkan rasa-rasa, namun tidak merasakan sesuatu pun sebagaimana yang di ajarkan.’&lt;/span&gt; Ternyata yang demikian itu, bukan saja terjadi dan dialami oleh para salik, melainkan dialami dan dirasakan juga oleh ikan-ikan dilautan, mereka selalu bertanya kepada pemimpinnya tentang lautan, tanpa menyadarinya bahwa mereka telah berada didalamnya. Nah, sekarang kita dapat memahami, mengapa Hadrat Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa :&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘Taswuf adalah kesadaran, dan untuk membongkar keasadaran yang tersembunyi didalam diri seseorang, maka ia harus terus menerus mendawamkan dzikir dan ubudiyah.’ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak henti-hentinya, sebagaimana hujan yang turun dari langit. Kasih sayangnya bak seekor kucing yang selalu menjilati anak-anaknya. Airmata kesedihannya sebanyak embun pagi yang menetes dari ujung dedaunan, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) melihat dengan jelas keadaan murid-muridnya, tanpa pandang bulu diperlakukannya semua murid seperti seorang bayi. Diberinya minum susu dari cawan kewalian, agar dikemudian hari menjadi siap meminum anggur dari cawan yang suci. Begitulah kasih sayang seorang Syaikh didalam mendidik murid-muridnya, agar disuatu kelak dapat memahami dan memasuki rahasia-rahasia dzikir dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘muroqobah’&lt;/span&gt;. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata kepada seorang murid : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jarang sekali ada yang bertanya kepadaku tentang hal-hal yang berkenaan dengan dzikir dan muroqobah, kecuali pertanyaan seputar kesempitan dada didalam menghadapi kehidupan di dunia ini.’&lt;/span&gt; Ironis memang, yang mulia Syaikhuna membimbing murid-muridnya cara-cara untuk mencapai puncak gunung, agar beroleh sebuah rasa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘dekat’&lt;/span&gt; dan dengan jelas dapat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘memandang’&lt;/span&gt; matahari, namun yang selalu ditanyakan hanya seputar masalah dunia saja, yakni, rizki, jodoh dan problema rumah tangga. Sehingga murid-murid yang dahaga akan anggur suci pengetahuan tasawuf, tidak mendapat apa yang dicari, melainkan arak dunia yang memabukkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekitar 11 tahun yang lalu, ketika tradisi tasawuf masih bersinar terang, hampir seluruh pembicaraannya berputar kepada pengetahuan kesufian, riwayat para masyaikh yang menggugah hati, sehingga murid-murid mudah mabuk akan suguhan anggur suci ini. Satu demi satu, sedikit demi sedikit, dengan bahasa yang mudah dipahami, Yang Mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menjelaskan rahasia-rahasia dzikir dan muroqobah, malah terkadang menceritakan hasil dari pelaksanaannya. Saat itu, murid-murid terkagum-kagum namun tidak dapat sepenuhnya memahami, karena belum mengalami dan merasakannya. Peristiwa yang demikian ini adalah jantung didalam mengarungi kehidupan bertasawuf, agar disuatu kelak nanti, bilamana seorang murid yang pada gilirannya menjumpai dan merasakan hal-hal yang demikian, tanpa keraguan apapun, ia akan meyakini bahwa jalan yang dilaluinya adalah benar adanya. Oleh sebab itu, betapa peristiwa 11 tahun yang lalu itu sangat mahal dan tinggi nilainya serta sulit ditemukan dibelahan dunia manapun juga. Sajadah harapan yang tinggi telah dihamparkan kepada Allah SWT kiranya memperjalankan sisa umur ini selalu dalam keadaan mencari ilmu agama, dan menghindarkan dari membicarakan masalah dunia dan perongkosan kehidupan kepada Yang Mulia Syaikhuna. Semoga Allah SWT menghidupkan kembali tradisi jamuan anggur suci itu, agar kita semua mabuk kembali, agar rasa-rasa itu berdatang kembali, agar lentera yang telah padam ini dapat bersinar kembali sebagai penerang dan penuntun didalam perjalanan pendakian gunung yang tinggi itu. Semoga Allah SWT memasukkan kita semua kedalam benteng-Nya, dan barang siapa berada didalam benteng itu, maka ia akan terhindar dari himpitan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar para murid dapat memahami masalah-masalah yang rumit, khususnya muroqobah (meditasi) tentang kebersamaan Allah (Maiyah), maka diperintahkannya seluruh muridnya untuk menghafal dan memahami makna dari Surat An Nuur ayat 35 : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS 24 : 35)' &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di alam dunia ini (alam syahadah), yang mudah dipahami oleh indrawi adalah bahwa yang bersama-sama dengan segala sesuatu adalah cahaya, karena tanpa kebersamaannya, benda-benda tidak akan tampak. Maka sungguh sangat jelas bahwa kata ‘cahaya’ pada ayat diatas adalah sebuah perumpamaan, dan hal ini akan lebih mudah dipahami manakala cahaya tersebut adalah cahaya lahiriyah. Seseorang bisa membayangkan ketika berada di kebun teh, maka akan disaksikan olehnya bahwa yang dominan adalah warna hijau dari daun teh yang menghampar dan warna biru dari langit yang luas, tanpa terpikirkan peran cahaya yang begitu besar berada dibalik itu semua. Padahal cahaya yang berasal dari matahari itulah yang membuat segala sesuatu tampak dan yang menyinari warna itu. Ketika matahari terbenam, semua menjadi gelap, barulah disadari betapa besar peran cahaya itu. Hanya karena bersatunya cahaya dan warna itu begitu kuat dan jelas, maka membuat cahaya itu sendiri tidak dapat dilihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itulah cahaya lahiriyah yang bisa dipahami dan dirasakan oleh inderawi dan menjadi lebih jelas makna cahaya itu. Jika dengan cahaya lahiriyah segala sesuatu terlihat oleh mata, maka dengan ‘Allah’ segala sesuatu akan tampak oleh mata hati (bashirah), sebab, Dia bersama dengan segala sesuatu (maiyah), tidak pernah terpisah dengan-Nya, dan hanya dengan Dia-lah segala sesuatu tampak. Cahaya lahiriyah akan lenyap bersamaan dengan terbenamnya matahari, sedangkan cahaya Illahi selalu hadir dan menyinari segala sesuatu dimana dan kapan saja, dan tak mungkin padam atau terbenam. Oleh karena itu perumpamaan ‘cahaya’ pada ayat diatas dapat dipahami sebagai cahaya yang dapat melihat dirinya sendiri dan menjadi penyebab yang lain menjadi tampak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok dzahiran terperosok oleh pemikiran bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘cahaya bersama dengan segala sesuatu’&lt;/span&gt; disamakan secara mentah dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Allah bersama dengan segala sesuatu’&lt;/span&gt;. Sehingga akan dapat menimbulkan pemahaman bahwa Allah menempati setiap ruang dan waktu. Maha Tinggi dan Maha Suci Allah dari penisbatan yang demikian. Maka dari itu, menjadi sangat penting bahwa pekerjaan muroqobah wajib diawasi secara terus menerus oleh seorang mursyid. Sungguh sangat beruntung bagi para salik yang memperoleh karunia dari Allah untuk dapat merasakan dan memahami masalah ini, karena dengan merasakan kebersamaan dengan Allah (maiyah), pada saat ‘muroqobah’, maka akan diperoleh sebuah ‘rasa’ bahwa esensi dirinya sesungguhnya adalah cahaya, yang hidup di alam ruhani atau alam spiritual, menerangi dirinya sendiri, alam syahadah disekitarnya, sahabat-sahabatnya, tetangganya, saudara-saudaranya, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang atau makhluk-makhluk lain, serta terjaga dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, pandangannya dapat melihat segala sesuatu sesuai pada tempatnya, ilmunya tiada tara tingginya. Keadaan ini sulit dilukiskan, karena setiap tindakannya bukan miliknya, ia tidak mempunyai kesadaran, inisiatif dan dirinya sendiri. Apabila seorang salik masih meronta dalam air, atau apabila ia masih berseru,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘aku tenggelam!’&lt;/span&gt;, maka ia belum dapat dikatakan berada dalam keadaan bersama dengan Allah (maiyah). Dalam keadaan ini perasaan ‘dualitas’ menjadi sirna, munajatnya adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘diam’&lt;/span&gt; karena dirinya sudah mengingkari adanya dua wujud, wujudnya sendiri dan wujud Tuhan. Ia akan menyerahkan dirinya seraya berseru ‘Tiada wujud kecuali wujud Tuhan’. Oleh karenanya tidak heran bilamana yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Siapa-siapa yang dapat mencapai muroqobah Ahadiyah dan Maiyah secara baik, maka ia telah memasuki awal daripada kewalian sugro.’ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analoginya demikian, yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pada masa muda sering bepergian ke Cimahi melalui jalur Puncak, seluruh detail dalam perjalanannya dirasakan dan dilihatnya, seperti jalan yang berkelok, menanjak dan menurun, cuaca yang dingin, tumbuh-tumbuhan disekitarnya, hambatan-hambatannya, tempat-tempat pemberhentian, dan masih banyak lagi. Lalu pengetahuan dan pengalaman yang demikian itu diberikan kepada sahabat-sahabatnya agar tidak tersesat bila bepergian ke Cimahi melalui jalur Puncak, sebagaimana beliau sering menyampaikan pengalaman dan rasa dari muroqobah. Nah jalur ke Cimahi melalui Puncak inilah yang disebut dengan tarekat, meskipun jalan menuju ke Cimahi lebih banyak dari detak jantung seluruh makhluk didunia ini. Maka wajar saja bila bermunculan banyak kelompok tarekat di dunia ini, karena pemimpinnya atau mursyidnya atau Syaikhnya telah ‘sampai’ kepada Tuhannya melalui jalannya masing-masing, yang tentunya sesuai dengan syariat Islam. Oleh sebab itu, bilamana seorang murid yang telah baiat mengalami hal-hal yang niscaya pernah dialami oleh Syaikhnya, maka seorang pembimbing mengerti betul, terapi apa yang mesti diberikan kepada sang murid, agar cepat sampai kepada tujuannya. Oleh karenanya, seorang Syaikh akan segera mengetahui bilamana muridnya berbohong tentang pengalaman didalam perjalannya, bayangkan bilamana seorang murid berkata :&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘Syaikh, saya melihat lautan didalam perjalanan ke Cimahi melalui Puncak.'&lt;/span&gt; Padahal jelas-jelas jalur itu tidak ada lautan sama sekali. Bagi murid-murid yang berdekat dengan Syaikh dan yang mau mencatat didalam hatinya tentang perkataan-perkataannya dan pengalaman Syaikhnya, akan segera mengetahui apakah pengalaman dan rasa yang diperoleh dalam perjalan itu benar adanya. Sebagaimana Syaikh sering berbicara mengenai Ahadiyah, Maiyah, Aqrobiyah dan perkejaan muroqobah lainnya, serta dzikir jahr dan lathif, serta bercerita tentang rasa-rasa dalam perjalanan, seperti syauq wa mahabbah, da’im, merasa diawasi, merasa senang dengan af’al Allah, merasa bersatu dan melebur. Dan juga sering menjelaskan tentang af’al dan sifat-sifat Allah SWT, Hakikat Asma Ul-Husna, Hakikat Muhamamdiyah, Hakikat Ahmadiyah, Hakikat Al Qur’an, Hakikat Ka’bah, Hakikat Cinta yang tulus, Hakikat bertapa hinanya manusia, Hakikat Shalat, Hakikat kenabian dan perihal ini diulang-ulang dalam setiap pertemuan, sebagaimana Al Qur’an juga mengulang-ngulang ayat dan riwayat-riwayat. Maka yang dibicarakan oleh Yang Mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) ini adalah segala rahasia sebagaimana perjalanan ke Cimahi melalui Puncak. Sehingga buah dari melaksanakan dzikir dan muroqobah adalah bilamana seorang salik merasakan dalam hatinya dan pemikirannya tetang hal-hal yang demikian itu. Yaa Allah berikanlah kepada kami ... berikanlah dan ampunilah kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7246258082039669919?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7246258082039669919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/08/maiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7246258082039669919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7246258082039669919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/08/maiyah.html' title='MAIYAH'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-3013150959800153548</id><published>2011-08-17T18:24:00.000-07:00</published><updated>2011-08-29T18:21:56.261-07:00</updated><title type='text'>NAMA TERAGUNG ALLAH</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini  masih berkenaan dengan adab, menjelang hari ke tujuh belas di bulan Ramadhon yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) memerintahkan murid-muridnya untuk melakukan dzikir ataqoh, yakni menyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah sebanyak 70.000. Setelah beberapa hari belangsung, banyak murid yang belum menyelesaikannya karena kesibukannya masing-masing. Di pihak lain, ada murid yang minta izin untuk melakukannya sampai dua dan tiga kali. Murid yang mendengar langsung dari Syaikhuna, ada yang berkata ‘sungguh hebat sahabat-sahabat yang mempunyai kemampuan seperti itu.’ Lalu Syaikhuna bertanya kepada seorang murid : ‘Apakah engkau sudah menyelesaikannya?’ ‘Alhamdulillah, belum Syaikh’ jawab sang murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah, ketika Syaikh Dzunnun Al-Mishri,qs., mengunjungi seorang yang sakit dan dijumpainya sedang merintih, beliau berkata : ‘Tidaklah tulus dalam mencinta-Nya, orang yang tidak bersabar menghadapi pukulan-Nya.’ Orang yang sakit itu berkata : ‘Tidaklah tulus dalam mencinta-Nya, orang yang tidak menikmati pukulan-Nya.’  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang lain, pada tahun 304 H hidup seorang syaikh yang sangat tampan di Rayy, bernama Yusuf Ibnu al Husain,qs, beliau menceritakan pengalaman safarnya kepada murid-muridnya lantaran beliau pernah menolak dan lari ke desa lain tatkala ada seorang gadis putri dari pangeran Arab yang sekonyong-konyong menyerahkan diri kepelukannya. Dalam mimpinya, beliau bertemu dengan Nabiyullah Yusuf,as, yang mempesilakan menduduki singasana yang didudukinya selama ini dan berkata kepadanya : “Allah telah berkata kepadaku ‘Wahai Yusuf, lihatlah! Engkau adalah Yusuf yang menolak Zulaikha. Dia adalah Yusuf yang menolak putri Raja Arab dan melarikan diri.’” Kemudian Nabiyullah Yusuf,as., menambahkan : ‘Di setiap zaman ada seorang wali. Dan wali zaman ini adalah Dzunnun al Mishri. Dia telah dianugerahi nama Allah yang teragung. Temuilah dia.’ Saat terbangun, Syaikh Yusuf,qs., dipenuhi oleh rasa kerinduan, lalu bergegas pergi ke Mesir untuk menjumpainya. Saat tiba di masjidnya Syaikh Dzunnun,qs, beliau memberi salam lalu duduk. Setelah satu tahun, Syaikh Dzunnun,qs, bertanya : ‘Darimana asalmu wahai anak muda?’ ‘Dari Rayy,’ jawab Syaikh.Yusuf.qs. Itulah percakapan selama menunggu satu tahun, lalu setelah berselang setahun berikutnya Syaikh Dzunnun,qs, bertanya : ‘Apa tujuan kedatanganmu, wahai anak muda?’ ‘Untuk menemuimu,’ Jawab Syaikh.Yusuf,qs. Selama setahun berikutnya Syaikh Dzunnun kembali tidak berkata apa-apa, akhirnya kembali bertanya : ‘Apa keperluanmu?’ ‘Aku datang untuk memintamu mengajarkanku nama Allah yang teragung,’ Jawab Syaikh.Yusuf,qs. Lalu Syaikh.Dzunnun,qs, berkata : ‘Seberangilah sungai Nil. Disebuah tempat ada seorang tetua, berikan bejana ini padanya, dan ingatlah apa saja yang ia beritahukan kepadamu.’ Syaikh.Yusuf,qs., pun mengambil bejana itu lalu pergi, dalam perjalanan, godaan menyerang hatinya, ‘Apa ini, yang bergerak-gerak didalam bejana?’ lalu dibukanya bejana itu dan seekor tikus melompat keluar dan melarikan diri, beliau diliputi oleh kebingungan, antara melanjutkan perjalanan atau kembali ke Syaikh Dzunnun,qs. Akhirnya  diputuskan untuk melanjutkan perjalanan, dan bertemu dengan tetua disana, sambil tersenyum sang tetua berkata : ‘Engkau bertanya kepada Dzunnun tentang nama Allah yang teragung?’ tanyanya. ‘Ya!’ jawab Syaikh.Yusuf.qs. ‘Dzunnun melihat ketidak kesabaranmu, dan memberimu seekor tikus.’ Kata sang tetua. ‘Mahamulia Allah! Engkau tak dapat menjaga seekor tikus, lalu, bagaimana mungkin engkau bisa menjaga nama-Nya yang teragung?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam Al Qur'an banyak kisah-kisah yang sangat elok, agar pembacanya bisa mengambil sari tauladan darinya. Begitu juga didalam dunia kesufian, kisah-kisah dapat menghidupkan hati yang membatu dan mencontohnya sebagai adab yang terpuji didalam membina pergaulan di pengajian tarekat, agar para salik dapat mengendalikan keinginan-keinginan (nafs) yang tampaknya baik, jika seorang Syaikh telah memperintahkan untuk membaca wirid ‘Hasbunallah wanikmal wakil’, tidak perlu murid bertanya ‘mengapa tidak ditambah dengan kalimat yang lain?’ dan jika Syaikh sudah memerintahkan melakukan dzikir ataqoh satu kali, hormati dan patuhi! dengan melaksanakan sebaik-baiknya dan tidak perlu meminta tambah atau kurang, karena seorang Syaikh sangat mengetahui manfaat memberi minum satu gelas susu, dua atau tiga gelas dan belum tentu baik untuk sang salik yang dua atau tiga, biarlah Syaikh yang memilihkannya, beliaulah yang mengetahui keadaan lahir dan batin para salik, oleh karena kepiawaiannya itulah beliau mendapat gelar Pembimbing Ruhani, patuhi dan hormati, sebagai tanda cinta kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian para sahabat, semoga Allah meridhoi kita semua. &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-3013150959800153548?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/3013150959800153548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/08/nama-teragung-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3013150959800153548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3013150959800153548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/08/nama-teragung-allah.html' title='NAMA TERAGUNG ALLAH'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7503391743791418813</id><published>2011-08-16T22:09:00.001-07:00</published><updated>2011-08-16T22:09:25.510-07:00</updated><title type='text'>ABU TURAB</title><content type='html'>Bismillahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering membaca Al Fatihah dipersembahkan untuk Abu Turab,qs. Dalam dunia kesufian telah disepakati bahwa apa-apa yang dicintai oleh guru, maka murid pun wajib turut mencintainya, dan sebaliknya apa-apa yang dibenci oleh guru, maka murid pun wajib turut membencinya. Oleh karenanya mengetahui biografi dari Syaikh Abu Turab,qs., menjadi wajib hukumnya. Menurut sebuah kitab, nama lengkapnya adalah Abu Turab ‘Askar bin Al Husayn Al Nakhsyabi Al-Nasafi,qs., beliau adalah seorang Syaikh kepala di Khurasan, bersahabat dengan Syah Syuja Al Kirmani,qs., dan Syaikh Abu Hamzah Al Khurasani,qs. Murid beliau paling cemerlang adalah Syaikh Abu Shaleh Hamdun bin Ahmad bin ‘Umara Al Qashshar,qs. Beliau terkenal dengan kemurahan hatinya, kezuhudan dan kesalehannya. Beliau telah memperlihatkan banyak karomah dan mengalami penjelajahan menakjubkan yang tidak terbilang di padang pasir dan di tempat lainnya. Beliau salah seorang pengembara yang paling terpandang di kalangan kaum sufi dan biasa menyeberangi padang pasir yang sepenuhnya terlepas dari hal-hal keduniawian. Beliau meninggal di padang pasir Basrah. Setelah bertahun-tahun, jasadnya ditemukan telah mengering dan berdiri tegak dengan wajah menghadap Ka’bah, dengan sebuah ember didepannya dan sebuah tongkat ditangannya, dan binatang-binatang buas tidak berani menyentuhnya atau datang menghampirinya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata : ‘Makanan darwisy ialah apa yang dia dapati, dan pakaiannya ialah apa saja yang menutupi badannya, dan tempat tinggalnya ialah di mana saja dia berada.’ Yakni beliau tidak memilih-milih makanan, baju atau membuat sebuah rumah bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh manusia diatas dunia ini dibuat sibuk oleh ke tiga hal ini, makanan, pakaian dan tempat tinggal. Segala daya dan upaya dikerahkan hanya untuk memilikinya, sejak kecil disekolahkan sampai memperoleh gelar kesarjaan hanya untuk memperloleh ketiga hal ini, segala sesuatu dijadikan sarana untuk memperolehnya, bahkan ‘Tuhan’ pun dijadikan sarana pula, karena banyak yang berdoa sebagai berikut : ‘Yaa Tuhan jadikan aku kaya,’ sarananya adalah Tuhan dan tujuannya adalah kaya. Oleh sebab itu, yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) membimbing murid-muridnya dengan selalu mengawali doa munajatnya dengan kalimat yang indah : ‘Illahi anta maqsudi, waridhoka matlubi, a’tini mahabbataka wa ma’rifataka, yaa Arhamaar Rohimiin,’ Yaa Allah engkaulah yang aku maksud, ridhoilah aku, karuniakan cinta hanya kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu.’ &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7503391743791418813?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7503391743791418813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/08/abu-turab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7503391743791418813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7503391743791418813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/08/abu-turab.html' title='ABU TURAB'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-8352275143259758858</id><published>2011-08-12T18:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-16T19:53:33.957-07:00</updated><title type='text'>BUAH</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak hampir delapan bulan tulisan ini tidak di up-date karena kesibukan dunia, maka merugilah orang-orang yang terpenjara oleh kesibukan dunia ini, dan beruntunglah orang-orang yang terpenjara oleh kesibukan agama. Nabi,saw, bersabda : ‘Barangsiapa menghabiskan waktunya untuk Allah, maka Allah akan mencukupi beban rezekinya dari tempat yang tidak disangkanya. Dan barangsiapa menghabiskan waktunya untuk dunia, maka Allah akan mempercayakannya kepada dunia.’ Yaa Arhamaar Rohimiin, kasihanilah kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan mencekik karena yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pergi berziarah ke Mekkah dan Madinah. Wajah, perilaku dan kata-katanya terbayang pada setiap saat. Beliau sering berkata bahwa ‘talenta’ merupakan faktor utama seseorang dapat mencapai derajat yang tinggi dalam alam kesucian. Sebagaimana pada olah raga tinju, jika seseorang tidak bertalenta, maka meskipun ia berlatih secara keras, ia hanya akan mencapai tahap bisa bertinju namun tidak berprestasi. Oleh karena itu tugas utama pembimbing adalah mencari bibit yang ‘bertalenta’, kemudian membina secara baik dan berkesinambungan, barulah akan muncul petinju yang hebat. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata, ‘Siapa-siapa yang aktif latifahnya (sesuatu yang halus didalam dirinya), maka akan cerdas akal spiritualnya, namun wajib memasang kewaspadaan yang tinggi agar tidak terperosok.’ Wejangan ini sungguh elok dan butuh penjelasan, murid yang berkesinambungan dalam mengerjakan perintah gurunya, hatinya menjadi semakin cemerlang, kecerdasannya menjadi tajam dalam memahami masalah agama, namun tidak boleh lengah, karena pada setiap terbongkarnya penyakit hati akan muncul penyakit hati yang lebih dasyat dan lebih sulit dikenali. Penyakit hati yang bernama ‘riya’ gugur, tetapi bendera ‘ujub’ berkibar, merasa orang yang paling pandai menguasai dirinya, merasa orang yang paling dekat dengan Syaikh, ia akan merasa takjub terhadap dirinya sendiri atas pekerjaan dzikir dan shalat malam serta natija-natijanya dan kagum terhadap firasatnya yang menjadi tajam. Bahkan ia menjadi panutan murid yang lain dan sering membuat rencana untuk mempertemukan para murid dengan yang mulia Syaikhuna. Karena merasa sebagai panutan, maka rencana-rencananya ini dianggap penting oleh dirinya sendiri. Nah, disinilah syaithon ikut bermain, bendera ‘ujub’ dikibarkan lebih tinggi, dibisikkan rasa khawatir dan was-was bila rencananya gagal. Hasilnya, ia berani menentang perkataan yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), meskipun di majlis dzikir sekalipun, naudzubillah mindzalik. Tanpa disadari ia telah terbelenggu oleh egonya, jerih payahnya selama ini menjadi sia-sia, kedudukannya (maqom-nya) terjun bebas, semoga Allah SWT mengasihi kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid tidak boleh lengah! patuh dan hormat adalah bukti cinta kepada Syaikh. Cinta adalah meleburnya sifat-sifat yang mencinta kedalam sifat-sifat yang dicinta, sebagaimana kayu ego yang habis terbakar oleh api cinta, tidak boleh ada sisa kayu ego, semua harus menjadi api, sehingga bila yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa 'Untuk menyambut bulan suci Ramadhon, maka pada hari jum’at depan tidak ada pengajian’, maka semua murid harus patuh, tanpa menentang sedikitpun, meskipun ia mempunyai segudang rencana yang baik menurut kadarnya. Murid yang menentang perkataan Syaikh, jauh dari kepatuhan dan hormat, meskipun ia menanam pohon riyadhah. Diriwayatkan oleh Anas Bin Malik,ra., bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah,saw., : ‘Wahai Rasulullah, siapakah diantara orang-orang beriman yang paling utama imannya?’ Beliau mejawab : ‘Yaitu mereka yang paling baik akhlaknya.’ Abu Bakar Al Kattany,ra., berkata : ‘Tasawuf adalah akhlak, barang siapa bertambah dalam akhlak berarti bertambah pula dalam alam kesucian.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dari ber-tarekat adalah akhlak yang mulia, bukan yang lain, oleh sebab itu Allah SWT memberikan pujian kepada Rasulullah,saw., karena ketinggian akhlaknya. Rasulullah,saw., bersabda : ‘Dengan akhlak yang baik, seorang laki-laki benar-benar memperoleh derajat tertinggi di surga, padahal dia bukan akhli ibadah. Dan dengan akhlak yang buruk, seorang laki-laki benar-benar memperoleh tingkatan terendah dalam neraka, padahal dia adalah akhli ibadah.’ Pekerjaan-pekerjaan tarekat, seperti dzikir, muroqobah, shalat-shalat sunah, wirid (aurad) dan shodaqoh adalah sarana, bukan tujuan. Tujuannya adalah ‘Liqo Allah atau berdekat dengan Allah’, untuk dapat mencapai liqo Allah adalah dengan banyak melakukan amal shaleh dan tidak menyekutukan-Nya, sebagaimana yang disebutkan didalam Al Qur'anul Karim. Nah, para syaikh sufi sepakat bahwa yang dimaksud dengan amal sholeh dan tidak menyekutukan-Nya adalah dengan mengerjakan pekerjaan tarekat tadi, dalam dunia kesufian disebut riyadhah, dengan demikian Allah akan menghias hati dan melimpahkan ilmu yang tinggi serta mempercantik akhlak orang itu, ia menjadi bermanfaat bagi makhluk lain dimanapun ia berada. Ukurannya adalah kepentingan dan keinginan dirinya gugur, yang diutamakan hanyalah kepentingan guru dan sahabat-sahabatnya. Sedangkan tanda kemunduran akhlak adalah, selalu mengutamakan dirinya dibanding guru dan sahabatnya. Harta bendanya banyak tetapi merasa susah hidupnya dan selalu berpura-pura susah dihadapan sahabat dan gurunya. Jika sudah demikian, maka ini merupakan bukti bahwa pekerjaan tarekat yang ia kerjakan tidak berbuah, ia hanya memperoleh keletihan pisik, ia tidak mengerti bahwa pedang karunia Allah atas pekerjaan tarekat adalah untuk membasmi alang-alang keakuan (mujahadah), bukan merasa bangga (ujub). Bilamana membabat alang-alang keakuan dilakukan secara berkesinambungan maka maqom demi maqom akan diraihnya, niscaya 'hal' atau ‘musyahadah’ insya Allah akan diperolehnya. Oleh karena itu Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa 'talenta' menjadi faktor terpenting dalam alam kesucian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama mengatakan bahwa mengutamakan orang lain (itsar) dan membantu orang lain adalah dua hal yang berbeda,yang pertama bila seseorang dalam keadaan membutuhkan, kemudian ia memberikan semua yang dimilikinya kepada orang lain, inilah yang dimaksud dengan akhlak mulia sebagai cerminan dari kelapangan jiwa dan kemampuan menanggung gangguan (tabah), sedangkan yang kedua bilamana seseorang dalam keadaan membutuhkan dan memberikan sebagian yang dimilikinya. Masih ingatkah ada sebuah khabar yang mengatakan bahwa seorang sahabat nabi,saw., menerima sebuah kepala kambing, karena ia melihat sahabat lain yang membutuhkan, maka ia memberikan semuanya, demikian seterusnya sahabat yang menerima memberikannya kepada sahabat yang lain, hingga sampai kepada sahabat yang pertama memberi. Para sahabat yang tercinta, kita berada dimana? Sekarang banyak masyarakat dalam keadaan sulit, marilah kita mengurangi porsi makan kita sebanyak satu, dua atau tiga suap untuk disedekahkan kepada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Junayd,ra., pernah memuji murid dari Syaikh Abu Hafs Al Haddad,ra., karena begitu hebat akhlaknya, bukan karena banyak dzikir, shalat dan puasanya, namun yang utama adalah mujahadahnya, mengalahkah egonya, mementingkan keperluan sahabatnya, gurunya daripada dirinya. Imam Junayd,ra., berkata : ‘Sudah berapa ia menjadi muridmu?’ ‘Sepuluh tahun,’ jawab Abu Hafs. ‘Akhlaknya sempurna, ia benar-benar bermartabat, anak muda yang sungguh mengagumkan.’ Kata Imam Junayd. ‘Ya,’ ujar Abu Hafs. ‘Ia telah menghabiskan 17 ribu dinar uangnya untuk keperluan kami, dan telah meminjam 17 ribu dinar lagi juga untuk keperluan kami. Namun setelah semua itu, ia masih saja belum berani mengajukan satu pertanyaan pun kepadaku.’ Kisah ini sangat berbeda dengan keadaan kita, dizaman kini seorang murid terbiasa berani menelpon gurunya, padahal untuk kepentingan egonya, tidak peduli bahwa Syaikh sedang melakukan aktivitas yang tidak bisa diganggu. Banyak yang merasa bahwa dengan telah memberi sedikit sampah-sampah dunia, seolah-olah Syaikh sudah dimilikinya, bahkan berani memerintahnya! Naudzubillah mindzalik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian para sahabat, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan setiap waktu mempercantik akhlak kita semua, amiiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-8352275143259758858?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/8352275143259758858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/08/buah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8352275143259758858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8352275143259758858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2011/08/buah.html' title='BUAH'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-1696831082338424030</id><published>2010-11-29T17:35:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T18:18:01.883-08:00</updated><title type='text'>RAJA RIMBA</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian pada Jum’at malam tanggal 19 Nopember 2010 tampak sepi, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) bersama dengan keluarga tercintanya dan beberapa sahabat sedang menunaikan ibadah haji. Saat pegajian dimulai, hanya dihadiri oleh 8 orang murid saja. Memang demikian, setiap Hadrat Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) melakukan safar, pengajian tampak sepi. Ini pertanda bahwa banyak murid hanya mau beribadah manakala syaikh yang memimpin pengajian, tatkala terlihat oleh Syaikh saja. Bila demikian, akankah pekerjaan-pekerjaan tarekat yang mereka peroleh dari kasih sayang seorang syaikh, dikerjakan dengan baik dan istiqomah bila dirumah atau bila tidak terlihat oleh Syaikh? Berbeda dengan murid yang memiliki kesadaran, dalam keadaan apapun dan dimanapun ia berada, dengan atau tanpa syaikh, mereka tetap menghadiri kholaqoh dzikir dan mengerjakan pekerjaan tarekat, karena ia merasa bahwa syaikh selalu bersamanya dimanapun ia berada. Oleh karenanya, untuk memacu agar para murid selalu menghadiri kholaqoh dzikir Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku ada meskipun tiada.’&lt;/span&gt; Bagi kebanyakan murid wejangan ini hanya menjadi slogan saja, mereka terjebak didalam bentuk dan bukan makna, sedangkan bagi murid tertentu tidaklah demikian, mereka hidup dalam robithoh, suka ataupun duka, sedih ataupun gembira, sakit atau sehat, Syaikhuna selalu bersamanya. Inilah pintu-pintu muroqobah, jendela-jendela ikhsan dan permadani musyahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian tasawuf sarat dengan makna-makna dan bukan bentuk, orang yang hanya memperhatikan bentuk akan jauh dari kesadaran, hal ini berlaku sejak dahulu kala. Hadrat maulana Jalaluddin Rumi,ra., menyampaikan wejangan dalam bentuk syair-syair kepada murid-muridnya. Begitu pula Hadrat Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menyampaikannya dalam kalimat-kalimat yang mempunyai akar dan cabang pensucian diri yang tak terhingga. Agar para murid dapat mengasah kecerdasan spiritualnya, yang ia peroleh dari keteguhannya menjalankan dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah. Tanpa melakukan praktik-praktik yang benar, mustahil seseorang dapat memahami syair-syair atau kalimat-kalimat yang keluar dari mulut yang diberkahi itu. Sampai sekarang pun banyak para ulama mencoba memaknai syair-syairnya yang tidak kurang dari 24.666 untai bait yang tersusun rapi didalam kitab Mastnawi. Bisa dibayangkan bila seorang salik hidup dimasa itu, semua makna-makna yang tersembunyi didalam syair yang magis, wajib untuk diketahui oleh semua murid, disamping diharuskan menghafalnya. Bagaimana Hadrat Maulana memperlakukan murid-muridnya itu, mirip dengan Syaikhuna memperlakukan sahabat-sahabatnya. Intinya, adalah berburu binatang-binatang ego yang ada pada diri murid-muridnya, agar sang murid dapat terbang menggapai kesucian diri dan selalu merasa dekat Sang Penciptanya. Selama keakuan masih bercokol didalam dada, maka seseorang akan tenggelam didalam bentuk dan jauh dari makna. Al hasil, adabnya  buruk bagi  makhluk lain, namun menganggapnya indah. Nah, bila sudah demikian, ia tertipu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Hadrat Maulana,ra., bersikap terhadap murid-murid yang masih jauh dari kesadaran dan yang telah memperolehnya, tersirat didalam bentuk prosa ini  : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seekor singa, serigala dan rubah begabung dan memutuskan untuk berburu bersama dan saling berbagi. Sesungguhnya, singa tidak membutuhkan bantuan mereka, tetapi karena ia adalah Raja Rimba maka ia pun menyetujui ‘keinginan’ binatang lainnya. Tidak lama kemudian, mereka berhasil memburu seekor sapi, domba dan kelinci. Tiba saatnya untuk membagi hasil buruan, serigala dan rubah mulai memikirkan cara pembagian. Sang singa berpura-pura tidak tahu, padahal ia bisa membaca pikiran mereka, dan ingin menguji niat mereka. Maka singa mempersilakan serigala untuk bersikap adil dan membagikan hasil buruan. Dengan sangat berhati-hati, serigala menanggapinya, dan berkata : ‘Tuanku, badanmu besar, begitu pula badan sapi jantan yang kita buru ini, maka engkaulah yang berhak atas sapi itu. Badanku tidak sebesar engkau, maka daging domba sudah cukup untukku. Rubah yang berbadan lebih kecil dari kita, seharusnya sudah puas dengan kelinci.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat! tampak pembagian yang dilakukan oleh serigala cukup adil, namun dihadapan Raja Rimba, atau dihadapan seorang Syaikh tidaklah demikian, oleh karenanya kita simak lebih lanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Singa menjawab : ‘Apa yang kau katakan, wahai serigala? Ini milikmu dan itu milikku, dari mana munculnya ‘aku’ dan ‘kamu’? lalu, diterjangnya serigala itu, dicakar, dirobek perutnya sampai mati. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengajian tarekat, tindakan serigala jauh dari adab yang baik. Ini milikku, ini milikmu, rasa kepemilikan muncul dari ego atau keangkuhan. Karena kasih sayang seorang syaikh kepada muridnya, segera keangkuhan muridnya itu dicakar dan dirobek, agar mati egonya. Fana’u Syaikh tidak akan diperoleh, manakala seorang murid masih membedakan ‘aku’ dari ‘kamu’. Yang patut disadari bahwa pertimbangan Syaikhuna (semoga allah merahmatinya) menerima murid bukan lantaran kepandaiannya, bukan karena jabatan dan kecerdasannya, melainkan semata-mata karena kasih sayangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setelah membunuh serigala, singa bertanya kepada rubah : ‘Bagaimana pendapatmu? Bagaimana membagi hasil buruan ini?’ Rubah menjawab : ‘Tidak ada pendapat lain, kecuali satu, tidak bisa ada dua pendapat, Yang Mulia.’ Apa yang kau maksudkan, katakana! ‘Yang Mulia, sapi jantan yang gemuk itu untuk makan pagi baginda, kemudian, daging domba untuk makan siang baginda, dan menjelang malam jika baginda masih lapar, nikmatilah daging kelinci itu,’ Jawab si rubah. ‘Pendapatmu sungguh luar biasa, dari mana kau belajar cara membagi yang demikian adil itu?’ Rubah menjawab : ‘Saya belajar dari nasib serigala.’ ‘Engkau seorang murid yang baik, engkau mencintaiku, ambilah seluruh hasil buruan ini. Aku tidak membutuhkan apa-apa. Semuanya untukmu. Kamu pintar dan mampu belajar dari pengalaman orang lain.’ Rubah menjawab : ‘Kepintaran dan kemampuan saya untuk belajar tidak akan punya arti apa-apa, jika engkau memanggil saya sebelum serigala. Jawaban saya mungkin sama dengan serigala. Tetapi baginda memanggil saya setelah serigala. Apa yang terjadi ini, semata-mata belas kasih Yang Mulia.’&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat nasib serigala, rubah tidak lari. Dia berdiri tegar sambil menunggu giliran. Ketegaran dan keberanian ini adalah ciri khas seorang murid yang baik. ‘Tidak lari’ dan belajar dari kesalahan orang lain dan dari diri sendiri, seharusnya menjadi agenda utama seorang murid. Oleh karenanya, dalam memutuskan segala hal, biarlah seorang Syaikh yang menjatuhkan pilihannya, atau membagikan hasil buruan, tanpa para murid mengajukan pilihan atau saran-saran. Semoga makna dibalik bentuk tulisan ini dapat dipahami oleh kita semua. Semoga Allah SWT meneguhkan dan menyelamatkan kita semua dari jalan yang mendaki, licin dan berduri ini. Amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-1696831082338424030?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/1696831082338424030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/11/raja-rimba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1696831082338424030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1696831082338424030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/11/raja-rimba.html' title='RAJA RIMBA'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-2646077973262723396</id><published>2010-11-17T05:55:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T03:44:45.499-08:00</updated><title type='text'>QURBAN</title><content type='html'>Bismillahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (QS 108 : 2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini ditulis bertepatan dengan hari raya qurban 1431 H, bagi orang yang bertasawuf, qurban tidak saja bermakna memotong seekor kambing yang terbaik, melainkan lebih jauh dari itu, yakni mengurbankan kecintaan kepada selain Allah SWT, khususnya kecintaan terhadap sesuatu yang mendominasi ruang hati ini, agar tauhid menjadi bersih, agar Allah mengkaruniai makna dari ‘Ahadiyah’ secara hakiki. Sebagaimana kisah Nabiyullah Ibrahim,as., yang begitu lama mendambakkan seorang putra dan dengan khusyu melantunkan doa-doa. Setelah dikaruniai seorang putra yang bernama Ismail, membuat hatinya berpaling, yang tadinya hanya terisi Allah SWT mulai berbagi, oleh karenanya Allah memerintahkan menyembelih putra tersayang ini, agar hatinya kembali murni, hanya mencintai Allah SWT saja. Nah, orang-orang yang mengikuti hakikat kisah ini, dengan jalan memerangi hawa nafsunya (mujahadah) pada setiap kesempatan, dalam istilah tasawuf disebut mutashowif. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika hari ini dapat juga dikatakan sebagai hari raya-nya para muthasowif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik bertanya kepada salik yang lain : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kita sudah cukup lama mengikuti pengajian disini, apakah engkau merasakan sesuatu?’&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ya’&lt;/span&gt; jawab salik yang lain, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku merasa semakin tidak ada kemajuan dalam jerih payahku ini, jika dipuji aku merasa senang dan jika dikritik merasa tersinggung, dahulu pun sebelum mengaji aku merasakan hal yang sama.’&lt;/span&gt; Dialog ini sungguh apik, seorang salik yang gigih dalam menjalankan pekerjaan tarekat lebih dari sepuluh tahun lamanya berkata seperti itu. Sepintas tampak sama keadaan sang salik sebelum dan sesudah mengikuti pengajian, padahal tidaklah demikian.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; ‘Kesadaran’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang diperoleh bahwa dirinya merasa senang jika dipuji dan sebaliknya merasa tersinggung jika dikritik adalah karunia dari Allah yang sungguh besar. Tentunya diperoleh setelah berjuang dalam jangka waktu yang lama melawan keinginan diri dengan sekuat tenaga dan menjalankan dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah, melalui kaifiat-kaifiat yang benar sesuai dengan bimbingan syaiknya, lalu jujur terhadap dirinya sendiri adalah pintu gerbang ma’rifat. Melihat dirinya semakin tidak berarti, adalah kemajuan yang luar biasa dalam menempuh jalan keruhanian, sebaliknya merasa dirinya hebat dan menunjukkan kepada orang lain dengan prilaku yang menjijikkan, bahwa ‘Aku’ adalah orang yang paling berbakat, ‘Aku’ adalah orang yang duduk disebelah kanan Syaikh, ‘Aku’ adalah yang memberikan tausyiah, ‘Aku’ yang memimpin pembacaan Asma ul Husna, ‘Aku’ yang duduk dekat pintu rubat Syaikh, ‘Aku’ yang memimpin doa, 'Aku' yang bertopi biru .. dan Aku .. Aku dan Aku, adalah sungguh memilukan hati. Semakin banyak ‘Aku’ maka semakin buruk pula tingkat keruhaniannya. ‘Aku’ adalah tebu dan fananya ‘Aku’ adalah gula, untuk membuat teh menjadi manis tidak perlu tebu melainkan gula. Seorang salik yang gagal dalam bertasawuf adalah tebu, sedangkan ia yang telah berhasil mengalahkan keakuan adalah gula. Mencuri hati seorang Syaikh dengan melanggar perintahnya untuk kepetingan dirinya adalah pencuri sejati, sedangkan taat kepada perintah Syaikh untuk menghalangi sahabat yang lain berdekat dengan Syaikhnya, adalah perampok. Tidak disadari, orang-orang yang demikian, meskipun secara lahiriyah berdekat dengan Syaikh, tetapi malah mengalami kemunduran yang luar biasa, karena egonya berkibar terus menerus. Sebagaimana ‘Yudas’ yang selalu mengikuti Nabiyullah Isa,as., namun ditakdirkan berkhianat, naudzubillah min dzalik. Karena sungguh jelas bahwa Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) selalu membimbing murid-muridnya untuk selalu berperang melawan hawa nafsunya, mengalahkan egonya, artinya harus mengurbankan kepentingan dirinya demi kepentingan orang lain, guna kepentingan sahabatnya bukan dirinya! Inilah salah satu makna qurban bila diaplikasikan kepada kehidupan bertasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah diatas juga pernah terjadi dalam lingkungan tarekat maulawiyah, sebagaimana yang dikisahkan oleh Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,r.a, yang dikisahkan secara elok dalam kitab mastnawi yang masyhur itu. Kisah itu bercerita tentang seekor keledai yang dikandangkan bersama seekor onta, keledai itu berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kepalaku selalu menunduk kebawah, kendati demikian, aku masih selalu jatuh. Sementara kepalamu tegak, dan pandanganmu lurus serta melihat keatas, tetapi engkau tidak pernah jatuh, apa sebabnya?&lt;/span&gt; Sang onta menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dengan kepalaku tegak dan lurus aku bisa melihat jauh. Kalau ada lubang, aku bisa menghindarinya.’&lt;/span&gt; Mendengar itu si keledai menangis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bimbinglah aku, tunjukkan kepadaku jalan yang lurus, sehingga aku tidak jatuh lagi.’&lt;/span&gt; Sang onta menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dengan mengakui kelemahan diri, kamu sudah terselamatkan. Berbahagialah sekarang, karena kamu sudah terbebaskan dari sesuatu yang jahat.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbebaskan dari sesuatu yang jahat, apa gerangan yang jahat itu? Yakni keakuan atau ego! Tujuan utama bertasawuf adalah mengalahkan keakuan atau ego, hal ini tidak boleh terlupakan oleh para salik, bukan malah membangunnya. Sebagaimana sebuah hadis yang mengatakan bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya (nafs-nya atau ego-nya), maka ia mengenal Tuhannya.'&lt;/span&gt; Bagi orang yang belum pernah mengalami manfaat berdekat dengan seorang syaikh, kisah diatas terdengar absurb, sedangkan bagi orang yang tercerahkan akan mempercayainya. Dalam kisah itu, baik keledai maupun onta tidak memiliki ‘free will’ atau kehendak bebas. Allah yang berkehendak mengandangkan secara bersama-sama antara onta dengan keledai, meskipun ada sekian banyak onta dan keledai ditempat lain. Keledai yang beruntung itu memperoleh ‘Kesadaran’ lantaran ia berdekat dengan onta, oleh sebab itu sungguh merupakan kerugian yang besar bilamana ada keledai atau makhluk yang lain yang berdekat dengan onta, namun tidak memperoleh kesadaran. Mursyid kita tercinta, Hadrat Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) telah menyampaikan begitu banyak wejangan kepada sekian banyak muridnya, lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak semua murid mampu memahaminya? Lalu sudah sekian banyak murid yang hidup bersama-sama dengan Syaikh, lalu mengapa mereka tidak memperoleh kesadaran? Seorang mursyid bagaikan onta dan murid bagai keledai yang kelelahan memikul beban berat keinginan dan keterikatan tanpa ia menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu bila Allah SWT menakdirkan seorang salik dapat berdekat dengan syaikh, maka gunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya guna memerangi egonya, menekan kepentingan dirinya, sebab disaat itu ada 'nuurun ala nuur' yang membias kedalam dada sang salik dan membantunya untuk berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran itu bagaikan mutiara, yang berada jauh didalam lautan yang dalam dan tertutup rapat oleh tiram. Tidaklah mungkin orang yang hanya bersantai di pantai akan memperolehnya, melainkan mesti berjuang dengan gigih dan bermodalkan ilmu.  Seorang syaikh sufi mengatakan bahwa 'mereka yang mencari akan menemukan'. Oleh karenanya, tanpa seorang pemandu mustahil mutiara itu dapat ditemukan. Tentunya seorang pemandu yang pernah menemukan mutiara dimaksud, bukan pemandu yang hanya pandai membaca buku. Seorang pejalan (mutashowif) mesti mengambil pelajaran dari sebuah tiram, meskipun ia hidup dilautan, tidaklah perlu serakah mengambil begitu banyak air, melainkan dengan mengambil setetes air dan memanfaatkannya dengan benar, maka berubahlah pasir didalam perut menjadi mutiara. Tidak perlu merampok waktu yang mulia Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), tidak perlu mengajak beliau kesana kemari, tidak perlu menelpon berlama-lama, akan tetapi dengan patuh dan hurmat karena cinta, yakni dengan gigih menyelam pada setiap malam kedalam lima atau tujuh lathifah yang berada disekitar dada dan kepala, lalu menaklukan berbagai keinginan (keserakahan) dan keterikatan (kebanggaan), insya Allah seorang murid akan menemukan mutiara yang tidak ternilai harganya itu, yakni keasadaran. Tidaklah heran jika pada suatu ketika Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya)berkata bahwa : &lt;em&gt;'Tasawuf adalah kesadaran.'&lt;/em&gt;  Mari para sahabat qurbakanlah keserakahan dan kebanggaan kita demi sebuah kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian semoga Allah mengasihi kita semua, Amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-2646077973262723396?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/2646077973262723396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/11/qurban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2646077973262723396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2646077973262723396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/11/qurban.html' title='QURBAN'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-3568749516860991867</id><published>2010-11-09T17:42:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T17:54:21.053-08:00</updated><title type='text'>GUNUNG</title><content type='html'>Bismillahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu bumi dihamparkan oleh malaikat atas perintah Allah, sang Malaikat berkata bahwa bumi bergetar, lalu Allah memerintahkan untuk menancapkan gunung, barulah bumi menjadi tenang. Gunung mempunyai posisi yang unik dalam penciptaan, demikian pula yang terdapat pada kisah Nabiyullah Musa,as., yang harus memilih gunung yang pantas sebagai tempat berpijak guna ‘berbicara’ dengan Allah, lalu gunung Sinai (thursin) menjadi pilihannya, gunung yang tampak paling rendah diantara gunung-gunung yang lain. Oleh sebab kisah ini, gunung Sinai dijadikan symbol sebagai kerendahan hati (tawadhu), dan semenjak saat itu lah Nabiyullah Musa,as., mendapatkan gelar Kallamullah (orang yang berbicara dengan Tuhan). Gunung Sinai atau kerendahan hati (tawadhu), menjadi tempat yang istimewa didalam Al Qur’an Nuur Kariim, terdapat sebuah ayat dimana Allah SWT bersumpah atas nama gunung Sinai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia ke-sufi-an, gunung mempunyai makna yang khusus, Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga allah merahmatinya) sering mengatakan bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Gunung adalah sebagai lambang kewalian.’&lt;/span&gt; oleh sebab itu, bukan tanpa arti orang-orang terdahulu memberikan gelar kepada raja yang dicintainya dengan sebutan Pakubumi, Mangkualam, atau Pakubuwono, yakni orang-orang yang ditunjuk oleh Allah sebagai gunung untuk menjaga alam sekitarnya atau wilayahnya agar tidak bergejolak, baik secara lahir maupun batin. Memang pantas para raja-raja terdahulu mendapatkan gelar yang demikian, karena disamping ia seorang raja, ia pun seorang yang alim, yang dalam kehidupannya terhampar kemewahan dan kemudahan, namun ia menolaknya dan hidup sederhana. Ia memerintah dengan adil menurut hukum syariat agama, oleh karenanya alam disekitarnya mendukung dan dengan sukarela memberikan apa yang ada padanya, tanah subur, sungai mengalir dengan air yang jernih dan ikan-ikan pun hidup beranak pinak dengan suka cita, udara pun bersih tanpa ada kandungan zat yang berbahaya. Mengapa bisa demikian? Karena Allah membuat rakyat pada waktu itu patuh dan hormat kepada rajanya, tidak ada protes, tidak ada demontrasi, tidak seperti negara demokrasi saat ini, yang dibangga-banggakan namun tanpa makna keadilan. Tidak ada seorang pun yang protes mengapa harus shalat lima waktu, berpuasa, membayar zakat, bershodaqoh dan memberi makan kaum miskin, ini sebuah contoh bahwa kebahagiaan itu mesti diawali dengan sebuah perintah yang harus ditaati tanpa protes sedikitpun meskipun pahit, laksana obat yang menyembuhkan. Para raja terdahulu pada umumnya mempunyai sahabat dan penasihat dalam kehidupan pribadi dan dalam memerintah, yakni seorang syaikh sufi, seorang mursyid. Dan ia pun mengamalkan segala perintah sang syaikh dengan melakukan riyadah dan mujahadah tingkat tinggi, sehingga ia pun memperoleh kewalian, dalam istilah tasawuf disebut kewalian kecil (wilayat sugro) atau  kewalian besar (wilayat qubro) serta kewalian malaikat (wilayat malaikah). Sejarah telah mengatakan demikian, dimulai dari dinasti Umayyah, Abbasiyah, Saljuk, Mamluk, sampai Ottoman, dan juga Syaikh Salahudin Al Ayyubi sang penakluk perang salib, semuanya raja-raja atau sultan ini mempunyai penasihat seorang syaikh sufi, lalu mengapa para penguasa saat ini malu mengambil contoh sejarah ini, apakah lantaran mereka telah bertitel kesarjanaan, S3, Doktor atau yang lain? Ketahuilah gelar-gelar itu dibuat oleh manusia dan mereka yang membuat persyaratannya, tetapi gelar kewalian, hanya Allah semata yang menghibahkan. Lalu, atau memang Allah yang menghendaki demikian, bahwa para penguasa sekarang ini dijauhkan dari para syaikh sufi, dan didekatkan kepada kemewahan dan kebanggaan, agar gunung-gunung mengeluarkan isi perutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para murid tarekat yang sungguh-sungguh didalam riyadhah dan mujahadahnya biasa mendapatkan mimpi berada didalam istana, atau rumah yang letaknya diatas bukit atau gunung, hatinya merasa tenteram dan terlindungi, dirumah itu ia bersuci (berwudlu) dan mendirikan shalat, ada yang bersusah payah dan ada yang mudah, ini sebuah tanda bahwa sang murid akan terbebaskan dari ikatan-ikatan duniawi dan meningkat keadaan spiritualnya. Itulah bukti kasih saying dan keridhaan seorang Syaikh kepada muridnya yang Allah pun ridha kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang waras akan merasa tenang saat memandang gunung, lalu ia memuji Tuhan, sebagaimana ia merasa tenang saat memandang keindahan keadaan spiritual (robithoh) seorang syaikh sufi, segala sesuatu menjadi hilang yang diingat hanya Allah semata.&lt;br /&gt;Apapun perilaku gunung, diamnya, gerak dan letusannya pastilah memberikan manfaat kepada alam sekitarnya, meskipun orang awam akan menyebut 'bencana' bila gunung meletus. Bencana apa? Bukankah alam sekitarnya akan menjadi subur dikemudian hari? Bebatuan, pasir dan mineral lainnya juga bermanfaat bagi makhluk? Jadi jelas! orang yang jauh dari keridhaan Tuhan akan memandangnya sebagai bencana dan sebaliknya orang yang mendapatkan keridhaan Tuhan akan tertancap sebuah keyaqinan bahwa Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, semua yang diperbuatnya akan bermanfaat bagi ciptaannya. Akan tetapi hukum syariat mengatakan bahwa berbagi harta, tenaga dan pikiran bagi makhluk yang terkena dampak letusan adalah wajib hukumnya, inipun terhampar manfaat yang begitu tinggi bagi orang-orang yang hidup pada masa letusan dan dapat memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua, amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-3568749516860991867?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/3568749516860991867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/11/gunung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3568749516860991867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3568749516860991867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/11/gunung.html' title='GUNUNG'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-8463357514859724697</id><published>2010-10-29T18:38:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T22:41:24.347-08:00</updated><title type='text'>DUNIA</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian pada Jum’at malam tanggal 29 Oktober 2010 berkenaan dengan Zuhud, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Zuhud adalah hampa-nya hati dari dunia.’&lt;/span&gt; Terkadang beliau mengatakan bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Zuhud adalah memusuhi dunia,’&lt;/span&gt; Wejangan ini sungguh apik dan butuh penjelasan, karena tasawuf adalah ilmu tahapan. Yang pertama adalah akhir dari perjalanan zuhud sedangkan yang kedua adalah awal zuhud. Orang yang memusuhi dunia adalah orang yang sedang berperang (muthasowif) sedangkan orang yang hatinya hampa dari dunia adalah orang yang telah sampai (Sufi). Awal zuhud adalah perjuangan memusuhi kesenangan dan meninggalkan keinginan, sedangkan pada akhirnya berserah setelah jalan panjang perjuangan. Orang awam sering berpendapat bahwa dunia adalah harta benda, pendapat ini tidak salah namun tidak tepat, karena dunia adalah segala macam kehidupan yang dapat melalaikan seseorang dari Tuhan, merusak tauhid, yang didalamnya ada sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan dan diraba, hakikatnya semual hal yang menyenangkan jiwa. Orang dari suku jawa sering mengatakan,berhati-hatilah terhadap harta, wanita dan tahta, tidak perlu dikejar-kejar, karena setiap manusia mesti mendapatkan bagiannya masing-masing dan tidak akan tertukar. Harta dan wanita dapat dilihat dan dirasa dan sungguh sangat jelas merupakan makanan favorit jiwa, sedangkan kedudukan atau jabatan atau tahta merupakan ujung daripada kebanggaan jiwa, karena ‘tahta’ bisa memicu dan membangunkan jiwa binatang buas pada diri seseorang, serta mengundang syaithon untuk memicunya, alhasil dengan banyak berangan-angan tentang tahta membuat manusia menjadi kalap dan mengejarnya tanpa menghiraukan norma-norma. Jika sudah demikian, syaithon menjadi pembimbingnya dengan cara terang-terangan dan juga tersembunyi (halus). Orang yang mabuk jabatan bagaikan serigala yang berbulu domba, ia berpura-pura menyelamatkan perusahaan atau negara padahal ia merampok. Jabatan atau tahta yang dimaksud disini bukan saja yang berkenaan dengan kedudukan pada swasta atau pemerintahan melainkan juga keagamaan. Didalam Al Qur’an terdapat banyak dijumpai kata dunia yang selalu dipadukan dengan akhirat, sedangkan bumi dengan langit, oleh karenanya dunia itu mencangkup bumi dan langit beserta isinya. Ada ayat Al Qur'an mengatakan bahwa dunia itu melalaikan, dunia itu hanyalah permainan belaka, dan ada juga dikatakan bahwa manusia harus mengambil bagiannya di dunia itu, maksudnya adalah sesuai peran kehidupannya. Jadi dunia ini melibatkan jawarih manusia dan juga jiwa. Nah membenci dunia letaknya ada pada jiwa, oleh karena itu orang yang kaya raya, mempunyai istri-istri yang cantik dan anak yang banyak boleh jadi ia seorang yang zuhud (zahid), dan sebaliknya orang yang tidak mempunyai harta benda malah sangat mencintai dunia (hubbud dunya). Oleh sebab itu ukuran zuhud bukan pada harta, wanita dan kedudukan, bukan pada dunia, melainkan pada keadaan jiwa ini, apakah ia selalu dalam keadaan meninggalkan kesenangan dan keinginan. Oleh karenanya didalam dunia kesufian zuhud pada awalnya adalah sebuah upaya memusuhi dunia dan pada akhirnya hampa-nya hati terhadap dunia, jadi jelas sekali tahapannya, bahwa memusuhi dunia adalah tindakan manusia sedangkan penghapusan dunia dari hati atau menjadi hampa adalah tindakan Tuhan, sehingga pada awalnya zuhud termasuk dalam kategori maqom dan pada akhirnya zuhud adalah ‘hal’, yakni sesuatu yang pada awalnya diupayakan dengan jalan riyadhah dan mujahadah atau dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah, dan pada akhirnya merupakan keberserahan, sehingga Allah mengkaruniai musyahadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara dunia dengan jiwa begitu mesra, Syaikh Maulana Jalaluddin Rumi,ra., menuturkan kisah yang sangat apik dalam bentuk prosa, dalam kisah ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wanita&lt;/span&gt; melambangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dunia&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pohon pir&lt;/span&gt; melambangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jiwa&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;suami&lt;/span&gt; melambangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ruh&lt;/span&gt;. Seorang wanita dalam perjalanan dengan suaminya bertemu dengan kekasih lamanya yang sedang duduk dibawah pohon pir, timbulah keinginannya untuk bercumbu dengannya. Wanita itu dapat berpikir dengan cepat dan berkata kepada sumainya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sayang, aku ingin memanjat pohon pir untuk mengambil buahnya.”&lt;/span&gt; Suaminya mengangguk tanda setuju, lalu ia memanjat dan sesampainya diatas ia berteriak kepada suaminya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sayang, apa yang sedang engkau lakukan?’&lt;/span&gt; ‘Saya sedang tidak melakukan apa-apa.’ Jawab sang suami. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jangan membohongi aku, engkau sedang bercumbuan dengan seorang wanita’&lt;/span&gt; Teriak istrinya. Bercumbuan? Tidak! Tidak ada wanita dibawah sini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ya sudah aku akan turun dan membuktikannya sendiri.’&lt;/span&gt; Setelah turun ia meminta suaminya memanjat pohon pir untuk mengambil buah yang tidak jadi diambilnya. Begitu sang suami berada diatas pohon, wanita itu mulai bercumbuan dengan pacarnya. Sang suami berang ‘Apa yang sedang engkau lakukan, mengapa engkau bercumbuan?’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bercumbuan? Tidak! Saya tidak bercumbuan, sepertinya berada diatas pohon itu menjadikan kita melihat yang bukan-bukan. Tadi, akupun demikian, melihat engkau sedang bercumbuan dengan seseorang, padahal engkau tidak melakukan apa-apa.’&lt;/span&gt; Iya , .. ya Jawab sang suami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah diatas begitu hebat, dunia (wanita) dan pohon (jiwa) bersekongkol mengelabui sang suami (Ruh). Dwmikianlah yang terjadi pada setiap waktu didalam diri manusia, suami (ruh) selalu mengajak kepada kebaikan namun sang istri (jiwa) selalu membelotnya dan mengajak kepada kejahatan, dan Tuhan memang sengaja menciptakan sarananya, yakni dunia. Oleh sebab itu tanpa pertolongan Tuhan, manusia tidak akan mampu berjalan sesuai tuntunan agama, karena dunia dicipta memang demikian adanya yang selalu berselingkuh dengan jiwa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai dunia mempunyai tingkatan-tingkatan, dari yang mudah dikenali sampai yang sangat sulit dikenali. Namun sungguh jelas, hampir semua orang mencintai dunia, terbiasa menikmati kesenangan dan terjebak kepada keinginan-keinginan, dari kalangan awam sampai dengan orang yang mengurus agama. Jadi bohong belaka orang yang mengaku zuhud, tetapi masih banyak keinginan dan menikmati kesenangan serta khawatir akan masa mendatang. Seorang salik mengiringi Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pergi haji dengan cara ifrad bukan tamattu, sang murid bertanya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Mengapa kita harus ber-ifrad Syaikh bukan tamattu?’&lt;/span&gt; Beliau menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Karena arti daripada tamattu adalah bersenang-senang. Pergi haji bukan untuk bersenang-senang melainkan meninggalkannya dan berlapar-lapar agar beroleh musyahadah.’&lt;/span&gt; Nah, jika bukan seorang syaikh, sulit bagi seseorang bisa berhaji meskipun ia pergi haji, bila dihadapannya selalu ada fasilitas yang mewah dan makanan yang enak-enak. Orang yang hatinya telah hampa dari dunia (para syaikh sufi) tidak akan terpikat oleh hal-hal demikian, sedangkan orang yang sedang berjuang memusuhi dunia (mutashowif), kebanyakan bertekut lutut karenanya. Sebagai suri tauladan daripada zuhud adalah baginda Rasulullah,saw., meskipun hak ghonimahnya (rampasan perang) begitu besar, beliau,saw., tidak pernah menikmatinya dan selalu membagikan kepada umatnya yang membutuhkan, dan bahkan beliau,saw., selama hidupnya tidur diatas pelepah kurma dan makan seadanya saja, bukankah ini zuhud, yakni hampa-nya hati dari dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia memang sengaja diciptakan oleh-Nya untuk menjadi hijab, bila seseorang memusuhi dunia (zuhud), meninggalkan kesenangan dan menekan keinginan maka dunia terangkat dari hadapannya, yang ‘dilihat’ olehnya hanyalah Allah semata. Nah, orang yang demikian hatinya menjadi hampa terhadap dunia. Zuhudnya orang awam selalu dikaitkan dengan harta benda dan hal ini sangat mudah dikenali, sedangkan zuhudnya orang yang mengurus agama sulit dikenali, sebagai contoh bahwa ia selalu membicarakan agama dihadapan orang lain, akan tetapi didalam bicaranya itu selalu terkandung sesuatu harapan akan sanjungan-sanjungan, sehingga terjadilah proses pembentukan opini atau istilah sekarang disebut 'pencitraan' bahwa ia adalah orang yang zuhud, orang yang alim, orang yang mempunyai keadaan spiritual yang tinggi. Jadi ada harapan-harapan akan sanjungan, ada keinginan, bicaranya bukan untuk Allah tetapi untuk dirinya, inipun masuk dalam kategori mencintai dunia (hubbud dunya), namun sangatlah halus. Oleh sebab itu banyak para syaikh sufi, melawan atau berpuasa berbicara, serta 'bermusuhan' dengan murid-muridnya, dalam dunia kesufian disebut ‘samad’. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering memberikan isyarat-isyarat bahwa beliau akan melakukan samad ini dan berkata kepada seorang muridnya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bila waktu samad tiba, engkau kuizinkan boleh tinggal bersamaku.’&lt;/span&gt; Sungguh merupakan kebahagiaan bila seorang murid dapat melayani syaikhnya yang sedang samad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah, Syaikh Sufyan ats Tsauri,ra., datang menjenguk Rabi’ah al Adawiyah,ra., : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Wahai Sufyan katakan sesuatu padaku.’&lt;/span&gt; Jika saja engkau mau berdoa untuk kesembuhanmu, niscaya Allah mengabulkan, dan sakitmu pun akan hilang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tidakkah engkau mengetahui siapa yang berkehendak atas penderitaanku ini? Bukankah Allah?&lt;/span&gt; Ya jawab Sufyan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nah engkau mengetahuinya, namun mengapa engkau memintaku untuk memohon kepada-Nya apa yang bertentangan dengan kehendak-Nya? Tidaklah benar menentang kehendak Sahabat&lt;/span&gt;. Lalu apa yang engkau inginkan, wahai Rabi’ah? Tanya Sufyan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sufyan, engkau adalah seorang yang terpelajar. Mengapa engkau berbicara seperti itu? Apa yang kau inginkan? Demi kemuliaan Allah, selama dua belas tahun aku mengidamkan kurma. Engkau pun tahu bahwa di Basrah, kurma berlimpah dan mudah didapat. Namun hingga saat ini aku belum memakan satu butir pun, karena aku adalah hamba-Nya, dan apa urusan hamba dengan keinginan? Jika aku ingin, namun Tuanku tidak ingin, ini adalah ketidaksetiaan. Untuk menjadi hamba Allah yang sejati, engkau seharusnya hanya menginginkan apa yang diinginkan-Nya. Jika Allah sendiri yang memberi, itu lain persoalan.&lt;/span&gt; Sufyan pun terdiam sejenak, kemudian ia berkata ‘Karena tak seorang pun dapat menilai keadaanmu, katakanlah sesuatu mengenai keadaanku.’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Engkau adalah adalah orang yang baik, namun kenyataanya engkau mencintai dunia! Buktinya engkau cinta meriwayatkan hadis-hadis.’&lt;/span&gt; Ya Allah pekik Sufyan, ridhalah kepadaku! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tidaklah engkau malu, tukas Rabi’ah, ‘memohon keridhaan yang engkau sendiri tidak ridha kepada-Nya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama terkemuka di Basrah mengunjungi Rabi’ah,ra., ia duduk disisi bantal, ulama itu mulai mencaci maki dunia. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Anda sangat mencintai dunia!’&lt;/span&gt; komentar Rabi’ah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jika ada tidak mencintai dunia, maka anda tidak akan begitu banyak menyebut-nyebutnya. Pembelilah yang selalu merendahkan nilai barang. Jika anda sudah putus hubungan dengan dunia, maka anda tidak akan menyebut-nyebutnya, pepatah mengatakan bahwa siapa yang mencintai sesuatu, ia akan sering menyebut-nyebutnya.’&lt;/span&gt; Nah sekarang kita bisa melihat acara keagamaan yang sering muncul di tv, ada yang selalu menyebut-nyebut shodaqoh, harta benda, dan malah kalau sudah bicara agama seperti mabuk yang tidak dapat menyetop bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah diatas sungguh amat elok, dihadapan Rabi’ah,ra., ulama-ulama yang agung pun terlihat sisa kecintaannya terhadap dunia, meskipun para santrinya mengatakan bahwa mereka adalah zahid pada masanya, lalu bagaimana dengan kita para sahabat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita, amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-8463357514859724697?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/8463357514859724697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/10/dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8463357514859724697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8463357514859724697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/10/dunia.html' title='DUNIA'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7050169977239831720</id><published>2010-09-29T07:17:00.000-07:00</published><updated>2010-10-06T17:31:29.851-07:00</updated><title type='text'>WAKTU (WAQT)</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Aku punya waktu (waqt) dengan Allah, dimana para malaikat atau para nabi tidak ada yang menandingiku.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah waqt (waktu) bagi orang-orang yang berjalan dalam kesucian (muthashowif) sangat masyhur, berbeda maknanya dengan isilah waktu pada umumnya. Sabda Rasulullah,saw., : &lt;em&gt;'Aku punya waktu (waqt)dengan Allah,'&lt;/em&gt; dijadikan rujukan oleh para syaikh sufi bahwa lamanya kebersamaan dengan Allah disebut &lt;em&gt;waktu (waqt)&lt;/em&gt;. Namun jika dilihat secara umum, waktu merupakan ukuran sesuatu yang tidak memiliki wujud nyata, melainkan hanya asumsi. Untuk menentukan waktu, tancapkan sebatang kayu diatas tanah secara tegak lurus, dan bayangannya diberi tanda. Jika bayangannya bergerak dan menghilang diwaktu gelap, lalu muncul kembali diwaktu terang dan jatuh persis ditempat yang sama, berarti telah berputar satu kali, maka putaran satu kali itu disebut satu hari. Terlihat seolah-olah waktu itu berputar, padahal tidak demikian, yang berputar adalah zaman sebagaimana sabda Rasulullah,saw., : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Zaman berputar sebagaimana keadaannya pada saat Allah menciptakannya.’&lt;/span&gt; Dan : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Allah meciptakannya dalam bentuk lingkaran, dan waktu-waktu didalamnya ditentukan kadarnya.’ &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan kayu tadi berasal dari cahaya matahari, oleh karenanya alat bantu yang digunakan untuk menentukan waktu adalah matahari dan bumi. Matahari terbit dipagi hari, seolah-olah ia muncul dari balik tabir bumi. Tempat terbit matahari itu dinamakan &lt;em&gt;masyriq (timur)&lt;/em&gt; dan terbitnya orbit tersebut dinamakan &lt;em&gt;syuruq&lt;/em&gt;. Lalu bila diikuti gerakan matahari hingga ke pertengahannya, maka pertengahan tersebut dinamakan &lt;em&gt;istiwa&lt;/em&gt;. Kemudian, matahari itu mulai turun dari istiwa-nya mengambil arah kanan, bukan arah kanan dari matahari. Awal gerakan menjauh dari istiwa, dinamakan &lt;em&gt;zawal (tergelincir).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, jika matahari itu terus bergerak hingga hilang. Proses hilangnya itu dinamakan &lt;em&gt;ghurub (terbenam). &lt;/em&gt;Tempat dimana ia hilang dari pandangan dinamakan &lt;em&gt;maghrib (barat)&lt;/em&gt; dan angkasa menjadi gelap. Lama terangnya angkasa dari tempat terbit matahari &lt;em&gt;(masyriq)&lt;/em&gt; ketempat terbenamnya &lt;em&gt;(maghrib)&lt;/em&gt; disebut &lt;em&gt;siang (nahar). &lt;/em&gt;Sedangkan masa kegelapan sejak matahari terbenam hingga terbitnya kembali, dinamakan &lt;em&gt;malam&lt;/em&gt;. Dengan demikian, hari merupakan gabungan malam dan siang. Jarak pergeseran antara tempat-tempat terbit matahari setiap hari itu disebut &lt;em&gt;ekliptika.&lt;/em&gt;  Begitulah seterusnya sehingga bisa ditentukan dengan asumsi-asumsi tadi yang disebut dengan hari, bulan dan tahun. Dengan demikian, jelas bahwa malam, siang, hari, bulan dan tahun inilah yang disebut waktu. Lalu dengan kemajuan teknologi waktu dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang dinamakan jam, menit, detik dan seterusnya. Semua itu tidak memiliki wujud dalam entitasnya dan bersifat relative. Yang berwujud hanyalah entitas matahari dan bumi, bukan entitas waktu dan zaman. Sehingga terlihat dengan jelas bahwa zaman adalah perkara abstrak yang padanya waktu-waktu itu diasumsikan, Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.' (QS 017 : 12)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia kesufian yang dimaksud dengan waktu adalah saat dimana seseorang merasa bersama dengan Tuhannya, persis sebagaimana yang dikatakan Sayyidina Ali,ra., bahwa :&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘Waktu adalah pedang.’ &lt;/span&gt;Karena fungsi pedang adalah untuk memotong, dan waqt memotong akar masa lalu dan masa mendatang serta menghapus dari hati perhatian tentang hari kemarin dan hari esok. Karena jika seseorang memikirkan masa lampau atau hari esok, ia akan ditabiri dari Tuhan, dan tabir adalah suatu penyimpangan yang besar. Seorang murid bercerita kepada gurunya, Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) bahwa ia mengalami keadaan dimana ia merasa berbahagia sepanjang hari, tanpa terpikirkan olehnya yang lain kecuali Allah SWT. Syaikh menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Alhamdulillah Semoga Allah selalu menghujani rahmat kepadamu dan sahabat beserta keluarga dengan Rahmaan dan Rahiim-Nya, semoga juga menaikkan darojat kita semua.’&lt;/span&gt; Bisa dikatakan sang murid dalam keadaan mendapatkan atau dalam istilah tasawufnya disebut &lt;em&gt;'wajd'&lt;/em&gt; dan merasa berada dalam persatuan dengan Tuhan, manakala keadaan itu berakhir, ia tidak akan mampu meraihnya kembali, lalu ia bersedih karenanya. Oleh sebab persatuan dan keterpisahan dimaujudkan oleh Tuhan tanpa kehendak atau upayanya sendiri. Sebagaimana Yaqub,as., ia sedih lantaran keterpisahan dan menjadikannya buta, lalu persatuan membuat ia bahagia dan dapat melihat kembali. Dalam hal ini Yaqub,as., adalah pemilik waktu (waqt). Salah satu tanda kebersatuan adalah hilangnya kehendak, dan bilamana ia berkehendak kembali maka itu tanda ia dalam keadaan keterpisahan. Waqt adalah masa kebersatuan dengan-Nya, oleh karenanya waqt adalah sesuatu yang berada diluar lingkup usaha manusia. Meskipun demikian, Syaikh Waasi' Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mendidik murid-muridnya yang terpilih, agar bila malam tiba, mewarnai jiwanya dengan menghadirkan rasa-rasa bahwa seolah-olah ia sedang merindukan dan mencintai-Nya (syauq wa mahabbah), merasa hening hanya ada dirinya dan Tuhan saja (da'im), merasa diawasi oleh-Nya dari semua arah (aqrobiyah), merasa senang dengan semua tindakan-Nya terhadap dirinya dan merasa bersama-sama serta diliput oleh-Nya (mai'yah). Nah tindakan menghadirkan rasa itu dinamakan ‘muroqobah’, dan bila sang murid mujur, ia akan merasakan kehadiran (hudhur) dan kebersamaaan (ma'i) dengan Tuhan, lamanya perolehan rasa-rasa inilah yang dinamakan waqt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terkadang turun menghias waqt, ini kondisi yang hebat yang dialami oleh seorang pejalan, dimana hal memperindah waqt, sebagaimana bintang menghias langit atau seperti ruh meliput badan, keduanya datang dari Allah SWT kepada orang yang dipilihnya. Bila mengalami keadaan yang demikian, rasa sedih dan gembira akan tersingkirkan dari dalam hati, baginya yang terlihat hanyalah Allah semata, sebagaimana Ibrahim,as., yang mengatakan : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku tidak suka pada mereka yang terbenam.’&lt;/span&gt; Apa-apa yang dilihatnya hanyalah Wajah Allah semata, ciptaan hanyalah menjadi alat bantu dalam mewujudkan hal-nya. Jadi jelas sekali bahwa waqt adalah derajat dari para murid (yang menginginkan), sedangkan hal adalah sifat dari objek yang diinginkan (murad). Yang pertama menandakan seseorang bersama dengan dirinya sendiri dalam kesenangan waqt, sedangkan yang kedua dengan Tuhan dalam kelezatan hal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7050169977239831720?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7050169977239831720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/09/waktu-waqt.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7050169977239831720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7050169977239831720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/09/waktu-waqt.html' title='WAKTU (WAQT)'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7413691408680064382</id><published>2010-07-31T02:42:00.000-07:00</published><updated>2010-08-13T20:05:38.290-07:00</updated><title type='text'>KEBIJAKSANAAN</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian Jum’at malam menyinggung tentang kebijaksanaan Lukmanul Hakim,as., yang begitu hebatnya, khususnya tentang khauf (takut) dan raja (harap). Karena hal ini telah dibicarakan pada bagian terdahulu, maka kita simak saja sebuah kisah yang lain, yang tidak kalah bagusnya, yang dikutip dari kitab mastnawi karya Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,qs.: Gurunya sejak lama sudah mengetahui bahwa kesadaran muridnya yang satu ini jauh lebih unggul daripada kesadaran dirinya. Seringkali, sang guru pun menyuruhnya untuk berbicara didepan murid-murid yang lain disaat pengajian tiba, dan juga mengambil alih peran sebagai Syaikh atau sebagai Guru, manakala Sang Guru berada jauh diluar kota, dengan berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Luqman, tempat ini sepantasnya engkau duduki, biarkan aku melayanimu.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terpikirkan oleh Luqman,as., apalagi mengharapkan untuk menjadi seorang syaikh, apalagi guru, karena ia menyadari bahwa untuk memimpin dirinya sendiri tidaklah mudah, apalagi memimpin orang lain. Oleh karenanya, ia tetap memasang kewaspadaan yang tinggi dan tidak terkecoh, serta tidak tergoda oleh tawaran sang mursyid dan tetap melayaninya. Pada suatu hari, Sang Guru mendapatkan kiriman buah melon. Lalu dipotongnya sendiri buah itu, dan setiap potongan diberikannya kepada Luqman. Luqman pun memakannya, sambil memuji rasa buah itu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sungguh manis, seperti madu,’&lt;/span&gt; sampai dia menghabiskan tujuh belas potong. Tinggalah sepotong lagi, maka timbul keinginan dalam diri Sang Guru untuk mencicipinya. Ketika dimasukkan kedalam mulutnya, dia baru tahu betapa asamnya buah itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘luqman, buah se-asam ini engkau puji, dan engkau katakan bahwa manisnya seperti madu?&lt;/span&gt; Begitulah Sang Mursyid menegur muridnya. Luqman,as., menundukkan kepalanya dan berkata :  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Maafkan aku guru, aku tidak ingin guru memakan melon yang asam itu, maka aku bermaksud menghabiskannya sendiri. Karena dalam kehidupan ini, sudah cukup banyak manisan yang kuperoleh dari tanganmu. Baru pertama kali ini, engkau memberikan buah yang asam, apakah aku harus menolaknya? Lagipula, buah yang asam itu sudah tersentuh oleh tanganmu yang manis, yang engkau potong dengan pisau kasih sayangmu. Tidak guru! Aku tidak akan pernah menolak pemberianmu.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah cinta, buah asam terasa manis karena cinta. Jarum usang berubah menjadi emas karena cinta. Jiwa yang kotor menjadi bersih juga karena cinta. Orang yang cacat kesadarannya tidak akan pernah merasakan manisnya cinta. Tidak pernah bisa membedakan apa yang disukai dan dibenci oleh yang dicinta. Mereka yang buta dari cinta, secara lahiriyah terlihat selalu bersama dengan yang dicinta, namun untuk melayani dirinya bukan melayani yang dicinta. Cinta hanyalah bagi orang-orang yang telah berhasil membunuh dirinya, yang hidup dalam diri yang dicinta. Untuk mengenal cinta dibutuhkan kesadaran yang tinggi. Dibutuhkan rahmat dari Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7413691408680064382?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7413691408680064382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/07/kebijaksanaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7413691408680064382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7413691408680064382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/07/kebijaksanaan.html' title='KEBIJAKSANAAN'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-5182973537217650941</id><published>2010-07-30T19:21:00.000-07:00</published><updated>2010-08-01T01:58:37.815-07:00</updated><title type='text'>YAQIN</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;'Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.' (QS 015 : 99)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan merupakan buah dari menanam bibit kepatuhan. Selagi berupa bibit dan tanpa adanya pengetahuan (‘ilm) tentang pohon dan buahnya, seseorang belum yaqin apakah bibit yang akan ditanam akan tumbuh seperti pohon yang dimaksud dan menghasilkan buah yang diinginkan. Sebagaimana ayat diatas, adalah sebuah perintah untuk menyembah Tuhan sampai datang sebuah keyaqinan, bahwa yang disembah adalah Tuhan yang dimaksud. Jadi hubungan antara tindakan kepatuhan dan keyaqinan, seperti hubungan badan dengan ruh, menjadi hidup dan tidak bisa dipisahkan. Oleh karenanya, pertolongan (tawfiq)dan petunjuk Tuhan (hidayah) menjadi faktor utama bagi seseorang untuk menuju kepatuhan,  sedangkan perolehan keyaqinan adalah murni tindakan Tuhan. Jadi, mustahil mengenal Tuhan tanpa melalui tindak kepatuhan atas segala yang diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan diatas, dapat diketahui bahwa yang bisa membebaskan seseorang dari keraguan dan kegelisahan, adalah keyaqinan. Tanpa keyaqinan, bibit tidak akan ditanam. Pengetahuan (‘ilm) adalah keyaqinan kepada realitas objek yang diketahui. Oleh karenanya, bilamana pengetahuan diperoleh, yang tersembunyi menjadi seperti yang terlihat sesungguhnya. Maka, seseorang akan melihat pohon dan buahnya dikemudian hari, sebagaimana ia mengetahuinya melalui pengetahuan (‘ilm) saat sekarang. Jika tidak, maka, pengetahuannya tentang objek yang dimaksud keliru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang dilihat dari perspektif yang berbeda, agar kita semua dapat memahami yang dimaksud dengan  keyakinan di dunia kesufian. Jika ayat diatas merupakan perintah untuk menyembah Tuhan agar diperoleh keyaqinan, maka keyaqinan mempunyai tingkatan dan tahapan. Karena menyembah Tuhan diwajibkan bagi orang Islam selama ia hidup dan tidak gila, maka begitu pula keyaqinan yang akan ia peroleh berjenjang-jenjang pula. &lt;br /&gt;Semua orang sepakat untuk tidak meragukan keberadaan matahari, karena tiga alasan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pertama,&lt;/span&gt; beroleh petunjuk oleh sebab kecemerlangan cahayanya dan dapat merasakan kehangatannya, dalam istilah tasawuf disebut dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘ilm al-yaqin,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; sehingga ia diketahui, dibuktikan dan tampak jelas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, melihat wujud matahari, dan inilah yang disebut dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘ayn al-yaqin.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; memancarkan cahaya mata dalam cahaya matahari, dan inilah yang disebut &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;haqq al-yaqin,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dengan demikian, penglihatan menjadi mata dan mata menjadi penglihatan. Jadi, dapat dianalogikan bahwa keyakinan ibarat pohon, akarnya adalah ‘ilm al-yaqin dan cabang-cabang dalam keyakinan adalah ‘ayn al-yaqin dan haqq al-yaqin. Nah, tanpa akar tidak mungkin ada cabang, demikian pula tanpa ‘ilm al-yaqin tidak akan ada ‘ayn al-yaqin dan haqq al-yaqin. Akar pada umumnya tersembunyi didalam tanah, sebagaimana cahaya hakikat yang tersembunyi dari sifat-sifat kemanusiaan. Begitu akar atau cahaya hakikat terungkapkan, melalui peniadaan sifat-sifat kemanusiaan, dengan melakukan tindak riyadhah dan mujahadah yang gigih, maka akan diperoleh ‘wajd’ dan dirinya diliputi oleh rasa kegembiraan, itulah yang disebut &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘ilm al-yaqin.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bukti keterungkapannya berupa ‘wajd’ atau keterpesonaan atau ekstase, dan bukan dengan bimbingan akal dan pengetahuan dari membaca dan mendengar saja. Begitu pula ‘ayn al-yaqin niscaya bisa diperoleh melalui perenungan (kontemplasi), sedangkan haqq al-yaqin melalui meditasi (muroqobah). Bimbingan akal dan pengetahuan dari membaca dan mendengar tidak akan pernah menimbulkan ‘rasa’. Sebagaimana orang yang percaya adanya matahari namun tidak pernah merasakan cahaya kehangatan dan kecemerlangannya, sehingga tidak menjadi petunjuk (huda) baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Hujwiri,ra., berkata bahwa yang dimaksud oleh kaum sufi dengan ‘ilm al-yaqin adalah pengetahuan tentang praktik keagamaan di dunia ini yang sesuai dengan perintah-perintah Tuhan. Dan yang mereka maksud dengan ‘ayn al-yaqin adalah pengetahuan tentang  keadaan menjelang mati dan saat meninggalkan dunia ini. Sedang yang mereka maksud dengan haqq al-yaqin adalah pengetahuan intuitif tentang penglihatan (akan Allah) yang akan ditampakkan di surga, dan tentang sifat alamiahnya. Nah, ketiganya merupakan ‘pengetahuan’ yang dapat dirasakan oleh seseorang pada saat ini atas sesuatu yang bagi orang lain masih merupakan cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya keimanan bisa saja melekat pada semua orang mukmin, akan tetapi keyaqinan hanya milik orang mukmin tertentu saja. Karena, ‘ilm al-yaqin adalah ilmu tentang ‘hal’, bukan apa yang bisa diketahui melalui bukti yang kuat saja. Kegelapan keraguan tidak bisa sekaligus dihilangkan, kecuali dengan terbitnya matahari hakikat. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allah SWT berfirman : 'Jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin ('ilm al-yaqin), niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. (QS 102 : 5-7)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-5182973537217650941?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/5182973537217650941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/07/yaqin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5182973537217650941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5182973537217650941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/07/yaqin.html' title='YAQIN'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-1841833166461223171</id><published>2010-07-13T18:32:00.000-07:00</published><updated>2010-07-15T15:55:36.391-07:00</updated><title type='text'>ADAB DI KHOLAQOH DZIKIR</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik berkata : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Syaikh sering memberikan perumpamaan kepada orang yang kepalanya dipenuhi oleh pengetahuan yang diperoleh dari panca indera, namun tidak di-amal-kan, dengan sebutan ‘berat kedepan’ atau dalam bahasa sunda disebut ‘berat keharep’.”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ini sebuah contoh bahwa para salik begitu sangat mencintai syaikhnya, karena tanda cinta adalah mengingat dan menyebut-nyebut namanya secara terus menerus, menyitir pembicaraannya, meniru dan membicarakan perilakunya. Dijadikannya syaikh sebagai suri tauladan dalam mengarungi kehidupan ini. Mabuk cinta kepada syaiknya lebih hebat ketimbang mabuk yang lain. Mabuk mungkin saja bisa terjadi hanya beberapa saat, tetapi mabuk anggur cinta terjadi disetiap saat, disetiap tarikan nafas, jadi wajar saja bila Hakim Sanai mengatakan bahwa : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Dimana ada anggur yang memabukkan, beradalah selalu disana.’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang diperoleh lewat panca indra (jawarih) hanya menjadi beban, persis seperti seekor keledai yang mengangkat setumpuk buku, sangat berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘pengamalan’,&lt;/span&gt; yang justru bisa meringankan beban, yang bisa membantu dan meningkatkan kesadaran dan membangkitkan rasa takut kepada Allah SWT. Pengetahuan yang tidak berasal dari pengamalan diri, tidak akan membebaskan dari keangkuhan dan keinginan yang tak kunjung habis, serta tidak akan menimbulkan rasa takut kepada Allah SWT. Sebagaimana cat air yang cepat luntur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesaat sebelum dimulainya dzikir bersama, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) selalu berkata : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Pada saat menyebut kalimat ‘Laa Ilaaha Illallaah’, lupakan yang lain dan hanya mengingat Dzat Allah semata.” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Karena himbauan dari beliau ini selalu diucap, jadi mudah dilupakan, tidak dikaji makna terdalamnya, nyaris semua salik ingin cepat-cepat berdzikir, karena didalamnya ada irama dan nada yang menghentak jiwa, buktinya disaat menggerakan kepala, badan jadi turut serta bergerak, persis seperti orang yang sedang menikmati sajian jiwa. Akan tetapi meskipun mulutnya mengucap ‘Laa Ilaaha Illallaah’ namun pikirannya melayang entah kemana. Hal ini terjadi terus menerus, hampir disetiap kesempatan berdzikir. Padahal ucapannya merupakan ikrarnya kepada Allah, yakni, tidak ada yang lain kecuali Allah, termasuk menghapus pikiran yang lain, dan ingatannya hanya kepada Allah semata, jadi ikrarnya bohong belaka. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Paling tidak jawarihnya menyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah,’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ini bukan pujian tetapi sindirian yang keras, karena himbauan untuk melupakan yang lain dan hanya mengingat Dzat Allah semata tidak dikerjakan. Jika yang dimaksud dengan berdzikir itu hanya menyebut-nyebut kalimat toyibah ini, maka anak-anak pun mampu melakukannya, tetapi jika memenuhi unsur sebagaimana yang mulia syaikh katakan sangat sulit dilakukan. Karena didalamnya anda tiga unsur yang harus dipenuhi, yang pertama menyebut, yang kedua melupakan dan yang ketiga mengingat, inilah kesempurnaan dzikir, inilah pintu makrifat. Barang siapa berdzikir dengan cara ini, niscaya Allah SWT akan menaburinya pengetahuan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kekuatan untuk mengabaikan hawa nafsu dengan segala keinginannya dan menghiasinya dengan akhlak dan adab yang baik menurut akal dan syariat. Hubungan antara murid dengan gurunya menjadi sangat hebat kedekatannya (fana'u syaikh), selayaknya gerbong dengan lokomotifnya, apa-apa yang terlihat oleh lokomotif terlihat juga oleh gerbongnya, ia ridho dibawa kemana saja oleh lokomotifnya, meskipun kadar penglihatan dan perasaan berbeda, tetapi ia berada pada jalur yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melupakan pikiran-pikiran yang membelenggu jiwa adalah pekerjaan yang sangat sulit dilakukan, apalagi mengingat Dzat Allah semata, oleh karenanya ada hadist yang mengatakan bahwa : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Barang siapa menyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah dengan ikhlas, maka surga baginya.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Nabi,saw., juga bersabda :  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Barang siapa meninggal dunia dalam kondisi meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah, niscaya ia masuk surga.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dalam riwayat lain : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Barang siapa meninggal dunia dalam kondisi bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, niscaya ia masuk surga.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Makna kesaksian disini adalah pengetahuan disertai keyakinan. Nah, keyakinan diperoleh dari mengamalkan pengetahuan yang benar seacara istiqomah. Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Keyakinan adalah keseluruhan iman.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik yang sadar akan hal ini, ia akan selalu memohon pertolongan dari Allah SWT agar kualitasnya dzikirnya ditingkatkan, lalu ia menghias dirinya dengan pakaian yang serba putih dan bersih, memakai wewangian, memakai sorban dan kopiah berwana hijau, mandi sunah sebelum memasuki kholaqoh dzikir, berwudlu yang sempurna, tidak bersender pada apapun, mengikatkan hati (robithoh) hanya kepada yang mulia Syaikhuna, dan memasang niat yang tulus, menghadiahkan seluruh fadhilahnya teruntuk kedua orang tua yang masih ada ataupun yang sudah tiada, mematuhi kaifiat yang benar dalam berdzikir. Khususnya disaat disebut nama-nama akhli silsilah, memasang rasa hurmat, karena mereka hadir. Tidak menyalami syaikh ketika dzikir sudah dimulai, dan tidak pula meletakkan minuman dan beras ditengah-tengahnya. Dimanapun diletakkan dan berharap memperoleh barokah dari kholaqoh dzikir niscaya akan sama. Setelah selesai berdzikir, ia pun tidak bersegera makan dan minum, karena dengan makan dan minum natija dzikirnya tidak akan terasakan. Ia akan segera meninggalkan rubat, karena Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) malu mengusir murid-muridnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melupakan pikiran yang sedang berkecamuk meskipun sulit, namun bisa dilakukan, karena tidak mungkin seseorang secara bersamaan memikirkan dua hal yang berbeda, oleh karenanya, untuk menghapus pikiran adalah dengan memikirkan sesuatu yang lain. Seperti bila seseorang sedang memikirkan gunung, lalu dirubahnya memikirkan tentang lautan, maka gunung lenyap dalam pikiran dan lautan memenuhi relung pikirannya. Demikian pula dalam berdzikir, ingatannya harus diarahkan kepada sifat-sifat Tuhan yang tidak terbatas, tidak bermula. Sifat-sifat-Nya senantiasa ada dan tegak bersama-Nya. Tidak mungkin Dia ada tanpa sifat-Nya. Sebaliknya, tidak mungkin sifat-Nya ada tanpa Dzat-Nya. Seluruh sifat Allah adalah sifat ketuhanan dan tidak bisa dikatakan sebagai diri-Nya. Diri-Nya bukanlah sifat-sifat itu dan bukan pula selain-Nya. Allah SWT adalah Esa. Dia tegak berdiri sendiri. Dia tidak membutuhkan yang lain dengan sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat-Nya sejak azali tegak dengan-Nya dan tidak terhingga sesuai dengan sifat-Nya yang tak bermula dan tak terhingga. Dia wajib ada dengan sendirinya. Dia mustahil membutuhkan. Syaikh Ibn Athoillah,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Tauhid adalah kesudahan paling mulia dan paling sempurna. Mengerti tauhid menambah kejelasan dan kesadaran bagi orang yang berzikir, sementara mengamalkan kosekuensi tauhid menambah petunjuk dan taufik bagi orang yang meniti jalan kepada-Nya.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Jalaluddin Rumi,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Janganlah puas dengan hanya mengulangi Nama-Nya. Jika pembebasan yang kau inginkan, minumlah dari cawan Dia. Cukup sudah engkau mengulangi Nama-Nya. Sekarang, temukan Sang Pemilik Nama. Jangan tertipu oleh bayangan bulan. Lihatlah bulan yang ada di atas. Cukup sudah membebani dirimu dengan pengetahuan dari luar. Padahal, pengetahuan para nabi ada didalam dirimu sendiri. Untuk memperolehnya, untuk mengalaminya, engkau tidak membutuhkan buku, melainkan guru.’&lt;/span&gt; Nabi,saw., bersabda, : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Diantara umatku, ada yang bertabiat sama seperti aku. Jiwa mereka melihat aku dalam cahaya yang sama sebagaimana aku melihat mereka.’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian mudah-mudahan bermanfaat bagi para sahabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-1841833166461223171?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/1841833166461223171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/07/adab-di-kholaqoh-dzikir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1841833166461223171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1841833166461223171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/07/adab-di-kholaqoh-dzikir.html' title='ADAB DI KHOLAQOH DZIKIR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-867915774957306962</id><published>2010-07-09T20:37:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T22:12:56.326-07:00</updated><title type='text'>WARNA</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini maupun yang terdahulu dan insya Allah yang akan datang, bila Allah mengkaruniakan kecerdasan, kesehatan jasmani dan rohani, untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi yang membutuhkannya saja, dan yang mendapatkan tawfik untuk meneladaninya, karena Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) telah memerintahkannya untuk menulis. Dengan ketawadhuan yang tak terkira, beliau sendirilah yang melakukan koreksi-koreksi terhadap naskah ini. Oleh sebab itu, semua tulisan ini dimulai dengan Basmallah, sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci al Qur’an, agar penulis dan pembacanya dihindarkan dari rasa bangga bila muncul pujian, rasa kesal bila muncul kritikan, dan agar memperoleh berkah darinya. Karena ilmu adalah cahaya apabila diamalkan dan memberikan cahaya pula kepada yang lain. Dan sebaliknya ilmu menjadi sia-sia bila tidak diamalkan, pemiliknya menjadi senang meracau dan membosakan bagi pendengarnya. Nah, tulisan ini adalah hasil dari mendengar, melihat dan khususnya dalam pengamalan-pengamalan ilmu yang dihibahkan oleh Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), serta dalam pengawasannya secara terus menerus. Inti materi yang penting dalam naskah ini, adalah tentang proses pensucian manusia melalui perjuangan melawan keinginan-keingan diri (nafs), dengan cara dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah, oleh karenanya disajikan secara berulang-ulang dan dalam sudut pandang yang berbeda-beda, namun mempunyai kesamaan makna, sebagaimana ayat-ayat dan cerita-cerita dalam al Qur’an juga demikian, agar selalu mudah diingat dan dimaknai oleh para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas pengajian pada Jum’at malam, seorang salik berkata kepada yang lain : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Tadi, disaat berdzikir, sepintas aku melihat warna kuning meliput diriku.’&lt;/span&gt; Salik yang lain tidak mau kalah dan berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Yaa warnanya kuning yang tiada taranya, tidak ada warna seperti itu di dunia ini, tidak ada bahasa untuk melukiskannya.’&lt;/span&gt; Percakapan sejenis ini sering terdengar dalam pergaulan bertarekat, sesungguhnya percakapan itu ditunggangi harapan, yakni harapan ingin dianggap bahwa dirinya sudah berada pada maqom yang tinggi, padahal tidaklah demikian adanya. Semua terminologi dalam tasawuf yang dicetuskan oleh para masyaikh terdahulu, niscaya dapat diuraikan dan dapat dipahami, bila tidak sia-sialah tujuannya. Tujuan daripada dibuatnya terminologi itu adalah agar para penerusnya dapat memahami tahapan-tahapan dan keadaan-keadaan spiritual yang dialami oleh mursyidnya. Dari yang disebut taubat, sabar, syukur, harap, takut, malu, waktu, ridha, sampai dengan istilah fana, baqo, da’im, aqrob, bersatu, melebur, kesemua terminology ini dapat diuraikan. Demikian pula tentang warna yang muncul didalam perjalanan spiritual, yang hakikatnya menunjukkan keadaan spiritual sang pejalan, bukan secara harfiah menjelaskan tentang warna-warninya. Keadaan yang demikian, tidak saja hinggap kepada murid yang baru, melainkan kepada murid lama sekalipun, karena kecerobohannya dan tidak memasang kewaspadaan dalam perjalanannya, penyakit hati ini memang sulit ditundukkan. Penghuni-penghuni sejati alam dunia ini, selalu beranggapan dirinya lebih baik dari orang lain, padahal mereka baru saja selepas mengaji, yang bertujuan untuk membersihkan hati dari kotoran-kotorannya, agar ia merasa makhluk yang hina, yang tidak lebih baik dari apapun, agar dirinya ‘fana’, sungguh ironis memang. Seorang salik yang baik, selalu sibuk menghias batinnya, bukan lahirnya dengan pakaian yang bagus-bagus atau hal lain, orang yang sibuk menghias batinnya, niscaya lupa menghias lahirnya, meskipun tidak ada larangan memakai sesuatu yang indah-indah, karena Allah itu Indah dan mencintai yang indah. Seorang syaikh yang agung berpakaian mewah disaat menjelang ajalnya, selebihnya dihari-hari lain ia berpakaian sederhana saja. Kisah-kisah diatas sangat menyedihkan, karena manusia dipandang lebih tinggi daripada semua entitas lain yang diciptakan. Binatang dan tumbuh-tumbuhan, maupun malaikat dan jin, tidak dianggap sempurna, karena mereka gagal menyatukan dalam diri mereka unsur-unsur wujud yang lebih tinggi dan yang lebih rendah. Kedudukan manusia yang mulia itu berasal dari komposisi unsur-unsur alam fisik dan alam spiritual, atau alam syahadah dan alam ghaib. Ini menyiratkan bahwa manusia merupakan gabungan dari seluruh tingkat manifestasi Tuhan, dan karena itu diciptakan menurut citra Tuhan sebagaimana disebutkan didalam sabda Nabi Muhammad,saw., : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut citra-Nya.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun penciptaan Nabiyullah Adam,as., menurut citra-Nya yang sempurna, bukan berarti wujud manusia dikaruniai dengan sifat-sifat Tuhan, karena sifat Tuhan tidak bisa dibagi-bagi, ia maujud didalam esensi-Nya, tetapi hanya menganugerahkan atau menciptakannya didalam diri manusia sifat-sifat mulia. Sebagaimana sifat-sifat-Nya yang terpantul didalam cermin yang dihibahkan kepada manusia, yang mempunyai kemampuan memikul amanat suci yang terdiri atas pengetahuan tentang esensi Tuhan. Tubuh manusia bertindak sebagai batas, yang dengannya hakikat misteri yang lebih tinggi nan bercahaya, dibedakan dari unsur dan energi yang lebih rendah nan gelap. Dan yang lebih penting, tubuh manusia berperan sebagai tujuan dalam penyatuan dua kategori kekuatan ini. Agar manusia selalu berada pada dua entitas yang saling tarik menarik, inilah uniknya manusia itu. Meskipun, diawalnya manusia berada pada tingkat kesempurnaan dan berada pada alam yang tinggi, tiba-tiba ia harus berada pada tempat yang serendah-rendahnya, dan ia harus mendakinya kembali selama ia hidup di alam dunia ini. Nah dalam pendakian inilah, para pejalan berjumpa dengan warna-warni yang mewakili keberhasilannya dalam keteguhannya melakukan riyadhah dan mujahadah, yang dilihat bukan oleh mata inderawinya melainkan mata hatinya, dan di alam spiritual bukan alam syahadah. Sebagaimana orang-orang islam yang ingin mendekati Kabah, sebagian ada yang menyadarinya dan sebagian lagi tidak, bahwasannya mereka melalui pintu-pintu di Masjidil Haram yang ditandai dengan warna-warna yang berbeda-beda Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya.' (QS 095 : 4-5)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruslah disadari bahwa, didalam diri manusia terdapat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘potensi’&lt;/span&gt; untuk mencapai kedudukan mulia sebagai pemikul amanat Tuhan, yang hanya bisa diaktualisasikan melakui proses praktik pensucian diri, atau praktik spiritual. Nah, praktik spiritual ini hanya bisa dijumpai didalam organisasi tarekat, khususnya tarekat yang mu’tabaroh. Oleh karenanya diperlukan seorang pembimbing ruhani, atau seorang guru mursyid untuk meraihnya, tanpanya, semua pencarian akan sia-sia. Dalam bentuk lahirnya, tubuh manusia sama dengan kategori hewan lainnya, sekalipun ia adalah anggota yang tertinggi dalam kelompok ini. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Tubuh jasmani manusia tersusun atas empat unsur, tanah, air, api dan udara.’&lt;/span&gt; Seorang syaikh juga mengatakan bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Manusia terdiri dari jiwa (tanah), hati (air), ruh (api) dan wujud (udara).'&lt;/span&gt; Oleh sebab itu, berdasarkan pembentukannya, manusia cenderung berperilaku seperti hewan, yang dikuasai oleh keinginan-keinginan diri. Dengan tiadanya cahaya spiritual, empat bagian unsur manusia itu, cenderung kepada wataknya masing-masing, jiwa dengan kehinaan dan kekesalan, hati kepada perhatian dan keinginan duniawi, wujud terdalam kepada hawa nafsu dan cinta diri, dan ruh kepada kesombongan. Dengan proses pensucian diri yang terus menerus dan dibawah bimbingan seorang mursyid, tubuh jasmani diberkahi oleh-Nya dengan cahaya spriritualitas, hal ini akan mengubah diri mereka kedalam bentuk yang sesuai dengan karateristik manusia yang salih, jiwa memperoleh kesucian sebagai ganti dari kehinaan, dan mengganti kekesalan dengan ketenangan, hati memperhatikan dirinya pada akhirat dan berkahnya, wujud terdalam menjadi pencinta Tuhan dan melakukan ibadah kepada-Nya, dan ruh menggantikan kesombongan dengan rahmat. Perubahan ini terjadi melalui perkembangan-perkembangan spiritual yang sistimatis atau bisa disebut maqom-maqom, yang penciptaannya di alam spiritual selaras dengan penciptaan tubuh manusia dialam fisik. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bahwa unsur spiritual manusia, adalah terdiri dari tujuh tingkat yang sangat halus dan bertingkat-tingkat kehalusannya, yang disebut ‘lathifah’.’&lt;/span&gt; Karena ia berada di dalam tubuh manusia atau dialam fisik, ia bercampur antara sifat-sifat kebaikan (mahmudah) dan keburukan (majmumah). Sifat majmumah ini seperti memegangi sayap untuk dapat berkembang dan terbang. Oleh karenanya untuk dapat terbang kealam ruhani, seseorang wajib berupaya meniadakan keburukannya, dengan cara-cara sesuai dengan bimbingan guru mursyid. Setiap substansi halus (lathifah) ini, secara progresif lebih sempurna menggambarkan proses aktualisasi kondisi tertinggi yang mungkin dapat dicapai manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara-cara pembersihan sifat-sifat majmumah pada ketujuh lathifah adalah dengan dzikir ismu Dzat, yakni pada setiap lathifah ini menyebut Allah … Allah … Allah pada bilangan tertentu. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) setiap menijazahkan pekerjaan ini kepada murid-muridnya, selalu mengingatkan pentingnya mengkuti kaifiat yang benar, menghadirkan rasa-rasa tertentu dan memahami makna doa-doanya, bahkan untuk murid-murid tertentu diwajibkan melakukan muroqobah (meditasi) kepada ketujuh lathifah ini. Sehingga akan menghasilkan cahaya dzikir dalam dirinya, dan melihat berbagai warna sesuai dengan tingkat kemajuannya. Sewaktu ia melangkah maju melalui hierarki tujuh substansi halus, limpahan cahaya meningkat sebagaimana halnya kemurnian warnanya. Warna-warna dan visi-visi ini ditunjukkan oleh Tuhan kepadanya sesuai dengan firman-Nya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.’ (QS 055 : 22)&lt;/span&gt; Mutiara adalah cahaya-cahaya misteri wujud yang sangat dalam yang didapat dari keberupayaannya menyelam kedasar samudera, sedang batu permata (marjan) diangkat dari dalam bumi atau laut yang rendah, merupakan api cinta hati. Nah, warna-warna itu akan berdatang kepada para pejalan, salah satunya bisa melalui mimpi, warna kuning ditampilkan dalam bentuk tanaman padi yang menguning, warna merah ditunjukkan dari buah delima atau api, warna putih dari salju atau awan atau kabut, warna hitam dari gelapnya malam dan warna hijau dari dedaunan atau hutan yang lebat. Kesemuanya ini mencerminkan kemajuan-kemajuan spiritual yang dengan mudah dapat dilihat oleh syaikhnya, oleh karenanya berhati-hatilah bila menceritakan mimpi-mimpi kepadanya, karena dengan ketajaman basirahnya akan dapat dikenali qualitas mipi itu, apalagi bila ada seorang salik yang mengarang atau menambah-nambahkan mimpinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, bila anggota-anggota badan terlena oleh kesenangan dan terkotori oleh keinginan-keinginan diri (nafs), ia akan melihat dalam mimpinya bara api atau lava yang menakutkan lagi menyala-nyala, dan hinggap sebuah rasa yang menggetarkan hati bahwa ia akan dilempar dan dibakar ditempat itu. Ia bisa juga melihat angin ribut, kilat, atau ombak besar yang bergulung, atau keadaan-keadaan berbahaya dan kegelapan yang dirasakan sangat mengerikan. Atau mimpi lain yang membuat hati kaku karena melihat air yang keruh dan kotor, atau jalan sempit dan gelap tanpa berujung,  dan istana-istana yang runtuh dan penuh dengan sampah, setiap kali ia mencoba keluar dari keadaan ini, ia selalu gagal. Pada kondisi ini, akan Nampak dalam visinya binatang-binatang berbahaya seperti ular, kalajenking, singa, macan, beruang dan anjing muncul dan menyiksanya. Kodisi yang demikian itu akan sirna dengan sendirinya, bila riyadhah dan mujahadahnya menjadi semakin murni, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengatakan : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bila diperoleh isyarat-isyarat dalam mimpi-mimpi yang menakutkan segera bershodaqoh.’&lt;/span&gt; Intinya, memerangi hawa nafsu selama hidupnya, menafikan dari segala keinginan yang mengajak kepada kejahatan, meminimalkan menikmati sesuatu yang halal, agar sifat-sifatnya berubah menjadi sifat-sifat yang terpuji, sehingga gambaran atau mimpi-mimpi atau visi yang menakutkan dan menjijikkan seperti digambarkan diatas, ditransformasikan menjadi gambaran yang menyenangkan, seperti munculnya binatang yang langka dan menyenangkan hati seperti rusa dan burung-burung yang berwarna-warni serta bersuara indah. Jadilah ia warna-warna murni yang dipersonifikasikan, sehingga akhlaknya indah dan tindak tanduknya bermanfaat bagi makhluk lain di alam semesta ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-867915774957306962?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/867915774957306962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/07/warna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/867915774957306962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/867915774957306962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/07/warna.html' title='WARNA'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-1223513924228853192</id><published>2010-06-30T18:30:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T17:41:01.704-07:00</updated><title type='text'>CERMIN</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berbicara menggunakan analogi bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘hati adalah cermin’&lt;/span&gt;, agar terlihat oleh orang lain bahwa dirinya orang yang arif, padahal yang berbicara maupun yang mendengar mempunyai persepsi yang berbeda-beda tentang maknanya, meskipun, keduanya memahami fungsi cermin pada umumnya, yakni untuk mengaca atau melihat dirinya sendiri. Fakta bahwa, seseorang bila selepas mandi (bersuci) selalu berada didepan cermin, untuk merapikan dirinya. Hal ini menunjukkan  bahwa, pensucian diri tidaklah pernah telepas daripada mengenal dirinya sendiri. Dikampung-kampung pun masih memegang tradisi meletakkan cermin dan sisir didekat tempat mengambil air wudlu dan bertuliskan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘sudah rapikah anda?’&lt;/span&gt; Maksudnya, agar bila seseorang berniat mensucikan batiniyahnya (menunaikan shalat), wajib merapikan lahiriyahnya terlebih dahulu. Syarat utama seseorang dapat melihat dirinya dalam cermin adalah adanya unsur cahaya, tanpa cahaya percuma ada cermin dan objeknya. Meskipun benda-benda menjadi tampak karena cahaya, namun esensi cahaya tidak dapat dilihat. Oleh karena itu, Tuhan telah menganalogikan diri-Nya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Cahaya’&lt;/span&gt; langit dan bumi, yang terbungkus oleh kaca, sebagaimana yang termaktub didalam Al Qur’an surat an-Nuur ayat 35. Sifat-sifat, perbuatan dan akibat-akibat perbuatan-Nya dapat dikenali, namun esensi-Nya tak satupun ciptaan dapat memahaminya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi fungsi cermin adalah sebagai alat bantu untuk melihat sesuatu yang tidak bisa secara langsung dilihat oleh kedua mata dengan bantuan ‘Cahaya’. Hal ini harus selalu tertanam di hati para pejalan, bahwasannya dibalik segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, baik yang lahir ataupun yang batin mestilah ada ‘Cahaya’ sebagai ensensi yang menampakkannya. Semakin meruncing mengapa dikatakan bahwa hati adalah cermin, yakni untuk melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh ‘mata hati’ secara langsung. Jadi terjelaskan, bahwa segala sesuatu yang tampak secara lahir sebagai analogi bagi sesuatu yang bathin, dan sesuatu yang bathin sebagai analogi bagi sesuatu yang rahasia, dan begitu seterusnya. Sesuatu yang lahir hanya mempunyai dimensi  lebar, panjang,  isi dan pasti berada pada ruang atau dapat dikatakan sebagai alam persepsi indera dan kesementaraan, sedangkan yang bathin mempunyai dimensi yang bertingkat-tingkat kehalusannya dan terbebaskan dari dimensi ruang dan waktu, sehingga tidak dapat dilihat oleh mata inderawi, melainkan oleh mata hati, para syaik sufi menyebutnya sebagai alam jiwa atau alam spiritual, alam yang tidak terbatas. Orang-orang yang dapat memahami analogi-analogi yang bertingkat-tingkat ini, adalah orang yang hatinya suci dari noda atau cerminya bersih. Sebagaimana orang yang berdiri dihadapan cermin yang bersih, akan dapat melihat dirinya sendiri dengan sempurna, berbeda bila cerminnya kotor, pantulan gambar yang diterimanya kabur dan sulit dikenali, sehingga meskipun buruk rupa, ia akan tetap merasa dirinya baik. Orang yang baik akan tetapi merasa buruk adalah orang yang arif, sedangkan orang yang buruk tetapi merasa baik adalah orang munafik. Penglihatan mata inderawi mudah tertipu sedangkan penglihatan mata hati tidak demikian. Murid yang makan sedikit dihadapan gurunya tetapi makan banyak dirumahnya adalah murid yang buruk, dibanding dengan murid yang makan banyak dihadapan gurunya namun sedikit dirumahnya. Yang pertama pamer kemunafikan dan yang kedua berpura-pura munafik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa menjadi begitu pengting bagi seseorang untuk mempunyai hati yang suci atau cermin yang bersih? Karena seorang pejalan mesti selalu mengacu kepada sebuah hadist yang mengatakan bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.’&lt;/span&gt; Nah, terjelaskan sudah bahwa analogi-analogi dimaksud digunakan sebagai anak panah agar tepat menuju kepada sasarannya, yakni Tuhan Penguasa Semesta Alam, karena Tuhan telah berfirman pada hadist qudsi bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kuntum kanzan makhfiyan, Aku adalah harta tersembunyi yang ingin diketahui, maka Aku ciptakan makhluk agar diketahui.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para syaikh sufi yang telah mengalami ‘penyaksian’ alam-alam ghaib, alam jiwa atau alam spiritual mencoba mentransformasikannya dalam bentuk analogi, agar dapat dipahami oleh murid-muridnya. Analogi  yang digunakannya pun berbeda-beda bagi hal-hal yang bathin, namun mempunyai makna yang sama. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Selain alam dunia, masih ada lagi 18.000 alam lainnya.’&lt;/span&gt; Ada juga yang melihatnya secara vertical atau menurun (tanazul) menjadi empat tahapan, yang pertama adalah Alam al-Lahut (Alam Ketuhanan) merupakan alam dari manifestasi dari esensi Asma Allah, lalu Alam al-Jabarut (Alam Kemahakuasaan) merupakan manifestasi dari Sifat-Sifat-Nya, kemudian Alam al-Malakut (Alam Kekuasaan) merupakan manifestasi dari Perbuatan-Perbuata-Nya (af’al)  dan Alam an-Nasut (Alam kemanusiaan) merupakan manifestasi dari akibat-akibat perbuatan-Nya. Oleh karenanya, m’iraj dapat dikatakan proses menaik dari alam terendah menuju alam tertinggi, lawan daripada proses menurun (tanazul). Demikian juga oleh para ulama terkemudian, membaginya menjadi tujuh proses menurun atau martabat tujuh, yakni Ahadiyah, Wahdahniyah, Wahidiyah, Alam Ruh/Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam dan Alam Insan. Proses menurun yang empat dan tujuh sepertinya terdapat perbedaan dari pengelompokannya, namun mempunyai makna yang sama, yang dimaksud dengan Ahadiyah sama dengan Alam Al Lahut, Wahdahniyah  dan Wahidiyah sama dengan Alam al Jabarut, Alam Ruh/Arwah dan Alam Mitsal sama dengan Alam al-Malakut, dan Alam Ajsam dan Alam Insan sama dengan Alam an-Nasut. Untuk dapat memahami analogi-analogi yang pelik ini, agar menjadi mudah dipahami, seseorang dapat melakukannya melalui muroqobah (meditasi) khsusnya tentang ‘Ahadiyah’, yakni merenung terus menerus tentang sifat Ahad atau ayat ‘Qul Huwallahu Ahad’, atau berulang-ulang menyebut dengan hatinya sambil merasakan seakan-akan Allah hadir, menyaksikannya dari segala arah dan lebih dekat daripada urat lehernya, serta merasa bersama-sama dengannya dan meliputinya. Sehingga, bila hal ini dilakukan terus menerus, Allah akan menghibahkan sebuah rasa yang hakiki, bahwa Tuhan adalah satu-satunya wujud yang wajib ada. Dia benar-benar transenden, memiliki esensi ketuhanan yang tunggal, unik dan berdiri sendiri. Esensi ini mengandung dalam diri-Nya sifat-sifat kesempurnaan, dan mutlak bebas dari sifat-sifat ketidak sempurnaan. Tuhan ada secara abadi, tidak membutuhkan pujian atau pengakuan oleh yang lain, tidak dipengaruhi oleh keimanan orang yang beriman ataupun keingkaran orang yang kafir. Hakikat esensi Tuhan benar-benar sangat transenden, melampaui pemahaman dan imajinasi akal. Dengan demikian, deskripsi tentang esensi hanya bisa bersifat figurative, bukan definitive. Di alam ghaib dan alam nyata, tidak ada yang memiliki wujud sejati kecuali esensi, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan akibat-akibat Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkhalwat adalah cara yang paling jitu guna membersihkan cermin diri, atau pencarian akan kesempurnaan diri, atau untuk sementara waktu mengasingkan diri dari masyarakat. Bentuk khalwat ini, yang juga acapkali dilakukan sendiri oleh Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), atau bersama-sama dengan beberapa muridnya, meliputi pembersihan hati dari segala sesuatu selain Tuhan, mengikatkan diri kepada-Nya, sehingga bisa mencapai-Nya dan menjadi dekat dengan-Nya. Dengan berkhalwat, seorang salik niscaya berhasil mencapai kemajuan, melalui berbagai tahap yang disebutkan diatas, dan memperbaiki substansi halus dalam diri, hingga menjadi cermin yang sempurna bagi Tuhan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Tak seorang pun dapat mencapai tahap keindahan kepasrahan kecuali dengan berkhalwat,&lt;/span&gt; tanpa berkhalwat tidaklah ada artinya menempuh jalan kesufian ini.’  Khalwat ini sangat sulit bagi yang kali pertama mengikutinya, sebab pada tahap ini sang salik berperang melawan nafsu rendahnya (keluh kesah) dan syaithon. Sehingga tugas-tugasnya terbusanai oleh keluh kesah atau lemahnya jasmani dan niatnya. Mengingat begitu pentingnya berkhalwat ini, tidak mengherankan bila Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mencurahkan banyak perhatiannya kepada kaifiat dan syarat-syaratnya, dan beliau berkata sesaat sebelum memasuki ruang khalwat : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jadikan dirimu seolah-seolah sedang menjemput kematian.’&lt;/span&gt;  Syarat-syarat utama dalam berkhalwat dan dilakukan secara terus menerus  adalah : Mempunyai niat yang kuat, mengontrol indera-indera eksternal (jawarih), mempertahankan kondisi suci (thaharah),  berpuasa, diam, mengulang kalimat ‘Laa Ilaaha Illallaah’ atau ismu Dzat ‘Allah … Allah …. Allah, menghapus pikiran-pikiran selain Tuhan, menghubungkan hati sepenuhnya kepada Syaikh (robithoh) dan berhenti mengajukan keberatan-keberatan pada Tuhan. Jika duduk, tidak boleh bersender apapun, tidur harus dalam keadaan sangat mengantuk, tidak boleh menggunakan bantal dan wajib menghadap kiblat, dalam hal makan dan minum di saat berbuka dan sahur wajib menggunakan tiga jari dan mengunyahnya sebanyak 33X serta tidak boleh terlepas dari berdzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalwat merupakan proses batin yang melaluinya seseorang mengosongkan dirinya dari segala sesuatu selain Tuhan. Kamar yang digunakan luasnya hanya cukup bagi seseorang untuk shalat, dan jika memungkinkan tidak  memiliki jendela sehingga cahaya matahari terhalang masuk kedalamnya. Untuk memaksimalkan pengaruh khalwat, tidak diperkenankan keluar kamar, kecuali untuk menjalankan fungsi-fungsi badan, memperbaharui kondisi kesucian, dan menjalankan ibadah shalat berjamaah.&lt;br /&gt;Mempertahankan kondisi suci (thaharah), puasa dan diam juga merupakan kontrol atas indera eksternal dengan tujuan utama menundukkan hawa nafsu. Yakni, nafsu rendah, yang sama dengan substansi halus ruh hewani, yang merupakan sumber kejahatan. Jiwa rendah yang cenderung kepada kejahatan adalah sahabat syaithon. Jiwa ini terus menerus melawan kekuatan-kekuatan mulia ruh dan hati, dan pada saat yang sama ingin menaklukkan mereka dan menggunakannya untuk melayaninya. Meskipun seseorang dengan gigih melawannya, jiwa syahwat ini masih mempertahankan kecenderungan buruk yang berasal dari kekuatan-kekuatan rendah yang belum disucikan. Jiwa syahwat ini tidak akan rusak sebelum sang salik mencapai ‘peleburan diri’, tetapi sekadar terpotong-potong seihingga sifat jahatnya masih tetap ada. Hanya dalam kematian badan fisik terakhir ia dapat dimusnahkan. Para salik harus berhati-hati terhadap alasan ini, dan sadar akan kecenderungan terhadap keinginan-keinginan penguasa alam dunia selama mereka berkhalwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan kondisi suci terus-menerus merupakan tameng baja dalam tahap perjuangan melawan nafsu rendah dan syaithon. Bersuci (thaharah) merupakan cahaya besar yang mencerahkan kegelapan khalwat. Jika bersuci secara lahiriah berguna untuk membersihkan badan dari kotoran-kotoran fisik, bersuci secara batin meliputi penilikan hati yang penuh perhatian dan lisan sibuk dengan zikir, yang keduanya berperan untuk mensucikan diri  dan melawan tabiat rendah. Seluruh pencarian spiritual dapat dilihat sebagai proses penyucian batin, yang disebut penyucian besar, yang sejajar dengan pencapaian tingkatan-tingkatan sepanjang jalan kesufian. &lt;br /&gt;Kegiatan utama khalwat adalah melakukan dzikir, yang dengannya seseorang menyucikan diri hingga menjadi saksi sempurna Tuhan. Diam terus-menerus merupakan salah satu syarat berkhalwat, dan sangat berguna untuk menegasikan indera-indera luar dan melawan nafsu rendah. Satu-satunya kondisi  dimana salik bisa menghentikan diam ini dan keluar dari kamar, adalah menanyakan kepada syaikh penjelasan tentang pengalaman spiritual yang tidak bisa dipahami sendiri. Meskipun demikian, sebaiknya ia mencoba dan mencari petunjuk syaikh secara mistis dalam kondisi spiritual. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata selepas selesai khalwat : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Salah satu kekurangan dalam berkhalwat adalah, kurangnya para salik melakukan ‘robithoh’, padahal untuk dapat mencapai kemajuan spiritual dalam berkhalwat, proses robithoh harus dilakukan secara terus menerus.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat berkhalwat berikutnya adalah lanjutan penghapusan seluruh pikiran yang baik ataupun yang buruk. Pekerjaan ini sangat sulit dilakukan, tindakan salik adalah ‘berupaya’ menghapusan pikiran-pikiran buruk, sedangkan ‘penghapusannya’ adalah perbuatan Tuhan. Oleh karena itu, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengajarkan cara yang jitu untuk mengatasinya, sehingga lama-kelamaan pikiran-pikiran akan tersirnakan, yakni, disaat berdzikir, mulut menyebut kalimat ‘Laa Ilaaha Illallaah’ secara bersamaan hati menyebut ‘Allah .. Allah … Allah … Allah’, lalu meningkat, baik kalimat thoyibah ataupun ismu Dzat, keduanya diucapkan oleh hati, sehingga konsentrasi seluruhnya terpusat oleh pekerjaan ini saja, tanpa memikirkan yang lain. Melakukan Kontrol atas pekerjaan ini, menjadi fundamental disaat berkhalwat, karena hasil yang maksimal atau yang diinginkan, tidak bisa disempurnakan tanpa menghapus pikiran-pikiran selain Tuhan. Seorang salik mesti mengakui syaikh sebagai penjelas visi dan peristiwa-peristiwa spiritual dan tidak boleh berusaha memahaminya sendiri. Semoga dengan berkhalwat, Allah SWT memulikannya di masa-masa selanjutnya dengan cahaya akal spiritual dan keadilan, sehingga dari cahaya akal spiritual ini, akan diperoleh kemampuan untuk memahami, dan dari cahaya keadilan memperoleh kekuatan untuk membedakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-1223513924228853192?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/1223513924228853192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/06/cermin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1223513924228853192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1223513924228853192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/06/cermin.html' title='CERMIN'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7008494543976509972</id><published>2010-05-29T01:04:00.002-07:00</published><updated>2010-05-29T19:49:13.383-07:00</updated><title type='text'>DUA BELAS</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi.’ (QS 087 : 1) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik menuturkan bahwa pada hari ini, Sabtu tanggal 29 Mei 2010, tepat usia yang mulia Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) genap 57 tahun, semoga Allah SWT memberkahi kehidupannya, memperpanjang umurnya, mengkaruniai kesehatan yang prima, mengangkat setinggi-tinggi derajat dan semoga silsilahnya bersambung sampai kepada akhir zaman nantinya, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin. Angka 57 mempunyai makna tersendiri, jika angka 5 dan 7 dijumlahkan menjadi 12, persis seperti jumlah huruf hijaiyah pada kalimat terbaik diatas bumi ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Laa Ilaaha Illaallah’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, yakni huruf lam sebanyak 5, alif sebanyak 5 dan huruf Ha besar sebanyak 2. Secara numerical Arab, huruf lam = 30, alif = 1 dan Ha besar = 5 sehingga jika dikalikan dengan banyaknya masing-masing huruf menjadi (lam = 30 X 5) + (alif = 1 X 5) + (Ha = 5 X 2) = 165, persis seperti jumlah ruas-ruas yang ada pada manusia. Oleh karena itu jumlah dzikir yang bersuara (dzikir jahr) dilakukan sebanyak 165 X banyaknya, agar kalimat ini selalu berada pada ruas-ruas itu, selalu bercampur dengan darah, otot-otot, syaraf-syaraf dan tulang-tulang, agar seluruh unsur-unsur yang ada pada manusia menyebut dan dapat memahami kalimat ini. Angka 1 dapat bermakna Ihsan, 6 adalah rukun Iman dan 5 adalah rukun Islam, jika angka 1 ditambah 6 dan ditambah 5 juga berjumlah 12. Ismu Dzat 'Allah', menurut urutan huruf hijaiyah adalah alif, lam, lam dan Ha atau sama dengan alif = 1, lam = 30, lam = 30 dan Ha = 5, jika dijumlahkan menjadi 66, dan 6 + 6 = 12. Nabi Muhammad Rasulullah,saw., lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal di tahun gajah, dan juga, jumlah huruf hijaiyah pada kalimat Muhammad Rasulullah adalah 12 pula. Karenanya, angka 12 mempunyai makna yang khusus bagi orang-orang yang bertarekat, karena disitu mengandung pengesaan atau pemurnian Tauhid, pembersihan hati dari fenomena dan hanya terpenuhi oleh yang Qodim saja, Huwal Awwalu Huwal Akhiru, persis seperti makna Laa Ilaaha Illaallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula, hari ini tepat berusia 4 tahun semburan lumpur di Sidiarjo, Jawa Timur, Indonesia yang tak kunjung henti, yang memberikan arti bahwa lumpur adalah kegelapan atau kekotoran atau kemunafikan lawan daripada kesucian, yang tumbuh subur dinegeri tercinta ini. Seperti tumbuhnya raja-raja kecil yang baru, khususnya pada saat menjelang pesta demokrasi lima tahunan berlangsung. Raja-raja kecil ini hanya mementingkan kelompoknya, mengumpulkan dana rakyat yang demikian besar hanya untuk berperang memenangkan keinginannya, yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Allah SWT telah menyindir kelompok ini sebagaimana firman-Nya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?  (QS 045 : 23)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lumpur yang semakin banyak menyembur keatas permukaan bumi mencerminkan bahwa kemunafikan sedang tumbuh subur, sebaliknya kesucian semakin lama semakin lenyap dari bumi pertiwi ini. Oleh sebab itu, para ulama selalu melantunkan doa-doa agar semburan lumpur ini segera dapat berakhir, karena dikhawatirkan tanah disekitarnya akan turut tenggelam, yang akan membelah pulau jawa menjadi dua bagian, agar manusia-manusia yang berebut kekuasaan segera sadar, karena sudah semakin banyak rakyat menderita karenanya. Didalam doa-doanya juga terselip harapan akan munculnya pemimpin yang arif dan bijaksana, sebagaimana harapan akan munculnya sekuntum bunga teratai diatas lumpur di Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat Al Qur’an diatas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; tak pernah luput dibaca oleh Sayyidina Ali,ra., yang membuat para sahabatnya bertanya-tanya, apakah hanya hafal surat Al Qur'an ini saja? Beliau mengerti betul keadaan hati para sahabatnya dan menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Jika kalian mengetahui makna kandungan surat Al 'Ala ini, niscaya kalian tidak akan pernah meninggalkannya untuk membacanya.'&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dikemudian hari surat Al 'Ala ini selalu dibaca tatkala shalat Jum’at, shalat ‘Idul Fitri dan shalat ‘Idul adha merupakan sebuah perintah yang tegas untuk mensucikan nama Tuhan, bukan sekedar dibaca dan dimaknai saja. Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana mensucikan nama Tuhan? Karena begitu banyak Nama-Nama Tuhan dan bagaimana caranya? Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Nama Tuhan yang paling tinggi adalah Allah.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;’ Dan oleh karena semua manusia dicipta dan ditempatkan di ‘Alam Nasut’ atau alam kemajemukan, atau alam sebab akibat, maka seseorang yang berkeinginan mensucikan Nama Tuhan, berkewajiban menghapus segala ingatan dan semua yang ada didalam hati kecuali Allah. Sebagaimana angka 12, satu mewakili Ke-Esa-an-Nya dan dua mewakili kemajemukan, sehingga jika angka dua dihapus yang ada hanya satu atu Dia saja. Maka Allah akan mengangkat ruhnya dari Alam Nasut ke Alam Malakut lalu ke Alam Jabarut, meskipun jasadnya berada di bumi ini bersama-sama orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.’ (QS 072 : 18)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Maksudnya adalah mesjid-mesjid hati adalah kepunyaan Allah dan tidak diperkenankan ada sesuatu didalamnya selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghapus kemajemukan dan menegaskan hanya Nama Allah saja, dibutuhkan penghapus dan sekaligus pemahat hati. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kalimat yang mujarob untuk menghapus kemajemukan (nafy)dan mengukir (isbat)Allah saja didalam hati adalah ‘La Ilahaa Illallah’.”&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dengan mengulang-ngulang kalimat thoyibah ini, maka akan terhapus segala sesuatu yang bukan tuhan dan terpahat Nama Tuhan Yang Maha Tinggi didalam hati, yakni 'Allah'. Karena Tuhan telah mengumpulkan semua rahmat dan kebajikan-Nya dalam kalimat thoyibah ini, dan siapa saja yang membacanya dengan tulus dan keyakinan yang benar akan tergolong kedalam orang-orang yang mesucikan nama Tuhan. Karenanya rumusan ini menjadi pondasi para syaikh sufi untuk mendidik murid-muridnya guna membersihkan lembaran batin dari debu dunia yang diciptakan, karena angin nafsu, agar ia dapat membaca semua kitab samawi dan juga kitab yang tidak diwahyukan, dan naik ke buku primodial yang tersimpan di Alam Kemahakuasaan di ‘dekat’ Tuhan. Orang-orang yang semacam itu akan berhasil dalam usahanya, dan syaithon tidak akan mampu menghalangi mereka dari jalan kesucian, maka genaplah sabda Rasulullah,saw., : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Siapa saja yang mengatakan Laa Ilaaha illaallah dengan ikhlas akan masuk surga.’ &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaifiatnya atau caranya, yang pertama dan wajib adalah harus baiat kepada seorang Syaikh, atau guru mursyid dari salah satu tarekat yang mutabaroh. Karena hukum baiat adalah sunah nabawiyah atau sunah kenabian. Selanjutnya pasrah kepada Syaikh, yakni kekercayaan yang penuh terhadap ajaran-ajarannya, tanpa sedikitpun menanyakan mengapa demikian, baik secara diam-diam atau secara terbuka. Kepatuhan kepada Syaikh harus total, sehingga sekiranya beliau memerintahkan agar melakukan tindakan-tindakan yang kelihatannya bertentangan dengan praktik-praktik sunah, maka harus dilaksanakan tanpa bertanya. Meninggalkan praktik-praktik sunah lebih baik ketimbang melaksanakannya karena keinginannya sendiri. Begitu juga, tindakan-tindakan asketik harus ditinggalkan, jika seseorang memang diperintah oleh seorang Syaikh. Keterikatan hati yang utuh dan mutlak kepada Syaikh, lebih sulit dibanding mengerjakan shalat malam dan berpuasa selama empat puluh hari berturut-turut lamanya. Seorang murid wajib menyadari bahwa tanpa pembimbing tujuannya mustahil dapat dicapai. Semakin tinggi kecintaan kepada Syaikhnya, semakin sering pula seorang murid mengalami pengalaman-pengalaman ruhani, kejelasan-kejelasan datang silih berganti, baik melalui mimpi-mimpi atau terjaga, yang bermanfaat bagi bertambahnya keyaqinan, yang pada akhirnya akan mempertinggi kualitas peribadatannya. Sebaliknya bila kecintaan kepada Syaikhnya memudar, maka menghilang pula pengalaman ruhaninya, lenyap pula isyarat-isyarat dalam mimpi-mipinya dan tingkat keyaqinannya memburuk, yang berakibat pada menurunnya kualitas peribadatannya. Pada kondisi ini, bila seorang murid tidak segera mendapatkan tawfiq, maka ia termasuk golongan orang-orang yang sangat merugi, karena menyia-nyiakan jalan lurus yang sudah terbentang didepan matanya, padahal ia selalu memohonnya pada setiap shalat tatkala membaca suratul Fatihah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda seseorang telah terbebaskan dari kemajemukan (pluralitas) adalah akhlaknya terpuji, ia dicintai semua makhluk yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Gerak gerik lahiriyahnya mempesona dan batinnya tidak pernah lalai dari mengingat Allah. Pilihannya telah sirna, yang mengejewantah adalah pilihan Tuhan baginya. Hatinya tidak pernah ada konflik bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah. Sebagaimana pohon yang tumbuh dan lebat buahnya, menanam adalah tindakan manusia yang disebut dengan riyadhah dan mujahadah, sedangkan buah adalah tindakan Tuhan yang disebut dengan musyahadah. Oleh sebab itu, mungkin saja musyahadah atau buah diperoleh tatkala belum terlalu lama menanam pohon, dan sebaliknya meskipun sudah menanam bertahun-tahun dan menyiraminya dengan pupuk kegagahan dalam beribadat, namun buah atau musyahadat tak kunjung tiba. Karena musyahadat adalah hak Allah SWT yang dikaruniakan kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Setiap orang dicipta sesuai dengan kadarnya, beruntunglah orang-orang yang mempunyai bakat dan phisik yang kuat dalam menempuh jalan ini.' &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Wejangan ini selaras dengan firman Allah SWT : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.' (QS 087 : 2 - 5)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sungguh beruntung bagi orang-orang yang ditakdirkan selalu masuk kedalam lingkaran orang-orang yang berdzikir, yang disebut kholaqoh dzikir yang didalamnya ada majlis ilmu dan sekaligus majlis dzikir, untuk berupaya memperoleh musyahadah, seperti rumput-rumput yang selalu berada dalam pemeliharan-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah hati bersih dari keberanekaan (pluralitas) dan hanya Allah saja yang bersemayam, serta ruh telah meninggalkan Alam Nasut beranjak ke Alam Malakut, maka dzikir yang dibutuhkan adalah dzikir khafi, atau dzikir yang tidak berbunyi, atau disebut juga dengan dzikir lathaif, yakni menyebut ismudzat saja ‘Allah … Allah … Allah’ disetiap kesempatan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Katakanlah ‘Allah’, kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS 006 : 91)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Tidak dibutuhkan penafyan lagi, karena telah  terbebaskan dari kemajemukan atau kegandaan (pluralitas). Akan tetapi untuk menjaga keadaan ini dan mempertinggi kewaspadaan atas bias-bias kegelapan yang berada pada Alam Nasut ini, dzikir jahr tetap dikerjakan, meskipun ia telah mempunyai pangkat kewalian, meskipun isyarat-isyarat kejadian mendatan telah ia peroleh, maupun bahasa ruh telah terjelaskan. Begitulah wejangan yang mulia Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) tepat pada usianya yag ke 57 kepada seorang muridnya. Yaa Allah berkahilah kehidupannya, juga keluarga, sahabat dan murid-muridnya, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alaamin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7008494543976509972?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7008494543976509972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/05/dua-belas_29.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7008494543976509972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7008494543976509972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/05/dua-belas_29.html' title='DUA BELAS'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-1935863117529689115</id><published>2010-04-06T08:10:00.000-07:00</published><updated>2010-04-30T20:39:52.339-07:00</updated><title type='text'>PENENTANG DAN PENDUKUNGNYA TAK TERBILANG</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika disebut nama-nama seperti Abdul Mughits, Abul Muhr, Abu Abdullah, Mukhabbar maka orang jarang yang mengenalinya, tetapi begitu disebut nama Al Hallaj, maka orang-orang yang bertasawuf mengetahuinya, begitu pun masyarakat muslim pada umumnya, paling tidak mereka pernah mendengar nama itu. Begitu masyhurnya Al Hallaj sehingga ia mempunyai banyak nama, dan banyak tempat telah ia jelajahi, begitu pun banyak syaikh sufi agung telah beliau ziarahi. Guru yang pertama mendidiknya adalah Syaikh Sahl Ibnu At-Tustari,ra., lalu Syaikh Amr Ibnu Utsman,ra., dan Imam Junayd Al Bagdadi,ra. Semua guru-guru yang agung itu ditinggalkannya, dan ia hidup mengembara kebanyak negara, yang pada akhirnya ia wafat di Bagdad secara mengenaskan ditiang gantungan, tanpa tangan, kaki, hidung , mata, telinga dan kepala, lalu jasadnya dibakar dan abunya dibuang ke sungai Tigris. Beliau lahir sekitar tahun 244 H / 858 M didekat kota Al Baidha’ di Propinsi Fars, Iran dahulu disebut Parsia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik yang baru satu tahun mengikuti majelis Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) bertanya : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Wahai Syaikh, bagaimana menurut Syaikh tentang kematian Al Hallaj?’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dijawab : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Menurut syariat ia pantas menerimanya.’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Lalu setelah tujuh tahun berlalu, sang salik bertanya kembali hal yang sama, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menjawab : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Meskipun secara syariat beliau pantas menerimanya, namun bila berdasarkan hukum suci hanya Allah sajalah yang mengetahuinya.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Jawaban Syaikh bila dipandang secara lahir tampak berbeda, menunjukkan kematangan yang luar biasa didalam membimbing murid-muridnya. Kebijaksanaannya begitu luhur, seorang salik yang belum matang, cukup disuguhi anggur ruhani secukupnya saja, sehingga tidak pada tempatnya membicarakan tentang doktrin &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘kemabukkan’&lt;/span&gt;, setelah tumbuh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘dewasa’ &lt;/span&gt;barulah Syaikh menjelaskan makna-makna dibalik riwayat yang menggemparkan dunia kesufian itu. Pendeknya Syaikh sepakat dengan tindakan yang diambil oleh Imam Junayd,ra., yang sebelumnya menolak enam surat berturut-turut dari khalifah Bagdad agar menyetujui fatwa hukuman mati, barulah setelah surat permohonan yang ketujuh, beliau menyetujuinya dan berkata  : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Kami mengadili berdasarkan tampak lahir, sedangkan kebenaran batin hanya Allah-lah yang tahu.’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berpendapat bahwa Al Hallaj meninggalkan Imam Junayd,ra., faktanya tidaklah demikian, karena resep yang diberikan oleh Imam Junayd,ra., kepadanya adalah  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘diam dan pengasingan diri’&lt;/span&gt;. Hal ini membuktikan bahwa ia tidak dilarang atas dasar prinsip-prinsipnya melainkan atas dasar perilakunya. Oleh karenanya setelah beberapa tahun mengabdi kepada ‘gurunya’, ia melakukan perjalan ke Hijaz dan tinggal di Makkah. Setelah itu ia kembali ke Bagdad dan bergabung dengan sekelompok syaikh sufi menghadiri majelis Imam Junayd,ra. Disinilah ia berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Wahai Syaikh, kemabukkan dan ketidak mabukkan adalah dua sifat manusia, dan manusia tertabiri dari Tuhannya selama sifat-sifatnya belum sirna.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Wahai putra Manshur, engkau keliru memahami kemabukkan dan ketidak mabukan. Yang pertama menunjukkan munculnya rasa rindu dan cinta yang berlebihan, sementara yang kedua menunjukkan kebaikan suasana ruhani seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan dan keduanya tidak bisa diperoleh dengan usaha manusia. Wahai putra Manshur, dalam kata-katamu kulihat banyak kebodohan dan kesia-siaan.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Begitulah Imam Junayd,ra., menjawabnya. Nah menjadi terang, mengapa Al Hallaj pergi meninggalkan guru-gurunya terdahulu, atau tepatnya Allah membuatnya demikian adanya, disebabkan pandangan atau doktrinnya yang berlawan. Guru pertamanya mempunyai doktrin tentang riyadhah dan mujahadah guna memperoleh musyahadah, ini menunjukkan tentang kesadaran dalam berupaya atau ketidak mabukkan, demikian juga dengan doktrin Imam Junayd,ra. Sedangkan doktrinnya adalah kemabukkan sebagaimana doktrin yang dianut oleh Syaikh Abu Yazid Al Busthami,ra. Akan tetapi oleh murid-murid penerusnya digganti dengan doktrin 'hulul' yang ditentang oleh para syaikh sufi, sehingga mazhab ini diharamkan. Seorang sufi yang mabuk terkadang mengalami keadaan ekstase yang berat, lalu mengucapkan kata-kata yang seolah-olah syirik secara lahir namun murni secara tauhid, dalam istilah tasawuf disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘syath’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; seperti &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Ana Al Haq’ ‘Akulah Kebenaran’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Lalu apakah sama derajat orang yang hampir setiap harinya berpuasa dan melakukan shalat sunat empat ratus rakaat pada setiap malamnya, berkata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Akulah Kebenaran’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, dengan seorang raja dzalim yang mengatakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Akulah Tuhan’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; seperti Fir’aun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa jika setetes air jatuh kelautan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'bersatu'&lt;/span&gt;, dan air itu ditanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;siapakah engkau?&lt;/span&gt; tentu akan dijawab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Aku adalah lautan'&lt;/span&gt;, akan tetapi ketika ia melihat dirinya, ia akan berkata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'aku adalah air dan Engkau adalah lautan'.&lt;/span&gt; Demikian analogi tentang kebersatuan makhluk dengan Sang Kholik, bukan dzatnya, melainkan sifat-sifat dirinya yang sirna dan melebur dalam sifat-sifat Tuhannya. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Imam Syibli,ra., adalah murid kesayangan Imam Junayd,ra., dan sebagai penerus rantai emas dari majelisnya di usia 51 tahun. Bersahabat dengan Al Hallaj, dikenal sebagai syaikh yang eksentrik, orang awam karena iri menyeretnya ke rumah sakit jiwa. Beliau wafat pada tahun 334 H/846 M, 25 tahun setelah wafatnya Al Hallaj, atau 36 tahun setelah wafatnya Imam Junayd,ra. Sebelum memasuki kesufian, beliau adalah gubernur di Propinsi Dimavind, Irak. Pada saat itu, semua gubernur wajib mengenakan jubah kehormatan pemberian dari khalifah Bagdad. Ia melihat seorang gubernur Rayy menyeka mulut dan  hidungnya dengan jubah kebesaran ini, tindakannya ini menyebabkan ia dipecat. Kejadian ini, membuat ia mundur dari jabatannya dan meninggalkan istana, lalu bergabung pada majelis Khair an Nassaj,ra., yang mengantarkannya kepada majelis Imam Junayd,ra. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Engkau dikenal sebagai akhli mutiara (hikmah), berilah aku satu atau juallah satu kepadaku.’&lt;/span&gt; Imam Junayd,ra., menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jika aku menjualnya padamu, engkau takkan mampu membayarnya. Namun jika aku memberikannya Cuma-Cuma kepadamu, engkau takkan menyadari nilainya karena mendapatkannya dengan begitu mudah. Lakukanlah apa yang telah aku lakukan. Benamkanlah dulu kepalamu di lautan, dan jika engkau mengunggu dengan sabar niscaya engkau akan mendapatkan mutiaramu.’&lt;/span&gt; Inilah ciri khas dari Imam Junayd,ra., dalam mendidik murid-muridnya, yakni secara teguh menjalankan praktek &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Khalwat dar anjuman’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, yaitu merasa sendiri bersama Tuhannya ditengah-tengah keramaian orang. Berbeda dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘khalwat’,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian orang banyak, sehingga orang-orang tidak tercemari oleh sebab kejahilannya. Setelah kejadian ini, ia mematuhi semua perintah gurunya. Tahun pertama ia  berjualan belerang, karena melibatkan jual beli dan mendatangkan kemasyhuran, maka satu tahun berikutnya ia menjadi pengemis dan luntang-lantung di Bagdad. Masih terasa sisa keakuannya, ia pulang ke Dimavind tempat ia pernah menjadi gubernur disana. Dari rumah kerumah ia datangi dan memohon maaf, tinggalah seorang yang pernah terdzalimi, namun tidak diketahui lagi keberadaannya, hal ini membuatnya gundah. Ia menyedekahkan seratus ribu dirham, namun tetap saja hatinya tidak tenang. Empat tahun berlalu, dan akhirnya ia kembali ke Bagdad dan mengadukannya kepada gurunya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Masih ada sisa-sisa kesombongan dan kepongahan dalam dirimu, mengemislah setahun lagi.’&lt;/span&gt; Kata Imam Junayd,ra. Perintah ini dipatuhinya, lalu ia mengemis dan semua yang didapat diserahkan kepada gurunya, lalu gurunya menyedekahkan semuanya untuk kaum miskin. Setelah setahun berlalu, sesuatu yang ditunggu-tunggu terjadi, ia diterima sebagai sahabat Imam Junayd,ra., dan diberikan kewajiban baru, yakni melayani sahabat-sahabat yang lain. Suatu hari Imam Junayd,ra., bertanya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bagaimana engkau memandang dirimu sekarang?’&lt;/span&gt; Imam Syibli,ra., menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku memandang diriku sebagai makhluk-Nya yang paling tidak bernilai.’&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kini keimananmu telah sempurna’&lt;/span&gt; jawab Imam Junayd.ra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap harinya ia membagikan permen kepada anak-anak yang mau menyebut nama ‘Allah’,  juga memberikan dirham dan dinar kepada siapapun yang melakukannya. Namun tiba-tiba, ia menghunus pedang dan berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Siapa saja yang menyebut nama Allah, akan kutebas kepalanya dengan pedang ini.’&lt;/span&gt; Seseorang bertanya : ‘Sebelumnya engkau biasa memberikan permen dan emas. Namun mengapa sekarang engkau mengancam dengan pedang?’ Beliau menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sebelum ini kukira mereka menyebut nama-Nya dengan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan hakiki. Kini aku sadar bahwa mereka melakukannya tanpa perhatian dan hanya sekedar kebiasaan. Aku tak dapat membiarkan lidah-lidah kotor menyebut nama-Nya.’ &lt;/span&gt;Karena kelakuannya yang dianggap eksentrik, orang-orang awam membelenggunya dan membawanya ke rumah sakit jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini sangat menggugah hati, Imam Junayd,ra., telah menjatuhkan putusan tegas tentang hukuman kepada Al Hallaj, yang karena dalam keadaan kemabukkan yang sangat kepada Tuhannya berkata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Ana Al Haq’ ‘Akulah Kebenaran’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, akan tetapi murid kesayangan justru menganut doktrin yang sama dengan Al Hallaj, perbedaannya terletak kepada dijaganya lidah Imam Syibli,ra., oleh Allah SWT untuk tidak pernah mengeluarkan kata-kata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘syath’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Nah, keadaan murid-murid didalam tarekat juga demikian, ada yang mabuk dengan begitu meluap-luap terhadap Syaikhnya, ada pula yang biasa-bisa saja. Oleh sebab itu, 'pemaafan' dan 'toleransi' lebih diutamakan, karena bila anggur cinta telah bercampur dengan darah, maka dalam pandangannya tak ada yang lebih baik dari Syaikhnya, maka apabila dijumpai ada murid-murid yang tidak memasang adab, mendidihlah darah dan berdetak keras jantungnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syibli,ra., menceritakan bahwa suatu malam setelah kewafatan sahabatnaya itu, ia berjumpa dalam mimpinya dan bertanya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Bagaimana Allah menghakimi orang-orang ini?' &lt;/span&gt;Al Hallaj menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Mereka yang tahu bahwasannya ia benar dan juga mendukungnya berbuat demikian karena Allah semata. Sementara itu, mereka yang ingin melihat dirinya mati tidaklah mengetahui hakikat kebenaran. Allah merahmati kedua kelompok ini, keduanya beroleh berkah dan rahmat dari Allah.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah martir-martir Islam dalam dunia kesufian, yang ditentang oleh orang-orang Islam sendiri yang jumlahnya tak terhitung dan pendukungnya pun tak terbilang, dimulai sejak kewafatan beliau hingga kini dan insya Allah sampai dengan musnahnya dunia fana ini. Bandingkan dengan kita, yang pernah hidup setitik diantara masa panjang yang tercipta ini, lalu apakah cucu-cucu kita nanti masih mengingat dan menyebut nama kakek-nya yang telah wafat, sebagaimana orang-orang menyebut-nyebut nama Al Hallaj dan Imam Sybli,ra.? Oleh sebab itu wajar bila Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering terlihat meneteskan airmatanya tatkala berkata : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Syukur-syukur bila dikemudian hari masih ada seekor anjing yang mengencingi pusara kita.’&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-1935863117529689115?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/1935863117529689115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/04/penentang-dan-pendukungnya-tak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1935863117529689115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1935863117529689115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/04/penentang-dan-pendukungnya-tak.html' title='PENENTANG DAN PENDUKUNGNYA TAK TERBILANG'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-630522004853831166</id><published>2010-04-05T22:23:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T23:25:11.568-07:00</updated><title type='text'>PATROMAK</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 2000 Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) memberikan hadiah empat buah lampu patromak kepada pemimpin pengajian di Lubuk Linggau yang tinggal ditengah hutan belantara. Di gubuk mungil itu, tinggal dua sosok manusia yang patuh terhadap perintah gurunya, yakni Ustadz Amir dan Ustadz Marwan, yang harus mengajak orang-orang disana untuk taat terhadap perintah Tuhan Penguasa semesta alam, membuka taman-taman daripada taman surga (kholaqoh dzikir). Wajah mereka tampak pucat namun memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Salah satunya telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, demi agama, demi patuh dan hurmat terhadap perintah guru yang mereka cintai. Murid-murid yang mengiringi Syaikh berkunjung kesana bertanya-tanya, mengapa Syaikh memberikan lampu patromak bukannya sandang dan pangan yang sangat dibutuhkan? Patromak adalah lampu penerang terbuat dari logam, yang bahan bakarnya adalah minyak tanah, ada kaca mengelilingi pada setiap sisinya, ada pompa yang berfungsi untuk menciptakan tekanan, dan bahan putih tipis yang tepat berada ditengah-tengah, sebagai inti karena dapat bercahaya. Untuk memancing agar bahan putih tipis itu bercahaya, maka diperlukan bahan bakar berupa spritus dan dinyalakan dengan api terlebih dahulu, barulah uap minyak tanah naik, atas dasar tekanan dari pompa, dan membuat cahayanya lebih kuat. Untuk menjaga agar cahayanya tidak meredup, harus dipompa secara berkesinambungan dengan ukuran yang pas dan dengan kualitas minyak tanah yang baik pula. Jika lampu patromak ini ditempatkan disuatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, maka hal ini persis seperti analogi yang terdapat pada ayat al Qur’an yang berikut : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.’ (QS 024 : 35)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun kemudian, terjawab sudah pertanyaan dari murid-murid Syaikh yang bertanya-tanya tadi. Ustadz Marwan telah berhasil membuka Kholaqoh Dzikir di Palembang, sedangkan Ustadz Amir sebagai pemimpin pengajian di Lubuk Linggau. Mereka disertai oleh masing-masing delapan puluh tiga pengikutnya berziarah kepada Syaikhuna, sekaligus turut memperingati Mawlid Nabi,saw., dan Khaul Tuan Syaikh Abdul Qodir al Jailani,qs., 1431 H. Semua orang terpesona menyaksikan perilaku yang sangat indah, yang telah lama hilang dari dunia ini. Tidaklah murid-murid itu berani berjalan, makan bahkan berbicara mendahului pemimpinnya. Mereka menundukkan kepala sambil terus mewaspadai dzikir-dzikirnya, senyumnya mengubur keletihannya. Madu, beras dan airmata kerinduan dipersembahkan kepada Syaikhnya, kejadian ini mengguncangkan alam sekitarnya, langit menjadi redup, pepohonan turut merunduk, dan burung-burungpun menghentikan kicauannya, sebagai tanda hurmat atas rombongan yang istimewa ini. Makhluk-makkluk ciptaan Tuhan yang tidak terlihat, melantukan shalawat bagi mereka, memohonkan ampunan kepada Tuhan bagi rombongan ini, meskipun saat itu tamu-tamu yang hadir sedang menikmati acara Mawlid dan Khaul. Sungguh menakjubkan, bermula dari empat buah patromak, telah menetas menjadi begitu banyak patromak-patromak berjalan, menerangi alam semesta ini menembus sampai alam-alam ghaib. Semoga saja, dihari Perhitungan nanti, tangan-tangan yang bercahaya itu berkenan menggandeng tangan-tangan yang berlumuran dosa seperti kita ini, Amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh teramat tajam penglihatan seorang Syaikh itu, patromak dari tengah hutan telah menerangi alam semesta ini, sebuah batu yang ditanaman didepan gubuk telah menjadi Masjid. Perjalanannya melalui jalan yang berliku-liku melalui hutan belantara telah berubah menjadi kholaqoh-kholaqoh dzikir. Lalu ketika beliau berkunjung ke Palembang, memberikan isyarat-isyarat yang menggembirakan pula, tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi para sahabat yang berada disana, untuk mengetahui apa hikmah perilaku dan perkataannya. Sungai Musi yang bermuara kelautan perlambang kebersatuan (jam), kapal dan ikan melambangkan rizki-rizki di dunia dan akhirat. Semua yang gelap akan terlihat bila ada cahaya, oleh karenanya Rasulullah,saw., selalu berdoa agar dikaruniai cahaya, seperti yang termaktub didalam doa cahaya yang masyhur itu. Para syaikh sufi melakukan meditasi (muroqobah) secara terus menerus terhadap ayat cahaya diatas, al hasil begitu banyak petuah-petuah indah yang meluncur dari mulut suci itu. Salah satunya adalah sebuah kitab yang masyhur, karya Syaikh Syihab al-Din Yahya al-Suhrawardi,ra., yang berjudul Hayakal al-Nur, dan surat dari Hadrat Sayyid Abdul Qodir al-Jailani,qs. sangking begitu indah dan sangat bermutu kandungan isinya, ada pejalan yang sampai 'wajd' atau 'ekstase' ruhani saat membacanya. Semoga Allah berkehendak memberikan kemampuan kepada kita, untuk dapat merenunginya. :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku, hatimu adalah cermin yang kotor. Engkau harus membersihkannya dari tabir debu yang menutupinya. Hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya rahasia Ilahi. Ketika cahaya dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allah (Yang) adalah cahaya langit dan bumi&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; mulai menyinari bagian-bagian hatimu, pelita hati akan menyala. Pelita hati itu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;didalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Kemudian didalam hati itu, kilat penyingkapan Ilahi akan memancar. Kilat ini berasal dari awan-guntur dari makna &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan pancaran cahaya terhadap pohon pengungkapan itu begitu murni, begitu nyata sehingga ia &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;menerangi, walaupun tidak disentuh api. (QS 024 : 35)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kemudian pelita pengetahuan menyala dengan sendirinya. Bagaimana ia tetap padam ketika cahaya rahasia Ilahi menyinarinya? Jika hanya cahaya rahasia Ilahi yang menyinarinya, langit malam rahasia akan menyala dengan ribuan bintang, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dan dengan bintang-bintang (engkau) menemukan jalan(mu). (QS 016 : 16)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bukanlah bintang-bintang yang menunjuki kita, tetapi cahaya Ilahi. Sebab Allah telah menghiasi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;langit yang dekat dengan bintang-bintang. (QS 067 : 5)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Jika hanya pelita rahasia yang menyala didalam batin anda, sisanya akan datang secara sekaligus atau perlahan-lahan. Sebagiannya telah anda ketahui, sebagian lagi akan kami paparkan kepada anda. Bacalah, dengarkan, dan cobalah pahami. Gelapnya awan kelalaian akan diterangi oleh kahadiran Ilahi, kedamaian, dan keindahan bulan purnama yang akan terbit dari ufuk pancaran, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cahaya diatas cahaya, (QS 024 : 35)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang selalu terbit di angkasa, melalui garis edar seperti yang Allah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tetapkan, hingga ia (QS 036 : 39)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; bersinar dalam keagungan di pusat angkasa, menyinari gelapnya kelalaian. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dan demi malam apabila ia telah sunyi. (QS 093 : 2) Demi waktu matahari sepenggalan naik, (QS 093 : 1)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; malam kelalaian anda akan menyaksikan terangnya sinar surya. Kemudian anda akan menghirup harum mengingat Allah dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;memohon ampun diwaktu sahur. (QS 003 : 17)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kelalaian, dan menyesali masa hidup yang anda habiskan dalam tidur. Anda akan mendengar nyanyian malam menjelang pagi, dan anda akan mendengarnya berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malan dan diakhir-akhir malam mereka memohon ampunan. (QS 051 : 17-18)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. (QS 024 : 35)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kemudian melalui ufuk Akal Ilahi anda akan menyaksikan terbitnya matahari pengetahuan batin. Itulah matahari pribadi anda, karena anda adalah orang yang dibimbing Allah, lagi berada dijalan yang lurus, dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bukan orang-orang yang merugi.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (QS 007 : 178) Dan anda akan memahmi rahasia bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS 036 : 40)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Akhirnya, tali itu akan diuraikan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS 024 : 35)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Tabir akan tersingkap dan tameng akan hancur, yang menunjukkan yang halus dari yang kasar, kebenaran akan menyingkapkan Wajah-Nya. Semua ini akan bermula ketika cermin hati anda dibersihkan. Cahaya rahasia Ilahi akan terpencar kedalamnya jika anda berharap dan memohon kepada-Nya, dari-Nya, dengan-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-630522004853831166?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/630522004853831166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/04/patromak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/630522004853831166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/630522004853831166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/04/patromak.html' title='PATROMAK'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-5627793921731178784</id><published>2010-04-02T22:52:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T19:30:09.982-07:00</updated><title type='text'>MAWLID 1431H</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad kedua belas, para syaikh sufi di Iran atau persia menggunakan hadits qudsi sebagai penghurmatan yang tinggi kepada Nabi Muhammad,saw., dari Fariduddin Attar,ra.,  Abdurahman Jami,ra., hingga Jalaluddin Rumi,ra., semua gemar sekali menggunakan hadits ini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ana Ahmad bila mim’, ‘Akulah Ahmad tanpa m’, yaitu Ahad&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Ahmad, adalah utusan dari Ahad, melalui Ahmad, Ahad bisa dicapai. Terlihat jelas bahwa Ahmad terpisahkan dari Ahad hanya melalui satu huruf saja, yaitu m. Dalam sistem huruf arab, huruf m ini mempunyai nilai 40, yang sama artinya bahwa kenabiannya diperoleh pada usianya yang ke 40, dan di dunia kesufian pensucian diri atau khalwat yang sempurna dilakukan selama 40 hari. Secara mistis huruf m (40) bisa memberikan arti sebagai manusia, atau sifat-sifat dasar manusia, yang harus ditundukkan untuk dapat mengenal Ahad, ‘man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu’. Oleh karenanya tahapan untuk pengenalan diri ini dilakukan melalui 40 tahapan dalam 40 hari (khalwat). Nama manusia tersuci pun dimulai dengan huruf 'm', Muhammad,saw., begitu pun tempat tersuci di dunia ini 'Mekkah' dan 'Madinah'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pencintanya, membuat syair-syair pujian yang elok, Imam Busiri menggunakan huruf m ini untuk karyanya yang masyhur ‘Burdah’. Khalifah Harun Al-Rasyid,ra., pada abad ke-8 pernah merubah tempat lahir Nabi Muhammad,saw., menjadi ruang shalat. Orang-orang yang datang ke Mekkah mendatangi tempat itu dengan membawa-bawa rasa haru dan gembira karena dapat melakukan itikaf, khususnya dihari kelahiran baginda Rasulullah,saw. Tak pelak lagi, orang-orang mengelu-elukan khalifah karena kebijaksanaannya itu. Juga di Arbela, Irak Utara, persiapan-persiapan untuk peringatan maulid sudah dimulai selama sebulan sebelumnya, pondok-pondok kayu didirikan, dan dipersiapkan kamar-kamar tamu bagi para pendatang, dan dipersiapkan pula domba-domba yang besar, kambing dan sapi untuk dipotong guna menghormati para tamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibeberapa negara, kelahiran Nabi Muhammad,saw., identik dengan datangnya cahaya ke alam semesta ini untuk melumatkan kegelapan, maka konsep ‘penerangan’ dijadikan tema-tema dalam perayaannya. Di pelosok-pelosok desa di Jawa, mereka membuat obor dari bambu dan diisi minyak tanah, dinyalakan diwaktu malam hari, dimulai dari pintu utama kampungnya hingga menuju mesjid. Ibu-ibu berdatang dengan membawa beraneka jenis kue-kue yang dibuatnya sendiri, mereka turut berbakti dengan suka cita, sebagai wujud rasa bahagia di hari kelahiran sosok manusia yang paling dicintai dan dihormatinya.  Juga di sebagian kota di Kalimantan, setiap kepala keluarga diwajibkan untuk menyalakan obor dimalam hari selama bulan Rabiul Awwal. Di Turki, perayaan maulid disebut ‘mevlut kandili’ mesjid-mesjid dihias dengan lampu-lampu, dan masyarakatnya berpuasa pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Di Mesir, tradisi maulid terus berlangsung sejak zaman Fathimiyah hinga dinasti-dinasti berikutnya. Para penguasa Mamluk pada abad ke 14 dan 15 biasa memperingati dengan penuh kebesaran dipelataran benteng Kairo, benteng Sultan Salahuddin al-Ayyubi,ra., didirikan sebuah tenda yang sangat besar dan dihias dengan sedemikian indah. Setelah pembacaan Al Qur’an, sultan membagi-bagikan pundi-pundi dan kue-kue serta mengirimkan surat-surat ucapan selamat. Di Kasymir, India, dimainkan genderang-genderang dan terompet-terompet selama dua belas hari pertama dari bulan Rabiul Awwal dan shalawat untuk Nabi diulang-ulang 101 kali setelah shalat. Sebuah dataran amat luas diubah menjadi sentra eksibisi. Disini para pedagang dari seluruh pelosok India menjual produk-produk mereka, dari mulai mainan anak-anak sampai karpet dan batu-batu mulia. Ceramah-ceramah tentang kehidupan Nabi,saw., disampaikan dibawah langit-langit mimbar yang besar. Setelah itu, seribu gadis cantik tampil menyayikan puji-pujian dan tari-tarian, ada pula yang bermain akrobat, dan melantunkan gazal-gazal. Hari pertama perayaan diakhiri dengan membagi-bagikan makanan dan sejumlah uang untuk para fakir miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bogor Baru, tradisi perayaan maulid disatukan dengan perayaan haul, diadakan secara sederhana namun khidmat di kediaman Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya). Para salik dengan penuh rasa kecintaan bahu membahu berusaha mewujudkan agar acara yang agung ini dapat terlaksana dengan baik. Berharap mendapatkan berkah dari kedekatan Rasulullah,saw., Tuan Syaikh Abdul Qodir al Jailani,qs dan Syaikh Muhammad Bahauddin Syah Baqsyabandi,qs. Kepada Tuhannya. Dengan rasa takzim para salik membacakan pujian-pujian teruntuk Nabi,saw., (asrokol) yang diikuti para jamaah yang datang, yang sebelumnya dibacakan Asma Ul-Husna dari kitab Dalail al-Khairat karya Imam Jazuli,ra., lalu pembacaan ayat suci al-Qur’an dan pembacaan sejarah Nabi,saw., Sulthonul Aulia Syaikh Abdul Qodir al-Jailani,qs dan Hadrat Syaikh Muhammad Bahauddin Syah Naqysabandi,qs., serta wejangan dari Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) dan ditutup dengan pembacaan silsilah tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah serta dzikir bersama.  &lt;br /&gt;Kelahiran Yang Mulia Baginda Nabi Muhammad Rasulullah,saw., menjadikan dunia sepenuhnya tenggelam dalam cahaya. Dia telah diutus kepada umat manusia oleh Tuhan Yang Mahaagung dan Mahapenyayang, sebagai Rahmat bagi alam semesta. Dialah Matahari spiritualitas yang menyinari dan menghangati hari-hari kehidupan umat manusia. Dialah cahaya kehidupan, cahaya hati, cahaya yang menerangi pedang-pedang Allah yang terhunus. Seluruh hidupnya, airmata, darah dan hatinya ditumpahkan untuk umatnya. Dialah nabi yang tangannya lebih sejuk dari gunung es dan lebih lembut dari sutera. Keindahannya tak terbandingkan, dari ujung kepala hingga ujung kaki yang diberkati itu, hanya cinta yang menjelma. Dia tidak pernah belajar membaca dan menulis, tetapi telah menyapu bersih seluruh ilmu pengetahuan dijagat raya ini. Ketika Pena menulis nama Tuhan, ia juga menulis nama sang Utusan Tuhan, Muhammad. Dia dituntun menuju cahaya yang penuh rahmat, ditunjuki dengan benar dan sebagai penunjuk jalan yang benar. Cahaya para nabi, cahaya kerajaan langit, malakut, cahaya dunia ini dan dunia yang akan datang berasal dari cahayanya. Inilah cahaya Allah yang mewujud dalam sosok pribadi Nabi, sebagaimana cahaya bulan diambil dari matahari. Yang telah dipuja karena seluruh sifatnya yang agung, dia diberi persembahan segala kata. Karena sifatnya yang mulia, tiang-tiang penyangga tenda seluruh eksistensi tetap tegak ditempatnya, dia adalah rahasia kata-kata kitab malaikat, makna huruf-huruf ‘penciptaan bumi dan langit’, dia adalah Pena Penulis yang telah menuliskan tumbuhnya benda-benda ciptaan, dia adalah murid dimata dunia, guru yang telah menetapkan penutup eksistensi. Dia adalah yang menyusu kepada puting wahyu, dan membawa misteri abadi itu, dia adalah penterjemah bahasa keabadian. Dia membawa bendera kehormatan dan menjaga kendali pujian, dia adalah mutiara utama pada kalung kenabian, dan permata pada mahkota para rasul. Dia adalah yang pertama sebagai penyebab, dan yang terakhir dalam eksistensi. Dia ada lebih dulu dibanding Adam dalam esensinya, meskipun secara lahiriyah dia adalah keturunannya. Dia diutus dengan rahasia terbesar untuk membuka tabir kesedihan, untuk membuat yang sulit menjadi mudah, menafikan godaan hati, melipur kesedihan jiwa, memoles cermin batin, menerangi kegelapan hati, membuat kaya mereka yang miskin hatinya, dan melonggarkan ikatan-ikatan jiwa. Dialah yang mencium tangan kasar pekerja batu, sambil menyatakan ‘tangan yang melepuh inilah yang mengantarkanmu ke surga.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Allah, aku mohon kepada-Mu melalui kedudukannya disamping-Mu, dan keimanannya kepada-Mu, dan penyerahan dirinya dihadapan-Mu, agar memilihnya sebagai wasilah, yang kepadanya diberikan tugas wasilah untuk guru-guruku, untuk kedua orangtuaku, untuk sahabat-sahabatku, untuk diriku dan untuk semua orang yang beriman kepada-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menciptakan dari Nur-Nya berupa Nur Muhammad, sebelum ada lawh al-mahfudh, Pena, tidak Surga ataupun Neraka, tidak Malaikat Muqarabin, tidak langit ataupun bumi; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jin atau manusia, belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan iradat-Nya, dibagi-Nya Nur ini menjadi empat bagian. Dari bagian pertama Allah menciptakan Pena, dari bagian kedua lawh al-mahfudh, dari bagian ketiga Arsy, lalu bagian ke-empat dari Nur itu dibagi lagi menjadi empat bagian. Lalu yang pertama kali ditulis oleh Pena atas atas perintah-Nya adalah kalimat ‘la ilahaa illallah, Muhammadar Rasulullah.’ Allah SWT kemudian berkata : ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya Aku menciptakan Arsy dan Pena dan lawh al-mahfudh; kamu, juga diciptakan dari Nurnya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun,’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruh yang cantik ini diciptakan 360,000 tahun sebelum penciptaan dunia ini, dan itu dibentuk sangat indah serta dibuat dari bahan yang tak terbandingkan. Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati, matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah), mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan, pipinya dari cinta dan kehatihatian, perutnya dari penafian terhadap makanan dan hal-hal keduniaan, kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus, dan jantungnya yang mulia dipenuhi dengan rahman. Ruh yang penuh kemuliaan ini dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalahnya dan kualitas kenabiannya dipasang. Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah disematkan pada kepalanya yang penuh barokah, masyhur dan tinggi diatas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah yang murni dan suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ruh Adam mula-mula ditiupkan ke badannya, ia melihat ke atas ke ‘arasy (singgasana) Allah; kemudian ketika ia berbuat dosa di Surga dan Allah Ta’ala mengirimkannya ke bumi, ia memohon pada Tuhannya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai Tuhanku, demi kehormatan Muhammad, ampunilah aku.”&lt;/span&gt; Allah SWT bertanya padanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai Adam, bagaimana kau tahu akan Muhammad padahal ia belum diciptakan?”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai Tuhanku, saat ruhku memasuki tubuhku dan aku mula-mula membuka mataku, aku melihat ke ‘arasy-Mu, dan di sana aku melihat tertulis, “Laa ilaaha illallah, Muhammadun Rasulullah”, dan aku pun tahu bahwa ia pastilah seseorang yang paling dicintai oleh-Mu dan yang paling terhormat di antara makhluq-Mu hingga namanya sampai tertulis di samping nama-Mu.”&lt;/span&gt; Allah Ta’ala menjawab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ya, engkau benar, dialah kekasih-Ku, dan ia begitu terhormat dalam Pandangan-Ku hingga Ku-ciptakan seluruh alam semesta ini demi dirinya; jika engkau memohon pada-Ku ampunan demi dirinya, akan Ku-ampuni dirimu dan Aku pun akan Mengasihi anak-anakmu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Rasulullah.saw, lahir ke dunia fana ini pada 12 Rabi'ul Awwal tahun Gajah (±571M). Ayahnya wafat saat beliau masih dalam kandungan. Ibunyapun wafat pada saat beliau baru berusia enam tahun. Dua tahun kemudian kakeknya yang sangat ia cintai dan hormati pun wafat. Pamannya, Abu Tholib, yang miskin dan murah hati menjadi pengasuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Rasulullah.saw., memberi contoh tentang bagaimana hidup di alam dunia ini. Yang tidak mencari kandungan benda-benda dunia, namun melulu menuntun kita demi kedekatan dan kebersamaan dengan Allah SWT. Dialah nabi yang sempurna akhlaknya, rupawan wajahnya. Istrinya, Aisyah menyebutnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Akhlaknya al Qur’an’&lt;/span&gt;. Dan Alqur'an pun memberinya sebutan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘uswahtun hasanah’.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Agama sesungguhnya adalah ketulusan cinta (al-Din al-Nashihah).’ Dan ‘Siapa yang mencintaiku kelak disurga bersamaku’.&lt;/span&gt; Tanpa ketulusan cinta beragama akan hambar rasanya, seperti sayur tanpa garam. Itulah mengapa sejak dini Nabi,saw., menganjurkan kepada para orang tua untuk mendidik anak-anaknya cinta kepadanya dan keluarganya serta kecintaan kepada al-Qur'an.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah nabi yang kata terakhir yang lepas dari bibirnya yang suci saat menjelang wafat adalah, ummatku .. ummatku ... ummatku. Inilah nabi yang sangat merindukan kita, ummatnya, meskipun belum pernah bertemu dengannya. Inilah Nabi yang membuat Aisyah menangis ketika makan, karena teringat bahwa Nabi,saw., semasa hidupnya hampir tidak pernah menikmati makanan yang enak. Dengan seluruh kesederhanaannya, tak pernah seorang pengemis pun yang pulang dari rumahnya dengan tangan hampa. Dengan kemiskinannya, beliau menggembirakan seluruh alam dan ummat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah, ra., berkata, Ada seorang pedagang Yahudi berada di Makkah pada malam saat mana Nabi,saw., dilahirkan. Dia bertanya, Wahai, kaum Quraisy, adakah seorang bayi yang baru dilahirkan di antaramu? Mereka menjawab, Kami tidak tahu. Ia berkata, Malam ini, Nabi dari ummat terakhir ini dilahirkan. Di antara kedua bahunya ada suatu tanda yang terdiri atas beberapa rambut di atasnya seperti rambut leher kuda. Mereka menemani Yahudi itu dan pergi ke ibunda Nabi, dan bertanya padanya apakah mereka dapat melihat putranya. Ia pun membawa putranya yang baru lahir kepada mereka dan mereka membuka punggungnya dan melihat tanda kelahiran itu, saat mana sang Yahudi jatuh pingsan. Ketika ia kembali sadar, mereka bertanya padanya, Celakalah kamu. Apa yang telah terjadi padamu? Ia menjawab, Demi Allah, kenabian telah pergi meninggalkan anak-anak Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn al Jazri berkata, Jika Abu Lahab, Yang kafir, yang dicela dalam suatu wahyu al Quran, tetap saja diberikan balasan atas kebahagiannya disaat kelahiran nabi Muhammad SAW, bagaimana dengan kaum muslimin dan umat beliau yang bergembira disaat kelahiran beliau (Mawlid Nabi) dan melakukan yang terbaik untuk memperingatinya memberikan sadaqoh, menambah amal perbuatan baik berzdikir dan membaca riwayat kelahiran beliau saw. Sebagai balasannya, Allah mengaruniakan pada orang-orang beriman dengan barakah yang berlimpah di bulan ini. Telah dibuktikan bahwa salah satu dari sifat-sifat kelahiran Nabi, yang disebut sebagai Mawlid, adalah memberikan keselamatan sepanjang tahun dan kabar gembira akan dipenuhinya semua harapan dan keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Rasulullah,saw., bersabda dalam sebuah hadits: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Pada hari itu, Adam dan seluruh para Nabi akan berada di bawah benderaku. Aku tidak mengatakan hal ini karena kesombongan, tapi hanya untuk memberitahu kalian agar kalian beriman pada apa yang diberikan Tuhanku padaku di Hari Akhir nanti; di hari itu seluruh Nabi akan berada di bawah benderaku atas perintah Allah Ta’ala, dan dengan perintah-Nya pula aku memberitahukan pada kalian agar kalian tahu derajat setiap orang dalam Hadirat Ilahiah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT akan memberikan wewenang kepada Nabi Suci Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam di Hari Akhir nanti. Di hari itu Allah akan menghakimi setiap orang, dan di saat Dia telah selesai dengan keputusan-Nya, Allah,SWT., akan memanggil Muhammad dan menempatkannya di kedudukan paling terpuji (al-Maqam-ul-Mahmud), yang tak seorang pun lainnya mampu meraihnya. Allah Ta’ala akan berfirman, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mintalah, dan apa pun yang kau inginkan akan diberikan padamu, karena orang-orang itu kini menjadi tanggungan dari penghakimanmu.” &lt;/span&gt;Inilah makna dari salah satu ayat dalam Quran yang mengatakan bahwa Muhammad tidaklah diutus melainkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bushiri dalam syair burdahnya berkata : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Pujilah beliau sesukamu dengan sempurna, sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya, dan nisbatkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliannya. Karena sesungguhnya kemuliaan Rasulullah,saw., tak ada batasnya, sehingga tak akan ada lisan mampu mengungkapkannya.’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Wahai umat Muhammad, lihat, rahmat-Ku melampaui kemarahan-Ku. Aku memberikannya kepadamu sebelum kamu meminta, dan mengampunimu sebelum kamu memohon ampunan-Ku. Setiap orang yang bertemu dengan-Ku dan berkata ‘Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’ Aku akan menuntunnya ke surga.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yaa Allah dengan peringatan mawlid dan haul yang sederhana ini, jadikan nama Muhammad tetap melekat dihati kami yang hadir disini, sampai ajal menjemput kami, sehingga kami bisa tersenyum karenanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seluruh dunia meridukanmu wahai Muhammad, jadilah wasilah bagi kami.&lt;br /&gt;Berkahilah wahai Allah, Nabi dan utusan yang terbaik.&lt;br /&gt;Berkahilah wahai Allah, Nabi yang paling mulia diantara jin dan manusia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-5627793921731178784?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/5627793921731178784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/04/mawlid-1431h.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5627793921731178784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5627793921731178784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/04/mawlid-1431h.html' title='MAWLID 1431H'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-2647478898963040426</id><published>2010-04-02T21:27:00.001-07:00</published><updated>2010-04-15T17:51:33.671-07:00</updated><title type='text'>KHAUF - WAJD</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah,ra., bertanya kepada Rasulullah,saw., sambil membaca ayat Al Qur’an ini : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (QS 023 : 60)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; apakah mereka itu orang-orang yang pernah mencuri dan berzina serta minum-minuman yang memabukkan? Rasulullah,saw., menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bukan, mereka adalah orang-orang yang berpuasa dan shalat dan membayar zakat, namun takut kalau-kalau semua amal mereka itu tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang bergegas pada kebajikan dan sangat berpacu menuju kebajikan itu.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog diatas jelas sekali maknanya, bahwa tindak peribadatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh (riyadhah) oleh orang-orang yang telah meninggalkan perbuatan dosa (wara) dan memberikan sesuatu yang halal kepada makhluk lain, akan mendatangkan rasa takut (khauf). Semua tingkatan maqom ada tanda-tandanya, karena tidak ada satupun maqom yang tidak disertai dengan kewajiban-kewajiban yang mesti dipenuhi oleh pemiliknya. Nah, tanda bahwa seseorang itu benar-benar terselimuti oleh rasa takut (khauf) adalah bergegas pada kebajikan, meninggalkan segala sesuatu yang meragukan (syubhat), segala sesuatu yang tidak berarti, dan apapun yang berlebihan. Memberikan sesuatu yang haram dalam jumlah yang sedikit atau banyak sekalipun tidak akan mendatangkan rasa takut, malah sebaliknya, yakni mendatangkan rasa kegundahan yang amat sangat. Beberapa tahun yang lalu Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bilamana seseorang memperoleh hartanya dengan cara tidak halal, maka jangan pernah dibagikan kepada orang lain, karena akan mencemarinya, sebaiknya dimakan saja sendiri agar sempurna kejahatanya.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ujaran ini keras sekali dan akan berlaku terus hingga kini dan dimasa yang akan datang, karena tidaklah mungkin membersihkan rumah menggunakan sapu yang kotor. Oleh sebab itu, orang yang berpendapat bahwa harta hasil curian, atau yang didapat dengan cara yang tidak halal, dapat dicuci dengan cara berbagi kepada orang lain, apalagi kepada Syaikh-nya, adalah salah kaprah dan sia-sia belaka. Seperti memberikan nila setitik kedalam susu sebelanga, maka rusaklah semuanya. Inilah perbuatan yang paling merugi, sebagaimana Allah SWT berfirman :&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.’” (QS 018 : 103– 04)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum’at malam tanggal 2 April 2010, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyampaikan sebuah penjabaran tentang khauf (takut) yang kaitannya dengan wara. Khauf, adalah syarat bagi orang yang mengaku beriman, sebagaimana firman Allah SWT berikut : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.’ (QS 003 : 175)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dan jika rasa takutnya itu adalah pengetahuan yang didasari oleh kebenaran hukum, maka pemilik keadaan ini adalah para ulama, Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.’ (QS 035 : 28)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sedangkan rasa takut (khauf) yang disertai dengan rasa hurmat yang luar biasa adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;haibah&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, dalam hal ini Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.’ (QS 039 : 47)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Syaikh Abu Hafs al Haddad,ra., sahabat Imam Junayd,ra., ia buta huruf dan tidak bisa berbahasa Arab. Ketika sedang berada di pasar tempat ia bekerja sebagai pandai besi, ia mendengar ayat ini dari seorang buta, hatinya bergetar sedemikian meluapnya dan mengalamai ekstase yang begitu hebat. Dengan tangan telanjang ia mengambil besi panas dari dalam tungku, lalu menempanya dengan tangannya sendiri tanpa alat apapun. Orang-orang yang melihatnya menjadi gaduh an terkagum-kagum. Kesadaran insaniyahnya kembali, ia melihat besi panas yang telah jadi ditangannya dan suara gaduh dari orang-orang disekelilingnya, kemudian ia meninggalkan pekerjaan itu dan menjalankan disiplin diri yang keras, dan menjalani meditasi dalam kehidupan terasing. Suatu hari, Ia berkata kepada Imam Junayd,ra., : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Pengorbanan diri berarti berlaku adil terhadap orang lain, dan tidak mencari-cari keadilan bagi diri sendiri. Dan berlaku benar tidak cukup dengan kata-kata.'&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Bangkitlah wahai murid-muridku, pengorbanan diri Abu Hafas tiada tandingannya,'&lt;/span&gt; perintah Imam Junayd,ra., kepada murid-muridnya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wara, tawadhu dan muhasabah adalah busana sebuah maqom khauf (takut). Oleh sebab itu tepat sekali dikatakan bahwa, diantara hamba-hamba yang takut kepada Allah adalah para ulama, atau orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Kehidupannya terisi oleh kontemplasi yang terus menerus tentang sifat Keperkasaan-Nya. Sehingga ia memperoleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(wajd)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dari Kemurahan-Nya berupa ilmu dalam kesabarannya, dan bertambah-tambahnya rasa, sehingga takutnya menjadi mencekam dan menyempitkan dada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Al Qabdh)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Rasa takut ini bukan datang begitu saja, melainkan buah dari menanam pohon  kepatuhan dan menyiraminya pada setiap saat dengan kegigihan didalam melakukan tindak peribadatan.  Orang yang seperti ini dibawa kedalam alam kemuliaan, lalu dibusanai dengan sebuah rasa takut hanya kepada Allah saja. Khauf yang sempurna didalamnya ada muhasabah, menghitung setiap langkah, apakah didalamnya ada waktu yang tersia-siakan. Sesekali dijumpai keindahan berupa ilmu pengetahuan, berupa penjabaran tentang khauf, keadaan ini dalam ilmu kesufian disebut wajd. Orang-orang yang memperoleh wajd, seketika membungkukan badannya, ada juga yang tiba-tiba jongkok. Ia menikmati sesuatu yang amat berharga dan dijadikan kendaraan untuk berdekat kepada Allah SWT. Bagaimana wajd itu datang, bisa dari lantunan suara-suara atau datangnya berita dari orang lain, bisa datang dari bertiupnya angin, teriknya matahari, dan dari rintiknya hujan, upaya memohon wajd disebut tawajud. Orang yang dibusanai khauf yang sempurna, dia mengembara dialam wajd. Dia berhenti sejenak terlepaskan dari hiruk pikuknya dunia dan diri. Maka pemilik khauf ini takut kehilangan rasa takut, oleh sebab itu, ia menjadi waspada sebagai pertahanannya. Tindak tanduknya menjadi tampak ragu-ragu dan sesekali terlalu tegas, khawatir tingkahnya akan mengotori alam semesta, akan menghina dan merendahkan makhluk-makhluk yang lain, termasuk makhluk-makhluk yang tidak terlihat. Begitulah terperincinya pemilik maqom khauf yang sempurna. Maka tidaklah bisa disebut ulama apabila wara dan tawadhu sebagai busana khauf tidak ada, karena ilmu pengetahuan tentang kebertahanan tidak dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bisa menimbang keadaan dirinya, apakah rasa takutnya kepada Allah setara dengan rasa takutnya pada kemiskinan? Bagaimana seseorang yang takut namun bergembira dalam kehidupannya? Dalam hal ini Imam Junayd,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Takut adalah datangnya deraan derita dalam setiap hembusan nafas.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Jadi takut itu laksana api yang membakar objek hawa nafsu yang akan mengusir hasrat akan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Hatim al-Asham,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Janganlah kamu tertipu oleh tempat-tempat yang saleh, sebab tidak ada tempat yang lebih saleh daripada surga, dan pikirkanlah apa yang telah menimpa Adam,as., di tempat yang begitu saleh. Jangan pula kamu tertipu oleh banyaknya amal ibadat. Sebab setelah iblis melakukan ibadat begitu lama, ternyata ia harus mengalami nasibnya seperti itu. Juga, janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ilmu, sebab Bal’am pun mengetahui Nama Allah Yang Teragung (Al-Ismul A-dzam), tapi lihatlah apa yang terjadi padanya? Jangan pula kamu tertipu karena bertemu dengan seorang yang saleh, sebab tidak ada orang yang takdirnya lebih agung daripada al-Musthafa Muhammad,saw., sebab para kerabat dan musuh-musuhnya tidak mengambil manfaat atas perjumpaan dengannya.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa Nabiyullah Isa,as., sedang bepergian, dan bersamanya ada seorang saleh dari bani Israil, dan seorang yang terkenal dengan keburukan akhlaknya mengikuti mereka. Duduk agak jauh dari mereka, orang yang buruk akhlaknya ini berdoa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dilain pihak orang saleh itu juga berdoa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ya Allah, bebaskan aku dari orang berdosa yang mengikuti aku ini, mulai besok pagi.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Maka Allah mewahyukan kepada Nabiyullah Isa,as., : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku telah menjawab doa kedua orang yang mengikutimu, telah Kutolak doa orang saleh ini, dan telah Kuampuni si pendosa ini.’ &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Nah, para sahabat, mencermati pelajaran dari kedua riwayat diatas, akankah kita merasa aman dari tipu daya Allah SWT? Mari segera kita berlidung kepada-Nya dari-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-2647478898963040426?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/2647478898963040426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/04/busana-khauf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2647478898963040426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2647478898963040426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/04/busana-khauf.html' title='KHAUF - WAJD'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7466296071119018563</id><published>2010-03-30T19:58:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T17:41:04.972-07:00</updated><title type='text'>PERTAHANAN</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik itu tidak mudah, seorang dokter menjadi jelek dalam pandangan orang sakit yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit, karena memberikan obat pahit kepadanya. Begitu pula seseorang akan marah, bila ibu jarinya dipotong, tanpa mengetahui bahwa tindakan itu untuk menyelamatkan seluruh tangannya agar tidak membusuk lantaran titanus yang dideritanya. Dalam kehidupan bertarekat juga demikian, oleh sebab tidak mengetahui manfaat yang akan diperolehnya, banyak murid yang malas mengerjakan pekerjaan tarekat dari gurunya. Ini adalah sifat dasar nafs, yakni menolak sesuatu yang dirasa membebaninya, padahal pekerjaan utama bagi para pejalan adalah memeranginya, bertempur melawan dirinya sendiri, melemahkan egonya. Tanpa sebuah kesadaran bahwa pekerjaan tarekat itu akan membawanya kepada penyembuhan terhadap penyakit-penyakit hati yang dideritanya, yang mengakibatkan ia tidak mengenal dirinya sendiri apalagi Tuhannya, maka pengakuannya bahwa ia adalah termasuk orang-orang yang bertarekat adalah sia-sia dan cita-citanya hanyalah sebuah angan-angan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat keberangkatan ketanah suci berkata kepada seorang muridnya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kalau saja tidak bertentangan dengan adab seorang syaikh, aku sudah minta doa darimu.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Mendengar itu sang murid bergembira dan meneteskan airmata. Bergembira karena ia menyadari bahwa dirinya termasuk murid yang jelek, dan gurunya memberikan perhatian kepadanya. Meneteskan airmata karena ia sadar bahwa teguran dari guru adalah tanda kasih sayangnya, dan marah gurunya adalah barokahnya. Karena seorang murid berkewajiban mendoakan gurunya, tanpa diminta meskipun hanya sebentar. Perkataan gurunya menjadi tanda bahwa ia tidak amanah dalam pekerjaannya. Syaikh Yahya bin Mu’adz,qs., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ia adalah seorang teman yang jelek yang engkau perlu meminta maaf karena suatu kesalahan yang engkau telah perbuat kepadanya.'&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Karenanya, belum bisa disebut sebagai sahabat bila celaan tidak terasa manis dan pujian terasa pahit.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik sambil menangis berkeluh kesah kepada gurunya, bahwa ia telah tersinggung oleh kelakuan murid yang lain. Sang guru terheran-heran, pasalnya ia mengadu sesuatu yang seharusnya ia syukuri. Tanpa disadari, sang murid telah membuat pertahanan yang merendahkan dirinya sendiri, yang justru memperlihatkan bahwa ia tidak amanah dalam menjalankan pekerjaan tarekat yang ia peroleh. Buktinya ia menanyakan kepada gurunya, mengapa ia diberi obat pahit, dan mengapa ibu jarinya dipotong. Orang yang tidak menyadari dirinya sakit, tidak bisa melihat sedikit kebenaran yang terkuak, tidak mengerti hakikat bertarekat. Apakah bertarekat itu sekedar membahas pengetahuan tentang tasawuf?, atau membicarakan keindahan perilaku para syaikh sufi saja? Tidak! tetapi pengamalan ilmu lebih diutamakan, terus menerus berjuang memerangi hawa nafsu atau kesenangan jiwa (mujahadah) dikedepankan, sehingga wejangan dari sang mursyid tidak menjadi retorika saja. Para pendzikir sejatinya lebih suka celaan dari pada pujian, dicela itu tanda kasih sayang Tuhan, sedangkan pujian itu tanda murka Tuhan, apalagi ini hanya sebuah koreksi dari saudara yang menyayanginya. Sungguh amat disayangkan, airmata yang teramat mahal harganya itu hanya dipersembahkan untuk memuaskan jiwa rendah. Kejadian ini membuat sang guru bersedih, dan berkata kepada salah seorang muridnya : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Saya prihatin, semakin banyak orang yang mengaji tetapi semakin sedikit yang bertasawuf.’&lt;/span&gt; Ujaran ini mempunyai makna tersembunyi yang membutuhkan penjelasan. Dalam mencari kedekatan kepada Tuhan, adalah menjadi tabiat murid yang jera oleh popularitas daripada oleh sesuatu yang lain. Akibatnya murid yang takut akan bahaya ini selalu berupaya menghindarinya, takut kalau-kalau dia terdindingi dari Tuhan oleh sanjungan sesama murid yang lain. Tetapi sungguh ironis, pada masa kini orang-orang yang mengaku bertasawuf malah sebaliknya, yang dicari adalah pujian dan kepopularitasan. Seharusnya murid mempersiapkan diri untuk menanggung kemalangan, dan menyangkal kesenangan-kesenangan serta ikatan-ikatan pergaulannya, dengan harapan agar keagungan Tuhan diungkapkan kepadanya, maka semakin dia terpisah dari khalayak ramai, dia semakin bersatu dengan Tuhan. Tuhan memuji orang-orang yang tegar dan bersuka cita saat celaan tiba : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.’ (QS 005 : 54)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khafif,qs., adalah sufi besar dari Persia, lahir pada tahun 270 H/882 M. Ia berasal dari keluarga kerjaaan, namun hidup asketisisme (zuhud). Setiap malam, ia berbuka puasa hanya dengan tujuh butir kismis. Suatu ketika ia tidak dapat menemukan kinikmatan dalam ibadah. Lalu ia menanyai pembatunya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Apa yang telah engkau laukakan terhadapku?’&lt;/span&gt; Dijawab oleh pembantunya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kemarin malam, Aku telah memberimu delapan butir kismis, karena engkau terlihat sangat lemah dan itu membuatku sedih.’&lt;/span&gt; Mendengar itu, ia segera memecat pembantunya dan berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kalau begitu, engkau bukanlah sahabatku, seorang sahabat akan memberikan enam butir kismis bukan delapan.’&lt;/span&gt;  Pada kesempatan lain, ia bertemu dengan seorang pemuda akhli meditasi (muroqobah), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Wahai pemuda nasihatilah aku.’ &lt;/span&gt;Dijawab oleh pemuda itu : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kami tidak punya lidah nasihat.’&lt;/span&gt; Lalu ia tetap berdekat dengan pemuda itu selama tiga hari tanpa makan dan tanpa tidur, dalam hatinya berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Apa yang mesti kukatakan agar pemuda ini mau menasihatiku?’&lt;/span&gt; Si pemuda mengangkat kepalanya dan berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bersahabatlah dengan seseorang yang bila engkau memandangnya, Allah diingat, dan yang keterpesonaan padanya menggugah hatimu, seseorang yang menasihatimu dengan lidah amal, bukan dengan lidah kata-kata.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lain, suatu hari, Hasan Al Basri,ra., tampak sedang merenung ditepi sungai Tigris, muridnya yang bernama Habib Al Ajami,ra., tiba di tempat itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Guru, mengapa anda berdiri disini?’&lt;/span&gt; Tanya Habib,ra. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku ingin pergi kesuatu tempat, namun perahunya terlambat datang.’ &lt;/span&gt;Jawabnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Guru, apa yang terjadi padamu, semua yang kutahu, kupelajari darimu. Hilangkan kedengkian dalam hatimu. Tutuplah hatimu dari keduniawian. Ketahuilah bahwa penderitaan adalah hadiah yang amat berharga, dan semua urusan adalah dari Tuhan. Kemudian taruhlah kaki diatas air dan berjalanlah.’ &lt;/span&gt;Selesai berkata demikian, Habib,ra., melangkah diatas air dan meninggalkan tempat itu. Melihatnya, Hasan,ra., jatuh pingsan. Ketika ia siuman, orang-orang bertanya kepadanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Wahai Imam kaum muslim, apa yang terjadi padamu?’ &lt;/span&gt;dijawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Muridku, Habib, baru saja menegurku, kemudian ia melangkah diatas air dan pergi meninggalkan tempat ini, sementara aku tetap tak berdaya. Jika kelak, di Yaumil Qiyamah aku diperintahkan untuk menyeberangi jembatan itu (Sirath yang beliau maksud), dan aku tetap tak berdaya seperti ini, apa yang dapat aku lakukan?’ &lt;/span&gt;Kisah ini sungguh bagus, meskipun teguran datangnya dari murid, beliau tidak menanggapi secara berlebihan, apalagi tersinggung, malah digunakannya sebagai sarana untuk ‘wajd’ atau memperoleh ekstasi ruhani. Oleh karenannya, ia fana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam suatu pertemuan, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Tak satupun diantara kalian dapat mendekatiku apalagi melebihiku, bila tiba waktunya akan saya beritahukan.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Perkataan ini, bila diucapkan oleh awam terdengar angkuh, tapi dimulut seorang mursyid menjadi beda maknanya. Teguran keras ini meluncur begitu saja, beberapa murid sesak dadanya dan sebagian lagi malah bergembira. Kelompok yang pertama memandang indah pada dirinya sedangkan kelompok kedua memandang rendah dirinya sendiri, orang yang memandang indah pada dirinya adalah orang yang tinggi hati, sedangkan orang yang memandang rendah dirinya sendiri adalah orang yang tawadhu. Orang yang tinggi hati, derajatnya akan tergelincir pada setiap harinya, sedangkan orang yang tawadhu, derajatnya akan ditinggikan pada setiap detiknya. Seorang murid berkata kepada murid-murid yang lain : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Untuk apa pernyataan itu dibahas, bukankah syaikhuna juga pernah mengalami hal yang sama, tatkala beliau sedang duduk bersama sahabat yang lain, tiba-tiba gurunya berkata : ‘Kalian murid-murid yang bodoh.’” &lt;/span&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) dilain kesempatan berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sebaik-baik alasan yang diberikan oleh seseorang, adalah pertahanan nafs-nya, yang mencermikan betapa besar egonya, sehingga tidak mampu melihat hikmah yang begitu jelas.’&lt;/span&gt; Saling bertukar informasi sesama murid adalah perbuatan yang umum dilakukan didalam kehidupan bertasawuf. Meskipun informasi itu benar dan dapat mengusir buruk-buruk sangka yang tidak diperlukan dalam kehdiupan ini, namun karena derajat murid masih ditunggangi oleh egonya, maka segala sesuatu yang keluar dari mulutnya menjadi hambar. Oleh karenanya, bila mampu, lebih baik diam dan mencermati perilaku sang guru serta meneladaninya, daripada membuat pertahanan yang membuat hati semakin gelap dan jauh dari keridhoan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah diatas persis seperti ketika Allah SWT memerintahkan Adam,as., untuk tidak mendekati buah kuldi, lalu ditaatinya, dan memerintahkan Iblis yang terkutuk untuk sujud dihadapan Adam,as., akan tetapi ditolaknya. Sehingga tampak jelas bahwa kepatuhan adalah sifat kenabian dan pemberontakan adalah sifat iblis. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) menyebut alasan sebagai pertahanan nafs, yang pada akhirnya akan membuat perbandingan, sebagaimana tindakan iblis yang pertama : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku diciptakan dari api sementara Adam dari tanah. Jelas api mengungguli tanah, karena api mewakili cahaya dan tanah mewakili kegelapan.’&lt;/span&gt; Padahal pertahanan Iblis ini salah kaprah, karena keunggulan berasal dari pengendalian diri dan kebajikan dan tidak bisa dibadingkan dengan apapun juga. Sehingga karena Adam,as., dianugerahi kedua hal itu, maka meskipun ia diciptakan dari tanah, namun wajahnya bercahaya, tidak demikian dengan iblis, meskipun ia diciptakan dari api, namun wajahnya hangus terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya murid bergembira tatkala gurunya berkata seperti itu, karena menunjukkan bahwa semua muridnya masih &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘bodoh’&lt;/span&gt;, yang berarti bahwa sang murid masih membutuhkan bimbingan yang terus menerus dari gurunya, dan sang guru masih ridho mengasuhnya, seperti bayi yang masih terus mencari puting susu ibundanya, daripada bernasib seperti Iblis yang akhirnya dilaknat oleh-Nya dan diusir dari tempat ketinggian serta jahanam tempat kembalinya. Para murid dapat bercermin pada riwayat ini, dirubat milik Syaikh Nuurunnaum Suryadipraja (semoga Allah mensucikan ruhnya), Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) dihadapan beberapa muridnya mengatakan bahwa dirinya ‘bodoh’, mendengar itu Syaikh Nuurunnaum Suryadipraja menyahut : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ya, karena gurunya juga ‘bodoh’.”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Riwayat ini shahih dan sungguh indah, betapa ketinggian ruhani antara murid dan guru begitu tinggi, sehingga dengan ketawadhuannya membuat alam semesta ini merunduk. Tidak ada pertahanan dalam dirinya, egonya telah sirna, yang muncul hanya keindahan dan kejelasan-kejelasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti makna murid dalam dunia kesufian yang berarti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘yang berkehendak’&lt;/span&gt;, dan makna murad yang bermakna &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘yang dikehendaki’&lt;/span&gt;, yakni sang mursyid. Oleh karenanya, selama kesadaran dalam diri sang murid terus hidup bahwa dirinya menghendaki sang mursyid, maka apapun yang dilakukan oleh yang dikehendakinya, meskipun secara jahiran tampak kacau akan terlihat indah baginya. Sebaliknya bilamana seorang murid sudah berpaling dalam kehendaknya maka keindahan apapun yang dilakukan oleh sang mursyid akan tampak buruk baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Jalaluddin Rumi,ra., dalam kitab masnawinya berkisah bahwa suatu ketika tiang yang biasa disandari oleh Rasulullah,saw., mengeluh, karena sudah ada tempat sandaran baru, yakni dinding diatas mimbar yang menjadi sandarannya. Rasulullah,saw., bertanya kepada tiang itu : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Inginkah engkau menjadi pohon kurma, sehingga orang dari barat dan timur mendatangimu untuk memperoleh buah? Atau, inginkah engkau menjadi pohon cemara yang hampir abadi, tegar dan selalu segar?’ &lt;/span&gt;Tiang itu menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Yang kuinginkan adalah keabadian hidup.’&lt;/span&gt; Mendengar itu Rasulullah,saw., bergegas menguburkan tiang itu, sebagaimana lazimnya jasad manusia dikuburkan. Kisah ini amat elok, sarat dengan pelajaran tasawuf, dalam hal ini Rasulullah,saw., bertindah sebagai sang guru yang menawarkan dua pilihan, yakni pohon kurma yang mewakili pemberian manfaat kepada makhluk lain, berupa buah atau pohon cemara yang mewakili kemewahan hidup. Akan tetapi, sang murid sungguh siap keadaan ruhaninya, ia tidak memilih satu diantara dua pilihan melainkan menginginkan kehidupan bagi qolbunya, karena ia menyadari betapa sulitnya mengalahkan gerak-gerik egonya. Oleh karenanya, sang guru bersegera menguburkan egonya, dan hanya oleh orang-orang yang telah terkubur egonya, ego murid-murid dapat dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh bahagia pemilik ‘kesadaran’ seperti tiang tadi, jauh melampaui kesadaran dari murid-murid yang sibuk membahas anjuran dan ajaran sang mursyid. Yang bergulat antara ingin menjadi pohon kurma atau pohon cemara.&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita semua, amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7466296071119018563?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7466296071119018563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/03/pertahanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7466296071119018563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7466296071119018563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/03/pertahanan.html' title='PERTAHANAN'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-3268011485132093144</id><published>2010-03-03T21:25:00.000-08:00</published><updated>2010-03-05T04:02:45.626-08:00</updated><title type='text'>KEPERWIRAAN (FUTUWWAH)</title><content type='html'>Bismillahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik dalam keadaan bersedih yang amat sangat berusaha menyembunyikan kesedihannya, khawatir bila diketahui akan menggangu keceriaan yang sedang berlangsung diantara sahabatnya. Ditutupinya kesedihan itu dengan prilaku sebaliknya, sehingga tak satupun sahabatnya mengetahui keadaan sesungguhnya. Kesedihannya dikarenakan Ibunda tercintanya sedang sakit, yang berkata kepadanya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kecantikan telah hilang, yang tua minta dihormati dan yang muda minta disayang. Semua untuk dirinya bukan untuk orang lain, apalagi untuk Allah SWT. Aku telah ridho meninggalkan dunia yang seperti ini.’&lt;/span&gt; Tak lama kemudian ia berjumpa dengan sahabat-sahabatnya, kebetulan sedang membicarakan tentang hal kesedihan, sang salik itu berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Betapapun pengetahuan kesedihan ini dibicarakan, namun kalian tidak akan bisa merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh orang-orang yang sedang bersedih, karena kalian sedang tidak dalam keadaan bersedih. Ketahuilah kesedihan itu sungguh pedih, seolah-olah berjuta-juta jarum bersarang didalam dada, sehingga daya harap (roja) begitu tinggi, ia maujud didalam kontemplasinya.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan telah lenyap! Begitulah kata seorang ibu yang sedang sakit, tak heran jika alam menjadi beringas, gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran hutan dan badai terjadi dimana-mana, karena jijik dihuni oleh manusia yang menjadi durjana. Sifat kesatria tinggal cerita-cerita saja, dan hanya bisa ditemui didalam kitab-kitab para syaikh sufi, serta hanya bisa didengarkan dari para pendakwah saja, tanpa ada lagi tauladan, laksana mencari sebutir berlian disamudera nan luas. Sifat kesatria atau keperwiraan atau dalam istilah tasawuf disebut futuwwah, menjadi pembicaraan hangat para sufi terdahulu, pada saat itu, semua berlomba menghias alam semesta ini dengan futuwwah yang begitu indah dan menggetarkan hati. Imam Qusyairi,ra., didalam kitabnya yang masyhur Risalatul Qusyairiyah menggolongkan futuwwah kedalam maqom, sedangkan Syaikh Abu Abdirrahman al Sulami,qs., mengatakan bahwa futuwwah adalah tidak merusak kebaikan yang telah dibangun sebelumnya, bersikap lembut kepada orang bodoh dengan kemurahan hatinya, mendidik orang bakhil dengan kedermawanannya. Dizaman kini, orang menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, bahkan para ulama juga terhinggap penyakit yang demikian, persis seperti seorang wanita yang mengurai benangnya yang sudah dipintal dengan kuat sehingga tercerai berai kembali. bersikap kasar kepada orang bodoh, dengan menceramahinya secara panjang lebar, padahal contoh perilaku yang baik lebih berguna baginya, dan tidak satupun yang mendidik orang bakhil dengan hartanya, melainkan menghakiminya sebagai akhli bakhil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun futuwwah tinggal cerita-cerita saja, dan orang-orang masa kini mengklaim sebagai pemiliknya tanpa menunjukkan bukti-bukti tindakan yang shahih, ada baiknya bila kita simak beberapa kisah apik yang terjadi dimasa silam sebagai pengetahuan. Sebuah riwayat mengatakan bahwa disaat akhli futuwwah sedang mengunjungi seorang laki-laki yang terkenal karena futuwwahnya. Laki-laki itu menyuruh pelayannya membawa tilam makanan, namun setelah ditunggu beberapa lama, pelayan itu tidak datang. Para tamu saling berpandangan seraya berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ini tidak benar dalam aturan futuwwah.’&lt;/span&gt; Akhirnya, tidak lama kemudian pelayan itu pun muncul, laki-laki itu bertanya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Mengapa begitu lama?’ &lt;/span&gt;Dijawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ada seekor semut pada tilam itu. Tidaklah patut menurut futuwwah, membentangkan tilam untuk para tamu yang akhli futuwwah manakala ada semut diatasnya, sebaliknya, tidaklah benar pula mencampakkan semut dari kain tilam itu. Jadi saya menunggu sampai semut itu merayap meninggalkan tilam.’&lt;/span&gt; Seorang tamu itu berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jika pelayannya saja mempunyai futuwwah yang begitu tinggi, bagaimana tuannya?’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah, suatu ketika ada jemaah haji yang kehilangan uang, didekatnya ada seseorang, lalu ia memegang tangannya seraya berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘ Apakah engkau yang mencuri kantong uangku?’&lt;/span&gt; orang itu bertanya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Apa isi kantongmu?’&lt;/span&gt; jemaah haji itu menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Uang sebanyak seribu dinar.’&lt;/span&gt; Laki-laki itu lalu membawa kerumahnya dan memberinya uang seribu dinar. Jemaah haji itu akhirnya kembali ke penginapannya dan menemukan kantong uangnya yang dikiranya hilang. Lalu ia pun pergi menemui laki-laki tadi bermaksud mengembalikan uang yang telah diterimanya dan mengajukan permohonan maaf atas tuduhannya. Laki-laki itu berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku tidak pernah menerima kembali barang yang telah aku berikan.’&lt;/span&gt; Jemaah haji itu bertanya kepada laki-laki itu : ‘Siapakah nama tuan pemilik futuwwah yang demikian tingginya?’ dijawab : ‘Ja’far ash-Shaddiq.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far ash-Shaddiq,ra., adalah cicit Rasulullah,saw., dan juga berdarah Abu Bakar ash Shaddiq,ra., lahir pada tahun 83 H. Semasa kecil diasuh oleh ayahnya yang bernama Imam Muhammad Baqir,ra., dan juga kakeknya, Imam Ali Zainal Abidin,ra. Beliau hidup pada masa Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Pada masa itu muncul doktrin-doktrin baru, yakni, muktazilah atau penganut faham qadariyah yang percaya bahwa manusia bebas menentukan pilihannya sendiri tanpa Tuhan mencampurinya, lalu doktrin jabariyah yang percaya bahwa manusia itu tidak mempunyai pilihan sama sekali, doktrin zandaqah, dan lain-lain. Oleh karenanya, sungguh sangat hebat tekanan kehidupannya, karena disamping harus berhadapan dengan penguasa bani Umayah, kemudian bani Abbasiyah, juga berhadapan dengan pengikut doktrin-doktrin yang baru tadi. Imam Jafar ash Shaddiq,ra., syahid diracun oleh Manshur penguasa dari bani Abbasiyah. Makamnya berada di komplek pemakaman Baqi di Madinah berdampingan dengan pusara ayahnya, Imam Muhammad Baqir,ra., dan pusara kakeknya, Imam Ali Zainal Abidin,ra. Kakek, ayah dan beliau sendiri adalah para akhli silsilah Qodiriyah, dan beliau juga akhli silsilah Naqsyabandiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika beliau bertanya kepada Syaikh Syaqiq al-Balkhy,qs., : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Apa pendapatmu tentang futuwwah?&lt;/span&gt;’ Dijawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jika kita diberi sesuatu, kita bersyukur dan jika tidak diberi, kita bersabar.’&lt;/span&gt; Imam Ja’far,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Anjing-anjing di Madinah juga bersikap seperti itu. Seharusnya jika kita diberi sesuatu kita berikan kepada orang lain, dan jika tidak diberi, kita bersyukur.’ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik berkata kepada salik yang lain : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Si fulan begini dan begitu kemana sifat kesatrianya?’&lt;/span&gt; Dijawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Engkau menanyakan sesuatu yang sudah lama lenyap dari muka bumi ini, yakni futuwwah, tanyakan kepadaku tentang keserakahan, karena aku rajanya.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hadist mengatakan bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Allah Itu Indah dan mencitai keindahan.’ &lt;/span&gt;Karenanya, orang-orang yang percaya bahwa kecantikan itu bisa mewujud kembali, berusaha dengan sekuat tenaganya untuk meraihnya kembali, dengan teguh melaksanakan dawamudz dzikri wadawamun ubudiyah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-3268011485132093144?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/3268011485132093144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/03/keperwiraan-futuwwah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3268011485132093144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3268011485132093144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/03/keperwiraan-futuwwah.html' title='KEPERWIRAAN (FUTUWWAH)'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7731393064545811609</id><published>2010-02-17T18:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T22:10:44.985-08:00</updated><title type='text'>MISKIN - SAKIT ATAU KAYA  - SEHAT</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Abu Dzar Al Ghifari,ra., mengatakan : ‘&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Aku lebih mencintai kefakiran daripada kekayaan dan sakit daripada sehat.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Imam Abu Abdullah Al Husayn,ra., ditanya tentang ucapan Abu Dzar,ra., diatas dan beliau menjawab : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Semoga rahmat Tuhan atas Abu Dzar! Namun, kukatakan bahwa barangsiapa memperhatikan dengan saksama pilihan yang dibuat oleh Tuhan baginya, tidaklah menginginkan apa-apa, kecuali apa yang Tuhan telah pilihkan baginya.’ &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Terlihat secara sepintas bahwa ada perbedaan dari pernyataan kedua manusia agung ini (semoga Allah meridhoi mereka berdua), akan tetapi bila dicermati jawaban Imam Husayn,ra., malah mendukung pernyataan Abu Dzar Al Gifari,ra. Meskipun orang awam akan melihat bahwa Abu Dzar,ra., masih membuat pilihan, sehingga jauh dari keridhaan. Faktanya tidaklah demikian, karena selama hidupnya Abu Dzar,ra., selalu dalam keadaan miskin dan sakit namun menghadapinya dengan suka cita, ini adalah hakikat ridha. Oleh karenanya, cucu Rasulullah,saw., memujinya dan mendoakan dengan mengatakan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;'Semoga rahmat Tuhan atas Abu Dzar.' &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Tanda keridhaan atas ketetapan Tuhan terhadapnya, bisa dilihat dari perilaku selama hidupnya. Beliau adalah termasuk orang yang ke lima memeluk Islam. Dialah orang Islam pertama yang meneriakkan dua kalimat syahadat di Masjidil Haram secara terang-terangan didepan orang Qurays, sehingga ia babak belur di pukuli oleh mereka. Perjuangannya menjadi semakin berat dimasa kekhalifahan Usman bin Affan,ra. Beliau mengingatkan seluruh penguasa agar hidup sederhana, termasuk Muawiyah bin abu Sufyan yang saat itu menjabat gubernur Syria, dan kedua sahabatnya Abu Musa al-Asy’ari,ra., dan Abu Hurairah,ra. Meskipun mendapat perlawanan yang sengit ia tetap pada pendiriannya itu, yang pada akhirnya, karena dianggap sebagai penghalang dan tidak disukai oleh para penguasa padasaat itu, ia memohon kerelaan Usman bin Affan,ra., untuk melepaskan kepergiannya dan tinggal bersama istri dan seorang anaknya di padang pasir liar yang bernama Rabadzah, sampai beliau wafat disana. Orang yang pertama kali menemukan jasad beliau yang sedang ditangisi oleh anak dan istrinya, karena tidak ada kain kafan untuk membungkusnya adalah Ibnu Mas’ud,ra., yang kebetulan lewat disitu. Ibnu Mas’ud,ra., adalah termasuk orang yang masuk islam pada masa awal, kalau tidak salah yang ke enam setelah Abu Dzar,ra. Dahulu pada saat perang tabuk, Ibnu Mas’ud,ra., menyaksikan Rasulullah,saw., bersama-sama dengan Abu Bakar as Siddiq,ra., dan Umar bin Khatab,ra., menguburkan jasad Abdullah Dzulbijadain,ra., dan beliau mendengar Rasulullah,saw., bersabda : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Ya Allah, aku telah ridha kepadanya, maka ridhailah pula ia oleh-MU.’ &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Mendengar itu Ibnu Mas’ud,ra., menangis sambil memekik &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Alangkah baiknya seandainya akulah yang jadi pemilik liang kubur itu!’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Dan kesedihan ini berulang lagi, kali ini beliau berhadapan dengan jasad pemilik maqom ridha, sahabat yang ia cintai. Apa yang dilakukan Abu Dzar al Gifari,ra., selama hidupnya tidak lain hanyalah mengiginkan kebahagiaan sahabat-sahabatnya, agar tidak tertipu oleh jabatan dan kekayaan dunia ini. Lidahnya lebih tajam dari pedang dzulfaqor milik Sayyidina Ali,ra., guna berbagi kepada sahabat-sahabatnya, tentang keutamaan kefakiran dan sakit, karena hakikat kemuliaan seseorang terletak pada kedua kondisi ini. Miskin, sakit atau penderitaan apapun adalah kemuliaan, dan kaya, sehat atau kesenangan adalah kehinaan. Kemuliaan adalah yang membuat seseorang ‘hadir bersama Tuhan (hudhurul Haqq)’, dan kehinaan adalah yang membuat seseorang jauh dari Tuhan. Duka cita miskin, sakit dan penderitaan lainnya adalah tanda ‘kehadiran’, sementara nikmat kekayaan, kesehatan dan bentuk kesenangan lainnya adalah tanda ‘ketidak hadiran’. Karena itu, seseorang harus terus menanggung kesulitan yang melibatkan kontemplasi (muroqobah) dan keakraban (aqrobiyah). Seburuk-buruk manusia adalah dia yang dianggap taat kepada Tuhan, namun sebenarnya tidak, dan manusia yang paling mulia adalah dia yang tidak dianggap taat kepada Tuhan, namun sesungguhnya taat. Yang pertama menyerupai pengacara yang bodoh, yang berpura-pura dapat membela orang, padahal hanya membuat mereka semakin buruk, dan bilamana ia bermasalah, ia memerlukan pengacara lain untuk membelanya, dan yang kedua seperti orang yang tidak dikenal sebagai pengacara dan tidak memperhatikan orang lain, namun menggunakan keakhliannya agar dirinya tetap selamat. Oleh karenanya Imam Sybli,ra., berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Kemiskinan adalah lautan kesulitan, dan semua kesulitan demi Dia adalah kemuliaan.’ &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7731393064545811609?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7731393064545811609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/02/miskin-sakit-atau-kaya-sehat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7731393064545811609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7731393064545811609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/02/miskin-sakit-atau-kaya-sehat.html' title='MISKIN - SAKIT ATAU KAYA  - SEHAT'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-2880742316617338345</id><published>2010-02-17T05:32:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T17:18:21.453-08:00</updated><title type='text'>RIDHA</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.’ (QS 098 : 8)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian pada hari Jum’at malam, tangal 12 Pebruari 2010 membahas tentang ridha, yang disampaikan oleh Ustadz. Udin Saepudin Muhidin dari kitab Kasyful Mahjub yang sangat mashyur, karya Abul Hasan Ali bin Utsman bin Ali Al Ghaznawi Al Jullabi Al Hujwiri (w. 456 H) atau yang dikenal dengan nama Imam Hujwiri,qs., lahir di Ghazna, Afghanistan, yang hidup sezaman dengan Imam Qusyairy,qs., (w. 465 H) penulis karya Risalatul Qusyairiyah yang fenomenal itu. Beliau hidup mengembara dari Syria hingga Turkistan dan dari Hindustan hingga Laut Kaspia. Tempat-tempat penting yang telah dikunjunginya adalah Azerbaijan, makam Syaikh Abu Yazid Al Busthami ( w. 261 H) di Damaskus, makam Syaikh Abu Sa’id bin abul Khair di Mihna, Merv, Turkmenistan, lalu ke Samarkand dan Irak, terakhir hijrah ke Lahore, Pakistan sampai wafatnya dan di makamkan disana. Salah satu gurunya dibidang tasawuf adalah Syaikh Abul Qosim Gurgani,ra., mungkin yang dimaksud adalah Syaikh Abul Hasan al-Kharqani,ra., (w. 425 H), Kharqan adalah sebuah desa dekat Bistam di Iran. Beliau juga hidup sezaman dengan Syaikh Abu Ali Al Farmadi,qs., (w. 447 H), akhli silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang saat itu bernama tarekat Taifuriyah, yang diambil dari nama mursyidnya terdahulu, yakni Syaikh Abu Yazid Al Bisthami.ra. Farmad adalah sebuah desa dekat Tus di Iran tidak jauh dari Kharqan. Imam Hujwiri,qs., bersama-sama dengan Syaikh Abu Ali Al Farmadi.qs., menjadi murid dari Syaikh Abul Qosim Gurgani,ra., atau Syaikh Abul Hasan Al Kharqani.ra. Oleh karenanya, Imam Hujwiri,qs., berziarah ke makam Syaikh Abu Yazid Al Bistami,ra., di Syria, sebagai guru dari Syaikh Abul Hasan Al Kharqani,ra. Jika demikian adanya, maka Imam Hujwiri,qs., adalah penganut atau Syaikh dari tarekat Taifuiryah atau sekarang bernama tarekat Naqsyabandiyah. Dalam kitabnya Imam Hujwiri,qs., berkata : ‘Insya Allah, Syaikh Abul Hasan Al Kharqani akan mempunyai seorang pengganti yang piawai, yang wewenangnya diakui seluruh Sufi, yakni Abu Ali Al Fadhl bin Muhammad Al Farmadi, yang tidak pernah lalai memenuhi tugas kewajibannya terhadap gurunya, dan telah meninggalkan semua benda duniawi, dan melalui berkah dari penyangkalan itu dia telah dibuat oleh Tuhan sebagai corong ruhani.’  Baik Imam Hujwiri maupun Syaikh Abu Ali Al Farmadi adalah murid-murid terbaik dari tarekat Taifuriyah, akan tetapi penerus rantai emas silsilahnya jatuh ketangan Syaikh Abu Ali Al Farmadi.qs. yang diteruskan kepada Syaikh Yusuf Hamadani (w. 535 H), lalu diteruskan kepada Syaikh Abdul Khaliq Al Gujdawani (w. 575 H) dan seterusnya yang hingga kini sampai kepada guru kita tercinta Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), semoga silsilah dari tarekat yang mulia ini bersambung terus sampai akhir zaman nantinya, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Kitab Kasyful Mahjub ini tidak kalah sulitnya untuk diterjemah kedalam bahasa Indonesia selain kitab Qutul Qulub karya Syaikh abu Thalib al Makki,qs.’ Ustadz. Udin Saepudin Muhidin menyampaikan tentang ridha yang berkenaan dengan doktrin dari Syaikh Abu Abdallah Harits bin Asad Al Muhasibi (w. 243 H) atau yang dikenal dengan Al Muhasibi.qs. Kekhasan doktrin ini adalah tidak mengganggap ridha sebagai maqom melainkan memasukkannya kedalam ‘hal’ atau jamaknya ‘ahwal’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridha adalah puncak gunung spiritual bagi para pejalan (muthasowif), orang-orang yang telah berhasil mencapainya tidak lagi disebut pejalan (muthasowif) melainkan  Sufi. Karena telah gugur keinginan-keinginan dirinya (fana). Tanda ridha adalah tidak mempunyai pilihan sebelum diputuskannya ketetapan (Allah), lalu tidak merasakan kepahitan melainkan ketenangan dan keserasian hati setelah diputuskannya ketetapan, dan tetap merasakan gairah cinta ditengah-tengah cobaan. Karenanya ridha menjadi dambaan para pejalan, sebagaimana doa para murid pada setiap kesempatan : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Ilahi anta maksudi, waridhaka matlubi, a’tinii mahabbataka wa ma’rifatakaa yaa Arhamaar Rahimiin, Yaa Allah Engkaulah yang aku maksud, ridha-Mu aku harapkan dan karuniakan cinta kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu wahai Engkau Yang Maha Belas Kasih.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Habib Al ‘Ajami,ra., ditanya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Apa yang diridhai Tuhan?’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Beliau menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Hati yang tidak ternodai oleh kemunafikan.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sedangkan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ridha itu menerima apa yang ditentukan oleh Allah SWT.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ujaran ini indah sekali, meskipun berbeda bentuk penyampaiannya tetapi mempunyai makna yang sama, yakni, hakikat ridha ada dalam keselarasan, karena keselarasan adalah lawan dari kemunafikan. Sedangkan cinta, bersih dari  kemunafikan, oleh sebab itu cinta senantiasa hidup dalam keadaan ridha. Sehingga ridha adalah watak sahabat-sahabat Tuhan, sementara kemunafikan adalah watak seteru-seteru-Nya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat mengusap kepala dengan air wudlu selalu mengucap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Yaa Allah aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ini adalah puncak tawakal, barang siapa mempunyai keteguhan dihati, menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan pada setiap waktu, tidak bersandar kepada harta, tidak pula pada perantara, dan tidak pula kepada makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah SWT saja, hingga saat tidak diberi, tetap bisa merasakan kenikmatan sebagaimana kenikmatan saat diberi, maka ia telah berada pada maqom tawakal. Puncak tawakal adalah awal daripada ridha, yakni menunggu sebab dari Pemberi Sebab, tanpa melihat kepada sebab, serta tanpa kegelisahan, kesusahan, kesedihan, dan kedukaan. Sedangkan bukti apakah seseorang telah memasuki maqom ridha, hatinya selaras setelah kedatangan ketetapan Tuhan. Oleh sebab itu ridha itu muncul setelah kedatangan takdir, karena, jika ridha mendahului, itu hanya niat untuk ridha, yang tidak bisa disamakan dengan ridha yang aktual. Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Wahai Tuhan, aku memohon keridhaan-Mu setelah maujudnya ketetapan-Mu.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Nabi,saw., yang keadaan ruhaninya paling sempurna diantara semua makhluk masih berdoa seperti itu. Seolah-olah ada keinginan didalamnya, padahal orang-orang yang berada pada maqom ridha keinginannya sirna, karena Allah membuat selaras keinginannya dengan kehendak-Nya. Sikap memanusiakan dirinya sungguh hebat, ketawadhuannya tidak ada duanya diatas bumi ini, yakni, agar Allah SWT membuatnya ridha bila ketetapan-Nya tiba, padahal yang mulia Rasulullah,saw., adalah pemilik ridha yang tertinggi. Berarti didalamnya ada pembelajaran untuk umat islam, bahwa merendah bagai bumi adalah perbuatan yang sangat mulia, dan ridha bisa disebut maqom atau ‘hal’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ridha tidak ada didalam kata-kata.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kata-kata hanyalah digunakan untuk sekedar mentransformasi secara maksimal ilmu pengetahuan tentang ridha dan bukan ridha itu sendiri. Ridha adalah tujuan akhir bagi para pejalan (mutashowif), yang upayanya atau keberjuangannya melawan dirinya sendiri (mujahadah) telah berakhir dan berpindah menjadi keberserahan. Ayat Al Qur’an diatas : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya,’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menunjukkan ridha Tuhan kepada manusia dan ridha manusia terhadap Tuhan. Bentuk ridha Tuhan berupa pahala bagi perbuatan-perbuatan baik manusia, sebagai manifestasi kasih-sayang-Nya. Sedangkan ridha manusia terkandung didalam pelaksanaan perintah Tuhan dan menyerah kepada segala keputusan-Nya. Dengan demikian keridhaan Tuhan mendahului keridhaan manusia. Nah, seseorang yang berpaling kepada pemberian bukan kepada Sang Pemberi, menerima pemberian itu dengan segenap jiwanya, yang mengakibatkan kesedihan dan kesulitan lenyap dari dalam hatinya. Sedangkan seseorang yang berpaling dari pemberian kepada Sang Pemberi, kehilangan pemberian itu dan menempuh jalan keridhaan dengan usahanya sendiri. Usaha adalah kepedihan dan menyusahkan, sedangkan ‘hal’ hanya terwujud bilamana disingkapkan oleh Tuhan. Oleh karenanya, keridhaan bila dicari dengan usaha, merupakan belenggu dan tirai. Sebagaimana kebahagiaan, adalah bilamana mengantarkan kepada Sang Pemberi kebahagiaan bukan menikmati pemberian-Nya, jika tidak demikian, merupakan penderitaan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat menghadapi penyakit yang menurut orang kebanyakan merupakan penyakit yang sangat berhaya, terlihat bergembira dengan penderitaan yang Tuhan turunkan, gembira karena dalam penderitaan beliau melihat Sang Pencipta Penderitaan dan bisa menanggung penderitannya dengan merenungkan Dia yang menurunkan penderitaan, beliau tidak menganggapnya sebagai kepedihan, yang demikian adalah rasa nikmatnya dalam merenungi kekasihnya. Akhirnya, mereka yang puas dengan sesuatu yang dipilihkan oleh Tuhan, adalah kekasih-kekasih-Nya, yang hati mereka berada dalam hadirnya Kesucian dan dalam taman Kedekatan, yang tidak berpikir tentang benda-benda ciptaan dan telah bebas dari ikatan-ikatan ‘maqom’ dan ‘hal’ dan telah mengabdikan diri mereka kepada cinta Ilhai. Keridhaan mereka tidak melibatkan kesia-siaan karena keridhaan dengan Tuhan adalah suatu kerajaan yang nyata. Ciri khas ridha adalah mengusir semua duka cita dan menyembuhkan kelalaian serta membersihkan hati dari pikiran-pikiran yang berhubungan dengan selain Tuhan dan membebaskannya dari belenggu kemalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, semua umat manusia, baik mereka mau ataupun tidak, mesti merujukkan persahabatan  dengan Tuhan. Bilamana seseorang ridha dengan-Nya dalam malapetaka, hanya akan melihat Pencipa malapetaka dan malapetaka itu sendiri tidak tampak. Dan jika tidak, malapetaka muncul dan hatinya dipenuhi oleh duka cita. Allah yang telah menentukan keridhaan dan ketidak ridhaan, tidak mengubah takdir-Nya, karena itu, keridhaan terhadap keputusan-keputusan-Nya adalah sebagian dari kebahagiaan. Kapan saja seseorang selaras dengan Tuhan, hatinya akan bergembira, dan kapan saja orang berpaling dari-Nya, maka orang itu menderita dengan datangnya ketetapan-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-2880742316617338345?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/2880742316617338345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/02/ridha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2880742316617338345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2880742316617338345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/02/ridha.html' title='RIDHA'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-2576887728833098928</id><published>2010-01-19T18:10:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T03:18:44.634-08:00</updated><title type='text'>HARAP (ROJA) - TAKUT (KHAUF)</title><content type='html'>Bismillahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.’ (QS 033 : 21)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang harap (roja), namun dari perspektif yang berbeda, khususnya harapan akan rahmat Allah. Dalam hal ini yang dimaksud dengan harap (roja) adalah keadaan hati yang sepenuhnya terpaut kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi dimasa yang akan datang, sebagaimana takut (khauf) juga demikian. Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘“Harap (roja) yang sangat kuat terletak pada janji Allah SWT, seperti yang tertuang pada hadist qudsi, bahwa Rasulullah,saw., bersabda, bahwa Allah SWT berfirman : ‘Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.’”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Orang awam mungkin saja sering mendengar hadist ini, namun tidak memasuki sebuah rasa yang hakiki dan terbukanya rahasia-rahasia yang berada didalamnya. Oleh karenanya mereka menyikapinya dengan biasa-biasa saja. Berbeda dengan para mutashowif atau para penempuh jalan kesucian (kesufian) yang telah tenggelam didalam muroqobah (meditasi) Ismul Azhom, khususnya yang berkenaan dengan sifat Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim dan Al-Ghofur. Sebagaimana kayu yang terbakar oleh api, maka sifat-sifat kayu akan hilang dan menjelma menjadi api, demikian pula para akhli muroqobah (meditasi), manakala sifat-sifat dirinya lenyap dan terkuasai oleh Sifat-Sifat-NYa, akan menjadikan cara pandang, rasa dan daya pikirnya terhadap rahmat Allah menjadi berbeda. Disinilah para pejalan telah terbusanai maqom harap (roja) yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik maqom raja tertinggi ada pada diri Abu Bakar as-Siddiq,ra., sehingga harapannya terhadap janji Allah mendekati tashdiq (pembenaran). Ketika perang badar berlangsung Rasulullah,saw., berdoa : &lt;strong&gt;‘Ya Allah, jika sekelompok manusia ( dari umat Islam) ini Engkau hancurkan, maka setelah itu Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.’&lt;/strong&gt; Mendengar itu, Abu Bakar,ra., berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Wahai Rasulullah tinggalkanlah permohonanmu itu, sebab, demi Allah, Dia pasti mengabulkan apa yang dijanjikan kepada-Mu.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Janji yang dimaksud adalah sesuai dengan wahyu yang turun beberapa  waktu sebelum perang badar terjadi : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.’ (QS 008 : 12&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;) Pada kisah ini, ada permohonan dan keyakinan terhadap pengabulan akan janji Allah. Rasulullah,saw., lebih mengetahui Allah daripada Abu Bakar,ra., sementara Abu Bakar,ra., lebih kuat imannya daripada para sahabat yang lain. Sah hukumnya dan tidak merusak adab bagi seorang sahabat menyampaikan pendapatnya kepada sahabat yang lain. Hal ini menunjukkan hubungan kedekatan yang istimewa antara Rasulullah,saw., dengan sahabat gua-nya ini. Meskipun Rasulullah,saw., jauh lebih sempurna daripada Abu Bakar,ra., dalam segala kondisi spiritual, sehingga beliau tahu dari Allah apa yang tidak diketahui Abu Bakar,ra., dan juga sahabat yang lain. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Pemilik maqom raja, tidak diperkenankan menyampaikan hal-hal yang dikhususkan bagi dirinya kepada orang lain.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Dikhawatirkan dengan menyampaikan keajaiban-keajaiban ‘Kemurahan Tuhan’ akan membuat murid-murid menjadi malas dan bersandar kepada Kemurahan-Nya tanpa melakukan tindak riyadhah dan mujahadah yang gigih. &lt;br /&gt;Untuk membangkitkan semangat juang para pejalan yang telah menyentuh maqom harap (roja), Syah Syuja Kirmani,ra., berkata kepada Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., murid kesayangan dari Syaikh Yahya bin Mu’adz,ra., : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Engkau telah dibesarkan dalam doktrin harap ‘raja’, yang menjadi sikap gurumu. Tak seorang pun yang telah menghirup doktrin ini dapat menempuh jalan penyucian karena suatu kepercayaan mekanis kepada harap (raja) menghasilkan kemalasan.’ &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Ketika di Nisyapur Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., mengakui ujaran ini dan berkata dalam pandangan yang berbeda : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Sudah sepantasnya orang yang telah Tuhan muliakan dengan makrifat, tidak menghinakan dirinya dengan kedurhakaan kepada Tuhan.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Kedurhakaan adalah tindak manusia sedangkan makrifat merupakan anugerah Tuhan. Mustahil bahwa orang yang dimuliakan dengan anugerah Tuhan akan terhina karena tindakannya sendiri. Sebagaimana Tuhan memuliakan Adam,as., dengan pengetahuan dan Dia tidak menghinakannya lantaran dosa yang diperbuatnya. Karenanya, pengetahuan yang dibukakan kepada para Aulia Allah terhadap hal-hal yang demikian, jika disampaikan kepada murid-murid bisa jadi disalah artikan, sehingga mereka terjerumus kedalam jurang kemalasan dan bersandar kepada Kemurahan Tuhan dari sifat Kasih Sayang-Nya kepada manusia yang tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dua orang yang bernama Yahya dalam sejarah Islam, yang menempuh jalan takut (khauf) dan harap (roja) begitu tinggi, yang pertama adalah nabiyullah Yahya bin Zakaria,as., yang menempuh jalan takut (khauf) sehingga semua pengikutnya dikuasai oleh rasa takut dan putus harap akan keselamatan mereka, sedangkan yang kedua adalah Syaikh Yahya bin Mu’adz,ra., sezaman dengan Imam Junayd al Bagdadi,ra., yang menempuh jalan harap (roja) sehingga dia mengikat erat tangan-tangan semua murid-muridnya pada harap (roja). Seseorang berkata kepada Syaikh Mu’adz,ra., : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Wahai Syaikh, maqom-mu adalah maqom harap, tetapi amalanmu adalah amalan orang-orang yang takut.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Dijawab : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Ketahuilah, anakku, bahwa meninggalkan ibadah kepada Tuhan, adalah tersesat.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Jawaban ini menunjukkan upaya yang sungguh dalam melakukan riyadhah dan mujahdah atau dalam melaksanakan dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah, tanpa menganggap sepele amalan-amalan yang sekecil apapun, meskipun hanya memberikan sebuah kurma. Takut (khauf) dan harap (roja) adalah dua sokoguru iman. Mustahil bagi seseorang akan tersesat lantaran mengamalkan salah satu diantara keduanya. Orang-orang yang takut (khauf) itu melakukan ibadah karena takut berpisah dari Tuhan, dan orang-orang yang berharap (roja) itu melakukannya karena berharap dapat bersatu dengan Tuhan. Kelompok dzahiran menyangkal adanya ‘kebersatuan dengan Tuhan’, padahal yang dimaksud persatuan dengan Tuhan adalah perpisahan dari segala yang lain, dan perpisahan dari segala yang lain adalah persatuan dengan-Nya. Seseorang yang pikirannya bersatu dengan Tuhan, dia terpisah dari segala yang lain, dan sebaliknya, karena itu, persatuan pikiran dengan Tuhan merupakan perpisahan dari memikirkan benda-benda ciptaan, dan berpaling dari fenomena adalah berpaling kepada Tuhan. Tanpa dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah yang keras takut (khauf) dan harap (roja) tak bisa benar-benar dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Syaikh sufi mengatakan bahwa memasuki pintu maqom harap (roja), setelah berada pada maqom takut (khauf), sehingga ketakutannya akan sirna manakala harapannya terhadap janji Allah meliputi hatinya. Rahmat Allah sangat diharapkan oleh manusia yang beriman dan berilmu tinggi, karena bila Allah menggunakan Keadilan-Nya, maka tak satupun manusia akan selamat, oleh sebab timbangan (mizan) akan terlalu berat kekiri lantaran dosa-dosa yang di perbuatnya dibanding dengan rasa syukur terhadap nikmat-nikmat yang dihamparkan oleh-Nya. Karena manusia yang bersyukur atas rahmat Allah sangat sedikit, melihatnya harus menggunakan kacamata ilmu. Seperti seseorang yang ingin menghadiri acara pesta pernikahan, setelah selesai menghias diri dan bersiap-siap berangkat, tiba-tiba hujan lebat turun. Dalam keadaan ini kebanyakan orang akan menggerutu lantaran hujan ini, padahal hujan adalah Rahmat Allah, yang menghidupi bumi dan makhluk yang berada didalam maupun diatasnya. Oleh karenanya harapan akan dipenuhinya janji yang berupa rahmat ini menjadi begitu penting dan sangat kuat. Sehingga Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Kita harus mewaspadai rahmat Allah SWT, mensyukuri, mencermatinya dengan banyak melakukan peribadatan. Rahmat ada didalam sifat ar-Rahman-Nya, Allah SWT masih menggenggam 99 rahmat untuk diberikan kepada orang mukmin saja di akhirat nantinya, sedangkan 1 rahmat telah dan akan terus dihamparkan di dunia dan seisinya yang dinikmati oleh seluruh makhluk, termasuk manusia yang disebutkan paling sempurna dan paling murni.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Rahmat diturunkan dari sifat Ar-Rahmaan, satu rahmat saja untuk dunia ini, menjadikan segala sesuatu terhampar ada. Lalu manusia diberikan kebebasan untuk memilih, untuk kebaikan atau kejahatan. Orang kaya bisa menjadi sombong karena harta banyak, berarti hati manuisa tidak mampu menahan satu rahmat saja yg diturunkan keatas bumi ini, lalu siapa yang mampu menahannya? Ialah para akhli dzikir yang hatinya lembut dan tenang, dan pastinya dipakainya untuk kebaikan-kebaikan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Allah memiliki sifat Yang Maha Pengampun, yaitu menyembunyikan dosa-dosa manusia diatas bumi ini, dan dengan tidak membalasnya di akhirat nantinya. Sifat ini dibagi menjadi tiga tahapan yang seluruhnya mengandung harap (roja). Allah Maha menutupi aib manusia diatas bumi ini disebut AL Ghafir (Yang Mengampuni), termasuk menutupi bagian tubuh yang mata akan jijik melihatnya, seperti usus, limpa, otak dengan keindahan bagian luar tubuh. Kemudian Dia juga menutupi pikiran-pikiran buruk, maksud buruk, penipuan dan pengkhianatan manusia, bila tidak demikian maka tak satupun makhluk di bumi ini yang mau bergaul satu dengan yang lainnya, karena bentuk aib-nya begitu memalukan, oleh karena itu Dia menyembunyikannya. Mengapa? Karena Rahmaan dan Rahiim-Nya, meskipun, kebanyakan manusia setelah ditutupi aibnya merasa bagai orang bersih dan bertingkah bagai akhli surga. Lalu Al Ghofur (Yang Maha Mengampuni), yang menunjukkan banyak pengampunan terhadap banyak pelanggaran dan menyelimutinya segala dosa-dosa dan kesalahan manusia, malaikat pun tidak mengetahuinya, tentu bagi orang Islam saja. Lalu ada satu lagi Al Ghofar (Yang Penuh Pengampunan), menunjukkan keberulangan pengampunan terhadap kesalahan manusia dan Allah menutupi segala dosa-dosa. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Setelah shalat Jum’at sangat baik mewiridkan ‘Ya Allah … ya Ghofur .. ya Ghofur’ seratus kali banyaknya, Allah akan mempertebal harapan (raja) didalam hati seseorang akan janji Allah SWT berupa ‘Rahmat-Ku mendahului Murka-Ku’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah,saw., bersabda : 'Kalaulah ditimbang rasa takut dan harap orang beriman, niscaya keduanya pasti berimbang.' Namun, ada suatu keadaan dimana harapan seseorang lebih besar ketimbang rasa takutnya kepada Allah SWT, dan harapan semua orang Islam mestilah demikian, yakni ketika dalam keadaan sakaratul maut. Rasulullah,saw., bersabda : 'Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.' Yang dimaksud adalah menyadari bahwa rahmat Allah lebih didahulukan-Nya daripada murka-Nya, dan meyakini betapa luasnya Kasih Sayang serta pertolongan-Nya. Dengan demikian, harapan kepada rahmat dan kasih sayang Allah akan lebih besar ketimbang rasa takutnya terhadap Keperkasaan-Nya, sehingga ia akan mendekat kepada Allah dan dengan penuh harap memohon belas kasihan-Nya dengan hati yang tawadhu serta menyesali segala kesalahan dan dosa, agar pengharapannya itu dikabulkan oleh Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT berkenan mengantar para pejalan masuk kedalam masuk harap ini, sehingga dapat merasakannya, bila tidak hanya menjadi sebuah cerita saja.’&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-2576887728833098928?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/2576887728833098928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/01/harap-raja0-takut-khauf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2576887728833098928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2576887728833098928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/01/harap-raja0-takut-khauf.html' title='HARAP (ROJA) - TAKUT (KHAUF)'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-8509328081516053681</id><published>2010-01-14T19:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-16T17:01:02.913-08:00</updated><title type='text'>HARAP (RAJA)</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya’. (QS 018 : 110)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Dan ‘ &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.’ (QS 033 : 21)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan dengan Tuhan membutuhkan dua sayap, yaitu sayap harap (raja) dan sayap takut (khauf), kedua-duanya harus seimbang, bila tidak, arah terbangnya tidak beraturan dan sulit mencapai sasarannya. Para syaikh sufi sepakat, bahwa maqom raja mempunyai kedudukan yang mulia. Karena, sifat Kemurahan Tuhan telah meliputi hatinya dan menutup pandangan dari yang lain. Tidak mungkin maqom harap ini berada pada seseorang tanpa melalui perjuangan yang keras. Karena, selama disebut maqom pastilah menimbulkan kewajiban-kewajiban tertentu pada pemiliknya dan tidak diperbolehkan menyia-nyiakannya. Sebagaimana petani yang bermula membajak tanah, menyiapkan bibit unggul, memberikan pupuk dan, menjaga kadar air, lalu menanaminya, dan pada setiap harinya membersihkan dari tanaman liar, memberi pupuk dan menjaga  dari serangan hama. Sang petani tidak boleh lengah dari kewajibannya pada setiap hari, barulah muncul harapan yang besar akan memperoleh hasil yang baik. Hati menjadi hidup oleh harapan-harapan yang melenyapkan kekhawatiran lantaran jerih payahnya itu. Sebagaimana tuntutan ayat diatas bahwa harapan perjumpaan dengan Tuhan wajib didahului oleh mengerjakan amal sholeh dan memurnikan tauhid (QS 018 : 110), dan salah satu bentuk amal sholeh yang terbaik serta terhindar dari sesuatu yang haram adalah dzikrullah (QS 033 : 21). Oleh karenanya harapan tanpa sebuah usaha yang keras akan sia-sia, dan harapan tanpa usaha adalah angan-angan. Harapan adalah sifat terpuji (mahmudah) dan angan-angan adalah sifat tercela (majmumah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan seorang raja itu pengampun, mesti ada tindak kesalahan terlebih dahulu, lalu keputusan sang raja menjadi ukurannya, barulah diketahui bahwa rajanya memang mempunyai sifat pengampun. Sehingga tingkat pemaafan dari tindak kesalahan menjadi ukuran, semakin sifat raja itu pengampun semakin tinggi harapan rakyat memperoleh pengampunan dari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Karenanya, Allah SWT, Yang Maha Pengampun, menjadikan manusia melakukan dosa guna memanifestasikan sifat-Nya. Bisa jadi, dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia itu, diampuni-Nya dengan cara yang misterius. Diketahui ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa bersegeralah berbuat kebaikan, karena kebaikan akan mengganti keburukan-keburukan yang telah dilakukan. Namun pada kisah ini berbeda, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ats-Tsaqoty menuturkan : “Suatu hari aku melihat iringan keranda yang dipikul oleh tiga laki-laki dan seorang wanita, tanpa ada orang lain yang mengantarkannya. Aku maju menggantikan si wanita dan menuju ke kuburan. Setelah selesai proses penguburan, aku bertanya kepada wanita itu : &lt;strong&gt;‘&lt;em&gt;Apa hubunganmu dengan orang yang meninggal ini?’&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Dijawab : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Ia anakku.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Aku bertanya : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Apakah anda mempunyai tetangga?’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Ia menjawab : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Ya,  tetapi mereka semua memandang hina kepada anakku yang meninggal.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Aku bertanya : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Mengapa?’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Ia menjawab : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Karena ia seorang banci.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Aku merasa kasihan kepada wanita itu, lalu kuberi sedikit uang, gandum dan pakaian. Malam itu aku bermimpi melihat seorang pemuda datang kepadaku. Wajahnya berseri bagaikan bulan purnama, berpakaian serba putih dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Ketika aku bertanya siapa dirinya, ia menjelaskan, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Aku adalah si orang banci yang anda kuburkan tadi siang. Tuhanku telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku disebabkan hinaan orang-orang kepadaku.’” &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata pada pengajian hari Jum’at tanggal 8 Januari 2010, bahwa : ‘Harap (raja) itu ada tiga macam, yakni, raja fiddunya, raja fil akhirah dan raja fillah.’  Yang pertama adalah, harapan akan upayanya mencari penghidupan didunia ini terkabulkan, kedua, adalah harapan akan surgawi atas jerih payahnya melakukan tindak peribadatan di dunia ini, dan ketiga adalah harapan ‘kebersatuan’ dengan Allah SWT.&lt;br /&gt;Seseorang mesti mengukur dirinya sendiri tatkala pada tahapan raja fiddunya, apakah harapan vertikalnya (kepada Allah SWT) lebih besar dari harapan horizontalnya (harapan urusan-urusan dunya) atau sebaliknya harapan kepada horizontalnya melebihi harapan vertikalnya. Oleh karenannya raja fiddunya ini tidak termasuk kedalam maqom raja, karena justru harapan yang demikian akan memperkokoh hijab-hijab menuju Allah SWT. Syaikh sufi dari tarekat Naqsyabandiyah mengatakan bahwa ; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Terlalu memikirkan urusan-urusan dunya akan menutup pintu kedekatan kepada Allah SWT.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Sedangkan raja fil akhirah, adalah harapan yang timbul dari melakukan tindak peribadatan. Meskipun kelompok ini masih masuk kedalam melakukan perdagangan dengan Allah SWT, namun sudah tergolong baik. Para mutashowwif tidak lagi berada pada raja fiddunya dan faja fil akhirah, melainkan berupaya menggapai maqom raja fillah. Agar berada pada kedekatan hati atas kemurahan Tuhan. &lt;br /&gt;Seseorang bertanya : ‘Adakah tanda adanya harapan pada  seorang hamba?’ Syah al-Kirmany,ra., mengatakan bahwa : ‘Tanda adanya harapan adalah taat yang baik.’  Sedangkan Syaikh Ahmad bin Ashim al-Anthaky,qs. menjawab bahwa : ‘Tandanya dalah manakala ia  menerima nikmat anugerah (ihsan), ia terilhami untuk bersyukur, penuh harap akan penuhnya rahmat Allah SWT di dunya ini dan penuhnya pengampunan-Nya di akhirat.’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-8509328081516053681?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/8509328081516053681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/01/harap-raja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8509328081516053681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8509328081516053681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/01/harap-raja.html' title='HARAP (RAJA)'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-4045290498870752782</id><published>2010-01-13T02:17:00.000-08:00</published><updated>2010-01-16T17:00:01.043-08:00</updated><title type='text'>TAREKAT DAN MAJLIS DZIKIR</title><content type='html'>Bismillahir Rahmaanir Rahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.’ (QS 005 : 35).&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini banyak bermunculan majlis dzikir, tujuannya mestinya sama, yakni ingin memperoleh pengampunan dan pensucian dari Allah SWT. Meskipun, pada awalnya ada beberapa majlis yang dikenal sebagai tempat pengobatan dari berbagai penyakit dan atau tempat menimba kesaktian. Setelah diketahui banyak masyarakat yang haus akan praktik dzikir, dan pada setiap kesempatan acara dzikir berjamaah selalu penuh, maka majlis-majlis tadi berbondong-bondong merubah namanya menjadi majlis dzikir. Tidak mengapa, karena untuk menarik orang agar mau berdzikir harus diiming-imingi dengan hal-hal yang disukainya, asalkan tujuannya tidak untuk yang lain kecuali bersama-sama mengagungkan dan meng-esa-kan Allah se-esa-esa-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelompok majlis dzikir tarekat, ritual utamanya melakukan praktek dzikir berjamaah dengan cara-cara yang menakjubkan, sekaligus didalamnya ada majlis ilmu. Berbeda dengan kelompok majlis-majlis dzikir yang banyak bermunculan akhir-akhir ini, yang mempunyai niat untuk mencari nafkah, kekayaan, popularitas, dan penggalangan masa untuk tujuan politik. Kaifiat atau cara-cara dzikir, wirid, muroqobah, munqobah, yang dipraktekkan oleh kelompok majlis dzikir tarekat diseluruh dunia akan tetap sama, sejak dari para masyaikh terdahulu yang sanadnya sampai kepada Rasulullah,saw., hingga saat ini dan insya Allah sampai akhir zaman nantinya, sedangkan pada majlis dzikir yang bukan tarekat cara-caranya sesuai dengan kehendak pemimpinnya. Nama tarekat selalu menggunakan nama pembimbing spiritualnya terdahulu, yang telah mencapai tingkat kewalian yang tinggi dan tertinggi (Qutub), seperti Qodiriyah diambil dari nama Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir al Jailani,qs., lalu ada Naqsyabandiyah yang diambil dari nama Syaikh Muhammad Bahaudin Syah Naqsyabandi,qs., lalu ada Chistiyah yang diambil dari nama Syaikh Muinuddin Cisty,qs., lalu ada Tijaniyah yang diambil dari nama Syaikh Ahmad Tijani,qs., lalu ada Sadziliyah diambil dari nama Imam Sadzili,ra. Tujuannya adalah untuk mendapatkan limpahan barokah dari  kedekatan para masyaikh terdahulu kepada Tuhannya, agar dengan melestarikan dan tetap istiqomah mempraktekkan ajarannya, Tuhan berkenan meridhoi para pelakunya. Orang-orang yang telah sampai kepada Tuhan, mereka sebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sufi&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, sedangkan yang dalam perjalanan menuju Tuhan, mereka sebut&lt;span style="font-style:italic;"&gt; mutashowwif&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan ada yang berpura-pura berada pada jalan ini, yang secara lahiriyah menyerupai para sufi sekedar untuk mencari uang, kekayaan, kekuasaan, serta keuntungan-keuntungan duniawi, tapi sedikitpun tidak mempunyai pengetahuan tentang ilmu kesufian, mereka sebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutashwif&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Kelompok mutashwif ini, tumbuh subur dinegeri tercinta kita, jumlahnya banyak, bagai jamur yang tumbuh dimusim hujan. Pertanda bahwa, kita berada pada zaman kelemahan atau kemunduran dari kesucian. Akibatnya, ketamakan mendorong penguasa untuk bertindak sewenang-wenang, dan nafsu birahi mendorong ulama berbuat zina dan kemesuman. Dan sifat-sifat bermegah-megah mendorong ulama menjadi munafik, serta kebanggaan diri mendorongnya untuk menari dan menyanyi. Dilain pihak, para pejalan yang bersungguh-sungguh (mutashowwif) yang jumlahnya sedikit, percaya bahwa, dengan memasang kecintaan, mengingat dan menyebut-nyebut nama gurunya terdahulu, yang dijadikan nama tarekatnya, akan menjadikan wasilah atau tali agama guna menghubungkan secara cepat dari yang fenomena menuju kepada realitas, lantaran kedekatan mereka dengan Allah SWT. Sedangkan bagi majlis dzikir tidak demikian, mereka biasa menggunakan nama-nama yang disukainya yang sesuai dengan warna jiwanya. Syaikh agung Hadrat Abu Yazid al Bisthami,ra., berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Barang siapa yang bertasawuf tanpa seorang Syaikh, maka syaikhnya adalah syaithon.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Maka bertanyalah kepada akhli dzikir jika kamu tidak mengetahui.' (QS 016 : 43)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Pada ayat ini secara tersirat mengindikasikan bahwa praktik-praktik dzikir wajib hukumnya mendapatkan pengetahuan yang meliputi fadhilah atau manfaat serta cara-cara pelaksanaannya dari akhlinya, dengan cara bai'at sebagai sunah nabawiyah. Sehingga, niscaya ilmu dzikir ini turun temurun dari para masyaikh terdahulu. Pada majlis dzikir tidak akan dapat menyebutkan guru-gurunya terdahulu dan mungkin tidak ada gurunya, berbeda dengan kelompok tarekat, yang mempunyai sejarah lengkap tentang guru-gurunya terdahulu, termasuk petuah-petuah dan cara-cara atau kaifiat ritualnya. Sebagai contoh, silsilah pada tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Bogor Baru - Indonesia, yang bermula dari Rasulullah,saw., Sayidina Ali Bin Abi Thalib ra, Sayidina Al-Imam Abu Abdullah Al-Husein ra, Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin ra, Sayidina Al-Imam Muhammad Baqir ra, Sayidina Al-Imam Ja’far As Shodiq ra, Syaikh Al-Imam Musa Al Kazhim, Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali Bin Musa Al Rido, Syaikh Ma’ruf Al-Karkhi, Syaikh Abul Hasan Sarri As-Saqoti, Syaikh Al-Imam Abul Qosim Al Junaidi Al-Bagdadi, Syaikh Abu Bakar As-Syibli, Syaikh Abul Fadli Abdul Wahid At-Tamimi, Syaikh Abul Faraj Altartusi, Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hakkari, Syaikh Abu Sa’id Mubarok Al Makhzumi, Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Bagdadi,qs., Syaikh Abdul Aziz Subhana Ghousus Saqolain, Syaikh Muhammad Al Hattak, Syaikh Syamsudin, Syaikh Syarofudin, Syaikh Nurudin, Syaikh Waliyudin, Syaikh Husamudin, Syaikh Yahya, Syaikh Abu Bakar, Syaikh Abdurohim, Syaikh Usman, Syaikh Abdul Fatah, Syaikh Muhammad Murod, Syaikh Syamsudin, Syaikh Ahmad Khotib Al-Syambasi, Syaikh Abdul Karim Tanara Al Bantani, Syaikh Abdullah Mubarok Cibuntu (Syaikh. Abdul Khoir), Syaikh Nurun Naum Suryadipraja bin H.Agus tajudin, hingga telah sampai kepada guru kami tercinta Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin bin H.Aminudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan tarekat yang disebutkan diatas adalah membentuk para pengikutnya mempunyai akhlak yang baik, yang tindakan-tindakannya terpuji tanpa upacara atau motif, tidak memiliki pretensi, sehinga bentuknya selaras dengan ruhnya. Karena akhlak adalah buah dari menanam pohon kecintaan dan kepatuhan dalam melaksanakan pekerjaan tarekat yang diterima dari gurunya atau mursyidnya. Dan bukan seperti orang-orang yang mengaku bermoral namun yang hanya melakukan tindakan-tindakan seremonial yang tidak mempunyai reealitas dan maujud dari motif-motif tertentu, sehingga bentuknya berlainan dengan ruhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tanda keadaan spiritual seseorang sudah mulai membaik, adalah merasa asing berada di dunia ini. Karena hatinya bercahaya, lantaran jiwanya selaras dengan anasir (unsur) alam semesta ini, yakni bumi, air, api dan udara. Ruh-nya rindu akan kampung halamannya dan ingin selalu berdekat dengan Pencipta-Nya. Keadaan ini niscaya karena pekerjaan dzikir-dzikirnya yang dikerjakannya secara istiqomah dan dengan cara (kaifiat) yang benar. Ada dzikir dhorob atau dzikir nafi isbat, yaitu dzikir yang bersuara dengan satu, dua, tiga atau empat ketukan, yang bertujuan untuk mencerahkan hati. Lalu ada dzikir lathif, yaitu dzikir yang tidak bersuara dengan tujuh tingkatan, yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran, memberhangus sifat-sifat yang buruk (majmumah) dan menggantikannya dengan sifat-sifat yang baik (mahmudah). Kemudian ada dzikir lam nafi isbat, atau bisa disebut sebagai dzikir penutup setelah dzikir lathif selesai dikerjakan, yang berfungsi untuk memberhangus kemunafikan dan membangkitkan kecintaan kepada Allah SWT. Kemudian ada dzikir nafas (hifzul anfas) dengan tehnik yang bermacam-macam, dan masih banyak lagi. Nah orang asing, adalah orang yang cara padang, rasa dan daya pikirnya serta ucapannya berbeda dengan manusia biasa, karena hatinya telah terpenuhi oleh cahaya Tuhan, sehingga ruhnya selalu berada dilangit meskipun jasadnya dibumi bersama-sama keluarganya, murid-muridnya dan masyarakat lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-4045290498870752782?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/4045290498870752782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/01/tarekat-dan-majlis-dzikir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/4045290498870752782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/4045290498870752782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/01/tarekat-dan-majlis-dzikir.html' title='TAREKAT DAN MAJLIS DZIKIR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-5952519066333130510</id><published>2010-01-12T15:43:00.000-08:00</published><updated>2010-01-21T16:23:28.428-08:00</updated><title type='text'>PERINTAH DAN TAKDIR</title><content type='html'>Bismillahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketakwaannya.’ (QS 047 : 17)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat Al Qur’an diatas sungguh sangat jelas maknanya, dikatakan bahwa orang-orang yang mau menerima petunjuk (hidayah) dan bergegas menindak lanjuti dengan tindak mujahadah, maka Allah akan menambah petunjuk-Nya dan membalas tindak mujahadahnya itu(ketakwaannya). Hal ini menunjukkan bahwa manusia hidup diantara perintah Tuhan dan Kehendak-Nya, yang didalamnya melibatkan tindakan manusia dan tindakan Tuhan, serta ada sifat-sifat manusia dan sifat-sifat Tuhan yang termanifestasikan, yang tentunya tindakan Tuhan mendahului tindakan manusia. Seperti pada kisah nabiyullah Adam,as., yang diperintah oleh-Nya untuk tidak memakan 'buah keabadian', meskipun ia telah berusaha untuk mentaati-Nya, namun Allah berkehendak ia memakannya, setelah itu Allah menghukumnya. Dalam perjalanannya, nabiyullah Adam,as., menerima petunjuk (hidayah) untuk bertobat dan ditindak lanjutinya dengan melakukan pertobatan yang keras, Allah berkehendak menerima tobatnya, sebagai manifestasi sifat Ghofur-Nya. Kisah ini, menggambarkan bahwa ada proses mentaati perintah Tuhan, dan ada ketahanan didalam menyangkal keinginan memakan buah khuldi, namun karena dorongan dari pasangannya, yakni hawa dan bujukan syaithon, maka ia tergelincir. Terkemudian, nama hawa ini mewakili ‘keinginan’ dan nafs sebagai diri, oleh karenanya istilah hawa nafsu dikenal sebagai ‘keinginan diri’. Maka dari itu, mujahadah diartikan sebagai penyangkalan terhadap keinginan-keinginan diri atau hawa nafsu. Begitu pula Allah memerintahkan seluruh malaikat bersujud dihadapan Adam,as., dan Allah berkehendak seluruh malaikat patuh, kecuali golongan iblis, tanpa melakukan peperangan melawan keangkuhannya, ia menolak untuk bersujud. Dari kedua kisah diatas meskipun sama-sama melakukan ketidak taatan atas perintah Tuhan, namun mempunyai perbedaan yang jelas. Pada kisah yang pertama, ketidak taatan Adam,as., didahului oleh upayanya yang keras untuk menolak rayuan hawa dan bujukan syaithon, sedangkan kisah yang kedua ketidak taatan iblis tanpa adanya upaya untuk mentaati-Nya. Sangat nyata bahwa Kekuasaan dan sifat-sifat Tuhan termanifestasikan dalam kisah itu, dan terus akan demikian selama kehidupan ini ada. Perintah-Nya sungguh amat jelas, seluruhnya tertuang didalam kitab suci Al Qur’an dan al Hadist, sedangkan kehendak-Nya ghaib, dan wajib diimani oleh orang-orang yang mengaku beriman. Oleh sebab itu manusia mesti dengan seluruh kekuatannya berusaha mentaati segala perintah-Nya (riyadhah) serta terus menerus melawan hawa nafsunya (mujahadah) serta berserah terhadap takdir-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Junayd,ra., ketika ditanya tentang tasawuf, beliau berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Tasawuf adalah suatu sifat yang didalamnya terletak hidupnya manusia.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Lalu seseorang bertanya : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Apakah ini sifat Tuhan ataukah sifat manusia?’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Beliau menjawab : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Esensinya adalah sifat Tuhan, dan sistem resminya adalah sifat manusia.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Ujaran ini mendukung kisah diatas, bahwa esensinya adalah melibatkan pelenyapan kualitas-kualitas manusia, yang disebabkan oleh kekekalan kualitas-kualitas Ilahi, dan inilah atribut Tuhan, sedangkan sistem resminya yang melibatkan kesinambungan manusia dalam tindak mujahadah, dan kesinambungan dalam bermujahadah ini adalah atribut manusia. Oleh karenanya sugguh sangat jelas bahwa manusia itu hidup diantara Perintah dan Kehendak Tuhan. Yakni, manusia wajib mentaati perintah Tuhan dan berserah kepada Kehendak (Takdir) Tuhan.  Oleh sebab itu Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Tasawuf adalah hijrah dari kehidupan biasa kedalam kehidupan kesucian.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Dan beliau berkata bahwa : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Tasawuf adalah perang yang tiada akhir melawan hawa nafsu.’ &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukun iman yang ke enam yakni qadha dan qadar menjadi pembicaraan yang paling hangat dalam pengajian tarekat, meskipun Syaikhuna sering berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Jangan diperdebatkan masalah ini.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Sebab semua murid akan berbicara sesuai dengan keadaan ruhaninya masing-masing, mewakili nafsnya, sehingga dikuatirkan menjadi sesuatu yang haram hukumnya karena menjadi perdebatan. Sejak dahulu kala masalah takdir memang menjadi perdebatan yang sengit, ada kelompok Qadariyah yang menganut doktrin bahwa manusia itu bebas menentukan pilihannya sendiri (free will), lalu ada kelompok Jabariyah yang berpendapat bahwa segala sesuatu itu sudah ditentukan oleh Tuhan, sehingga manusia tidak ada pilihan samasekali. Kemudian kelompok Ahlul sunah wal jamaah mengambil jalan tengah, yakni, manusia wajib berupaya dan percaya takdir. Pendapat kelompok yang terkahir inilah yang diikuti oleh mayoritas kaum muslim, khususnya oleh para syaikh sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang termasuk anak-anak kecil niscaya mengetahui, bila disebutkan ciri-ciri seekor binatang yang berbadan besar, berbelalai, mempunyai kaki empat, bertelinga besar dan bermata kecil. Begitulah Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) dalam menyikapi masalah ini, tidak disebutkan ‘gajah’ melainkan menjelaskan ciri-cirinya. Seperti juga masalah takdir, beliau tidak menjelaskan secara eksplisit, namun langsung mengajak mempraktekannya. Bukankah pekerjaan tarekat itu menyikapi dengan bijaksana masalah takdir? Yakni tasawufan rajulu, yaitu yang pertama adalah sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-Nya, kedua menghindari dengan sekuat tenaganya segala sesuatu yang dilarang-Nya, dan ketiga berserah terhadap ketentuan-Nya. Singkatnya seseorang itu wajib berupaya dan mempercayai takdir. Jadi para sahabat, kita ini selalu berlaku bagai ikan dilautan, yang selalu merengek-rengek kepada pemimpinnya agar diantarkan kelautan, apa pemimpinnya tidak menangis sedih?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi,saw., bertanya kepada Haritsah,ra., &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Apakah hakikat imanmu?’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Haritsah,ra., menjawab : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Telah kutanggalkan sifat-sifat diriku, dan aku berpaling dari dunia ini, sehingga batu-batu dan emas sama saja dalam pandanganku. Dan kujalani seluruh malam hariku dengan penuh jaga, dan segenap siang hariku dengan rasa dahaga, hingga aku merasa melihat Singgasana Tuhanku menjelma, dan penghuni surga saling kunjung mengunjungi dan penghuni neraka saling melempar.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Nabi,saw., bersabda, mengulangi kata-kata ini tiga kali : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Engkau mengetahui, maka tekunlah dalam upaya.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;  Hadis ini jelas sekali maknanya, yakni, upaya untuk menyangkal kesenangan dengan cara terjaga di malam hari, berpuasa di siang hari adalah tindakan manusia, sedangkan pelenyapan kesenangan adalah tindakan Tuhan, sehingga Allah membuat sifat-sifat diri dan keterkaitan dengan dunia ini lenyap, dan menjadikannya sampai pada tingkatan ‘Haqul Yaqin’, namun Haritsah,ra., tidak berkata bahwa Allah sudah menakdirkanku begini dan begitu, melainkan memperlihatkan tindak upayanya dalam riyadhah dan mujahadah dan menceritakan musyahadahnya. Dan yang mulia Rasul Allah pun berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Tekunlah dalam upaya.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; dan tidak berkata ini adalah takdir, namun beliau selalu mengedapankan upaya dalam menggapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Jangan menyusahkan dirimu dengan sesuatu yang sudah ditakdirkan bagimu, dan jangan menyia-nyiakan sesuatu yang harus kau perbuat bagi dirimu.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Ujaran ini mendukung kisah diatas, yakni, jangan menyusahkan diri dengan menggilai dunia dalam mencari penghidupan, karena tidaklah mungkin, Allah tidak memberikan sarana kehidupan bagi makhluk-Nya, khususnya bagi tumbuh-tumbuhan, binatang, jin dan manusia, karena apa yang sudah ditakdirkan dari kekekalan tak akan berubah oleh upaya, dan jangan sekali-kali menyia-nyiakan perintah-Nya, dan perintah ini hanya turun bagi manusia dan jin, atau bagi makhluk yang berakal, sebab manusia dan jin akan dihukum oleh-Nya jika menyia-nyiakannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada sebuah kisah yang dialami oleh Imam Hujwiri,ra., yang hidup sezaman dengan Syaikh Abu Ali al Farmadzi,qs., akhli silsilah Naqsyabandiyah, yang meriwayatkan : “Suatu hari aku menuangkan air di kedua belah tangan guruku yang bernama Syaikh Abuk Fadhl Muhammad bin Al-Hasan Al-Khuttali,ra., agar dia bisa membersihkan dirinya. Terpikir olehku : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Oleh karena setiap sesuatu sudah ditakdirkan, mengapa orang-orang yang merdeka mesti membuat diri mereka budak-budak dari pembimbing-pembimbing ruhani dengan harapan mempunyai karamah yang dianugerahkan kepada mereka?’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Gurunya berkata :&lt;em&gt;&lt;strong&gt; ‘Wahai anakku, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Yakinlah bahwa ada seuatu sebab bagi setiap ketentuan Tuhan. Apapbila Tuhan hendak menganugerahkan mahkota dan kerajaan kepada anak penjaga pintu istana, Dia memberinya ampunan dan menggunakannya untuk melayani salah seorang sahabat-Nya, agar dengan demikian pelayanan ini bisa menjadi sarana baginya untuk mendapatkan karamah.’”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Karena itu, selama ia disebut manusia, ia terikat untuk melaksanakan aturan-aturan ketaatan kepada Tuhan, dengan usaha dan jerih payahnya (takalluf). Seseorang yang melalaikan aturan-aturan, tak mungkin ia bisa mencapai kedekatakan dengan-Nya, karena perilaku-perilaku yang baik adalah ciri khas orang-orang yang dicintai Tuhan. Bilamana Tuhan menganugerahkan suatu kejaiban (karamah) atau maunah kepada seseorang, ini suatu bukti bahwa Dia menyebabkannya memenuhi tugas-tugas agama. Ini bertentangan dengan pandangan sebagian orang, yang menyatakan bahwa usaha atau upaya manusia dalam ketaatan pelaksanaan perintah Tuhan, merupakan tindakan Tuhan tanpa melibatkan tindakan manusia sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat Imam Ali,ra. Beliau berkata: &lt;em&gt;&lt;strong&gt;'Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.'&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna hadist ini adalah bahwa, didalam takdir itu ada &lt;em&gt;&lt;strong&gt;penetapan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;penerapan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, penetapan adalah qadha dan penerapan adalah qadar. jika kebahagiaan ditetapkan bagi seseorang, maka hal itu ditetapkan dengan suatu sebab, dan sebabnya menjadi mudah, yaitu ketaatan. Dan sebaliknya, jika kemalangan ditetapkan naudzubillah mindzalik, maka hal itu ditetapkan melalui suatu sebab pula, yaitu kemalasan. Imam Al Ghazali,ra., berkata : ‘Ditentukan-Nya sebab-sebab universal yang asli, pasti dan stabil, seperti bumi, tutujuh langit, bintang gemintang dan benda benda langit, dengan gerakan-gerakanya yang harmonis dan konstan yang tidak berubah sampai apa yang tertulis terpenuhi, inilah takdir-Nya. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT : ‘Kemudian Dia menakdirkan mereka tujuh langit dalam dua hari dan menginpirasikan pada tiap-tiap langit mendatnya.’ (QS 041 : 12). Qadha-Nya adalah menetapkan sebab-sebab universal dan konstan. Qadar-Nya menerapkan sebab-sebab universal dengan gerakan-gerakannya yang sudah ditentukan dan terukur pada akibat-akibatnya, menurut ukuran yang sudah ditentukan yang tidak bertambah dan tidak berkurang. Dan karena itulah maka tidak ada yang lolos dari qadha dan qadar-Nya.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ayah menasihati anaknya, Jika engkau berkeinginan menjadi imam, maka bekerja keraslah, belajarlah, dan rajinlah. Anak itu menjawab : ‘Jika Allah sudah menakdirkan saya menjadi imam, maka tak perlu berusaha, namun jika Dia sudah menakdirkan saya akan menjadi bodoh, maka tak ada gunanya berusaha.’ Sang ayah berkata : ‘jika Dia tidak memberikan daya berpikir kepadamu, itu menunjukkan bahwa Dia menakdirkanmu menjadi bodoh.’ Ini berarti bahwa, jika Dia menakdirkan anak itu menjadi imam, maka Dia menetapkannya dalam sebab-sebab, sehingga sebab-sebab itu akan datang kepadanya, dan Dia akan menentukannya melalui sebab-sebabnya, dan Dia akan menyingkirkan darinya pikiran-pikiran yang akan membuatnya malas dan tidak bersemangat. Sesungguhnya orang yang tidak berusaha tidak akan mencapai kedudukan imam sama sekali, sedangkan bagi orang yang berusaha dan menemukan sebab-sebabnya yang dapat dijangkaunya, maka harapannya untuk mencapainya niscaya akan menjadi kenyataan. Oleh karenanya, tidak ada seorang pun yang mencapai kebahagiaan kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. Kebersihan hati merupakan kualitas yang didapat melalui upaya, yakni riyadhah dan mujahadah atau dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyikapi takdir, bisa digolongkan menjadi empat tingkatan. Pertama, ada sebagian yang melihat awalnya dengan mempertimbangkan bahwa Ketentuan Allah ini tidak lepas sedikit pun dari hukum azali dan tidak akan berubah oleh upaya. Kedua, sebagian yang memandang akhirnya dengan melihat bagaimana akhir kehidupan mereka, namun karena akhir dari sesuatu itu masih merupakan misteri, maka ia berupaya. Ketiga, sebagian kehilangan masa lalu dan masa mendatang, dan merupakan putra-putra waktu (ibn waqttihi), karena mereka merenungkan Allah. Dan bahagia dengan hasil takdir Allah SWT dan apa yang muncul dari takdir itu. Kemudian yang keempat, ada sebagian orang yang kehilangan masa kini, masa lalu dan masa mendatang, yang hati mereka terserap dalam Sang Hakim, yang terus memandang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT berkenan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, dan mengampuni serta mensucikan kita semua, amiin ya Allah ya Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-5952519066333130510?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/5952519066333130510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/01/perintah-dan-takdir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5952519066333130510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5952519066333130510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2010/01/perintah-dan-takdir.html' title='PERINTAH DAN TAKDIR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-711945972038605439</id><published>2009-12-09T23:51:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T19:49:12.747-08:00</updated><title type='text'>THAHAROH</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Wahai sahabat-sahabatku, tetaplah dalam keadaan berwudlu kapanpun dan dimanapun engkau berada.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Ajakan ini dalam sekali maknanya, agar para murid belajar bermujahadah dari hal yang paling sederhana. Karena pensucian lahiriyah sekecil apapun akan mensucikan batiniyah, demikian pula sebaliknya pensucian batiniyah akan mensucikan lahiriyah. Kesempurnaan pensucian terletak pada besar kecilnya tindak mujahadah, dan tindak mujahadah tanpa berbekal ilmu yang benar tidak berbekas apa pun. Secara umum pengertian mujahadah adalah berpantang terhadap kesenangan jiwa. Maka, seseorang mesti waspada terhadap permainan jiwanya sendiri, tatkala akan menyempurnakan wudlunya, apakah dikarenakan ingin memperoleh kenyamanan sebab udara panas? Atau menghilangkan minyak dan debu pada wajah? Dan mengira sudah termasuk diantara orang-orang yang menyempurnakan wudlu demi ibadah? Tipuan jiwa ini membelokkan niat suci, sehingga wudlunya tak lain hanyalah untuk dirinya bukan untuk Allah SWT. Nah, jika nafs sedang menguasai diri dan menciptakan sebuah rasa nyaman, disaat ingin  memperbaharui wudlu, maka perasaan yang demikian wajib diperangi terlebih dahulu, baru kemudian berwudlu dengan niat yang lurus. Tindak mujahadah yang tampak sederhana ini, termasuk didalam pengawasan terhadap gerak-gerik qolbi. Kemampuan yang demikian itu, termasuk maqom yang sangat luhur. Dikatakan bahwa sesuatu yang menggembirakan jiwa akan menggelapkan hati dan sebaliknya, sesuatu yang tidak meng-enak-kan jiwa akan mencahayai hati. Oleh karenanya, semua bentuk peribadatan dan selama disebut sebagai ibadat pastilah tidak akan meng-enak-kan bagi jiwa, karena disitulah letak mujahadahnya. Berbeda bagi seseorang yang ditengah malam dalam cuaca yang sedemikian dingin mesti memperbaharui wudlunya. Dengan menyempurnakan wudlu dalam keadaan yang tidak disukai (mujahadah) oleh jiwa, maka Allah SWT akan mengangkat derajat hamba-Nya dan menghapus segala kesalahannya. Rasulullah,saw., bersabda : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Maukah aku kabarkan kepadamu tentang sesuatu yang dengannya Allah SWT menghapus segala kesalahan dan mengangkat derajat? Yaitu menyempurnakan wudlu disaat yang tidak disukai. Dan memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu waktu shalat tiba.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Hadis yang mulia ini menyebutkan, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;wudlu, perjalanan dan penantian.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Wudlu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; berarti penghapus kesalahan, pembersih dan pensucian, sedangkan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;perjalanan &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;berarti pengangkatan derajat, dan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;penantian&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; berarti pengikat secara kukuh. Rasulullah, saw., menyebut penantian ini sebagai &lt;em&gt;&lt;strong&gt;rabith&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; dan diucap selama tiga kali, berarti mempunyai keutamaan yang sangat tinggi. Oleh karenanya, orang-orang yang menanti shalat di masjid dalam keadaan telah bersuci, nilainya sama dengan shalatnya selama masa penantian itu, sebagaimana pengikat yang terbuat dari tali yang kokoh. Para pejalan menyebutnya &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘rabithoh’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, sebagai tali penghubung antara murid dengan mursyidnya, jika penantian shalat sama nilainya dengan shalat, maka sang murid mengenakan jubah ilmu pengetahuan sang ‘mursyid’ tatkala ia robithoh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terlihat jelas bahwa keutamaan memerangi kesenangan diri (mujahadah) dalam kasus diatas menandingi keutamaan berwudlunya. Meskipun kelihatannya tindak mujahadahnya sesederhana itu, namun termasuk didalam jihad akbar, yakni jihad melawan hawa nafsu, karena hawa nafsu adalah musuh yang paling besar dan yang paling dekat mengelilingi sosok manusia. Ia ada dalam setiap tarikan nafas, dan mengingkari nikmat Allah. Perintah untuk memerangi hawa nafsu secara implisit terdapat pada firman Allah SWT : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. (QS 009 : 123).’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Jika seseorang berjihad melawan dirinya sendiri dengan jihad yang dapat membebaskannya, maka inilah jihad terakhir melawan musuh-musuhnya. Jika ia terbunuh dalam jihad ini, maka ia termasuk diantara para syuhada yang hidup dan memperoleh rizki disisi Allah SWT. Mereka senang dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa karunia-Nya, dan mereka memperoleh kabar gembira tentang orang-orang yang akan menyusulnya kemudian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum niat dilantunkan untuk melakukan tindak peribadatan, seseorang mesti memeriksa gerak gerik jiwanya terlebih dahulu, untuk apa dan kepada siapa peribadatan ini tertuju, untuk kesenangan dirinya kah, atau hanya untuk Allah semata. Jangan pernah sekalipun meremehkan pekerjaan ini, karena didepan pintu tindak peribadatan yang diwajibkan atau yang disunatkan, terdapat ladang jihad akbar, yang keutamaannya melampaui bentuk peribadatan apapun, baik puasa ataupun shalat, bahkan berperang melawan kaum kafir dan terbunuh sekalipun. Oleh karenanya, bagi para pejalan sejati, setelah memeriksa gerak gerik jiwanya, dan memerangi tipu dayanya, guna meluruskan dan membersihkan niatnya agar tepat tertuju kepada Allah SWT, lalu melantunkan doa munajat ‘Ilahii anta maqsudi waridhoka matlubi, ‘atini mahabbataka wa marifataka yaa Arhamar Rohimiin,’ dirinya menjadi sirna kedalam samudera ke-esa-an-Nya. Hal ini telah diriwayatkan dalam hadis-hadis shahih. Oleh karenanya, jihad akbar ini menjadi jihad wajib yang ditentukan bagi orang-orang yang mengaku beriman, dan meninggalkannya berarti berbuat kemaksiatan. Demikian semoga Allah mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita semua, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-711945972038605439?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/711945972038605439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/12/jihad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/711945972038605439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/711945972038605439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/12/jihad.html' title='THAHAROH'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-1087632145519539293</id><published>2009-11-24T18:14:00.000-08:00</published><updated>2010-04-08T17:22:43.364-07:00</updated><title type='text'>SYUKUR</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian Jum’at malam beberapa waktu yang lalu, membahas tentang makna syukur, kemudian membandingkan keutamaan antara syukur dengan sabar, yang bersumber dari kitab Qutul Qulub karya Syaikh abu Thalib al Makki,ra. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Bagi saya, tidak peduli, mana yang lebih utama antara sabar dan syukur, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menggapai kedua maqom yang mulia itu, dengan mengerjakan dengan sungguh-sungguh dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah, daripada hanya pandai berbicara tetapi tidak pandai bekerja.’&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Ujaran ini dalam sekali maknanya, bahwa bukan perkara mudah untuk bisa sampai pada maqom syukur dan sabar. Seorang salik harus mawas diri dan sering merapat kepada sang guru dan memohon petuah tentang cara-cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam perjalanannya, agar kedua maqom yang luhur itu dapat dicapainya. Semakin seorang murid giat bekerja atau berdzikir pada lathifahnya, maka semakin ia sadar, bahwa ia semakin jauh dari kesempurnaan, semakin merasa tidak lebih baik dari orang lain, lidahnya menjadi kelu dihadapan para sahabatnya apalagi dihadapan gurunya. Oleh karenanya, bila guru memerintahkan untuk berbicara, serasa ada dua buah gunung membebani pundaknya, karenanya, gunakan kesempatan yang berharga itu untuk bertanya kepada sang guru. Sebaliknya, jika ia merasa lebih baik dari murid-murid yang lain, dan merasa pantas memberikan 'tauziah' atau nasihat dihadapan guru, maka ia terperosok kedalam jurang yang dalam. Seseorang yang hatinya masih terkait dengan dunia, bicaranya tak akan membekas dihati pendengarnya. Berbicara kosong akan merendahkan harkat ilmu kalam dan menghina hukum suci. Yang boleh memberikan tauziah hanyalah dia yang diamnya menganiaya agama, dan yang bicaranya akan menyingkirkan kezaliman. Berbicara harus demi keagungan Islam bukan dirinya, keselamatan jiwa manusia bukan mencari kemasyhuran sendiri, dan keridhaan Tuhan Yang Maha Pengasih bukan suka cita manusia semata-mata. Barang siapa berbicara menurut kehendak Tuhan dan karena Tuhan, kata-katanya mempunyai kekuatan dan wibawa yang berkesan pada orang-orang durjana, tetapi jika seseorang berbicara menurut kemauannya sendiri, kata-katanya lemah dan tak berbobot serta tidak bermanfaat bagi pendengarnya. Ilmu kesufian adalah ilmu tahapan yang diperoleh dari melakukan riyadhah dan mujahadah. Bisa saja seseorang memasuki maqom syukur terlebih dahulu, baru kemudian memasuki maqom sabar, ada juga yang sebaliknya, dan demikian pula ada yang kedua maqom itu berdatang silih berganti, terserah bagaimana Allah SWT mengaturnya. Akan tetapi semua syaikh sufi sepakat, bahwa memasuki alam kesucian wajib hukumnya melakukan pertaubatan terlebih dahulu sampai orang itu kukuh didalamnya dan tidak menyia-nyiakan kewajiban yang timbul akibat pertaubatannya, maka ia telah mencapai maqom taubat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang sabar sudah disampaikan pada bab terdahulu, pada prinsipnya sabar terbentuk dari ketegaran dalam menghadapi sasaran bidikan anak panah kesulitan-kesulitan, tekanan atau kesempitan kehidupan, yang kesemuanya ada dalam ketetapan-Nya. Jika ia tetap berdiri teguh dihadapan-Nya seraya tetap mematuhi dan menaati hukum-Nya, ia telah masuk dalam maqom sabar. Sedangkan bila ia lari ketika panah takdir-Nya menembus dadanya, lalu ia membangkang terhadap perintah dan larangan-Nya, karena dirasakan begitu berat tekanan itu, berarti ia meninggalkan kedudukannya yang selama ini ia jaga dan pelihara. Allah SWT berfirman : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’ (QS 002 : 153)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Dikatakan bahwa Allah beserta orang yang sabar namun tidak demikian kepada yang shalat, karena begitu sulitnya orang mampu bersabar dalam menghadapi panah takdir-Nya. Oleh sebab itu, orang-orang yang sabar masih memerlukan pertolongan dan peneguhan, sebagaimana tercermin pada ayat berikut : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.’ (QS 016 : 127).&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana menyongsong pertolongan Allah SWT? Tidak ada jalan lain kecuali dengan dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah, atau seseorang dapat berpedoman kepada sebuah ayat al Qur’an : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (qs 002 : 152)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Dan juga dapat berpedoman pada sebuah hadis qudsi : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Aku seperti apa yang dipikirkan hamba-Ku mengenai-Ku, dan Aku bersamanya seandainya ia mengingat-Ku. Seandainya ia mengingat-Ku didalam dirinya, Aku pun mengingatnya di dalam diri-Ku, seandainya ia mengingat-Ku di dalam kelompok orang, maka Aku akan mengingatnya di hadapan kelompok yang lebih baik dari mereka, seandainya ia mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sedepa, dan seandainya ia mendekati-Ku sedepa, Aku akan mendekatinya selangkah. Jika ia berjalan mendekati-Ku, Aku berlari mendekatinya.’ &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan syukur adalah keterbukaan hati, terbentuk dari kegembiraan, karena melihat kemurahan, kebaikan, kasih sayang, karunia dan nikmat-nikmat-Nya. Shalat merupakan perwujudan syukur, sebagaimana yang terdapat pada hadist shahih bahwa Rasulullah,saw., melakukan shalat malam sampai kakinya yang diberkahi itu bengkak sebagai tanda syukur atas nikmat-nikmat yang ia peroleh dari Allah SWT. Atau sebuah riwayat mengatakan bahwa, Malaikat mendatangi Nabiyullah Idris,as., menyampaikan berita bahwa Allah telah ridha terhadapnya. Nabiyullah Idris,as., menangis mendengar itu, kemudian ia meminta kepada Allah supaya membiarkannya tetap hidup, ditanya alasannya, beliau menjawab bahwa : ‘Sebelumnya aku beramal untuk diriku sendiri. Kini aku ingin tetap hidup, supaya aku bisa beramal untuk-Nya sebagai rasa syukurku atas keridhaan-Nya terhadapku.’ Kemudian malaikat itu membentangkan sayapnya dan berkata : ‘Duduklah! Idris,as., pun duduk diatas sayap malaikat, lalu malaikat itu membawanya naik ke langit.” Dari kedua riwayat shahih itu, tercermin bahwa syukur sebagai perwujudan amal setelah Allah ridha terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandang dari sudut lain, yakni lawan dari sabar adalah keluh kesah sedangkan lawan daripada syukur adalah kufur. Orang yang berkeluh kesah dalam menghadapi takdir-Nya adalah dosa, sedangkan orang yang kufur terhadap nikmat-nikmat dari Allah menjadikan murka-Nya. Demikian pula bila dilihat dari  quantitas, bahwa sesuatu yang jumlahnya sedikit akan lebih baik dari yang jumlahnya banyak. Dari seluruh manusia, jumlah orang yang beriman tentu lebih sedikit, yang berpangkat wali lebih sedikit dari yang mukmin, dan jumlah para nabi lebih sedikit dari para wali, lalu jumlah rasul lebih sedikit dari jumlah nabi. Begitu pula bahwa orang yang bersyukur itu sangat sedikit jumlahnya, oleh sebab itu baginya kedudukan yang teramat mulia disisi Tuhannya, sebagaimana firman-Nya : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.’ (QS 032 : 9)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, awalnya adalah sabar, kemudian diikuti oleh syukur, seperti telah dikisahkan pada bab sabar terdahulu, bahwa Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) malah bersyukur tatkala seorang dokter memvonis bahwa ia mengindap suatu penyakit yang sangat membahayakan. Syukurnya tampak jelas dari kesabarannya, karena syukur itu tersembunyi, sebagaimana api yang tersembunyi didalam batu. Sewaktu kecil kita sering bermain batu berwarna putih yang terdapat disekitar rel kereta api, bila kedua batu itu digesekkan dengan keras akan menimbulkan percikan api, lalu dengan mendekatkan kertas koran pada percikan api itu, terciptalah api. Demikian halnya dengan syukur, yaitu mengakui karunia dan nikmat-Nya, memuji Sang Pemberi nikmat, tunduk dan merendahkan diri pada keagungan-Nya, serta memasrahkan jiwa kepada-Nya. Semua ini tersimpan didalam hati (qolbu), seperti api yang tersimpan didalam batu putih tadi. Untuk mengeluarkan api syukur didalam hati, harus ada gesekan yang keras, serta harus tersedia kertas koran agar api dapat menyala. Nah, gesekan yang keras adalah ujian atau cobaan, sedangkan kertas koran adalah nikmat dan karunia-Nya. Dengan ujian dan cobaan saja, api syukur tidak akan bisa dinyalakan, karena yang keluar bukan api syukur melainkan sabar dan pasrah. Supaya api syukur dapat menyala, maka harus ada kertas koran, yaitu nikmat dan karunia-Nya. Sebagaimana yang termaktub didalam firman-Nya : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;‘Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi Setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.’ (QS 014 : 5)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu kesufian, masa diujinya hati para wali dengan bermacam-macam penderitaan yang datang kepada mereka dari Allah SWT, seperti kesedihan, kesempitan, keseganan disebut &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imtihan&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;'Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.' (QS 049 : 3)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  Sedangkan bila yang diuji adalah hati dan badan mereka dalam bentuk penyakit dan kemalangan disebut &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bala&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Makin berat penderitaan seseorang maka semakin ia dekat dengan Tuhan, karena penderitaan adalah pakaian mereka dan tempat penggodokan orang-orang suci serta santapan para nabi-nabi. Rasulullah,saw., bersabda :&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; 'Kami, nabi-nabi adalah yang paling banyak menderita diantara manusia.'&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Juga beliau bersabda : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;'Nabi-nabi adalah yang paling banyak menderita diantara manusia, kemudian wali-wali, dan kemudian orang-orang lain menurut peringkat mereka masing-masing.' &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Oleh sebab itu, baik Imtihan ataupun bala pada hakikatnya adalah rahmat, makanya mereka orang-orang suci itu menerimanya dengan rasa syukur, sebagaimana guru tercinta kita dalam memandang dan menghadapi penyakit yang seorang dokter menyebutnya sangat membahayakan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mesti jeli melihat ketetapan Allah SWT dan perintah-Nya, ketetapan-Nya melibatkan sedih atau gembira, senang atau susah, sehat atau sakit, kaya atau miskin, serta kesempitan dada atau kelapangan bagi seseorang, yang ketetapan-Nya itu tertulis didalam lembaran yang terpelihara (lauh mahfud) jauh hari sebelum ruh dan jasad manusia dicipta. Begitu di tampakkan pada seseorang, ia tidak akan mampu menghidar, dan seseorang tidak mempunyai pilihan. Sedangkan perintah-Nya sangat jelas, bila panah ketetapan-Nya yang berkenaan dengan kesulitan datang kepada seseorang, maka diperintahkan untuk bersabar, dan sebaliknya bila yang datang adalah panah ketetapan-Nya berupa kesenangan atau kelapangan maka diperintahkan untuk bersyukur, dan seseorang mempunyai pilihan untuk taat atau membangkang. Dan barang siapa mampu berdiri kukuh menjalani dengan teguh perintah-Nya dalam menghadapi ketetapan-Nya maka ia telah masuk kedalam maqon syabar dan syukur, atau mukmin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, semoga apa-apa yang diperoleh oleh guru tercinta kita, Allah SWT berkenan melimpahkan kedalam dada kita, amiin yaa Allah ya Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-1087632145519539293?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/1087632145519539293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/11/syukur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1087632145519539293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/1087632145519539293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/11/syukur.html' title='SYUKUR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7908383399102563464</id><published>2009-11-22T02:02:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T02:07:12.273-08:00</updated><title type='text'>EVOLUSI JIWA</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sudah ratusan buku tasawuf membicarakan tentang evolusi jiwa, dan memang inilah yang menjadi pokok pembicaraan para syaikh sufi. Mereka melihat dan merasakan perubahan-perubahan jiwa dalam perjalanan ‘menuju’ Allah SWT, bahkan mereka berhenti sejenak (wuquf) pada setiap pemberhentian itu (stasiun) meneliti dan menulisnya atau berbagi pengalaman ruhaninya kepada murid-muridnya, khususnya cara-cara atau kaifiat untuk mencapainya. Agar diketahui ciri-ciri, sifat dan rasa yang hakiki, supaya para murid dapat memahami dan bilamana disuatu kelak  mengalaminya, maka ia dapat dengan tepat mengetahui kebenarannya. Mereka menyebutnya ilmu tahapan, atau ilmu maqom-maqom. Pada umumnya untuk mencapai maqom-maqom itu, mereka melakukan praktik wirid, dzikir, tafakur, muroqobah, muhasabah, sedangkan ibadah yang wajib tidak dibahas disini, karena bersifat umum bagi setiap orang yang mengaku beriman, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Meskipun pada tahapan tertentu, maqom menjadi hijab, karena setiap maqom berkaitan dengan upayanya dalam melakukan riyadhah dan mujahadah, sedangkan keberserahan setelah keberupayaan, fana dari upayanya, atau fana dari dirinya dan baqo bersama Tuhanya menjadi akhir perjalanan. Setiap kelompok syaikh sufi mempunyai kaifiat yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama, oleh sebab itu, munculah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan pembimbing ruhani, diantaranya  tarekat Qodiriyah, Naqsyabandiyah, Chistiyah, Sanusiyah, Samaniyah, Tijaniyah, Sadziliyah dan masih banyak lagi. Seperti praktik dzikir, ada kelompok tarekat yang melakukannya secara berbunyi dan menggunakan gerakan-gerakan serta hitungan tertentu, ada pula kelompok lain yang praktik dzikirnya diam dan tidak bergerak, demikian pula tentang praktik muroqobah, ada yang duduk seperti tahiyatul akhir dan ada yang duduk sebaliknya, ada yang mencapai tingkatan dua puluh dan ada pula yang hanya empat. Nah, praktik-praktik itu hanyalah sebuah sarana bukan tujuan, dan merupakah ciri khas dari kelompok sebuah tarekat. Akan tetapi menjadi wajib hukumnya untuk taat dan mengikuti secara tepat kaifiatnya bagi orang-orang yang menganutnya. Tentunya praktik-praktik itu dicontohkan oleh para masyaikh terdahulu yang berpedoman kepada Abu Bakar as Siddiq,ra., dan Sayyidina Ali bin Abu Thalib,ra., yang menerimanya langsung dari Rasulullah,saw., yang bersifat khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian secara informal bersama seorang mursyid merupakan hal yang langka di era yang serba materialistk ini. Keajaiban-keajaiban (karomah, bagi para waliyullah) atau maunah (bagi para mukmin) sering terlihat dan terasa, walaupun murid-murid yang awam beranggapan bahwa karomah atau maunah itu mestilah dapat dilihat oleh panca indera, sebagaimana mu’jizat para nabi. Pendapat ini salah, karena karomah berbeda dengan mu’jizat, yang pertama datang dan pergi atas kehendak Tuhan, dan diperuntukkan hanya untuk wali-Nya saja, dan bukan konsumsi orang lain, sehingga bentuk karomahnya bisa bersifat lahir dan batin, dan Allah berkehendak untuk dapat disaksikan dan dirasakan oleh murid-murid tertentu saja. Sedangkan yang kedua, datang karena doa seorang nabi dan memang tujuannya untuk diperlihatkan kepada orang lain guna mengukuhkan keimanannya. Dalam kesempatan itu, seorang salik dapat bertanya secara langsung tentang keadaan dirinya atau kesulitan-kesulitan didalam perjalan spiritualnya. Karena, pada umunya pengajian tarekat yang diadakan secara formal, belangsung secara monologis, tidak ada kesempatan bagi seorang salik mengajukan pertanyaan. Meskipun, tanpa pertanyaan pun, seorang mursyid dapat memahami warna jiwa dari murid-muridnya yang hadir. Sehingga ujaran-ujarannya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan bisu murid-muridnya itu. Hal ini merupakan salah satu ciri yang wajib yang ada pada pembimbing ruhani, sebagaimana ucapan Imam Junayd,ra., : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Seorang pembimbing ruhani pasti mengetahui semua yang terjadi pada salah seorang muridnya.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diriwayatkan bahwa, terpikir oleh Khayr Nassaj bahwa Imam Junayd,ra., sedang menunggu didepan pintunya, dan ia ingin mengusir pikiran itu, karena dalam tradisi tarekat, nyaris mustahil seorang mursyid berkunjung kerumah muridnya. Pikiran yang sama terulang dua dan tiga kali, sehingga ia pergi keluar dan mendapati Imam Junayd,ra., yang mengatakan : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Jika engkau mengikuti apa yang terlintas dalam benakmu, tidak perlu bagiku berdiri berlama-lama disini.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Begitu pula tatkala beberapa orang murid sedang ngariung bersama Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya), tiba-tiba beliau memekik : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Ruh saudara kita, H Memed, yang sedang sakit berkunjung kesini, sebuah isyarat ia akan segera berpulang keharibaan-Nya.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Segera murid-murid yang mendengar itu begegas berziarah dan mendapati keadaanya yang sudah payah. Tiga hari setelah kejadian ini, H Memed menghembuskan nafasnya yang terakhir (semoga Allah mensucikan, mengampuni semua dosanya dan menyayanginya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut buah kelapa, bilamana ia terdiri dari kulit, batok, buah dan air. Tidak tepat, jika kulit dan batok kelapanya saja disebut kelapa, meskipun keduanya adalah bagian darinya. Demikian juga sosok manusia, ia akan disebut manusia manakala lengkap terdiri dari materi yang lahir dan materi yang batin. Materi yang lahir berupa badan, Syaikh (semoga Allah merahmatinya) menyebutnya cangkang, sedangkan materi yang batin terdiri dari hati, ruh dan jiwa. Ruh mempunyai penasihat bernama akal dan jiwa mempunyai panglima bernama syahwat. Para syaikh sufi sepakat bahwa hati (qolbu) adalah tempat (lokus) ruh dan jiwa. Kata ‘tempat’ atau ‘lokus’ untuk materi-materi yang halus menjadi pokok perbedaan pendapat, khususnya yang berkenaan dengan letak hati (qolbu) pada sosok manusia. Memang, sejak dahulu kala orang-orang kafir Quraysy sudah bertanya kepada Rasulullah,saw., tentang sifat dan hakikat ruh, Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS 017 : 85&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Ruh-ruh adalah tentara, mereka yang mengenal satu sama lain bersepakat dan mereka yang tidak mengenal satu sama lain berselisih.’ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ruh adalah substansi dan bukan atribut, karena , selama ia masih berkaitan dengan badan, Allah SWT terus menerus mencipta kehidupan baginya, dan kehidupan itu adalah atribut dan dengannya ia hidup. Ruh meliput atau ada yang mengatakan tersimpan dalam badan dan bisa dipisahkan darinya sewaktu ia masih hidup, seperti dalam keadaan tidur. Tapi bilamana ruh meninggalkan badan, akal-pikiran dan pengetahuan tidak lagi bisa ada dalam dirinya, karena itu Rasulullah,saw., mengatakan bahwa ruh-ruh para syahid berada dalam tembolok burung. Dengan demikian, ruh itu tentu substansi (dzat) atau materi yang halus, yang datang dan pergi menurut perintah Allah. Dan ruh itu bisa dilihat oleh mata hati dan bisa menempati tembolok burung atau bisa menjadi tentara yang bergerak kesana-kemari, sebagaimana hadis diatas. Oleh karenanya disaat Mi’raj, Rasulullah,saw., melihat di langit, nabiyullah Adam,as., Yusuf,as., Musa,as., Harun,as., Isa.,as., dan nabiyullah Ibrahim,as. Dan tidak heran bilamana Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) dapat merasakan dan mengenal kehadiran ruh murid-muridnya. Dan diriwayatkan bahwa Imam Uways al Qarani,ra., berkata kepada seseorang yang menziarahinya : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Assalamulaikum,  wahai Harim bin Hayyan!’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Harim berseru : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Bagaimana engkau tahu bahwa aku adalah Harim?’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Imam Uways al Qarai,as., menjawab : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Ruhku telah mengenal ruhmu.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tarekat merupakan paguyuban, yang dipimpin oleh seorang mursyid sebagai pembimbing ruhani bagi para murid-muridnya. Didalamnya terdapat aturan-aturan yang sangat ketat, khususnya pelaksanaan cara-cara (kaifiat) melakukan peribadatan, hal ini merupakan pondasi yang kokoh, karena barang siapa salah menjalankan kaifiatnya, maka hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dan mungkin saja berbahaya bagi perkembangan jiwanya. Seorang mursyid mempunyai metodologi khusus yang diterima turun temurun dari para masyaikh terdahulu, guna mengantar murid-muridnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT secara benar, cepat dan tepat. Metode, cara-cara atau kaifiatnya shahih dan telah terbukti mujarob, hampir semua metodenya tidak terlepas dari melakukan tindakan riyadhah dan mujahadah, atau dawamudz dzikri wa dawamun ubudiyah. Sehingga maqom-maqom diraih, kesucian demi kesucian tergapai, tahap demi tahap mencapai kedekatan dengan Tuhannya. Semua syaikh sufi sepakat bahwa tempat tambang makrifat adalah hati (qolbu). Oleh karenannya, hampir semua bentuk peribadatannya dipusatkan atau diarahkan kepada hati (qolbu) ini. Maka yang diperlukan bagi seorang salik, adalah patuh terhadap bimbingan mursyidnya, dan mengerti serta memahami mengapa ia ditakdirkan masuk dalam orang-orang yang bertarekat, orang-orang yang mensucikan dirinya, sebagaimana doa yang ia lantunkan dalam setiap kesempatan “Yaa Allah, Engkaulah yang aku maksud, ridho-Mu yang aku harapkan, karuniakan kepadaku rasa cinta kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu, Wahai Yang Maha Belas Kasih, Ilahii anta maqsudi waridhoka matlubi ‘atini mahabbataka wa ma’rifataka ya arhamar rohimiin.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu ditilik oleh Allah SWT pada diri manusia adalah materi yang batin, yakni hati (qolbu), bukan materi yang lahir, oleh karenanya ia menjadi pusat perhatian para syaikh sufi, dan menjadi wajib hukumnya untuk selalu mewaspadai terhadap pengaruh-pengaruh yang buruk. Jika hati (qolbi) diperumpamakan sebagai sebuah ruangan, maka penghuni dalam ruangan itu, bersama-sama antara ruh (cahaya) dan jiwa (kegelapan). Ruh dicipta di alam amr, dan mengenal Tuhan sebagai Tuhan harus dikenal, ia menyerap sifat-sifat Tuhan, oleh karenanya sangat tepat bila diperumpamakan cahaya, sedangkan jiwa tercipta manakala ruh telah menyatu dengan badan, dan karena berada di dunia ini, maka sifat-sifatnya dominan seperti sifat dunia, yakni kegelapan. Oleh sebab itu, hati bisa terkadang bercahaya dan terkadang gelap, tergantung pihak mana yang mempengaruhinya. Sekarang! ruangan itu berada didalam rumah (badan manusia), dan rumah ini dibuat dari empat unsur alam semesta, yakni tanah, air, api dan angin, yang secara keseluruhan bersifat kegelapan, persis seperti sifat jiwa. Karena sifat dan unsurnya sama, rumah dan jiwa menjadi menyatu dan sulit dipisahkan, laksana sepasang kekasih yang mabuk asmara. Sedangkan ruh menyatu dengan ruangan itu, karena asalnya memang bukan pada rumah itu, dan bukan pula di tempat dimana rumah itu berdiri, melainkan dari alam yang tinggi, alam kesucian, atau alam amr. Al hasil, ruangan menjadi gelap, ruh (cahaya) kalah dominan dibanding kegelapan. Lama kelaman jika tidak waspada, dan tidak memberi suplemen pada ruh (cahaya) maka ruangan seluruhnya menjadi gelap gulita. Jika sudah demikian, yang memancar dari rumah tadi adalah kegelapan, tak sedikitpun ada cahaya. Maka dari itu, manusia yang demikian tidak dapat melihat kebenaran-kebenaran dan segala sesuatu gerak gerik dan ucapannya hanyalah kepalsuan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mursyid adalah pembimbing ruhani, karena ruangan pada rumahnya bercahaya, yang menjadikan rumahnya pun bercahaya. Oleh sebab itu, menjadi tepat jika ia membimbing murid-muridnya  mengembalikan ruangan tadi menjadi bercahaya, walaupun  sangat sulit namun bukan hal yang mustahil. Yang pertama dan wajib bagi seseorang adalah memperoleh taufik dan hidayah-Nya, lalu patuh dan taat menjalankan pekerjaan tarekat, atas bimbingan dari seorang mursyid. Praktik dzikir menjadi pekerjaan yang dominan, dengan selalu menyebut asma Allah sebagai pemberi cahaya langit dan bumi, maka ruh tadi akan semakin bercahaya, dan menggeser sedikit demi sedikit kegelapan pada ruangan, sebagaimana yang termaktub didalam al Qur’an : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.’ (QS 024 : 35)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lalu setelah ruangan itu bercahaya, pekerjaan selanjutnya adalah muroqobah atau meditasi untuk mempengaruhi hati (qolbu) agar selalu merasa kehadiran Tuhan (Hudur al-Haq), merasa diawasi dan bersama-sama dengan-Nya, serta merasa diliput oleh-Nya terus menerus sepanjang kehidupannya, dalam keadaan terjaga ataupun tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarekat Qodiriyah, melakukan ritual peribadatannya dikhususkan pada hati (qolbu) baik dzikir, tafakur (kontemplasi) atau muroqobah (meditasi). Demikian pula tarekat Naqsyabandiyah, akan tetapi, tarekat ini mempunyai keyakinan bahwa didalam ruangan tadi masih tedapat ruangan-ruangan yang lain sebanyak tujuh ruangan. Atau dengan kata lain bahwa didalam hati (qolbu) masih terdapat materi-materi halus (lathifah) yang lain, dan hati (qalbu) sebagai ummul lathifah atau ibu dari pada lathifah. Kedua tarekat ini mempunyai metodologi yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama. Oleh sebab itu, Syaikh Ahmad Khatib as Sambasi (semoga Allah mensucikan ruhnya), menggabungkan ke dua tarekat ini menjadi tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sebagai pewaris mutiara ilmu kesufian dari tarekat ini mengatakan bahwa letak hati (qolbu) sebagai tambang makrifat ini, berada pada dua jari dibawah susu sebelah kiri. Ditempat inilah terdapat harta karun yang tidak ternilai harganya dan dijaga sangat ketat oleh sifat binatang ternak dan buas, sifat rububiyah dan sifat syaithoniyah, serta didepan ‘pintu’ hati dijaga oleh para syaithon yang berusaha menyesatkan anak cucu Adam. Nah, jika hati (qolbu) menjadi lokus dari pada dua entitas yang saling tarik menarik, ruh mengajak kearah kesucian dan kembali keasal muasalnya, yakni ‘dekat’ dengan Pencipta-Nya, dan jiwa mengajak kepada hal-hal yang kotor (buruk) agar terjerambab di alam dunia ini, agar manusia semakin tertabiri dari Tuhan, sesuai dengan keterkaitannya terhadap anasir, tanah, air, api dan angin. Oleh karenanya, jiwa dan badan menyatu dan lengket, sulit dipisahkan, dan selalu bertindak mengarah kepada kejahatan, melanggar hukum suci, syariat agama. Maka dari itu, orang-orang yang mencari Tuhan tidak akan pernah mengendorkan perjuangannya melawan jiwa rendahnya, sehingga dengan demikian mereka bisa menggunakan kekuatan ruh dan akal, yang menjadi rumah bagi rahasia Ilahi. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Bahwa jiwa dapat dipengaruhi.’ Yakni, melalui bimbingan dari seorang mursyid dalam melaksanakan pekerjaan tarekat, maka tahap demi tahap jiwa akan terpengaruhi oleh sifat-sifat Tuhan dan sedikit demi sedikit akan selaras dengan anasir alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok syaikh sufi, mempunyai terminologi dalam menyampaikan pengalaman ruhaninya. Setelah bersungguh-sungguh melakukan praktik-praktik riyadhah dan mujahdah sesuai dengan metodologi masing-masing, jiwa mengalami evolusi, bergerak sedikit demi sedkit, atau tahap demi tahap menggugurkan sifat buruk (majmumah) dan terbukanya sifat-sifat yang terpuji (mahmudah). Perubahan-perubahan pada jiwa (evolusi) ini ada yang menyebut maqom-maqom, yang dimulai dari maqom taubat, sabar, syukur, tawakal dan sampai pada maqom ridha. Ada pula yang menyebutnya dari nafsul imarah, nafsul lawwamah, nafsul mulhimah, nafsul muthmainah, nafsul mardiyah, nafusl radiyah dan yang tertinggi adalah nafsul kamilah. Meskipun cara penyampaiannya berbeda namun mempunyai arti yang sama, terserah mana yang akan digunakannya. Begitu pula letak daripada materi-materi yang halus pada manusia, berbeda tempat namun mempunyai tujuan yang sama pula. Semoga Allah SWT meridhoi ktia semua, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7908383399102563464?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7908383399102563464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/11/evolusi-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7908383399102563464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7908383399102563464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/11/evolusi-jiwa.html' title='EVOLUSI JIWA'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-2719298693019584453</id><published>2009-11-01T14:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T05:08:30.599-08:00</updated><title type='text'>UJARAN PERTAMA SULTHONUL AULIYA</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat tercinta, sebelum membaca ceramah pertama dari pemimpin tarekat Qodiriyah, Sulthonul Auliya Sayyidi Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir al Jailani al Bagdadi,qs., pada hari Jum’at 15 Syawal 545 H, mari bersama-sama kita bacakan Suratul Fatihah, Al Fatihah ........... Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati para waliyullah adalah suci dan bersih. Mereka adalah orang-orang yang sudah bercerai dari makhluk dan tenggelam dalam cinta kepada Sang Pencipta. Mereka telah menceraikan dunia dan mempersiapkan diri untuk Hari Kemudian. Kau tidak akan bisa mengenali mereka, karena kau tersesat dalam dunia ini. Terbentang jarak yang amat jauh antara kau dengan mereka. Jika ada saudaramu mukmin memberimu nasihat, jangan melakukan hal yang bertentangan dengan perkataannya, karena dia bisa melihat hal-hal pada dirimu yang tidak bisa kau lihat. Nabi,saw., bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Seorang mukmin adalah cermin bagi muslim lainnya.’&lt;/span&gt; Seorang mukmin sejati akan selalu memberi nasihat kepada saudaranya sesama muslim, tulus dari dasar hatinya. Dengan terbuka dia katakan kelemahan dari kekurangan saudaranya. Allah Yang Mahasuci telah meletakkan di hati muslim semangat untuk menasihati saudaranya, termasuk nasihat dan menyampaikan kebenaran kepadamu, dan menjelaskan kepadamu apa yang dia pahami. Sebagai imbalannya, dia tidak menginginkan apa pun dari dunia ini maupun di dunia nanti. Yang dia inginkan hanyalah ridho Kekasihnya dan inilah yang menjadi doanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku sangat berbahagia ketika umatku mencapai keberhasilan dan kemakmuran, dan kemunduran kaumku terasa olehku laksana panah-panah yang menusuk hatiku. Bila salah satu muridku mencapai keberhasilan, maka hati merasa sangat bahagia, sehingga ketundukkan hati dan kepalaku ke hadirat Sang Penciptaku. Wahai hamba Allah! Perbaikan keadaanmulah yang menjadi tujuanku. Aku tidak memiliki pamrih pribadi, karena jenjang itu telah kutaklukkan. Aku ingin menggandeng tanganmu dan membimbingmu menuju jalan yang lurus, maka jangan segan meminta pertolongan dan bantuanku di jalan ini, sehingga engkau dapat mencapai keberhasilan. Aku dapat memperindah dirimu di hadapan Allah dan bukan dalam pandangan manusia, yang kuinginkan adalah menunjukkan padamu siapakah dirimu sesungguhnya. Seperti apakah keadaanmu? Apakah seperti setititk air dalam segumpal daging yang mati, atau laksana sepotong bangkai yang dipenuhi belatung dan ulat, dibiarkan untuk burung pemakan bangkai dan hewan-hewan lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau harus paham bahwa orang yang mengajakmu taat dan menjadi hamba para raja dunia ini, dan menuangkan pada hatimu ketamakan dunia, emas dan perak, yang kau anggap lebih berharga daripada harta kekayaanmu yang sejati (iman), sesungguhnya ia sedang menyesatkanmu. Dia tidak lain adalah syaithoon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah pada Allah! Balasan atas ketamakan ini tidak lain adalah hilangnya kemuliaan dan timbulnya kehinaan. Rasulullah,saw., tercinta telah menyatakan : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Orang yang paling pantas menerima murka Allah adalah orang yang menghasratkan hal-hal dunia melebihi kebutuhan dirinya, karena tamak.’ &lt;/span&gt; Jika kau berpikir manusia dapat memberimu keuntungan berlimpah, sehingga akan menelan segala sesuatu, maka sesungguhnya kau belum mengerti inti rahasia. Ini adalah bisikan syaithon dalam hatimu. Sesungguhnya kau bukanlah hamba Allah, tetapi kau adalah hamba nafsumu dan pembantu-pembantu syaithoon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceraikan kecintaan pada uang dan harta benda dan cobalah bebaskan dirimu dari penjara dunia ini. Jika kau ingin merdeka darinya, maka kau memerlukan bimbingan seseorang. Maka kau harus mencari seorang pembimbing. Ingatlah, bahwa jika kau mencari bimbingan semacam itu dengan mata jasmanimu, itu tak ada bedanya dengan mencari-cari sesuatu dalam gelap. Bimbingan ini hanya bisa ditemukkan dengan menggunakan mata hati dan pandangan ruhani. Jika kau ingin menjumpai bimbingan itu, maka syaratnya adalah iman. Jika kau tidak memiliki iman, maka kau tidak akan pernah memiliki pandangan batin. Allah SWT., berfirman: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.’ (QS 22 : 46).&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumpamaan ketamakan terhadap dunia adalah ibarat seseorang yang memberikan uang dinar untuk ditukar dengan jerami. Jerami akan segera terbakar dan musnah, sedangkan dinar yang sebelumnya kau miliki, hilang sudah. Jika imanmu lemah, pastilah kau akan memburu dunia. Cobalah perkuat imanmu sehingga derajatmu dapat terangkat dan memiliki keyakinan sejati kepada Allah. Bila imanmu bertambah kuat, maka kau akan melihat bahwa keyakinanmu kepada Allah bertambah kokoh pula, dan kau akan menyaksikan kebutuhanmu dipenuhi-Nya bahkan tanpa sepengetahuanmu. Bila kau menjauhi keramaian orang, kau akan menyadari bahwa kau mencapai tingkat di mana kau siap dan rela memberikan hidupmu ke tangan Malaikat Maut. Kau tidak akan memikirkan hal itu, juga mengenai ke mana gelombang Laut Kebenaran Sejati akan membawamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kekhawatiran dan kesenangan duniawi sama sekali tidak akan mempengaruhi pikiranmu dan mengganggu jiwamu. Nabi,saw., bersabda : ‘Ceraikanlah pikiranmu dari dunia ini semampu kalian.’  Wahai hamba Allah! Cobalah bebaskan dirimu dari belenggu dunia ini. Tambatkan dirimu dengan tali kokoh rahmat Allah, yang dengan mantap akan menarik bahtera hatimu menuju pantai sejati Samudera Cinta. Allah berkuasa atas segala sesuatu. Dia Sang Mahatahu. Segala sesuatu ada di dalam kendali-Nya. Jika kau mendambakkan Dia, pertama-tama mintalah kebersihan bagi hatimu, mohonlah iman dan makrifat. Mohonlah ilmu. Mohonlah keridhoan hati. Mohonlah cahaya hati. Mohonlah cinta dan Kasih Sayang-Nya. Mintalah semua ini dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau memperoleh ini semua, maka kau telah memiliki segalanya. Jangan tadahkan tanganmu kepada yang lain. Tujuanmu hanyalah Dia. Tidak ada guna memohon pada orang sombong dan angkuh di dunia ini. Wahai hamba Allah! Jika kau hanya mengucapkan kalimat syahadat dengan lidahmu, dan hatimu tidak memunculkan kesaksianmu ini dalam perbuatanmu, maka sesungguhnya kau belum bergerak selangkah pun menuju Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesungguhan perjalanan menuju Allah tergantung pada laju ruhani dan kekuatan hati. Kedekatan sejati adalah kedekatan jiwa. Amal saleh sejati adalah amal yang disertai jiwa, atau dengan kata lain, keikhlasan. Perbuatan baik ini hanya dapat dilaksanakan jika kau tetap berada di dalam batas-batas yang ditetapkan syariat dan disertai perlindungan syariat. Ini semua hanya bisa dicapai oleh hamba Allah yang sejati dan saleh. Ini harus menjadi mistar pengukurmu. Jika manusia tidak mempergunakan jiwanya sebagai mistar, maka dia tidak akan berhasil. Tindakan atau amalan yang dilakukan untuk memamerkan kesalehan diri, bukanlah amal saleh yang sejati. Amal kebaikan yang sejati dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Orang hanya wajib melaksanakan fa’idl-nya secara terbuka, karena memang diharuskan. Amalan seseorang tergantung kepada tauhid dan keikhlasannya. Jika dua hal ini tidak ada, maka amalan seseorang tidak ubahnya laksana sebuah bangunan tanpa pondasi yang kokoh. Tidak akan lama waktunya bagi bangunan itu untuk rubuh dan runtuh. Pertama-tama bangun dan perkokoh pondasi ini, setelah itu dirikanlah bangunan yang megah. Jika Allah berkehendak, maka bangunan semacam itu tidak akan pernah ambruk atau hancur, karena bangunan ini memiliki pondasi yang kokoh. Hanya dengan menerima Ke-Esa-an Allah, amal-amalmu akan dapat bercahaya di angkasa ruhani sebagaimana bulan purnama dan akan mencurahkan sinar sebagaimana matahari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-2719298693019584453?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/2719298693019584453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/11/ujaran-pertama-sulthonul-auliya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2719298693019584453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2719298693019584453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/11/ujaran-pertama-sulthonul-auliya.html' title='UJARAN PERTAMA SULTHONUL AULIYA'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-207237802107211829</id><published>2009-10-30T19:22:00.000-07:00</published><updated>2009-11-12T15:26:36.381-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dzikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lathifatul akhfa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lathifatul sirri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qolbu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lathifatul ruh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lathifatul qolbi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lathifatul khofi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ruh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lathifatul kullu jasad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muroqobah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jiwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lathifatul nafsun natiqo'/><title type='text'>HATI (QOLBU)</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : ‘(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS 013 : 28)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik terkejut mendengar celotehan bocah kecil yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar yang berkomentar tentang gempa bumi yang sedang melanda di beberapa kota di Indonesia, bahwa gempa bumi itu, bumi bergoyang-goyang mengikuti tingkah laku orang-orang masa kini, yang suka bernyanyi dan bergoyang-goyang mengikuti irama lagu. Makanya banyak-banyak shalat dan puasa agar bumi menjadi tenang. Bocah kecil itu begitu tajam ucapannya, tanpa disadarinya ia telah berbicara tentang anasir, insya Allah pada bab mendatang akan disampaikan pengajian tentang anasir, yakni hubungan antara Sang Pencipta, alam semesta (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat diatas jelas sekali maknanya, yakni ketenangan seseorang terletak pada hatinya, dan ketenangan hati diperoleh dari hasil dzikir-dzikirnya, tentunya dzikir kepada Allah (dzikrullah) bukan dzikir dunia. Seseorang boleh melihat kedalam dirinya apakah ketenangannya diperoleh disaat angka rekening tabungan banknya banyak atau sebaliknya kegundahannya datang tatkala angka rekening banknya menipis. Jika ketenangannya dikarenakan cahaya ketuhanan yang menguasai hatinya karena dzikir-dzikirnya, maka ia termasuk golongan orang-orang yang berbahagia di dunia ini dan akhirat nantinya, sebaliknya jika ketenangannya disebabkan karena adanya harta bendawi yang menumpuk didalam rekeningnya atau uangnya menjadi banyak maka ia termasuk golongan orang-orang yang tertipu, meskipun ia juga telah melakukan dzikir-dzikir, namun jelas ia telah salah dalam mematuhi kaifiat dzikir yang benar, dan tidak melakukan tindak mujahadah. Yang pertama, ruhnya telah mendominasi jiwanya, lalu cahaya ketuhanan memenuhi ruang hatinya, sehinga keimanannya bertambah-tambah kuat, dan tuhannya adalah Allah SWT semata, sedangkan yang kedua jiwanya telah mendominasi ruhnya dan kegelapan telah memenuhi hatinya, sehingga keimanannya merosot tajam, dan tuhannya adalah harta bendawi dunia, naudzubillah mindzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : 'Seseorang menjadi mulia tatkala ia mampu mewaspadai gerak gerik hatinya.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati (Qolbu) menjadi pusat perhatian para syaikh sufi, karena merupakan tambang makrifatullah, jika ia baik maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Hati yang dimaksud adalah suatu yang halus yang terdapat pada manusia bukan hati organ tubuh. Hati (Qolbu) secara etimologis berarti membalik, mengalihkan, mengubah. Jika sebuah gelas diisi penuh dengan anggur, maka ia akan berwarna merah atau putih, tergantung dari pada warna anggurnya. Jika gelasnya tenang maka isinya juga akan tenang, demikian pula jika isinya tenang maka gelasnya akan tenang pula. Demikian pula dengan hati manusia, sebagai tempat (lokus) antara ruh dan jiwa, lokus dari kebaikan dan keburukan, keimanan dan kemunafikan, kebenaran dan kepalsuan. Ketika Allah SWT menciptakan hati (qolbu), malaikat Ridhwan (penjaga surga) berkata : ‘Berikan kepadaku, sebab didalamnya ada madu keakraban dan anggur kesucian.’ Malaikat Malik (penjaga neraka) berkata : ‘Berikan kepadaku, sebab didalamnya ada gejolak api hasrat dan api nafsu.’ Para malaikat muqorobin (penyangga Arasy) berkata : ‘Berikan kepada kami, sebab ia adalah arasy cinta mulia dan hamparan luas kebaikan.’ Malaikat yang lain berkata : ‘Berikan kepada kami, sebab ia adalah langit penuh hiasan, pikiran-pikirannya mengalir bagaikan bintang-gemintang yang melesat cepat.’ Lalu Allah SWT membubarkan mereka dan berkata : ‘Qalbu itu berada diantara dua jari-jari Dzat Yang Maha Pengasih.’ Rasulullah,saw., sering melantunkan sebuah doa : ‘Wahai Dia yang membuat hati berubah-ubah, tetapkan hatiku pada agama-Mu.’ Yakni, ‘Tidak ada putra Adam yang hatinya tidak berada diantara dua jari Tuhan. Siapa pun yang Dia inginkan, dibuat-Nya berjalan lurus, dan siapa pun yang Dia inginkan, dibuat-Nya berjalan bengkok.’ Hati berada diantara dua jari Tuhan, diantara keridhoan-Nya dan kemurkaan-Nya, Rahmat-Nya dan Keadilan-Nya. Hati juga bisa selembut malaikat dan segelap syaithon. Kadang-kadang angin rahmat berhembus yang membuatnya senang, dan kadang-kadang angin panas menerjangnya yang membuatnya lelah. Hati menjadi bingung diantara kedua jenis sifat dan kedua keadaan ini. Oleh karenanya hati merupakan pusat seorang manusia. Allah menaruh perhatian khusus kepadanya, dan yang ditilik dari manusia adalah hatinya bukan yang lain, bahkan tindakan-tindakan jawarih manusia yang tidak dibarengi dengan hati bukan merupakan dosa : ‘Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. (QS 033 : 5). ‘Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.’ (QS 002 : 25) demikian pula terdapat hadits yang mengatakan bahwa : ‘Allah tidak melihat badanmu atau bentukmu, melainkan kedalam hatimu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat ruh adalah Ilahiyah, bercahaya dan tinggi sedangkan sifat jiwa adalah duniawi, rendah, gelap dan syaithoniyah. Hati sebagai lokus dari keduanya, menjadi berubah-ubah mengikuti angin yang membawanya. Kadang-kadang ia menuju yang tinggi dan menjadi satu dengan ruh dan kadang-kadang ia mendatangi yang rendah dan menjadi satu dengan jiwa. Ketika ia menjadi satu dengan ruh, ia mendominasi jiwa. Selanjutnya tidak ada lagi yang muncul kecuali kesesuaian dan kepatuhan. Ketika menjadi satu dengan jiwa, ia mendominasi ruh. Selanjutnya tidak ada lagi yang muncul kecuali penentangan dan ketidakpatuhan. Berubah-rubahnya hati adalah seperti berubah-ubahnya lingkaran langit, berubahnya peredaran planet-lanet atau galaksi. kadang-kadang ia membawa matahari kebawah dunia dan dunia menjadi gelap, dan kadang-kadang ia membawa dunia kebawah matahari dan membuatnya bercahaya. Ruh itu laksana matahari, jiwa itu seperti bumi dan hati itu seperti lingkaran langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas para Syaikh sufi adalah terpusat pada pembersihan hati dari noda bawaan dan noda dunia. Jika dijelaskan metodologi Tarekat Qodriyah wa Naqsyabandiyah dalam upayanya untuk membersihkan hati, maka kitab ini akan menjadi tebal sekali dan membosankan untuk dibaca. Pendeknya, pendidikan keruhanian dan kejiwaan yang shahih hanya dipunyai oleh guru mursyid, seorang syaikh yang mendapat otoritas untuk menyebarkannya. Hati, ruh dan jiwa merupakan sesuatu yang halus yang ada pada manusia, dan hati menjadi tempat (lokus) ruh dan jiwa secara bersama-sama. Sesuatu yang halus hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh indera yang halus pula, sedangkan sesuatu yang kasar hanya bisa didengar dan dilihat oleh indera yang kasar pula, seperti telinga dan mata. Pandangan para syaikh dari tarekat ini terhadap sesuatu yang halus pada manusia (lathifah), terdapat tujuh tingkatan kelembutan, sebagaimana langit diciptakan tujuh lapis, dan demikian pula bumi, serta surga diciptakan tujuh lapis demikian pula neraka. Namun demikian telah dikatakan pada bab-bab terdahulu bahwa hakikat angka tujuh mewakili sesuatu yang banyak dan mendekati tak terhingga. Ketujuh tingkatan kelembutan itu yang pertama adalah Latifatul Qolbi, didalam Latifatul Qolbi ada Latifatul Ruh, didalam Latifatul Ruh ada Latifatul Sirri, didalam Latifatul Siiri ada Latifatul Khofi, didalam Latifatul Khofi ada Latifatul Akhfa, kelima tingkatan kelembutan (lathifah) ini dicipta di alam amr (alam perintah) tanpa evolusi dan terletak disekitar dada manusia. Lalu didalam Latifatul Akhfa ada Latifatul Nafsun Natiqo, didalam Latifatul Nafsun Natiqo ada Latifatul Kullu Jasad. Kedua lathifah yang terakhir disebut ini letaknya disekitar kepala manusia dan mempunyai hubungan dengan anasir, tanah, air, api dan angin. Didalam ketujuh lathifah ini bersama-sama berkumpul sifat-sifat yang mahmudah (terpuji) dan sifat-sifat yang majmumah (tercela), sifat-sifat ketuhanan dan sifat-sifat syaithoniyah, sifat-sifat binatang jinak dan binatang buas. Nah, lokasi tambang kesempurnaan manusia ada pada ketujuh tempat ini, aktifitas menambangannya harus dengan dzikir dan muroqobah. Setiap harinya, paling tidak pada ketujuh tingkatan kelembutan (lathifah) ini berdzikir menyebut ismudzat Allah … Allah … Allah sebanyak 11.000, atau khusus pada latifatul qolbi melakukan muroqobah sebanyak dua puluh (20) tingkatan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Barang siapa mampu masuk dengan benar dua (2) muroqobah awal, yakni ahadiyah dan maiyah maka orang itu telah memasuki awal kewalian, dan bila berhasil memasuki muroqobah yang ke tiga (3), aqrobiyah, maka ia telah memperoleh kewalian sugro atau kewalian kecil. Sedangkan barang siapa mampu memasuki muroqobah ke empat (4), muroqobah al-mahabbat fi al-dairat al-ula, sampai ke tujuh(7), maka ia akan memperoleh kewalian Qubro atau kewalian besar, dan seterusnya bila ia dapat memasuki muroqobah ke delapan (8) sampai ke dua puluh (20) maka ia telah memperoleh kewalian ulya atau kewalian malaikat.’ Yang dimaksud dengan masuk dengan benar dalam muroqobah adalah ia akan merasa dirinya sirna dan berada dalam Haribaan-Nya, dalam lingkaran Kasih dan Sayang-Nya, terus menerus dalam Kehadiran-Nya (Hudurul Haq) dan bersama-Nya. Yang dimaksud dengan kebersamaan dengan-Nya, adalah Allah SWT akan senantiasa menjaga pendengaran, penglihatan dan seluruh tindak tanduknya. Disamping itu Allah SWT akan senantiasa mengabulkan doa dan permintaannya yang terkait dengan urusan dunia atau urusan akhirat. Bukanlah kebersamaan Allah berarti Dzat-Nya menyatu dengan dirinya. Karena kebesaran dan keagungan Dzat Allah mustahil untuk menyatu pada dzat makhluk yang sangat kecil dan hina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pangkat kewalian tercermin pada tingkatan pekerjaan muroqobah, maka muroqobah bukan pekerjaan biasa, melainkan sebuah anugerah dari Allah SWT. Seorang Syaikh menjadi pena Tuhan tatkala mengijazahkan pekerjaan ini, tak sedikitpun campur tangan darinya, terkecuali doa-doanya saja, yang membuat Allah meridhoi orang-orang yang dimaksud oleh syaikhnya. Sungguh sangat memprihatinkan, saat ini ada sebuah tarekat yang dengan mudah mengijazahkan muroqobah satu (1) hingga dua puluh (20) tingkatan, padahal tak satupun tingkatan muroqobah dapat dimasukinya dengan mudah dan dalam waktu yang singkat, melainkan harus dilakukan dengan riyadhah yang terus menerus dan dibawah pengawasan seorang mursyid, ini wajib hukumnya. Ijazah dzikir-dzikir dan muroqobah hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah khirkoh dalam tarekatnya, bilamana seorang syaikh memberikan izin kepada wakil talqin, hal ini berlaku selama syaikhnya masih hidup, dan jika syaikhnya telah wafat, maka haram hukumnya seorang wakil talqin mengijazahkan pekerjaan tarekat, hal ini berlaku diseluruh tarekat di dunia fana ini. Maka jika ada yang melanggar peraturan keras ini, pekerjaan tarekatnya tidak menghasilkan buah melainkan hanya menuai kelelahan phisik dan menghancurkan keimanan serta menutup pintu amal. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : 'Barang siapa mampu memasuki satu tingkatan muroqobah dengan benar dalam waktu enam bulan, maka ia termasuk manusia yang jenius.' Karena jelas, bahwa jumlah wali itu terbatas dan sangat sedikit serta tidak akan berubah jumlahnya dari saat penciptaan hingga akhir zaman nantinya, kecuali jika Allah berkehendak lain. Dan sangat nyata, bahwa kewalian itu niscaya bisa diperoleh dengan mempersiapkan hati (qolbu) yang bersih nan bercahaya dengan jalan melakukan dzikir-dzikir dan muroqobah. Sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah,ra., yang berkata: "Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, 'Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu tetap mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta pasti Aku beri, jika ia meminta perlindungan, niscaya Aku lindungi.'" Ciri-ciri waliyullah sebagaimana firman-Nya : ‘Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’ QS 010 : 62) dan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : 'Tanda-tanda kewalian melekat pada seseorang, ialah, manakala engkau melihatnya lantas Allah diingat. Dan bila engkau berdekat dengannya, maka seluruh beban yang membelenggu qolbu menjadi sirna.' Semoga Allah SWT mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita semua, Amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-207237802107211829?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/207237802107211829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/10/hati-qolbu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/207237802107211829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/207237802107211829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/10/hati-qolbu.html' title='HATI (QOLBU)'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-6667945887071694992</id><published>2009-10-26T17:43:00.000-07:00</published><updated>2009-10-27T16:58:37.106-07:00</updated><title type='text'>LAA ILAAHA ILLALLAAH</title><content type='html'>Bismillahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfiman : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;'Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, (QS 015 : 92)'&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak ayat Al Qur’an dan al Hadits yang mengutamakan orang-orang yang berdzikir, meskipun demikian sedikit sekali orang-orang yang mengerjakannya. Tidak mengherankan jika orang-orang yang berdzikir itu mendapatkan keistimewaan. Ini sebuah bukti bahwa sesuatu yang bersifat istimewa berjumlah sedikit walaupun mempunyai fadhilah yang banyak, seperti sebuah ayat didalam Al Qur’an yang menyatakan bahwa ‘Amat sedikitlah kamu bersyukur.’ (QS 007 : 10) walaupun balasan syukur ini adalah bertambah-tambah nikmat dari-Nya dan sebaliknya ancaman bagi orang-orang yang tidak bersyukur adalah azab. (QS 014 : 7). Demikian pula dikatakan bahwa orang-orang yang tidak berdzikir itu adalah golongan yang melampaui batas sebagaimana firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.’ (QS 018 : 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan mengaji dari Bogor ke Jakarta, Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) menyampaikan penjelasan berkenaan dengan ayat diatas, bahwasanya seseorang yang  mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah suatu kelak akan dimintai pertanggung jawaban, apakah ia telah mengucapkannya dengan tulus dan telah mengamalkan semua tuntutannya. Sebagaimana sabda Rasulullah,saw : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Kebaikan para pemilik Laa Ilaaha Illallaah senantiasa diterima, sementara kesalahan mereka selalu diampuni dan mereka senantiasa dihindarkan dari musibah berkat Laa Ilaaha Illallaah yang mereka ucapkan, selama mereka tidak berpaling kepada urusan dunia yang dapat mengurangi kesempurnaan agama mereka. Jika mereka berpaling, maka ucapan Laa Ilaaha Illallaah ditolak oleh para malaikat, yang kemudian berkata kepada mereka : ‘Kalian telah berdusta. Kalian bukan ahli Laa Ilaaha Illallaah, kalian mengucapkannya tanpa ketulusan dan tidak benar.’”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ketulusan berarti,  melindunginya dari perkara-perkara yang diharamkan, tidak rakus akan dunia, kikir dan menumpuk-numpuk harta, serta berucap dengan ucapan para ulama namun berbuat dengan perbuatan para pendosa. Murid-murid yang mendengar hanya terdiam, seakan-akan kehidupannya berhenti, karena tak satu pun yang mampu memelihara amanah kalimat laa ilaaha illallaah yang telah mereka ucap, semakin banyak dzikir yang dilakukan maka semakin besar pula kebohongan yang telah dibuatnya, bukankah ini sebuah tanda kemunafikan? Sedangkan disuatu kesempatan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa untuk mengikis kemunafikan adalah dengan banyak menyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah. Perjalanan menuju kepada-Nya mestilah didahului oleh sebuah hidayah, dan diperlukan seorang pemandu, karena perjalanannya sangat sulit, licin dan terjal serta banyak musuh menghadang. Manusia tidak ada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya, termasuk didalamnya ketaatan, riydadhah dan mujahadah.  Syaikhuna (semoga Allah merhamatinya) berkata : ‘Tidak ada satu pun jalan untuk menuju kepada-Nya, melainkan dengan menafikan atau meniadakan segala sesuatu ciptaan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Laa Ilaaha)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan mengisbatkan atau mengkukuhkan Allah saja &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Illallaah)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; didalam hati, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Laa Ilaaha Illallaah&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.’ Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, para murid wajib mendawamkan dzikir ini dengan sekuat tenaganya, setelah itu berjuang untuk memelihara ketulusannya dan berserah kepada-Nya. Terbunuh selagi dimedan juang adalah syuhada, dan sebaliknya berserah tapa didahului oleh upaya yang gigih adalah kebohongan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah satu-satunya kalimat yang menembus ciptaan-ciptaan dan sampai bersih kepada Sang Pencipta. Laa Ilaaha Illallaah, segala sesuatu selain Allah adalah realitas palsu, dari dahulu hingga kini dan akan tetap demikian adanya sampai kapanpun, bahkan sebelum waktu itu ada dan sampai dengan waktu itu tidak ada, yang ada hanya Dia. Laa Ilaaha Illallaah, segala sesuatu selain Allah adalah tabir-tabir, atau hijab-hijab. Laa Ilaaha Illallaah, segala sesuatu selain Allah adalah ciptaan (kosmos) dan kosmos meliputi langit dan bumi beserta isinya, baik yang terinderawi maupun yang tidak, baik berupa alam-alam ghaib, makhluk-makhluk ghaib ataupun alam nyata dan makhluk nyata, termasuk gerak gerik lahiriyah maupun batiniyah. Dzat yang mempunyai sifat Wujud, Qidam dan Baqa hanyalah Allah saja, selainnya hanyalah fenomena. Betapa kalimat thoyibah ini mempunyai makna yang sedemikian tinggi dan tuntutan yang sedemikian beratnya. Si pengucap harus bermujadah terus menerus sampai ajal menjemputnya, melawan dengan sungguh-sungguh tabiat alamiahnya, memberhangus nafs dan syahwatnya, agar fana darinya, agar merasa ‘tiada’, dan bersatu dengan-Nya laksana sungai yang bermuara kelautan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) nyaris tak sadarkan diri tatkala memberikan tauziah tentang tauhid, tiba-tiba beliau berhenti berkata-kata dan memekik Hu .. Hu … Hu… tubuhnya gemetar dan terlihat terhuyung-huyung, nyaris pingsan. Keadaan atau maqom kebersatuan ini sangat sulit dicapai, namun bukan hal yang mustahil, pintu untuk memasukinya sangat jelas namun sekilas, laksana kilat dimalam hari. Pintu satu-satunya untuk mencapai kedudukan ruhaniyah yang sedemikian tingginya itu, mewajibkan menyebut-nyebut kalimat Laa Ilaaha Illallaah dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya dan pada setiap kesempatan serta berperang melawan hawa nafsu sepanjang kehidupannya. Menyebutnya dimulai dengan lidah, lalu bersama-sama antara lidah dengan hati, lalu hati saja dan pada akhirnya seluruh unsur yang ada pada sosok manusia (kullu jasad), baik yang lahir maupun batin, semua menyebut kalimat terbaik dialam semesta ini, Laa Ilaaha Illallaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analoginya, seseorang yang tinggal disebuah desa selalu berkata dengan lantangnya bahwa, tidak ada seorang raja pun diatas dunia kecuali engkau. Mendengar dari menterinya bahwa ada seseorang yang selalu berkata seperti itu, sang raja ingin menguji kebenaran ucapannya, dengan memberikan hadiah berupa sebuah pedang, seekor kuda dan sebuah kitab yang berisi perintah dan larangan sebagai bekal untuk mencapai istana raja. Semakin sering orang itu menyebut-nyebutnya maka semakin tajam pedangnya dan semakin gagah kudanya. Meskipun sang raja mengetahui dengan pasti, apakah orang itu berdusta dengan banyak berbuat maksiat, apakah pedang dan kudanya itu digunakan untuk mengikuti hawa nafsunya, apakah pedangnya itu telah digunakan untuk merobek-robek kitab yang diterimanya dan kudanya digunakan untuk menginjak-injaknya, atau sebaliknya, yakni digunakan untuk menebas semua alang-alang, membunuh semua penghadang dijalannya guna mencapai istana raja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ikrar yang diucap dibutuhkan bukti-bukti, karena ikrar yang tidak diikuti oleh bukti tindakan yang mendukungnya adalah kepalsuan belaka, begitu pula ikrar Laa Ilaaha Illallaah. Bukti ikrar pada tingkat pemula adalah bahwa seluruh jawarihnya tidak digunakan untuk menentang perintah-Nya, lalu tidak melanggar semua yang dilarang-Nya. Sedangkan pada tahapan tertentu, bukti ikrarnya berupa ketenangan dalam menghadapi qadha dan qadar-Nya. Sehingga diharapkan kematiannya dalam keadaan tenang pula, demikian yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw.,: ‘Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dengan tulus ikhlas, niscaya ia masuk surga,’ dan ‘Barangsiapa diakhir perkataannya Laa Ilaaha Illallaah, maka ia masuk surga,’ dan ‘Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga.’  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penafiannya sempurna, maka siaplah hati untuk dipahat sedikit demi sedikit dengan ismudzat … Allah … Allah … Allah, sebagaimana firman-Nya : ‘Katakanlah, Allah saja, kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.’ (QS 006 : 91). Imam Sybli,ra., mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mengatakan Allah melainkan Allah sendiri. Dikarenakan setiap orang yang mengatakannya telah mengikuti ucapannya sesuai dengan tingkat intelektualitasnya sesuai dengan maqomnya, sedangkan esensinya jauh sekali dari yang dapat dicapai oleh pendapat pribadinya. Dzikir makhluk kepada-Nya tidak sebagaimana dzikir Allah kepada Dzat-Nya sendiri Yang Maha Suci. Imam Junaid,ra., pernah berkata kepada Imam Nuri,ra., : ‘Wahai Aba al-Husain, cobalah anda teliti apakah ucapanmu (Allah … Allah … Allah) itu dengan Allah ataukah dengan perkataanmu sendiri ? Jika dengan Allah berarti bukanlah anda yang mengatakan kepada-Nya, dan jika dengan perkataanmu, berarti untuk dirimu dan seharusnyalah anda bersama dirimu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian Syaikh abu Sa’id al-Kharaz,ra., berkata : ‘Diantara orang-orang yang berdzikir ada yang melampaui kadar dirinya hingga mencapai tingkat sirna diri (fana) dan lupa ingatan, menyatu kepada Allah Yang Maha Tinggi, lupa pada kebutuhan dirinya, karena berhadapan dengan Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan. Hingga seandainya tiap-tiap anggota tubuhnya dapat berkata-kata, tentu saja yang diucapkannya ialah Allah … Allah … Allah. Keadaan ini pernah menimpa seorang yang kejatuhan batu besar hingga kepalanya mengucurkan darah. Darah tersebut menggenang di tanah membentuk tulisan Allah.’ Disuatu kesempatan beliau bertanya kepada sebagian sufi : ‘Apakah kesudahan persoalan itu?’ dijawab : ‘Allah.’ Lalu apakah makna jawabanmu (Allah) itu ?’ mereka menerangkan : ‘Yaa Allah, bimbinglah aku kepada-Mu dan jadikanlah agar aku berada disisi-Mu, dan jangan Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang rela dengan sesuatu selain-Mu sebagai pengganti-Mu, dan tetapkanlah hatiku disisi pertemuan-Mu.’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-6667945887071694992?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/6667945887071694992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/10/laa-ilaaha-illallaah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/6667945887071694992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/6667945887071694992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/10/laa-ilaaha-illallaah.html' title='LAA ILAAHA ILLALLAAH'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-4187048509222576014</id><published>2009-10-07T21:49:00.001-07:00</published><updated>2009-10-16T17:10:47.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tafriqah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sabar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jam'/><title type='text'>SABAR</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman : &lt;br /&gt;‘&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,’ (QS 016 : 127)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sabar itu sebagian dari Iman.’&lt;/span&gt; Dan Ali bin Abi Thalib,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Hubungan antara sabar dan iman, laksana kepala dan badan, badan tidak ada artinya tanpa kepala.’&lt;/span&gt; Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;: ‘Sabar melekat pada setiap tahapan maqom ilmu kesufian.’&lt;/span&gt;Ujaran ini indah sekali, karena berkenaan dengan pokok-pokok tasawuf, makanya tak heran, bila pengajian tentang sabar selalu diulang-ulang dalam perspektif yang berbeda-beda dan dalam tahapan yang belainan pula. Sebagaimana makna daripada sabar itu sendiri, yakni &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘memenjarakan’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Jika yang dimaksud adalah memenjarakan nafsu dari segala syahwat, atau mengekang keinginan-keinginan diri (mujahadah), maka tepat sekali bilamana sabar melekat kepada seluruh tahapan maqom-maqom. Dan pada setiap perubahan peningkatan maqom, akan meningkat pula tingkat kesabaran dan tingkat keimanannya. Sehingga tampak bahwa kesabaran dan keimanan selalu berjalan beriringan, laksana kepala dan badan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) juga pernah berkata bahwa :&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘Tasawuf adalah peperangan melawan hawa nafsu sepanjang kehidupan.’&lt;/span&gt; Nah, bila seseorang memperoleh kemenangan didalam pertempuran melawan musuh besarnya, maka ia akan memenjarakan para tawanannya, agar tidak kembali menyerangnya, atau paling tidak, bila ia kembali berkhianat ia telah menguasai jurus-jurus untuk menundukkannya. Imam Qusyairi al-Naisaburi,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kesabaran yang diwajibkan kepada seorang hamba adalah kesabaran menerima perintah Allah SWT terhadap dirinya dengan penuh ketaatan, sabar atas apa yang dilarang dan diharamkan, dan bersikap tenang menerima qadha dan takdir-Nya.’&lt;/span&gt; Bukankah apa yang dikatakan oleh Imam yang mulia ini selaras dengan apa yang Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) katakan berkenaan dengan tasawufan rajulu? Yakni, yang pertama menjalankan seluruh perintah Allah SWT dengan keteguhan, yang kedua menarik garis yang tebal terhadap semua larangan-Nya dan yang ketiga ridha terhadap qadha dan qadar-Nya. Lalu yang kedua dijadikan nomor satu, karena banyak manusia yang mampu mengerjakan perintah-Nya, namun sedikit sekali yang meninggalkan larangan-larangan-Nya, atau dengan kata lain bahwa, manusia mampu sabar dalam ketaatan namun tidak mampu sabar dalam kemaksiatan. Dengan ketawadhuannya Syaikh Hasan al-Basri,ra., berkata kepada seorang Badui, bahwa :&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Kesabaranku tak lain kecuali hilangnya kekuatan.’&lt;/span&gt; Karena Rasulullah,saw., telah bersabda bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sabar yang sebenarnya itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.’&lt;/span&gt; Kesabarannya dalam menghadapi kemalangan dan kepasrahannya menyatakan rasa takutnya kepada api neraka bukan demi Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Ghazali,ra., pernah mengatakan bahwa Ash-Shabur (Yang Mahasabar) adalah satu sifat Allah SWT, adalah Dia yang tidak tergesa-gesa bertindak sebelum waktunya, namun memutuskan segala persoalan menurut rencana yang pasti, dan mewujudkannya dengan cara-cara yang terlukiskan, tidak menundanya seperti seorang pemalas yang selalu menunda-nunda pekerjaan, tetapi menempatkan setiap sesuatu pada waktu yang tepat, pada saat diperlukan dan sesuai dengan kebutuhannya. Dan semua itu tanpa adanya kuasa yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu hakikat kesabaran adalah tidak terbatas, karena Allah SWT tidak terbatas dan karena sifat-sifat-Nya bersatu dengan Dzat-Nya yang Qadim, tanpa pemisahan. Bagi manusia, kesabaran menjadi terbatas karena dzat dan sifat manusia terbatas, maka sabar bagi manusia adalah diperlukannya ketahanan terhadap dorongan yang menyebabkan tergesa-gesa dan bertindak gegabah, baik dalam mengerjakan perintah Allah SWT (ketaatan), menjauhi larangan-Nya (kemaksiatan) atau dalam menerima qadha dan qadar-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang memahami sabar adalah, menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diingini, ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Faktanya, tidaklah demikian, Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) begitu divonis oleh dokter bahwa, didalam darahnya terdapat virus hepatitis, malah bersuka cita, dan sebaliknya, tidak ada seorang murid pun, yang tidak berduka dan turut prihatin mendengar sang guru terjangkit penyakit yang pelan tapi mematikan itu. Para murid berlomba memberikan informasi dan mendatangkan dokter spesialis yang akhli dalam menangani penyakit ini. Sikap dan gerak hati seorang syaikh yang demikian itu terdengar absurb bagi orang awam, namun biasa bagi para sufi, sehingga sabarnya orang awam didalam menghadapi penderitaan, adalah syukurnya bagi para sufi. Dikarenakan, mereka mempunyai keyakinan bahwa, penderitaan adalah salah satu tindakan Tuhan guna menarik seseorang untuk berdekat kepada-Nya. Banyak murid yang tidak meyadari keadaan gurunya ini, bahkan ada yang mengajaknya berziarah ke Yerusalem dan Turki, meskipun syaikh dalam keadaan yang demikian itu dan harus menyuntikkan obat pada setiap seminggu sekali. Jadi, ini bukan tindakan menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya dari penglihatan orang lain, tetapi keadaan ruhaninya memang demikian adanya. Syaikh selalu mementingkan kepentingan murid-muridnya dan tidak berpikir untuk mementingkan kesenangan dirinya, dan ini bukan derajat sabar biasa, melainkan kesempurnaan penafian diri, sehingga bagi awam adalah rintihan, sedangkan baginya adalah pujian kepada Tuhan. Karena merintih bagi seorang syaikh adalah tabu, sebagaimana Nabiyullah Ayyub,as., pernah menerima wahyu dari Allah SWT : ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai Ayyub! Mengapa engkau mengadukan Daku?’&lt;/span&gt; Nabi Ayyub,as., bertanya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ilahi! Kepada siapa daku mengadukan perihal-Mu, sedangkan suara rintihanku tidak pernah terdengar oleh orang lain?’&lt;/span&gt; Allah SWT menjawab : ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Engkau mengadukan diri-Ku kepada musuhmu yang paling besar, yaitu dirimu sendiri.&lt;/span&gt;’ Setelah beberapa lama dalam perawatan dokter dan kemudian dinyatakan sehat, seorang salik memekik dan berkata kepada Syaikhuna : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sungguh tiada kegembiraan seperti yang kualami pada hari ini, bahwa syaikh telah sehat kembali.’&lt;/span&gt; Mendengar itu, Syaikhuna hanya terdiam, lalu setelah diucap yang ketiga kalinya oleh sang salik, beliau berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Apakah saya juga harus bergembira seperti engkau, padahal hatiku menangis karena kesempatan itu pergi.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah diatas dapat dipahami bahwa sabar itu bertingkat-tingkat dan dapat diupayakan. Menjadi luas maknanya dan tidak saja dikaitkan kepada hal-hal yang berkenaan dengan penderitaan, melainkan  keteguhannya didalam mengekang segala bentuk keinginan-keinginannya yang menggebu-gebu (syahwat). Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sungguh aku lebih khawatir jika kalian mendapatkan fitnah (ujian) yang menyenangkan dibanding ujian yang menyengsarakan.’&lt;/span&gt; Abdurrahman bin ‘Awf,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ketika kami mendapat ujian yang menyulitkan, kami dapat bersabar, tetapi ketika kami mendapat ujian yang menyenangkan, kami tidak kuasa bersabar.’&lt;/span&gt; Syaikh Abu Sulaiman,ra., berkata : ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Demi Allah, kita tidak dapat bersabar dengan apa yang kita sukai, jadi bagaimana pula halnya dengan apa yang tidak kita sukai.’ &lt;/span&gt;Orang yang keluar dari kesenangan dalam keadaan istiqomah dijalan yang benar, maka derajatnya lebih tinggi daripada orang yang keluar dari kesulitan dalam keadaan istiqomah. Karenanya para syaikh sufi mengelompokkan sabar kedalam kategori maqom, sesuatu yang para salik dapat teguh didalam kesabaran, dengan selalu memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditimbulkan dari maqom sabar ini, tanpa sekalipun menyia-nyiakannya. Didalam al-Qur’an banyak dijumpai perintah untuk bersabar, namun bila dicermati perintah sabar itu ditujukan bagi orang biasa dan orang khusus, jika dijumpai dalam firman-Nya perintah : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dan bersabarlah’&lt;/span&gt; maka ini ditujukan untuk semua orang yang beriman sebagai perintah untuk beribadat, dan bisa dikatakan sebagai ‘tafriqah’ atau ‘pemisahan’ karena melibatkan perbuatan-perbuatan manusia, sedangkan firman-Nya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,’ (QS 016 : 127)&lt;/span&gt; ini ditujukan kepada kelompok orang mukmim sebagai bukti ubudiyahnya dan dapat dikatakan sebagai ‘jam’ atau persatuan, yakni tanpa melibatkan perbuatan manusia melainkan karena karunia-karunia Ilahi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-4187048509222576014?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/4187048509222576014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/10/sabar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/4187048509222576014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/4187048509222576014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/10/sabar.html' title='SABAR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-3228132929890341118</id><published>2009-09-22T21:19:00.000-07:00</published><updated>2009-11-04T22:36:55.078-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sary as-Saqoti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ra.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fudhail bin Iyad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maqom'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasan al Basri'/><title type='text'>SEDIH</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Fudhail bin Iyad,ra., berkata  bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan yang panjang.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua manusia tentu pernah merasakan kesedihan, lalu dengan apa kualitas kesedihan itu bisa diukur? Pertanyaan ini terdengar absurb, namun seseorang bisa melihat apakah dalam kesedihannya ada ratapan kepada Tuhan atau terhadap dunia. Nah, bilamana ratapan kepada Tuhan mendominasi kesedihannya maka kualitasnya semakin baik, dan sebaliknya, semakin buruk bila ratapan tertuju kepada dunia. Oleh karenanya, tatkala Yusuf,as., dikabarkan wafat oleh saudara-saudaranya, orang tuanya, yakni Nabiyullah Yakub,as., meratap dengan kerasnya dan membuat matanya menjadi rabun, sebagaimana firman Allah SWT : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena Kesedihan dan Dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).’ (QS 012  : 84)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan, penyakit, kesedihan atau rasa sakit yang merisaukan adalah tentara-tentara Allah SWT guna mengampuni dosa-dosa manusia, anehnya, setiap manusia yang terjangkit salah satu darinya malah memohon kepada Allah untuk segera melenyapkannya. Seperti anak kecil yang menolak minum air susu ibundanya, padahal itu untuk kesehatannya, untuk pertumbuhannya dan untuk kekebalannya terhadap serangan penyakit. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Semakin engkau banyak melakukan dzikir-dzikir semakin sering engkau dihinggapi rasa sedih dan semakin banyak pula air mata bercucuran.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dan beliau berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Berdzikir Jahr-lah diwaktu Subuh sebanyak 2000X dan diwaktu Magrib sekurang-kurangnya 2000X, lalu rasakan perubahan didalam jiwamu.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sudah banyak murid yang melaksanakan perintah ini, dan benar! Jiwa ini mudah tersentuh dan mata ini mudah sekali meneteskan air mata, khususnya bila menyebut atau mendengar Ismudzat (Allah) atau berbagai nama lain yang indah dari Rasul Allah, serta nama para masyaikh terdahulu dan tentunya nama guru tercinta, Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya). Ini sebuah bukti bahwa, kesedihan bisa diusahakan, oleh karenanya para sufi mengelompokkannya kedalam sebuah 'maqom' bukan 'hal'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan adalah sifat para akhli penempuh jalan keruhanian, sedangkan kealpaan adalah sifat manusia awam pada umumnya. Dengan kesedihan, Allah SWT bermaksud menyelamatkan hati orang-orang mukmin dari lembah kealpaan. Sedangkan orang awam semakin jauh tersesat karena yang dicari adalah kesenangan. Kesedihan adalah kendaraan untuk menempuh perjalanan dalam waktu satu hari yang biasa ditempuh oleh orang awam dalam waktu satu tahun. Dalam Kitab Taurat disebutkan : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menempatkan sesuatu penyedih dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka ditempatkan-Nya sebuah seruling dalam hatinya (keinginan untuk bernyanyi).’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sedih bagaikan raja, bilamana ia menduduki tahta kerajaan hati, maka tidak ada lagi ruang yang tinggal bersamanya. Jika raja meninggalkan tahta, maka lambat laun kekuatan ruhaninya akan roboh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diperumpamakan bahwa ruh adalah makrokosmos dan badan ini adalah mikrokosmos, maka mendung adalah kesedihan, meskipun alam semesta tampak gelap dan berduka, namun air hujannya ditunggu bumi, guna menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghidupi semua makhluk. Begitu pula kesedihan, walaupun menyesakkan dada namun setiap airmata yang menetes Allah akan mengampuni setiap dosa-dosa yang dibuatnya. Imam Sary as-Saqoti,ra., berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Aku ingin seandainya, kesedihan seluruh manusia dimuka bumi ini ditimpakan kepadaku.’&lt;/span&gt; Dikatakan bahwa Rasulullah,saw., selalu berada dalam keadaan bersedih dan merenung sepanjang kehidupannya, sebagaimana firman Allah SWT : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.'(QS 009 : 128) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Begitu pula Syaikh Hasan al-Basri,ra., dan Syaikh Fudhail bin Iyad,ra., sehingga tatkala mereka wafat, sahabat-sahabatnya berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-3228132929890341118?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/3228132929890341118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/sedih-huzn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3228132929890341118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3228132929890341118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/sedih-huzn.html' title='SEDIH'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-5258489475096525242</id><published>2009-09-21T20:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T21:11:16.907-07:00</updated><title type='text'>TIDUR</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bulan Ramadhon berlalu, orang awam akan berusaha mengganti waktu tidur dan makannya yang berkurang selama satu bulan penuh, karena merasa berat badannya turun dan wajahnya agak memucat. Jarang sekali yang mempertahankan pekerjaan malamnya, yakni shalat dan tidur sedikit, lalu disiang harinya berpuasa. Meskipun Rasulullah,saw., mengingatkan agar tidak mengendur bermujahadah dibulan Syawal, dengan mengerjakan puasa sunat paling tidak enam hari lamanya, boleh dikerjakan berturut-turut sejak hari lebaran kedua, ataupun dihari lainnya. Rasulullah,saw., juga bersabda bahwa orang yang mengerjakan puasa sunat dibulan Syawal enam hari lamanya, nilainya sama dengan berpuasa selama satu tahun penuh. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Beberapa rukun kewalian tercermin pada pekerjaan dibulan Ramadhon, yakni terjaga dimalam hari, shalat malam, sedikit bicara, dzikir yang terus menerus dan berpuasa disiang hari.’ &lt;/span&gt;Maka orang-orang yang istiqomah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ini, tidak saja dibulan Ramadhon, tetapi juga dibulan-bulan lain, maka ia telah bersender kepada kewalian. Para syaikh, pemimpin tarekat sufi, biasa membimbing murid-muridnya untuk selalu tidak lengah dalam melakukan serangkaian tindak ibadah ini. Agar mereka merasakan kegaiban hatinya tatkala tersinari oleh cahaya kewalian, agar merasakan musyahadat, agar merasakan kehadiran Tuhan (hudurul Haq), agar merasakan selalu diawasi oleh Allah SWT, dan merasakan kebersamaan dengan-Nya. Tetapi awas! jangan pernah berburuk sangka, bahwa dengan memberitakan sebagian tentang rukun kewalian, ingin diakui bahwa ia yang memberitakannya adalah seorang wali Allah, seperti halnya hadits yang mengatakan bahwa mimpi yang benar adalah satu dari empat puluh enam tanda kenabian, dan bukan berarti orang yang telah mimpi kebenaran itu adalah seorang nabi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua sifat yang tidak ada pada Allah SWT namun dominan pada manusia adalah makan dan tidur, Allah tidak makan malah Dia yang memberi makan semua makhluk, dan juga Allah tidak tidur tapi Dia yang menidurkan semua makhluk. Semua syaikh sufi sepakah bahwa makan banyak adalah tindakan tidak terpuji, dan orang yang hanya berpikir tentang apa yang masuk kedalam perutnya, hanya seharga dengan apa yang keluar darinya (kotoran). Maka makan berlebihan adalah tindakan paling berbahaya bagi penempuh jalan tasawuf, khususnya bagi pemula, karena bila perutnya penuh ia menginginkan kebodohan dan nafsunya bertambah besar, serta jiwa rendahnya bangkit mencari kesenangan-kesenangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seseorang mestilah melihat kedalam diri, apakah ia pernah berperang kepada musuh yang paling nyata baginya, yakni syaithon, apakah ia pernah membuat syaithon bersedih karena tindakannya? Tanpa disadari, ketika ia ‘tidur’, syaithon jengkel dan geram kepadanya, oleh sebab itu, ia mengganggu orang awam dalam tidurnya dengan mimpi-mimpi yang buruk, agar segera bangun dan berbuat kejahatan. Karena bila orang awam tidur, orang-orang akan terhindar dari tingkah laku kejahatannya, yang berarti ia berhenti mendurhakai Tuhannya. Jadi jelas sekali bahwa bagi orang awam, tidur lebih baik dari terjaganya, karena ada hadist yang meriwayatkan bahwa pena tidak mencatat (kelakuan-kelakuan buruk) orang yang tidur hingga ia bangun. Sedangkan tidurnya orang arif adalah suatu tindak ibadah, karena hati orang arif terkendalikan oleh Tuhan baik ketika dia tidur atau bangun, dan bilamana hati terkendalikan, badan pun terkendalikan juga. Karena itu, kalbu yang dikendalikan oleh kuasa Tuhan lebih baik daripada hawa nafsu manusia yang mengendalikan gerakan-gerakan lahiriyahnya dan tindak-tindak peniadaan nafsu diri. Bukankah saat Nabiyullah Adam,as., tertidur tiba-tiba Hawa sudah ada disamping kirinya, dan hawa adalah sumber semua penderitaannya.  Secara simbolik kisah ini dikaitkan dengan terciptanya ‘jiwa (nafs)’ mewakili Hawa manakala ‘Ruh’ mewakili Adam,as., tertidur. Dan ‘jiwa (nafs)’ ini dipercaya sebagai tempat berkumpulnya semua keinginan-keinginan manusia yang selanjutnya oleh masyarakat Islam identik dengan sebutan ‘hawa nafsu’ atau keinginan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat mujahadah bagi pemula, tidur dibolehkan tatkala rasa kantuk yang berat mengusiknya, atau paling tidak ia sudah beberapa kali tertidur disaat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tarekatnya, meskipun para syaikh menyebutnya sebagai mujahadahnya anak kecil. Tetapi lebih baik tertidur dalam keadaan berperang daripada tidur tanpa berperang. Dikatakan bahwa tidur adalah saudara kematian, dan Allah SWT menggenggam ruh orang yang tidur. Maka orang yang mengharapkan musyahadat merasa malu jika tidur tanpa didahului oleh tindak mujahadah. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata : ‘Pada awalnya, penjelajahan kedalam 18.000 alam ghaib terjadi disaat antara tertidur dan terjaga.’ Tertidur dalam peperangan adalah keberserahan diri kepada Tuhan, karena keinginannya adalah tetap dalam keadaan terjaga, namun kehendak Tuhan menggantikan kehendaknya, sedangkan tidur sebelum perang adalah menuruti hawa nafsunya, karena keinginannya adalah tidur. Oleh sebab itu, meskipun dalam keadaan mengantuk, para pejalan tetap mengambil air wudlu lalu shalat malam dan mengerjakan dzikir-dzikirnya khususnya dzikir yang tidak berbunyi dengan menyebut ismudzat Allah ... Allah .... sampai ia tertidur dalam keadaan duduk bersila. Dalam hal ini Rasulullah,saw., pernah bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Barang siapa tidur dalam keadaan bersuci (berwudhlu), ruhnya diperkenankan mengelilingi singasana (Arasy) dan bersujud dihadapan Tuhan.’&lt;/span&gt; Dan  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya Allah bangga dengan hamba-Nya yang tidur selagi ia bersujud dalam shalat. Dan Dia mengatakan kepada para malaikat-Nya, ‘Lihatlah hamba-Ku, yang ruhnya ada ditempat keramah tamahan rahasia (najwa) sementara badannya ada di atas sajadah.’”&lt;/span&gt; Seseorang bisa bercermin dari keterangan diatas, apakah ia termasuk orang yang tidurnya lebih baik dari terjaganya, atau sebaliknya terjaganya lebih baik dari tidurnya, yakni tidurnya akan menganiaya agama dan terjaganya akan menyingkirkan kezaliman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah, seorang syaikh selalu dalam keadaan terjaga diamalam hari selama empat puluh tahun, namun ia belum juga ‘bertemu’ dengan Tuhannya. Lalu Syaikh Dzun Nun al-Mishri,qs., memerintahkan ia untuk tidur dimalam hari, perintah ini dikerjakannya, dan pada saat ia tertidur, ia bermimpi ‘bertemu’ dengan Tuhan dan ia bertanya kepada Tuhan : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Yaa Tuhan mengapa selama empat puluh tahun aku bermujahadah dengan terjaga dimalam hari untuk bertemu dengan-Mu namun tak kunjung tiba, tetapi begitu aku tertidur dimalam hari ini saja justru engkau berkenan menemuiku? &lt;/span&gt;Tuhan menjawab :&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘Engkau tidak akan menemui-Ku disini jika tidak mencari-Ku disana.’&lt;/span&gt; Ini sebuah bukti bahwa keberserahan kepada Tuhan mestilah diawali dengan tindak mujahadah yang sungguh-sungguh, dan jika seseorang berserah kepada Tuhan tanpa tindak mujahadah adalah sia-sia. Nah, bila seseorang menyadari bahwa ia adalah pemula dijalan tasawuf, maka ia wajib bermujahadah terlebih dahulu sebelum tidur, paling tidak ia dalam keadaan berwudlu dan telah menyelesaikan pekerjaan yang fardhu dan dzikir jaharnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-5258489475096525242?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/5258489475096525242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/tidur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5258489475096525242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5258489475096525242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/tidur.html' title='TIDUR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-8307519555970220953</id><published>2009-09-18T08:33:00.000-07:00</published><updated>2009-09-20T18:58:24.946-07:00</updated><title type='text'>IDUL FITRI</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua orang merasa gembira tatkala shalat hampir selesai, tatkala waktu berbuka puasa tiba, tatkala menjelang hari Raya Idul Fitri, berarti manusia senang berpisah dari Allah SWT, karena kembali kepada tabiat asalnya bukan kembali kepada fitrah manusia yang suci itu, yakni enggan melakukan mujahadah, malas memenuhi hak-hak Allah. Padahal shalat dan puasa adalah perisai yang kokoh guna menghadang pasukan yang bengis dari nafs dan syaithon, dan keberpalingan dari dunia. Orang yang berpaling dari dunia ini akan berpaling kepada Allah SWT. Ironisnya begitu bulan Ramadhon berakhir mereka malah bersuka cita, dan mengatakan sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘hari kemenangan’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, kemenangan dari apa? Tak satu hari pun manusia awam mampu menaklukkan nafsnya, ia tak peduli dengan sifat hakiki jiwa rendahnya, malah bersahabat dengannya, lalu bagaimana ia dapat melakukan shalat dan puasa yang benar? Syaithon saja mengganggu manusia dengan sembunyi-sembunyi, sedangkan manusia malah mengganggu manusia yang lain dengan terang-terangan, dibulan Ramadhon yang suci itu, mereka bersenang-senang, bernyanyi, berjingkrak-jingkrak, tanda mengikuti jiwa rendahnya yang seharusnya ia perangi. Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Dirikanlah shalat untuk berdzikir kepada-Ku,’&lt;/span&gt;  dan didalam hadits qudsi Rasulullah,saw., bersabda bahwa Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Puasa adalah untuk-Ku.’&lt;/span&gt; Shalat manusia awam pastilah mengingat dunia bukan mengingat Allah SWT, dan puasanya untuk dirinya bukan untuk Allah SWT, jadi sangatlah jauh dari kesempurnaan. Semua sahabat Rasulullah,saw., meneteskan air mata dan merasa bersedih berpisah dengan bulan yang penuh berkah ini. Karena mereka harus berpisah dari kesempatan emas (golden opportunity) untuk pencapaian pensucian diri, meskipun dengan ibadah yang sedikit dan kualitas yang jauh dari kesempurnaan, Allah SWT akan melipat gandakan amal-amalnya, mempercepat pendakian untuk berdekat kepada-Nya. waktu yang demikian berharganya itu berlalu, mereka merasa bagai kehilangan pedang dan kuda saat berperang. Para pejalan sejati akan merasakan hal sama tatkala berpisah dengan bulan Ramadhon, tak kuasa mendekapnya, menjadikan apa-apa yang dilihat, didengarnya menjadi air mata kesedihan. Mereka berdoa : 'Yaa Allah berikan aku umur untuk dapat memasuki semerbak harumnya bulan Ramadhon tahun depan, terimalah puasaku, sucikan dan ampunilah dosa-dosaku.' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan diatas membuktikan bahwa semua manusia terhalangi (terhijab) dari kebenaran ruhani, kecuali para Aulia Allah dan  sahabat-sahabat-Nya yang terpilih. Ada dua macam hijab pada diri manusia, yang pertama adalah sebagai ‘penutup’ yang tidak mungkin bisa dicampakkan, karena sudah menyatu dengan dzatnya, sehingga dalam pandangannya kebenaran dan kepalsuan sama saja baginya. Sebagaimana firman Allah SWT : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS 083 : 14).’&lt;/span&gt; Kemudian Allah SWT menjelaskan makna hal ini :&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sesungguhnya orang-orang yang ingkar itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.' (QS 002 : 6)&lt;/span&gt; Kemudian Dia menerangkan sebabnya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang Amat berat. (QS 002 : 7) &lt;/span&gt;Pendeknya, tidak mungkin membuat cermin dari besi, meskipun digosok ribuan kali dan oleh ribuan orang. Sedangkan yang kedua, adalah hijab sebagai ‘pengabur’ yang segera bisa dicampakkan. Ia terhalang dari kebenaran oleh sifat-sifatnya bukan karena dzatnya, sehingga tabiat dan hatinya terus mencari kebenaran dan menjauhkan diri dari kepalsuan. Karena perubahan sifat adalah mungkin sedangkan perubahan dzat adalah tidak mungkin. Sebagaimana cermin yang berkarat bisa menjadi bening dengan digosok terus menerus. Imam Junayd,ra., berkata bahwa : ‘Hijab penutup termasuk kelompok yang tetap, sedangkan hijab pengabur termasuk yang bisa berubah.’ Sebagaimana watak besi adalah kegelapan dan watak cermin adalah kecermelangan, karena dzat itu langgeng dan sifat itu sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, menggosok atau penghapusan (mahw) karat pada cermin hati merupakan kewajiban manusia agar kembali kepada fitrahnya, yakni tempat bersemayamnya Tuhan penguasa semesta alam. Sehingga terasakan hakikat Idul Fitri, dan tidak hanya dibicarakan saja. Karena bicara itu penuh kepalsuan, sedangkan merasakan hakikat itu sebuah kebenaran, dan orang-orang yang masuk kedalam hakikat akan 'diam'. Penghapusan atau peniadaan atau pe-nafy-an terhadap sifat-sifat yang tercela (hijab pengabur), dan pengkukuhan (itsbat) terhadap kualitas-kualitas terpuji, atau peniadaan pilihan sendiri dan pengkukuhan pilihan Tuhan, atau peniadaan yang lain dan pengkukuhan hanya Allah saja, merupakan pekerjaan wajib bagi para pejalan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laa Ilaaha&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah pe-nafy-an sedangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Illallaah&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah peng-itsbat-an. Mereka meyakini bahwa berdzikir dengan menyebut kalimat thoyibah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Laa Ilaaha Illallaah’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dengan cara-cara tertentu dan jumlah tertentu pula merupakan cara yang jitu dan tercepat guna menghancurkan hijab pengabur. Kaifiat dzikir yang shahih itu, hanya bisa diperoleh dari seorang Mursyid, seorang guru tarekat, seorang syaikh dengan cara bai'at yang hukumnya sunat nabawiyah. Maka bila dikerjakan secara sungguh-sungguh, kepalsuan akan lenyap dan terjelaskan kebenaran-kebenaran. Ia akan merasa sedih tatkala berpisah dengan bulan Ramadhon, dan merasa gembira tatkala memasukinya. Sehingga kemenangannya bukan di dunia fana ini, karena dunia ini adalah tempat medan juang mujahadahnya, tempat menginjak-nginjak hawfa nafsu, melainkan kemenangan di akhirat nantinya, insya Allah. Jadi dihari Idul Fitri ini yang ingin bergembira ya bergembiralah sebagai syiar agama bukan sebagai kemenangan. Karena manusia tetap harus melakukan peperangan melawan nafs-nya sampai ajal menjemputnya, agar ia dikelompokkan kedalam orang-orang yang melakukan jihad akbar, dan bila ia gugur didalam peperangannya, Allah SWT berkenan memasukkannya kedalam kelompok syuhada. Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H, mohon maaf lahir dan bathin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-8307519555970220953?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/8307519555970220953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/idul-fitri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8307519555970220953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8307519555970220953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/idul-fitri.html' title='IDUL FITRI'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-3775249883918048451</id><published>2009-09-16T16:32:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T19:08:16.658-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musyahadat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mimpi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lailatul qadar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='al uns'/><title type='text'>27 RAMADHON - AL UNS</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Para sufi sepakat, bahwa malam Laitul Qadar itu jatuh pada malam 27 Ramadhon.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam 27 Ramadhon adalah malam teristimewa bagi para penempuh jalan keruhanian, karena dimalam itu dipercaya sebagai sebaik-baik hari diantara hari yang baik, nilainya lebih baik dari seribu bulan. Seorang salik menuturkan mimpinya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“‘Aku berada di atas bukit yang tinggi, menikmati indahnya kedekatan dengan sang guru, semua yang terlihat hanyalah keindahannya saja, tiba-tiba aku merasakan ada cahaya kuning dan putih masuk kedalam hatiku, lalu aku terkuasai oleh rasa suka cita yang demikian hebatnya, aku tak mau berpaling dari keadaan ini, akan tetapi ada bisikan yang memalingkan pandanganku ketaman-taman hijau yang penuh dengan pepohonan, terlihat ada makhluk hitam sembunyi disebuah pohon yang besar, makhluk itu sangat mengganggu pikiranku. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengetahui apa yang sedang aku pikirkan, lalu beliau berkata kepadaku : ‘Engkau harus mengusirnya dengan sekuat tenagamu, bila tidak, makhluk itu akan merusak seluruh tanaman yang ada ditamanmu ini.’”&lt;/span&gt;  Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering menyampaikan lambang dan makna mimpi-mimpi kepada murid-muridnya. Demikian pula tentang mimpi sang salik itu, bukit melambangkan kewalian, karena kebaikan sang guru dan memang sang salik cukup kukuh dijalan ini, ia merasakan bias kewalian gurunya, yang pertama-tama dilihat adalah keindahan keadaan spiritual sang guru yang sedang terbakar oleh keagungan-Nya dalam api cinta, lalu menaik kepada keindahan yang mulia Rasulullah,saw., dan pada akhirnya hatinya terkuasai oleh sinar keindahan Tuhan (Jamal) dalam cahaya musyahadat. Hal ini biasa terjadi di jalan tasawuf, seolah-olah sang salik diperkenankan memakai jubah bertambal gurunya. Taman-taman hijau yang dipenuhi oleh pepohonan melambangkan amal-amalnya, khususnya dzikir-dzikirnya, sedangkan makhluk hitam adalah sifat buruk yang masih tersisa, yang mempunyai potensi untuk memberhangus seluruh amal-amalnya tanpa tersisa. Oleh karenanya, guru memerintahkan untuk segera memeranginya. Sang salik tidak akan pernah berhasil mengusir makhluk itu tanpa pedang kasih sayang gurunya, tanpa memetik barokah-barokahnya. Karena setinggi-tinggi derajat pemula dijalan tasawuf adalah serendah-redah derajat gurunya. Maka al-uns yang bermakna kedekatan, lalu karena dekat ia memandang keindahan Tuhan (Jamal), tentunya melalui perantara sang guru dan yang mulia Rasulullah,saw., lalu ia merasakan suka cita yang hebat, seperti yang dirasakan oleh sang salik dalam mimpi itu, adalah derajat pemula, sehingga sang salik tidak boleh cepat merasa puas diri. Ia harus tetap istiqomah mengamalkan pekerjaan tarekatnya. Seorang salik tidak akan pernah mengerti apa yang sedang dirasakan oleh gurunya, kecuali bila sang guru menceritakan keadaannya, agar dikemudian hari bila sang salik mengalami pengalaman ruhani yang demikian itu, tidak lagi terkesima karenanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejelasan-kejelasan keadaan ruhani atau isyarat-isyarat keruhanian terkadang muncul dengat sangat jelas seperti terbitnya matahari, dan terkadang agak samar sebagaimana terbitnya bulan, hal ini silih berganti mencahayai hati ini, kecuali bila terhalang awan gelap oleh prasangka-prasangka buruk. Isyarat ini merupakan keniscayaan bagi para salik yang teguh berpegang kepada tali agama, kukuh menjalankan semua amalan yang diperintahkan oleh gurunya. Karena tidak ada sebuah maqom pun yang tidak mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus selalu dipenuhi oleh sang salik. Dan jelas, salik tidak boleh sekalipun menyia-yiakan kewajiban ini, guna melestarikan maqomnya, guna mempersiapkan datangnya sebuah ‘hal’ seperti ‘al uns’ tadi . Dan isyarat ini bukan untuk salik yang bermalas-malasan, yang mengharapkan datangnya Laitul Qadar hanya dengan melakukan wiridan pada malam-malam ganjil saja, sedangkan dihari yang lain ia malas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-3775249883918048451?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/3775249883918048451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/al-uns.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3775249883918048451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3775249883918048451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/al-uns.html' title='27 RAMADHON - AL UNS'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-7798489043833193797</id><published>2009-09-14T23:37:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T17:09:15.465-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fir&apos;aun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uns'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mursyid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qorun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='amartya sen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='basth'/><title type='text'>ADIL - ADL</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun terdengar absurb, memberikan analog adil sebagai jalan tol memang kurang tepat, namun tidaklah mengapa, guna memudahkan pembahasan lebih lanjut. Jika adil diibaratkan jalan tol, maka tidak ada bedanya seseorang yang baru mengambil karcis tol dengan orang yang berada diujung jalan tol. Keduanya berada dijalur adil, walaupun tingkatannya berbeda-beda. Yang satu baru melangkah sudah mengaku adil, sedangkan yang lainnya, harus melakukan keber-upaya-an yang sungguh-sungguh terlebih dahulu. Demikian sifat manusia, apa yang ia telah lakukan diangggapnya telah berlaku adil. Bagi manusia, adil menjadi sangat relative, bisa jadi yang satu menganggap adil, sedangkan yang yang lain menolak. Oleh karenanya sulit bagi seorang pemimpin untuk berlaku adil, padahal adil adalah syarat utamanya. Seorang salik menuturkan bahwa sudah banyak buku ditulis oleh profesor tentang keadilan, namun yang satu dengan yang lain tampak berbantahan. Seorang keturunan dari India, Amartya Sen, mendapatkan hadiah nobel lantaran memberikan gambaran tentang teori keadilan. Pada awalnya keadilan itu dinilai sebagai keadilan mendapatkan peluang (equal opportunity), kenyataannya peluang yang sama bermuara pada penghasilan yang berbeda, karena kemampuan manusia berbeda-beda. Lalu muncul teori keadilan pendapatan (equal income), kenyataannya pendapatan yang sama berujung pada kekayaan yang tidak sama, karena kebutuhan manusia berbeda-beda. Lalu muncul teori keadilan kekayaan (equal wealthiness), kenyataannya kekayaan yang sama berujung pada kebahagiaan yang tidak sama, karena materi ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Teori tahapan keadilan bagi kaum intelektualitas ini bagus, walaupun pada akhirnya berujung pada kesalahan yang mendasar, yakni, 'kebahagiaan' sebagai ujung keadilan, sedangkan dalam ilmu kesufian 'kebahagiaan' atau 'suka cita' atau 'uns' dalam istilah tasawufnya, merupakan awal perjalanan, karena merupakan sebuah rasa yang masih bisa berubah-rubah dan belum menetap (tamkin). Uns (suka cita) kedudukannya diatas basth (kelapangan), dan basth diatas raja (harap). Teori 'kebahagiaan' sebagai akibat dari materi, ini mustahil, karena materi justru mendatangkan kesulitan, ketamakan dan kesombongan serta menjauhkannya dari Tuhan. Orang yang jauh dari Tuhan mustahil ada setitik kebahagiaan pada dirinya. Didalam al Qur'an ada beberapa kisah yang menuturkan bahwa orang-orang yang kaya itu menjadi sesat, yakni qorun dan fir'aun, sedangkan orang yang kaya namun shaleh hanyalah seorang nabi, yakni Nabiyullah Sulaiman,as. Seseorang bisa mengambil pelajaran disini, betapa kekayaan itu menjerat jiwa untuk berbuat sewenang-wenang, kecuali bagi orang yang ruh, jiwa, hati dan badannya dicipta dari lempung kenabian. Orang yang fakir, selamanya akan membutuhkan Tuhan, sedangkan orang yang banyak materi keduniawian, meskipun ia  setiap saat berpikir membagikan hartanya kepada kaum miskin, menjadikan jauh dari tuhannya, karena ia sibuk dengan makhluk dan rencana-rencananya, keduanya merupakan dzikir dunia bukan dzikrullah, dan merupakan hijab-hijab sejati. Karena yang pertama sibuk dengan selainnya sedangkan yang kedua  sibuk dengan Tuhannya. Para syaikh sufi sepakat, justru jalan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati adalah berpaling dari 'kekayaan materi'. Karena orang yang bergantung kepada Tuhannya, tidak mungkin bergantung kepada selainnya. Sedangkan kekayaan adalah kendali syaithon yang utama selain wanita, guna menjerumuskan manusia kejurang kedzaliman yang paling dalam. Khususnya materi yang membuat orang bergantung kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adil adalah salah satu asma-Nya, sifat daripada Dzat-Nya, artinya Dia yang adil, dan Dialah yang  selalu bentindak adil. Dan karena Allah itu Qadim, maka Dia tidak terbatas, karena Dia tidak terbatas maka demikian pula sifat-sifat-Nya. Nah, karena adil tidak terbatas, maka tak satupun manusia dapat berlaku adil, sebab manusia dicipta terbatas, sehingga keadilannya pun terbatas, sesuai dengan sifat dzatnya. Semakin besar pengakuan terhadap keadilannya atas apa yang telah ia lakukan, maka semakin besar pula kebohongannya, semakin besar egonya dan semakin jauh ia dari Tuhannya. Oleh karenanya, bila engkau sebagai seorang pemimpin ditanya, sudah adilkah engkau? Maka sebaiknya diam, Bila dijawab 'ya' engkau telah berbohong, dan jika dijawab 'tidak' engkau seorang pemimpin dan syarat untuk menjadi pemimpin adalah 'adil'.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sufi mengatakan bahwa adil itu meletakkan setiap sesuatu pada tempatnya, dan yang mempunyai kemampuan melakukan ini hanyalah Allah saja. Sebagai contoh Allah telah menciptakan alam semesta sedemikian luasnya dan mengaturnya dengan sempurna, bumi ditempatkan yang paling bawah, diatasnya ada air, diatas air ada udara dan langit diatas udara. Dan jika salah satu susunannya terbalik, maka tatanannya tidak dapat dipertahankan. Lalu kita lihat pada diri manusia, ada tulang, daging dan kulit. Dia menciptakan tulang sebagai penopang, daging sebagai pembukusnya untuk melindungi tulang dan kulit yang membukus daging. Jika tatanan ini dibalik, maka susunannya tidak dapat dipertahankan. Demikian pula penempatan jawarih pada diri manusia, yakni, mata, hidung, telinga, mulut, tangan dan kaki. Dengan menempatkan anggota tubuh dengan tepat, maka Dia itu adil. Pendeknya tidak ada yang diciptakan kecuali ditempat yang memang dimaksudkan untuk apa yang diciptakan itu. Tidak bisa dibayangkan bila, hidung ditempatkan didahi dan mulut dibelakang kepala, maka kecacatannya itu akan mengurangi kemanfaatanya. Maka segala sesuatu ciptaan-Nya tidak ada yang tidak seimbang, oleh sebab itu ada kelompok yang menggambarkan keadilan itu dengan lambang timbangan, mungkin ini yang mereka maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah keadilan itu harus memberikan manfaat kepada pihak lain? Jawabnya tidak! Karena bila buku-buku diberikan kepada tentara atau senjata kepada para ulama, maka ia telah meletakkan segala sesuatunya bukan pada tempatnya, dan ini bukanlah keadilan melainkan kedzaliman. Sebaliknya, bisa jadi memberikan kemudaratan merupakan keadilan, seperti memberi hukuman mati kepada penjahat, atau memotong salah satu anggota tubuh mereka atau dengan mencambuk mereka. Karena ia telah menempatkan mereka pada tempatnya yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat tertinggi keadilan bagi manusia, bila susunan yang halus (lathif) pada diri manusia sudah berada ditempat sebagaimana ia harus berada, yakni, jiwa (nafs) dibawah bimbingan akal (aql), sehingga syahwatnya (tabiat) tidak lagi beringas dan tidak ditaati lagi oleh jiwanya (nafsnya), serta ruhnya tidak kuatir lagi akan pemberontakan oleh jiwanya (nafsnya), sehingga pada akhirnya iderawi manusia bergerak sesuai dengan ketentuan hukum agama. Susunan yang demikian bisa diupayakan, dengan melakukan dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah secara berkesinambungan dan wajib hukumnya dibawah bimbingan seorang mursyid. Seseorang yang  tenggelam didalam dzikir-dzikirnya ia akan menyerap sifat-sifat Tuhan, sifat-sifat manusia menjadi sirna dan tergantikan dengan sifat-sifat-Nya. Nah, bila sudah demikian, adil berada di genggamannya. Seseorang yang mempunyai kedudukan yang demikian sudah tidak mau lagi menjadi pemimpin bangsa, kecuali bagi dirinya dan murid-muridnya saja. Karena baginya, kegembiraannya terletak pada memimpin manusia berdekat kepada pencipta-Nya. Jadi untuk para pemimpin bangsa ini bila ingin berlaku adil, seringlah mengunjungi para guru mursyid, datangi mereka dan pasanglah rasa takzim. Jangan banyak bicara dihadapannya dan jangan pernah mengundang untuk datang ke istana negara, karena, kalau ia benar-benar sorang mursyid pastilah ditolaknya, tetapi datanglah ke rubatnya yang sederhana itu, karena rumah Tuhan yang hakiki berada disana, bersama-sama dengan para guru mursyid. Dan keadilan ada pada khazanah hatinya, datang .. datanglah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-7798489043833193797?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/7798489043833193797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/adil-adl.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7798489043833193797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/7798489043833193797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/adil-adl.html' title='ADIL - ADL'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-8409770003768905211</id><published>2009-09-12T15:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T06:27:23.256-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bicara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umar bin Khatab'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diam'/><title type='text'>TARI TOPENG</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Ia yang diam selamat.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Cirebon, Indonesia, adalah tempat asal tari topeng, penarinya seorang wanita. Tarian ini sudah ada sejak masa Sunan Gunung Jati,ra., salah satu wali songo yang masyhur itu, yang merebut Banten dan jakarta dari tangan penjajah. Beliau membiarkannya, karena pada tarian itu penuh dengan makna ajaran tasawuf. Keunikannya terletak pada, sang penari yang memakai beberapa topeng sekaligus, baik yang menutupi wajahnya atau dibelakang kepalanya, begitu satu dibuka masih menempel topeng yang lain. Persis seperti sifat-sifat manusia pada umumnya. Wanita mewakili nafs pada diri manusia, sedangkan topeng demi topeng adalah tingkah laku dan ucapan-ucapan yang penuh dengan kepalsuan. Sesungguhnya tingkah laku dan pembicaraan itu penuh dengan topeng pretensi, dan dimana kenyataan-kenyataan terkukuhkan, topeng pretensi sia-sia. Menjadi pretensi karena setiap tingkah laku dan pembicaraan mengandung harapan-harapan akan diakui oleh lawan bicaranya, bahwa ia adalah orang yang baik, manusia yang tinggi ilmunya, atau seseorang yang dekat dengan Tuhannya, dan tujuan akhirnya adalah berharap memperoleh hal-hal yang bersifat keduniawian. Baik secara terang-terangan atau secara isyarat-isyarat, ada yang secara sadar dan ada yang tidak menyadarinya, sebagaimana tarian topeng itu yang penuh dengan lenggak-lenggok memamerkan kebolehannya untuk memikat mangsanya. Bagi yang belum sadar, ia akan terus dimanapun dan dengan siapapun berhadapan, selalu memakai topeng kepura-puraan, sedangkan yang sudah sadar, ia mencoba mengatasinya dengan berbagai cara, agar topeng kediriannya dilepaskan dan tampil sebagaimana adanya. Tidak saja orang awam yang memakai topeng-topeng ini, namun juga dipakai oleh orang-orang yang menekuni bidang keagamaan. Padahal, menolak berbicara, bukan berarti ia tidak paham tentangnya, dan bukan pula mengurangi esensi kedudukannya. Tetapi, seseorang tidak pernah dimaafkan hanya karena pernyataan (pretensi) yang tidak mengandung kenyataan, yang menjadi prinsip orang munafik. Pernyataan tanpa kenyataan adalah kemunafikan dan kenyataan tanpa pernyataan adalah kejujuran. Rasulullah,saw., bersabda : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Yang terburuk yang kutakuti menimpa umatku adalah lidah.' &lt;/span&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahamatinya) pernah berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Berbicara itu bagai minum khamar, sulit untuk menghentikan berbicara saat didepan umat, layaknya orang yang mabuk.'&lt;/span&gt; Ujaran ini bagus sekali, berbicara itu memabukkan pikiran, dan orang-orang yang mulai merasakannya, tidak bisa meninggalkannya, karena jiwa tersenangkan, seperti sebuah tarian topeng dihadapan orang banyak. Oleh sebab itu, para syaikh sufi, yang mengetahui bahwa berbicara itu berbahaya, tidak pernah berbicara kecuali bilamana diperlukan, yakni mereka mempertimbangkan awal dan akhir dari pembicaraan itu. Jika seluruhnya demi keridhaan-Nya, mereka berbicara, jika tidak, mereka diam saja, karena mereka selalu dalam keadaan muroqobah, dan diliput rasa  bahwa Tuhan mengetahui pikiran-pikiran rahasia manusia. Dalam berbicara banyak terdapat keburukan-keburukan, sedangkan dalam diam terdapat banyak manfaat dan nikmat-nikmat ruhani. Orang yang diamnya kepada Tuhan adalah emas, dan bicaranya kepada selain Tuhan adalah sepuhan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi di pinggiran kota Bagdad, selagi Imam Sibly,qs., berjalan, seseorang berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Diam lebih baik daripada berbicara.'&lt;/span&gt; beliau menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Diammu lebih baik daripada bicaramu, tetapi bicaraku lebih baik daripada diamku, karena bicaramu sia-sia dan diammu adalah lelucon, sementara diamku adalah kesopanan dan bicaraku adalah pengetahuan.' &lt;/span&gt; Pendeknya, jika orang berbicara benar, bicaranya lebih baik daripada diamnya, tapi jika orang bicara palsu, diamnya lebih baik daripada bicaranya. Ia yang berbicara bisa mencapai tujuan dan bisa jadi tidak mencapainya, tetapi ia yang dipaksa bicara, terpelihara dari kefasikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, tujuan berbicara haruslah sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan ruhani, jika tujuannya hanya untuk keduniawian, meskipun bicaranya tentang agama, maka diam lebih baik baginya. Sebaliknya, bila bicaranya tentang keduniawian, namun tujuannya untuk mengkukuhkan syariat, bicaranya lebih baik daripada diamnya. Berbicara itu, seperti melempar umpan kedalam kolam yang penuh dengan ikan, ia bermaksud memberi makan keruhanian kepada ikan-ikan itu, atau ia justru akan memperoleh daging ikan yang gurih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik mengisahkan : “Dalam sebuah acara keagamaan, sang ustadz berbicara kepadaku,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; 'Aku ingin membeli rumah yang engkau tawarkan.'&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Apakah ustadz mempunyai uang?'&lt;/span&gt; tanyaku. Sambil menunjuk ke jamaahnya ia berkata&lt;span style="font-style:italic;"&gt; 'Inilah uangku.'”&lt;/span&gt; Kisah ini menjijikkan, jamaahnya dijadikan komoditas untuk mendapatkan uang. Fenomena yang demikian menjamur dinegeri kita ini, ada yang secara terang-terangan dan ada pula yang sembunyi-sembunyi. Ada yang dijaharkan dan ada pula yang berupa isyarat-isyarat. Cara-cara yang demikian memang sudah ada sejak jaman dahulu kala, bedanya, saat ini agama dikomersialkan dan dijadikan profesi, dan senjata yang ampuh untuk mewarnai jamaah adalah dengan berbicara dan bertingkah bagai orang suci. Lebih baik berpura-pura munafik padahal ia alim, daripada berpura-pura alim padahal ia munafik, dan dalam kesufian yang pertama dibolehkan dan dianut oleh banyak syaikh sufi, mereka menyebutnya ma'lamat. Seperti tarian topeng itu, tidak ada yang tahu apakah penarinya gadis muda atau nenek-nenek, sang gadis bertingkah seperti nenek, sedangkan sang nenek berlagak seperti seorang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari topeng, akan mendatangkan keduniawian, karena orang-orang yang menonton telah terwarnai, ada yang secara terpaksa dan ada yang sukarela membayar. Tinggalah sang penari dengan dunia yang diperolehnya, ia mewakili nafs, dan semua tahu apa yang akan dilakukannya. Karena setiap topeng dilepaskan, dibaliknya ada topeng yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khatab,ra., mendapat gelar al Faruq, karena beliau tidak pernah memakai topeng. Ketegasan dan kejujurannya sugguh luar biasa, seperti sebuah kisah meriwayatkan, utusan dari Rum tiba di Madinah, ia masih harus bertanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Dimanakah istana sang Khalifah?'&lt;/span&gt;Seorang warga kota menjawab : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Beliau tidak mempunyai istana, jiwanya yang besar, megah dan bercahaya itulah istananya.'&lt;/span&gt; Setelah 'istana' ditemukan, ternyata hanya sebuah tempat tinggal biasa yang tidak lebih mewah daripada rumah warganya yang paling miskin. Utusan dari Rum itu meneteskan air mata sambil berkata kepada temannya,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; 'Bukan pedang yang tajam dan bukan pula kuda yang gagah,inilah senjata yang ampuh yang bisa menaklukkan kebesaran kekaisaran Bizantium.'&lt;/span&gt; Ini sebuah contoh bahwa para sahabat dan para pewaris nabi, pastilah mengikuti jejak yang melimpahkan hak warisnya, yakni tidak berpaling kepada keduniawian, dan tidak berdalih bahwa kaya itu boleh yang penting hati ini tidak terkait kepada benda-benda dunia. Selama ia terkait dengan benda-benda dunia, pastilah ia penari topeng dan bukan ulama, karena hati hanya mempunyai satu ruang, dan tidak bisa tinggal bersama antara mencintai Tuhannya dengan mencintai selainnya, baik berupa harta benda, istri atau anak-anaknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-8409770003768905211?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/8409770003768905211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/tari-topeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8409770003768905211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/8409770003768905211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/tari-topeng.html' title='TARI TOPENG'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-556333624766424452</id><published>2009-09-11T05:32:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T17:07:40.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ubay bin Ka&apos;ab'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Abu Dzar al Ghiffari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibnu Mas&apos;ud'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ra.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasan Basri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anas Bin Malik'/><title type='text'>LAILATUL QADAR</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lailatul Qadar atau dikenal dengan malam kemuliaan, semua umat mengetahui bahwa malam itu lebih baik dari seribu bulan dan penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar. Dinamakan Lailatul Qadar karena malam itu merupakan malam penentuan segala sesuatu dan penentuan segala hukum. Diriwayatkan dari Imam Ibnu Abbas,ra., bahwa Allah SWT menentukan segala sesuatu pada tahun itu yang berupa hujan, rizki, kehidupan dan kematian sampai pada Lailatul Qadar di tahun berikutnya. Ayat itu seperti halnya firman Allah SWT: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.’ (QS 044 : 4&lt;/span&gt;) Imam Hasan al-Bashri.ra., berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ke tujuh belas. Pendapat yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik,ra., mengatakan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ke sembilan belas. Imam Muhamad bin Ishaq,ra., berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ke dua puluh satu. Riwayat yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas,ra., mengatakan pada malam dua puluh tiga. Sahabat Ibnu Mas’ud,ra., berpendapat pada malam dua puluh empat. Sahabat Abu Dzar al-Ghiffari,ra., berpendapat pada malam dua puluh lima. Sedangkan sahabat Ubay bin Ka’ab,ra., dan sekelompok sahabat berpendapat bahwa Lailalatul Qadar terjadi pada malam dua puluh tujuh. Sementara sebagian yang lain berpendapat pada malam dua puluh sembilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik melantunkan sebuah syair :&lt;span style="font-style:italic;"&gt; 'Sungguh Laila lebih mulia dari Majnun, karena dia menyembunyikan cintanya kepada Tuhan, sedangkan Majnun memberitakan kepada setiap orang. Seperti Lailatul Qadar yang mengungguli seribu bulan dan sembunyi dibulan Ramadhon.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana shalat yang telah ditetapkan waktu-waktunya, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa :&lt;span style="font-style:italic;"&gt; 'Bila shalat adalah sebuah niat yang suci, mesucikan badan dari najis yang sugro, yang didalamnya ada gerakan lahiriyah, doa-doa, puji-pujian, dan shalawat, maka para perjalan pada hakikatnya melakukan shalat terus menerus disepanjang terjaganya, karena mereka pun dalam keadaan bersuci terus menerus dan melakukan dzikir-dzikir, wirid-wirid dan shalawat serta doa-doa.'&lt;/span&gt;Oleh karenanya para pejalan tidak terlalu perduli kapan terjadinya malam lailatul qadar, baginya setiap hari adalah malam turunnya lailatul qadar, karenanya, kesehariannya diisi dengan mengerjakan pekerjaan tarekat yang diperoleh dari syaiknya, ada wirid-wirid disiang hari dan ada dzikir-dzikir dimalam hari serta shalat sunat, baik itu shalat sunat taubat, shalat sunat mutlak dan shalat sunat tahajjud. Tidak dipedulikan apakah itu malam minggu, malam Jum’at atau malam-malam lain, atau apakah itu dibulan Ramadhon atau dibulan-bulan lain. Selama hayat masih dikandung badan disiplin (riyadhah) dan pertempuran melawan hawa nafsu (mujahadah) tidak akan pernah berhenti. Sehingga, bila para ulama berbeda pendapat tentang waktu turunnya malam lailatul qadar, para perjalan telah siap menyongsongnya kapan pun malam yang diberkahi itu turun, malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan itu tiba. Karena para pejalan mempunyai keyakinan bahwa Allah SWT merahasiakan asma-Nya yang paling mulia agar para hamba mengagungkan semua asma Allah SWT. Allah SWT merahasiakan shalat wustha agar para hamba selalu mengerjakan dan menjaga semua shalat. Allah SWT merahasiakan pengabulan dan pengampunan taubat seorang hamba agar para hamba itu selalu bertaubat kepada Allah SWT. Allah SWT juga merahasiakan kematian manusia agar mereka selalu menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian. Demikian juga Allah merahasiakan malam Lailatul Qadar agar para hamba Allah SWT memuliakan dan mengagungkan semua malam di bulan Ramadhan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pastilah kemulian dan keagungan itu hanya ditujukan kepada pelaku ibadah yang tangguh, artinya kepada orang-orang yang telah menyiapkan cawan keruhaniannya sejak bulan ramadhon tahun sebelumnya hingga saat ini, agar pada malam yang diberkahi itu mereka dikukuhkan sebagai hamba yang mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Tuhannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-556333624766424452?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/556333624766424452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/lailatul-qadar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/556333624766424452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/556333624766424452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/lailatul-qadar.html' title='LAILATUL QADAR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-2230279538868991871</id><published>2009-09-10T19:56:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T15:09:53.275-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam Junayd'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ra.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istidraj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam Nuri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='qs.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Imam Sibly'/><title type='text'>ISTIDRAJ</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan Perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, (QS 068 : 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS 006 : 44)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna ayat-ayat diatas dapat diketahui bahwa ‘istidraj’ adalah pemberian Allah SWT kepada seseorang atas apa yang ia inginkan di dunia ini, agar ia menikmatinya dan tenggelam didalam lautan kesenangan, mereka tidak menyadari bahwa apa-apa yang mereka sangka kesenangan itu adalah sebuah hukuman yang diulur-ulur, agar ia semakin jauh dari Allah SWT. Terlalu banyak di negeri kita ini, orang-orang yang bila mendapatkan jabatan baru, lalu ia bersujud karenanya seolah-olah ia merasa telah mendapatkan karunia dari Allah SWT, ia tidak menyadari bahwa hal itu akan menyusahkannya dikemudian hari. Berbeda dengan para sahabat Nabi,saw., misalnya Salman al Farisi,ra, yang ditunjuk untuk menjabat sebagai gubernur di suatu daerah, ia menangis karenanya, khawatir bila ia tidak dapat menjalankan amanah itu dengan baik, dan tidak lama kemudian ia dicopot dari jabatannya, justru ia melakukan sujud syukur, karena lepas dari tanggung jawab yang sedemikian besar itu. Jadi istidraj adalah pisau yang bermata dua, satu sisi berupa sesuatu yang menggembirakan hati, sedangkan sisi yang lain berupa ketidak sadaran bahwa pemberian itu akan mencelakakannya. Oleh sebab itu bagi para salik, wajib hukumnya untuk selalu merapat kepada gurunya, guna mendapatkan bimbingan yang terus menerus, sehingga bila ada istidraj yang datang akan segera dapat diatasinya berkat barokah dari sang guru. Disebut istidraj, apapun bentuknya baik itu yang dhahir ataupun yang batin akan sulit dikenali. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Musibah adalah, bilamana seseorang diberi harta yang banyak lalu tidak mampu menggunakannya dijalan agama, diberikan pangkat yang tinggi namun tidak mampu menegakkan syariat, Allah SWT menyelipkan didalam hatinya istidraj.’&lt;/span&gt; Dan beliau juga berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Celakalah orang yang berdakwah merasa bagai orang suci, pandai berbicara dan mengajak orang lain untuk banyak beribadah, padahal dalam diri orang itu tidak banyak ibadahnya dan peribadatannya tidak bernilai tinggi. Dia menukar ilmunya dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yang sejak dari rumah memang sudah diharapkannya. Jelas! Itu bukan peribadatan, itu adalah istidraj.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abul Hasan an-Nuri, atau yang dikenal dengan Imam Nuri,qs., menceritakan kisahnya : ‘Bertahun-tahun aku berjuang, menahan diriku dalam penjara dan berpaling dari orang-orang lain. Betapapun wara-nya aku, jalan yang ingin kutempuh tidak juga terbuka untukku. Aku harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki diriku. Aku mendengar bahwa hati para mistik dapat mengetahui rahasia dari apa pun yang mereka lihat dan dengar. Sedangkan aku tidak begitu, aku berkata : ‘Benar apa yang diucapkan oleh para nabi dan para wali. Mungkin aku munafik dalam perjuanganku, dan kerusakannya berdampak pada diriku sendiri. Disini tak ada tempat bagi perbedaan pendapat.’ Aku melanjutkan, ‘Sekarang aku akan mencermati diriku sendiri dan mencari tahu apa yang salah.’ Aku memandangi diriku sendiri. Dan aku pun menemukan apa yang salah pada diriku, yakni jiwa badaniahku menyatu dengan hatiku. Bila jiwa badaniah menyatu dengan hati, itu namanya bencana, karena apapun yang berkilau di hati, jiwa badaniah akan mengambil bagiannya. Aku pun menyadari bahwa inilah penyebab dilemma yang aku hadapi, segala yang memasuki hatiku dari Istana Tuhan, jiwa badaniahku akan selalu mengambil bagiannya. Sejak saat itu, aku menjauhi apa pun yang memuaskan jiwa badaniyahku, dan mengambil sesuatu selainnya. Misalnya, jika salat atau puasa atau sedekah atau mengasingkan diri atau bergaul dengan para sahabatku memuaskan jiwa badaniahku, maka aku akan memotong dan mebuang jauh-jauh segala kepuasan itu. Akhirnya rahasia-rahasia mistis mulai terwujud dalam diriku. Lalu aku berjalan menyusuri sungai Tigris dan berdiri diantara dua sampan. ‘Aku takkan pergi, kataku, sampai seekor ikan terjerat jalaku.’ Akhirnya, seekor ikan terjerat jalaku. Saat aku mengambil ikan itu, akau memekik, ‘Segala puji bagi Allah, urusan-urusanku telah berjalan dengan baik!’ Aku pergi menemui Imam Junayd,ra., dan berkata padanya, ‘Sebuah karunia telah dianugerahkan padaku!’ ‘Abul Hasan,’ ujar Imam Junayd,ra., ‘Jika seekor ular yang terjerat jalamu, dan bukannya seekor ikan, itu baru suatu tanda karunia. Namun karena dirimu sendiri terlibat, itu adalah muslihat bukan karunia. Karena tanda dari suatu karunia adalah engkau tidak terlibat sama sekali.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah diatas sungguh hebat, istidraj tidak saja hinggap kepada orang awam, tetapi hinggap juga kepada penempuh jalan kesucian, namun kesadarannya dapat segera bangkit, karena mereka bersahabat dengan para sufi yang lain, yang mempunyai kedudukan yang mulia. Berkat persahabatannya dijalan Allah itu, maka yang satu dengan yang lain akan saling membantu dan mengingatkan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata kepada para murid-muridnya : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Jika engkau merasa sedang dalam tekanan kehidupan yang keras, lalu engkau berdoa agar segera berlalu, namun Allah malah menekannya lebih keras lagi, itu tanda sebuah karunia besar yang sedang engkau hadapi.’&lt;/span&gt; Oleh karenanya Imam Sibly,qs., murid dari Imam Junayd,ra., pernah berdoa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Yaa Allah aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.’&lt;/span&gt; Yakni, untuk dapat membedakan apakah pemberiaan dari Allah SWT itu merupakan istidraj atau anugerah. Jika imamnya para syaikh sufi saja berdoa seperti ini, bagaimana kita bisa mengenali sebuah istidraj yang datang kepada kita? Mari para sahabat, segera kita berlidung kepada Allah SWT dari fitnah-fitnah dunia ini, berharap kiranya Allah menghinggapkan nadam (daya sesal) atas dosa-dosa yang secara sengaja dilakukan ataupun yang tidak sengaja, yang terlihat maupun tidak terlihat dan yang terasa ataupun yang tidak terasa serta memberikan kegagahan kepada kita didalam melakukan pertaubatan. Semoga Allah SWT mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita, amiin ya Allah ya Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-2230279538868991871?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/2230279538868991871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/istidraj.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2230279538868991871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2230279538868991871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/istidraj.html' title='ISTIDRAJ'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-6511957999998762896</id><published>2009-09-07T18:29:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T17:06:21.035-07:00</updated><title type='text'>KHUSYU</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat utama Nabi Muhammad,saw., yang banyak menerima ilmu tentang seluk beluk hati, khususnya tentang kemunafikan, yakni Hudzaifah al Yamani,ra., berkata : ‘Khusyu adalah yang perama-tama hilang dari agamamu.’ Oleh karenanya orang yang menempuh jalan kesufian, mengerahkan seluruh kemampuannya guna meraihnya kembali. Awam selalu mengkaitkan antara khusysu dengan shalat, mereka menafsirkan ayat dari al Qur’an : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mukmin, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya.’ (QS 023 : 1-2)&lt;/span&gt; Sedangkan orang-orang yang menempuh jalan kesucian, berusaha dengan sekuat tenaganya untuk meraih predikat ‘mukmin’, karena khusyu hanyalah salah satu keutamaan orang mukmin, dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan lainnya. Sehingga mereka meyakini bahwa khusyu adalah sebuah maqom, dan didalam sholat adalah saat maqom-maqom mereka ditampakkan. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) banyak memberikan makna daripada khusyu ini, diantaranya, bahwa khusyu adalah hati yang selalu terkait kepada Allah SWT, khusyu adalah tegaknya hati dihadapan-Nya, khusyu adalah saat datangnya rasa takut yang terus menerus didalam hati, terlepas ia sedang dalam keadaan shalat atau pun tidak. Untuk mencapai maqom khusyu ini diperlukan latihan spiritual yang tangguh dan dibawah bimbingan yang terus menerus dari seorang Mursyid, seorang guru tarekat, seorang Syaikh yang memang telah terbukti akhli didalam mendidik murid-murid untuk mencapainya. Paling tidak, pada setiap harinya untuk melatih hati berkait kepada Allah SWT diperlukan dzikir-dzikir tidak kurang dari 11.000 kali banyaknya, dengan menyebut kalimat thoyibah, Laa Ilaaha Illallaah atau Ismudzat, Allah … Allah … Allah, dengan cara dzikir yang berbunyi atau dzikir yang khofi, serta mendirikan shalat-shalat sunah nawafil, awwabin, dan tahajud. Tidak semua murid berhasil mencapai keadaan ini, walaupun telah berupaya melakukannya lebih dari sepuluh tahun lamanya. Oleh karenanya, jika ada orang yang mengaku mampu melakukan shalat khusyu lalu mengadakan kursus-kursus kilat untuk mencapainya, ini sebuah kebohongan belaka, sebuah kemunafikan. Sudah terlalu banyak orang yang menjual agama dengan cara yang demikian. Tidak ada keadaan spiritual seseorang, atau maqom yang didapat secara instan, bagaimana seseorang ingin jujur kepada Tuhannya, sedangkan jujur kepada dirinya sediri ia tidak mampu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah bercerita : ‘Usiaku masih terlalu muda, aku bersama guruku dan beberapa murid yang telah mengaji lebih dari dua puluh tahun lamanya. Ia ingin menguji keadaan-keadaan para muridnya, lalu ia memerintahkan shalat sunat dua rakaat banyaknya. Di saat shalat sedang berlangsung, rebana dibunyikan, setelah selesai ia bertanya kepada murid-muridnya, : ‘Adakah yang mendengar suara rebana?’. Murid-murid yang senior mengaku tidak mendengarnya, sedangkan syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) mengatakan mendengar. Lalu guru memerintahkan murid-murid yang tidak mendengar suara rebana untuk meninggalkan masjid, sedangkan yang mendengar tetap tinggal di Mesjid. Lalu guru berkata : ‘meskipun sudah lama mengaji, akan tetapi mereka tidak menarik pelajaran apa pun disini, keakuan sungguh sulit ditaklukkan.’ Cerita ini otentik, dan bahwa khusyu itu bukannya tidak mendengar apa-apa saat shalat, akan tetapi tidak terganggu perhatiannya saat tertuju kepada Allah SWT. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Khusyu, seperti menonton acara tv yang digermarinya, tidak ada sesuatupun yang dapat mengganggu perhatiannya, meskipun ia mendengar panggilan shalat (adzan), walaupun ada kilat dan suara guntur, ia tetap dalam keadaannya.’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-6511957999998762896?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/6511957999998762896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/khusyu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/6511957999998762896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/6511957999998762896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/khusyu.html' title='KHUSYU'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-3842889923980725032</id><published>2009-09-04T21:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T13:44:46.097-07:00</updated><title type='text'>MAKNA BERPUTAR</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thawaf adalah berjalan mengelilingi Ka’bah tujuh kali banyaknya, diawali dengan menyebut Bismillahi Allahu Akbar di Hajar Aswad dan berakhir disitu pula. Seperti  gerakan berputar yang berlawanan dengan arah jarum jam. Bagaikan perjalanan menelusuri waktu yang telah lalu, melihat asal-usul diri dan kejadian alam semesta ini. Pada akhirnya akan ditemui bahwa riwayat alam semesta dan seisisnya ini, tertuang dalam al Qur’anur Kariim. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata bahwa : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Inti daripada al Qur’an ada pada suratul Fatihah, sedangkan inti suratul Fatihah ada pada Basmallah, dan inti Basmallah ada pada huruf ‘Ba’, dan inti dari huruf ‘Ba’ ada pada titiknya.’&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Yakni, Allah SWT menyimpan ilmu pada titik Ba dalam ungkapan yang berbunyi : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bi kana ma kana, Bi yakunu ma yakunu, yakni hanya dengan Aku segala sesuatu yang telah ada itu dapat terwujud dan hanya dengan Aku saja semua yang akan ada dapat terwujud.’ &lt;/span&gt;Dengan demikian wujud alam dan seluruh isinya hanyalah karena izin Allah dan hakikat segala perwujudan ini adalah atas nama Allah. Begitu pula bahwa yang pertama-tama diucap oleh manusia adalah huruh ‘Ba’, tatkala Allah SWT berfirman : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Alastu Birrabbikum, Bukankah Aku Tuhan kalian,’&lt;/span&gt; kemudian manusia menjawabnya dengan : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bala, Benar (Engkau Tuhan kami).’&lt;/span&gt; Kalimat ‘Bala’ tersebut diawali dengan huruf ‘Ba’. Seperti seseorang yang menggoreskan pena diatas kertas, apapun yang ditulis, ataupun digambar, akan dimulai dan berakhir pada sebuah titik. Ini bermakna ‘Huwal Awwalu Huwal Akhiru’, Dia Yang Maha Awal dan Dia Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatupun yang mengawali-Nya dan keabadian-Nya tidak akan pernah berakhir. Orang yang thawaf, adalah orang yang  menghargai sejarah dan selalu menarik i’tibar dari kejadian-kejadian terdahulu, khususnya yang dicontohkan oleh para rasul dan nabi-nabi. Sudah banyak kaum yang dimusnahkan oleh Allah SWT disebabkan kejahatan yang dilakukannya, karena tidak menggubris peringatan yang datangnya dari para nabi. Seperti yang telah terjadi kepada kaum Syu’aib di Madyan dan Ashhabu’l Aikah. Allah memusnahkannya dengan petir dan gempa bumi yang hebat serta hawa yang sangat panas. Begitu pula sebelumnya telah terjadi hal yang serupa kepada kaum Nuh, Hud, Shalih, dan sebab-sebab kehancuran kaum Luth yang sebenarnya mempunyai ciri-ciri yang serupa dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) beserta murid-muridnya pernah berziarah kemakam Nabiyullah Syu’aib,as., dan menyaksikan bekas-bekas azab yang masih terlihat menempel didinding bukit bebatuan disana. Inilah bukti bahwa orang-orang yang diberkahi itu sesungguhnya berjalan berputar berlawanan dengan arah jarum jam, meskipun phisiknya berada dimasa kini namun hati dan fikirnya selalu melayang dan mengambil I’tibar atas kejadian-kejadian masa lampau. Ruhnya yang suci selalu ingin kembali ‘berkumpul’ kepada yang dicintainya seperti tatkala ia menyebut ‘Bala’. Jiwanya selalu dicerahkan dengan dzikir-dzikir yang berbunyi, dzikir nafi isbat ataupun dengan dzikir yang lembut (dzikir khafi), dimanapun ia berada, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam keadaan gembira ataupun bersedih. Sehingga dzikir menjadi makanan utamanya, karena satu-satunya makanan yang halal diatas dunia dan akhirat nantinya adalah dzikir yang didalamnya tidak ada keharaman sama sekali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan iklim di dunia saat ini (global warming), mempunyai tanda-tanda persis seperti kejadian-kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu, yang tidak mengindahkan peringatan para rasul dan nabi. Bedanya kaum terdahulu melakukan kejahatan dan tidak mau beriman, sedangkan kaum yang sekarang mengaku beriman akan tetapi kehidupannya diisinya dengan kesenangan-kesenangan. Sepertinya mereka berkata : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Kami telah beriman, tapi biarkanlah kami bersenang-senang diatas dunia ini.’&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sehingga keimanannya hanyalah sebuah kedok belaka. Lihat saja di tv, anak muda, tua, laki-laki maupun perempuan semua bersenang-senang dan pengikutnya banyak sampai ke kampung-kampung dan ujung desa sekalipun. Bagaimana bisa manusia hidupnya hanya bersenang-senang saja lalu mampu melakukan peribadatan dengan baik? Mustahil, karena kesenangan merupakan akar biang keladi robohnya bangunan keimanan. Karena sifat yang menonjol daripada nafs adalah pemuasan keinginan yang berupa kesenangan badaniyah. Berarti orang-orang yang bersenang-senang adalah pengikut nafs-nya dan tanpa disadari bahwa nafs itu selalu mengajak kepada kejahatan. Makanya terlalu naif bila ingin memperbaiki perilaku alam terhadap manusia hanya menanam kembali pepohonan, sedangkan akhlak manusia tidak diperbaiki dan selalu menikmati kesenangan-kesenangan. Ajakan para Rasul, para suci tidak diindahkan namun ajakan pemimpin dunia diikuti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang mengaku beriman dengan ‘puasa’, atau dengan makna lain adalah perangilah kesenangan-kesenangan badaniyah dan batiniyah, bahkan yang halal pun di haramkan di siang hari. Namun golongan ‘penghibur’ yang mengisi acara-acara di tv tidak peduli dengan perintah ini. Mereka hanya berpantang dari lapar dan haus saja, persis seperti puasanya anak kecil, lalu kesenangannya tidak ditinggalkan, malah mengajak umat di pelosok desa sekalipun untuk bernyanyi dan menari-nari, tak peduli itu waktu berbuka puasa ataupun waktu sahur. Lebih ironis lagi, golongan penghibur ini dijadikan ikon-ikon pemerintahan, badan dunia pun (PBB) memilihnya sebagai duta bangsa. Seorang nenek yang usianya 90 tahun pun berkata : ‘Penghibur kok dijadikan panutan, bahkan bila ia disewa oleh orang buta untuk menari dan menyanyi ia akan melakukannya, selama ia dibayar.’ Pantas bila Syaikh Jalaluddin Rumi,ra., mengatakan bahwa manusia itu laksana keledai yang bersayapkan malaikat. Barang siapa mengikuti nafs-nya, derajatnya jauh dibawah keledai, meskipun ia bergelimangan dengan harta bendawi dan sanjungan-sanjungan, karena keledai hanya bersuara saat ia lapar dan birahi saja, dan al Qur’an mengatakan bahwa seburuk-buruk suara adalah suara keledai. Sebaliknya barang siapa memerangi nafs-nya, derajatnya melebihi malaikat, kesuciannya tiada tara dan kedekatan dengan Allah SWT tidak berjarak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit ulama yang prihatin dengan keadaan ini, dan mencoba menyampaikan nasihat, tetapi tidak ada yang menggubrisnya. Akan tetapi tidak sedikit pula ulama yang justru mengambil manfaat dari para penghibur, mereka melebur walaupun ucapannya tentang ayat-ayat suci dan hadis-hadis shahih, persis seperti keledai yang menggendong al Qur’an. Kehidupan ini menjadi jelas, apakah ia sedang berputar mengikuti arah jarum jam, mengikuti angan-angannya, atau sebaliknya berlawanan dengan arah jarum jam, yang selalu melakukan mawas diri (muhasabah).&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, tak satupun penguasa yang berhasil dalam kehidupannya bila hatinya condong kepada penghibur, dan sebaliknya para sultan yang bersahabat dengan para sufi akan memperoleh kejayaan, sebagai contoh pada dinasti Umayyah ada Sultan Umar bin Abdul Aziz,ra., lalu pada dinasti Abbasiyah ada sultan Harun al Rasyid,ra., yang bersahabat dengan para sufi, khususnya kepada Syaikh Fudhail Bin Iyad,ra., lalu sultan Salahuddin al Ayyubi,ra., sang penakluk tentara salib itu, bersahabat dengan Syaikh Ahmad Rifai,ra. Pemimpin tarekat Rifaiyah yang bersahabat pula dengan Sulthonul Auliya Sayyidi Syaikh Abdul Qodir Jailani,ra., pemimpin tarekat Qodiriyah. Oleh karenannya, bila penguasa tidak ada kemampuan untuk berdekat kepada Allah SWT, maka berdekatlah kepada orang-orang yang dekat dengan Allah SWT, paling tidak dari kedekatan itu para penguasa akan memperoleh barokah-barokah yang lebih berharga daripada semua kekayaan yang ada diatas dunia ini. Namun para penguasa juga harus jeli, karena bila ada ulama yang mengetuk pintu para penguasa, itu adalah ulama palsu, ulama maling, demikian menurut pendapat Syaikh Jafar ash-Shadiq,ra., cicit dari Rasulullah,saw., yang sangat tinggi ilmunya. Oleh sebab itu, penguasa wajib mendatangi ulama, bukan ulama mendatangi penguasa. Seperti makna berputar, jika ia berputar berlawanan dengan arah jarum jam ia akan selamat, sebaliknya bila ia berputar mengikuti arah jarum jam ia akan terjungkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah warna warni kehidupan di dunia ini, hakikatnya kejahatan yang dibuat manusia akan disusul dengan gejolaknya alam ini, semakin besar kejahatannya semakin besar pula bencana alamnya. Namun, nyaris tidak ada yang menarik pelajaran dari kejadian dan gerak gerik alam semesta ini, bahkan syaithon pun malu melihat kejahatan manusia masa kini. Sejak zaman dahulu kala hingga kini tidak pernah berubah, selalu saja kesenangan dikedepankan dan agama ditinggallkan, kalaupun ada hanya sebagai hiasan laksana lukisan yang menempel pada dinding rumah. Bersyukurlah bila takdir membawa kepada kehidupan yang penuh kebajikan, yang selalu mawas diri, yang selalu mendawamkan dzikir-dzikirnya (dawamudz dzikiri) dan menegakkan ubudiyahnya (dawamun ubudiyah), serta melakukan perenungan (kontemplasi) ataupun melakukan muroqobah (meditasi) disepanjang kehidupannya sampai matinya. Bila tidak, berdoalah  untuk segera dimatikan, itu lebih baik daripada menjadi arang kemarahan alam semesta ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-3842889923980725032?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/3842889923980725032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/makna-berputar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3842889923980725032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/3842889923980725032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/makna-berputar.html' title='MAKNA BERPUTAR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-5389117006767930426</id><published>2009-09-03T08:13:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T14:37:00.751-07:00</updated><title type='text'>AL-KHAWATIR</title><content type='html'>Bismillaahir Rhamaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pengajian Jum’at malam Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Al-khawatir mempunyai pengertian yang berbeda antara para penempuh jalan kesucian dengan orang awam. Awam berpendapat bahwa khawatir adalah hal-hal yang bernada negatif, mencemaskan kejadian dimasa mendatang yang akan berakhir dengan hal-hal buruk, sedangkan yang dimaksud  al-khawatir dalam ilmu kesufian adalah bisikan-bisikan jiwa, yang menghujam kedalam rasa. Penekanannya terletak pada pembawanya, bila bisikan-bisikan jiwa itu datangnya dari syaithon disebut was-was, jika muncul dari hawa nafsu disebut hawajis. Dan bila datangnya dari malaikat disebut ilham. Sedangkan bisikan jiwa yang langsung dari Allah SWT disebut Khatir Haq atau bisikan kebenaran.’ &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa, orang yang terlalu banyak makan makanan haram tidak akan bisa membedakan antara ilham dan was-was. Setiap bisikan yang tidak bisa disaksikan kebenarannya secara lahir, adalah bisikan batil. Apabila bisikan itu datangnya dari syaithon, rata-rata mengundang pada kemaksiatan. Begitu pun yang datang dari hawa nafsu, lebih cenderung mengajak pada sikap menuruti syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Junayd,ra., membedakan antara hawajis dengan was-was : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Bahwa nafsu itu (hawajis), apabila menuntut anda terhadap suatu perkara, ia akan menempel, dan akan kembali lagi walaupun berlalu dalam jarak waktu, sampai bisikan nafsu itu benar-benar meraih kemauannya dan mencapai tujuannya. Kecuali bagi orang-orang yang meujahadahnya benar, maka bisikan itu tidak akan kembali. Kemudian nafsu itu selalu memusuhi anda. Sementara syaithon (was-was), ketika menjerumuskan anda melalui godaannya, kemudian anda menentangnya, maka  syaithon akan kembali mempengaruhi anda dengan godaan lainnya. Sebab secara keseluruhan, sikap kontra adalah sama. Yang penting bagi syaithon, anda bisa mengikuti ajakannya yang menjerumuskan. Dan baginya tidak ada peringanan dalam penjerumusan itu.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dibawah ini merupakan bentuk prosa dari puisi Syaikh Jalaluddin Rumi,ra., yang mendukung ujaran Imam Junayd,ra., yakni : “Seorang wanita miskin dari suku Bedouin mengeluh : ‘Suamiku, sadarkah engkau akan keadaan kita yang makin hari semakin terpuruk? Orang lain menikmati hidup, mereka bahagia, kita menderita, kita sengsara. Apa gunanya berguru kepada seorang Darvish yang tidak bisa memberi apa-apa, dia malah menjadi tanggunganmu. Saya tidak melihat cahaya Allah dalam dirinya, dia hanya mengutip para sufi. Sudah bertahun-tahun kamu mengikuti dia, apa yang kau peroleh? Hidupmu terlewatkan begitu saja, apa untungnya?’ &lt;br /&gt;Setelah mendengarkan keluhan istrinya, sang suami menjawab : ‘Untung rugi apa yang sedang kaubicarakan? Apa pun yang kau lakukan hidup ini tetap akan terlewatkan begitu saja. Dengarkan kicauan burung, mereka sedang memuliakan Nama Allah. Hanya kepada Allah mereka berserah diri. Siapa yang memberi makan kepada mereka? Allah Maha Besar, Allah Maha Suci, begitu pula dengan binatang-binatang lain. Keluhanmu berasal dari keinginan-keinginan yang tak terpenuhi, dari hawa nafsu yang tak terkendali. Sebagai manusia, kesadaranmu seharusnya melebihi kesadaran para binatang. Engkau adalah istriku, dan suami istri ibarat sepasang sepatu. Dua-duanya harus berukuran sama. Jika yang satu berukuran lebih kecil atau lebih besar, maka tidak akan nyaman dipakai. Bahkan tidak bisa dipakai.’&lt;br /&gt;Sang istri tambah berang : ‘Apa yang ingin kau buktikan dengan kata-katamu yang muluk itu? Bahwasanya kau sudah berserah diri sepenuhnya?  Jujur saja, puaskah engkau dengan keadaan kita saat ini?’&lt;br /&gt;Jawab sang suami : ‘Ya aku puas, aku cukup puas dengan keadaanku. Aku puas dengan kemiskinanku. Harta kekayaan bagaikan sorban, bagaikan penutup kepala yang digunakan oleh mereka yang berkepala botak. Untuk menutupi kebotakan diri, mereka harus bersorban. Kepalaku tidak botak, aku tidak membutuhkan sorban. Aku tidak perlu menutupi kepalaku. Tuhan Maha Tahu dan Dia mengetahui isi hatiku, rasa puas itulah yang ada dalam hati ini. Engkau tidak dapat melihatnya, karena tidak ada kepuasaan dalam dirimu. Ketidak puasan yang kau bicarakan berasal dari dalam dirimu sendiri. Engkau sendiri tidak puas dan berpikir bahwa aku pun tidak puas. Sepertinya sudah tidak ada lagi kecocokan lagi antara kita. Caramu berpikir dan caraku sudah berbeda. Dan kalau memang sudah demikian, lebih baik kita berpisah saja.’&lt;br /&gt;Sang istri menyadari kesalahannya dan sambil menangis ia minta maaf : ‘Aku menyadari kesalahanku, aku memang kurang sabar. Tetapi, suamiku yang kucintai, sesungguhnya selama ini aku hanya memikirkanmu. Aku tidak tega melihatmu dalam keadaan melarat. Aku tidak tega melihat kantongmu kosong. Sekarang, terserah kamu, ikutilah kemauan hatimu. Tetapi jangan sekali-kali berkipikir untuk meninggalkan aku. Jangan! Mendengarkannya saja, aku tidak tahan. Maafkan aku, atau beri aku hukuman, seberat apa pun akan kupikul, tetapi jangan meninggalkan aku.’&lt;br /&gt;Tangisan istri membuat hari sang suami meleleh. ‘Maafkan pula aku, sesungguhnya aku pun bersalah. Selama ini hanya memikirkan diri. Sampai lupa urusan rumah tangga. Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan berpisah darimu. Mulai saat ini, aku akan berusaha, akan mencari nafkah.’&lt;br /&gt;Kisah diatas memperlihatkan bahwa sang istri mewakili bisikan-bisikan jiwa yang datangnya dari hawa nafsu dan syaithon, yang seperti dikatakan Imam Junayd,ra., ia akan terus menempel dan menggunakan segala cara agar seseorang takluk dan mengikuti kemauannya, seperti sang suami walaupun diawalnya ia menolak, tapi pada akhirnya ia terkapar dengan tangisan buaya sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kisah diatas tentang keburukan al-Khawatir, maka kisah dibawah ini sebaliknya. Nabiyullah Sulaiman,as., setiap paginya mendatangi masjid, setiap melewati pekarangan dan melihat tanaman baru, beliau selalu bertanya, ‘Apa namamu? Dan apa kegunaanmu? Tanaman-tanaman itu selalu menjawab, memberitahu namanya dan kegunaan serta khasiat mereka. Setiap tanaman merupakan obat bagi penyakit tertentu dan sebaliknya  merupakan racun bagi penyakit yang lain. Uraian-uraian dari sang Nabi,as., itu dikumpulkan oleh para bijak. Disusun dalam sebuah buku dan menjadi pegangan bagi para akhli pengobatan. Ilmu-ilmu lain, khususnya ilmu tentang ketuhanan juga diturunkan dengan cara yang sama. Bedasarkan ilham yang diterima oleh para nabi. Tidak berdasarkan pikiran, dan tidak bersumber dari panca-indera (jawarih).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Intelek manusia, pikiran manusia tidak dapat menciptakan ilmu. Hanya bisa menerima ilmu. Itu pun bila mendapatkan bimbingan dan pengajaran. Dan yang bisa membimbing dan mengajar hanyalah para penerima ilham. Bahkan ilmu-ilmu yang sangat sederhana pun, seperti cara mengubur jasad diperoleh lewat ilham. Setelah membunuh Habil, Qabil menjadi bingung untuk menyembunyikan jasadnya. Akhirnya ia melihat seekor gagak yang menguburkan gagak mati, dengan kukunya yang panjang ia menggali lubang dan meletakkan jasad temannya didalam lubang. Kemudian lubang itu ditutupi kembali dengan tanah. Demikian manusia belajar menggali liang kubur bagi manusia lain yang sudah mati. Ia yang diberkahi tahu persisi bahwa intelek berasal dari iblis. Seperti Kan’an putra Nabiyullah Nuh,as., ia menolak ajakan ayahnya untuk menaiki kapal, ia menggunakan pikiran dan intelektualitasnya : ‘Untuk apa naik perahu segala? Kalau banjir, aku bisa naik keatas gunung.’ Katanya. Apabila tidak mampu berenang. Kan’an sudah pasti menerima ajakan Nabi Nuh,as. Seperti seorang anak yang masih kecil. Dia belum bisa melakukan apa-apa dan harus bergantung sepenuhnya pada ibunya.&lt;br /&gt;Demikian, seandainya para salik tidak membawa pengetahuan intelektualitasnya dihadapan para Syaikh, niscaya mereka akan dapat mendengarkan dan mengikuti petuah para wali. Petuah yang berasal dari hati, dari ilham. Dan tidak akan bernasib seperti Kan’an yang akhirnya tenggelam ditelan oleh banjir yang teramat besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-5389117006767930426?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/5389117006767930426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/al-khawatir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5389117006767930426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/5389117006767930426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/al-khawatir.html' title='AL-KHAWATIR'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-6486722711901038625</id><published>2009-09-02T20:02:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T18:52:19.523-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nabiyullah sulaiman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asaf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='iraq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bilqis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ifrit'/><title type='text'>RUH DAN JIWA</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah,saw., bersabda : 'Man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang diniatkan dan dikehendaki oleh seorang murid, ditangan seorang Syaikh akan menjadi sebaliknya. Seorang Syaikh tidak menginginkan pemberian dari para salik, sebaliknya yang diinginkannya adalah kesiapan diri seorang salik untuk menerima apa yang akan ia berikan. Seperti kisah seorang tua dari desa Bedouin yang senasib dengan pesuruh ratu Bilqis, dua-duanya mengalami wajah yang memerah karena malu, jika pesuruh ratu Bilqis terheran-heran melihat anak tangga tahta Nabiyullah Sulaiman,as., terbuat dari emas murni, padahal dia datang membawa emas batangan untuk dihadiahkan kepada sang Nabi, sedangkan orang tua dari desa Bedouin melihat sungai tigris yang sangat besar dan dipenuhi dengan air yang deras mengalir, padahal dia datang ke Iraq untuk mendapatkan hadiah dari sang Sultan yang akan ditukar dengan kendi yang dibawanya berisi air hujan yang ditampungnya, karena ia berpikiran bahwa di Iraq tidak ada air sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat yang shohih diatas tampak lucu, begitulah sesungguhnya kita semua sebagai salik dihadapan seorang Syaikh. Semua salik merasa telah memberi, padahal seorang Syaikh tidak pernah menerima, justru ia yang memberi. Karena ia telah putus dari ikatan duniawi, bukan emas dan bukan pula air kendi yang ia inginkan, melainkan mendekatkan diri sang salik kepada Tuhan. Bisa jadi, emas dan air laksana ilmu pengetahuan, dan banyak orang berpikiran bawa Tuhan dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, ketahuilah bahwa bagi-Nya, ilmu dan pengetahuan tidak berarti sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jin ifrit menawarkan jasa kepada Nabiyullah Sulaiman,as., untuk memindahkan istana ratu Bilqis, namun beliau menolaknya. Asaf, salah seorang menteri menanggapinya, ‘Dengan Nama Allah, istana itu bisa berada disini dalam sekejap.’ Maka Nabi,as., membiarkan Asaf untuk memindahkan istana itu, tawaran jin ifrit tidak digubrisnya. Milihat istana itu berhasil dipindahkan, sang Nabi bersyukur kepada Allah dan berkata : ‘Hanya orang-orang yang bodoh yang tertarik kepadamu.’ Kemudian Sang Nabi berseru kepada ratu Bilqis : ‘Sadarlah Bilqis, apa arti sebuah istana? Lepaskanlah keterikatanmu dan masuklah kekerajaan Allah.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat ini amat elok, jin ifrit mewakili suara-suara seperti nyanyian keruhanian dan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk membersihkan hati, sedangkan Asaf mewakili dzikir-dzikir (jahr dan lathif) untuk membongkar penyakit-penyakit hati. Tentunya gagal, membersihkan hati dengan nyanyian dan ilmu pengetahuan, karena nyanyian dan ilmu pengetahuan laksana ‘pikiran’. Bagaimana bisa ‘pikiran’ memindahkan istana ratu Bilqis? Seseorang dengan ‘pikirannya’ hanya sesaat mampu mengatasi masalah batin, dalam sekejap masalah itu akan kembali lagi. Keberingasan nafs hanya bisa ditundukkan oleh Allah sendiri, dengan Kasih Sayang-Nya, dengan Basmallah. Para syaikh sufi sepakat bahwa metode shahihnya  dengan selalu menyebut-nyebut Asma-Nya (dawamudz dzikri) secara berkesinambungan dan dengan cara-cara tertentu (kaifiat). &lt;br /&gt;Evolusi nafs sungguh sangat dasyat,  jika sebuah kamar berisi ruh dan nafs secara bersama-sama, maka ruh akan bertekuk lutut, karena tempat asal ruh bukan di dunia ini, akan tetapi di alam amr (alam perintah). Sedangkan jiwa telah bersatu dengan badan, sehingga unsur-unsur dunia ini, yang berupa air, bumi, angin dan api bersenyawa dengannya. Ego yang ada dipermukaan bisa dihanguskan oleh dzikir jahr, namun lapisan kedua, ketiga dan seterusnya sungguh sangat halus gerakkannya. Oleh sebab itu selain dzikir jahr, yang mulia Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) membekali murid-muridnya dengan dzikir yang lembut, yakni dzikir lathif. Namun jangan pernah lupa, bahwa ada pihak ketiga yang membatu nafs, yakni syaithon yang terlaknat itu, pada awalnya ia akan membisikkan bahwa syaikhmu sungguh hebat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih baik darinya. Al hasil sang salik akan meremehkan setiap pembicaraan mengenai agama oleh para da’i, ‘Tidak .. tidak demikian, syaikhku lebih hebat, seharusnya begini dan begitu…’ begitulah gumannya. Hal ini berlangsung lama, seolah-olah membanding-bandingkan para da’i dengan syaikhnya adalah perbuatan baik. Padahal egonya sedang berkibar, perbuatan yang seperti itu membuat Allah SWT murka karenanya, yakni tatkala Iblis berkata ‘Aku lebih baik dari Adam, karena aku terbuat dari api sedangkan ia dari tanah.’ Meskipun demikian para salik akan merasa nyaman dalam peribatannya, ia mempunyai semangat yang luar biasa dalam melaksanakannya. Jika ia sembuh dari penyakit yang awal ini, ia akan tercebur kedalam lautan riya, peribadatannya ingin diketahui oleh orang lain. Lalu merasa bangga dan puas atas peribadatannya selama ini, dan sering memberitakan kepada orang lain bahwa aku adalah orang yang rajin berdzikir. Disini saja, banyak para salik yang tersungkur. Karenanya, ia harus merapat kepada syaikhnya, guna mendapatkan terapi yang tepat untuk mengikis penyakit yang demikian. &lt;br /&gt;Selanjutnya, jika ia telah menerima limpahan ilmu dari dzikir-dzikirnya, dan kesadarannya muncul dengan baik, maka penyakit baru yang sangat dasyat muncul kembali, yakni menilai-nilai kebijaksanaan syaikhnya, ini celaka! Karena penyakit ini sifatnya seperti awan, yang menghalangi cahaya kewalian seorang syaikh hinggap didalam hati sang salik. Dan karena hal ini, syaithon makin getol bercokol didalam hatinya. Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, ia harus mandi didalam lautan kasih sayang Syaikhnya, dan terus menerus berlindung kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta kepada syaikhnya merupakan sayap laron yang membawa para salik terbang menuju cahaya, oleh karenanya semua salik wajib menjaga minyak lenteranya masing-masing, agar tidak pernah redup. Kecintaan seorang salik kepada Syaikhnya yang seperti ini, tidak bisa diterima oleh ulama dzahiran, mereka banyak melayangkan kritik bahwa beragama tidak harus seperti itu. Mereka lupa bahwa di dunia ini merupakan analogi untuk kehidupan mendatang, seperti panas, dingin, gelap, cahaya yang telah dipakai dalam bahasa wahyu Ilahi untuk memberikan gambaran-gambaran tentang kehidupan di alam lain. Bagaimana wahyu dapat mengatakan panasnya api neraka bila manusia belum mengetahui tentang panasnya api di dunia ini. Begitu juga cinta yang meluap seorang salik kepada syaikhnya, bagaimana orang bisa merasakan cinta yang meluap kepada Tuhannya, bilamana dia belum pernah merasakan cinta yang seperti ini? Tugas seorang syaikh sebagaimana yang dilakukan oleh Syaikh Ibrahim Bin Adham,qs., ia akan melemparkan jarum kedirian seorang salik kedalam lautan ilmu ketuhanan, yang akan melebur segala ke-ego-annya (jarum usang) dan menggantinya dengan adab yang indah (jarum emas) untuk kehidupan diatas bumi ini, sehingga ia bermanfaat bagi makhluk lainnya dan amal-amalnya bersih mengangkasa, karena ia bertindak, berfikir menggunakan ilmu yang tiada tara tingginya.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah Syaikhuna (semoga allah merahmatinya) membimbing jiwa para muridnya agar bersih dari sifat imarah dan lawamah, maka pekerjaan selanjutnya adalah mewarnai ruh dengan cara meditasi (muroqobah) agar selalu merasa telah berkumpul atau kembali ketempat asalnya (alam amr), agar selalu merasa diawasi dan bersama-sama dengan Tuhannya dimanapun ia berada. Agar Asma-Nya yang mencerminkan Sifat-sifat-Nya melebur kedalam hati sang salik, agar ia ‘tiada’. Begitulah sekelumit tentang evolusi jiwa,  semoga ada manfaat bagi para sahabat, dan semoga Allah mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita semua, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-6486722711901038625?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/6486722711901038625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/ruh-dan-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/6486722711901038625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/6486722711901038625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/09/ruh-dan-jiwa.html' title='RUH DAN JIWA'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-2681936379177011861</id><published>2009-08-30T01:35:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T18:16:19.411-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelayan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='takdir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kehendak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibrahim bin adham'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='susu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adam'/><title type='text'>KEHENDAK</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS 008 : 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campolai, sebuah benda yang sebelumnya tidak terpahami, menjadi terpahami oleh murid-murid setelah Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) meletakkan dalam bentuk analogi. Seperti seorang arsitek, yang membayangkan sebuah bangunan nan indah didalam pikirannya sendiri. Sebelum arsitek itu menggambarkannya pada secarik kertas, tak satupun manusia dapat memahaminya. Maka, semua yang tidak dapat dipahami jadi dapat dipahami dan dapat dilihat melalui analogi. Di dalam al Qur’an banyak sekali analogi, dan dikatakan bahwa analogi tersebut hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berakal. Di alam lain, buku-buku ‘terbang’, sebagian ketangan kanan dan sebagian lagi ketangan kiri. Disana juga ada malaikat, bidadari, arsy, neraka, surga, mizan, perhitungan dan pembalasan. Tidak satu pun dari hal itu dapat dipahami kecuali dikatakan dengan kiasan (analogi). Oleh karenanya, Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam memahami Al Qur'an, karena AL Qur’an adalah brokat dengan dua sisi. Sejumlah orang memperoleh manfaat dari satu sisi dan sejumlah lagi dari sisi lain, karena Tuhan menginginkan kedua kelompok itu memperoleh manfaat. Seperti perempuan yang memiliki suami dan juga merawat anak kecil. Masing-masing memperoleh kenikmatan berbeda dari dirinya. Anak kecil dari susu didalam payudaranya dan suami memperoleh kenikmatan karena menjadi pasangannya. Orang yang mengambil kenikmatan luar dari al Qur’an dan ‘meminum susunya’ adalah ‘anak kecil dari jalan,’ tetapi mereka yang memperoleh kesempurnaan, memiliki kenikmatan berbeda dan memahami makna Al Qur’an dengan cara yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua manusia diatas bumi ini, yang berjumlah kira-kira dua milyar telah mengikuti pikiran dan pilihannya sendiri. Mereka telah membuktikan bahwa harapan dan rencananya telah terjadi dalam kekosongan belaka. Semuanya tidak membuat kemajuan apapun terhadap keinginannya. Akan tetapi kejadian  yang demikian tidak dijadikannya sebagai pelajaran dalam kehidupannya. Memang, manusia dicipta condong terhadap hal-hal keduniawian, dan bersifat tergesa-gesa. Begitu gagal mencapainya ia bangkit dan mencoba meraihnya kembali dengan upaya yang baru. Upayanya yang gigih itu, tidak diimbangi dengan usahanya dalam meraih kehidupan yang baik di akhirat nantinya, mereka malas, karena balasan yang akan didapat masih berupa janji-janji saja. Tanpa disadarinya, bahwa Allah telah menciptakan waktu yang melahap umur mereka, tiba-tiba saja rambut telah memutih, gigi mulai tanggal dan pandangan rabun. Walaupun kadang-kadang kesadarannya muncul, namun syahwatnya meronta untuk selalu mengedepankan urusan dunia. Harapannya selalu ingin hidup senang, aman dan sentausa. Meski demikian, maksud Tuhan bisa jadi sesuatu yang lain seluruhnya. Demikian banyak ide-ide dan kiat-kiat dibuat manusia, tapi tidak satu pun yang bisa dicapainya dengan memuaskan. Meski demikian, mereka akan terus mengandalkan strategi dan kebebasannya untuk memilih. Mesipun Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : ‘Hidup ini silih berganti antara mengelus dada dan air mata.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih mejadi sultan Balkh, Syaikh Ibrahim Bin Adham,qs., pergi berburu, beliau terpisah dari pasukannya karena keasyikan mengejar rusa. Tak peduli kudanya letih, terus dipacunya sampai  melewati akhir daratan, rusa itu berbalik dan berkata : ‘Engkau diciptakan bukan untuk hal semacam ini! Engkau tidak dibawa dari dunia ketidak beradaan menuju dunia keberadaan hanya untuk memburuku. Anggaplah engkau telah menangkap aku, kemudian apa yang akan engkau lakukan?’ Mendengar hal itu, ia menjerit dan loncat dari atas kudanya. Lalu melepaskan atribut-atribut kerajaannya yang berupa jubah yang bertabur permata, senjata dan kuda, dan ditukar dengan mantel tebal milik seorang gembala. Dengan memakai mantel kasarnya, dia berangkat diatas jalannya sendiri. Syaikh Ibrahim Bin Adham,qs., ingin menjadikan rusa sebagai mangsanya, tetapi Tuhan menjadikan dia sebagai mangsa rusa. Apa pun yang terjadi di dunia, semuanya adalah kehendak Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga kisah tentang Umar Bin Khatab,ra., suatu saat, sebelum menjadi muslim, beliau pergi kerumah adik perempuannya. Saat tiba disana, adiknya sedang melantunkan surah Thaha dari al-Qur’an dengan keras-keras. Melihat Umar,ra., datang, dia berdiam diri dan menyembunyikan al-Qur’an. Umar.ra., menghunus pedangnya dan berkata : ‘Katakan kepadaku, apa yang sedang engkau baca dan kenapa engkau langsung menyembunyikannya ketika aku datang. Atau aku akan langsung memotong kepalamu dengan pedangku dan tidak memberimu ampun!’ Mengetahui kesungguhan ancaman dan kekejaman Umar,ra., adiknya, yang merasa takut atas kehidupannya, akhirnya mengaku, ‘Aku sedang membaca ayat-ayat yang telah diwahyukan Tuhan diwaktu terakhir kepada Muhammad,saw.’  ‘Bacalah lagi apa yang tadi engkau baca dan aku akan mendengarkannya,’ katanya. Maka adiknya kembali membaca surah Thaha. Maka ketika mendengarnya, Umar,ra., menangis dan merasakan sebuah anak panah hidayah terbang dan menikam hatinya. Pedang yang tadinya diperuntukkan untuk memenggal kepala adiknya, Allah SWT menjadikan dia terpenggal kekafirannya oleh pedang keimanan. Apa artinya kehendak Umar,ra., yang perkasa itu? bahwa segala hal ternyata berjalan atas kehendak Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana semua ini bisa terjadi? Tuhan selalu mengawasi dan bersama manusia tetapi manusia tidak bisa merasakannya. Semua terjadi karena kehendak Tuhan, manusia menyangkalnya dan berkata yang ini kehendak Tuhan dan yang lain karena upaya sendiri. Apa benar demikian adanya? Seperti yang termaktub ayat al Qur'an diatas, bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, yakni manusia milik dirinya sendiri dan hati milik Allah. Oleh karenanya wahyu diturunkan kepada yang manusia dan hatinya milik Allah SWT. Selama sisa kedirian masih ada maka tauhid af'alnya belum bersih, konflik batin antara kehendak dirinya dan kehendak Tuhannya silih berganti mengganggunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibrahim Bin Adham,qs., sedang beristirahat ditepi pantai, dan melepaskan mantel yang diperoleh dari gembala, mantelnya sudah mulai usang dan koyak. Beliau mulai menjahit bagian yang robek. Seorang yang pernah menjadi pelayannya melihatnya dan berkata dalam hatinya : 'Sungguh luar biasa, menakjubkan! Demi mantel yang usang dan koyak itu, dia rela melepaskan tahta.'Syaikh Ibrahim Bin Adham,qs., dapat membaca pikirannya, maka jarum yang sedang dia gunakan dilemparkannya kedalam laut. Sesaat kemudian, dia berteriak keras memanggil jarum itu untuk kembali ketepi. Ajaib, ratusan bahkan ribuan ikan bermunculan pada saat yang sama. Terjepit diantara bibir mereka sebuah jarum emas, 'Ini jarummu, Syaikh, ambillah.'Melihat kejadian itu, matan pelayan tercengang. Syaikh menatap wajahnya, 'Katakan kawan, mana yang lebih mulia, lebih berharga, kerajaan dunia yang telah kulepaskan atau kerajaan ruhani ini?' Beliau melanjutkan : 'Dan sesungguhnya ini pun masih belum apa-apa, bila engkau meniti jalan kedalam diri, dalam istana hatimu itu engkau akan menemukan harta karun. Khazanah ruhani yang tak terhingga nilainya.'Mendengar kata-kata itu, si mantan pelayan mengalami ekstase, 'Ah, sungguh beruntung ikan-ikan didalam laut. Mereka mengenal para Syaikh. Sebaliknya manusia sulit mengenali mereka.' Dia bersujud untuk menghormati Syaikh dan meninggalkan tempat itu dalam mabuk cinta Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT memerintahkan Iblis bersujud dihadapan Adam, namun Dia berkehendak lain. Lalu Allah SWT memerintahkan Adam agar tidak memakan buah kuldi, namun Dia berkehendak sebaliknya. Kemudian Allah SWT memerintahkan Adam untuk turun ke dunia untuk menjalani hukuman, namun Dia justru berkehendak memuliakannya. Agar bisa memahami kehendak Tuhan, seseorang harus menjadi 'pengantin' Tuhan. Untuk bisa menjadi 'pengantin' haruslah terlebih dahulu menyelami sifat-sifat-Nya. Lalu untuk bisa menyelami sifat-sifat-Nya tidak ada jalan lain, kecuali membangun kehidupan persahabatan dengan seorang Syaikh. Ditangan seorang Syaikh, jarum usang bisa berubah menjadi jarum emas. Untuk bisa membangun kehidupan persahabatan dengan seorang Syaikh haruslah sudah menjadi mantan pelayan, mantan pelayan apa? Yakni, mantan pelayan hawa nafsu, maka analog selembut apapun akan mudah dicernanya. Haruslah sudah 'selesai' dengan kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebelum itu, jangan berharap bisa 'bertemu' dengan seorang Syaikh, meskipun engkau serumah dengannya. Lalu apa harus miskin terlebih dahulu? Tidak! kemiskinan dan kekayaan pun semua atas kehendak Tuhan, akan tetapi keterikatan hati ini yang harus dilenyapkan dari sesuatu selain-Nya. Lalu bila ia bernasib mujur, Tuhan akan menolongnya dengan mencahayai hatinya, sehingga dapat merasakan secara hakiki bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/996506657337930230-2681936379177011861?l=tasawufkemurnianislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/feeds/2681936379177011861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/08/kehendak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2681936379177011861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/996506657337930230/posts/default/2681936379177011861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2009/08/kehendak.html' title='KEHENDAK'/><author><name>Gus Sentot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11940008067402109720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LS00jg0Zozc/S8G7x_QwCZI/AAAAAAAAARY/-ervHfm6zCk/S220/Gus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-996506657337930230.post-6845756773813937828</id><published>2009-08-23T19:17:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T17:04:22.627-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gamis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uways al qurni'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibrahim bin adham'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sorban'/><title type='text'>KESADARAN</title><content type='html'>Bismillaahir Rahmaanir Rahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik bertanya kepada salik yang lain : ‘Apa kriteria menjadi salik yang baik, saya merasa telah begitu banyak bermaksiat kepada Syaikhuna.’ Salik yang lain menjawab : ‘Pertanyaanmu terlalu luas, karena mencakup seluruh perilaku yang baik (hus al-adab) dalam bertarekat, sedangkan adab adalah bagian dari iman, dan adab bergantung kepada kedisiplinan diri dalam menjalankan riyadhah dan mujahadah. Karena keindahan adab bersumber dari dalam diri, yang mengejewantah didalam tindak tanduk lahiriyah (jawarih).’ Tidaklah diperlukan orang yang membungkukkan badan dan menundukkan kepala dihadapan Syaikhnya, namun sesungguhnya hatinya menolak dan tidak ada rasa takzim. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering berkata : ‘Seorang salik dapat bercermin kepada sebuah riwayat yang dikatakan oleh Rasulullah,saw., kepada Umar bin Khatab,ra., bahwa cintanya kepada Rasulullah,saw., wajib melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.’ Cinta adalah ujung perjalanan dan sangat didambakkan oleh semua pejalan. Akan tetapi, cinta mempunyai sebuah tanda, yakni kepatuhan. Nah, salah satu tanda Salik yang baik adalah patuh karena cinta didalam mengamalkan pekerjaan tarekat, mendisiplinkan diri dalam memenuhi amanah dari gurunya, dan kepatuhannya melibatkan penghurmatan yang hakiki. Hal inipun banyak yang salah mengartikannya, beberapa orang  salik bahkan, enggan untuk memakai gamis dan sorban tatkala waktu mengaji tiba, hal ini berlangsung lebih dari sepuluh tahun lamanya, meskipun Syaikh sering menegurnya, ia tetap tidak bergeming dengan sikapnya, angkuh dan arogan. Alasannya sederhana, ia beranggapan bahwa memakai gamis dan sorban adalah tanda kemunafikan, tanda kepura-puraan, karena tidak sesuai dengan perilaku kesehariannya, tidak sesuai dengan keadaan jiwanya, lantas jiwanya menolak! Pendapat ini salah kaprah, kepatuhan justru menanggalkan kebiasaan-kebiasaan, orang yang mendirikan shalat walaupun terasa berat karena jiwa tidak menyukainya, bukan berarti munafik. Melawan keengganan jiwa rendah atas pelaksanaan suatu perintah suci adalah tindak mujahadah, dan tindak mujahadah akan dibayar kontan oleh Allah SWT, berupa musyahadah. Semua bentuk kewajiban pastilah tidak mengenakkan bagi jiwa, namun mencahayai hati bila dilaksanakan secara istiqomah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang salik tidak boleh menilai kebijaksanaan seorang Syaikh dari segi luarnya, karena kebijaksanaannya itu sangat halus dan tersembunyi maknanya. Bisa saja ia memuji seorang salik, padahal sesungguhnya ia mengujinya, atau bisa saja ia mengizinkan seorang salik berguru kepada Syaikh yang lain, padahal itu tanda keberpisahannya, dan bisa saja ia memarahi seorang salik padahal ia sedang menyiraminya dengan barokah-barokah. Seperti kejadian pada peringatan mawlid yang lalu, Syaikhuna memberikan kesempatan kepada kelompok dzikir dari salah satu daerah untuk mengisi acara, agar kelompok itu merasa mendapatkan perhatian yang khusus. Dengan antusias mereka memainkan rebana sambil mengalunkan Qashidah Barzanji, setelah selesai Syaikhuna memujinya, meskipun banyak jamaah yang menggerutu karena tidak bisa mengikuti Qasidhah Barzanji yang masyhur itu. Karena sejak awal berdirinya pengajian, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) selalu mengisi peringatan maulid dengan membaca asroqol dari kitab Qasidhah Syaraf al-Anam karya Ahmad Ibn al-Qasim al-Hariri,ra. Disamping itu, beliau sering mengulang-ngulang sebuah riwayat tatkala Imam Syafi’i berziarah kepada gurunya, Imam Abu Hanifah,ra., beliau shalat subuh dengan tidak melakukan doa qunut, seperti yang biasa dilakukan oleh Imam Abu Hanifah,ra., padahal beliau telah memerintahkan murid-muridnya untuk melakukannya. Ini sebuah tanda bahwa, dihadapan guru, seorang murid dilarang memperlihatkan perbedaan-perbedaan. Seorang murid wajib mengikuti apa yang gurunya biasa lakukan, wajib menanggalkan keakuan, melepaskan egonya, tidak boleh merasa lebih baik dalam hal apapun. ikutilah guru tanpa keraguan, karena dia ‘hidup’. Seorang murid bagaikan kegelapan malam, meskipun ia sarjana agama, walaupun ia hafiz al-Qur’an, maupun ia pejabat negara. Syaikh adalah bulan yang meneranginya. Syaikhuna khirkoh sejak usia muda namun sesungguhnya beliau  ‘Tua’, ‘Tua’ karena kebenaran, bukan karena waktu. Anggur tua dinilai lebih tinggi mutunya. Syaikh adalah  pemandu jalan bagi para murid-murid. Dengan adanya pemandu, perjalanan akan menjadi lebih cepat dan tepat. Yang perlu disadari adalah bahwa, perjalanan ini baru pertama kali ditempuh. Jangan pernah mengabaikan panduan sang pemandu, jika tidak ingin tersesat. Seperti keledai yang tergiur oleh rerumputan dipinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkan, sampai lupa menempuh perjalanan yang seharusnya ditempuh. Pada saat tersesat, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan diri. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata kepada murid-muridnya yang tersesat : ‘Segera merapatlah kepadaku.’ Nabi,saw., pernah bersabda kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib,ra., :  ‘Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai ditujuan.’ Lalu sabdanya lagi : ‘Ali, engkau adalah seorang pemberani yang bernyali. Kendati demikian jangan terlalu percaya pada nyali. Turutilah nasihat seorang pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan. Sebagaimana Nabiyullah Musa,as., menuruti nasihat Nabiyullah Khidir,as. Jangan menyangsikan kebijakannya, seperti Nabiyullah Musa,as., menyangsikan kebijakan Nabiyullah Khidir,as. Jangan sampai pemandumu meninggalkan kamu, seperti Nabiyullah Musa,as., ditinggalkan Nabiyullah Khidir,as.’ &lt;br /&gt;Awam berpendapat bahwa bisa saja sampai ketujuan tanpa pemandu, seperti Imam Uways al-Qurni,ra., dan Syaikh Ibrahim bin Adham,ra. Pendapat ini salah, karena kepada Imam Uways,ra., Nabiyullah Muhammad,saw., pernah berkata : ‘Aku mencium Nafas al-Rahman dari Yaman.’ Ini adalah bentuk hubungan secara ruhaniyah, wujud bimbingan secara spiritual, dalam istilah tasawuf disebut ‘uwaysi’. Sedangkan para syaikh sufi mengatakan bahwa Syaikh Ibrahim bin Adham,ra., dibimbi
