Minggu, 23 Agustus 2009

MENGINGAT ATAU MELUPAKAN DOSA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sebelum umroh berkata kepadaku : ‘Gus, berikan mutholaah atas pengajian minggu lalu mengenai mana yang lebih baik mengingat atau melupakan dosa. Jangan seluruh perkataanku ditulis tanpa adanya mutholaah darimu, karena perkataanku sesuai dengan keadaan, baik kondisi murid-murid yang hadir ataupun kecenderungan anasir yang membias saat itu.’ Masya Allah, ini amanah yang sungguh berat, dengan memohon pertolongan dari Allah SWT, insya Allah akan diganti bab yang sama terdahulu dengan yang terurai dibawah ini.

Didalam kitab tasawuf banyak dijumpai bab tentang taubat, karena mustahil menyajikan ilmu tahapan untuk mencapai kesucian tanpa pertaubatan terlebih dahulu, karena taubat laksana thaharah dalam sholat. Tak ada kesucian tanpa bertaubat demikian pula tidak ada shalat tanpa thaharah. Dari sekian banyak bab taubat, terlihat berbeda cara penyajiannya, sebagian syaikh sufi mengatakan bahwa taubat itu mengingat dosa-dosa sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa taubat justru melupakan dosa-dosa. Lalu apa benar bahwa syaikh-syaikh sufi mempunyai pandangan yang bebeda tentang taubat? Apa mungkin seseorang yang berada pada jalan yang sama mempunyai pandangan yang berbeda? Jawabnya tidak mungkin! Sebagaimana seorang yang akhli dalam melakukan pendakian gunung, akan menyampaikan pengalamannya secara hati-hati, kepada siapa ia berbicara, jika kepada pemula ia akan banyak berbicara tentang keperkasaan alam, sehingga mewajibkan membawa bekal-bekal yang memadai dan menegakkan kepatuhan, agar rasa takutnya dapat berkurang, berbeda bila berbicara kepada yang sudah berpengalaman ia akan bercerita tentang keindahan alamnya, agar tidak sedikit pun diabaikannya. Demikian pula tentang taubat, Syaikh Dzun Nun al-Misri,qs., berkata : ‘Orang awam bertaubat dari dosa-dosa mereka, tapi orang pilihan bertaubat dari kelalaian mereka.’ Karena orang awam akan ditanya mengenai perbuatan lahiriyah mereka, tetapi orang pilihan akan ditanya mengenai sifat hakiki perbuatan mereka. Kelalaian, yang bagi orang awam merupakan kesenangan, adalah tabir bagi orang pilihan. Tatkala Imam Sari as-Saqoti,ra., berbicara kepada seorang pemuda, beliau mengatakan bahwa taubat adalah tidak melupakan dosa-dosa, hal yang sama dilakukan oleh Syaikh Sahl bin Abdallah Al-Tustari,qs., disaat berbicara kepada murid-muridnya, ia mengatakan bahwa taubat itu adalah bukan melupakan dosa tetapi senantiasa menyesalinya, sehingga tidak akan merasa puas dalam berbuat kebajikan. Karena perbuatan-perbuatan baik itu tidak lebih baik daripada menyesali suatu tindakan yang buruk, dan orang yang tidak pernah melupakan dosa-dosanya, tidak akan pernah menjadi sombong. Begitu pula Syaikh Abul Hasan Busyanji,qs., mengatakan : ‘Bila engkau tidak merasa enak ketika ingat dosa, itulah taubat.’ Ujaran ini bagus sekali, untuk mengukur apakah benar perbuatan dosa telah disesalinya, jangan-jangan malah bangga bila menceritakannya kepada orang lain. Orang yang menyesal bahwa ia telah berbuat dosa adalah orang yang bertaubat. Sementara orang yang ingin berbuat dosa adalah orang yang berdosa. Dosa itu sebenarnya tidak seburuk mengiginkannya, karena tindakan bersifat sementara, tetapi keinginan bersifat abadi.
Akan tetapi, tatkala Imam Junayd,ra., bertemu dengan pamannya yang juga gurunya, yakni Imam Sari as-Saqoti,ra., beliau mengatakan bahwa taubat adalah melupakan dosa-dosa. Perkataan Imam Junayd,ra., ini adalah cerminan pertaubatan disebabkan cintanya kepada Tuhan, sedang pecinta Tuhan itu senantiasa berada dalam meditasi tentang Tuhan (muroqobah), dan dalam muroqobah tidak dibenarkan mengenang dosa, karena mengenang dosa adalah tabir atas kehadiran Tuhan (huddur al-Haq) bagi orang yang sedang melakukan muroqobah.

Pada umumnya, seorang pemula akan berpendapat bahwa orang yang bertaubat itu bergantung pada diri sendiri, sehingga melupakan dosa-dosa sebagai tindak kelalaian. Sedangkan yang lain beranggapan bahwa ia bergantung kepada Tuhan, memandang bahwa mengingat dosa itu sebagai tindakan tercela. Nabiyullah Musa,as., sementara sifat-sifatnya masih ada, berkata , ‘Aku bertaubat kepada-Mu’ (QS 007 : 143), tetapi Rasulullah,saw., sementara sifat-sifatnya sirna, bersabda : ‘Aku tak bisa mengungkapkan pujian kepada-MU.’ Karena orang yang bertaubat tidak boleh ingat akan kediriannya sendiri, bagaimana ia akan mengingat dosanya? Sesungguhnya mengenang dosa adalah dosa, karena dosa adalah saat berpaling dari Tuhan, dan begitu pula mengenangnya atau melupakannya, karena mengenang dan melupakan berkaitan dengan diri. Hal ini senada dengan wejangan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) yang mengatakan bahwa : ‘Taubat adalah tidak melupakan ataupun mengingat dosa-dosa, akan tetapi tidak teringat lagi dosa-dosa, hatinya telah masuk kedalam sebuah keadaan yang disebut ‘hub’, ia telah memasuki maqom ‘mahabah’. Seorang yang memiliki keadaan yang seperti ini, berturut-turut antara ‘maqom’ dan ‘hal’ beriringan, ‘hal’ adanya diatas dan ‘maqom’ dibawahnya, setiap maqom naik Allah SWT menghibahkan ‘hal’ yang baru didalam dada, berupa meningkatnya kecintaan kepada Allah SWT, berupa terjabarnya ilmu-ilmu yang dihibahkan oleh Allah SWT, dan berupa kepatuhan yang lebih baik dari sebelumnya. Sehingga sudah tidak mengingat yang lain, tidak mengingat atau pun melupakan dosa, karena Ia berada dijalur sebuah keadaan, jalur kesucian, ia terus menerus menetap didalam dawawudz dzikri dan dawamun ubudiyah, ia mabuk didalam peribadatannya kepada Allah SWT, ingatannya hanya kepada Allah SWT, sehingga dengan sebuah peribadatan yang terpaut seperti itu, yang ada adalah sifat Allah SWT yang mengejawantah didalam dirinya.’

Imam Junayd,ra., mengatakan : ‘Aku telah membaca banyak buku, tetapi aku tidak pernah menjumpai sesuatu yang begitu mengandung ajaran seperti bait puisi ini : “Ketika kukatakan : ‘Apakah dosaku? Ia (wanita) menjawab : ‘Keberadaan adalah dosa yang tidak tertandingi oleh dosa lain.’”

Abu Hafs Haddad,qs., juga mengatakan : ‘Manusia tidak berperan apa-apa dalam taubat, karena taubat itu dari Tuhan kepada manusia, bukan dari manusia kepada Tuhan.’ Jadi, taubat bukan merupakan tindak upaya manusia, melainkan merupakan anugerah Allah SWT. Seperti pemula yang naik gunung, ia takut lantaran keperkasaan alam, sedangkan para akhli ia tidak ingin sedikitpun lalai dalam menikmati keindahan alamnya. Taubat karena takut disebabkan oleh terkuaknya keperkasaan Tuhan, sementara taubat karena malu disebabkan oleh penglihatan akan keindahan Tuhan.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Didalam pertaubatan atau melupakan dosa-dosa tadi, bukan lupa akan dosa yang dibawanya di masa lalu, tetapi disamping tidak teringat lagi, memang Allah telah menyita jiwa dan raganya serta pikirnya hanya untuk Allah SWT, setelah masuk kedalam genggaman kasih sayang-Nya serta karena ia berada dalam maqom Mahabah, Allah menjaganya, orang yang seperti itu disebut para arif billah, para waliyullah.’

Mengingat dosa diperlukan untuk maqom awal, untuk tahap keberangkatan, agar selalu ada dalam keadaan bersedih, karena banyak melakukan dosa, lalu bersegera menggantinya dengan peribadatan, dengan banyak bertaubat, banyak istigfar, banyak berdzikir, banyak bershodaqoh. Lalu yang kedua tentang melupakan dosa, bukanlah melupakan, namun memang Allah yang membuatnya lupa, karena jiwa, fikir dan raganya tersita hanya tertuju kepada Allah saja dengan keikhlasan ibadatnya.
Nah, mengingat dosa diperlukan bagi pemula, lalu melupakan dosa juga dibutuhkan oleh para salik, sedangkan tidak melupakan ataupun tidak mengingat dosa adalah busana para Waliyullah, lalu dimana kedudukan kita? Tidak mengingat dosa bahkan memang lupa terhadap dosa-dosa lantaran fikir disibukan oleh hiruk pikuknya dunia ini, naudzubillah min dzalik. Semoga Allah mensucikan dan mengampuni dosa-dosa kita, amiin Yaa Allah yaa Rabbal alamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.