Rabu, 15 Juli 2009

YANG MENJUAL KELEDAI TAMU MEREKA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Sebelum mengutip salah satu riwayat dalam kitab masnawi yang masyhur itu, mari kita membaca suratul Fatihah diperuntukkan bagi pemilik karya yang agung ini, Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,ra.

Dunia ini ibarat seorang nenek yang keriput, keindahannya nyaris punah seiring dengan tenggelamnya kesucian. Orang-orang yang percaya bahwa kesucian masih bisa diraih, berjuang keras dengan segenap kemampuannya untuk melawan keinginan dirinya (nafs). Agar dengan perjuangannya melawan dirinya sendiri itu (mujahadah), Allah SWT berkenan menjadikannya sebagai gunung-gunung diatas bumi ini, guna menopang bumi agar seimbang dan selaras. Sesungguhnya keindahan alam semesta ini sangat tergantung kepada ketinggian akhlak manusia, sebagai penghuninya, semakin tinggi akhlaknya semakin cantik pula alam semesta ini terhias, semakin senang ia melayani kebutuhan manusia untuk mempertahankan kehidupannya. Sumber kecantikan alam semesta yang terindah telah tiada sejak 1412 tahun yang lalu, kini tinggal generasi penerusnya yang percaya bahwa keindahan akhlak masih bisa digapai, dengan jalan memurnikan kesucian (tasawuf), namun kesucian tidak dapat diraih tanpa perjuangan yang gigih melawan keinginan diri (nafs). Perjuangan melawan keinginan diri pun tidak mungkin bisa dilakukan seorang diri, melainkan harus dibawah bimbingan seorang guru mursyid, dan guru mursyid hanya bisa dijumpai didalam zawiyah, didalam khonqah atau didalam rubat, yaitu tempat para salik melakukan suluk atau khalwat atau berpantang dari apapun kecuali Allah SWT. Kelompok-kelompok ini dibawah pimpinan seorang guru mursyid, yang dengan gigih menegakkan syariat Islam, menjalankan dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi, baik perintah yang wajib atau sunah dengan metoda-metoda atau cara-cara yang khas dan terbukti murni mengikuti kaifiat para masyaikh terdahulu yang sanadnya sambung menyambung sampai kepada Rasulullah,saw., dinamakan ‘Tarekat’.

Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,ra., pendiri tarekat Maulawiyah adalah salah satu gunung yang terindah di alam semesta ini, keadaan ruhani dan pengalaman mistiknya dituangkan secara ajaib dalam bentuk puisi dan kisah-kisah yang apik. Ada tiga kitab yang berhasil ditulis oleh penerusnya, yakni kitab Fihi Ma Fihi, Divani Tabrizi dan Masnawi. Untuk dapat memahami atau mendekati makna yang tersembunyi dibalik kata-kata yang indah dalam puisi ini, tidaklah mungkin dapat terambil dengan baik, bila tidak menempuh jalan yang sama, yaitu jalan kesucian. Banyak para orientalis barat mencoba menjabarkan makna dari kitab-kitab itu, namun nyaris berbelok dari makna yang tersembunyi dibalik puisi-puisi itu. Hanya orang-orang yang berada diatas gunung yang dapat dengan tepat menjelaskan keadaan puncak gunungnya, walaupun dengan bahasa-bahasa isyarat sekalipun, meskipun dengan perumpamaan yang jenaka atau istilah yang menggelitik. Semoga salah satu kisah dibawah ini bermanfaat bagi para sahabat yang dahaga akan tulisan para masyaikh terdahulu.

Seorang sufi pengembara singgah disalah satu tempat peristirahatan yang diperuntukkan bagi para sufi. Ditempat itu sudah ada beberapa sufi yang sangat miskin. Begitu melihat keledai milik sufi pengembara, mereka langsung membuat rencana untuk menjualnya. Bahkan, masih sempat-sempatnya mencari pembenaran dari pepatah para pujangga, yaitu : ‘Dalam keadaan lapar dan tidak ada pilihan lain, bangkai pun dapat dimakan.’ Kedatangan si pengembara mereka anggap sebagai berkah dari Tuhan. Begitulah, setelah si pengembara meninggalkan keledainya dalam kandang, mereka langsung membawanya keluar dan menjualnya. Lalu, uang yang mereka peroleh digunakan untuk membeli makanan dan barang-barang kebutuhan lainnya.
Sepanjang malam mereka berpesta, menari dan menyanyi. Si pengembara pun bergabung dengan mereka. Dia tidak tahu kalau keledainya sudah terjual dan dia juga tidak sadar jika para sufi yang dia datangi masih ‘lapar’. Mereka masih belum mencicipi ‘cinta’, sehingga perut mereka masih kosong dan masih membutuhkan ‘makanan duniawi’. Salah seorang dari mereka mulai menyanyi ‘Keledainya sudah tidak ada, keledainya sudah tidak ada.’ Kegembiraan mereka memang disebabkan oleh ‘terjualnya keledai milik pengembara’, sehingga malam itu mereka bisa berpesta. Si pengembara yang masih juga belum sadar bahwa yang sedang dinyanyikan adalah ‘keledainya’ malah ikut menyanyi, ‘Keledainya sudah tidak ada, keledainya sudah tidak ada ...’ Pesta berlangsung sampai larut malam. Kelelahan, akhirnya mereka berbaring dan tertidur. Esoknya, para sufi yang menjual keledai bangun lebih pagi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat peristirahatan itu. Ketika si pengembara terjaga, dia kaget melihat tempat peristirahatan sudah kosong, sunyi, sepi. Tidak ada orang lain kecuali dirinya dan seorang petugas. Lebih kaget lagi, ketika dia menemukan kandang yang kosong – keledainya raib. Apa yang terjadi dengan keledaiku? Bukankah engkau petugas yang bertanggung jawab atas tempat ini? Si petugas menjawab : ‘lhoo, bukankah engkau yang menyuruh untuk menjualnya?’ ‘menjualnya? Keledaiku dijual? Jawab si pengembara ‘ya ..’ jawab si petugas. ‘Dan engkau membiarkan mereka menjual keledaiku? Kenapa engkau tidak memberitahuku? Kata si pengembara. ‘Aku memang ingin memberitahumu, tetapi begitu memasuki aula pertemuan, aku mendengar engkau bernyanyi, ‘keledainya sudah tidak ada, keledainya sudah tidak ada ...’. engkau pun ikut menyanyi bersama mereka. Aku pikir, engkau mengizinkan mereka untuk menjualnya.’ Begitulah jawab si penjaga. Mau bilang apa? Si sufi pengembara itu baru menyadari kesalahannya. Karena ikut-ikutan menyanyi, tanpa memahami apa yang mereka nyanyikan, dia kehilangan keledai.

Para sahabat tercinta, kisah diatas sarat dengan makna. Sufi Pengembara dalam kisah ini adalah seorang yang sudah mencapai kesadaran spiritual. Keledai pikirannya sudah dikandangkan dan dapat dikendalikannya dengan baik. Keledai dalam hal ini mewakili nafs, karena keledai hanya bersuara tatkala ia lapar dan birahi saja, persis seperti sifat-sifat yang dominan pada nafs itu. Allah SWT menghendaki sang Sufi Pengembara bersahabat dengan para munafik bertopeng sufi. Dan orang-orang munafik ini amat sangat pandai dan licik. Mereka dapat mengutip ayat-ayat suci dan hadist dengan baik untuk membenarkan kemunafikannya.
Orang-orang munafik ini tidak menyadari bahwa tugas mulia seorang Darvish adalah mencari pintu. Pintu yang dicari bukanlah pintu biasa, bukanlah pintu rumah, bukanlah rumah petinggi negara dan konglomerat, bukan pula pintu orang-orang kaya yang berduit banyak. Pintu yang mereka cari adalah ‘Pintu Bait Allah’. Dan Bait Allah yang sedang mereka cari bukanlah bangunan yang terbuat dari semen dan batu, melainkan terbuat dari ‘Cahaya Murni.’ Bait Allah yang mereka cari tidak berada diluar diri, tetapi didalam diri. Lewat ‘Pintu Rasa’, dan ‘Pintu Cinta’ mereka memasuki Bait Allah didalam diri. Bila seorang darvish ‘menari dan menyanyi’ itu sebuah tanda bahwa ia telah menemukan Bait Allah didalam dirinya. Menari dan menyanyinya para darvish berbeda dengan tarian dan nyanyian orang awam, ia tenggelam dalam cinta kasih yang tidak terhingga, sehingga tidak memerlukan lagi benda-benda ciptaan, dia lupa kepada keluarganya, anak-anak dan istri-istrinya, sahabat-sahabatnya, bahkan dirinyapun ia tidak ingat, oleh karenanya ia berputar dan berputar lagi semakin cepat dan semakin lama menjadi hilang. Seperti baling-baling pesawat terbang, tatkala ia diam maka benda-benda dibelakangnya akan terhalang dan tidak terlihat, begitu baling-baling ini berputar dan semakin cepat putarannya, maka benda-benda yang dibelakannya yang tadinya terhalang dan tidak terlihat menjadi terlihat, karena baling-baling itu menjadi ‘tiada’ atau ‘fana’. Sufi pengembara dalam kisah ini sesungguhnya seorang darvish yang bersahabat dengan para munafik yang berkedok darvish, bertopeng sufi. Sehingga keledai pikirannya yang sudah dikandangkannya dapat tercuri dan terjual, karena pergaulannya yang demikian itu dan memang Allah SWT menghendaki yang demikian, agar muncul sebuah rasa yang hakiki bahwa semakin lama bumi ini ditinggalkan oleh Rasulullah,saw., maka kesucian pun semakin jauh dan kesempurnaan tinggal sebuah nama. Oleh karenanya seorang darvish pun tidak boleh sudah merasa suci dan beristirahat dalam perjalanannya, tidak boleh puas oleh keadaannya, tidak boleh tangannya berada dibawah terus menerus, karena ada hadis yang mengatakan bahwa tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Hadis ini memuji orang-orang yang dermawan, begitu pula Rasulullah,saw., sesungguhnya tangan beliau tidak pernah berada dibawah, karena begitu beliau menerima sesuatu, seketika itu pula semuanya disalurkan kepada yang berhak menerimanya, begitu pula hak ghonimahnya (rampasan perang) tidak ada yang beliau nikmati, melainkan diserahkan untuk kemajuan Islam. Sehingga tangan beliau yang diberkahi itu selalu berada diatas, tanpa ada sedikitpun yang dimakannya, apalagi disimpannya, atau dibagikan kepada keluarganya, kecuali jika beliau yakin betul atas asal usul kehalalannya dan siapa yang memberinya. Oleh karenanya, pelepah kurma sebagai alas tidurnya tidak pernah berganti hingga akhir hayatnya, meskipun seluruh dunia ada dibawah kekuasaannya. Oleh karenanya seorang darvish selalu waspada, apakah ditangannya, pemberian dari orang lain yang berupa tembaga itu akan berubah menjadi emas atau bara api yang menyala-nyala. Akan bermanfaat bagi yang memberinya atau sebaliknya menjadikannya fitnah-fitnah. Lalu apakah didalam pengembaraannya masih terkandung kesenangan-kesenangan badaniyah, apakah didalam perjalanannya masih ada nyanyian dan tarian yang sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.